Come Back Although isn’t Easy | Twoshoot | Chap 2/2 | KyuMin | Genderswitch | T+ | Drama, Angst |

Copyright © 2015 by Jiyoohanigasu

All rights reserved

.

.

Come Back Although isn’t Easy

Genre : Angst, Drama

Rate : T+

Pairing : KyuMin as Maincast.

Length : Twoshoot

Chapter : 2/2

Warning : Genderswitch. Miss typo(s).

Disclaimers : The cast is belonged to God, their parents, and their company. All text here is mine. Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari cerita ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin dari penulis.

Summary : Sungmin dan Kyuhyun yang selama tujuh tahun belakangan hidup sendiri dengan melupakan masa lalu, tiba-tiba dipertemukan dalam lingkup kantor. Kyuhyun kembali menemukan Sungmin setelah sekian lama berusaha menekan perasaan bersalahnya. Kesalahan besar yang telah diperbuat Kyuhyun di masa lalu membuatnya mengalami kekacauan hebat; dia mutlak membutuhkan kata maaf dari Sungmin agar terbebas dari penderitaan akibat tekanan penyesalannya.

BGM : 너에게 & by Davichi

“Kau berhasil menyingkirkannya?”

Laki-laki berambut cokelat keemasan itu mengendikkan bahu sambil menatap ke arah lain. “Aku memberinya obat tidur dan diam-diam merecokinya pil untuk menggugurkan kandungannya.”

“Dan itu berhasil?”

“Ya,” katanya dengan nada tegas. Kepalanya menoleh demi menatap lawan bicaranya yang duduk tenang di sofa di hadapannya. Jemarinya yang kokoh bergerak membelai dagunya yang lancip seolah tengah menimbang sesuatu. “Dokter yang sudah kusiapkan langsung membantunya mengeluarkan janin itu. Sungmin tidak tahu jika aku yang menggugurkan kandungannya. Yang dia tahu, bayinya mati karena kehabisan air ketuban. Dia percaya dengan alasanku.”

“Bagus sekali. Satu masalahmu sudah selesai, Kawan,” pemuda itu tertawa dengan suara jahat. “Bayi yang tidak diharapkan memang merepotkan. Aku akan melakukan hal yang sama seperti itu jika kekasihku yang hamil.”

Pemuda itu termenung sebentar memikirkan segala yang berkelebat dalam otaknya. Kepalanya mengangguk kendati pandangannya menyiratkan kekosongan nyata. “Keputusanku sama sekali tidak salah. Aku sudah menyuruhnya menggugurkan anak itu tapi dia terus menolak.”

Yang lain malah mengangguk tanda setuju. “Lagi pula, kau masih terlalu muda untuk punya anak.”

“Ngeri kalau membayangkan aku sudah dipanggil ayah saat umurku baru di awal dua puluhan,” Pemuda berbibir tipis itu bangkit dan menoleh, bergidik sebentar lalu tertawa.

Diikuti oleh temannya. Mereka berdua terbahak menertawakan angan-angan yang dirasa amat menjijikkan. Menghiraukan satu orang yang diam-diam menguping sambil menahan gejolak kemarahan serta kesedihan yang siap menyembur tanpa kontrol. Perasaan muak menyeruak dalam aliran darahnya, mendidihkan amarahnya yang berkumpul dalam benak. Keberaniannya menggumpal, menyuruh kaki-kaki mungilnya melangkah melewati pintu.

Dan tubuh mungilnya disambut oleh pandangan penuh keterkejutan dari dua setan yang ada di ruangan tersebut.

“S-sebaiknya, aku pergi,” Pemuda berkaos abu-abu buru-buru keluar dari sini, meninggalkan pemuda berambut cokelat keemasan dalam kecemasan saat akan menghadapi orang yang dicintainya.

Dan mendadak, suasana dalam kamar berukuran enam kali enam meter ini diselimuti oleh ketegangan nyata. Wanita mungil yang berdiri sekitar tiga langkah di hadapan lelaki itu, kini mulai melangkah mendekat. Matanya yang dibanjiri air mata yang menggantung pada pelupuk mata, sekali pun tidak mengedip manakala mencoba menampar kesadaran lelaki itu dengan sorot matanya. Kesedihan jelas terpampang pada wajahnya, kerut-kerut dalam muncul pada dahinya. Dia terdiam dalam ketenangan mengancam sementara lelaki yang berdiri tepat di hadapannya kini mulai bergelut dengan akal sehatnya.

Sungmin tidak peduli. Karena begitu dia merasa ini sudah saatnya, sebelah tangannya terangkat dan tamparan kuat melayang menghantam sebelah pipi Kyuhyun.

“Di mana otakmu?” Suara Sungmin yang bergetar samar terdengar memecah keheningan. Air mata benar-benar mencoba memberontak dari pucuk kelopak matanya.

Kyuhyun mengerjap sekali; mungkin baru tersadar dari efek tamparan yang diterimanya. Dewa batinnya mengatakan jika Sungmin sudah mendengar semuanya. Rencananya yang busuk. Sungmin sudah mendengarnya.

“Bagaimana bisa kau melakukannya?” Sungmin mendesis dengan suara yang benar-benar tidak terkontrol—penuh getar menyesakkan yang melecut dadanya. Dia nyaris mendeguk memilukan, namun semuanya terhalang oleh amarahnya.

“S-Sungmin,” Kyuhyun maju selangkah. Dua tangannya terulur dan mencoba merengkuh pundak sempit kekasihnya. Tetapi Sungmin menghindar dari sentuhannya; dan hal itu amat menyakiti Kyuhyun. Lidahnya mencoba bergerak melontarkan suatu alasan, namun dia sadar betul jika segala alasan yang tercipta di dunia tidak akan mampu menolongnya. Seluruh kata-kata yang ada dalam pikirannya mendadak menguap, Kyuhyun tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali satu hal. “A-aku bisa jelaskan,” ujarnya terbata.

Sungmin menggeleng, membuang pandangan saat setitik air matanya jatuh menelusuri pipinya. “Kau bukan manusia, Kyuhyun,” sahutnya saat tangannya jatuh pada perutnya yang rata. Perutnya yang telah rata—tanpa janin yang seharusnya meringkuk tenang di sana.

Anaknya. Benih yang ditanam Kyuhyun tanpa kesengajaan dalam rahimnya. Gumpalan darah berumur tiga bulan yang berada dalam raganya. Ternyata sekarang sudah tidak ada. Sungmin kehilangan bayinya. Bukan karena kehabisan air ketuban seperti apa kata Kyuhyun, tetapi karena ayah kandungnya yang membunuhnya.

Kyuhyun yang membunuhnya.

Kyuhyun yang membunuh anak mereka.

“Maafkan aku, Sungmin,”Kyuhyun mengatakannya dengan terbata. Pandangannya yang dipenuhi kilat perasaan bersalah mulai tertutupi oleh kabut ketakutan; khawatir jika orang yang amat dikasihi serta dicintainya akan pergi meninggalkannya karena semua rencana busuknya. “Maafkan aku. Maafkan aku.”

Sekali lagi, Sungmin menggeleng sedangkan kakinya bergerak mundur menghindari rengkuhan lengan Kyuhyun. “Kau monster!!” jeritnya, terlalu memekakkan telinga hingga membuat Kyuhyun terperanjat. Kedua tangan kurus Sungmin terangkat, telapaknya menangkup pipinya yang basah karena air mata. Tangisannya yang memilukan terdengar amat menyedihkan, berderu penuh keprihatinan bercampur amarah yang meluap. “Kau tidak punya hati!!” tambahnya.

Akal sehat Kyuhyun membenarkan apa yang diteriakkan Sungmin padanya, namun mulutnya tidak sanggup mengatakan pengakuan. Hal keji memang baru saja dilakukannya, dan semuanya sudah terlanjur. Kyuhyun telah melakukannya, Sungmin sudah tidak hamil lagi. Janin itu sudah dikremasi oleh orang-orang suruhan Kyuhyun. Semuanya sudah tidak berbekas. Bahkan abunya mungkin sudah lenyap ditelan angin atau pun dilarutkan air.

Kyuhyun tidak pernah tahu apa yang terjadi pada abu janin anaknya.

Sungmin terus menangis keras sambil menangkup wajahnya, air mata mengucur deras dari pucuk matanya. Menetes-netes tanpa henti seolah kantung air matanya sedang diperas habis-habisan. Rasa sakit yang merayapi dadanya terasa amat menyika, melumpuhkan keseluruhan otot-ototnya. Sendinya sudah melembek seperti jelly, Sungmin tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis seperti sekarang.

Sisi hatinya mulai menyerukan kata ‘pergi’ dengan amat lantang. Suara makian dalam benaknya kian mendominasi, terdengar keras dan semuanya ditujukan pada Cho Kyuhyun yang ada di hadapannya. Sekali lagi, Sungmin berusaha mundur namun Kyuhyun tetap berusaha mendekatinya.

Sungmin benar-benar ingin pergi. Sebelum dia berlari meninggalkan apartemen ini, terlebih dahulu dia menghimpun tenaganya dan mengatakan sesuatu. “Tidak-punya-hati,” katanya penuh penekanan, teramat susah payah karena tenggorokannya terasa amat perih. Setelahnya, Sungmin berbalik dan pergi dari sini.

Meninggalkan Kyuhyun dengan penyesalan-penyesalannya yang tidak berguna.

OoO

Air mata meluncur begitu saja dari sudut mata Sungmin saat dia membuka kelopak matanya. Pandangannya menangkap sebuah plakat nomor pintu sebuah apartemen, tetapi Sungmin tak kunjung mengarahkan jemarinya untuk menekan tombol bel.

Ingatan masa lalu tiba-tiba datang dan mengganggunya hingga sedemikian rupa; mengusir segala pemikiran positif yang selama ini coba dibangunnya demi melupakan Kyuhyun. Keteguhannya untuk tidak menatap Kyuhyun mulai goyah dan terasa amat rapuh. Dendamnya masih memercik sepanas bara, namun raut penuh rasa bersalah yang didapatinya di wajah Kyuhyun seminggu lalu—saat pemuda itu berkunjung ke apartemennya—mampu menjelma menjadi air es yang mengancam memadamkan baranya.

Sungmin tidak mungkin merasa kembali goyah setelah tujuh tahun berusaha hidup baik-baik saja. Berulang kali dia meyakinkan diri jika kehadiran Kyuhyun tidak berdampak. Dan semuanya memang berhasil—sebelum lelaki itu datang pada pagi hari itu dan mengajaknya bertengkar untuk mengingat segala yang ingin dilupakannya.

Memikirkan perasaannya, secara naluriah, Sungmin mundur selangkah sementara pegangannya pada berkas yang digenggam dua lengannya mengerat. Sungmin menatap berkas-berkas yang ada padanya; wakil ketua di divisinya menyuruhnya untuk mengantarkan berkas-berkas ini ke apartemen Kyuhyun.

Sudah seminggu ini Kyuhyun beralasan sakit dan tidak masuk kantor. Dan karena berkas yang ini tidak bisa dikirim melalui email dan harus ada bubuhan tanda tangan asli dari Kyuhyun, maka salah seorang di divisinya harus rela untuk mengantarkannya.

Dan sialnya, Sungmin yang terpilih untuk tugas semacam itu.

Sungmin menelan ludah saat berusaha meneguhkan perasaannya, perlahan-lahan tangannya terangkat dan jemarinya menekan tombol. Satu kali saja, lalu dia menunggu selama lima belas detik penuh dan tidak ada sahutan. Bel kembali ditekan tetapi responnya masih tetap sama; tidak ada jawaban melalui interkom. Sungmin kembali memencet bel hingga beberapa kali tetapi tetap tidak ada sahutan.

Apa yang dilakukan Kyuhyun di dalam? Apa dia tidak mau bertemu lagi denganku sehingga tidak sudi membuka pintunya?

Sungmin baru saja akan berlega hati saat pemikiran itu muncul dalam kepalanya. Tubuhnya baru saja akan berbalik demi meninggalkan apartemen itu. Namun, akal sehatnya memperingatkan jika kedatangannya kemari hanya untuk mengantarkan berkas yang berhubungan dengan pekerjaan. Dan seharusnya Sungmin mampu untuk bersikap profesional seperti sebelumnya.

Karena pemikiran itu, Sungmin urung untuk pergi. Kini, tatapannya jatuh pada deretan papan tombol elektronik. Otaknya sedang memikirkan suatu kombinasi angka; pemikirannya diikuti oleh tarian dari jemarinya yang membentuk kombinasi dari tanggal lahir Kyuhyun.

Kunci keamanan otomatis itu menyuarakan protes; nadanya naik-turun dan ada tulisan ‘Password tidak dikenali’ yang berkedip-kedip. Seketika Sungmin terdiam sebentar, kembali berpikir demi mendapatkan angka kombinasi yang tepat. Bayang-bayang wajah Kyuhyun melayang dalam benak, mencoba memikirkan sederet angka yang mungkin akan dianggap istimewa oleh Kyuhyun.

Sederet angka istimewa.

Tanggal lahirku? Sungmin tersentak oleh suara hatinya sendiri. Dadanya baru saja disengat oleh perasan aneh sehingga jemari-jemarinya bergetar hebat. Ketika Sungmin dan Kyuhyun masih diikat tali percintaan di masa lalu, Kyuhyun selalu menggunakan tanggal lahir Sungmin untuk dijadikan password.

Dan itu semua terjadi di masa lampau. Apakah ada kemungkinan jika Kyuhyun masih menggunakannya? Kendati diliputi perasaan tidak percaya sekaligus ragu, Sungmin mengarahkan jemarinya menuju papan tombol. Lantas suara denting halus terdengar beberapa kali.

010186.

Papan tombol itu menulis kata ‘Password diterima’ dan suara denting yang lebih panjang menyambut terbukanya kunci pintu itu. Amat menyentak hingga membuat Sungmin terlunjak ke belakang karena saking terkejutnya. Sambil mencoba menenangkan detak jantungnya, perlahan, dia mulai mendorong pintu dan masuk ke dalam.

Apartemen mewah dengan suasana terlalu tenang dan mencekam. Minimalis dan didesain dengan amat cerdas untuk tiap sudutnya. Setelah melewati lorong sempit yang menghubungkan pintu keluar, Sungmin disambut oleh ruang tamu yang didekor sedemikian rupa. Sofa chesterfield yang berwarna merah marun ditata berhadap-hadapan dan dipisahkan dengan meja kaca. Dibawah kaki sofa itu, lantainya dibalut oleh permadani bercorak rumit yang tampak lembut. Rak kayu mahoni menggantung di atas nakas-nakas yang mengisi pojok-pojok ruangan. Berbagai macam hiasan dinding yang sebagian besarnya didominasi keramik serta kristal berjejer di sana. Di suatu sisi, ada jendela besar yang ditutupi tirai putih tembus pandang. Jendela yang mungkin menumpahkan pemandangan jalanan besar yang memang nangkring di depan gedung apartemen ini.

“Cho Bujangnim?” Sungmin berusaha memanggil demi menunjukkan kesopanan. Panggilannya terus terulang hingga beberapa kali namun keheningan menjadi penjawab tunggal dalam ruangan ini. Pandangan Sungmin terus mengedar, kini kakinya melangkah mendekati sebuah pintu berpelitur cokelat. Ketukan melayang dari jemarinya yang tertekuk, berulang-ulang namun tidak ada jawaban.

Oleh sebab itu, Sungmin memutuskan untuk memutar knopnya. Mengintip ke dalam lantas tubuhnya yang mungil meluncur masuk dengan amat hati-hati.

Kamar Cho Kyuhyun?

Sungmin baru akan menyimpulkan seperti itu saat pandangannya secara sekilas mendapati ada sebuah ranjang. Namun, perhatiannya diinterupsi oleh keberadaan bingkai-bingkai foto yang menggantung pada dindingnya. Potret masa lalu saat dua orang yang jadi objek utama masih saling mencintai. Sepasang kekasih yang diliputi kebahagiaan menjadi titik fokus kameranya; diabadikan dengan amat sempurna oleh bidikan lensa kamera lantas dicetak dalam sebuah media kertas.

Dan Kyuhyun masih menggantungnya di dinding kamar kendati hubungan mereka sudah selesai tujuh tahun lalu. Diam-diam, ruang sempit di celah dada Sungmin dipenuhi gemuruh menggelegak yang dipenuhi kerinduan.

Waktu itu, mereka masih bahagia.

Mereka masih bersama mengikat janji setia.

Mereka masih tertawa tanpa beban.

Mereka masih saling mencintai.

Mereka masih ..,

Perasaan rindu yang coba ditahan mati-matian oleh Sungmin akhirnya meretak hingga keseluruhan rindu itu tumpah ruah memenuhi pikirannya. Ingatan masa lalu yang menyedihkan sekaligus membahagiakan timbul-tenggelam dengan amat susah payah. Kebahagiaan itu mendominasi hingga akhirnya Sungmin menangis saat menatap foto-foto yang memuat wajahnya di kamar ini.

“Maafkan aku, Sungmin.”

Sungmin tersentak hebat saat mendengar suara serak menginterupsi deru tangisnya yang menyedihkan. Perlahan-lahan, wanita itu menarik tangannya yang semula menangkup wajah dan memutar tubuhnya. Pandangannya yang dihalangi oleh kabut air mata mendapati sosok Cho Kyuhyun dengan wajahnya yang sepucat mayat, berdiri sekitar lima langkah di depan tubuhnya.

Cho Kyuhyun yang berusaha mati-matian untuk tetap tampak tegar kendati bibirnya yang pasi itu bergetar samar. Wajahnya dipenuhi gurat lemah dan terluka, bercampur dengan rasa bersalah yang tetap sama seperti tujuh tahun lalu ketika mereka berpisah setelah pertengkaran itu. Laki-laki itu mencoba mendekat lagi, dengan langkah tidak pasti dan tubuhnya yang menjulang hampir oleng. Namun untungnya, dia berhasil mengendalikan keseimbangannya dan berakhir berhadap-hadapan dengan wanita yang dikasihinya.

“Aku memang monster yang tidak punya hati,” katanya susah payah. Berkali-kali berdehem demi membersihkan tenggorokannya yang terasa perih. Bola matanya yang cokelat memancarkan sinar ketulusan yang tidak tergantikan; meluluhkan perasaan dendam kesumat yang selama ini dipendam oleh Sungmin. “Aku dulu memang monster. Tetapi untuk sekarang, aku bukan lagi seperti itu.”

Sungmin menggigit bibir demi menahan isakan yang mendesak akan keluar dari mulutnya. Air mata kembali menggenang di pelupuknya dan mengaburkan pandangan. Pertahanannya perlahan mulai leleh seperti es.

“Aku akan berubah untukmu, Sungmin,” kata Kyuhyun meyakinkan. Dua tangannya terangkat dan telapaknya jatuh menghantam sisi pundak Sungmin; menyebarkan impuls panas yang tidak terelakkan. “Percayalah padaku.”

“Kalau kau memang sebaik ini,” Sungmin berucap di sela serangan gelombang perasaannya. “Kenapa kau mampu membunuh anak kita? Aku terus berpikir untuk melupakan kesalahanmu, tetapi aku tidak bisa. Aku membencimu dan karenanya aku tidak bisa mencintaimu lagi.”

Kyuhyun menggeleng susah payah, fokus pandangannya mulai kabur dan menghilang. “Aku menyesal,” ujarnya. “Sungguh. Aku menyesal,”

Tanpa aba-aba, Kyuhyun menarik tubuh Sungmin dan memeluk wanita itu dalam dekapan sepihaknya. Dalam hati dia mendesah lega manakala merasakan sengatan listrik yang amat diharapkannya tujuh tahun belakangan. Lengannya yang berotot melingkar begitu erat mengungkung tubuh mungil Sungmin, menyebarkan getar penuh rasa takut kehilangan yang amat kentara. Dadanya naik-turun tidak beraturan, dan samar-samar penyesalan itu terealisasikan sebagai tangis memilukan dari Kyuhyun.

“Aku mencintaimu, Sungmin,” katanya sambil meremas kepala bagian belakang Sungmin. “Aku masih sangat mencintaimu seperti dulu.”

“Kenapa kesalahanmu teramat besar, Kyuhyun?” Sungmin ikut meneteskan air mata. “Kenapa sulit sekali memaafkanmu?”

“Aku bisa lebih gila dari ini jika kau meninggalkanku lagi,” kata Kyuhyun. “Kembalilah, Sungmin.”

Sungmin menggeleng ketika ingatannya dihantam oleh kalimat-kalimat jahat yang didengarnya dari Kyuhyun tujuh tahun silam. Akal sehatnya memperingatkan dengan kejam, terus meneriakkan kata monster sehingga Sungmin merasa pusing. Perasaan dan akal sehat memang selalu bertolak belakang.

“Tidak,” bibir tipis Sungmin yang bergetar akibat menahan luapan perasaan akhirnya bergerak demi mengatakan hal itu. Dia mencoba melepaskan diri dan menghindari ungkapan-ungkapan yang mungkin membuatnya menjadi semakin lemah.“Lepaskan aku.”

“Aku sungguh mencintaimu.”

“Lepaskan aku!!”

Akibat teriakan yang dilayangkan Sungmin, Kyuhyun terpaku selama beberapa saat. Dengan gerakan amat tidak rela, tubuhnya beringsut mundur demi melepaskan pelukannya. Matanya yang basah kini dipenuhi sorot terluka; berusaha disembunyikan mati-matian tetapi dia gagal melakukannya. Penolakan yang menyakitkan memang menggerogoti perasaannya. Tetapi, Kyuhyun tidak boleh tampak lemah.

Tidak boleh selama dia berhadapan dengan Sungmin.

“Maaf,” kata Kyuhyun. Lalu tubuhnya berbalik menghampiri ranjang, duduk di sisinya sambil menangkup kepalanya yang mulai berdenyut dihantam ingatan buruk. Pandangannya kembali buyar, mengabur perlahan-lahan akibat rasa sakit di kepala.

Sungmin menatap Kyuhyun dalam keterdiamannya—sedikit banyak mulai merasa bersalah ketika menyadari intonasi bentakannya. Kyuhyun tampak kacau, sebelum mendapat bentakan pun, Kyuhyun sudah tampak kacau luar biasa. Rasa bersalah itu menggerogoti hati nurani Sungmin, menuntun kaki-kakinya yang mungil untuk menapaki lantai demi mendekati Kyuhyun.

“Maafkan aku,” Sungmin berhenti sekitar tiga langkah tepat di samping Kyuhyun yang meringkuk di sisi ranjang. Kerut-kerut dalam mulai muncul di dahi saat gelagat aneh dilayangkan oleh Kyuhyun. “Kau baik-baik saja?”

Seulas senyuman terlukis di belah bibir Kyuhyun yang pucat ketika gendang telinganya ditembus oleh pertanyaan itu. Kepalanya meneleng ringkas, sorot pandangnya yang lemah terarah tepat menampar kesadaran Sungmin.“Kau kemari untuk mengantarkan berkas?” tanyanya saat tanpa sengaja mendapati suatu amplop cokelat besar yang dipeluk penuh protektif oleh Sungmin.

“Oh,”Sungmin tersentak akibat kalimat itu. Seketika itu juga dia mengulurkan berkas yang sedari tadi ada pada genggamannya. “Y-ya.”

“Kita terbawa suasana,”Kyuhyun menerima berkas itu dan meletakkannya di nakas secara serampangan. Tanpa sengaja, pinggiran berkasnya menyenggol sesuatu yang ada di nakas; menyebabkannya oleng dan jatuh menghantam lantai.

Keduanya menoleh ke sumber suara, mendapati berbutir-butir benda bulat-pipih berwarna putih tulang berceceran di lantai. Kyuhyun terkesiap dan bersiap untuk mengambil botolnya demi menyembunyikannya. Tetapi, wanita itu bertindak lebih cepat sehingga Kyuhyun kehilangan kesempatan untuk menyembunyikan semuanya.

“Pil anti depresi?” Sungmin bertanya dengan alis bertaut resah setelah membaca label yang melingkupi botol obat itu. “Kau membutuhkannya?”

Kyuhyun membuang pandangan, masih mempertahankan senyuman di bibirnya. “Ya, amat membutuhkannya agar aku bisa tidur nyenyak,” ungkapnya. Tangannya bergerak merebut botol itu dari genggaman Sungmin lantas melemparkannya begitu saja ke arah tempat sampah yang berada tepat di samping nakas.

“Kau .., mengalami depresi?” Sungmin bertanya lagi, ditanggapi dengan anggukan lemah dari Kyuhyun. “Sejak kapan?”

“Entahlah,”Kyuhyun memutuskan untuk merahasiakannya.

Sungmin memandang botol bekas itu di tempat sampah, lantas kembali memandangi wajah pucat Kyuhyun. Perasaan sedih datang bergulung-gulung menyerbu dada saat mengingat apa yang baru diketahuinya; bahwasana Kyuhyun mengalami depresi dan berusaha menutupinya dari semua orang.

Sewaktu Sungmin melepaskan diri dari Kyuhyun setelah mengetahui tindakan tidak bermoral yang telah dilakukan lelaki itu, Sungmin memang mengalami tekanan hebat. Namun pada saat itu, dia sama sekali tidak membutuhkan pil. Semua masih bisa diatasi oleh terapi-terapi ringan yang rutin dilakukannya. Dokter melarang Sungmin menenggak pil karena depresi yang melandanya bukanlah jenis depresi yang mampu memutus salah satu sarafnya.

Dan sekarang, Sungmin baru mengatahui jika Kyuhyun menenggak pil anti depresi agar bisa pergi tidur?

“Kyuhyun, sejak kapan kau mendapatkan pil seperti itu?” Sungmin bertanya dengan desah lembut yang mengejutkan. Sorot matanya melunak, tampak dipenuhi kekhawatiran nyata.

“Jangan khawatir, Sungmin,” Kyuhyun mengatakannya dengan nada rendah. “Semuanya bukan karenamu.”

“Bagaimana aku bisa percaya?” Sungmin tampak siap menumpahkan air matanya. “Kenapa kau tidak mengambil langkah untuk terapi?”

“Tidak ada yang peduli jika aku mengambil terapi atau pil ini,” Kyuhyun melengkungkan bibir. Perasaannya menghangat kala mendapati gurat kecemasandi wajah wanita impiannya. “Jangan pedulikan aku.”

“Aku benci padamu, Kyuhyun,” kelopak mata Sungmin terpejam demi menghalau air matanya yang akan tumpah ruah. “Aku sangat .., membencimu,” kalimatnya terputus akibat deguk samar yang mencambuk tenggorokannya. Air mata merembes keluar dari sela kelopak matanya yang tertutup rapat. “Sangat membencimu.”

“Aku tahu,” sahut Kyuhyun ringan, sementara salah satu tangannya terangkat demi membelai pipi Sungmin yang basah nan lengket. Jemarinya mengusap jejak air mata itu, menghapusnya dengan gerakan amat lembut yang menenangkan. “Kau berhak membenciku.”

Kepala Sungmin bergerak ke kanan dan ke kiri, menggeleng kuat demi mengusir beribu kalimat dalam benak yang penuh kontroversi. Dewi batinnya yang mengatas namakan perasaan, berteriak dan menyuruhnya untuk bertindak tanpa memerdulikan akal sehat. Kata maaf memang sulit sekali dikatakan; namun benaknya sendiri sudah mengatakannya berulang kali.Sungmin menghirup napas panjang lalu tangannya melingkari leher Kyuhyun; memeluk lelaki itu dan menangis lagi di pundaknya.

“Aku membencimu. Kau monster tidak punya hati,” racau Sungmin kacau balau. “Tetapi kenapa aku mencintaimu? Kenapa kau mengikatku?”

Kyuhyun duduk tertegun oleh pernyataan tidak terduga yang didapatkannya dari Sungmin. Deklarasi yang menyangkut-pautkan cinta, ditujukan padanya setelah berulang kali menegaskan kata benci. Mendadak, keseluruhan tubuh Kyuhyun terasa kaku akibat afeksi nyata yang menciptakan getar menyenangkan. Bahu Sungmin yang bergetar kini bersandar pada dadanya, wajah Sungmin bersembunyi di ceruk lehernya. Dan yang lebih baik lagi, Sungmin memeluknya dengan amat erat.

“Kenapa aku mencintai monster sepertimu?” Sungmin masih menyanyah tidak keruan sambil mencengkeram erat-erat sisi bahu tegap Kyuhyun. Degukan yang melandanya menyebabkan dagunya terantuk tengkuk Kyuhyun berulang kali. Lalu tangisannya masih berlanjut, seolah dia berniat membasahi kaus yang dikenakan Kyuhyun dengan air matanya yang mengalir deras dari pucuk matanya. “Aku mencintaimu, Kyuhyun. Aku mencintai orang yang membunuh anakku sendiri.”

Kyuhyun langsung melingkarkan lengannya pada tubuh Sungmin, membalas pelukan wanita itu dan menepuk kepala bagian belakang Sungmin dengan amat lembut. “Maaf karena tidak bisa berpikir jernih dan memutuskan untuk membunuh anak kita di masa lalu,” ujarnya dengan nada bergetar. “Maaf karena terus menyakiti dan menyusahkanmu.”

Sungmin menggeleng kuat-kuat, kini mencoba meredam isakan dengan menempelkan mulutnya pada pundak Kyuhyun. “Cukup sampai di sini saja,” katanya tidak berdaya. “Aku tidak mau kau semakin menderita.”

“Terimakasih,” Kyuhyun memejamkan mata demi menghalau titik air mata yang menggenangi kelopak matanya. “Aku mencintaimu.”

“Sekiranya aku juga begitu,” Sungmin melepas pelukannya dan menatap wajah Kyuhyun lekat-lekat. Tangannya yang nyaris beku akibat luapan perasaannya menangkup pipi tirus Kyuhyun; manik kristalnya menari-nari gelisah menatap wajah Kyuhyun. “Aku juga mencintaimu.”

Aku mencintaimu.

Kyuhyun, aku mencintaimu.

Kyuhyun-ah, kau mencintaiku, ‘kan?

Aku hamil.

Apa yang akan kau lakukan pada anak kita, Kyuhyun?

Kyuhyun baru saja dihantam oleh ingatan berengsek yang selama ini selalu berkelebatan menggangu pikirannya. Secara naluriah, dia mendorong bahu Sungmin hingga menyebabkan wanita itu nyaris terjatuh. Raut kesedihan dan kelegaan pada wajah Kyuhyun kini tergantikan oleh gurat penuh ketakutan. Alur napasnya tiba-tiba menjadi tidak teratur, dadanya naik-turun susah payah demi mengisi paru-parunya dengan oksigen. Pandangan Kyuhyun dipenuhi sorot antisipasi, sepenuhnya menghiraukan Sungmin yang terheran di tengah tangisnya yang menderu.

“K-Kyuhyun-ah?” Sungmin berusaha mendekat dan mencari tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengacuhkan panggilan Sungmin. Kini tubuhnya meluncur menghampiri nakas meja; menginjak butir obat-obatnya yang masih tercecer di lantai. Tangannya yang gemetar mencoba menarik nakas dan mengubek isinya.

“Kyuhyun-ah? Wae geurae?!” Ada apa denganmu? Sungmin diliputi ketakutan saat menyaksikan Kyuhyun dengan amat gelisah mencoba menemukan sesuatu di laci. Matanya membeliak penuh keterkejutan manakala Kyuhyun menggenggam botol obat yang lain, menumpahkan isinya dan mencoba menelan beberapa pil sekaligus. “Kyuhyun-ah!” Sungmin menjerit dan mencoba menahannya.

Kyuhyun melirik Sungmin penuh permintaan maaf, menyentak wanita itu dengan amat kasar agar bisa membebaskan diri dari rasa sialan yang serasa akan membunuhnya. Matanya terpejam sesaat sebelah tangannya bergerak melempar pil-pil itu memasuki mulutnya. Giginya bergemelatuk ketika rahangnya mencoba bergerak menggerus obat penuh rasa pahit itu.

Sungmin yang melihat tindakan Kyuhyun kini mundur beberapa langkah, berlari keluar kamar untuk menghampiri dapur. Dia meraih sebuah gelas dan menuang air dari teko kaca dengan amat serampangan. Dua lututnya yang menggigil ketakutan mencoba menuntun tungkainya untuk melangkah menuju kamar.

“Minum,” Sungmin mengatakannya saat tubuhnya sudah sampai di dekat Kyuhyun; tangannya mencoba mengarahkan pinggiran gelas itu tepat ke mulut Kyuhyun yang terkatup. Lelaki itu menerima suapan air minum yang disodorkan Sungmin, tenggorokannya dialiri liquid menyegarkan yang mampu menghilangkan rasa pahit yang disebabkan obatnya.

Kyuhyun didera oleh rasa kantuk luar biasa setelah meneguk air minumnya. Tubuhnya terasa lemas dan Sungmin menyadari hal itu. Dengan amat hati-hati, wanita itu menuntun Kyuhyun untuk berbaring di ranjang. Kyuhyun yang dilanda pukulan hebat akibat ingatan buruk masa lalunya kini mulai terbuai oleh efek yang ditimbulkan pilnya. Kesadarannya melayang-layang kendati Sungmin berada tepat di sebelahnya—tengah menatapnya dengan amat sendu.

Kyuhyun ingin mengangkat sebelah tangannya, ingin meyakinkan Sungmin jika dirinya baik-baik saja kendati tiap malam dia memerlukan pil anti depresi. Dia sungguh ingin melakukannya; namun keseluruhan ototnya sudah melemah. Yang bisa dilakukannya hanya diam sambil mengatakan hal-hal dengan nada lemah. Samar-samar, dia mendengar isakan lembut yang coba ditahan oleh Sungmin. Wanita itu bernapas dengan amat susah payah selagi jemarinya yang sehalus beledu membelai rahang tirus Kyuhyun.

Menyedihkan sekali. Sungmin tidak tega untuk menatap Kyuhyun yang tampak begitu lemah jika berada di atas ranjang. Berbeda saat dirinya menemukan Kyuhyun sedang berada di kantor—dengan dibalut setelan jas elegan dan melempar tatapan tegas sepanjang detik berjalan. Kyuhyun yang ada di sini hanya seonggok tubuh yang memerlukan terapi rutin demi mengurai kekusutan sarafnya. Dia butuh bantuan besar agar bisa terbebas dari penderitaan ini.

“Aku tidak akan membiarkanmu tersesat dalam penyesalan seperti sebelumnya, Kyuhyun. Bangkitlah karena aku ada di sini,” Sungmin menghela napas saat menyaksikan Kyuhyun nyaris terlelap setelah menelan pilnya.

“Aku memutuskan untuk kembali padamu dan bangkit demi membebaskan diri dari dendam itu,” Sungmin menautkan kesepuluh jemari mereka dan memberi remasan lembut menenangkan. “Jadi, kau juga harus bangkit sama sepertiku. Mulailah terapimu, aku akan menemanimu. Kau mencintaiku, ‘kan?”

Sayup-sayup, Kyuhyun mengangguk manakala kesadarannya hampir direnggut paksa oleh paraldehida, zat penenang, yang berakumulasi dalam darahnya. “Aku sangat mencintaimu, Sungmin,” balasnya begitu lemah dan tidak berdaya. “Seperti dulu,” ujarnya dengan nada amat rendah hingga menyamai sebuah bisikan.

“Aku juga,” Sungmin menyandarkan kepala pada lengan kokoh Kyuhyun dan ikut memejamkan mata; mencoba menyingkirkan ingatan buruk yang pernah menodai masa lalunya. Tautan jemarinya semakin mengerat, menyatakan jika dirinya tidak akan sudi untuk pergi dari sisi lelaki itu. “Ayo kembali bangkit dan bersama demi masa depan kita yang baru, Kyuhyun. Tidak ada masa lalu. Karena aku sudah melupakan kesalahanmu.”

END

Akhirnya audah end dan semuanya bahagia dengan cepaaat :”) Mewek banget waktu ngetik inii :”(( gak nahan kan kalo semisal Kyuhyunnya menderita terus. Perasaan cewek, ya. Gampang banget digoyahin :”(

Nah, terimakasih buat semua readers yang udah berkenan buat baca+komen+klik fav, ya😉 thanks juga buat yang mau setia nungguuu hehe love you so much deh :3

Kalo gitu, sampai jumpa di ff lainnya ya. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian hehehe {}

Xoxo.

37 thoughts on “Come Back Although isn’t Easy | Twoshoot | Chap 2/2 | KyuMin | Genderswitch | T+ | Drama, Angst |

  1. Ayo bangkit lagi kyumin….lupakan masa lalu demi masa depan yang bahagia…kasihan kyukyu sampe minum pil anti depresi gtu yaaa…untung ming lbh kuat and mau maafin kyukyu….
    Ditunggu ff lainnya yaaaa
    Gomawo

  2. needs a sequel. tanggung endingnya gini. emang happy sih karena ming maafin kyuhyun. tapi masak ya cm samapai dimaafin doang.

  3. pantes sih sungmun bilang kyu monster lah kyu ngebunuh calon anaknya sendiri..
    ga mauu ff ini udah d sini..😦

  4. waaah gila aku ikut deg degan baca ini
    kasian kyu ya.. krn kesalahannya sndr dia ampe jd ketergantungan bgt ama pil pil penenang macem itu T.T

    tp aku msh pngn tau kisah kyu bangkit lg bersama sungmin.. bikin ekstra chap dong jiyoo #plak🙂

  5. Aku udah mewek parah bgini tiba2 END, boleh minta sekuel? Ini tanggung bgt T.T
    Udah keduga apa kesalahan kyuhyun, dia brengsek sekali T.T tapi kasihan sekali, T.T
    Kasih sekuel ya? Pwissss~

  6. iya juga ya… cewek gampang goyah.. yaudahlah toh untuk kebaikan bersama hahahaks tp emang nih kebahagiaab yang sangat cepat.. well see you next ff sangaaaaat d tunggu gomawo

  7. aaahhh, kok end ㅠ.ㅠ
    sequeL dunk thor, yg byk kyumin momentNya… haus m moment manis mreka ni….🙂
    btw, gomawo author buat ff nya…

  8. aku ga prcya chokyu bs skejam it dg membunuh anak kndungx sndri jd wajar sja ming sngt benci bhkan mengatakan klo chokyu adlh seorg monster
    tapi dy sdh mndpatkn blsnx kan??dy jga sdh hdup mnderita akibat kelakuanx pda ming d msa lalu,,brsyukurlh krn kw puxa kekasih berhati malaikat yg bs memaafkan mu stelah mlihat kondisimu yg sngt mnyedihkan chokyu..aku harap chokyu bnr2 mnyesal dn brubah mnjdi lbh baik krn ming sdh memutuskan akn bangkit brsma dn melupakan smw perbuatan chokyu d msa lalu..smogaaaa sja stelah ni mreka bnr2 akn bhagia smpe akhr dn slalu brsma,bkin baby cho yg baru ya..hehehe

  9. Huwaaaaa~ Kentanggg banget, eon!
    Sumpah ini tanggung parah.

    Sequel plis. Dimana mana ming itu terlalu baik hati ya.
    Kalo aku mah kyu pasti udah kugantung. Parah banget, bilangnya cinta tapi calon anak sendiri malah d bunuh.

    Kyu disini lumayan menderita. Tapi ming juga ga kalah menderita #hiks.
    Udah mau nangis eh tiba” end.

    Terimakasii #bungkuk”
    Sequel Juseyo~

    atau bikin ff baru yg kyu lbih menderita. haha#ketawanista.

    Keep Fightingg Eonni. Love you

  10. Butuh sequel thoor, gimana lanjutannya setelah terapi.
    Emang happy end tapi kurang puas sm endnya, so pliis sequel thor

  11. Aku suka banget ffya.
    Kasihan Kyuhyun.
    Digerogoti rasa penyeselan sama Ming.
    Wajar aja Kyu pen gugurin anak, lah Kyu belum dewasa, pemikirannya masih remaja ya kan?
    Pas di tinggal Ming, Kyu baru sadar.

    Bagus FFnya.
    Tapi tanggung banget Jiyoo.
    Sequel dong.
    ya ya ya ^,^

  12. Jahatnya kyu, tp mungkin dulu dia msh muda masih labil ngambil keputusan secara sembrono, buktinya langsung stres pas ditinggal sungmin
    Sayangnya nanggung, masa sungmin nya ditinggal bobo trus end coba gt dibikin sekuel nya hehehhee… ditunggu ya

  13. Chingu, bikin lanjutannya lagi dong,,
    Tentang perjuangan kyu, lepas dari obat & kesabaran ming nemanin kyu terapi,,
    Yayaya fighting

  14. sequel please author, ini masih nanggung endingnya.
    kyuminnya belum bahagia bahagiaan lagi.
    belum punya baby lagi.
    kasian kyuhyunnya, aku udah baca yang versi ffn tapi suka disini mungkin emang karna lebih suka pairing ini.
    pairing disana suka tapi lebih suka ini.
    bikikin sequel ya ya ya

  15. Ternyata karena kyu bunuh darah dagingnya sendiri
    pantesan aja ming sampe marah kayak gitu
    tapi endingnya masih gantung nih kyumin nya belum punya baby lagi kkk~
    Tiba2 END aja belum ada kyumin moment yg manis wkwk
    Squel squel dong author yg baik hihi
    di library juga in progess😀 jadi buat squelnya yaa😀

  16. Sbnr nya ini nge gantung bgttt asliiii hahahahhaahhaaa pengen atuh lah liat kyumin love love an nya.. Aaaaaaaaa mninta squel g mgkin di kasih #nangisdpojokan

  17. Jdi kesalahan kyu krna sudah menggugurkan calon anaknya sndiri..
    Itu memang kesalahan Чªήğ sangat fatal, jd wajar klo sungmin bersikap sprti itu ke kyu…

    Tpi juga kyu udah dpt pembalasan setimpal, dia jdi depresi gitu, kasihan juga lihatnya…

    Moga aja sungmin bisa nyembuhin depresinya kyu…

    Buatin sequel nya dong authorshii, kehidupan mreka setelah kyu sembuh dr depresinya…

  18. sungguh ini bikin hati ku sakit bgt….
    kyumin begitu tersiksa karna rasa yg di tumbuhkan mereka sendiri…..ada sekuel’a nga???

  19. butuh sequel.. jadi itu alasan sungmin membenci kyuhyun.. ini ff bikin mewek, kyuhyunnya sampe depresi karna nyesel tapi syukur sungmin mau kembali pada kyuhyun *horeeee

  20. oh my….dag dig dug bacanya…. kirain kyu bakal dibawa ke rumah sakit lalu lanjut drama berderai air mata *jiahhh…bahasa.gue…
    untung gx sad ending kak…kalo sempet kasih sequel. ya..ya..

  21. Ya ampun…
    Kesalahan kyu buat menghantuinya sampai-sampai minum pil depresi…
    Eomma ini gak bisa liat kyu lemah, langsung luluh hatinya..

  22. Duuuhhb nyesek banget liat kyu memderita kaya gituu ,, gak tega sumpah . Aku lebih suka min yang tersiksa dari pada kyuu ,, aku gak kuatt sumpahh😥 #digorokpumpkin😀

    Akhirnya slesai juga , gak tau harus komen apa yang jelas ni ff bikin perasaan ku campur aduk ,, nyesek pengen nangis keras2 #lebayy

    Di tunggu ff lain nya eonn ,, jangan lupa🙂

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s