Teach for Love | KyuMin | Part 9/9 | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

Teach for Love

 

Genre : Romance , Drama

 

Rate : T+

 

Pairing : KyuMin

 

Part : 9/9

 

Warning : GENDERSWITCH, Miss Typo

 

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi.Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

 

Summary : Dia baru saja pindah dari Jepang dan di sekolah barunya ia dihadapkan oleh seorang guru sexy dan teman-teman abstrak juga pengrusuh yang peduli. Di rumah dia bertemu seorang gadis manis anak tetangga yang menjadi tipe idealnya. Awalnya dia acuh, tetapi sikap jahil yang sudah mengakar di jiwanya membuat segala urusan menjadi semakin rumit. Dan karena hal itu, dia mulai belajar untuk mencintai sesuatu yang benar-benar diperlukannya.

BGM : 괜찮아 사랑이야 (It’s okay It’s Love) by Davichi

 

Kelas baru saja berakhir sekitar tiga setengah menit yang lalu. Para murid sedang sibuk berbincang ringan sambil mengemas barang-barang mereka di meja. Satu per satu mulai pergi, berlalu, dan akhirnya meninggalkan kelas sampai hampir benar-benar kosong.

 

Donghae yang tampak paling sibuk dengan benda-benda anehnya di loker kini mencangklong tali tas punggungnya. Dia menghela nafas ketika tahu Kyuhyun masih duduk di bangkunya sambil melempar buku-bukunya dengan gerakan sembarang ke dalam loker meja. Sebenarnya ia tidak mau berucap kata, tetapi kata hatinya memaksa.

 

“Setelah ini, kata Sungmin Ssaem kita harus ke apartemennya untuk mengetahui hasil ujian kita tadi.”

 

Suara Donghae yang serak dan rendah terdengar, membuat Kyuhyun yang setengah sadar menoleh dan menatapnya dengan mata memicing. Kyuhyun menguap untuk yang terakhir kali, lalu tangannya bergerak mengangkat tas punggungnya yang semula tergantung di pinggir meja.

 

“Kau saja yang pergi,” ucap Kyuhyun ogah-ogahan. “Aku sudah tidak tertarik.”

 

“Tidak bisa begitu,” Donghae tidak setuju, tetapi ucapannya berhasil membuat Kyuhyun urung pergi meninggalkan kelas menyusul teman-temannya yang lain. “Kita sudah sepakat kalau ..”

 

“Seingatku aku tidak pernah mengatakan ya untuk mengikuti perjanjian menggelikan ini bersamamu, Donghae-ya,” Kyuhyun menyela, dia berbalik dan melempar tatapan sedingin es yang mengancam. “Jadi silahkan saja kalau kau mau pergi ke apartemennya. Aku tidak ikut.”

 

“Kau itu kenapa, sih?” Donghae memekik setengah geli mendengar kalimat Kyuhyun. “Sebelum kau hilang ingatan, kau menempeli Lee Ssaem, setiap hari sepulang seolah selalu menumpang mobilnya. Dan sekarang setelah kau divonis kehilangan seperempat kecil ingatanmu, kau memperlakukan Lee Ssaem seperti itu. Hih, menggelikan,” Donghae bergidik dan melukis tampang mengejek.

 

“Apa maksudmu dengan menempeli?”

Donghae menoleh, sedetik setelahnya ia berjalan mendekat ke arahnya dan menyentil dahi lebar Kyuhyun dengan jemari tangannya. “Menempeli. Kau kira aku tidak tahu apa muslihatmu dalam mendekati Lee Ssaem? Untung saja sekarang kau hilang ingatan. Dengan begitu aku bisa mendekati Lee Ssaem tanpa perlu khawatir kau akan mengoceh seperti dulu.” Donghae menatap sengit ke arah mata Kyuhyun, lalu berbalik dan berniat pergi.
“Apa gurumu yang seksi itu juga menganggapku ikut dalam perjanjian konyolmu ini?” Kyuhyun bertanya, memutuskan untuk mengekor langkah kaki Donghae dan membuang sedikit harga dirinya ke atas permukaan lantai yang diinjaknya.

 

“Memangnya apa pedulimu?” Donghae berucap cuek.

 

“Kalau ia sudah menganggapku ikut, aku harus bagaimana lagi selain datang ke sana denganmu? Walau sebenarnya aku tidak mau, tetapi bukankah sangat tidak adil kalau kau kehilangan satu-satunya rivalmu?”
Donghae mendecih mendengarnya.

 

“Lagi pula, kau tidak perlu khawatir. Aku mengerjakan soal ujian fisika itu dengan ogah-ogahan.”

 

“Apa kau berpikir kalau aku akan mendesah lega setelah mendengar pernyataanmu itu?” nada suara Donghae masih terdengar sinis, tidak bersahabat sama sekali.

 

“Kukira,” Kyuhyun mengedikkan bahu. Tetap mengikuti Donghae walau laki-laki itu tidak benar-benar tahu kemana mereka akan pergi sekarang—entah ke apartemen Sungmin atau Donghae berubah pikiran dan membawanya ke tempat paling asing di tanah Korea. “Kita juga akan naik bis?”

 

“Pulanglah. Bukankah tadi kau bilang tidak mau ikut denganku?” Donghae menyindir dengan nada penuh sarkasme.

 

“Hei,” Kyuhyun menepuk pundak Donghae sok akrab. “Kau mau kalau sampai menang di sebuah kompetisi tanpa rival? Apa lagi di depannya?”

 

Donghae melangkah dengan gerakan gusar menaiki sebuah bis kota berwarna hijau tanpa mencoba peduli dengan sosok Kyuhyun di belakangnya. “Bukan urusanmu.”

 

“Harga diri, man,” Kyuhyun mulai bersikap sok ke-barat-an dengan menggunakan kata man sebagai panggilan—hal itu pernah menjadi tren di Jepang saat ia masih berada di kelas satu sekolah menengah atas. “Kalau begitu, kau tidak akan bisa berbangga hati di depannya.”

 

“Terserahmu saja,” Donghae melengos dan ia membuang pandangan ke luar jendela bus. Jengah sekali dengan sikap Kyuhyun yang menyebalkan seperti itu.

 

Mereka diam, Kyuhyun sudah lelah mengoceh. Ia duduk di salah satu kursi yang dekat dengan kaca jendela, berseberangan dengan Donghae di sebelahnya. Ia terdiam sebentar sambil memandang jalanan di luar, terdiam sambil memikirkan semua yang dialaminya selama ini.

 

Sebelum kau hilang ingatan, kau menempeli Lee Ssaem, setiap hari sepulang seolah selalu menumpang mobilnya. Dan sekarang setelah kau divonis kehilangan seperempat kecil ingatanmu, kau memperlakukan Lee Ssaem seperti itu. Hih, menggelikan.

 

Kalimat panjang Donghae kembali terbersit di pikirannya, membuat renungannya semakin dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban pasti. Apakah dulu aku memang seperti itu? Dia mengulang pertanyaan serupa selama beberapa kali, lalu mendesau karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari otaknya yang sudah terlanjur rusak.

 

Kyuhyun tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Kerusakan otak, hilang ingatan, dan Sungmin yang seperti itu. Semua memang ada yang ganjil, tentang sesuatu yang disembunyikan oleh Sungmin. Lalu tentang bagaimana kesan pertama ketika mereka bertemu di rumah sakit itu.

 

Berantakan, kacau balau, penuh kesedihan.

 

Bahkan, ketika Kyuhyun membuka mata dan menyadari dirinya terbangun di sebuah bangsal rumah sakit, ia mendapati Sungmin yang sedang tertidur di sampingnya—tepat di sampingnya dengan rambut kusut dan riasan berantakan. Lalu yang paling menyakitkan dari itu semua adalah: tatapan matanya yang tersirat beribu penyesalan, kata maaf, dan ketidak-berdayaan.

 

“Eh, oi!” Kyuhyun tersentak ketika tahu Donghae sudah berada di pintu keluar dan akan turun. Ia berteriak dan berlari secepat yang ia bisa menghampirinya dan ikut turun di halte bis itu.

 

Donghae yang cerewet benar-benar diam sepanjang perjalanan, tidak menoleh atau pun melirik ke samping. Kyuhyun sempat ragu apakah ia akan mengikuti Donghae sampai di apartemen Sungmin atau menyerah di tengah perjalanan. Ia terlalu lama berpikir sampai-sampai ia tidak menyadari langkah kakinya sendiri, tahu-tahu mereka sudah berdiri di sebuah pintu apartemen berwarna putih tulang dan Donghae memencet tombol bel.

 

Pintu putih itu, mengingatkan Kyuhyun pada suatu hal di masa lalu. Tentang keraguan yang berujung pada tombol-tombol angka itu.

 

“Oh? Kalian sudah datang?”

 

Suara Sungmin yang sebening denting angin terdengar mengagetkan Kyuhyun. Wanita itu mempersilahkan dua muridnya masuk ke dalam lalu ia sendiri pergi ke sebuah ruangan. Kedua murid sekolah itu duduk dengan amat kikuk di sebuah sofa, saling berjauhan dengan maksud menjaga jarak. Mereka berdua sama-sama diam saat tengah menunggu Sungmin ..,

 

Sekaligus menunggu Kyuhyun untuk mengingat secuil ingatannya yang bersembunyi entah di sudut yang mana. Kyuhyun mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan, memerhatikan ruangan-ruangan kecil di sana. Semua memang tidak asing, dan Kyuhyun yakin jika ia pernah masuk ke apartemen ini sebelumnya.

 

Masuk dan tinggal untuk sementara: terbangun di suatu ruangan berdinding merah jambu dengan boneka yang tersenyum lebar di kanan kirinya, terbangun karena mencium wangi aroma terapi yang asing, dan menemukan bingkai yang menyimpan selembar foto Sungmin di suatu meja nakas dekat ranjang.

 

Semua ingatannya datang secara acak, dan Kyuhyun kesulitan dalam menyusunnya.

 

“Maaf karena menyuruh kalian datang ke mari. Aku pulang lebih awal karena jadwalku berakhir pukul sepuluh,” Sungmin datang dengan membawa lembaran di tangannya. Ia duduk dengan gerakan anggun di seberang Donghae dan Kyuhyun, lalu kepalanya merunduk menatap lembaran kertas itu. “Nilaimu naik drastis, Donghae-ya. Ssaem senang sekali.”

 

“Benarkah?” Donghae terlunjak ketika mendengar kalimat pujian dari Sungmin. Dalam hati ia menjerit senang.

 

Kepala Sungmin mengangguk dan ia melempar senyuman manis ke arah Donghae (membuat Kyuhyun yang duduk di sampingnya mengumpat dalam hati seorang diri, entah atas dorongan apa). Sedetik setelahnya ,pandangan mata Sungmin beralih ke arah Kyuhyun—sebenarnya tidak benar-benar menatap dua manik mata Kyuhyun. “Dan aku tidak pernah menyangka jika uri Kyuhyun bisa mengerjakan materi-materi ini dalam keadaan hilang ingatan. Kemampuannya sangat menakjubkan.”

 

“Lalu, siapa yang mendapat nilai tertinggi, Ssaem?” Donghae bertanya, berniat mengalihkan perhatian Sungmin dari Kyuhyun.

 

Sungmin mendesah, “Maafkan aku, Hae. Sepertinya kau harus terus belajar. Kyuhyun unggul lima poin darimu.”

 

Kelopak mata Donghae tertarik ke atas, matanya terbelalak karena kaget. Dia baru saja disambar petir dan seketika otaknya tidak berfungsi. Ia terpaku selama beberapa saat, memikirkan apa yang baru saja didengarnya namun kenyataan berusaha untuk tetap unggul. Tak lama kemudian, ia mendesah dengan nada berat. Pundaknya turun dan ia kehilangan semangatnya.

 

Sungmin yang menyadari perubahan air muka Donghae, kembali berucap dengan segera. “Mungkin lain kali kita bisa pergi kencan, Donghae-ya. Ssaem akan menunggu di ujian selanjutnya. Jangan patah semangat, oke?”

 

Kepala Donghae mengangguk dengan gerakan lemas.

 

Mungkin itu adalah kali pertama Kyuhyun melihat Donghae si pengrusuh berisik, terdiam dengan kepala tertunduk tanpa semangat. Dia baru tahu jika laki-laki itu benar-benar serius tentang kencan jika mendapat nilai terbaik di kelas. Dan bodohnya, ia mengambil kesempatan itu tanpa sedikit pun berusaha—amat sangat berbanding terbalik dengan Donghae, dan tentu saja kenyataan itu sedikit mengganggunya.

 

Lagi pula, apa yang sudah Kyuhyun lakukan? Mencuri kesempatan teman yang akan berkencan dengan wanita bermulut tajam ini? Apa bagusnya?

 

“Ini hanya perjanjian bodoh tanpa landasan,” suara Kyuhyun yang dingin, datar, dan penuh ketidak tertarikan memecah keheningan di ruangan ini. Ia memandang wajah Sungmin yang cantik lalu menghela napas, “Kalau ingin kencan, kencan saja. Aku tidak tertarik. Kalau kau mau, kau bisa menggantikanku, Hae.”

 

Kepala Donghae menoleh dengan gerakan cepat ke arah Kyuhyun, menatap laki-laki itu dengan amarah berkobar di manik matanya. “Apa maksudmu?”

 

Kyuhyun mengeding, bangkit dari duduknya, dan mengangkat tas punggungnya. Dia malirik Sungmin dari sudut matanya lalu mendesau, “Aku sedang tidak mau kencan dengan noona-noona seperti ..”

 

Kalau sedang kencan, kau mau kupanggil noona?

 

Kepala Kyuhyun dihantam oleh rasa pening, bagai dipukul palu besar yang membuatnya linglung dan hampir terjatuh. Ia terhuyung, tetapi salah satu tangannya berhasil menemukan punggung sofa untuk dijadikan sandaran. Donghae dan Sungmin yang sama-sama terkejut segera menghampiri Kyuhyun lalu meremas pelan pundaknya.

 

Jagiya?

 

“Pasti ada yang sedang melihat kita. Kita sedang ada di tempat umum, Ming ..”

 

“Uri banmal-halkka?”

 

“Kukira jika kita pergi kencan, kita harus melupakan semua masalah pribadi untuk sementara waktu. Kita menggunakan banmal, oke?”

 

“Yy .., ya,”

 

Terlalu banyak, sampai-sampai menumpuk dan akan membuat kepala Kyuhyun meledak sebentar lagi. Tubuhnya merosot jatuh karena mendadak dunia di matanya berputar tak tentu arah. Dia merasakan lengan hangat yang entah milik siapa mendekap erat pundaknya, dan beberapa detik setelahnya pandangannya menggelap.

 

“Kurasa kita harus menjalani semuanya terlebih dahulu. Banmal adalah pintu masuknya. Iya, ‘kan?”

 

OoOoO

 

“Kyuhyun-ah, kau harus bertahan. Bertahanlah sedikit lagi.”

 

“Sungmin. Ssaem ..”

 

“Sedikit lagi. Semua akan baik-baik saja.”

 

“Aku membutuhkanmu. Temani aku ..”

 

“Aku di sini. Tetapi seharusnya ..”

 

Ssaem. Aku .., senang ..”

 

“Huh?”

 

“Aku tidak tahu. Aku tidak mau pergi.”

 

“Kau tidak akan pergi.”

 

“Aku .., ingin .., bersamamu, Ssaem.”

 

“Kita bersama setelah ini. Kita bersama ..”

 

Ssaem. Jangan pernah menangis karenaku.”

 

Baka. Baka! Kenapa kau tidak pulang ke rumah dan ..”

 

“Aku membutuhkanmu. Sekarang .., atau pun .., nanti. Aku ..”

 

“Kyuhyun!”

 

Kyuhyun bisa mendengar teriakan itu meluncur dari kedua belah bibir Sungmin yang bergetar. Dan ia bisa melihat bagaimana keadaan dirinya: begitu menyedihkan, dengan darah di mana-mana. Ia bergidik karena takut, tetapi wajah Sungmin yang dipenuhi gurat kesedihan itu lebih membuatnya takut.

 

Kyuhyun mundur selangkah, wajahnya semakin pucat kala tahu sosoknya yang terluka parah kian bergeming dari teriakan Sungmin. Dia ingin masuk ke dalam raganya, tetapi dirinya yang sekarang bagai asap yang melayang di udara. Ia tidak bisa malakukan apa pun, kecuali merutuk dan memandang tubuhnya yang berada di ambang kehidupan dan kematian.

 

Pandangannya tiba-tiba teralih ke arah kanan, pupilnya melebar ketika tahu ada seseorang dengan tudung hitam berjalan dengan langkah lamat-lamat ke arah tubuh kasarnya. Kyuhyun menelan ludah, mulai menebak-nebak apa yang akan dilakukan oleh orang misterius itu terhadap raganya.

 

Malaikat mautkah?

 

Orang itu terdiam dan berdiri di samping tubuh Kyuhyun, mencoba menatap Kyuhyun yang menggelepar menahan rasa sakit dengan matanya yang tertutupi tudung hitam. Menatapnya, begitu intens dan cukup lama. Lalu tanpa diduga, kepalanya mendongak hingga membuat Kyuhyun yang menyerupai gumpalan asap tersentak.

 

Orang bertudung hitam itu menatap Kyuhyun, dengan sepasang mata elang yang gelap.

 

“Kyuhyun ..”

 

Sungmin memanggilnya lagi. Walau samar, tetapi Kyuhyun dapat mendengarnya dengan jelas. Ia berjalan mundur ketika orang itu mendekat ke arahnya. Dan untuk sekali lagi, suara Sungmin kembali terdengar.

 

“Kyuhyun?”

 

OoOoO

 

Wanita itu menggenggam tangan Kyuhyun yang dingin, meremasnya lembut, dan sesekali membisikkan namanya agar ia cepat siuman. Ini sudah tiga puluh menit semenjak mereka datang ke rumah sakit ini. Dan selama itu pula Kyuhyun belum membuka matanya.

 

Kata dokter yang menangani Kyuhyun, anak itu sedang terguncang. Tetapi sejauh ini kondisinya baik-baik saja. Dia hanya pingsan karena otaknya tidak mampu menampung memorinya yang tiba-tiba datang. Tetapi menurut analisa dokter, Kyuhyun benar-benar tidak patut dikhawatirkan. Bisa dikatakan jika pinsannya kali ini sama dengan tidur, karena Kyuhyun butuh istirahat untuk memulihkan otaknya.

 

Walau dokter berkata demikian, tetap saja Sungmin tidak bisa tenang. Dia tidak akan bisa tenang selama Kyuhyun belum membuka mata.

 

“Kyuhyun ..,” panggilnya dengan suara lirih, nyaris berbisik dan tertelan oleh keributan kecil yang terjadi di antara mereka—mungkin ada pasien baru yang masuk UGD.

 

Sungmin menautkan kesepuluh jemarinya dengan jemari Kyuhyun, memberi pijatan lembut lalu mengusapkannya pada pipinya yang lengket karena jejak air mata yang belum kering sepenuhnya. Dia menghela napas, paru-parunya terasa mengkerut karena menolak menerima udara segar. Melihat bagaimana keadaan Kyuhyun sekarang ini membuat paru-parunya tak kuasa menerima kebebasan bernafas.

 

Di sini, di ranjang ini, Kyuhyun terbaring karena rasa sakit di kepala akibat mengingat kenangan-kenangan mereka. Dan Sungmin sama sekali tidak bisa membantu menyembuhkannya, sekali pun Kyuhyun sudah memintanya berulang kali.

 

Ia terlalu menurut dengan pemikiran rasionalnya yang keparat itu; tenggelam dalam praduga bahwa jatuh cinta kepada muridmu adalah dosa besar yang tidak patut dikenang. Dia begitu egois menyimpan semuanya sendiri, sampai-sampai mengacuhkan Kyuhyun yang berjuang seorang diri dalam menemukan kepingan kenangan mereka.

 

Dan buruknya, Sungmin menyakiti Kyuhyun dengan kalimat-kalimat pedasnya yang tidak bermoral. Dia membuat laki-laki itu muak dengan dirinya, lalu menangis dan menyesal setelah tahu Kyuhyun benar-benar berniat untuk melupakan semua tentang mereka.

 

Sebesar apa pun ia berusaha untuk menyingkirkan kenangan mereka, menyingkirkan perasaannya, tetap saja semua berakhir sia-sia. Mereka tidak bisa berpisah begitu saja karena keduanya memang memiliki perasaan cinta yang saling bertaut dan tersimpul indah. Mereka memang harus bersama, tetapi keputusan salah yang diambil Sungmin membuat semuanya bisa sedemikian berantakan.

 

“Kyuhyun-ah, mianhae,” dia berucap lagi, kali ini diberangi dengan desah berat yang sarat akan penyesalan. Pandangannya menyipit dan air mata meluncur begitu saja dari kedua sudut matanya. Ia kembali merunduk dan menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi kesengsaraan cinta. Ia terisak lagi, untuk yang kesekian kali. “Seharusnya aku membantumu mengingat semuanya. Tidak seharusnya aku bersikeras untuk menghapus kenangan itu.”

 

Laki-laki itu bergeming, walau jiwanya bergerak-gerak gelisah di dalam raganya yang terbujur kaku.

 

Wanita itu menghapus air matanya dan menatap wajah dingin Kyuhyun dengan tatapan berkaca-kaca. “Aku menyesal. Sangat menyesal, Kyu.”

 

Ia berusaha menahan air matanya yang akan kembali menetes, lantas terbatuk kecil karena bersikeras menghalau suara isakannya. Tautan jemarinya semakin erat, berharap bahwa ia bisa menyalurkan segenap kekuatannya pada Kyuhyun. Hembusan napasnya yang sehangat terpaan angin musim semi menyentuh permukaan kulit lengan Kyuhyun, menggelitik syaraf-syaraf yang bersembunyi di antara pori-porinya.

 

“Kumohon, bangun dan panggil namaku. Kumohon, Kyuhyun-ah ..,” dia tersenggal lalu menangis. “Kyuhyun-ah ..”

 

Mungkin di beberapa kesempatan, Tuhan membiarkan orang-orang yang tidak sadarkan diri dapat mendengar racaun dan tangisan dari orang-orang yang mencintainya dengan tulus. Dan di beberapa kesempatan, Tuhan menyebar keajaiban; merantas hal-hal yang tidak masuk akal dengan kalimat ajaibnya. Selama manusia menyesali perbuatannya, Tuhan tidak akan segan mentolerir kesalahan mereka, mengganti tangisan penyesalan itu dengan helaan napas lega dan senyuman kebahagiaan yang diimpi-impikan.

 

Jemari laki-laki itu bergerak, kelopak matanya bergetar lalu beberapa detik setelahnya terangkat dan membiarkan sinar lampu menerobos pupil matanya. Pandangannya mengabur selama persekian detik, namun setelahnya semua tampak kembali normal.

 

Kyuhyun merasakan rengkuhan hangat di telapak tangannya, telinganya digelitik oleh tangisan memilukan dari suara familier yang sangat dikenal olehnya. Laki-laki itu mengarahkan pandangannya ke samping-bawah, lalu ia mendapati kepala seorang wanita yang merunduk dan menangisi telapak tangannya.

 

“Sungmin. Ssaem ..”

 

Kyuhyun tahu itu Sungmin. Kyuhyun tahu wanita itu adalah gurunya, guru cantik nan seksi yang membuatnya tergila-gila dalam perasaan absurd sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia adalah wanita bodoh yang sudah berani membuatnya muak dalam sebulan terakhir ini; yang selalu membuatnya sebal setengah mati karena harus mendengar kalimat pedas yang selalu meluncur dengan begitu mudah dari dua belah bibirnya yang manis.

 

Mungkin dalam satu minggu ini, ketika ia sudah merasa muak dengan kalimat Sungmin, ia menganggap Sungmin sebagai orang yang tidak berarti dalam hidupnya. Sungmin hanya wanita egois yang kebetulan ada di samping tubuhnya ketika ia bangun dari kecelakaan itu. Sungmin hanya wanita biasa dengan hati rapuh serta pikiran sempit; yang berusaha menyembunyikan semua yang telah terjadi di antara mereka seorang diri.

 

Seorang diri menanggung beban kisah cinta yang dikira salah.

 

Ssaem ..”

 

Lidah Kyuhyun bergerak, melontarkan satu kata yang masih aneh untuk didengar. Tetapi wanita itu terlunjak ketika gendang telinganya mendengar desah nada itu. Sungmin mengangkat wajahnya dan terkejut manakala mendapati pandangan hangat dari Kyuhyun.

 

“Kyuhyun?” Wanita itu bangkit dari duduknya dan langsung melongok untuk menatap mata Kyuhyun dengan jarak yang lebih dekat, memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar terbangun.

 

Onyx Kyuhyun bergerak mengikuti arah pandang Sungmin, “Ssaem, kau mau menciumku, ya?”

 

“Apa?” wanita itu membelakkan mata ketika mendengar kalimat pertama Kyuhyun. Dia terkejut.

 

Kelopak mata Kyuhyun mengedip dengan gerakan lemah, ia ingin bangkit tetapi tubuhnya terasa kaku dan rasanya aneh sekali. “Jangan dekat-dekat,” katanya penuh harap. Pandangannya mengedar, beralih dari wajah cantik Sungmin ke arah selang infus di sebelah kanannya.

 

Kepala Sungmin mengangguk dengan gerakan gugup, “Ya ..” Dia mundur dan ikut menghindari tatapan dari manik mata Kyuhyun. “Akan kupanggil dokter.”

 

Kyuhyun tidak menjawab, tetap diam walau Sungmin benar-benar pergi dari sisinya demi memanggil seorang dokter. Ia mendesau keras, merutuki mimpi buruk yang membuatnya mengingat masa lalunya.

 

Dia baru saja ditampar oleh kenyataan: kenyataan tentang siapa sebenarnya sosok Sungmin bagi dirinya di masa lampau. Seseorang yang berharga, yang mengucap janji akan menemaninya sampai kapanpun. Dan ternyata orang itu adalah Sungmin, wanita bermulut tajam yang mati-matian mengatakan bahwa masa lalunya adalah suatu hal yang tidak penting.

 

Tidak penting.

 

Dan Sungmin menyesal memiliki hubungan dengannya di masa lalu, menyesal dengan semuanya, menyesal telah menemaninya. Menyesal. Satu kata yang menusuk relung perasaan Kyuhyun, membuat dadanya nyeri setengah mati. Dia ingin menghilang dari dunia ini dan pergi menghindari Sungmin yang sudah membuangnya. Tetapi nyatanya ia masih berada di sini, dan buruknya menemukan Sungmin untuk yang kedua kali ketika ia membuka mata di ranjang rumah sakit.

 

“Oh, Kyuhyun-ssi .. Senang bisa bertemu denganmu.” Seorang dokter muda menyibak gorden putih yang mengelilingi ranjang Kyuhyun. Sungmin menyusul di belakang, dengan kepala tertunduk lesu penuh gurat kekhawatiran. Dokter itu mengeluarkan stetoskop dari saku jas-nya dan mulai memeriksa detak jantung Kyuhyun. “Apakah ada suatu hal yang terjadi?”

 

Kepala Kyuhyun mengangguk. “Ya,” jawabnya, melirik Sungmin dari ujung matanya. “Aku bermimpi tentang masa laluku.”

 

“Masa lalumu?” Dokter itu berusaha mengorek informasi lebih jauh.

 

“Tentang apa yang terjadi kepadaku. Sesuatu yang membuatku berdarah. Dan mengenal semua yang benar-benar asing bagiku,” bola matanya bergerak menatap wajah dokter tampan itu.

 

“Kau yakin mengingat semuanya?”

 

Wajah Sungmin mengeras, pias atau mungkin takut. Tetapi Kyuhyun tidak mau peduli. “Ya.” Katanya dengan mimik tegas. “Kurasa aku sudah mengingat semuanya, dokter.”

 

OoOoO

 

Sungmin tidak bisa berpikir jernih ketika telinganya mendengar penuturan itu dari Kyuhyun. Dan bertepatan dengan keterkejutan itu, kakek dan nenek Kyuhyun datang. Sungmin benar-benar tidak punya kesempatan untuk berbicara dengan Kyuhyun, laki-laki itu sibuk menjawab pertanyaan dari dokter dan neneknya. Karenanya, ia memutuskan untuk mundur selangkah demi selangkah dan akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit itu.

 

Dia mulai berpikir tentang suatu hal yang macam-macam, dan pertanyaan tanpa jawaban bersliweran di otaknya. Dia kalut seorang diri, takut tanpa alasan setiap malam. Bahkan ketika di sekolah sekali pun.

 

Dia tidak pernah merasa tertekan bila berpapasan dengan salah satu muridnya yang bandel. Dia tidak pernah merasa sesak napas ketika mendapat tatapan dingin dari murid-murid yang membencinya. Dia tidak pernah merasa sakit hati ketika tidak diperhatikan manakala sedang mengajar di kelas.

 

Dia tidak pernah merasakan rasa gelisah yang berlebihan seperti ini, sungguh. Sudah empat hari ini semenjak ia pergi meninggalkan Kyuhyun di rumah sakit, jiwanya semakin belingsatan mencari suatu hal yang mungkin bisa menenangkan hatinya.

 

Apa Kyuhyun akan membencinya?

 

Sepertinya iya. Sepertinya Kyuhyun memang membencinya karena tindakan bodoh Sungmin. Mengacuhkan, memutuskan semuanya sendiri, dan gegabah. Dia seperti remaja yang baru jatuh cinta pada berandal sekolah, padahal seharusnya ia bisa menyikapinya secara dewasa—dengan rasional dan mempertimbangkan perasaannya juga.

 

Bukan seperti itu. Bukan ..

 

Sungguh, Sungmin menyesal.

 

Sekali pun dia menyesal, Kyuhyun tidak akan mendengar. Meski pun dia menangis, Kyuhyun tidak akan mengasihani. Ini semua salahnya, dan ia tidak patut mendapat belas kasihan atau tatapan iba dari Kyuhyun.

 

Barangkali kekosongan hatinya kali ini adalah karma dari Tuhan, karena sudah lancang mengambil keputusan sepihak yang merugikan Kyuhyun sebagai korban. Sungmin mencoba menerima walau itu terasa sulit. Tetapi asal tahu saja, dia tetap memasang topeng sok tegarnya dan selalu mengumbar senyum kepada semua orang yang dijumpainya.

 

Dan topeng itu akan segera luntur ketika ia membuka knop pintu apartemennya, dan kembali mengurung diri di dalam dengan kesedihan-kesedihannya.

 

Ini hari keempat setelah kesembuhan Kyuhyun dari masa hilang ingatanya. Dan selama beberapa hari itu pula Sungmin berusaha menghindar. Ia sudah tidak memiliki muka untuk berhadapan dengan Kyuhyun, begitu pun saat mengajar. Ia sengaja tidak melirik Kyuhyun satu detik pun, ia sengaja mengacuhkan tatapan penuh tuntutan dari Kyuhyun, ia sengaja memasang wajah datar tanpa ekspresi.

 

Ia sengaja bersikap sok tegar dengan topeng munafiknya yang pasti membuat Kyuhyun semakin mual. Sungmin sadar betul jika Kyuhyun pasti sedang menunggu penjelasanya; tentang apa yang telah diperbuatnya ketika laki-laki itu dalam kondisi tidak berdaya dengan ingatan kabur. Ia sudah tidak memiliki keberanian, semua kewarasanya sebagai seorang guru sudah ciut ketika menghadapi satu muridnya itu.

 

Barangkali Sungmin sudah sinting. Dia guru, tetapi takut menghadapi muridnya. Ya, dia memang tidak mengelak dari kata takut yang menempel di dirinya. Memang kenyataanya dia takut, dan juga menyesal. Satu-satunya cara untuk melarikan diri dari rasa bersalah yang mulai menjamur di relung hatinya adalah pergi menghindar. Dia tidak mau terlibat lagi. Dia tidak mau jatuh dalam kubangan binar mata Kyuhyun yang gelap.

 

Dia tidak ..

 

Suara bel yang dipencet satu kali menghentak jiwanya. Wanita itu menoleh singkat ke arah pintu apartemenya dan melangkah dengan terhuyung ke arah interkom. Jemarinya menekan salah satu tombol dan memperhatikan layarnya yang berkedip.

 

Tidak ada siapa-siapa di luar. Batin Sungmin ngeri. Ia memutuskan untuk mengacuhkan orang iseng yang berniat mengerjainya. Tetapi sebelum ia sempat berbalik, bel kembali berdentang dan Sungmin tercekat. Ada sinar ketakutan yang menyeruak dari manik matanya.

 

Ia memutuskan untuk menghampiri pintu, membuka kuncinya pelan, dan menariknya. Ketika ia mencoba mengintip dari celah kecil di pintunya yang sedikit terbuka, seketika itu pula matanya membelo kaget. Ia terlampau terkejut, sampai-sampai tangannya reflek mendorong pintu hingga terdengar bunyi berdebam yang keras.

 

Laki-laki yang mengunjunginya ..

 

Pemuda itu sempat melirik matanya, penuh tuntutan kejam yang pasti tidak akan melepaskanya dengan mudah.

 

Dia .., ada di sana.

 

OoOoO

 

Sebenarnya sepulang sekolah Kyuhyun berniat pulang ke rumah dan berbaring di ranjangnya yang nyaman. Dia ingin istirahat, tidur dalam damai dan melupakan segenap masalah yang membuatnya kalut akhir-akhir ini. Tetapi nyatanya, neneknya yang baik hati itu menyuruhnya untuk mengantar sekotak kue buatan rumah.

 

Mengantar bingkisan penuh terimakasih ini kepada Sungmin.

 

Awalnya Kyuhyun menolak dengan alasan lupa rute jalan menuju apartemen Sungmin. Tetapi neneknya ngotot dan terus bertanya tentang ingatanya itu. Kyuhyun tidak bisa terus berbohong, dan akhirnya ia menyerah. Sepulang sekolah, ia benar-benar pergi ke apartemen Sungmin.

 

Lalu berhenti sejenak di depan pintu berwarna putih gading itu ketika sampai. Ia memandang ke depan, ingatanya menerawang ke kejadian mengerikan yang membuatnya hampir mati bersimbah darah. Dia ingat betul; saat itu ia sedang dalam keadaan marah, lalu bimbang apakah harus memencet tombol atau tidak.

 

Seperti saat ini. Dia bimbang.

 

Dengan gerakan ragu ia mengangkat sebelah tangannya. Jemarinya yang tampak bergetar samar itu memencet tombol bel. Ia diam selama beberapa saat, menanti sosok yang akan membuka pintu untuknya.

 

Membiarkan jantungnya berdegup kencang. Membiarkan perasaan aneh menjalar sampai ke ulu hatinya. Membiarkan ingatan masa lalunya melayang-layang. Membiarkan ..

 

Bola mata Kyuhyun sontak melirik ke arah celah pintu yang terbuka. Ia membuka mata lebar-lebar ketika tahu ada sepasang onyx indah milik Sungmin yang sengaja mengintipnya dari sana. Belum sempat Kyuhyun merespon, pintu itu kembali tertutup dengan gerakan cepat.

 

Sungmin menutupnya lagi, entah apa maksudnya.

 

Ada perasaan marah yang tiba-tiba menyeruak dalam batinya. Remaja itu mengeram, menggertakan gigi untuk menahan egonya yang akan meledak. Nafasnya terdengar terengah, sinar matanya tajam dan berbahaya.

 

Sungmin benar-benar keparat. Dia bahkan berniat meninggalkan Kyuhyun ketika Kyuhyun berhasil mengumpulkan potongan puzzle ingatanya. Wanita kejam tidak tahu ..

 

Kyuhyun belum mendapatkan peluang untuk melanjutkan pemikiran buruknya terhadap Sungmin. Tetapi bunyi pintu yang dibuka membuatnya mengerutkan alis. Pintu apartemen di depannya benar-benar terbuka, dan Sungmin dengan penampilan buruknya ada di hadapanya.

 

Tampak berantakan, menyedihkan, sengsara, dan menderita.

 

“Oh, Kyuhyun-ah? Maaf karena aku sempat menutup pintu,” kata Sungmin, berusaha melukis senyuman tipis walau itu tambah memperburuk keadaan wajahnya yang pucat. Wanita itu menyingkir sebentar demi mempersilahkan Kyuhyun masuk ke dalam. “Masuklah.”

 

Mereka berdua masuk ke dalam. Kyuhyun duduk di sofa dan meletakan bingkisanya di meja. Dan Sungmin baru kembali dari dapur dengan membawa air jeruk di nampannya. Ia duduk tepat di depan Kyuhyun. Pandanganya yang tampak sayu itu jatuh tepat ke arah wajah tampan Kyuhyun.

 

“Ada apa?” Suaranya mengalir dengan nada rendah yang tenang. Bibirnya melengkung indah. Wanita itu benar-benar berhasil menyembunyikan segenap beban hati yang ditanggungnya. Sedetik setelahnya, ia tersenyum kecil.

 

Anggota badan Kyuhyun sempat menjadi kaku karena kaget. Namun sudut bibirnya terangkat ke atas. Ia duduk bertongkak lutut. “Kalau ada sesuatu, mungkin Ssaem akan senang sekali,” katanya santai. Ia mengedikan bahu skeptis. “Nenek memaksaku ke mari walau aku mati-matian menolak. Tetapi terimalah tanda terimakasih dari nenek.” Ia menyodorkan kotak yang dibawanya ke arah Sungmin.

 

Sungmin termangu. “Well. Terimakasih.”

 

“Jadi bagaimana kencannya?”

 

Wanita itu mendongakan kepala dan sempat tercengang selama beberapa saat. “Apa?”

 

Raut wajah Kyuhyun berubah menjadi peringai jahat. “Sebenarnya aku akan merasa tidak enak jika Donghae tahu kalau hari ini aku diam-diam pergi ke mari dan membicarakan masalah kencan.”

 

Sungmin hilang akal. Sedangkan suatu sisi dalam hatinya bergejolak. Ia menggulung telapak tanganya kuat-kuat. “Apa yang ..”

 

“Sungmin,” suara berat Kyuhyun memanggil nama Sungmin dengan begitu tidak sopan. Tatapan penuh tuntutan itu akhirnya jatuh pada wajah elok Sungmin. “Aku sudah merelakan dua puluh persen harga diriku melayang demi mengucap kata kencan kepadamu.”

 

“Dan aku ingin, kau tidak pura-pura bodoh dalam menyikapinya,” Kyuhyun melanjutkan ucapanya karena tidak mendapat respon. “Bukankah semua sudah cukup?”

 

Mata Sungmin berkaca-kaca ketika ia mendapat tatapan sedih dari Kyuhyun. Cengkraman jemarinya pada ujung kausnya mengerat. Ia mengigit bibir demi mengurangi ketegangan di tubuhnya serasa mati kaku.

 

Sungmin sedang asik merenung dan hanyut dalam pikiranya sendiri. Dan Kyuhyun yang berdiri di depannya mulai menghela napas jengah karena Sungmin tak kunjung menjawab pernyataanya. Punggung Kyuhyun membungkuk—duduk menukuk—lalu ia menautkan ke sepuluh jemarinya. “Aku tidak percaya,” gumamnya, penuh nada putus asa yang mendominasi. “Bukankah sewaktu sekarat kau sudah berjanji akan selalu bersamaku?”

 

Sungmin merundukan kepala, “Apakah masih pantas?” dia bergumam dengan nada pelan. “Aku .., terlalu bodoh untuk mengambil langkah.”

 

“Aku tidak peduli dengan kesalahanmu,” Kyuhyun menimpali. “Ini bukan masalah ‘Kau akan pergi kencan dengan siapa’. Tetapi masalah mengenai hatimu yang sudah memilih.”

 

“Aku gurumu ..”

 

“Apakah itu salah?!” nada suara Kyuhyun meninggi. Setitik amarah menyembur keluar dari pusat bola matanya. “Kalau kau seorang guru dan aku seorang murid. Apakah itu salah?”

 

Pandangan Sungmin mulai mengabur karena tertutupi oleh selaput air matanya. Tenggorokanya mulai tercekat oleh nafasnya sendiri. Sebelah tanganya terangkat dan jemarinya menelangkup dahi.

 

“Aku tidak peduli dengan statusmu, Sungmin,” Kyuhyun menambahkan. “Aku sudah .., jatuh cinta kepadamu.”

 

Satu bulir bening lolos dari sudut mata Sungmin. “Aku ..”

 

Kyuhyun bangkit dari duduknya lalu melangkah menghampiri Sungmin. Laki-laki itu berjongkok. Dua telapak tanganya mencengkeram pergelangan tangan Sungmin dengan gerakan lembut. “Kalau pun ini salah, kuharap kita bisa menanggungnya bersama-sama. Aku mencintaimu, Sungmin.” Laki-laki itu mengecup jemari-jemari Sungmin.

 

“Maafkan aku.”

 

Kyuhyun mengangkat tubuhnya, mendongak, lalu mengecup bibir pucat Sungmin yang bergetar. Lima detik setelahnya ia mengakhiri kecupan singkat yang menjadi awal dari hubungan mereka. Bibirnya yang hangat melengkung indah. Pandanganya pun perlahan menghangat.

 

Telapak tanganya perlahan turun, lalu menelangkup jemari Sungmin yang dingin. “Jangan sekali-kali meminta maaf karena telah mencintaiku. Aku senang kau mencintaiku.”

 

Sungmin tidak bisa melakukan apa pun selain menerima kecupan-kecupan lembut yang menghujani kulit jemari-jemarinya. Ada getaran aneh yang menelusup dalam setiap aliran darahnya, menyebarkan perasaan senang dan bahagia yang pasti akan meluap. Pernyataan Kyuhyun beberapa detik lalu membuat relung hatinya terasa lapang. Sedikit-banyak rasa takut dan penyesalannya hilang.

 

Kyuhyun dan cintanya sudah ada di depan mata. Tidak seharusnya ia menolak semuanya seperti sebelum-sebelumnya. Penyesalan memang ada, tetapi ia tidak harus mengulangnya dua kali. Status bisa dikesampingkan asal ada cinta. Umur tidak akan menjadi masalah jika semua masih bisa ditolerir.

 

Sosok Kyuhyun yang sekarang bukanlah anak kecil berumur lima tahun. Dia remaja berumur delapan belas tahun. Sungmin tidak bersalah karena ia mencintai seorang remaja yang berhasil merebut perhatian dan hatinya. Ia sama sekali tidak keliru kalau pun mengambil jalan untuk menerima semuanya.

 

Ia mencintai Kyuhyun.

 

“Aku juga mencintaimu, Kyu,” tubuh Sungmin merosot ke bawah. Dua tangannya melintang dan ia merengkuh tubuh Kyuhyun. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di atas pundak kanan Kyuhyun, lalu kembali menangis. “Aku mencintaimu. Sungguh.”

 

OoOoO

 

Semua terasa begitu canggung setelah pernyataan cinta yang terjadi sekitar dua jam lalu. Dua orang itu lebih banyak diam dari pada berucap seperti sebelum-sebelumnya. Acara makan malam di meja makan ini pun terasa seribu kali lebih menyeramkan, tanpa perbincangan; yang ada hanya suara sendok dan mangkuk yang beradu, atau kalau tidak begitu, suara kunyahan renyah dari keduanya.

 

Sungmin terlalu gugup untuk memulai. Semenjak tadi yang dirasakannya hanya debaran aneh yang menyiksa. Apalagi ketika sekelebat bayangan tentang ciuman singkat mereka meluncur di otaknya. Dia sungguh merasa bingung.

 

Sungmin bingung sampai-sampai ..

 

“Uhuk ..”

 

—ia tersededak makanannya sendiri.

 

“Kau tidak apa-apa?” pertanyaan Kyuhyun dengan aksen banmal itu terdengar. Laki-laki itu tampak menghentikan acara makannya dan menatap wajah merona Sungmin.

 

Kepala Sungmin segera mengangguk, lalu ia kembali melahap sepotong daging dari supnya.

 

“Kau gugup, ya?”

 

Pertanyaan bodoh. Tetapi benar-benar mengena untuk Sungmin. Wanita itu terlalu malu untuk sekedar menjawab ya. Jadi ia hanya mengangguk pelan.

 

Kyuhyun berdehem. “Karena kita makan malam sebagai sepasang kekasih untuk yang pertama kali?”

 

“Aish,” Sungmin berdesis dan nyaris melempar sendok supnya ke arah wajah Kyuhyun ketika laki-laki itu menggodanya. Dua pipinya merona, ia merunduk demi menyembunyikannya. Bibirnya mencebik. “Jangan mengucapkan hal tabu seperti itu.”

 

“Hal tabu?” Salah satu alis Kyuhyun naik. “Maksudmu, pacaran adalah hal tabu?”

 

“Cepat habiskan makan malammu. Kau harus buru-buru pulang dan pergi belajar.”

 

Kyuhyun mengaduk supnya yang hampir dingin. “Kenapa tiba-tiba kau ingin mengusirku? Kau tidak ingin menghabiskan waktu berdua denganku, ya? Hari ini ‘kan spesial.”

 

Bibir Sungmin mengerucut. “Cobalah untuk tidak mengungkitnya,” suara Sungmin mencicit rendah.

 

“Kenapa? Mulutku ini otomatis mengucapkan apa yang ada di otakku,” kata Kyuhyun. “Lagi pula aku senang kalau mengatakan sesuatu tentang hubungan kita yang baru. Kita pacaran semenjak hari ini. Oh, hari apa ini? Tanggal berapa?”

 

Sungmin semakin memberengut ketika Kyuhyun bertingkah seperti itu. Bagi seorang wanita lajang berumur dua puluh tujuh tahun dengan profesi sebagai pengajar, hal seperti itu sangat kekanakan. Kalau pun Kyuhyun mempertanyakannya, hal itu masih bisa dianggap wajar karena Kyuhyun masih delapan belas tahun.

 

Ia mencoba membandingkan; pendapat dari pemuda berumur delapan belas tahun, dan pendapat dari lajang berumur dua puluh tujuh tahun.

 

“Sungmin, malam ini aku menginap, ya?”

 

Tatapan wanita itu berubah nyalang ketika gendang telinganya disambar oleh pertanyaan Kyuhyun. “Dalam mimpimu,” sahutnya dengan nada dingin yang mengancam.

 

“Bukankah seharusnya ada perayaan?” Kyuhyun menerawang. “Lagi pula aku sudah delapan belas tahun.”

 

“Lalu apa hubungannya dengan delapan belas tahun?”

 

“Itu berarti, kita bisa tidur bersama.”

 

Gerakan rahang Sungmin tiba-tiba berhenti, pegangan jemarinya pada sumpit di tangannya pun mengerat. Ada segilintir perasaan aneh yang tersulut, menyebar dengan begitu cepat dalam persekian detik ke seluruh saraf tubuhnya. Rona merah mulai menjalar di permukaan pipi bulatnya, lalu merayap lagi sampai ke telinga dan leher.

 

“Bagaimana?”

 

Suara bass Kyuhyun yang terdengar gamblang di tengah keheningan menghancurkan segala lamunan Sungmin. Wanita itu menoleh dengan gerakan kikuk ke arah Kyuhyun kemudian mengerjap-ngerjapkan kelopak mata.

 

Sungmin mengerutkan alis dan memasang wajah jutek. “Kalau kau sudah delapan belas tahun, bukan berarti kau bisa tidur dengan kekasihmu!”

 

Kata terakhir di kalimat Sungmin menjadi suntikan magis yang terbenam dalam relung perasaan Kyuhyun. Laki-laki itu sempat tersengat dan ia tersenyum penuh arti. “Rasanya menyenangkan sekali mendengar kata kekasih keluar dari mulutmu. Kita benar-benar sudah resmi pacaran, ya?”

 

“Kenapa kau terus bertanya?!” Sungmin membanting sumpitnya di atas meja dan mengeram tidak suka.

 

“Ini sulit dipercaya,” kata Kyuhyun. “Sebelum aku sembuh, kau hanya seorang wanita bermulut tajam yang kurang ajar. Dan sekarang, kita pacaran. Bayangkan saja di mana bagian yang masuk akal.”

 

“Jadi kau menyesal?”

 

“Tidak,” sahut Kyuhyun cepat. “Aku mencintaimu dari awal. Jadi walau kau menyakitiku saat itu, aku tetap bisa maklum. Buktinya kita pacaran.”

 

Kepala Sungmin merunduk, “Maaf.”

 

“Setidaknya aku bersyukur bisa mengingat semuanya. Kalau aku tidak sembuh, mungkin kita tidak akan pernah pacaran,” ucapnya dengan nada pelan. Sedetik setelah ia mengucapkan hal itu, seulas senyuman mengembang di kedua belah bibir tebalnya. “Jadi?”

 

Dahi Sungmin mengkerut samar ketika menyadari perubahan raut wajah Kyuhyun. “Jadi? Apanya?”

 

“Kalau kita tidak tidur bersama malam ini, kita bisa pergi liburan bersama dan menginap sepanjang liburan musim panas.”

 

Sungmin memberengut mendengarnya. “Mesum.”

 

Call?”

 

“Tidak.”

 

Call?” Kyuhyun mengulang, tampak tidak mau menyerah dengan mudah.

 

“Tidak!”

 

Call?”

 

“Dalam mimpimu, Cho!”

 

END

 

Author’s note: itu ceritanya udah beneran end, lhoo .. endingnya pas mereka udah pacaran. Wks simple banget, yak *plak* sekian, ya. Nggak kerasa ini ff udah menghabiskan waktu setahun macem sinetron indonesia aja wkwk

 

Terimakasih untuk seluruh readers yang sudah berkenan membaca, memberi komentar, dan menunggu ff ini di tiap chapternyaa .. Love you, guys. Ditunggu ff KyuMin yang lain, yaa. Aku akan segera comeback~

 

Ps : ditunggu chap 2 dari Come Back Although isn’t Easy, ya😉

18 thoughts on “Teach for Love | KyuMin | Part 9/9 | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

  1. Huaaaa…..kyumin so sweet. ..akhirnya bersatu kembali…tp kyukyu tetep meaum yaaa…ngajakin ming tidur bersama. Hehehhee….
    Ditunggu ff kyumin selanjutnya yaaa.
    aq slalu nunggu
    gomawo

  2. huaaa happy ending, akhirnya ingatan kyuhyun kembali dan kyumin pacaran haha.
    tapi aku baru engeh umur sungmin disini udah 27 dan kyuhyun 18? aku kira umur sungmin masih 25an.
    daebak beda usia 9 tahunn.
    sebenernya masih mau tau gimana reaksi nenek kakek kyuhyun kalo tau kyuhyun pacaran sama sungmin hahaha.

  3. kyaaa aku seneng mereka saling jujur dan kyu inget semua masa lalunya
    tp endingnya kurang greget jiyoo
    berasa kurang kl ga da lovey doveyan ala ala mereka..

    aku tunggu ff yg lain yaaa🙂

  4. Tidak ada lovey doveynya yah. Nggak heran sih. END kayak gini emang khas Jiyoo. waktu MSI juga. hahaha di tunggu karya kamu yang lain ne… dan aku harap endingnya lebih romatis dari ini…

  5. di tunggu banget lanjutan two shoot nya… haha ini emang ff terlama yaa haha maklum lahh jiyoo kan sibukk kkkk makasih loh udah d lanjutt bikin ff multi chap lg doong.. pelipur hati kyumin shipper nich gomawooo

  6. kyaaa udah end kangen juga sama cerita yang satu ini udah lama ga nongol kan😉
    endingnya lucu kyuhyun mulai jail lagi deh hahahhaha aku suka sama endingnya lucu dan menggemaskan😉

  7. call??? call apa??
    eeiiih bnran end??? syukurlah mreka udh sama2 jujur. eh tapi blm puas. pen liat mreka kl pacaran ngapain ajh. hahahahah
    author joungmal gomawoooo yaaa ahirnya d share juga ffnya. ada ff baru juga. gomaow gomawo

  8. Endingnya simple ya tp happy, karena kyumin jd sepasang kekasih. Apa akan ada sequelnya nih? Kurang puas nih dgn endingnya…..
    Thank u jiyoo for the story.

  9. waahh maaf ya aku bacanya chap akhirnya dulu author, waktunya mendesak ㅠㅠ Ceritanya bikin aku sakit hati tapi bahagia juga pas endingnya ehehe.. Ditunggu ff kyumin yg lainnya ya. hwaiting^^

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s