Come Back Although isn’t Easy | Twoshoot | Chap 1/2 | KyuMin | Genderswitch | T+ | Drama, Angst |

Come Back Although isn’t Easy

Genre : Angst, Drama

Rate : T+

Pairing : KyuMin as Maincast.

Length : Twoshoot

Chapter : 1/2

Warning : Genderswitch. Miss typo(s).

Disclaimers : Saya hanya meminjam nama dari mereka untuk menemukan inspirasi dan membaginya dalam bentuk karya sastra. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang normal. Hargai kerja keras author dengan mengklik tombol review dan tulis beberapa tanggapan. Muak dengan cast atau plot cerita? Just click a close button on your web browser, guys. Wanna chitchat? Click on PM button. Don’t bash any cast or other, please.

Summary : Sungmin dan Kyuhyun yang selama tujuh tahun belakangan hidup sendiri dengan melupakan masa lalu, tiba-tiba dipertemukan dalam lingkup kantor. Kyuhyun kembali menemukan Sungmin setelah sekian lama berusaha menekan perasaan bersalahnya. Kesalahan besar yang telah diperbuat Kyuhyun di masa lalu membuatnya mengalami kekacauan hebat; dia mutlak membutuhkan kata maaf dari Sungmin agar terbebas dari penderitaan akibat tekanan penyesalannya.

BGM : 또운다또 by Davichi

.

.

Bagaimana perasaanmu ketika mantan kekasihmu muncul kembali setelah tujuh tahun tidak pernah bertemu?

Padahal kau sendiri tidak pernah berharap jika akan kembali bertemu.

Karena dengan menatapnya, maka kenangan buruk yang diciptakannya akan kembali terkenang.

Selama tujuh tahun belakangan aku sudah melupakan semua yang berhubungan dengannya.

Tetapi setelah itu, dia justru muncul sebagai bosku.

Apa yang diinginkannya?

Kenapa dia melempar tatapan yang sama seperti tatapan yang selalu diberikannya ketika kita masih bersama?

Kenapa dia sering mengajakku bicara?

Aku sungguh tidak ingin terlibat lagi dengannya.

Aku ingin dia cepat-cepat pergi dari hidupku.

Tetapi, kenapa dia bersikeras untuk terus merecokiku dengan perhatian?

Ingin menebus dosa?

-Lee Sungmin-

Seoul, March 28th 2015.

.

.

Hari itu, Sungmin mempersiapkan diri untuk menyambut seorang kepala divisi yang akan memimpin kelompok di bidang kerjanya. Semua teman-temannya mulai berisik ketika wakil kepala divisi memerintahkan untuk segera berdiri. Kedua tangan Sungmin bergerak merapikan blazer cokelatnya yang manis, lalu dadanya membusung pongah dan disusul oleh lengkungan menakjubkan pada bibirnya.

Sungmin akan memberikan sambutan yang baik dan sopan—seperti yang dilakukan teman-temannya. Tetapi, rencananya untuk melukis senyuman ramah urung terlaksana ketika pandangannya malah menangkap sosok cowok masa lalunya melangkah memasuki ruangan lima belas meter kali lima meter itu dengan langkah ringan.

Cowok berambut cokelat madu, yang disebut wakil kepala divisinya, sebagai Ketua Divisi yang baru.

Semua karyawan yang berdiri tepat di depan meja kerjanya masing-masing, merundukkan badan demi memberi salam. Sungmin terkesiap sebab pikirannya sempat dicabut paksa oleh ingatan masa lalu. Gerakannya tampak amat kikuk saat mencoba memberi salam. Ketika Sungmin kembali mendongak dan mendapati pandangan dari manik cokelat Ketua Divisinya, akhirnya semua berawal lagi.

Dentum tidak menyenangkan melingkupi jantungnya yang bertugas memasok darah pada tubuhnya. Getaran aneh yang amat dibencinya merambat dengan amat menyebalkan menggapai tiap inci pori-porinya. Paru-parunya mengembang dalam waktu lima detik penuh akibat dilanda keterkejutan, namun akhirnya berangsur normal kembali. Pandangannya terpaku pada wajah profesional yang coba dilukis atasannya; lalu gendang telinganya berdenging hebat ketika dibelai oleh desah suara itu.

Apa? Sungmin kesulitan mencari kata yang tepat untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi di ruangan ini. Keterkejutan sudah membumbung tinggi mencapai ubun-ubun, kepalanya terasa pening sebagai akibatnya. Antisipasinya tidak berhenti manakala atasan barunya mengedarkan pandangan memerhatikan tiap wajah karyawannya, melainkan terus berlanjut ketika Ketua Divisi itu memutuskan untuk menghampiri setiap meja pekerjanya; saling menjabat tangan dan berbincang sebentar.

Amat sebentar.

Tetapi mungkin kasusnya akan sedikit berbeda jika tengah berhadapan dengan Sungmin. Wanita berumur dua puluh tujuh tahun itu mengeram menahan napas saat pandangan mereka kembali bertemu. Mereka bertatapan sangat lama, melempar tatapan aneh yang membuat semua orang yang ada di sana mengerutkan dahi.

Ketua Divisi yang tampan itu, melukis senyuman di bibir tipisnya dan mengulurkan tangan; bermaksud mengundang Sungmin untuk bersalaman. Semua orang di ruangan ini sedang memerhatikannya dan tidak ada alasan untuk tidak bersikap profesional; Sungmin menerima uluran tangan itu dan sekali lagi merundukkan kepala sambil tersenyum penuh keramah-tamahan.

“Sudah lama bekerja di sini, Miss Lee?” Suara bassnya yang sedikit serak menembus pendengaran Sungmin kendati mereka masih belum melepaskan tautan tangan tersebut.

“Sekitar tiga setengah tahun, Cho Bujangnim,” Sungmin berusaha menarik tangannya, tetapi jemari panjang milik Ketua Cho melingkupi telapaknya yang kecil dan mulai berkeringat.

“Kuharap Anda bisa bertahan lebih lama lagi selama saya menjadi bagian dari kantor ini,” akhirnya dia menarik tangannya sendiri dan menyimpannya di saku celana pullovernya. Pandangannya yang setajam elang serasa menampar telak kesadaran Miss Lee yang mungil.

“Ya,” Sungmin ingin sekali merunduk dan memutus kontak mata mereka. Orang yang sedang mengajaknya bicara adalah atasannya; dan Sungmin harus menaruh hormat padanya. “Saya harap juga begitu.”

“Senang sekali bisa menemukan Anda di sini,” Ketua Cho mengulurkan sebelah tangannya yang lain dan menepuk pundak kanan Sungmin. “Bekerja keraslah untukku. Aku akan mengawasimu,” setelah tersenyum, dia beralih ke karyawan lain.

Sungmin melempar tatapan benci tanpa maksud ke arah atasan barunya. Pengendalian dirinya langsung hinggap menelangkup kesadarannya. Ekspresinya kembali tampak netral—bahkan saat kepalanya dibayang-bayangi oleh kalimat terakhir itu.

Aku akan mengawasimu.

Decihan pelan nyaris meluncur dari mulut Sungmin ketika mendapati ketua di divisinya sudah duduk di meja paling ujung yang memang diperuntukkan untuk seorang atasan. Begitu Pak Ketua sudah ada tempatnya, semua karyawannya kembali duduk.

Cukup beraktinglah sebagai atasanku dan aku berharap jika kau terkena amnesia sehingga sudah melupakanku.

OoO

Ingatan masa lalu itu kembali terbang bebas dalam benak, berputar-putar, menabrak dinding kepalanya, dan kembali berputar-putar. Konsentrasi sulit sekali diserap sehingga pikirannya melayang kemana-mana; bahkan masa lalunya terus disetel layaknya sebuah video. Berulang kali dia menyuruh dewa batinnya untuk serius, tetapi yang dilakukannya hanyalah terdiam dan kembali mengenang semuanya.

Penyesalan yang selama ini selalu dirasakannya menggelegak naik, secara naluriah dia mengangkat kepala dan mengintip satu wanita mungil yang tengah menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan di suatu bilik kerjanya. Sorot matanya melembut, terselipi permintaan maaf yang sekarang sudah terlalu sulit untuk dilontarkan oleh lidahnya. Pengampunan yang tujuh tahun lalu sering diminta olehnya mendadak tersangkut di pangkal tenggorokan. Sekiranya dia memang tidak berhak untuk mendapat kesempatan kedua.

Perbuatannya di masa lalu terlalu keterlaluan; dan sampai kapan pun, Kyuhyun tidak akan mampu untuk mengganti apa yang telah dihilangkannya. Pada malam-malam kelamnya, ekspresi kemarahan serta kesedihan mantan gadisnya mengusir mimpi-mimpi indahnya—membuatnya kesulitan untuk pergi tidur sehingga dengan amat terpaksa menenggak pil dari dokternya. Pergi ke dokter untuk berkonsultasi mengenai keadaan psikologisnya memang keputusan yang tepat; Kyuhyun bisa mendapatkan pil penenang yang mampu mengantarkannya ke alam mimpi. Selama lima tahun belakangan, Kyuhyun rutin menenggak pilnya.

Jika tidak, maka dia akan terjebak dalam lautan penyesalan tidak berujung yang mampu memutuskan salah satu saraf yang menyambung pada otaknya. Kyuhyun terlalu gila jika tidak mendapatkan pilnya. Dia tidak sanggup untuk menahan luapan penyesalan-penyesalan itu.

Hingga akhirnya, setelah lima tahun berjuang untuk mencapai pangkat yang tinggi, sekaligus mencari di mana keberadaan Lee Sungminnya, Kyuhyun meninggalkan Chigago yang menjadi tempat tinggalnya setelah lulus SMA, kembali ke Korea. Informasi dari orang-orang suruhan yang dikerahkannya datang silih-berganti; sedikit demi sedikit, Kyuhyun menyusun strategi untuk melamar pekerjaan di perusahaan yang menjadi tempat kerja Sungmin. Dan dengan kecerdasan otaknya, dia mampu menduduki kursi kepala divisi dengan mudah; Lee Sungmin ada di lingkup karyawannya.

Selanjutnya, Kyuhyun akan berpikir untuk kembali mendekati Sungmin—kembali menuntut permintaan maaf yang sudah lama diharapkannya.

“Pak, apakah Anda ingin minum kopi?”

Suara seseorang terdengar amat menyentak hingga mampu membuat Kyuhyun setengah terjerembab dalam jurang kesadarannya. Kelopaknya mengerjap, lalu dia mendapati salah satu karyawannya berdiri dari kursi untuk menanyakan hal tersebut.

“Amerikano,” Kyuhyun menyempatkan diri melirik Sungmin dari ujung matanya tetapi yang didapatkannya hanya desah kekecewaan; Sungmin masih tenggelam dalam pekerjaan.

Beberapa detik menulis sesuatu, Sungmin tiba-tiba bangkit dan mengedarkan pandangan ke seluruh teman-temannya. “Biar aku saja yang membelinya.”

“Oh,” karyawan yang tadinya menegur Kyuhyun, kini menoleh menatap Sungmin yang tersenyum. “Benarkah?”

“Ya, aku juga sudah mencatatnya,” Sungmin memamerkan selembar kertas berwarna merah jambu yang penuh tulisan mengenai jenis kopi. “Silakan lanjutkan pekerjaan kalian dan aku akan kembali 15 menit lagi,” ujarnya sebelum menarik kursinya mundur.

“Miss Lee?” Kyuhyun ikut meninggalkan kursinya, melangkahkan kakinya mendekati Sungmin yang telah berada di ambang pintu. “Bisakah aku ikut denganmu? Aku ingin membeli beberapa makanan.”

Ada gurat keterkejutan yang terlukis di wajah Sungmin sesaat setelah Kyuhyun selesai mengucapkan keinginannya. Tetapi binar matanya tampak kembali normal dalam beberapa detik. “Biarkan saya mencatatnya dan membelikannya untuk Anda, Bujangnim.”

“Tidak, aku ingin memilihnya langsung,” Kyuhyun bersikeras untuk ikut; dia tahu jika seluruh karyawannya diam-diam meliriknya dengan pandangan aneh. “Apakah tidak boleh?”

“Oh, baiklah,” Sungmin tersenyum pasrah. Dia berpamitan pada teman-temannya lalu melangkah meninggalkan ruang tersebut, diikuti Kyuhyun tepat di samping tubuh mungilnya.

Semua orang yang mereka temui di sepanjang lorong menuju lift memberi salam penghormatan pada Kyuhyun. Dan hal itu menjadi hal bagus yang membuat suasana di antara mereka menjadi tidak lebih mencekam. Sungmin menikmati tiap langkahnya tanpa merasakan luapan perasaan. Sedangkan Kyuhyun, berulang kali dia harus menarik-ulur napasnya demi menyembunyikan afeknya.

Mungkin mendapati lift yang kosong sekitar pukul 6 sore adalah hal yang tidak disukai Sungmin. Kyuhyun memaksanya untuk masuk dan dia sendiri yang memencet tombolnya—lantai tiga puluh lima menuju lantai satu. Butuh sekitar empat atau lima menit.

Kyuhyun kembali menarik napas, memandangi wajahnya sendiri yang terpantul di pintu lift yang memang terlalu mengilap. “Bagaimana kabarmu?” bola matanya bergulir, menatap bayangan Sungmin di pintu lift dan lagi-lagi merasa kecil hati sebab Sungmin tidak tampak gugup seperti dirinya.

“Baik, Bujangnim,” Sungmin berujar netral.

“Mari lupakan tentang status kita di kantor selagi berbicara seperti ini,” Kyuhyun mengatakannya setelah melewati pertimbangan tunggal. “Kau bisa berbicara banmal denganku.”

Untuk yang pertama kali, senyuman tipis terlukis di bibir Sungmin. “Akan lebih baik jika kita tetap mempertahankan hubungan kerja bahkan saat di luar jam kantor,” katanya tenang.

“Tapi kau sudah mendapat izinku,” Kyuhyun menanggapi kemudian disusul oleh bunyi denting nyaring yang dibarengi dengan pintu lift yang terbuka. “Apa kau merasa tidak nyaman jika sedang bersamaku?”

Sungmin melangkah keluar dan diikuti dengan mudah oleh kaki-kaki panjang Kyuhyun. “Saya tidak memiliki alasan untuk merasa terganggu terhadap Anda,” mereka melewati pintu geser dan kulit mereka ditebas oleh udara khas senja.

“Sungmin,”

Kyuhyun tiba-tiba menggapi pergelangan tangan Sungmin dan mencengkeramnya erat-erat. Sungmin tersentak dan menoleh defensif. Mereka baru saja keluar dari gedung kantor tetapi dengan berani Kyuhyun mencekal tangan Sungmin.

“Banyak yang melihat, Bujangnim,” Sungmin mengingatkan dan berharap jika dia bisa menarik tangannya. Dahinya mengerut penuh protes ketika merasakan cengkeraman itu semakin erat. “Bisakah Anda melepaskan tangan saya?”

“Selama seminggu bekerja satu ruangan denganmu, akhirnya kita bisa mendapat waktu untuk berbincang lebih banyak,” Kyuhyun menarik Sungmin agar mengikuti langkah kakinya, menuntunnya menyusuri trotoar. “Aku butuh keberanian untuk menegurmu seperti tadi.”

Sungmin masih berusaha untuk melepaskan cengkaman jemari-jemari Kyuhyun. Senyuman remeh terlukis diam-diam pada belah bibirnya. “Tidak perlu merasa hingga seberlebihan itu, Bujangnim,” ucapnya, menggumamkan kata ‘tolong lepaskan’ ketika mereka mendekati kedai kopi tujuan. “Bersikaplah seperti layaknya seorang kepala divisi. Saya hanya karyawan Anda dan Anda berhak menegur saya.”

Dada serta bahu Kyuhyun terangkat begitu pendengarannya ditembus oleh kalimat Sungmin. Rasional, memang. Lee Sungmin berusaha untuk menekankan hubungan mereka yang hanya sebatas relasi kerja. Kyuhyun melepaskan pegangan tangannya begitu mereka melewati pintu dorong kedai kopi tersebut, pandangannya mendapati beberapa karyawan dari kantor yang sama dengannya sedang mengantri membeli kopi.

“Duduklah, aku yang akan mengantre,” ujar Kyuhyun penuh kepasrahan.

“Tidak, Bujangnim. Saya yang akan mengantre,”

Baik Sungmin mau pun Kyuhyun sama-sama melangkah mendekati antrean. Kyuhyun menyerah dan membiarkan Sungmin ikut mengantre kendati dia tidak ingin berada di sini.

“Kita butuh banyak bicara,” kata Kyuhyun.

“Apa yang akan kita bicarakan?” Sungmin mengatakannya dengan nada rendah.

“Semuanya.”

“Akankah kita akan membicarakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan?”

“Tentu,” Kyuhyun menoleh menatap Sungmin, memerhatikan gurat mantan gadisnya yang amat dirindukannya. Ingin sekali dia melingkarkan salah satu lengannya pada pundak Sungmin, tetapi Kyuhyun menyadari jika dia tidak berhak melakukannya. “Semuanya. Tentang masalah-masalah di antara kita yang belum terselesaikan.”

“Saya rasa ada kesalah-pahaman di sini,” akhirnya Sungmin mau menoleh sehingga manik matanya berbalas dengan tatapan elang Kyuhyun. Sebelah alisnya terangkat mengekspresikan keterkejutan. “Saya tidak merasa jika kita memiliki urusan yang belum diselesaikan, Cho Bujangnim.”

“Minnie,” Kyuhyun memanggil nama kecil Sungmin dengan desah nada yang lebih rendah sehingga orang-orang yang ada di depan atau belakang tubuhnya tidak bisa mendengarnya. “Kau tahu jika kita punya hal serius yang harus dibicarakan.”

“Misalnya?” Sungmin menuntut dan melukis raut tidak suka. “Anggap saja kita sudah menyelesaikan semuanya, Bujangnim. Saya tidak pernah berharap jika kita akan membicarakan hal lain selain pekerjaan.”

Kyuhyun tidak bisa menanggapi karena saat itu mereka sudah berada di meja order. Sungmin mengeluarkan kertasnya dan mengucapkan apa saja yang telah dipesan oleh teman-temannya. Dan Kyuhyun yang berdiri di sampingnya, hanya diam sambil memikirkan kesalahan masa lalunya.

OoO

Kyuhyun menggelung tubuhnya dengan selimut tebal harum lavendel lembut, menghirup napas panjang-panjang demi mendapatkan kelonggaran pada dadanya. Pendingin ruangannya sudah dinyalakan sepanjang waktu dan seharusnya seluruh ruangan dalam apartemennya ditelangkup udara sejuk. Kamarnya punya ekstra pendingin ruangan dan aroma lemon terjebak di tiap petaknya. Seharusnya Kyuhyun bisa tidur nyenyak dalam balutan selimutnya.

Tetapi nyatanya, dia malah berkeringat-dingin di bawah selimutnya. Tubuhnya dibiarkan basah oleh keringat, menggigil dalam perasaan aneh yang kian menyiksa. Kepalanya berdenyut-denyut saat tangisan-tangisan Sungmin di masa lalu kembali diputar dalam otaknya. Visual dari wajah penuh air mata milik Sungmin tergambar dengan amat jelas di dinding ingatannya.

Dimana otakmu?

Bagaimana bisa kau melakukannya?

Kau bukan manusia, Kyuhyun.

Kau monster!!

Kau tidak punya hati!!

Tidak-punya-hati!!

Kelopak mata Kyuhyun yang semula terpejam, kini membeliak lebar-lebar hingga bola matanya nyaris meloncat keluar dari tempatnya. Dia terbatuk lantas tersenggal sebentar. Sebelah tangannya terulur keluar dari lingkupan selimut, menggapai-gapai nakas dan menemukan ponselnya di sana.

Pandangannya yang mulai mengabur mencoba memerhatikan layar ponselnya yang menyala terang. Jemarinya yang bergetar memencet layarnya dan menyambungkannya pada sambungan telepon.

Lima dering berjalan dengan diringi degup jantung beserta alur napas tersenggal-senggal, akhirnya di dering selanjutnya telepon tersebut diangkat.

“Halo? Lee Sungmin di sini. Siapa ini?”

Kyuhyun terpejam sejenak ketika merasakan galur-galur nyata yang menembus dadanya; terasa begitu hangat dan menenangkan saat mendengar desah suara Sungmin. Beban yang bercokol dalam kepalanya perlahan mulai terangkat, menguap begitu saja seperti uap air.

“Halo? Bisakah Anda berbicara? Halo?”

“Sungmin.”

Lalu yang ditelepon seketika berhenti berbicara, terdiam seperti apa yang dilakukan Kyuhyun di sini. Telapak tangan Kyuhyun menangkup dahinya yang basah, merasakan sensasi lengket mengganggu di sana.

“Cho Bujangnim, apa yang membuat Anda menelepon saya pukul satu dini hari seperti ini?” Sungmin bersuara, dengan nadanya yang tenang terkendali seperti biasa. “Apakah Anda ingin agar saya mengecek beberapa laporan?”

“Sungmin,” kelopak mata Kyuhyun malah terpejam lagi ketika kecemasan datang bersamaan dengan ingatan mengenai kemarahan Sungmin. Penderitaannya kembali datang—rasanya benar-benar menyesakkan hingga Kyuhyun kesulitan untuk bernapas. Dia mengulurkan tangannya yang lain demi meraih tube pilnya di nakas. “S-Sungmin.”

“Bujangnim?” Sungmin terheran-heran mendengar desah napas tidak beraturan dari seberang—kedengarannya seperti orang yang sedang terkena serangan asma tingkat berat yang mengkhawatirkan. “Anda baik-baik saja?”

Dengan amat susah payah, Kyuhyun meraih dua pilnya dan melemparkannya ke dalam mulut. Rahangnya bergerak mengunyah pil-pil tersebut dengan gemelatuk rakus; menghiraukan rasa pahitnya lalu dia setengah terbatuk.

Bujangnim? Anda baik-baik saja?”

“Maafkan aku,” Kyuhyun berhasil mengucapkannya dengan bibir bergetar hebat. Penglihatannya mulai berputar-putar tanpa tentu arah.

“Apakah saya perlu memanggil ambulans? Apakah Anda sakit? Cho Bujangnim?”

“Maafkan aku,” Napas Kyuhyun berangsur-angsur bisa dikendalikan, rasa kantuk yang hebat menghipnotis kelopaknya hingga membuatnya terasa amat berat. Debar jantungnya kembali seperti normal, tidak berdentum-dentum menyakitkan seperti tadi.

Semakin lemah. Dan semakin lemah.

Bujangnim?”

“Tutup teleponnya,” Kyuhyun mengatakannya dengan susah payah, berusaha mengenyahkan rasa kantuk ini agar tetap berbicara dengan Sungmin. Tetapi dia tahu jika efek pil yang ditelannya tidak bisa dihindari. “Aku .., baik-baik saja.”

Bujangnim? Cho Bujangnim?! Kyuhyun-ah?”

Telepon ditutup oleh Sungmin setelah panggilannya tidak digubris sama sekali oleh Kyuhyun. Dan lelaki yang terbaring di ranjangnya yang kusut, memejamkan mata tidak berdaya dengan kerut-kerut dalam di kening.

Tertidur lelap kendati sedikit-banyak ingatan masa lalunya masih menghantuinya dalam mimpi.

OoO

Kyuhyun keluar dari mobil Mercedes M-classnya, merapikan kemeja linennya sebentar setelah meletakkan kotak yang bertuliskan nama restoran terkenal di atas kap mobilnya. Dia memastikan jika penampilannya sudah oke, barulah kaki-kakinya menapaki aspal dan membawanya masuk ke sebuah gedung apartemen.

Bawah sadarnya telah mencoba mengingatkan dengan keras mengenai apa yang akan dilakukannya pada hari ini. Dengan amat susah payah, dewa batinnya sedang berusaha menyimpan segala emosi yang tidak dibutuhkan dalam suatu kotak ajaib di sisi kepalanya. Kyuhyun naik lift untuk bisa sampai di lantai tiga, berdebar-debar tidak keruan saat memikirkan apa yang akan terjadi jika dia sampai di sana. Ini hari Minggu dan seharusnya akan menjadi akhir pekan yang menarik. Walau dia sendiri tahu jika kedatangannya pasti akan mengejutkan.

Setelah kejadian di malam itu, ketika Kyuhyun menelepon Sungmin dalam keadaannya yang setengah gila, dirinya mendapatkan tatapan penuh ingin tahu dari Sungmin manakala mereka bertemu di pagi harinya. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka, kontak langsung yang dilakukan keduanya hanya saling bertukar pandangan di awal hari itu. Dan semuanya selesai.

Berhari-hari setelahnya, beban penyesalan yang dipikul Kyuhyun perlahan mulai terangkat jika mengingat pandangan tersebut. Tiap malam dia selalu memikirkan Sungmin bahkan saat zat anestetis mengaliri pembuluh darahnya; dan kenangan masa lalu mereka yang membahagiakan sempat disetel sebagai mimpi.

Mimpi indah.

Kyuhyun sudah sampai di depan sebuah pintu apartemen bertuliskan angka 209, menatap bel pintu lamat-lamat dan akhirnya memutuskan untuk memencetnya.

“Siapa?” Suara Sungmin terdengar serak saat keluar dari mulut interkom.

“Aku, Kyuhyun.”

Dua detik setelahnya, pintu disentak oleh pemiliknya. Sungmin yang mengenakan kaus santai serta jeans pendek muncul dari balik pintu, menatapnya penuh pertanyaan tetapi dia tetap mempersilahkan tamunya—bosnya—masuk.

Kyuhyun duduk di sofa ruang tamu yang kecil, tetapi Sungmin masih berdiri di depan meja dengan mengaitkan tangan.

“Cho Bujangnim, mau minum kopi atau teh?”

“Oh,” Kyuhyun sempat melupakan barang bawaannya. Tangannya bergerak meletakkan kardus tenteng itu ke atas meja dan Sungmin langsung menghujaninya dengan tatapan menyelidik. “Aku membeli sarapan untuk kita.”

Sungmin memiringkan kepala ke suatu sisi.

“Duduklah,” Perintah Kyuhyun, dan Sungmin langsung menurutinya seperti seekor anjing terlatih. Kyuhyun membuka kardus tenteng itu, mengeluarkan isinya; dua kopi panas dan dua burger berukuran jumbo. “Kau masih suka burger, ‘kan?”

“S-saya tidak mengerti kenapa Anda begitu ..,” Sungmin menggigit bibir ketika tidak mampu menemukan kata yang tepat untuk menyambung kalimatnya. Pandangannya terfokus pada makanan yang dibawakan bosnya, lalu dia memandang Kyuhyun. Terus bergantian seperti itu. “Cho Bujangnim, kenapa Anda membawa ..”

“Bisakah kita benar-benar menggunakan banmal ketika sedang bicara berdua?” Tiba-tiba, Kyuhyun mengangkat dagunya dan pandangannya yang tajam terarah lurus menembus manik kristal Sungmin. “Minnie, apakah sungguh sulit?”

Sungmin terkesiap kala nama kecilnya disebut oleh Kyuhyun; panggilan yang sudah lama tidak hinggap ke pendengarannya. Sulur-sulur kerinduannya menguncup tanpa diduga, perasaannya meletup-letup asing meskipun dia ingin bersikap biasa seperti sebelum-sebelumnya. Sungmin menghindari tatapan mata Kyuhyun, menggulung telapak tangannya erat-erat dan menghela napas.

“Saya tidak mengerti kenapa Anda mengunjungi saya pada hari libur, membawakan sarapan, dan ..,” bahunya mengedik dan lagi-lagi Sungmin tidak menuntaskan kalimat yang akan diucapkannya. “Bujangnim, apakah Anda baik-baik saja?”

Kepala Kyuhyun seperti baru saja dipukul oleh godam besar menyakitkan yang menciptakan rasa pening luar biasa. Kalimat formal dari Sungmin benar-benar nyaris identik dengan penolakan. Banmal adalah hal paling simpel yang mereka perlukan untuk menuntaskan segala permasalahan yang terjadi di masa lalu. Dan Sungmin selalu menampiknya.

“Sudah tujuh tahun, Sungmin,” Kyuhyun nyaris mengeram, sorot matanya melembut. “Aku terjebak dalam penyesalan dan aku benar-benar ingin menebusnya.”

Sungmin tersentak, bahunya terangkat dan turun lagi pada detik yang nyaris bersamaan. Pandangannya merendah seketika saat memori kelam yang pernah dilaluinya dengan Kyuhyun berkelebat dalam benak. “S-saya tidak mengerti,” ujarnya susah payah.

“Berhentilah bersembunyi dan salahkan aku seperti tujuh tahun lalu!!” Kyuhyun gagal mengontrol amarahnya yang sudah meledak, memilih menghancurkan kotak pertahanannya. Matanya melotot, begitu pula Sungmin yang duduk di hadapannya. Sungmin melukis raut terkejut sekaligus tidak mengerti; mungkin dia terlalu dikagetkan dengan perubahan nada bicara Kyuhyun yang begitu tiba-tiba.

Kyuhyun bangkit dari duduknya, menarik Sungmin untuk ikut berdiri dan memegang pundak sempit wanita itu erat-erat. “Katakan,” ujarnya tanpa pikir dua kali. “Kenapa kau bersikap begitu dingin setelah kita bertemu, huh?”

Tembok pertahanan Sungmin baru saja dihantam oleh ombak perasaan sedih yang diakibatkan oleh pengalaman masa lalu. Air mata serasa berubah menjadi puluhan jarum tajam yang menusuk bola mata Sungmin hingga membuatnya perih dan perlahan pandangannya mengabur.

“Aku terjebak dalam penyesalan, Sungmin. Dan selama tujuh tahun aku tidak bisa menjalani hidupku dengan tenang selama aku belum mendapatkan permintaan maafmu,” Kyuhyun mengucapkannya lamat-lamat dengan desah berantakan. Manik matanya bergulir ke segala arah, memerhatikan raut lawan bicaranya.

“Apakah hanya permintaan maaf?”

Kyuhyun merasa lega setengah mati ketika mendengar logat banmal di kalimat Sungmin. Dua telapak tangannya merayap naik membungkam pipi gembul Sungmin. “Ya.”

“Setelah kau mendapatkannya,” Sungmin menggigit bibir ketika tenggorokannya serasa baru saja disodok oleh kesedihan. Nada suaranya mendadak bergetar samar. “Bisakah kau pergi dari hidupku?”

“Apa?”

“Setelah aku memberikan kata maafku, bisakah kau segera pergi dari hidupku? Bisakah kau tidak muncul lagi di hadapanku? Bisakah kau mati sekalian untuk menebus semuanya!” Sungmin memicingkan matanya yang penuh air mata, diam-diam dewi batinnya tersenyum miris ketika mendapati gurat terluka di sorot mata Kyuhyun. “Bisakah Anda melakukan itu, Cho Kyuhyun Bujangnim?”

Kyuhyun jelas tertohok karena serentetan kalimat yang didengarnya dari Sungmin; merasa sangat terpojok dan sialnya dia tidak bisa melakukan apa-apa. Rasa sakit yang diderita Sungmin sama besarnya seperti apa yang dirasakannya, karenanya, Kyuhyun tidak punya nyali untuk menanggapi lebih lanjut.

“Tidak bisa, ya?” Pandangan Sungmin turun kebawah, kelopak matanya berkedut hingga meloloskan satu bulir air matanya. “Kalau kau tidak bisa, cepatlah pergi dari sini, Kyuhyun. Aku benar-benar tidak mau melihatmu lagi.”

“Tidak bisakah kau memberiku kesempatan kedua?” Kyuhyun mengatakannya dengan nada putus asa. “Agar aku bisa menebus semuanya?”

Sungmin menggeleng keras kepala. “Tidak akan, Kyuhyun,” kepalanya kembali mendongak dan matanya melotot penuh permusuhan. “Aku tidak mau memberikan kesempatan pada monster sepertimu,” dia menekankan nada suaranya pada kata monster lalu berbalik pergi meninggalkan Kyuhyun yang tertegun di ruang tamunya.

TBC

Halooooo, my precious readers-nim ~~ berasa lama banget nggak mampir ke sini. Sebenernya nggak punya niat posting cerita baru soalnya ff yang kemaren kan belom kelar. Tapi buat selingan aja /biar kalian semua nggak ngelupain aku wkwk/ akhirnya aku posting aja yang ini.

Caca, ini ff request-mu. Kyuhyunnya udah menderita belom sih? Ini ff oneshoot, tapi gegara wordnya yang lumayan banyak, aku jadiin twooshoot deh. Wkwk sebenarnya sih udah lama kelar, tapi karena ada suatu alasan tapi malah kesimpen cukup lama di laptop. Banyak terinsiprasi dari chat gue sama si Caca /big hug, sistaa {}/ aku tunggu responmu lho :3 dan aku juga nunggu respon para reader semuanya.

Nunggu ending Teach for Love? Bentar lagi aku posting kook. Udah masuk tahap editing. Tunggu sebentar lagi, ya :”)

Nah, untuk sekarang, baca yang ini aja dulu. Dan kasih komentar buat nyemangatin akunya, ya. wkwk butuh tanggapan kalian buat editing chap 9 teach for love, soalnya chap itu butuh banyak rombakan/? Semakin banyak komentar, semakin cepat posting. Pokoknya update soon deh J

Okay, see you in Teach for Love yaaa ~

42 thoughts on “Come Back Although isn’t Easy | Twoshoot | Chap 1/2 | KyuMin | Genderswitch | T+ | Drama, Angst |

  1. Oh ya ampun, ngenes bgt kyu nya, tp aku suka, muahahaha
    feelnya ngena, dari baca summary ampe TBC gak berhenti dagdigdug, kkk
    girang bgt nemu ni ff, sangat sangat ditunggu part 2 nya ^^

  2. Huwaaaaa. Baru bisa baca sekarang aku. Maafkan hehe.

    Sukaaaaa, keren eon! kyu kyk virus bgt gitu. Udah menderita bgt itu sampe ke psikiater segala. Kasian jadinya.

    Paling suka sama dialog ini
    “Setelah aku memberikan kata maafku, bisakah kau segera pergi dari hidupku? Bisakah kau tidak muncul lagi di hadapanku? Bisakah kau mati sekalian untuk menebus semuanya!”
    Keren banget Oh my Gosh!
    Walau masih blum tau flashbacknya kyk gmn. Tapi aku suka bgt liat karakter cwek yg ga lemah kyk gini. Asik, kapan lagi bisa baca ff kyu tersiksa kyk gini.

    Makasii, makasii banget yeppeo eonni karena telah mengabulkan request ku.

    Next chap juseyo~
    Love you, Fightiiiingg!!

  3. udh lama gk baca ff disini..T.T

    ahh…kepo sama apa yg kyu lakukan dimsalalu terhdp sungmin…ahh….mcmnya mendlm kli sakit hati sungmin. …*hugMing

  4. penasaran, knp mpe dsebut monster? knp maaf hrs sama harga dg mati?… salah ap si kyu?…
    fighting! fighting! fighting! fighting! fighting! fighting! fighting! ㅋㅋㅋ

  5. iyaaaa mana nih teach of love nyaaa
    hehe ini ffnya berapa word? kayaknya singkat banget.. btw semangat editing nyaaa haha gomawo

  6. Welcome back …
    Cerita seru … Malo ditnya kyu day menderita blm ? Jwbannya blm hahaha *ketawaevil
    Penasaran KNP kyu sample dipanggil monster, kesalahan ap yg dia lakuin 7th yg lalu sampe sungmin mints kyu mati ….
    Ditunggublanjutannya ya
    Met puasa

  7. huwaaa seneengnya ada cerita ttg kyumin lagi….. pas banget aku kangen dengan kyumin,, senengnya..
    walupun ceritanya ttg kyuhyun yg menderita tapi tetep aja aku suka kalo ada yg nulis ff kyumin.
    ditunggu lanjutannya, biar jelas kisah kyumin semuanya

  8. yg paliiiiing bikin kepo itu apa yg kyu lakuin ke min ampe min benciiii bgt ama kyu .. trs ampe kyu depresi krn penyesalannya sndr.
    suerrr ini bikin penasaran bgt.

    ditunggu teach for love nya🙂

  9. uhh lama banget author ga nongol2, kangen tau..hehehe tiba tiba nongol bawa ff baru. Dan…apa ini??? monster? kyuhyun jadi monster? LOL. sungmin kata katanya frontal bingit.welcomeback authornim^^

  10. hoho jiyoo come back…kesalahan apa gg kyuhyun buat sii??penasaran sampe sungmin ga mau balik lagi??

    lanjutt thor..s.e.m.a.ng.a.t…

  11. Kuraang ngenees….. wkwkwkwkwkkkk hayooo buat diaa lbh trsiksa lagii……….
    lamoo nian gk ada kabar… dtunggu part 2 nyaa…. ^^

  12. Jiyoo kamu dr mana sja siiiih?
    Lama menghilang udah gitu susah ngehubunginx. Meskipun udah ubek2 akun d ffn sama d WP tp nggk ad 1pun akun yg bsa d hbungi (buat nagih ff).
    Aku udah hampir hopeless nungguin lanjutan TFL.
    Kemarin udah hampir teriak pas cek email ad pemberitahuan fanfic bru d WP from Jiyoohanigasu. Kupikir TFL chp 9 eh tau nya fanfic bru. Tp nggk apa2, ceritanya nggk kalah keren kok. Haha aku juga suka kalau Kyuhyun mendrita.
    Btw TFL ditunggu ne…

  13. Kesalahan Kyuhyun apaan sampai Sungmin bilang Kyuhyun “Monster”?
    Kasihan Kyuhyunnya minum pil karena rasa berslahnya.

    Next chap~
    Semangat updatenya Jiyoo^^

  14. ada ksalahan bsar ap yg chokyu bkin smpe ming kykx benci skali sm dy trus ngatain monster lg..ap dlu chokyu it pria yg jahat ya atau slalu brskap kasar sm ming#mulai ngelantur..hahaha
    smoga sja smw mslh d msa lalu cm slah paham trus mreka bs baikan lg deh

  15. aku udah baca yang versi hunhan di ffn tapi rasanya beda kalo couplenya kyumin mungkin krn emang sudah biasa dengan kyumin jadi feelnya lebih dapet.
    adain sequel dong authorr.
    kasian kyuhyun, tapi sungmin juga kasian.

  16. Kesalahan si evil apa sihh???? Ya ampun ampe di katain monster segala… Andai aku bisa spt lee sungmin, bersikap tegas terhadap laki laki yg udah nyakitin dia di masa lalu. Aku g se delema sekarang.. Plis kita sama sungmin.. Laki” yg dulu nyakitin aku jg kini muncul kmbali dgn sttus duda beranak satu.. Pusing pala saya #curcol…. Kurang tersiksa. Bikin si kyu mati muda aja gara” tersiksa… #evil hahahahaaa next chap meluncurrr

  17. wohohoho…unnie baru nyempetin lg mampir di blog saeng,secara kmrn2 disibukkan dgn persiapan pernikahan & kehidupan baru jg

  18. Haaaaaahhh rasanya udah lama gak mampir di wp ini ,, baru kali ini dan iseng2 bolak balik dftar ff .. Eh ternyata ada ff yang kyu nya menderita ,,😀 duuuhh kayak nya kesiksa banget tuh si kyu embul , jadi kesalahan apa yang pernah kyu buat ..

    Eonn kmna ajah , belum juga update . Lagi sibuk yahhh , kita para readers lagi nunggu karyamu lho🙂 jngan lupakan kami juga nde ,😀
    Semangat eonn ,, jangan bikin kita lumutan gara2 nunggu🙂

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s