Role on Lovesick | OneShoot | KyuMin | Genderswitch | T+ | Drama, Friendship |

Role on Lovesick

Genre : Drama, Frienship

Rate : T+

Pairing : KyuMin as Maincast. HanChul as Secondcast with other Super Junior Members as well.

Length : Oneshoot

Warning : Genderswitch. Miss typo(s)

Disclaimers : Saya hanya meminjam nama dari mereka untuk menemukan inspirasi dan membaginya dalam bentuk karya sastra. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang sedikit melebihi ambang batas wajar. Hargai kerja keras author dengan mengisi kolom comment dengan beberapa tanggapan. Muak dengan cast atau plot cerita? Just click a close button on your web browser, guys. Wanna chitchat? Add my Line acc. Don’t bash any cast or other, please.

Summary : Kyuhyun dan Sungmin terikat dalam hubungan persahabatan murni yang dibangun sejak mereka berada dalam masa kanak-kanak. Semua masih tidak ada masalah karena keduanya memang menyukai hubungan persahabatan kokoh di antaranya. Tetapi, masalah baru muncul ketika Sungmin harus dihadapkan dengan seorang berandal sekolah yang memintanya jadi pacar. Sungmin ingin menolak, dan dia punya satu ide bagus untuk menghindari masalahnya. Yaitu pacaran (palsu) degan Kyuhyun.

BGM : Just listen on your own playlist that have many sad songs of SMTOWN fams and also Wu Yifan and Xi Luhan.

Suara kicau burung merdu terdengar sebagai melodi pagi yang khas, tidak gentar dengan udara dingin yang menerpa di pertengahan musim dingin ini. Angin yang berhembus membawa embun yang nyaris membeku, menggerakkan ranting-ranting mungil yang dijadikan pijakan oleh kaki kecil burung perkutut yang sedang bernyanyi. Matahari yang beberapa menit lalu masih mengintip malu-malu di ufuk timur kini menyinari bumi dengan cahayanya yang lembut nan hangat. Gumpalan es di sisi jalan mulai mengkristal dan memantulkan warna cantik akibat bias dari sinar matahari. Jalanan kecil di kawasan Gwang-Moo masih tampak lengang. Bukan karena ini masih terlalu pagi, tetapi karena hari ini merupakan hari libur. Akhir pekan telah tiba dan membiarkan sebagian para pekerja serta murid sekolah bergelung lebih lama dengan selimut tebalnya yang nyaman.

Semua murid sekolah pasti akan menyambut akhir pekan dengan suka cita. Semua murid, tidak terkecuali Lee Sungmin.

Gadis berwajah secantik dewi itu tengah menikmati waktu tidurnya yang berharga sambil bergelung dan memeluk boneka beruang besar kesayangannya—yang merupakan hadiah dari kekasih kakaknya yang super baik hati sekaligus royal sekitar 3 tahun lalu, Tan Hangeng. Selimutnya yang beraroma lavendel menutupi tubuhnya hingga menyentuh dagu, kakinya yang telanjang tertekuk dan tertumpang pada perut bonekanya. Suara dengkur halus penuh kedamaian meluncur dari mulutnya, bibirnya yang tipis mengerucut dan sesekali bergerak demi menggumamkan sesuatu.

Dia tahu jika hari ini akhir pekan. Dan dia tidak keberatan dengan tidur sedikit lebih lama. Mungkin 3 jam lebih lama dari biasanya? Kenyamanan dari kamarnya yang penuh sesak oleh harum lavendel membuatnya terbuai dan merasa enggan untuk beranjak. Pikirnya, tidak akan ada setan pengganggu yang akan mengusik tidurnya di akhir pekan. Kedamaian akan melingkupi hari minggunya yang berharga dan ketika membuka mata nanti, dia berharap bisa menemukan bagel buatan ibunya di meja makan. Kalau tidak begitu, dia berharap Hangeng bisa berkunjung dan membawakannya beberapa cake in jar kesukaannya.

Sungmin percaya jika Tuhan dan malaikat sekali pun akan berpihak kepadanya untuk hari ini. Seminggu ini dia sudah jadi gadis yang baik dengan tidak pernah absen ikut les pianonya, tidak pernah membangkang perintah eomma dan appa, dan bisa menahan diri untuk tidak makan makanan berkalori secara berlebihan demi menjaga berat badannya. Angka di timbangan elektronik bisa saja mencapai angka 50, dan Sungmin akan mulai menangis jika menemukan fakta itu. Dia tidak mau jadi gadis buntek yang jelek, lalu berakhir dengan tidak punya pacar. Jadi, dia berusaha menjaga pola makannya selama 6 hari dalam seminggu dan baru bisa makan makanan berkalori sedikit berlebih ketika hari minggu.

Karena kesenangan itu, hari minggu menjadi surga bagi Sungmin.

Sungmin baru akan menguap lebar tetapi suara knop intu yang diputar membuatnya urung untuk melakukan pergerakan. Lengannya yang melingkar di leher boneka beruangnya mengerat penuh antisipasi. Batinnya mulai menebak mengenai siapa yang berani masuk ke kamarnya di awal pagi di hari minggu.

Siapa?

“Ming!! Ming!!”

Sial.

Seseorang yang memanggil Sungmin dengan panggilan khas itu mengguncang pundak Sungmin dengan gerakan tidak sabaran. Nada suaranya yang tegas dan hangat terdengar sedikit memaksa, dan suatu sisi di ranjang Sungmin melesak karena diduduki oleh tamu tidak diundang tersebut.

“Ming! Bangun! Sampai kapan kau akan pura-pura tidur seperti itu?”

“Eomma!!” Sungmin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menjerit ketika seseorang itu selesai mengatakan kalimatnya. Tubuhnya bangkit dalam persekon detik lantas pekikannya terdengar memekakkan telinga. Wajahnya yang lelah dan mengantuk berubah menjadi semakin masam. “Kenapa Eomma membiarkan Kyuhyun masuk kamarku?!” teriaknya tidak terkendali.

Dan pemuda yang dipanggil Kyuhyun itu mengerjapkan kelopak matanya. Tidak lama setelahnya dia terkekeh tanpa rasa bersalah. “Maaf, Ming,” katanya kemudian. “Tetapi Tante Lee menyuruhku untuk langsung kemari ketika aku akan mengatakan untuk menunggumu di bawah.”

Sungmin memberengut semakin tidak terima. “Kau ‘kan bisa ngotot,” dia mengerucutkan bibirnya, sebelah tangannya tergoda untuk mengucek matanya yang masih dihinggapi sindrom mengantuk.

Kyuhyun kembali meringis hingga menyebabkan taring giginya mengintip dari sudut bibirnya. “Maaf, ya,” Ibu jari dan telunjuknya bergerak mencubit pipi gembul Sungmin yang menggelembung dan menuai geraman marah dari pemiliknya.

“Ada apa kemari? Cepat katakan!!” Sungmin berseru tidak sabar.

“Kau tidak berniat mandi dulu? Kau bau.”

Komentar itu berhasil membuat Sungmin mendelik tidak terima dan akhirnya sukses melayangkan cubitan main-main di pinggul ramping Kyuhyun. “Pergi saja ke neraka jika kau hanya ingin mengataiku, Setan!”

Suara siulan menggoda yang tidak sopan terdengar dari ambang pintu dan kedua muda-mudi di atas ranjang itu menoleh ke sumber suara. Mereka menemukan seorang pemuda tinggi dengan rambut cokelat pirangnya sedang berdiri bersandar di sisi pintu, sebuah tablet berwarna putih tulang ada di genggamannya. Tatapan matanya yang tajam dari sepasang mata elang itu terarah tepat ke arah Sungmin serta Kyuhyun, mengial penuh godaan.

“Apa yang dilakukan cowok di bawah umur di kamar calon adik iparku?” kata laki-laki setampan dewa itu sambil mengangkat sudut bibirnya hingga membentuk senyuman menarik.

“Gege!!” Sungmin menyibak selimutnya dengan gerakan cepat dan berlari menghampiri tubuh lelaki tinggi-tampan itu, meninggalkan Kyuhyun yang seketika merasa kalah karena sudah ditinggalkan tanpa kata oleh Sungmin. Gadis berpiyama itu merentangkan tangan dan disambut dengan suka-cita oleh pemuda itu, mereka berpelukan erat hingga Sungmin membenamkan wajah cantiknya di dada pemuda itu. “Hangeng-ge! Aku rinduuuuu sekali!”

“Halo, Cantik,” Pemuda tampan itu membalas pelukan penuh rindu dari Sungmin dan menepuk punggung gadis cantik itu sambil terkekeh-kekeh menyaksikan Kyuhyun yang cemberut di tempatnya. “Sudah bersikap baik selama aku di L.A?”

Sungmin menarik kepalanya dan mengangguk mantap, mata rusanya berkilau oleh sinar bahagia yang membuat Hangeng silau setengah mati. “Aku tidak tahu kalau Gege ke L.A! Jahatnyaa!”

Alis tebal Hangeng melengkung tajam setelah mendengarnya. “Heenim tidak memberitahumu?”

Sungmin menggeleng lantas kembali membenamkan wajahnya dengan nyaman di dada Hangeng. “Dia ‘kan jahat. Kenapa Gege masih pacaran dengannya?”

Hangeng nyaris tersedak oleh rasa geli akibat sikap kekanakan dari calon adik iparnya. “Kalau bukan dengan Heenim, apa aku harus pacaran denganmu?”

Seseorang berdehem dan membuat momen romantis antar dua orang itu terputus tanpa peringatan. Sungmin memberengut sementara Hangeng masih menahan rasa geli di pangkal perutnya.

“Biar kuingatkan, Ge,” Kyuhyun berjalan mendekat dan menarik pergelangan tangan Sungmin. “Dia milikku.”

Sungmin terkejut karena kalimat Kyuhyun barusan, apalagi dengan tarikan tangan Kyuhyun yang mencengkeram erat pergelangan tangannya. Secara naluriah, jemarinya menggenggam kaus santai yang dikenakan Hangeng dan mencoba bertahan. “Tidak! Gege! Kyuhyun bicara omong kosong!!”

Hangeng semakin geli ketika mendapati pertengkaran antara dua sahabat kekanakan yang sudah dikenalnya dengan baik. Walau Sungmin mencengkeram kaosnya erat-erat, dia tidak bisa membiarkan Kyuhyun terus cemburu sehingga dia memilih melepas Sungmin. “Benarkah?” Pertanyaannya terlontar untuk dua orang sekaligus. “Jadi, siapa yang benar?”

“Aku!” Sungmin menjawab cepat. “Aku, Gege!”

Kyuhyun memutar bola matanya kesal, jelas sekali jika Hangeng akan selalu menang telak jika dibandingkan dengan dirinya. Pemuda berambut hitam itu berkacak pinggang mendapati sikap kekanakan sahabatnya. “Ming, kita tidak punya waktu banyak untuk mempersiapkan segalanya.”

Dengan gerakan ringkas Sungmin memutar kepalanya dan menatap Kyuhyun penuh pertanyaan. “Mempersiapkan untuk apa?”

Kyuhyun maju selangkah lantas menyentil dahi Sungmin dengan telunjuknya. “Kau sudah tertular penyakitnya suka-lupa milik Yesung, ya?” tanyanya menuai kerut tidak terima di wajah Sungmin. “Rencanamu untuk menolak—hmmp!!”

Sungmin melompat seperti kelinci lincah ketika pikirannya terhubung lebih cepat ke suatu arah dan dia menemukan jawabannya sebelum Kyuhyun sempat mengatakan semuanya. Telapak tangannya yang mungil membekap mulut Kyuhyun lantas ringisan main-main terbentuk di bibirnya. “Hangeng-Ge? Bisa keluar sebentar? Aku harus mandi dan setelahnya membicarakan sesuatu yang penting dengan setan ini.”

Hangeng tersenyum separo dan mengedikkan bahu. “Oke,” Manik mata cokelatnya menatap Kyuhyun yang berusaha melepaskan diri dari cengkraman Sungmin. “Jaga tanganmu dari adikku, Kyuhyun. Aku bisa memenggal kepalamu jika berbuat macam-macam kepadanya,” ancamnya main-main lantas melenggang pergi.

Sungmin melempar Kyuhyun ke dalam kamar dan membanting pintu, mengantisipasi jika semuanya aman kemudian dia menghampiri Kyuhyun yang sebal karena mulutnya sudah dibekap. “Jadi, bagaimana rencananya?”

“Mandi dulu,” Kyuhyun mengial ke arah kamar mandi berpintu merah muda cerah dengan stiker tiga bebek kuning lucu. “Bau.”

Sungmin menggerutu tetapi dia tetap pergi ke kamar mandi setelah memilih pakaian yang akan dikenakannya. Selagi Sungmin mandi dan berkutat dengan sabun serta sampo stroberinya, Kyuhyun meraih toples bulat berwarna merah dan membuka isinya, menemukan kue cokelat mungil lantas melempar bulatan manis itu ke mulutnya dan mengunyahnya. Tubuhnya yang mulai gendut dengan balutan kulit seputih susu tergeletak di atas kasur, kakinya terjulur santai dan telapaknya bergerak-gerak mengikuti irama dari lagu yang didendangkan oleh mulutnya.

Cho Kyuhyun memang memiliki kebebasan absolut atas kamar Sungmin, dia tamu istimewa yang selalu dipersilahkan Tante Lee untuk tinggal di kamar putri mereka setiap kali dirinya berkunjung. Statusnya sebagai teman masa kecil Sungmin membuatnya lebih leluasa untuk mengunjungi putri keluarga Lee. Sungmin dan Kyuhyun memiliki rentang umur 2 tahun dengan Sungmin yang berkedudukan lebih tua. Namun hingga Sungmin mencapai tingkat 3 di sekolah menengah atas, tetap saja sikapnya kekanakan. Dan kehadiran Kyuhyun yang juga kekanakan malah membuatnya semakin manja. Setiap hari mereka menghabiskan waktu berdua, nyaris menyerupai kakak-adik sekandung yang saling mengasihi. Keduanya terdaftar di satu sekolah swasta dan dikenal sebagai duo kembar yang sempurna.

Tidak punya kekasih. Sama-sama single. Sama-sama punya wajah menarik. Dan sempurna.

Pintu tersentak terbuka dan Sungmin dengan rok renda serta kaus hello kittynya muncul dari sana. Tubuhnya menyebarkan aroma harum segar stroberi yang begitu dikenali Kyuhyun lantas gadis itu menghampiri ranjangnya.

“Sudah punya rencana?”

Kyuhyun menatap wajah segar Sungmin dengan ekspresi datarnya lalu menggeleng. “Belum,” katanya ringan sambil melempar satu bulatan kecil cokelat ke mulutnya.

“Kau itu!!” Sungmin sudah bersiap akan menjambak rambut Kyuhyun tetapi dia mengurungkan niat setelah mengingat masalah seperti apa yang sedang melandanya. Tubuhnya langsung jatuh di atas ranjang dan wajahnya berubah masam. “Kau tahu benar jika ini masalah serius.”

“Menurutmu saja,” Kyuhyun bertingkah sok cuek sambil terus mengunyah kuenya. “Kau hanya perlu mengatakan ‘tidak’ dan ‘maaf’, Ming. Apa salahnya sih?”

Sungmin menoleh ringkas ke arah Kyuhyun yang telah mengatakan hal itu dengan nada ringan tidak bertanggungjawab. Matanya melotot karena kemarahannya dan jemarinya siap menerjang tubuh Kyuhyun demi mencabiknya. “Kau!!” jeritnya tertahan lantas melompat ke arah Kyuhyun dan berhasil membuat toples itu menggelinding jatuh, dengan tubuh Sungmin di atas Kyuhyun yang tidak bisa berbuat apa-apa. “Serius tidak sih?!”

“Serius, Ming!” Kyuhyun berusaha membalik posisinya hingga kini Sungmin ada di bawah. Tubuhnya tengkurap dengan bertumpu pada lengannya yang tertekuk di sisi kanan-kiri kepala Sungmin. Anak rambutnya menjuntai begitu menggoda dan rautnya tampak seribu kali lebih sungguh-sungguh karena posisi mereka. “Kau selalu memperbesar masalah padahal dirimu sendiri tahu jawabannya.”

Sungmin mengerucutkan bibir lalu mendorong dada Kyuhyun agar pemuda itu menyingkir darinya. Tetapi usahanya berakhir sia-sia karena Kyuhyun bersikeras untuk tetap memenjarakan dirinya. “Kau tidak mengerti,” katanya sambil mengerjapkan kelopak matanya yang mulai basah, sedih manakala tahu jika Kyuhyun tidak peduli kepadanya. “Kau tidak kenal Kangin. Dia berandal sekolah dan kemarin sore baru memintaku jadi pacarnya. Hari ini aku ingin melupakan semuanya tapi kau sendiri yang datang pagi-pagi dan mengingatkanku tentang hal itu! Dasar berengsek!”

“Bukan, Bukan, Ming!” Kyuhyun berusaha menahan pergerakan tangan Sungmin yang kini mulai memukul dadanya, membuat anak rambut di sekitar dahi dan pelipisnya bergoyang. “Kupikir itu cara terbaik agar kau bisa menolaknya. Terus terang.”

Mata Sungmin semakin berkaca-kaca setelah mendengarnya. “Kalau dia memaksaku karena tahu aku tidak punya pacar bagaimana?”

Kyuhyun tampak berpikir sebentar dan ekspresi blanknya yang seksi menjadi pemandangan gratis bagi Sungmin. “Kalau dia memaksamu, aku akan menebas kepalanya.”

“Memangnya kau berani?”

“Entahlah.”

“Kyuhyun!” Sungmin menjerit sambil menggelengkan kepalanya. “Kau sungguh tidak—”

Suara pintu yang dibuka gaduh membuat keduanya berhenti bertengkar. Dan satu-satunya pelaku yang melakukannya kini melengoskan desahan jengah.

“Jeritanmu, Min,” kakaknya yang cantik, Heechul, dengan summerdress-nya yang penuh lipatan kain ciffon memutar bola matanya malas saat mendapati adiknya sedang dalam kungkungan Kyuhyun. Dengan gerakan cepat dia mengibaskan rambut kecokelatannya yang mengikal hingga melewati pundak sempitnya. “Membuat telingaku cacat.”

“Biarkan mereka berdua, Heenim,” Hangeng muncul dari suatu arah dan melingkarkan salah satu lengannya di perut datar Heechul dengan begitu agresif sekaligus lembut. Matanya mengial ke arah Sungmin dan Kyuhyun yang sudah terduduk dengan ekspresi berbeda seratus delapan puluh derajat. “Remaja yang dimabuk cinta memang seperti itu.”

“Gege!”

Mendapat jeritan melengking dari Sungmin, Heechul segera menutup pintu kamar Sungmin dan meninggalkan dua sahabat itu untuk kembali tenggelam dalam masalah kekanakannya.

“Dunia akan kiamat kalau aku jadi pacarmu,” Sungmin mengatakannya dengan nada jijik penuh antisipasi hingga menuai raut muak di wajah Kyuhyun.

“Memangnya aku mau dengan kelinci gendut sepertimu? Yang benar saja,” Kyuhyun memungut beberapa kue cokelat yang tercecer di atas karpet bulu dan menyantapnya tanpa pikir panjang. Rahangnya yang tegas mengunyah pelan dengan nikmat. “Pacaran saja sama Kangin Sunbae.”

Sungmin memberengut. “Kalau aku pacaran dengan setan sepertimu, semuanya bisa kacau.”

“Ya, kacau,” Kyuhyun menoleh dan memberi tatapan mengerikan ke arah Sungmin, mengancam agar gadis cantik itu tidak berkata-kata lagi mengenai mereka yang pacaran. “Semua Sunbae yang rutin memberiku makan siang bisa kabur. Uang jajanku akan habis karena harus membeli makan di kantin. Itu buruk,” gumamnya. “Sedangkan kau sendiri tidak bisa masak.”

Sungmin terdiam dalam duduknya sambil memandang Kyuhyun yang sedang mengumpulkan cookies dan melahapnya satu per satu. Memikirkan hal yang sudah pasti tidak mungkin terjadi di antara dirinya dan Kyuhyun; berpacaran. Mereka sudah mengenal satu sama lain semenjak dulu dan kebersamaan mutlak yang dirasakannya hanya sebatas sahabat main. Kebersamaan mereka yang bertahan hingga saat ini dikarenakan kecocokan masing-masing. Sungmin nyaman ketika bersama Kyuhyun, begitu juga sebaliknya. Jadi mereka terus bersama kendati banyak orang yang menduga jika dia dan Kyuhyun pacaran. Seperti Hangeng dan Heechul.

“Yang benar saja,” Sungmin bangkit dari duduknya sambil bergumam demi mengusir pikiran aneh mengenai pacaran dengan Kyuhyun. Kaki mungilnya melangkah menuju meja rias dan menyambar tube aroma mawar dan menuang isinya ke telapak tangan. “Pacaran? Denganmu?”

Kyuhyun masih bersikap cuek, lebih peduli dengan cookiescookies imutnya yang sekarang sudah meringkuk dalam toples mungil itu. Punggungnya bersandar pada sisi ranjangnya kendati tatapannya kini menatap refleksi Sungmin di cermin. “Tidak perlu sampai merasa jijik begitu, Ming!”

“Habisnya, apa untungnya pacaran dengan cowok sepertimu?” tanyanya sambil mengoles krim lembut di pipinya yang gembul dan kenyal.

“Mungkin hal itu bisa membuat Kangin Sunbae patah hati,” Kyuhyun mengatakannya dengan cuek dan beralih pada toples lain yang menyimpan potongan gula-gula beku berwarna-warni. Jemarinya memutar membuka tutupnya dan melahap salah satunya, merasakan ledakan manis yang terkombinasi dengan sensasi dingin di mulutnya.

“Huh?” Sungmin melirik Kyuhyun lewat cermin dan terbengong untuk beberapa saat. “Apa katamu?”

“Apa?” Kyuhyun berusaha meraih permen berwarna ungu yang ada di bawah toples dengan memasang wajah rikuh.

Sungmin memutar tubuhnya dan memandang Kyuhyun. “Katamu tadi, Cho Kyuhyun!”

Kali ini, Kyuhyun mengalihkan perhatian dari permen-permen Sungmin yang berkilauan dan mendongakkan kepala. “Apa maksudmu?”

Sungmin mengeram layaknya kucing yang dagunya dibelai manja. Dia meninggalkan tube-tube kosmetiknya dan melangkah menghampiri Kyuhyun yang duduk di atas karpet. “Tentang ‘Apa untungnya jika aku pacaran denganmu’!”

Ekspresi jahil Kyuhyun tercoreng oleh keheranan luar biasa yang melandanya sebab mendengar pertanyaan Sungmin. “Eh?” kerjapnya sekali. “Memangnya tadi aku mengatakan apa?”

“Kalau kita pacaran, Kangin akan patah hati, Kyuhyun! Kangin akan patah hati!” jeritnya tertahan sambil mencengkeram sudut bahu Kyuhyun. Tubuhnya bangkit dan menari-nari karena kebahagiaan sepihaknya. “Kita sudah menemukan jawabannya!”

Kyuhyun masih diserang oleh disorientasi singkatnya saat menyaksikan Sungminnya sedang menari-nari absurd tepat di depannya sambil mendendangkan kata ‘Kangin akan patah hati’. Dia meninggalkan toples gula-gulanya dan ikut berdiri. “Sungmin, apa maksudmu?”

“Kita harus jadian!” serunya tanpa pikir dua kali. “Dengan begitu, masalahku akan selesai! End!”

Wajah Kyuhyun berubah menjadi seperti orang sembelit ketika gendang telinganya mendengar kalimat Sungmin barusan. Sesuatu dalam perutnya melilit sakit dan ada rasa ketidakpercayaan yang muncul di otaknya. “A-apa?”

“Tidak ada kata ‘tidak’, Kyuhyun. Please,” Sungmin meraih dua tangan Kyuhyun dan membawanya di atas dada, pandangannya berubah menjadi lebih bling-bling. Itu artinya, Sungmin sedang memohon. “Kau harus jadi pacarku agar Kangin mundur secara sukarela!”

Kyuhyun berusaha mundur tetapi dia tidak bisa. “K-kenapa harus aku?”

“Karena hanya kau cowok yang dekat denganku!” Sungmin menjawab lancar dan terkikik ceria. “Kau setuju? Oke? Oke?”

“Kau bisa minta bantuan ke Donghae atau .., S-Siwon Sunbae, ‘kan?” wajah Kyuhyun berubah menjadi semakin pias tatkala menemukan raut antusias Sungmin.

“Kau tidak ingat kalau Donghae baru jadian sama Hyukjae? Dan aku sama sekali tidak mau bernegosiasi dengan Kibum, Kyuhyun,” Sungmin memperingatkan dan mendengus cantik. “Jadi, kita jadian?” tanyanya dengan mata bling-bling seperti kilatan api yang tampak berbahaya.

“Ini tidak semudah yang kau pikirkan, Ming!” Kyuhyun membalas kalimat permintaan Sungmin dan mulai emosi karena persepsi sepihaknya. “Kita cuman sahabat dan tidak bisa ..”

“Karena itu, Kyuhyun,” Sungmin mencengkeram sisi pipi Kyuhyun dan memberengut imut. “Karena kita sahabat, kita tidak mungkin pacaran sungguhan, ‘kan? Jadi, cukup pacaran palsu saja.”

“Pacaran palsu,” Sungmin mengangguk hingga poni rambutnya bergoyang. “Untuk menyingkirkan Kangin saja.”

“Hanya untuk menyingkirkan Kangin, ‘kan?” Kyuhyun menggigit bibir penuh sejuta antisipasi di tempurung kepala sementara Sungmin mengangguk mantap.

Pacaran itu hal serius. Dan sialnya, Sungmin yang memintanya untuk melakukan hal itu dengannya. Tujuannya memang untuk menyingkirkan Kangin. Tetapi entah mengapa Kyuhyun merasa takut sekali mengiyakan permintaan Sungmin.

Sungmin yang tak kunjung mendapat jawaban dari Kyuhyun kini mengerucutkan bibir dan memasang raut masam. “Ayolah, Kyu. Kau tahu sendiri kalau aku tidak bisa mengatasi semuanya sendiri. Aku butuh bantuanmu.”

“Masalahnya, ini tentang pacaran, Ming,” Kyuhyun masih berusaha memikirkan semuanya dengan kepala dingin, mempertimbangkan baik-buruknya dengan hati-hati.

“Lalu kenapa kalau pacaran?” Sungmin mendekat ke Kyuhyun dan telunjuknya mematuk dada bidang Kyuhyun dengan main-main. Sebuah pemikiran tidak bertanggungjawab tiba-tiba melesat dalam otaknya dan membuatnya menatap wajah Kyuhyun lekat-lekat. “Kau .., tidak sedang naksir ke seorang cewek, ‘kan?”

“Hah?” Kyuhyun tersentak. “Tentu saja tidak!” jawabnya tegas karena dia benar-benar merasa tertuduh ketika dikatai seperti itu.

“Kalau begitu, kita pacaran,” Sungmin merunduk lagi dan meraih tangan kiri Kyuhyun. Dia menyentuh kelingking kurus Kyuhyun dan mengaitkannya dengan kelingkingnya sendiri. “Mulai hari ini, Kyuhyun,” katanya lalu terkekeh.

Sementara Kyuhyun sendiri tampak makin pucat setelah mendengarnya.

*

Hari pertama masuk sekolah dengan status baru—tetapi palsu—yang disandang Sungmin dan Kyuhyun sontak membuat para murid heboh. Kyuhyun dan Sungmin datang ke sekolah dengan tangan terpaut mesra serta candaan akrab yang nyaris tidak ada bedanya. Cuman yang membuat mereka tampak seperti orang pacaran adalah tautan tangan itu.

Kyuhyun dan Sungmin bertautan tangan. Keduanya berjalan memasuki lorong kelas dengan berjalan secara berdampingan, semua pandangan tertuju ke keduanya. Suara bisik-bisik ribut yang membicarakan mereka terdengar jelas, membuat Kyuhyun serta Sungmin merasa risih namun dia sendiri tidak bisa protes. Karena mereka benar-benar pacaran.

“Wow, kau sekarang pacaran dengan adikmu, Min?” Kibum yang baru mengambil buku di loker melangkah menghampiri Sungmin dan Kyuhyun, melontarkan pertanyaan dengan nada keras dan menuai lirikan penuh antisipasi dari semua orang.

Tampaknya, semua orang sedang menunggu jawaban langsung dari keduanya.

Sungmin tersenyum percaya diri menghadapi teman sekelasnya, dia mengangkat tautan tangannya dengan Kyuhyun seolah sedang memamerkannya. “Seperti yang kau lihat,” ringisnya bahagia dan ceria. Kepalanya meneleng dan menatap wajah Kyuhyun. “Kita pacaran!”

“Wow!” Ryeowook, cewek kurus yang mungil, tampak tertarik untuk ikut bergabung dalam perbincangan singkat itu. Gadis itu melangkah mendekat. “Jadi, kalian benar-benar pacaran? Sejak kapan?”

Sebelah tangan Sungmin yang lain mencengkeram lengan atas Kyuhyun dan tubuhnya semakin merapat ke Kyuhyun. “Sejaaak,” dia menarik ulur nada suaranya dan menyipitkan mata. “Kita memutuskan untuk pacaran kemarin sore.”

“Kau mengajaknya kencan, Kyu?” Kibum mengarahkan pandangan tertariknya ke Kyuhyun dan menatap penuh tuntutan. “Kau hebat!”

Kyuhyun hanya meringis hingga menampilkan senyum manisnya.

“Kami duluan, ya?” Sungmin berniat meninggalkan Kibum dan Ryeowook di sana dan dibalas anggukan dari keduanya. Dia segera menarik Kyuhyun untuk menjauh dari situ karena mulai tidak tahan menjadi pusat perhatian.

“Kau hebat, Ming,” Kyuhyun menggerutu pelan hingga Sungmin yang bergelayut di lengannya mendengar dan memberengut imut.

“Kau harus percaya pada kemampuan aktingku,” katanya tanpa menyingkirkan ekspresi manja di wajahnya. “Jadi, bagaimana rasanya jadi pacarku?”

“Biasa saja,” Kyuhyun memasang raut flat andalannya, ekspresi setan menyebalkan.

Bibir Sungmin maju beberapa senti saat mereka menapaki anak tangga terakhir dan sampai di lantai dua. “Setidaknya biarkan aku melihat senyumanmu atau mereka semua akan curiga.”

Kyuhyun melirik Sungmin dari sudut matanya dan menyerah. “Well, traktir aku bubble tea sepulang sekolah. Call?”

Call,” kata Sungmin setelah memutar bola matanya. Mereka berhenti tepat di depan pintu kelas Sungmin dan kehadiran keduanya sontak membuat semua murid kelas 3 heboh luar biasa. “Jadi, lakukan dengan benar sesuai rencana kita.”

Kyuhyun tersenyum tampan ketika bayang-bayang bubble tea gratis melayang dalam benaknya. Sebelah tangannya terangkat secara naluriah dan telapaknya jatuh di pipi Sungmin; dan tanpa disadarinya ada desiran aneh saat dia melakukannya. Diam-diam, Kyuhyun berdebar saat melakukannya. Bahkan dia sempat menghela nafas ketika akan mengucapkan sesuatu. “Jadi, sampai berjumpa saat istirahat di kantin.”

Sungmin mengangguk dan melempar senyuman manis menggemaskan. “Aku membawa bekal buatanku dan kita makan sama-sama.”

Kepala Kyuhyun mengangguk setuju, kini dia mengacak pucuk rambut Sungmin penuh kasih sayang. “Masuk, Ming. Agar aku bisa pergi ke kelasku sendiri.”

Sekali lagi, Sungmin mengangguk menirukan gerakan anjing pudel yang lucu. “Bye, Kyuhyun.”

Kyuhyun membalas lambaian tangan Sungmin lantas segera berlalu dari lorong kelas 3 untuk menghindari tatapan tidak bersahabat dari para cowok yang berpapasan dengannya. Tungkai kurusnya yang bergerak cepat menyusuri lantai kayu membawanya cepat sampai hingga ke kelasnya sendiri. Dan di sini pun, dia mendapat tatapan tidak enak dari seluruh teman-temannya.

“Hei, Man,” Donghae yang semula duduk di bangkunya, segera bangkit dan meluncur menghampiri Kyuhyun ketika tahu sahabatnya sudah masuk kelas. Dia melepas earphone yang menyumpal telinganya dan melingkarkan sebelah lengannya di pundak Kyuhyun. “Kudengar, kau pacaran dengan Sungmin Sunbae, ya?”

Bola mata Kyuhyun tertarik ke arah kanan dan mendapati raut penasaran Donghae di sampingnya. Mempertimbangkan akan menceritakan semuanya atau tidak, akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk memilih kata tidak. Dia hanya mengangguk mengiyakan.

Donghae meninju lengan Kyuhyun dan memasang raut tidak percaya. “Kau pernah bilang kalau kalian tidak akan pernah pacaran. Dan sekarang? Kau menjilat air liurmu sendiri, Bung.”

Kyuhyun membanting tasnya di meja dan terduduk, diikuti oleh Donghae yang duduk di sebelahnya. “Cinta bisa datang kapan saja dan sama sekali tidak terduga, tahu.”

“Kata-katamu,” Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. “Setelah punya pacar, kau berubah jadi penuh romantisme begitu. Jadi, bagaimana cerita lengkapnya?”

Kyuhyun mengerjap. “Mau tahu?”

“Jelas!”

“Tanya saja ke Sungmin,” Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan mengecek layarnya, menemukan tiga pesan percakapan dan semuanya dari Sungmin. “Bukankah Hyukjae Noona teman Sungmin? Kau bisa bergosip dengannya nanti.”

“Kau tidak asyik,” Donghae protes dan melepas rengkuhan lengannya. Tetapi, dia kembali mendekatkan wajahnya dan melempar raut penasaran. “Bagaimana caramu menyatakannya? Kalimat langsung? Atau ciuman?”

“Hah?”

“A-ho,” Donghae bersiul tidak sopan ketika mendapati ekspresi berlebihan dari Kyuhyun. “Jadi, ciuman, ya?”

Rona merah mulai membayang di kulit Kyuhyun yang seputih porselen, debaran jantungnya berubah menjadi lebih cepat saat bayangan dirinya dan Sungmin berciuman melintas dalam pikirannya. “Jangan sok tahu, Pendek!”

Donghae terkekeh menanggapi. “Lalu, kalian itu sudah ciuman atau belum sih?”

“Memangnya itu penting?” Kyuhyun berusaha menghindari jenis perbincangan yang menyangkut-pautkan ciuman agar dia bisa menyembunyikan rona merah di pipi.

“Penting, Bung!” Tepukan Donghae di punggung Kyuhyun sukses membuat lelaki tampan itu kembali tersadar. “Aku yang baru jadian dengan Hyukjae saja sudah pernah menciumnya. Setiap hari malah,” katanya tidak tahu malu.

“Hah?!”

“Rasanya lebih hebat dari pada apa pun,” Donghae mengatakannya dengan mengial misterius ke arah Kyuhyun. “Kau harus merasakannya; kelembutan bibirnya, rengkuhan tangannya yang tidak berdaya, cengkeramannya, dan juga .., lenguhannya.”

Wajah Kyuhyun sudah berubah menjadi kepiting rebus yang berwarna merah matang hingga ke daun telinga manakala mendengar kalimat Donghae. Pikiran kotor tentang ciuman dengan Sungmin semakin gencar berputar dalam benaknya, memunculkan rasa penasaran yang begitu besar dalam dirinya.

“Jadi, tertarik untuk mencobanya dengan Sungmin Sunbae?”

Dan tindakan yang dilakukan Kyuhyun selanjutnya adalah memukul kepala Donghae hingga lelaki mesum itu menjerit tidak terima. Bagus. Kyuhyun masih bertahan pada akal sehatnya.

*

Ketika bel pelajaran berakhir dan guru etika itu baru keluar dari kelas Sungmin, segerombol murid memasuki kelas dan menghampiri tempat duduk Sungmin. Salah satu diantaranya yang bertubuh tambun memasang raut bengis sekaligus terluka, membuat Sungmin hanya mampu memasang raut gelisah di wajahnya. Semua murid yang ada di kelas itu diam dan memerhatikan Kangin dan kelompoknya yang kini mengerubungi tempat Sungmin; tidak berani bicara karena tidak mau terlibat masalah dengan berandal yang terkenal kejam itu.

“Jadi,” lelaki bertubuh tambun itu berhenti tepat di depan bangku Sungmin dan bertelekan pada sisi-sisinya. “Kau benar-benar pacaran dengan bocah ingusan itu?”

Sungmin mengeryit ketika Kangin menyebut Kyuhyunnya dengan panggilan seperti itu. “Namanya Cho Kyuhyun, kalau kau lupa, Kangin,” jawabnya dengan lutut bergetar samar. Gadis itu mengangkat dua lengannya yang sekurus ranting dan berusaha berakting serileks mungkin demi menyingkirkan berandal sok ini. “Dan kami benar-benar pacaran.”

“Oh ya?” Nada suara Kangin terdengar lebih mengejek. “Atas dasar apa?”

Sungmin nyaris terbahak karena pertanyaan Kangin. “Cinta, tentu saja,” jawabnya tegas. “Aku mau jadi pacarnya karena aku mencintai Kyuhyun, aku membutuhkannya!”

“Kau jadian dengannya bukan karena ..,” Kangin mengedarkan pandangan dan mendesis. “Untuk menghindariku?” tanyanya menuai raut gelisah di wajah Sungmin.

Sungmin mengangkat dagunya sehingga dia terlihat tidak gentar sama sekali dengan persepsi Kangin yang sebenarnya benar seratus persen. “Lucu sekali jika memang seperti itu,” katanya dengan nada yang lebih meremehkan. “Aku hanya mau pacaran dengan cowok yang benar-benar kusukai,” Sungmin memutuskan bangkit tetapi Kangin mencengkeram pundaknya erat hingga membuatnya mengaduh karena cengkeramannya.

“Jadi, kau menolakku?” tanyanya geram.

“Sudah jelas, ‘kan?” Sungmin berusaha melepaskan cengkeraman Kangin yang terasa semakin menyakitkan di pucuk pundaknya. “Aku memilih Cho Kyuhyun karena aku mencintainya. Kasus selesai.”

“Ming?” Seseorang tiba-tiba muncul di ambang pintu dan membuat semua orang menoleh ke arahnya. Cho Kyuhyun yang kehadirannya begitu ditunggu oleh Sungmin muncul secara ajaib di sana. Sungmin patut bersyukur ketika mendapati kehadirannya. Lelaki itu berjalan santai menghampiri Sungmin dan menyelip membelah kerumunan Kangin yang tidak berguna. Dengan tangan kurusnya, dia berhasil menyingkirkan tangan Kangin dari tubuh Sungmin lantas menarik tubuh gadis itu hingga jatuh dalam pelukannya. Tatapannya tampak tajam dan menggelap karena aura kemarahannya, jelas sekali jika Cho Kyuhyun sedang dilanda emosi tingkat tinggi karena mendapati kekasihnya sedang disentuh oleh pria lain. “Jangan menyentuh cewek orang sembarang, Man. Itu ilegal,” katanya lancar. “Lagi pula, lelaki macam apa yang menggoda cewek orang lain?”

Kangin berdesis dan mengepalkan kepalan tangannya hingga buku jarinya memutih. Dia juga marah karena mendengar kalimat Kyuhyun barusan. Namun bukannya membalas dengan kekuatan fisik seperti yang biasa dilakukannya, Kangin berbalik dan berlalu begitu saja. Dan Kyuhyun menang telak hingga membuat semua teman Sungmin mendesah lega.

Begitu juga Sungmin yang ada dalam dekapannya.

“Kau datang tepat waktu, Kyu!” Sungmin memeluk tubuh harum Kyuhyun dan mencium aroma citrus bercampur asin keringat maskulin yang menguar dari sana. Sekali lagi, dia mendesah senang. “Kau tidak tahu apa yang kurasakan ketika Kangin datang dan menghadangku seperti tadi.”

Kyuhyun segera menarik lengan Sungmin dan membawa gadisnya keluar dari kelas demi menghindari tatapan penuh tuntutan dari teman-teman Sungmin. “Kau tahu sendiri jika si Berengsek itu pasti tidak akan membiarkanmu lari begitu saja.”

Sungmin tergopoh mengikuti langkah kaki Kyuhyun. “Karena itu, terus saja di sampingku. Dia tidak akan banyak tingkah jika aku bersama pacarku.”

Langkah kaki Kyuhyun terhenti ketika mendengar kata terakhir Sungmin, menyentak dadanya hingga menimbulkan perasaan absurd di sana. Dia berbalik luwes dan menatap Sungmin yang melempar tatapan keheranan kentara. Kakinya melangkah mendekat lalu kedua telapaknya mencengkeram pipi Sungmin, menghapus jarak di antara wajah mereka hingga membuat Sungmin merona. Pikirnya, Kyuhyun akan menciumnya atau melakukan tindakan nekat yang lain.

Tetapi nyatanya, tidak.

“Baiklah,” Kyuhyun mengeram menakutkan. Dan untuk yang pertama kali, Sungmin merasa takut dengan nada yang seperti itu. “Kita lakukan akting ini untuk seminggu atau dua minggu, oke?”

*

Hari ini nyaris seminggu setengah setelah Sungmin pacaran dengan Kyuhyun, dan hasilnya berubah drastis. Mereka yang semula akrab satu sama lain hingga nyaris tanpa batas, kini mulai dibayang-bayangi oleh batas nyata yang membuat Sungmin merasa muak. Kyuhyun tidak lagi seperti Kyuhyunnya yang dulu; yang periang, yang jahil, yang suka tertawa, yang suka membuatnya sebal, dan yang lain. Sekarang, Kyuhyun berubah menjadi sosok romantis ketika berada di sekolah. Dan menjadi Kyuhyun yang cuek ketika mereka pulang ke rumah.

Mereka masih berakting seperti sepasang kekasih manakala berada di sekolah, saling bertukar pandangan penuh kasih sayang dan candaan lucu yang lain. Tetapi begitu jam pelajaran habis dan Kyuhyun mengantarnya hingga rumah, pemuda itu berubah menjadi sosok lain yang tidak diharapkan oleh Sungmin. Terlampau masa bodoh, hingga Sungmin selalu merasa sesak jika mengingatnya. Jika dulu Kyuhyun sering sekali mengintipnya lewat jendela kamarnya yang berhadapan langsung dengan kamar Sungmin, sekarang Sungmin nyaris tidak pernah menemukan siluet Kyuhyun di sana. Sungmin benar-benar merasa jika Kyuhyun mulai menghindarinya.

Entah karena apa.

Malam ini, mereka belum berkirim pesan satu pun dan Sungmin tetap menunggunya dengan begitu penuh harap. Lampu kamarnya yang sengaja dimatikan dan hanya berbekal lampu nakas yang remang membias, menyembunyikan raut sedihnya jika saja Kyuhyun memutuskan untuk mengintipnya lewat jendela seperti dulu. Dia membiarkan tubuhnya yang terbalut kamisol berenda merah muda dan celana pendek katun yang senada dengan atasannya diterpa angin malam karena jendelanya terbuka lebar-lebar. Rambutnya yang sehitam jelaga melambai membelai pundaknya yang terbuka, seolah mengundang tangan seseorang untuk menyibakannya ke belakang. Sungmin nyaris menggigil, tetapi dia tetap tidak gentar menunggu kehadiran Kyuhyun di sana.

“Ming?”

Suara berat yang dikenali Sungmin sebagai suara Hangeng terdengar menyusul setelah derit pintu kamar yang dibuka. Dengan perasaan tidak rela, Sungmin membalik tubuhnya demi menyambut Hangeng yang ternyata belum pulang ke apartemen minimalisnya. Raut wajahnya yang murung menimbulkan kerutan dalam di dahi Hangeng.

“Ada apa, Ming? Kau tampak murung,” katanya sambil mendekat. Pandangannya jatuh pada jendela yang terbuka lebar hingga membuat angin malam menerjang ke dalam dan membuat tirai sutrai itu terbang dipermainkan iramanya. “Tutup jendelanya atau kau bisa masuk angin,” katanya dan nyaris menutup jendela itu jika saja Sungmin tidak menahannya.

“Jangan, Gege!” Sungmin berusaha menghentikan tindakan Hangeng hingga kerutan di dahi pemuda itu semakin tampak dalam. “Biarkan saja,” katanya.

“Kenapa?” Hangeng memandang keluar dan tidak menemukan apa-apa selain tingkat dua dari rumah tetangga yang ruangannya gelap dengan jendela bertirai renda putih. “Menunggu Kyuhyun melompati balkon dan bermalam denganmu?”

Sungmin meringis mendengarnya. “Bukan,” sangkalnya. “Tetapi benar jika aku sedang menunggu Kyuhyun.”

“Memangnya kenapa?” Hangeng memerhatikan ruangan gelap yang berhadapan langsung dengan kamar Sungmin, tidak mendapati tanda-tanda kehidupan yang ada di sana. “Kalian ‘kan pacaran, jadi langsung melompat saja.”

“Ih, Gege!” Sungmin memukul sisi dada Hangeng secara naluriah dan menciptakan gelak tawa. “Memangnya boleh seperti itu?”

Hangeng mengedikkan bahu. “Biasanya, remaja yang pacaran itu tidak tanggung-tanggung.”

“Maksudnya?” Sungmin bertanya penuh ketertarikan.

Sebelah tangan Hangeng bertelekan pada lekukan lengannya yang tertekuk dan jemarinya membelai janggutnya yang bersih. “Meledak-ledak, hormon untuk melakukan hal intim dengan pacarnya,” katanya dan sontak membuat Sungmin merona malu. “Kalian pernah ciuman belum?”

Sungmin menggigit bibir ketika mendengar pertanyaan dari Hangeng, memutuskan untuk mengakhiri kegelisahannya dan mencoba untuk membagi sedikit rahasianya dengan Hangeng. Kiranya, itu tidak akan jadi masalah sebab Hangeng sudah bertransformasi menjadi kakak laki-lakinya sendiri. Karenanya, Sungmin merasa semua akan baik-baik saja.

“Gege,” Sungmin menoleh menatap Hangeng dan dibalas oleh tatapan penuh pertanyaan dari pemuda tampan itu. “Mau tahu rahasiaku dengan Kyuhyun?”

Sebelah alis Hangeng terangkat. “Apa itu?”

Sungmin memutar tubuhnya dan berjinjit demi mencapai daun telinga Hangeng kendati Hangeng sudah mencoba menekuk dua lututnya. Gadis cantik itu membisikkan sesuatu mengenai rahasianya dan kedua mata Hangeng membulat karenanya.

“Wow,” dia berkomentar singkat sekaligus tidak percaya dengan fakta yang baru diketahuinya. “Jadi itu semua cuman akting?”

Sungmin memberengut sedih. “Aku sedih bukan karena kepalsuan hubungan kami,” cerita mulai mengalir dari mulutnya. “Tetapi aku sedih karena kurasa Kyuhyun mulai menghindariku.”

“Benarkah?”

Sungmin mengangguk dan gelombang kesedihan menerpa perasaan rapuhnya manakala mengingat segala perlakuan Kyuhyun; mencoba membandingkan masa lalu dan sekarang yang terkesan timpang karena suatu jurang dalam. Tanpa bisa dikendalikan pandangannya berkabut oleh air mata dan dadanya mulai sesak sebab rasa pilunya tidak bisa ditahan lagi. “Dia tidak pernah memperdulikanku lagi,” balasnya nyaris tercekat. “Kami bertingkah sebagai pasangan di sekolah dan semua orang tidak ada yang curiga. Tetapi begitu kami pulang dari sekolah, Kyuhyun berubah drastis hingga dia mengacuhkanku,” lalu setelahnya Sungmin terisak memilukan dan Hangeng meraihnya dalam sebuah rangkulan sayang yang menenangkan.

*

Kyuhyun memandang wajah sedih Sungmin dari kejauhan sudut kamarnya yang gelap, sengaja tidak menyalakan lampu agar dia bisa bersembunyi untuk sementara waktu dari Sungmin. Semenjak beberapa hari lalu, ketika Kyuhyun mulai merasakan perasaan aneh yang membuat jantungnya berdetak tidak keruan saat memandang wajah Sungmin, dia memutuskan untuk sedikit menjaga jarak. Status pacaran yang disandang oleh mereka membuat Kyuhyun terbuai hingga akhirnya terjebak dalam lubang perasaan serius. Kyuhyun bisa saja jatuh cinta jika dia tidak menjaga jarak dari sahabatnya yang secantik malaikat itu. Tetapi jika itu benar-benar terjadi, maka konsekuensinya adalah hancurnya persahabatan suci mereka yang bertahun-tahun bertahan kokoh dengan canda-tawa kekanakan.

Kyuhyun tidak mau hal itu terjadi. Dia tidak mau hubungan persahabatannya dengan Sungmin hancur begitu saja karena perasaan sepihak yang mungkin akan memberatkan Sungmin. Karena hal itu, akhirnya Kyuhyun mengambil langkah untuk menghindar selama beberapa waktu hingga dia bisa kembali menata perasaannya. Ketika semua sudah beres dan Kyuhyun sudah bisa menjadi pemuda normal yang menyayangi Sungmin layaknya seorang sahabat, dia akan kembali ke sisi Sungmin.

Sekiranya, semua akan berjalan dengan mudah tetapi nyatanya hal itu benar-benar berat. Tiap hari Kyuhyun harus dihadapkan dengan raut senang Sungmin yang dipenuhi binar bahagia manakala dia menggenggam tangannya erat-erat. Dan sepulangnya dari sekolah, dia tidak bisa mendapatkan raut itu dan malah mendapati wajah murung Sungmin yang terpapar jelas dari sudut kamarnya. Kerinduan itu membuatnya begitu tersiksa, apalagi saat melihat Sungmin akhirnya menangis dalam dekapan Hangeng setelah sekian lama memandang ke kamarnya dengan tatapan putus asa yang menyedihkan.

Dia merasakan rasa bersalah yang begitu besar sebab telah membuat Sungmin menangis seperti itu. Kyuhyun merasa bahwa dirinya sudah menjadi cowok yang kejam. Malam harinya, dia tidak bisa tidur dengan tenang karena relung hatinya dihinggapi perasaan jengkel pada dirinya sendiri karena sudah membuat Sungmin menangis di balkon tadi. Bayangan Sungmin yang terisak menyedihkan membuat celah di dadanya mengeryit sakit, membuatnya semakin susah tidur. Kendati tepat pukul 1 dini hari akhirnya pemuda itu terlelap dalam tidurnya.

Dan esoknya, dia nyaris terlambat. Jika biasanya Kyuhyun yang menjemput Sungmin di rumahnya, pagi ini Sungmin yang menjemputnya. Lalu mereka terperangkap dalam keheningan mencekam yang baru dirasakan oleh keduanya sepanjang perjalanan menuju sekolah. Kedua sama-sama diam selama berada di bis walau jemari mereka terpaut mesra, dan kecanggungan itu semakin tampak nyata manakala mereka menapakkan kaki di sekolah.

Saat Sungmin dan Kyuhyun akan menapaki anak tangga pertama yang akan mengantar mereka ke lantai 2, tiba-tiba Kyuhyun menghentikan langkah kakinya. Sungmin mengeryit bingung dan senyuman cerah palsunya tiba-tiba luntur dari bibirnya.

“Ada apa?” tanyanya kaget.

Kyuhyun menoleh dan melempar tatapan dingin yang sulit diartikan. Sambil melepaskan tautan tangan mereka, Kyuhyun mulai berucap. “Aku tidak bisa mengantarmu sampai ke kelas, Ming.”

Sungmin tercekat oleh keterkejutannya sendiri. “K-kenapa?”

“Aku baru ingat kalau aku harus mengambil buku catatanku di loker,” Kyuhyun beralasan.

“A-aku bisa mengantarmu,” Sungmin menawarkan tetapi Kyuhyun tetap mundur selangkah menjauhi Sungmin.

“Tidak, Ming,” tolaknya halus. Binar matanya tampak meredup kala menatap wajah Sungmin yang mulai terselipi ketakutan nyata. “Aku bisa pergi sendiri.”

“Oh,” Sungmin merunduk demi menyembunyikan ekspresinya yang berantakan. “Kalau begitu, sampai jumpa di jam istirahat nanti.”

“Maaf,” Kyuhyun menyela lagi. “Tetapi saat istirahat nanti, aku berniat untuk mengerjakan tugas kelompok yang belum kelar dengan Donghae. Kau tidak perlu menjemputku karena aku benar-benar sibuk.”

Ketika Kyuhyun berbalik sebelum Sungmin sempat mengatakan sesuatu, gadis itu akhirnya mulai menyadari jika semuanya memang sudah berada di ambang batas. Hubungannya dengan Kyuhyun akan segera berakhir. Firasatnya mengatakan demikian kendati dia ingin sekali menyangkal.

Tidak. Batinnya menyalak tidak berdaya.

Aku tidak mau berpisah dengan Kyuhyun.

*

“Bertengkar dengan Sungmin Sunbae?”

Donghae bertanya secara tiba-tiba saat guru bahasa itu menjelaskan sesuatu mengenai rangkaian kalimat dengan huruf rumit yang membuat pusing kepala. Kyuhyun menoleh dan tahu jika Donghae sedang menunggu jawabannya.

“Bagaimana bisa kau mengira seperti itu?” tanyanya balik.

“Ekspresimu,” jawab Donghae enteng. “Jadi, benar?”

Kyuhyun menghela nafas penuh beban tepat sebelum dia melontarkan jawaban yang pas. “Hubungan kami akhir-akhir ini tidak baik.”

“Tidak baik bagaimana?”

“Aku merasakan sesuatu yang aneh saat ..,” Kyuhyun memutus kalimatnya dan mencoba memutar otak demi melontarkan semuanya dengan tepat dan cerdas. “Menurutmu, jika aku merasakan debaran menggila ketika menatap wajah seorang gadis, apa yang kurasakan?”

Donghae memasang ekspresi seperti orang sembelit yang kekanakan lantas mengulum bibir sebelum teriakannya meluncur dari bibir tipisnya yang sensual. “K-kau .., jatuh cinta?!” sahutnya tidak percaya.

Dan hal itu menuai keterkejutan di wajah Kyuhyun. “Jatuh cinta?”

“K-Kyuhyun,” Donghae memanggil nama Kyuhyun dengan nada terbata yang persis seperti orang terkena diare yang butuh toilet. “K-kau serius jatuh cinta ke cewek lain saat kau pacaran dengan Sungmin Sunbae?”

Kyuhyun terlalu larut dalam pikirannya hingga dia tidak sempat menjawab rasa penasaran Donghae atas pertanyaannya barusan. Dia sudah sibuk dengan praduganya sendiri, sekaligus merutuk sebal karena akhirnya dia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya beberapa hari terakhir. Kegelisahan merambat cepat melalui aliran darahnya, membuatnya tercekat oleh kecemasan yang dirasakannya sendiri. Kyuhyun mulai takut jika saja ada satu orang yang mengetahui perasaannya yang sesungguhnya kepada Sungmin. Takut jika saja ada orang yang memberi tahu Sungmin jika dia benar-benar jatuh cinta ke sahabat masa kecilnya itu.

Takut jika pada akhirnya Sungmin berniat meninggalkannya karena tidak setuju atas perasaan Kyuhyun.

“Itu masalah besar, Bung,” Suara Donghae kembali terdengar di sela kekacauan perasaan Kyuhyun.

Dengan begitu frustasi, Kyuhyun memalingkan wajah dan menelangkup wajahnya dengan telapak tangan. “Seserius itu?”

“Ya!” jawabnya tegas. “Kau harus segera melenyapkan perasaan itu jika tidak mau kehilangan Sungmin Sunbae.”

Telapak tangan Kyuhyun yang tadinya menelangkup wajah kini perlahan melorot dari sana, jatuh di atas meja lantas dia memandang Donghae dengan tatapan penuh permintaan saran. “Begitu ya?”

“Percayalah, Man,” Donghae menepuk punggung Kyuhyun dengan gerakan menenangkan khas seorang teman. “Perasaan wanita itu rumit. Jika kau sudah menyakitinya, maka kesempatanmu untuk kembali masuk ke dalamnya bisa jadi hanya 10 persen.”

“Kukira kau benar,” Kyuhyun setuju. Dia baru akan mengatakan kalimat selanjutnya tetapi bel tanda dimulainya jam istirahat sudah meraung cepat. Kepalanya meneleng demi menyaksikan kepergian guru bahasanya keluar kelas, lalu kembali menatap wajah Donghae. “Aku harus melenyapkan perasaan ini jika tidak mau kehilangan Sungmin.”

“Kau sudah menetapkan pilihan yang saaaaangat benar,” Donghae bangkit dari duduknya dan menghiraukan bukunya yang berserakan di meja. Sekali lagi dia mengeryit heran manakala menemukan Kyuhyun malah meletakkan kepala di meja. “Tidak keluar untuk menjemput Sungmin Sunbae?”

Kyuhyun menggeleng lalu memejamkan kelopak matanya. “Aku sudah bilang kepadanya kalau aku sedang tidak ingin pergi ke kantin,” jawabnya lancar. “Pergi saja dengan Hyukjae Noona.”

Donghae menggelengkan kepala penuh prihatin atas tingkah sahabatnya dan menepuk pundak Kyuhyun untuk yang terakhir kali sebelum pergi. “Well, selamat menikmati kegalauanmu.”

*

Sungmin tidak bisa merasa tenang setelah Kyuhyun memutuskan untuk tidak pergi ke kantin untuk makan siang dengannya. Kendati perutnya lapar minta diisi, tetapi dia tetap akan mengantar kotak bekal berisi masakan buatan ibunya untuk Kyuhyun. Jika Kyuhyun sibuk mengerjakan tugas kelompok dengan Donghae, setidaknya lelaki itu tidak kelaparan. Berbekal keyakinannya pada hal itu, akhirnya Sungmin meluncur menuju kelas Kyuhyun di lantai bawah.

Tetapi langkah kakinya terhenti saat menemukan Donghae yang akan berpapasan dengannya. Pemuda yang jago menari yang menjadi pacar Hyukjae itu memberi salam kepadanya, dan Sungmin kembali dilanda kebingungan.

“Donghae!”

Dan bibirnya yang tipis bergerak demi memanggil sepenggal nama tanpa pikir dua kali. Tubuhnya berbalik beberapa derajat dan Donghae pun seperti itu. Mereka berpandangan beberapa saat tetapi Donghae memutuskan untuk menghampiri Sungmin.

“Ya, Sunbae?”

Bola mata Sungmin menari tidak tentu arah karena kesulitan menyusun kalimatnya sendiri. “Kyuhyun,” katanya terputus sebelum melanjutkannya. “Dimana .., Kyuhyun?”

“Di kelas, Sunbae,” Donghae menjawab dengan sebelah alis yang terangkat.

“S-sedang apa?” Sungmin memberanikan diri untuk kembali bertanya kendati batinnya sendiri merasa belum siap untuk menerima jawaban dari lawan bicaranya. Rasa antisipasi sekaligus was-was meletup-letup dalam dadanya, membangun kewaspadaan terhadap apa yang mungkin terjadi di detik selanjutnya setelah Donghae mengatakan sesuatu.

“Sedang menenangkan pikiran?” Donghae mengedikkan bahu tidak yakin. “Dia hanya butuh waktu, Sunbae. Untuk memikirkan semua.”

“A-apa?”

“Masalah cowok,” Donghae terkekeh tanpa tahu malu dan mengelus tengkuk belakangnya.

“Oh, begitu,” Sungmin mencoba melukis senyuman cerah namun hasilnya sia-sia. Dia malah melempar senyuman jelek yang membuat siapa pun yang melihatnya malah meringis prihatin. “Terimakasih, Donghae.”

Donghae mengangguk lalu berlalu begitu saja.

Genggaman Sungmin pada pegangan kotak bekalnya semakin mengerat ketika mengingat kalimat Kyuhyun yang didengarnya tadi pagi. Lalu membandingkannya dengan ucapan Donghae barusan. Sesuatu berjalan dengan tidak begitu sinkron sehingga Sungmin dibuat gelisah dan takut. Gadis itu melangkahkan tungkai mungilnya menuruni tangga, memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi kepada Kyuhyunnya hingga pemuda itu bisa berubah sedemikian rupa.

Dengan sedikit tergopoh, dia berhasil turun dari tangga kendati titik keringat mulai meluncur di dahinya. Sambil menahan perasaannya, dia mencoba menggapi pintu kelas Kyuhyun dan saat dirinya sampai di sana, perasaannya mencelos seperti es yang dibiarkan di tempat terbuka.

Kyuhyun ada di bangkunya, sedang menelangkup wajahnya dan tampak tidur pulas tanpa beban. Bukan sedang mengerjakan tugas kelompok dengan Donghae. Tidak tampak sibuk dengan kegiatannya.

Sungmin memberanikan diri untuk mendekat walau semua gadis yang ada di kelas Kyuhyun mulai memberi tatapan heran ke arahnya. Kotak bekal yang digenggamnya tersentak begitu saja di atas meja Kyuhyun dan membuat pemilik bangku itu tersentak. Pemuda berkulit putih itu mendongak dan matanya membulat mendapati wajah kekasihnya yang kacau balau ada di sana.

“Ming?” Kyuhyun bangkit dari posisinya ketika Sungmin mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya yang mulai dipenuhi air mata. “Kenapa kau kemari?”

“Memberi kotak bekal agar kau tidak kelaparan saat mengerjakan tugas kelompokmu dengan Donghae,” jawab Sungmin lancar tanpa meninggalkan kesan tegas dalam nada suaranya. Gadis itu berusaha mati-matian menahan luapan perasaannya, mencoba agar tampak baik-baik saja kendati perasaannya hancur lebur. Lalu beberapa detik terdiam, Sungmin memutuskan untuk mundur selangkah demi selangkah. “A-aku .., kembali k-kelas,” katanya dengan kepala tertunduk.

Ketika Sungmin akan berbalik dan pergi meninggalkan Kyuhyun dengan segala keterkejutannya, sudut pinggangnya malah menyenggol pinggiran meja lain dan membuatnya terjungkal hingga terjatuh. Kyuhyun memekik kaget dan segera menghampiri kekasihnya yang tersungkur, mencengkeram lengan dan juga pundaknya tetapi Sungmin malah menghindar.

“Tidak apa-apa,” Sungmin membiarkan rambut ikalnya terbang di antara sisi wajahnya kemudian berusaha bangkit meskipun pergelangan kaki kirinya terasa nyeri. Telapaknya yang bergetar samar menepuk sisi rok kotak-kotaknya dan lagi-lagi gerakan itu membuatnya terpaksa merundukkan kepala. “Sampai jumpa nanti, Kyuhyun.”

Kyuhyun berusaha mencekal tangan Sungmin dan memanggil namanya. “Ming—”

“Lepas, Cho!” Sungmin membentak tanpa susah-susah membalik badan. Gadis itu malah semakin cepat melangkahkan kakinya keluar kelas Kyuhyun lalu akhirnya membiarkan air mata lolos dari sudut matanya.

Perasaan sakit yang dirasakannya tidak sebanding depan apa yang sudah dipertahankannya. Kyuhyun benar-benar akan meninggalkannya, pemuda itu menghindarinya sedikit demi sedikit lalu pada akhirnya di masa depan, mereka akan terpisah secara nyata. Sungmin tidak menduga jika semuanya akan berakhir menyedihkan seperti ini. Dia tidak pernah tahu jika Kyuhyun akan keberatan dengan ide gilanya.

“Ming!”

Suara Kyuhyun kembali terdengar dan hal itu membuat Sungmin semakin bersemangat untuk memacu kecepatannya agar mencapai tangga. Belum sempat dia menapakkan kaki di tangga, Cho Kyuhyun berhasil mendapatkan lengan kirinya dan menarik tubuhnya secara leluasa. Sungmin yang melayang dan terhuyung akhirnya jatuh tepat di rengkuhan Kyuhyun yang hangat. Gadis itu menangis tidak berdaya di sana.

“Aku berbohong,” Kyuhyun mengatakannya dengan suara teredam dan bibirnya berulang kali mengecup pucuk kepala Sungmin dengan lembut. “Maafkan aku, oke?”

“Lepas,” Sungmin berontak karena tidak mau terjebak dalam tangisannya yang bisa semakin hebat saat berada dalam rengkuhan Kyuhyun. “Lepaskan aku,” mohonnya serak. Wajahnya yang merah padam tersembunyi di balik helai rambutnya yang menjuntai tidak beraturan, nafasnya terdengar tidak beraturan ketika tubuh mungilnya berusaha keluar dari kungkungan Kyuhyun.

“Ming, aku punya alasan,” Kyuhyun mencoba memberi kalimat dengan nada yang lebih lembut. Tetapi Sungmin tetap tidak mau berhenti menangis dalam rengkuhannya. “Jangan menangis dan dengarkan aku baik-baik.”

Sungmin menggelengkan kepala tidak berdaya. “Tidak,” jawabnya sengau. Perasaannya yang meledak tidak bisa ditolerir lagi, membuatnya begitu emosi dan sedih di waktu yang bersamaan. “Aku tidak mau mendengar apa-apa.”

“Ming, aku—”

“Aku mau kita putus,” Sungmin mengatakannya sebelum Kyuhyun sempat berucap mengenai alasan yang akan disebutkannya, membuat pemuda berkulit susu itu mengerjap dan berubah menjadi patung es bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa. Sungmin memanfaatkan keterkejutan Kyuhyun dengan meluncur menghindari rengkuhannya dan mundur menjauh dengan tersenggal. Matanya yang merah menatap nyalang ke arah Kyuhyun dan dia terisak lagi sebelum mengatakan sesuatu. “Aku tidak bisa lagi.”

Kyuhyun masih diam dalam posisinya, terkejut luar biasa karena tidak menyangka jika Sungmin akan mengatakan kalimat final untuk hubungannya. Pemuda itu mencoba mendongakkan kepala dan menatap wajah kusut Sungmin dengan pandangan tidak mengerti. Salah satu alisnya bahkan naik sebagai reaksinya. “Kau bercanda, ‘kan? Lelucon seperti apa kali ini?” dia mencoba mendekat tetapi Sungmin kembali menghindarinya.

“Aku benar-benar mau putus denganmu dalam segala hal, Cho Kyuhyun,” Sungmin tercekik oleh alur nafasnya sendiri saat mengatakannya, menuai raut pias di wajah Kyuhyun—begitu juga para murid yang kebetulan ada di sana. Dengan nafas tersenggal dan ketidakberdayaannya, Sungmin mencoba naik menuju tangga.

*

“Sungmin sedang ngambek dan mengunci diri di kamar sampai tidak mau makan,” Heechul mengatakan kalimatnya dengan desah tidak terima yang penuh rasa sebal. Gadis cantik itu mengikat rambutnya menjadi cepol ketat dan membiarkan anak rambutnya jatuh di sekitar tengkuk sekaligus dahinya. Tubuhnya yang langsing sempurna dibalut kaus rumahan yang longgar dan celana pendek dengan keliman di batas teratas pahanya.

Awalnya dia sempat sibuk dengan beberapa desain gambar di kertas A4 yang berserakan serta kopi susu hangat di meja ruang tamu. Tetapi setelah mendengar suara pintu yang disentak tergesa, dia meninggalkan pekerjaannya dan mendesah protes mengetahui kedatangan pacarnya dalam balutan kemeja krem dan dasi longgar yang menggantung serampangan di lehernya. Di lekukan siku kanannya ada jas tebalnya yang terlipat asal-asalan, dan tangan kirinya memegang tas kerjanya yang berwarna hitam gelap.

Heechul menyambutnya dengan kalimat seperti itu sebelum mendapat ciuman dalam dari bibir Hangeng. Gadis itu menerimanya dengan suka cita dan membiarkan Hangeng meletakkan semua tetek bengek yang dibawa oleh tangan kekarnya di atas sofa. Sebelah tangannya bertelekan pada sandaran sofa lantas memutar bola mata. “Eomma dan Appa sedang ada di Busan dan aku tidak berhasil membujuknya keluar.”

“Kau mengambil keputusan yang tepat dengan meneleponku, Heenim,” Hangeng menarik lepas dasi sialan yang serasa mengait di lehernya.

“Kenapa begitu?” Heechul bertanya sebelum membiarkan kekasihnya pergi menghampiri Sungmin di kamarnya yang ada di lantai 2. “Aku kakak biologisnya. Tetapi pada kenyataannya, dia lebih akrab denganmu ketimbang denganku,” telunjuknya mengarah ke dada sintalnya sendiri.

“Akan kuluruskan nanti setelah urusan Ming selesai, deal?” Hangeng mengial genit ke arah dada padat Heechul dan berhasil menabur remah kemerahan di pipi kekasihnya yang cantik. Begitu Heechul mengangguk setuju, Hangeng segera meluncur menuju lantai dua.

Pemuda berdarah China itu menghela nafas sebelum menggerakkan jemarinya mengetuk pintu. Dua kali dan terdengar begitu lembut tanpa ancaman. Setelahnya, Hangeng mencoba mengatakan sesuatu.

“Ming,” panggilnya mengundang namun tidak mendapat jawaban dari sosok dewi cantik yang sedang bersembunyi di dalam sana. “Kau di sana?”

Hangeng memutuskan untuk kembali mengetuk pintu dua kali. Namun hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban sama sekali.

Deer,” Hangeng memanggil Sungmin dengan panggilan yang lebih lembut dan penuh kasih sayang melimpah. Sekali lagi dia mengetuk pintu. “Tertarik untuk berbincang denganku sambil minum teh serta makan layer cake?”

Hening. Sungmin masih kukuh pada pendiriannya untuk diam dan tidak bersuara. Hangeng segera mengetuk pintu itu sekali lagi dan benar-benar berharap dirinya akan berhasil mendapat tanggapan dari calon adik iparnya. “Ada apa, Ming? Masalah dengan Kyuhyun?”

Hangeng menurunkan tangannya dan menatap pintu cokelat itu dengan seksama sebelum mendesah. “Ceritakan kepadaku dan aku akan memenggal kepala Kyuhyun jika dia terbukti menyakitimu.”

Suara pintu yang dijeblak terdengar begitu mengejutkan lalu tubuh Sungmin yang lemah melayang begitu saja ke dalam rengkuhan Hangeng yang nyaman. Gadis manis bersurai hitam itu menangis sesenggukan di pelukan Hangeng sementara lelaki itu menggiring tubuh mereka berdua untuk masuk ke kamar.

Kamar Sungmin tampak gelap dan suram dengan tirai yang menutup semua celah pada jendelanya. Lampunya tidak dinyalakan begitu pula dengan lampu nakasnya. Suasanya nyaris beku karena rasa dingin yang mencekik menyerbu kulit Hangeng saat masuk ke dalam. Tangis gadis remaja itu semakin terdengar memilukan ketika mereka sampai di dalam. Jemari Sungmin mencengkeram sisi lengan Hangeng erat-erat hingga buku jemarinya memutih dan Hangeng sama sekali tidak keberatan dengan itu. Pemuda dewasa itu mencoba menenangkan calon adik iparnya, membiarkannya menangis hingga puas sampai dia merasakan kehangatan membakar dari air mata Sungmin yang merembes menyentuh pangkal perutnya.

Telapak tangan besar milik Hangeng tergerak untuk membelai pucuk kepala Sungmin, dia menyandarkan dagunya di pucuk kepala Sungmin. “Tenang, deer,” sahutnya penuh kasih sayang. “Gege ada di sampingmu.”

“Sudah putus,” Sungmin mengatakannya dengan penuh kesedihan kentara yang membuat perasaan Hangeng mencelos manakala mendengarnya. Setelah mengatakan hal itu, cengekeramannya semakin erat seolah dia sudah tidak kuasa untuk membawa berat tubuhnya sendiri. “Aku sudah putus dengan Kyuhyun,” lanjutnya tidak berdaya.

*

“Maksudmu, itu kamar Sungmin Sunbae?”

Donghae bertanya pensaran sambil mengintip dari celah gorden abu-abu yang menelangkup jendela kamarnya. Dia memerhatikan suasana kamar di seberang rumah Kyuhyun dan mengeryitkan dahi.

“Sepertinya Sungmin Sunbae belum pulang,” kata Donghae kemudian. “Kamarnya gelap.”

“Beberapa hari ini kamarnya memang selalu gelap,” Kyuhyun memberi kalimat penjelas sambil memandang langit-langit kamarnya.

Setelah kejadian putus secara tiba-tiba di jam istirahat itu, semua murid kembali gempar. Termasuk Lee Donghae yang telah menyamar menjadi teman baik Kyuhyun. Pemuda berisik itu memaksa untuk ikut Kyuhyun pulang, menuntut agar Kyuhyun bisa menceritakan masalah yang sedang menimpa cerita percintaannya yang rumit.

Dan setelah dua jam berada di kamar Kyuhyun yang bau apak, Donghae tidak mendapat informasi apa pun kecuali keberadaan kamar Sungmin yang ternyata ada di seberang kamar Kyuhyun.

“Memangnya kenapa seperti itu?” Donghae bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari kamar gelap Sungmin.

“Entahlah,” Kyuhyun mengedikkan bahu lemah dan tidak berdaya manakala menyadari fakta bahwa hubungannya dengan Sungmin baru putus beberapa jam lalu. Dia menyampirkan salah satu lengannya tepat di atas dahi lantas memejamkan mata. “Aku bisa gila jika memikirkannya.”

“Oh, lihat!” Suara Donghae terdengar menukik tinggi dan membuat Kyuhyun terlunjak dari posisi berbaringnya. Kyuhyun segera menghampiri Donghae dan ikut mengintip dari celah kecil di antaranya. “Sungmin Sunbae dengan cowok lain?!” sahutnya tidak yakin pada penglihatannya sendiri karena kamar Sungmin terhalang oleh tirai sutra berwarna krem cerah. “Dan dia memeluknya?!” jeritnya lagi.

“Itu Hangeng,” Kyuhyun langsung memberengut ketika mengenali postur tubuh seorang lelaki yang sedang memeluk Sungminnya dengan begitu posesif. “Pacar kakak Sungmin.”

“Oh,” Donghae mengangguk-anggukkan kepala mengerti dan kembali memerhatikan dengan serius. “Sepertinya Sungmin Sunbae juga sama kacaunya denganmu.”

“Terimakasih,” Kyuhyun menatap sangsi ke arah Donghae. “Sekarang, tinggalkan dua orang itu dan tutup gordennya, Pendek.”

Donghae menyerah setelah Kyuhyun sudah memanggilnya seperti itu, sehingga dia memilih untuk meninggalkan jendela kamar Kyuhyun dan beralih menatap pemiliknya yang sedang bermuram durja di atas ranjang. “Jadi, apa rencanamu?”

Kyuhyun melirik tidak minat ke arah Donghae. “Rencana?”

Donghae memutar bola mata ketika mendapati ekspresi terlampau cuek di wajah Kyuhyun. “Rencanamu setelah kau putus dengan Sungmin Sunbae, tentu saja.”

Wajah Kyuhyun tampak lebih murung dari sebelumnya. “Aku tidak tahu,” sahutnya tidak berdaya. “Kau tahu, aku tidak bisa hidup tanpa Sungmin karena selama aku hidup di dunia, aku sudah terbiasa dengan kehadirannya di sampingku.”

“Kalau begitu, kau bisa gila sungguhan jika benar-benar putus.”

“Lebih baik kau pulang ke rumahmu dari pada buang-buang udara di kamarku, Lee,” Kyuhyun tampak jengah setengah mati setelah mendengar kalimat Donghae. “Kau tidak berguna sama sekali.”

Donghae meraih kaleng soda yang disuguhkan kepadanya dan meminum isinya, mengeryitkan dahi saat sensasi meletup dari soda itu menggoda kerongkongannya. “Jadi, sebelum kau berhasil menjelaskan semuanya, Sungmin Sunbae sudah minta putus duluan? Begitu?”

Kyuhyun menganggukkan kepala.

“Lagi pula, dia tahu darimana jika kau memang jatuh cinta ke cewek lain?” Donghae bersungut tidak mengerti.

Tetapi kalimatnya barusan berhasil membuat kedua mata Kyuhyun melotot tidak percaya. “A-apa?”

“Huh?”

“Yang kau katakan tadi, Lee.”

“Kau yang jatuh cinta ke cewek lain?”

“Siapa yang mengatakan hal keparat itu?”

“Lho?” Donghae memasang raut bodohnya. “Bukannya kau sendiri yang mengatakannya?”

Sebelah alis Kyuhyun terangkat. “Kapan?”

“Tadi,” kata Donghae. “Sebelum kau putus dan sebelum jam istirahat.”

“Kau sudah mengatakannya ke siapa saja, Berengsek?”

“Demi Tuhan aku belum mengatakannya kepada siapa-siapa, Kyuhyun!” Donghae menyadari aura pekat aneh yang mengancam dari tubuh Kyuhyun jadi dia memutuskan untuk menjawab cepat-cepat. “Kau kira mulutku ini seperti mulut para gadis?”

“Kukira,” Kyuhyun menanggapi tidak serius. “Tapi, kau-salah-paham, Lee!”

“Apa?!”

“Kau salah paham!” Kyuhyun menjerit jengkel. “Aku tidak pernah mengatakan jika aku sedang jatuh cinta ke cewek lain!”

“Lalu, bagaimana sih cerita aslinya?”

“Dengarkan baik-baik, Lee,” Kyuhyun memutuskan untuk membagi cerita percintaannya dengan Sungmin ke Donghae, berbekal insting bahwa Donghae tidak akan punya mulut ember untuk menyebar ceritanya. “Ini semua diluar dugaan semua orang karena aku dan Sungmin hanya ..”

*

Sudah empat hari semenjak kejadian putus dengan Kyuhyun, dan Sungmin pikir semuanya akan kembali seperti semula. Namun nyatanya tidak. Kyuhyun tidak pernah menjemputnya ketika akan berangkat sekolah, tidak akan keluar kelas untuk pergi ke kantin saat jam istirahat dimulai, dan tidak menawarinya untuk pulang bersama. Sungmin berpikir jika semuanya memang sudah berakhir, antara persahabatan dan percintaannya dengan Kyuhyun. Karena kalimat yang telah dilontarkannya empat hari lalu, akhirnya semua berawal dari nol dan itu sulit sekali untuk dilakukan. Meski pun Sungmin merasa tidak sanggup atas semua yang terjadi, gadis mungil itu tetap diam dalam penyesalannya. Tidak mau berbagi kisah kesedihannya dengan siapa pun sekali pun Kibum atau Ryeowook.

Sungmin menyimpannya sendiri. Bersikap seolah dia baik-baik saja dengan semua keputusan keparat yang sudah dibuatnya seenak hati. Tetap melempar senyuman cerahnya kepada siapa pun yang menyapa, dan tidak gentar menghadapi sosok Kyuhyun ketika akan berpapasan dengannya di lorong sekolah.

Aneh memang. Tetapi nyatanya, semuanya memang sudah benar-benar berakhir.

“Pulang sendiri?” Kibum menoleh ke arah Sungmin sambil menjerit tidak percaya setelah gendang telinganya ditembus oleh pernyataan itu. “Serius mau pulang sendiri? Cho Kyuhyun itu tidak mau mengantarmu lagi, ya?”

Sungmin meringis dan menggeleng sedih. “Kau tahu sendiri kalau kami benar-benar putus.”

“Maksudku,” Ryeowook menyela sopan sambil menyimpan barang-barang ke tasnya. “Kalian ‘kan sahabat sejak kecil. Bagaimana bisa hubungan kalian benar-benar berakhir karena masalah cinta sepele seperti itu?”

Sungmin memandang tasnya yang berwarna oranye cerah, memerhatikan gantungan kunci boneka kelinci manis yang menggantung di resletingnya. Boneka kecil pemberian Kyuhyun di masa lalu, ketika pemuda itu berhasil memenangkan undian lotre di pinggir jalan. Mendadak perasaan sedih kembali muncul bergulung-gulung dan merambat menuju dadanya. “Entahlah,” sahut Sungmin tidak yakin akan kalimatnya sendiri. “Cepat pulang dan temui kekasih kalian masing-masing. Aku tidak mau mereka membenciku karena pacarnya harus tinggal lebih lama di sekolah untuk menemaniku, tahu!” Sungmin menjulurkan lidah dan kembali berakting, dan aksinya disambut gelegak tawa dari dua sahabatnya.

Tiga orang itu akhirnya berpisah di lorong sekolah di lantai satu; Sungmin berjalan ke arah kanan sedangkan Kibum dan Ryeowook melangkah ke arah kiri. Gadis cantik dengan rambut dikuncir kuda itu memandang dua temannya yang melenggang bersama-sama menyusuri lorong, lantas mendesah tidak berdaya ketika menyadari bahwa dirinya sedang sendiri untuk saat ini.

Kyuhyun pasti sudah pulang duluan. Pemuda itu tidak pernah betah untuk tinggal sedikit lebih lama di sekolah. Sungmin sudah hafal kebiasaannya, jadi bisa dipastikan jika untuk sekarang pemuda itu pasti sudah pulang.

Sungmin baru akan memutuskan untuk pulang, tetapi sebelum dia mencapai gedung terluar sekolahnya, tangannya tiba-tiba dicekal oleh seseorang dan tubuhnya digeret paksa.

“A-apa?!” Sungmin menjerit tanpa kendali penuh keterkejutan. Kepalanya meneleng ke segala penjuru arah dan menemukan dua orang pemuda sedang mencekal lengannya kuat-kuat. “Lepaskan aku!!”

Dua pemuda itu menyeret Sungmin menuju sebuah gedung peralatan olah raga di lantai satu yang berada di sudut sekolah. Gadis itu mencoba berontak dengan segala usahanya, mulai dikuasai ketakutan yang luar biasa manakala menemukan sosok Kangin yang menunggunya di depan pintu gudang. Gadis itu kembali meronta dan mencoba kabur, tetapi tenaganya sebagai gadis tentu saja kalah telak oleh kekuatan dua pemuda itu.

“Hai, Cantik,” Kangin menyambutnya senang dan puas ketika menemukan Sungmin sedang meringkuk tidak berdaya dalam kungkungan anak buahnya. “Tertarik untuk berbincang sebentar denganku?”

“Berengsek!” Sungmin mencaci tanpa gentar dan mencoba menggerakkan lengannya yang dicengkeram kuat. “Lepaskan aku! Lepaaas!!”

Kangin malah menyeringai mendapati aksi Sungmin yang menggeliat tidak berdaya dengan tangan yang dicengkeram kuat seperti itu. Dia memerintahkan dua teman gempalnya untuk melepaskan cengkeramannya pada lengan Sungmin, tertawa begitu keras saat Sungmin merosot tidak berdaya hingga tubuhnya menghantam lantai kayu lapangan olah raga. Pemuda tambun itu melangkah mendekat lalu sebelah tangannya terangkat, jemarinya mencengkeram kedua sisi pipi Sungmin erat-erat. “Well, bibirmu sebentar lagi akan jadi milikku. Cho Kyuhyun itu belum pernah menciummu, ‘kan?”

Sungmin berusaha mundur tetapi dengan begitu cekatan dan ahli, Kangin mencengkeram kedua pergelangan tangan Sungmin dalam satu remasan kuat hingga menimbulkan sakit yang luar biasa. Kangin mendekat dan berjongkok tepat di hadapan Sungmin, tersenyum menjijikkan sambil menjilat bibirnya.

“Katakan halo pada bibirku, Nona.”

Lalu Sungmin hanya mampu menjerit dalam hati saat merasakan tamparan bibir Kangin di bibirnya.

*

“Berengsek kau, Cho!” Donghae mengumpat tidak terima ketika dirinya diseret paksa oleh Kyuhyun menuju kolam renang indoor demi mengambil barangnya yang tertinggal. Letak kolam renang dengan gedung kelas utama jelas berjauhan, dari ujung ke ujung hingga Donghae merasa sebal setengah mati ketika menemani Kyuhyun mengubek almari lokernya.

“Diam, Lee!” Kyuhyun mengeram tidak sabar manakala tidak juga menemukan barang yang dicarinya. Seharusnya, strip ponsel bintangnya terselip di ujung loker karena seingatnya, strip ponselnya masih ada sewaktu dia menyimpan ponselnya di sini ketika jam pelajaran renang tadi. Jadi, mustahil sekali jika tidak ada di sini.

“Memangnya, seberapa penting sih strip ponsel itu?” Donghae kembali menggerutu tidak terima.

Sangat penting jika boleh dikatakan. Strip ponsel itu pemberian Sungmin ketika dia berulang tahu ke 15 tahun, dan seharusnya dia tidak menghilangkan benda berhaga itu. Strip ponsel itu punya kembaran, yang satunya jelas ada di tangan Sungmin. Kyuhyun akan diliputi rasa bersalah jika tidak menemukannya, apalagi ketika menyadari jika hubungannya dengan Sungmin semakin hari semakin memburuk. Jadi setidaknya, dia harus menemukannya.

“Itu pemberian Sungmin,” sungutnya antara sebal dan tidak terima.

“Memangnya, kau cinta stripnya atau pemberinya?”

Kepala Kyuhyun menoleh defensif ke arah Donghae dan mengeram penuh ekstensi. Ingin sekali menyumpal mulut Donghae dengan gumpalan kertas atau memplesternya dengan selotip. “Bisakah kau hanya diam? Aku sibuk seka—”

Suara gemerincing terdengar jatuh ke lantai dan keduanya mengarahkan pandangan ke sumber suara, menemukan sebuah benda berbentuk bintang yang tergeletak tak berdaya tepat di ujung ibu jari kaki Kyuhyun. Pemuda itu membungkuk demi meraihnya dan tersenyum lebar ketika mengenalinya.

“Ketemu!”

“Syukur, deh,” Donghae segera memperbaiki letak tali tasnya dan segera berbalik. Diikuti dengan langkah kaki yang ogah-ogahan dari Kyuhyun. “Dengan begitu aku tidak perlu ..”

“Lepaas!!”

“Kyuhyun!” Donghae menarik pergelangan tangan Kyuhyun hingga membuat lelaki itu nyaris terjungkal ke belakang. Pemuda itu baru saja akan mendapat umpatan kejam dari Kyuhyun, tetapi urung mendengarnya ketika telunjuknya menunjuk ke suatu arah—ke arah dua orang pemuda yang sedang menyeret paksa seorang gadis menuju gedung olah raga.

Dan seketika itu pula, emosi Kyuhyun memuncak hingga ke titik maksimum.

“Tidak! Tunggu, Kyuhyun!!” Donghae mencoba menahan tindakan Kyuhyun yang akan pergi menghampiri gadisnya, namun usahanya sia-sia saat tubuh seliat ceetah milik Kyuhyun malah melesat menghampiri gedung besar yang biasanya dijadikan tempat olah raga. “Anak Berengsek itu ..,” Donghae tidak bisa membiarkan temannya menghampiri masalah seorang diri. Jadi dia memutuskan untuk ikut pergi ke ruang olah raga dan menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.

Dan pemandangan yang pertama kali terangkap oleh lensa mata Donghae adalah aksi heroik Kyuhyun yang menendang kepala salah satu pemuda yang tadinya mencengkeram Sungmin. Kemudian, pemuda bersuara emas itu melayangkan tendangan memutar yang begitu ahli kepada pemuda yang lain hingga membuat kedua tersungkur tidak berdaya. Kangin yang ada di depan pintu gudang—yang kini tengah mengusap bibirnya yang basah—tampak berang luar biasa. Donghae nyaris mengerut di tempatnya berdiri.

“Berengsek,” Kyuhyun mengeram marah ketika mendapati Sungminnya sedang tersungkur tidak berdaya sambil bersandar di pintu, dengan kedua belah bibir mengilat penuh liur menjijikkan yang didefinisikannya sebagai liur milik Kangin.

“Kenapa kau marah, Cho Kyuhyun?” Kangin bangkit seraya menarik lengan Sungmin, memaksa gadis itu untuk ikut bangkit kendati dua lututnya terasa kenyal seperti agar-agar. “Tidak terima karena aku mencium mantan kekasihmu?”

Kyuhyun nyaris tidak bisa menahan emosinya jika saja dia tidak melihat wajah tidak berdaya Sungmin di sana, berdiri beberapa meter dari tempatnya dengan kelopak mata nyaris terpejam daif.

Suara tawa Kangin yang memuakkan terdengar dan sepertinya dia merasa menang karena Kyuhyun tak kunjung melontarkaan jawaban atas pertanyaaannya. “Jadi, kau mau apa?”

Kyuhyun menelan rasa sakit hatinya hingga membuat jakunnya naik-turun gelisah di tenggorokannya. Menatap Sungmin yang seperti itu, amarahnya terpercik hingga dia merasa mampu untuk mengunyah kepala manusia. Sebelah kakinya melangkah maju dan kepalan tangannya tersimpan di samping pinggulnya. “Sungmin-masih-kekasihku, Berengsek!!” teriaknya kalap.

Dan reaksi yang didapatkan oleh Kyuhyun setelah teriakannya adalah kedipan nyata di kelopak mata Sungmin. Gadis itu menatapnya dari celah matanya yang terbuka, meminta segenap pertolongannya agar bisa keluar dari sekelumit kisah sialan ini.

“Lakukan,” Kangin tiba-tiba menyorongkan Sungmin dan membuat gadis itu terjatuh sekitar tiga langkah dari tempatnya. “Kau bisa melakukan sesuatu kepada kekasih palsumu, buktikan kepadaku kalau kalian memang belum putus.”

Kyuhyun tidak bisa menahan diri untuk tidak berlari menghampiri Sungmin yang tersungkur tidak berdaya. Pemuda itu meraih pundak sempit Sungmin lantas mengecup bibir gadis itu demi menghapus jejak menjijikkan yang ditinggalkan Kangin. Suara kecupannya terdengar beberapa kali, amat sangat memekakkan telinga Kangin hingga pemuda itu ingin sekali menggorok leher Kyuhyun. Pemuda itu menggerakkan bibirnya dengan bebas di atas bibir Sungmin yang terbuka, sedangkan Sungmin sendiri menerimanya dengan suka rela sambil mengalungkan dua lengan kurusnya di leher Kyuhyun.

Ketidakberdayaan gadis itu tersingkir saat Kyuhyun mengecupnya dengan begitu dalam dan kuat, menimbulkan gejolak yang membuatnya tidak ingin mengakhiri ciuman nyata ini. Air mata merembes keluar dari celah kelopak matanya, menangis sedih ketika Kyuhyun memutuskan untuk mengecup bibirnya yang kotor oleh pemuda lain.

“Keparat kau, Cho,” kini suara geraman Kangin yang terdengar. Pemuda itu baru saja akan melayangkan tendangan hebat tetapi Donghae dengan gerakan yang lebih cepat menendang kepalanya. Dan pemuda tambun itu kini tersungkur tidak berdaya di samping Kyuhyun.

*

“Bersyukurlah karena aku tidak memenggal kepalamu, Cho,” Hangeng mengatakan hal itu diselingi desah tidak rela saat Heechul mengusap dahi Sungmin dengan handuk basah. Pandangannya yang tajam terarah ke arah Kyuhyun yang sedang duduk di sisi ranjang Sungmin yang lain, sedang menggenggam telapak tangan Sungmin yang nyaris sebeku es.

Beberapa jam lalu, setelah Donghae melumpuhkan Kangin dengan tendangan hebatnya, Kyuhyun memutuskan untuk menelepon relasi Sungmin yang ada di panggilan cepat nomor 1 di ponselnya. Dan nyatanya, telepon itu malah tersambung ke nomor Hangeng dan tentu Kyuhyun tidak bisa menghindarinya. Pemuda kurus dengan seragam awut-awutan itu mengatakan sesuatu yang serius telah menimpa Sungmin, dan karenanya Hangeng tidak bisa untuk tidak memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi ke lokai yang dikatan Kyuhyun.

Dan akhirnya Hangeng mendapati kondisi calon adik iparnya dalam keadaan yang benar-benar menggenaskan. Mengurungkan niat untuk bertanya, dia memilih untuk membawa Sungmin ke mobilnya dan sempat membawa gadis itu ke UGD di rumah sakit swasta dekat apartemennya. Beberapa jam di rawat di sana, akhirnya Sungmin diperbolehkan pulang setelah disuntik obat oleh seorang dokter berperawakan tua yang profesional.

Dan mereka semua berakhir di kamar Sungmin dengan tubuh Sungmin yang terbaring tidak berdaya di ranjangnya. Donghae sudah pulang ke rumahnya karena dia tidak mendapat luka kecil apa pun. Dan Cho Kyuhyun nyaris gila karena Sungmin tidak kunjung bangun dari tidurnya.

“Siapa yang pantas di salahkan dalam hal ini?” Hangeng menatap kondisi Sungmin dan mengerang prihatin. “Cho Kyuhyun, kau—!”

“Gege,” suara lembut Heechul menginterupsi kalimat kemarahan kekasihnya dan berhasil membuat kamar itu hening seketika. Dengan begitu telaten, Heechul mengusap leher dan dada Sungmin dan kompresnya. “Sungmin butuh istirahat dan kupikir kau tidak perlu menyalahkan Kyuhyun.”

Hangeng bangkit dan berkacak pinggang setelah mendengar penuturan Heechul. “Masalahnya, Cho Kyuhyun ini yang membawa Sungmin kita berada dalam masalah, Heenim!”

“Cukup,” Heechul meletakkan kompresnya di nampan dan mengangkatnya. Mata kucingnya yang cantik mencoba menatap wajah frustasi kekasihnya lantas mendengus. “Ayo keluar, Sayang. Biarkan Kyuhyun menjaga Sungmin di sini.”

“Apa?!” katanya nyaris menjerit. “Kau membiarkan si keparat itu menjaga Sungmin?!”

“Gege!!” Heechul menendang tulang kering Hangeng hingga membuat pemuda itu mengaduh kesakitan. “Ayo keluar!!”

Hangeng tidak bisa melakukan apa-apa ketika kekasihnya sudah berteriak seperti itu kepadanya. Yang bisa dilakukannya hanya membangun pandangan tajam antara ia dan Kyuhyun, lalu akhirnya menutup pintu dengan begitu tidak rela. Meninggalkan Kyuhyun yang terbaring di samping tubuh mungil Sungmin yang tidak berdaya.

Pemuda itu kembali meraih telapak tangan dingin Sungmin dan meremas jemarinya, mengangkat lengan sekurus ranting itu dan mencium punggung tangannya lembut. Air mata penyesalan terbit di sudut matanya ketika samar-samar gendang telinganya menangkap deru nafas teratur dari Sungmin, merutuk dalam hati ketika dia mulai mengingat hal seperti apa yang sudah menimpa Sungminnya.

“Maafkan aku,” bisiknya samar. Pemuda itu merebahkan kepalanya tepat di samping pundak Sungmin dan meletakkan telapak gadisnya. Tangannya yang kurus dan terselipit goresan ungu itu melingkar di sekitar perut Sungmin, memeluknya erat dan protektif. “Aku akan melindungimu lebih baik lagi, Ming,” katanya yakin. “Aku akan selalu berada di sampingmu, selalu,” janjinya pada dirinya sendiri.

*

Ketika sinar cerah matahari mulai muncul di ufuk timur menghiasi langit kelam di sana, sesosok malaikat yang terbaring lemah itu mulai menggerakkan tubuhnya yang terasa sakit luar biasa. Kelopaknya yang berat bergerak-gerak dalam kuasa akal sehatnya, terbuka sedikit demi sedikit dan mendapati sinar lampu oranye menerpa pupil matanya. Dia mengerjap ketika menemukan taburan bintang hijau dan kuning di langit-langit kamarnya, lantas kepalanya bergerak ke samping kiri.

Alisnya mengeryit samar manakala mendapati Hangeng sedang tertidur pulas dengan kasur lipat tepat di bawah ranjangnya. Dan dia baru menyadari jika ada satu lengan kurus melintang di perutnya. Kakak cantiknya yang alergi dengan kasur sempit tidak mungkin tertarik untuk tidur dengannya di ranjang ini, ‘kan?

Sungmin baru akan melihat siapa pelaku yang memeluknya sepanjang malam sebelum dia mengeryit kesakitan di sudut kapalanya. Pikiran mengenai kejadian yang baru menimpanya menghantam sisi pikirannya hingga dia mendesah tertahan. Sudut matanya mulai dipenuhi air mata, merasa nelangsa sekaligus takut jika mengingat semuanya. Tentang Kangin, para pemuda itu, dan Kyuhyun ..

“Sudah bangun?”

Kyuhyun?

Pelukan di sekitar perutnya mengerat dan seseorang menyerukkan wajahnya di perpotongan leher Sungmin yang sensitif. Gadis itu menghindar penuh antisipasti, namun sedetik setelahnya dia memekik tertahan ketika merasakan nyeri di lehernya.

“Kau oke?” Pemuda itu terbangun dan menumpukan tubuh bagian atasnya ke lengannya yang tertekuk, mata lelahnya mencoba menelusuri keseluruhan wajah Sungmin demi memastikan bahwa bidadari cantiknya dalam keadaan baik. Kini tangannya yang terbebas terangkat hingga ujung jemarinya menyentuh permukaan pipi Sungmin.

Dan sukses membuat Sungmin mengerut tidak mengerti. Rona merah samar-samar muncul di kedua pipinya yang sehalus kapas ketika menyadari kedekatan jarak di antara wajah mereka. “K-Kyuhyun,” cicitnya takut-takut sekaligus malu. “A-apa yang kau lakukan?”

“Hm?” bola mata cokelat Kyuhyun bergulir dan pandangannya jatuh tepat di wajah Sungmin. “Menemanimu tidur, tentu saja.”

Kelopak mata itu membelo dan Sungmin terkejut setelah mendengarnya. “A-apa?! B-bagaimana bisa?!”

“Memangnya apa yang salah, Ming?”

Sungmin mengerjap satu kali sebelum ingatannya kembali memutar ingatan kelam yang terjadi sekitar 12 jam yang lalu. Bulir bening muncul di pelupuknya dan tampak siap meluncur dari sana. “A-aku ..,” Sungmin menggigit bibir ketika merasakan sesak luar biasa di dada manakala akan mengatakannya. “K-Kyuhyun .., a-aku ..”

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kyuhyun langsung membungkam kedua belah bibir di hadapannya dan mengunci tepi mulut Sungmin dengan begitu posesif. Tangan kanannya terselip di tengkuk Sungmin, menghiraukan keterkejutan Sungmin yang nyaris menyentuh ubun-ubun. Pemuda itu menghisap bibir Sungmin dengan begitu nikmat, tanpa celah dan profesional. Bibirnya yang tebal bergerak-gerak menggigit sisi bibir Sungmin, membiarkan lidahnya menari-nari dalam gua hangat mulut Sungmin.

Dan ketika Sungmin tersedak oleh tangisnya sendiri, Kyuhyun menarik diri. Meringis tidak terima sebab mendapati wajah Sungmin yang kacau balau karena jejak air mata. “Aku mencintaimu,” gumamnya tegas lalu kembali mengecup bibir Sungmin. “Aku begitu mencintaimu sampai merasa begitu bodoh karena melepasmu begitu saja.”

Sungmin masih terisak selagi Kyuhyun mencuri ciuman-ciuman singkat dari bibirnya. Dia berupaya mengangkat dua lengannya dan berhasil mengalungkannya di leher Kyuhyun. “T-tapi ..,” dia tercekat sebelum mencapai titik kalimatnya. Dan Kyuhyun menghadiahinya sebuah kecupan manis di bibirnya. “Kyuhyun ..”

“Ya, Sayang?”

“Aku juga mencintaimu .., dan membutuhkanmu,” Sungmin ikut meraup bibir Kyuhyun meski pun tangis mengharu biru masih melandanya. Matanya yang menyipit dan kabur karena air mata mengedip-ngedip, mencoba menatap wajah tampan Kyuhyun yang ada di dekatnya. “A-aku .., K-Kangin ..”

Kyuhyun tidak kuasa untuk tidak mengecup bibir Sungmin untuk sekali saat gendang telinganya menangkap nada pilu Sungmin ketika tengah mengucapkan nama keparat itu. Kali ini, dia menambah intensitas ciumannya hingga kekasihnya menggeliat gelisah dalam rebahannya.

“Tidak apa-apa,” Kyuhyun bergumam sebelum kembali meraup bibir ranum Sungmin dalam ciumannya yang hangat dan basah. “Asal kau ada di sampingku dan aku mencintaimu, itu sudah cukup.”

“Kyuhyun ..”

Dan Sungmin memberi balasan kecupan dalam untuk bibir Kyuhyun, menandakan bahwa dia benar-benar menerima pernyataan Kyuhyun yang menyatakan bahwa pemuda itu mencintainya. Dia mendeguk di antara kebahagiaan nyata yang dirasakannya, menikmati tiap kecupan sensual yang dilayangkan oleh sahabat kecilnya. Bibirnya tidak bisa berhenti bergerak untuk menghisap dalam-dalam bibir bawah Kyuhyun dan memainkannya gemas—karena Kyuhyun juga melakukan hal yang sama. Dan hal terakhir yang tidak mampu ditahan oleh Sungmin adalah suara geraman halus yang meluncur dari bibirnya.

“Jika kalian tidak lupa,” Suara berat lain terdengar dari suatu arah dan keduanya yang terlarut dalam ciuman hangat nan basah akhirnya saling terjungkal. Sungmin menatap ke arah kiri dan dia meringis penuh rasa bersalah saat menemukan Hangeng dengan matanya yang terpejam main-main. “Aku masih ada di sini dan kalian masih ilegal untuk bercinta.”

Dan Kyuhyun menghiraukan peringatan Hangeng dengan kembali mengecup bibir Sungmin, meraba tengkuk gadisnya hingga Sungmin kembali mengerang protes. Pemuda itu tersenyum di balik ciumannya, begitu bersyukur karena pada akhirnya, dia bisa meraup Sungmin dalam dekapannya.

END

Well, gimana ceritanyaaa? Panjaaang? Sempet pengen bagi ke dua chap, tapi kayaknya aku lebih suka kalo oneshoot aja deh *elap keringat* ngetik 11k dalam kurun waktu kurang-lebih 15 jam :” akhirnya berhasil menghasilkan ff kilat ini. Yeay!! Ide awalnya nggak terduga banget. Waktu itu aku lagi laptopan dan nggak sengaja denger musik yang diputer televisi di rumah, ide pembuatan ff ini langsung muncul!! Aku gak ngerti judul musiknya, pokoknya liriknya itu ada kata ‘pacaran main-mainnya’ gitu *duh apaan sih* dan akhirnya, berbekal kata ‘pacaran main-main’ aku memutuskan untuk buat ff oneshoot. Yaampun seneng banget sampek nggak bisa tidur. Soalnya ini ff baru selesai pas pukul setengah 1 malem dan karena hari ini aku harus ke sekolah buat tanda tangan daftar hadir ujian praktek, akhirnya aku nunda buat ngerevisinya. Dan waktu di sekolah tadi, akunya jadi gak tenang soalnya pengen cepet-cepet revisi ff ini *ditimpuk*

Ini aku buat dua versi, lhoo. HunHan ver sama KyuMin ver. Ini lagi pengen cari inspirator/? kece yang lain dan akhirnya jatuh cinta ke karisma Sehun :” *digorok Kyuhyun* well, Kyuhyun masih bias utama kok. Soalnya dia itu cinta pertama yang bisa nggeser/? titel Donghae yang sebenarnya menempati kata cinta pertama, dan akhirnya Donghae terdepak oleh Kyuhyun di hati author *curhat*

Well, gimana nih? Hehe setelah revisi, aku baru nyangka kalo momen yang romantis cuman dikit banget ya? Ternyata banyak kesedihan di sini :” Aku sengaja lhoo kasih Hangeng yang ganteng di sinii .. Woo, iri banget sama Sungmin yang bisa punya calon kakak ipar macam Hangeng. Waktu baca interaksi Hangeng-Sungmin, akunya jadi iri deh *lho* wkwk

Daaaan, satu lagi. FF ini bakal aku republis dengan cast yang berbeda, HunHan. Kalo ada yang tertarik, silahkan bertandang ke akun ffn yang udah jadi lapak suwung/?ku yaa :”)

Trims buat semua yang udah baca, readers atau pun siders /pundung/ *kisskiss*

 

38 thoughts on “Role on Lovesick | OneShoot | KyuMin | Genderswitch | T+ | Drama, Friendship |

  1. sebener nya saya belm membaca secara detail ff ini ..
    tpi seperti nya menarik …
    setelah baca sedikit
    jdi saya komment dulu ..
    mungkin saya baca nya nanti sepulang kerja ..

  2. Bagussssss…. Nice Story!!!!
    Hahahahahhaa….
    Untung kyu lum plng..

    Suka dech sama hangeng yng protektif sama min!!

    Semangat untuk ff yng lain…

  3. bener deh kl ada cewek dan cowok bersahabat pasti akan ada bumbu bumbu cinta ditengah tengahnya
    pas min ama kyu mulai jaga jarak disitu berasa nyeseknya
    apalagi pas kangin nyium paksa min tp untungnya atas kejadian itu kyu jd berani ngakuin perasaannya..
    dan scene paling menarik + bikin senyam senyum pas kyumin ciuman tanpa henti pdhl ada han gege disana. hahaha
    ini keren bgt !!!!!

  4. kyaaaaaa…. Manis bnget. Percintaan remaja yg benar benar bikin gemes. Suka sama alurnya. Agak lucu dgn kyuhyun pas bru pacaran. Makin akhir,eh makin romantis jadi klepek2 gw sama hangeng#plak#abaikan_yg_barusan.
    Terus buat ff bru ya. Ditunggu karya manis selanjutnya. >_<
    semangat !!!

  5. Kyaaa! :3 gemay bgt!:* sweet parahh wwkwkwk kocak jugaaaa. Dpt feelnyaa<3 heechul jd kakak juga acuhacuh gemeesh(?) Kyu plinplan tp jadi juga WKWK tetep berkarya ya authornim!:* semangattttttt<3

  6. ceritanya keren.. dari sahabat, pacaran palsu.. trs pacaran beneran deh kkk
    diawal sempet bingung.. ini yg sebenernya kakaknya sungmin hangeng apa heechul (?) kkk abis hangeng sayang bgt sma sungmin..

  7. Woow keren,,
    Dua org yg bisa dikatakan lugu (mendekati bodoh) hahaha bingung dengan perasaan sendiri,,,
    Baguslah, akhirnya sadar juga 😘👏

  8. so sweeet pengen deh punya kaka kaya hangenng pengen punya sahabat kaya kyuhyun jugaaaa asdfghjkl the best lah pokoknya :’)

  9. huhu….keren pas bngt buat dua orng yng gk tau cinta”an wkwkkkk
    Disini gw ngkak ma dongek yng saah paham wkwkkkk
    Han gege aku padamu mas wwkkk

  10. hello. i am new readers^^ aku suka ff nya kamu… nggak terlalu pelik masalahnya. tapi manis😀 ya. lanjutin dengan yg lain ya… susah nih cari auhor kyumin yg bertahan ^^ izin baca seluruh ceritanya…^^

  11. Semenjak sungmin menikah, banyak penuliss ff kyumin yg hiatus jd susah bgt cari ff kyumin terbaru
    Aq senang akhirnya saeng ttp nulis
    Gomawo dear

  12. seru gila!!! demi apa kyumin emang so sweet bgt :’) di tunggu ff kyumin lain nya. entah kenapa suka sama heechul nya hihi

  13. omg aku kira kyu emang lepas mng untuk slama’a??
    ihhh si kangin itu pengen ajja bibir’a ming itukan dah punya kyuuu

  14. Kyyaaa emng ya persahabatan antara pria wanita itu gaada yg pure temenan aja, pasti ada hati seseorang yg maen *etdaahhngomongapasih*
    Pokoknya begitulah haha
    Garela pake banget first kiss umin d ambil kangin *pundungdipojokan*
    Aigoo author suka hunhan juga eoh? Sma. Aku juga haha *gaadaygnanyasih*
    End nya d tutup sma kyumin yg kisseuan ohhh melting nyaaa malem2 begini kkkk
    Thankyu thor bikin cerita kelewat manis begini hihi hwitting!! 💪

  15. Kyyaaa emng ya persahabatan antara pria wanita itu gaada yg pure temenan aja, pasti ada hati seseorang yg maen *etdaahhngomongapasih*
    Pokoknya begitulah haha
    Garela pake banget first kiss umin d ambil kangin *pundungdipojokan*
    Aigoo author suka hunhan juga eoh? Sma. Aku juga haha *gaadaygnanyasih*
    End nya d tutup sma kyumin yg kisseuan ohhh melting nyaaa malem2 begini kkkk
    Thankyu thor bikin cerita kelewat manis begini hihi hwaitting!! 💪

  16. Wah,..kereeeeen aku suka bgt ma ceritanya.trus ceritanya jg beda ma biasanya klo persahabatan pasti ujung2nya pacaran .oh iya….aku kyumin shipper lho,jdi seneng bgt ada author kyumin yg bertahan smpe skrg.terus maju ya author dan tetap semangat.fighting! Aku tunggu sekuelnya

  17. first kiss nya ming is kangin? Sebetulnya gk relaaaa…tapi bener apa kata pepatah. yang pertama belum tentu bakal jadi yang terakhir..so….. yang penting kyumin jadian trus selamanya ming akan selalu jadi miliknya kyuhyun >< hihihihihi❤❤ cinta banget sama karya2 eonni…. joha!!

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s