Teach for Love | KyuMin | Part 8/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

Teach for Love

 

Genre : Romance , Drama

 

Rate : T+

 

Pairing : KyuMin

 

Part : 8/?

 

Warning : GENDERSWITCH, Miss Typo

 

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi.Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

 

Summary : Dia baru saja pindah dari Jepang dan di sekolah barunya ia dihadapkan oleh seorang guru sexy dan teman-teman abstrak juga pengrusuh yang peduli. Di rumah dia bertemu seorang gadis manis anak tetangga yang menjadi tipe idealnya. Awalnya dia acuh, tetapi sikap jahil yang sudah mengakar di jiwanya membuat segala urusan menjadi semakin rumit. Dan karena hal itu, dia mulai belajar untuk mencintai sesuatu yang benar-benar diperlukannya.

 

Kelas 3-1 saat itu sedang heboh, padahal hari baru mencium awal pagi dengan bubuhan sinar matahari yang hangat. Menghiraukan godaan angin musim semi di luar sana, warga kelasnya sudah berteriak sambil memandang dengan takjup ke arah aktor utama yang nyaris menghilang dari kelas semenjak satu bulan lalu. Mengutamakan rasa penasaran yang memuncak ketika menatap wajah temannya yang tampak pucat, mereka banyak bertanya tanpa bisa dikendalikan. Berbekal informasi yang mengatakan bahwa Kyuhyun sedang tidak baik-baik saja namun tetap memaksa masuk sekolah, akhirnya mereka tidak bisa menahan keinginan untuk terus meminta penjelasan.

Dua hari lalu sebelum Kyuhyun berada di kelas dengan seperempat ingatannya yang hilang, Guru Kim datang ke kelas dan mengatakan sesuatu mengenai keadaan Kyuhyun. Guru matematika yang dikenal super-killer itu mengatakan bahwa perut bagian kanan Kyuhyun sensitif karena ada bekas jahitan baru. Karena hal yang menurut guru tua itu serius, dengan tegas Guru Kim melarang semua murid untuk menyentuh Kyuhyun—terlebih perut kanannya. Informasi yang mengalir dari mulut Guru Kim tidak berakhir sampai di bagian itu. Berita utama yang disampaikannya di detik selanjutnya sukses membuat seisi kelas menggumam tertahan karena keterkejutan masing-masing. Dan beberapa orang di antara mereka sempat dilanda perasaan kasihan tatkala menyadari hal serius seperti apa yang sedang melanda Kyuhyun.

 

Jadi ketika Kyuhyun baru saja duduk di kursinya di hari itu, semua murid yang dipenuhi beragam pertanyaan di kepala mereka mengenai kondisi Kyuhyun berdatangan hingga mengelilingi bangkunya. Mereka melontarkan bermacam-macam pertanyaan kendati sosok yang akan menjawab hanya diam sambil melongo seperti patung bodoh. Dan semakin lama, pertanyaan-pertanyaan itu kian berkurang dan akhirnya mencapai satu line yang sama.

 

‘Apa kau mengenalku?’

Dan semua murid yang bertanya seperti itu akan berakhir dengan kekecewaan tinggi disertai desah ketidakberdayaan manakala Kyuhyun menggelengkan kepala sambil meringis penuh permintaan maaf. Keadaannya yang seperti itu membuat semua orang baru bisa percaya jika Kyuhyun benar-benar kehilangan memorinya yang berharga, mulai menyamakan keadaan dengan drama yang mereka tonton tiap pukul 10 malam.

 

Semua memang heboh karena keadaan Kyuhyun yang terkesan tidak bisa dipercaya. Namun di antara semua murid yang sibuk bergosip ria membicarakan hal itu, satu cowok yang paling menonjol seolah tenggelam dalam ketidakberdayaannya. Mengabaikan fakta hilang ingatan yang menimpa Kyuhyun, dia terus mengatakan bahwa dirinya adalah teman baik Kyuhyun di masa lalu. Bahkan ketika pelajaran berlangsung, dia tidak gentar mengatakan kalimat pengingat yang membawa namanya.

 

“Aku Lee Donghae. Mustahil kau tidak mengenalku,” katanya untuk yang kesekian kali setelah melempar gumpalan kertas yang mengenai sisi dahi Kyuhyun. Kyuhyun hanya melontarkan jawaban yang sama, tetapi semangat Donghae tidak pupus begitu saja. Dia tetap mengatakannya setiap sepuluh menit sekali walau usaha itu menemui akhir yang sia-sia.

 

Rasa prihatin itu tidak hanya dirasakan oleh semua murid kelas 3-1, namun para guru yang mengajar pun sempat geleng-geleng kepala. Sebagian ada yang melontarkan pujian untuk ketangguhan Kyuhyun karena sudah masuk sekolah padahal izin istirahatnya belum habis. Tetapi sebagian besar menyarankannya untuk kembali beristirahat di rumah sebelum semua bertambah parah. Victoria Song yang kebetulan mendapat jam mengajar di kelas Kyuhyun, sempat mengekspresikan kesedihan sekaligus kebahagiaannya saat mendapati murid kesayangannya sudah masuk sekolah.

 

Dan Kyuhyun baru menyadari jika guru seksi Victoria Song itu naksir padanya. Argumentasi tidak bertanggungjawab itu sempat muncul di benak Kyuhyun saat Victoria terus menyampaikan kasih sayang tak kasat mata lewat tatapan matanya yang nyaris sebening kristal es. Menimbulkan perasaan menolak yang sangat besar namun dia tidak bisa melakukan apa-apa demi menghindari tindakan Victoria. Semua baru bisa berakhir ketika jam pelajaran berakhir berdentang keras-keras, disambut dengan begitu sedih oleh Victoria tetapi Kyuhyun bersyukur ketika mendengarnya.

 

Saat mereka mendapat sedikit waktu longgar di sela pergantian jam, Kyuhyun tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk di kursinya sambil memandang ke penjuru kelas. Pandangannya memerhatikan raut teman-temannya, sebentar-sebentar merutuk karena tidak mampu menarik ingatannya yang hilang secara misterius. Ketika dia mencoba mengingat, maka pukulan menyakitkan akan menyerang kepalanya dan ingatan itu serasa timbul-tenggelam di sana. Dia tidak bisa mengingat semuanya dan entah mengapa bayangan Sungmin kembali muncul dalam benaknya.

 

Sungmin?

 

Sosok yang sekiranya penting bagi Kyuhyun. Tetapi dia sendiri tidak tahu apa yang membuat Sungmin terkesan begitu penting baginya. Ketidaktahuan itu yang membuatnya merasa begitu tolol dan bodoh. Rasa bersalah karena telah melupakan memori penting itu serasa terus menguntit, membuatnya tidak bisa hidup dengan tenang kendati neneknya terus mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Begitu pula Sungmin.

 

Sial. Kyuhyun tidak bisa mengingat satu hal kecil pun tentang Sungmin. Tidak-bisa.

 

“Tuk-tuk-tuk-tuk.”

 

Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke sumber suara tuk-tuk yang mengganggu, mendapati Lee Donghae yang menyebut dirinya sendiri sebagai teman akrab Kyuhyun. Kyuhyun bertelekan pada bangku dan memerhatikan Lee Donghae yang sedang sibuk membenturkan sisi pensil mekaniknya di atas buku.

 

Semenjak awal pelajaran hingga saat ini, Lee Donghae itu terus sibuk dengan iPodnya yang mungil dan sepasang earphone terpasang di lubang telinga. Suara samar dari musik rock yang mengalir dari earphonenya terdengar oleh Kyuhyun, tampaknya dia sedang mengacuhkan segala penjelasan dari empat guru yang sudah mengajar di sini.

 

Menyadari hal itu, Kyuhyun hanya mampu meringis miris pada masa lalunya, mengingat fakta bahwa Donghae begitu bersikeras dengan kalimatnya yang mengatakan bahwa mereka berteman akrab. Namun setidaknya itu di masa lalu. Karena menurut Kyuhyun, dia tidak mau mengulangi kesalahan kedua. Tidak untuk berteman lagi dengan Lee Donghae yang aneh dan berandal.

 

Kyuhyun baru saja akan melontarkan peringatan kepada Donghae agar ikan sialan itu tidak berisik dengan geraman nyanyian tidak jelasnya. Sebelah tangannya terulur namun dia urung melakukan niatnya karena suara salam bernada lembut dari guru yang akan mengajar tertangkap oleh gendang telinganya. Dia mengerjapkan kelopak mata manakala mendapati Donghae yang melepaskan earphonenya secara suka rela lantas memandang ke arah papan tulis. Takjub sekaligus heran, akhirnya bimbingan Tuhan sampai di hati nurani Lee Donghae sebagai seorang murid.

 

Kyuhyun baru saja akan bertelekan santai pada mejanya tetapi gelombang keterkejutannya yang lain menerpa sisi dadanya, menimbulkan rasa sakit absurd yang membuatnya mengeryit saat menatap guru cantik yang berdiri di sisi papan tulis dengan jas merah muda dan rok pendek ketatnya.

 

Lee Ssaem?!

 

Batinnya memekik kaget bahkan setelah dia menyadari kehadiran guru cantik yang membuatnya gila akhir-akhir ini. Aura keemasan memancar dari keseluruhan tubuh mungil Sungmin, disertai senyuman manis dari kedua belah bibirnya yang seranum ceri matang. Bentuk tubuhnya yang bagus tercetak jelas oleh jas dan roknya yang ketat, tungkainya terekspos habis-habisan mengingat betapa pendek ujung keliman rok beige Sungmin. Rambutnya yang baru dicat cokelat tua digelung cepol ketat dengan anak-anak rambut yang menjuntai di sekitar wajahnya yang secantik dewi. Tengkuknya yang mulus tanpa noda terlihat jelas dan tampak menggiurkan bagi beberapa mata nakal yang dengan tidak sopan memerhatikannya diam-diam. Pinggulnya yang tinggi bergoyang sesuai irama langkah kakinya, diselingi dengan kedipan sensual yang tidak disengaja dari mata indah Sungmin.

 

Semangat baru baru para murid yang sempat mulai mengantuk di menjelang akhir jam pelajaran.

 

“Ini baru pemandangan bagus.”

 

Suara Donghae tiba-tiba terdengar lirih, penuh godaan dan hasrat laki-laki normal yang kental. Laki-laki itu menyimpan earphonenya tanpa memalingkan pandangan dengan memasang senyuman mesum. Kyuhyun mengerutkan alis karena hal itu.

 

“Kenapa memangnya?” Kyuhyun tergoda untuk bertanya dalam bahasa jepang.

 

Donghae menoleh dan mendapati raut penuh tanda tanya milik Kyuhyun. Dia terkekeh kendati dia tidak begitu mengerti dengan kalimat yang dilontarkan Kyuhyun barusan. Tetapi kemudian dia terkikik setelah menemukan raut penuh penasaran di wajah Kyuhyun walau tatapannya masih tampak lurus melirik bokong Sungmin yang tercetak jelas di sana. “Dia seksi, ‘kan?”

 

“Huh?” bola mata Kyuhyun mengikuti arah pandang Donghae dan mulai menyadari sesuatu. “Bokongnya?”

 

Donghae mengeryit untuk yang kedua kali ketika mendengar bahasa jepang itu. “Bokongnya,” katanya dan menuai raut terkejut dari Kyuhyun, senang bukan kepalang saat dia tahu jika Kyuhyun pasti tahu maksud dari ucapannya. “Dan dadanya,” dua telapak tangan Donghae terangkat dan jemarinya bergerak aneh seolah sedang meremas sesuatu dengan begitu sensual.

 

Kyuhyun seperti anak kecil yang selalu menuruti apa perintah kedua orangtuanya. Dan ketika Donghae mengatakan sesuatu tentang bokong dan dada Sungmin, laki-laki itu segera mengarahkan pandangannya ke sana lalu memerhatikannya selama beberapa detik.

 

“Ya Tuhan! Lee Ssaem benar-benar seksi!” Donghae mendesah lagi, memasang wajah mesum untuk yang kesekian kali sambil mencengkeram sisi kepalanya, seolah kepala tanpa otaknya bisa meledak akibat anggapan seksi yang ditujukan kepada guru singlenya.

 

Kepala Kyuhyun berputar ke arah kanan dengan cepat, mengeryitkan dahi ketika tahu bahwa Donghae masih setia memerhatikan lekukan tubuh Sungmin dari tempatnya duduk. Sesuatu dari dalam dirinya datang dengan begulung-gulung menyusuri aliran darahnya, memercik api kemarahannya yang membuatnya tidak tahan jika hanya duduk diam di sini. Dia tidak tahu apa yang sedang dirasakannya, rasa-rasanya dia ingin sekali melampiaskan rasa berang yang muncul saat mendapati Donghae menatap Sungmin dengan pandangan yang seperti itu. Tanpa disadarinya, dia meraih buku teksnya dan menghantamkannya begitu saja ke kepala Donghae.

 

“Aduh!” Donghae mengaduh secara naluriah, suaranya keras sekali.

 

Seisi kelas dan juga Sungmin menoleh ke sumber suara, menatap Donghae si pengribut nomor satu di kelas, sedang mengaduh layaknya anak kecil yang habis dipukul ibunya. Sungmin melipat lengan di atas dada, lalu berdecak saat tahu kelasnya terganggu karena ulah Donghae.

 

“Lee Donghae!” Sungmin mengeram seperti singa betina dan mengetuk-ngetuk kukunya yang habis dipoles cat biru muda cantik di atas meja. “Jangan mengganggu teman-temanmu belajar,” dia memperingatkan dengan nada bicara yang relatif stabil.

 

“Kyuhyun yang memulainya, Ssaem!” Donghae mengadu, tentu saja ia tidak mau disalahkan karena memang Kyuhyun yang bersalah hingga menyebabkan ini semua. Sambil memasang wajah memelasnya, dia menoleh dan memaki Kyuhyun lewat tatapannya. “Dia melempar kepala saya dengan buku teks Bahasa Inggris, Ssaem!”

 

“Kalau saja kau tidak membicarakan tentang ..,” kalimat dengan bahasa jepang yang kental dengan logat kansai itu terlontar tetapi tidak berlanjut hingga akhir. Kyuhyun sedang berpikir untuk menyusun kalimat berbahasa korea yang berputar dalam otaknya, mencoba bertempur dengan pikiran rasionalnya sebelum menjawab. “Kalau saja kau tidak berisik seperti itu, mustahil aku melemparmu dengan buku teks!”

 

“Tidak! Ssaem! Saya tidak berisik!” Donghae berusaha membela diri. “Ssaem harus percaya kepadaku!”

 

Sungmin memandang dua muridnya dengan tatapan prihatin khas seorang guru bijaksana. Manik matanya yang seindah butiran mutiara terbubuhi binar tegas penuh penindasan. Bibirnya yang seranum ceri mencebik lucu, alis hitamnya melengkung tajam. Dia memejamkan mata sejenak lantas menghela nafas sebelum berucap. “Ssaem sungguh kecewa kepadamu, Donghae-ya,” katanya penuh nada kasihan yang kentara. “Nilai ujian fisikamu berada jauh di bawah rata-rata. Jadi berhentilah untuk main-main!”

 

“Ss—Ssaem ..” suara Donghae mencicit.

 

“Setelah pelajaranku berakhir, kau dan Kyuhyun pergi ke ruanganku!”

 

OoOoO

 

Bisa dipastikan ketika bel pulang sekolah meraung, Donghae dan Kyuhyun langsung ribut seperti anak kecil. Mereka saling berteriak dan menyalahkan, menghiraukan teman-temannya yang jengah karena harus mendengarkan teriakan tidak berguna dari mereka. Tidak ada yang bisa menghentikan, karena pertengkaran ini sudah terlanjur seru bagi mereka.

 

Asal tahu saja, tidak ada yang mau kalah dalam perdebatan panjang yang melibatkan mulut tajam ini. Kyuhyun yang mulanya tampak diam dengan game portable-nya, kini malah berseru dengan Bahasa Jepang yang pasti tidak dimengerti oleh Donghae. Dan Donghae sendiri malah mengata-ngatai kemampuan berbahasa lawannya. Pertengkaran itu tampak begitu sengit, karena menurut mereka (para penghuni kelas yang akan pulang) Donghae dan Kyuhyun tampak sama saja jika seperti ini.

 

Sama-sama seperti bocah.

 

Hingga akhirnya, Sungmin yang kebetulan berjalan di lorong dan melewati kelas 3-1, melongokkan kepala karena mendengar keributan berisik yang tidak lazim. Dia mengeram marah ketika mendapati dua muridnya sedang bertengkar lantas segera menggiring kaki-kaki mungilnya ke arah dua orang itu sambil berkacak pinggang. Karena Donghae dan Kyuhyun masih bersikeras melanjutkan pertengkaran di kelas, maka dengan sangat terpaksa dia menyeret dua muridnya ke ruang guru.

 

Akhirnya mereka benar-benar akan habis di tangan Sungmin.

 

“Jadi, sekarang apa yang harus kalian ributkan?” Sungmin memecah keheningan yang sempat terjadi di antara mereka bertiga, tidak menghiraukan tatapan guru-guru yang melayang ke arahnya karena sudah menyeret dua murid kemari. Ia melipat salah satu kakinya dengan anggun lalu menyangga dagu sambil memasang raut bosan yang kentara.

 

Dua muridnya sama-sama diam, saling menatap lalu membuang pandangan—setiap saat seperti itu. Sungmin masih berupaya untuk sabar dan memberi kesempatan untuk berpikir bagi keduanya. Tetapi nyatanya, kebaikannya itu disia-siakan.

 

“Kenapa diam?” suara Sungmin yang melengking terdengar mengagetkan. Dia mendengus seperti seorang dewi kematian yang mengerikan—tetapi wajahnya yang imut-imut sama sekali tidak cocok dengan imej jahat. “Coba katakan sesuatu!”

 

Jalmothaesseubnida.”

 

“Sumimasen.”

 

Mereka menggumamkan kalimat permintaan maaf di detik yang sama dengan bahasa yang berbeda. Namun kebetulan itu membuat keduanya saling berpandangan demi melempar tatapan tajam penuh ancaman tidak berguna.

 

“Kalian berdua, berhenti melempar tatapan seperti itu,” gerutuan itu meluncur dari mulut Sungmin dengan desah nada putus asa. Baru kali ini dia merasakan pusing tujuh keliling saat menghadapi murid bandel yang membuat keributan ketika ia sedang susah-susah mengajar. Dia mulai mengerti kenapa guru-guru lain selalu mengeluh setiap harinya seusai mengajar materi serius. Beban yang ditanggung seorang guru benar-benar tidak main-main.

 

“Aku benar-benar bisa gila,” Sungmin bergumam lirih, tetapi cukup keras untuk didengar oleh Donghae dan Kyuhyun yang ada di hadapannya. Wanita itu tampak memijit pelipis kepalanya yang berdenyut tidak karuan, sama sekali tidak membiarkan otot kepalanya tegang karena kelakuan dua orang muridnya. Dia menghela nafas, lalu beberapa detik setelahnya raut wajahnya berubah menjadi lebih ceria dan mengundang. Senyuman cantik tiba-tiba terbit di kedua belah bibirnya dan pandangannya ke wajah Donghae juga Kyuhyun berubah menjadi lebih menggemaskan.

 

Transformasi yang begitu tiba-tiba dan terkesan menakutkan.

 

“Sekarang, coba katakan apa yang membuat kalian berdua ribut.” Rayunya sambil mengerucutkan bibirnya yang penuh.

 

Donghae terkesiap sebab menyadari jika ekspresi menakutkan Sungmin bisa tergantikan oleh keimutan luar biasa dalam waktu yang relatif singkat. Menimbulkan debar jantung menggila dan juga rona merah di pipinya. Pujian tulus untuk Sungmin terlontar berpuluh-puluh kali dalam keheningan jiwanya, tidak kuasa memungkiri kekagumannya atas kecantikan alami milik Sungmin.

 

Sungmin menurunkan sebelah kakinya yang tadinya terlipat dan mengganti posisi menjadi duduk tegak dengan dada membusung ke depan. Dia merubah ekspresi wajahnya menjadi masam, memamerkan kekecewaan yang muncul di sana. “Tidak mau mengatakan sesuatu?” kalimat Sungmin terdengar menggantung. Bibir m-shapenya semakin mengerucut imut saat bola matanya menari bergantian demi menatap dua murid bengalnya yang kini mengerutkan dahi.

 

Sejak kapan Lee Ssaem jadi genit seperti itu?

 

“Kyuhyun melempar kepalaku dengan buku teksnya, Ssaem,” suara Donghae terdengar timbul-tenggelam, antara yakin dan tidak yakin. Ia menatap sengit ke arah Kyuhyun lalu ikut mengerucutkan bibir. “Jadi aku berteriak dan menimbulkan kegaduhan. Maafkan saya, Ssaem.”

 

Kyuhyun menoleh ke arah Donghae dan menatap tidak percaya, “Kalau kau tidak menggangguku, aku juga tidak akan melemparmu dengan buku teksku yang berharga!” kalimat dalam bahasa korea itu terlontar begitu saja dari mulut Kyuhyun, menimbulkan keheranan luar biasa di benaknya.

 

“Mengganggu apanya, hah? Bukankah awalnya kau juga setuju kalau pendapatku benar?”

 

Wajah Kyuhyun tampak seribu kali lebih bete dan frustasi. “Kau itu memang cerewet sekali, ya? Siapa namamu tadi? Sialan!”

 

“Hei!” Sungmin tiba-tiba bangkit dari duduknya lalu berdiri diantara Kyuhyun dan Donghae. Dua tangannya terangkat dan telapaknya jatuh di dada Donghae juga Kyuhyun. Suara desau keputusasaan meluncur dari mulutnya, seolah sedang menunjukkan emosinya yang juga akan meledak seperti semburan lava. “Berhentilah bertengkar dan cobalah mengakui kesalahan masing-masing.”

 

Sungmin mencoba menarik-ulur nafasnya yang mulai memburu karena hampir dibakar habis oleh api kemarahannya. Pandangannya terarah langsung ke wajah Donghae lalu sinar matanya berubah menjadi penuh keprihatinan. “Lee Donghae. Bahkan nilai ujian fisikamu masih di bawah rata-rata dan kau bisa main-main di waktu penting seperti sekarang?”

 

Donghae memberengut, “Saya sama sekali tidak main-main, Ssaem.”

 

“Sekarang, coba katakan apa yang bisa membuat nilaimu naik?”

 

“Huh?”

 

Donghae melongo, begitu juga Kyuhyun. Sungmin melontarkan pertanyaan seperti itu seolah-olah ia adalah Santa yang akan mengabulkan permintaan bocah-bocah baik di malam natal.

 

“Ujian susulan ada di depan mata, Lee Donghae,” Sungmin mengingatkan. Sedetik kemudian ia menatap wajah Kyuhyun yang tampak tegang—sekaligus terbubuhi gurat tidak mengerti. “Dan kau, Cho Kyuhyun. Kuharap kau bisa mempersiapkan diri menghadapi tes fisikaku tiga hari lagi.”

 

“Aku bersumpah akan mendapatkan nilai 90 atau lebih, Lee Ssaem,” Kyuhyun menjawab dengan penuh percaya diri, seolah ia mampu mendapatkan nilai tersebut dengan mudah sekalipun ia harus menutup mata ketika melakukannya.

 

Donghae ingin muntah ketika mendengar kalimat penyombongan milik Kyuhyun. “Aku yang akan mendapatkan nilai 90 untuk Lee Ssaem!”

 

“Tidak mungkin,” nada suara Kyuhyun terdengar meremehkan. “Kau ‘kan ..”

 

Stop!” Sungmin menginterupsi, berjaga-jaga kalau saja mulut Kyuhyun yang tajam itu bisa menimbulkan keributan yang lebih parah. “Aku tidak tahu harus percaya kepada siapa. Tetapi yang jelas, jika ada salah satu dari kalian berdua mendapat nilai tertinggi di kelas, maka aku akan memberi hadiah istimewa.”

 

Mata Donghae langsung membulat ketika gendang telinganya mendengar kata hadiah istimewa dari Sungmin. “Hadiah istimewa? Apa? Contohnya? Kencan?”

 

“Hei! Apa-apaan kau?!” Kyuhyun berteriak tidak setuju ketika mendengar kalimat terakhir dari Donghae.

 

“Boleh juga,” di luar dugaan, Sungmin menyetujui. “Kencan. Ya, kencan.”

 

“Benarkah?” Donghae berseru senang setengah tidak percaya. Dia memandang penuh harap ke wajah gurunya lalu mengulum senyuman bahagia. “Ssaem sudah berjanji tentang hal itu!”

 

Sungmin memiringkan kepalanya dan melempar senyuman menantang ke arah Donghae—lalu menatap wajah pias Kyuhyun dari sudut matanya. “Oke. Aku sudah berjanji. Kalau kau bisa mendapatkan nilai terbaik di kelas, kita pergi kencan, Lee Donghae.”

 

Kepala Kyuhyun serasa ditimpuk batu gunung yang besar, menimbulkan denyutan sakit entah karena terkejut atau tidak terima. “Tt—tapi ..”

 

Assa! Kalau begitu, tunggulah saat itu tiba, Ssaem! Kita benar-benar akan pergi kencan!” Donghae melunjak gembira lalu ia melihat jarum jam tangan di pergelangan tangan kirinya. “Lebih baik aku cepat pulang lalu mencari tutor hebat yang bisa membuatku mahir fisika. Sampai jumpa di kencan kita, Ssaem!”

 

Sungmin melambaikan tangan ke arah Donghae yang menghilang di balik pintu ruang guru—meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin berdua di ruangan sepi itu. Semua guru sudah pulang, mengingat ini sudah pukul lima sore—sejam setelah bel pulang sekolah berdentang. Melirik jam yang sebentar lagi akan mencapai pucuk sore, Sungmin punya rencana yang lebih bagus ketimbang terus berada di sini demi menginterogasi Kyuhyun.

 

Dia berniat membiarkan Kyuhyun pulang ke rumahnya, secepat yang ia bisa tentu saja. Dia tidak punya rencana untuk menahan laki-laki itu lebih lama di sini, lagi pula waktunya untuk pura-pura jadi guru baik sudah habis. Lebih baik dia segera mengakhirinya sebelum terlibat pembicaraan penting menguras perasaan hati dengan Cho Kyuhyun di hadapannya ini.

 

Otak Kyuhyun memang rusak, tetapi keinginannya untuk mengingat tentang hal yang tidak ingin diungkitnya begitu tinggi. Kalau Kyuhyun benar-benar mengingat semuanya dan masih berniat melanjutkan kisah terlarang antara guru dan murid itu, mungkin Sungmin akan tergoda untuk mengikutinya lagi. Ayolah, Sungmin sudah cukup pusing dengan perasaannya yang sudah jatuh cinta seenaknya kepada seorang murid umur delapan belas tahun. Kenapa ia tidak jatuh cinta kepada lelaki lajang tampan yang sekitaranya sepantaran atau dua-tiga empat tahun lebih tua darinya?

 

Siwon contohnya?
“Kau boleh pulang, Cho,” Sungmin mendesis lalu menyimpan buku-bukunya di dalam tas kulit buaya miliknya.

 

“Kukira kita harus membicarakan sesuatu,” Kyuhyun mengedikkan bahu skeptis, masih enggan melenyapkan tatapan tajam dari mata elangnya yang menawan. “Tentang, kenapa kau menerima usulan Donghae mengenai kencan itu.”

 

Sungmin masih berkutat dengan meja kerjanya sementara dahinya berkerut samar mendapati cara bicara tidak sopan dari muridnya, “Aku tidak terlalu bodoh untuk memberinya izin mengencaniku. Aku sudah tahu konsekuensinya,” katanya. Manik matanya bergulir dan tatapannya terarah tepat ke arah wajah Kyuhyun. “Dan berhenti menggunakan banmal denganku. Kita sedang ada di sekolah, kalau kau lupa.”

 

“Bahwa kau tidak akan jatuh cinta kepada Donghae karena ia adalah muridmu?” sembur Kyuhyun sarkatis—menghiraukan peringatan Sungmin. “Atau kau tidak ragu mengatakan ya karena Donghae pasti tidak akan mampu mendapatkan nilai terbaik walau sudah berusaha mati-matian?”

 

“Terserahmu,” Sungmin menjawab sok cuek lalu ia bangkit dan meninggalkan Kyuhyun di sana, berusaha sekuat tenaga mengabaikan batinnya yang berteriak ingin tinggal lebih lama di sisi Kyuhyun.

 

Ssaem!” Kyuhyun melangkah mengikuti langkah kaki Sungmin dan mengekor seperti seekor anak anjing yang punya majikan baru. “Aku belum selesai bicara.”

 

“Tetapi aku sudah selesai bicara denganmu. Aku mau pulang dan memasak sesuatu untuk makan malamku yang tenang,” Sungmin berucap, mempercepat langkah kakinya tanpa menoleh satu derajat pun.

 

“Apakah hanya pertengkaran tidak penting yang tersisa di antara kita?” Kyuhyun melontarkan kalimatnya ketika tahu mobil Sungmin berdering nyaring karena kunci otomatisnya terbuka. “Asal Ssaem tahu, perlahan aku mulai lelah mengejar sesuatu yang bahkan terlalu semu untuk kugenggam.”

 

Langkah kaki Sungmin terhenti tepat setelah ia berhasil mencerna arti kalimat Kyuhyun. Kaget bercampur sedih, sedangkan suara hatinya menjerit melarang Kyuhyun mengatakan kata lelah dengan maksud seperti itu. Pegangan tangannya pada tas jinjingnya mengerat, Sungmin mulai merasa dirinya dikuasai oleh perasaan aneh yang membuatnya ingin berlari menghampiri Kyuhyun dan memeluknya. Tetapi pikiran rasionalnya terus melarang untuk melakukan hal itu, otaknya terus mengatakan status Kyuhyun sebagai muridnya dan itu benar-benar berhasil menahan langkahnya untuk kembali.

 

“Kalau aku memutuskan untuk melupakan semua tentangmu, apa Ssaem tidak akan sedih?” Kyuhyun berucap dengan nada suara lemah. “Apakah Ssaem akan baik-baik saja kalau aku pergi kencan dengan Seohyun?”

 

Kyuhyun menarik jeda untuk mengulur waktu, “Kau sendiri menyakitiku dengan terus memasang topeng seperti itu. Apakah hanya aku saja yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari ..”

 

“Kalau kau kencan dengan gadis lain, apakah aku akan sedih karenanya?” kalimat setajam belati itu meluncur dari bibir plump Sungmin yang mulai bergetar samar. Wanita itu membalikkan badan dan memandang Kyuhyun dengan tatapan mencela. “Kau kira aku akan sedih karena tahu salah satu muridku pergi kencan, begitu?! Di mana otakmu?!”

 

Kyuhyun terlunjak karena perubahan nada suara Sungmin yang drastis, hal itu berubah menjadi goresan dari samura tajam yang menyakiti perasaannya. Menatap wajah terluka Sungmin di hadapannya yang terselipi egoisme tinggi, Kyuhyun goyah untuk menetapkan pilihan. Ingin tetap bertahan tetapi sisi perasaannya sudah tersakiti terlalu dalam. Hingga akhirnya, sebelah akal sehatnya mengatakan sesuatu mengenai keputusan yang harus diambilnya demi menghadapi Sungmin.

 

“Cukup dengan sikap keras kepalamu itu, Lee Sungmin,” Kyuhyun mendesis, tersirat nada kemarahan yang meledak di setiap hembusan nafasnya. “Teruslah berjalan dengan segala perkiraan egoismu itu. Kalau pun kau bersikeras untuk melenyapkan semua kenangan tidak berguna antara kita, aku akan melakukannya. Dengan-senang-hati.”

 

OoOoO

 

Sekiranya berakting sok tegar di hadapan Kyuhyun itu mudah dilakukan. Tetapi nyatanya itu adalah hal terberat yang pernah dilakukan Sungmin selama dua puluh lima tahun semasa hidupnya. Dia bukan aktris berpengalaman yang selalu berhasil menyembunyikan sekelumit kisah kesedihan di hidupnya. Dia tidak cukup pandai untuk melakukan itu semua.

 

Asal tahu saja, hampir setiap malam ia menangis seperti seorang remaja yang baru putus cinta. Padahal setiap pagi, ia selalu tampil penuh percaya diri dengan wajah sumringah dan senyuman cerah. Bahkan polesan wajahnya yang sedikit (sedikit sekali) lebih tebal dari sebelumnya berhasil menyamarkan kantung matanya. Sungmin selalu tampak sempurna ketika ia melenggok keluar dari mobil tuanya yang antik, berjalan menyusuri lorong sekolah dengan langkah anggun dan senyuman memikat yang indah yang melayang-layang dari bibirnya.

 

Sekiranya, dia memang baik-baik saja.

 

Sekiranya .. Tetapi nyatanya tidak sama sekali.

 

Mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk menyesali semuanya, mengatai dirinya bodoh dan tolol sampai rasa-rasanya dia bisa mati karena olokannya sendiri. Dan satu-satunya teman yang mampu menemaninya selama masa pelampiasan hanyalah minuman keras bening yang membuatnya melayang dan sejenak melupakan segala beban hidupnya.

 

Wajah Kyuhyun yang penuh amarah, memperolok sikap sok tegarnya yang memang sudah keterlaluan, selalu berputar di pikirannya. Dia memang terlampau bodoh sampai-sampai jatuh cinta kepada muridnya sendiri. Bayangkan saja, dia seorang guru yang sepatutnya memberi mereka pelajaran yang berguna untuk masa depan mereka. Seorang guru berwibawa yang harusnya menjadi panutan. Bukan malah jatuh cinta seenaknya kepada salah satu diantaranya.

 

Kalau tidak bodoh, lalu apa lagi?

 

Apakah ia termasuk orang yang egois? Tamak? Dan tidak berguna?

 

Kejam. Tetapi sekiranya ia memang seperti itu, cocok dideskripsikan dengan kalimat tidak pantas seperti itu. Dan dia sama sekali tidak pantas dikasihani, tidak pantas dilirik barang sedetik pun. Dia sudah sendiri, memutuskan membuang cintanya ke dalam sebuah gorong-gorong kotor, dan mustahil untuk mengambil demi menyelamatkan semuanya—mungkin semuanya sudah hilang dimakan curut yang tinggal di sana.

 

Lagi pula, kenapa sih Kyuhyun muncul sebagai muridnya?

 

KENAPA?!

 

Kalau pun Kyuhyun bukan muridnya, semua tidak akan serumit ini. Sungmin bisa menjamin itu semua. Bisakah ia kembali ke masa lalu, kemudian menghindari kehadiran Kyuhyun dan merancang pertemuan mereka sekali lagi? Kalau boleh, ia ingin bertemu Kyuhyun tiga atau empat tahu lagi, setelah Kyuhyun lulus kuliah atau apalah. Dengan begitu, semua akan berjalan dengan baik-baik saja tanpa bayang-bayang rasa bersalah.

 

Sungmin memang sudah cukup merasa abnormal karena membiarkan dirinya berjalan sendirian setelah minum tiga gelas soju di sebuah kios pinggir jalan. Padahal awalnya ia duduk di sana hanya untuk membunuh waktu menunggu mobilnya diservis. Tetapi nyatanya ia ketagihan cairan bening soju, duduk di sana selama dua jam lalu tahu-tahu mabuk. Sungmin tidak betah berada di kios kecil itu, jadi ia memutuskan untuk keluar dan berjalan menyusuri trotoar demi merasakan angin musim semi.

 

Dan berakhir dengan berjalan terseok-seok sepanjang langkah kakinya menapaki jalanan. Menghiraukan tatapan orang-orang yang ada di sekitarnya, dan tentu saja sampai tidak menyadari ada sepasang mata kelam yang memerhatikannya dari jauh. Wanita itu tetap berjalan menerobos keramaian trotoar, walau berulang kali ia tampak akan jatuh karena terjerembab sepatunya sendiri. Dia tetap melangkah dengan pongah.

 

Sekali pun lututnya sudah bergetar karena sepertiga kesadarannya sudah habis. Sekali pun air matanya terus mengalir dan membuat penampilannya tampak kacau. Sekali pun ..

 

“Aing!”

 

Sungmin memekik seperti anak anjing yang diganggu, kaget sebab ia hampir terjatuh dan membuat kakinya terkilir karena kecerobohannya sendiri. Untung seseorang yang berdiri di belakangnya memiliki gerak reflek yang bagus. Karenanya, kaki Sungmin yang berharga bisa kabur dari rasa nyeri.

 

Laki-laki tampan dengan mantel hitam kelam itu mencengkeram dua lengan atas Sungmin, menahannya dalam posisi itu selama kurang lebih sepuluh detik. Setelahnya, Sungmin tersadar dan segera berterima kasih.

 

“Sungmin-ssi ..”

 

Laki-laki itu memanggil nama Sungmin sambil menyambar pergelangan tangannya yang dingin. Wanita itu hampir terjatuh lagi, tetapi dua lengan kekar itu segera menelangkup tubuh mungil Sungmin dan mendekapnya dalam sebuah pelukan hangat yang menenangkan.

 

Gwaenchanhayo?”

 

Kepala Sungmin mendongak, mencoba meniti bayangan wajah tampan yang ada di depannya. Matanya yang basah mengerjap beberapa kali, lalu ia terkekeh persis seperti orang gila—dia mabuk. “Oh, Choi Siwon seonsaengnim~”

 

Siwon segera menggiring tubuh rapuh Sungmin menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Anda terlihat begitu menyedihkan,” komentarnya, tangannya sibuk dengan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh Sungmin.

 

“Apa? Apa telingaku tidak salah dengar?” Sungmin bertanya lalu cegukan.

 

Siwon berlari ke sisi lain mobilnya dan segera duduk di kursi kemudi. “Benar-benar ..”

 

“Aku mau muntah ..,” Sungmin menggeliat-liat gelisah. “Hugh ..”

 

Laki-laki itu dibuat kalang kabut ketika tahu Sungmin ingin muntah. Ia membuka dashboard mobilnya dan mengeluarkan sebuah kantung plastik yang membungkus CD SNSD yang baru dibelinya kemarin malam. Tanpa pikir panjang, laki-laki itu menelangkup mulut Sungmin dengan kantung plastik tersebut dan beberapa detik setelah tidakannya, wanita itu benar-benar muntah.

 

OoOoO

 

Ketika Sungmin mengatakan sesuatu tentang keadaan otak Kyuhyun dengan penuh penekanan kata, maka yang ada adalah masalah semakin rumit. Kyuhyun tidak bisa mengendalikan emosi dan mulutnya, jadi ia melempar tanggapan yang sama-sama menyakitkan seperti apa yang baru didengarnya. Sedikit-banyak Kyuhyun merasa menyesal, tetapi ia bersumpah tidak akan pergi untuk meminta maaf.

 

Lagi pula, apa gerangan yang membuat Sungmin enggan membantunya? Dugaan yang akhir-akhir ini sering membuatnya pusing adalah: ‘Ia dan Sungmin benar-benar memiliki hubungan spesial, bukan hanya sekedar guru dan murid’. Kalau pun semua memang seperti itu, lalu apa yang memberatkan wanita cantik itu?

 

Kyuhyun mau-mau saja menerima Sungmin sebagai kekasihnya, lagi pula tidak ada wanita lain di hidupnya—seingatnya sih seperti itu. Kalau tentang status mereka, Kyuhyun tidak peduli. Jika ia benar-benar sudah jatuh cinta, maka wanita yang berhasil membuat hatinya menggelepar pastilah harus menjadi kekasihnya.

 

Jatuh cinta? Jadi Sungmin berhasil membuatmu jatuh cinta? Dengan sikap ketusnya yang menyebalkan? Otakmu yang rusak sudah berkarat, ya?

 

Batin Kyuhyun mencibir sarkatis, terang-terangan mengolok persepsinya sendiri dengan kalimat sadis seperti itu. Laki-laki itu bergidik tiap kali mengingat kelakuan buruk Sungmin kepadanya. Dan tentu saja ingatan masa lalu tentang suara Sungmin yang menyampaikan sebuah klu selalu membuatnya ling-lung. Tetapi, begitu ia menerima petunjuk itu, Kyuhyun selalu menyatatnya dalam sebuah note di ponsel pintarnya.

 

Dan beberapa hari lalu, ia menyusun kalimat-kalimat itu dan mulai menyimpulkan argumentasi tentang hubungan yang lebih dari guru dan murid itu. Ya, hasil sementara memang seperti itu. Dan ketika ia meminta pertolongan kepada Sungmin untuk memperjelas semuanya, wanita itu malah tampak tidak senang dan mengatakan hal yang tidak-tidak.

 

Demi Tuhan, Kyuhyun menyesal datang ke wanita itu.

 

Setelah ia mendengar apa yang terucap dari mulut Sungmin empat hari lalu, ia bersumpah tidak akan melirik ke arah wajah Sungmin. Kalau pun ia benar-benar sudah jatuh cinta, biar saja rasa cintanya terhapus seiring waktu berjalan. Dan jika ia tidak bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu ketika ia tinggal di Korea, Kyuhyun sama sekali tidak keberatan.

 

Laki-laki itu mendesau dan kembali mengumpat ketika tahu kalimat ‘Game Over!’ terpampang di layar ponselnya. Game-nya berakhir karena dirinya tiba-tiba melamun. Kyuhyun sempat sebal karena permainannya berakhir. Tetapi rasa sebalnya berubah menjadi keheranan ketika mendapati sosok Donghae sedang belajar serius ketika waktu istirahat.

 

Kyuhyun memang heran dan nyaris menduga jika dunia akan segera kiamat sebentar lagi jika melihat Lee Donghae sedang serius dengan setumpuk buku fisikanya. Tetapi tiba-tiba ia teringat tentang perjanjian konyol yang melibatkan dirinya dan Donghae—juga Lee Sungmin yang seksi namun keparat itu. Dia mendesah lalu memalingkan muka, tidak tertarik dengan usaha Donghae demi mendapatkan nilai terbaik.

 

Kalau pun Donghae memang berhasil, silahkan saja pergi kencan dengan Sungmin. Dan rasakan saja semprotan mulutnya yang tidak pernah disekolahkan itu, Kyuhyun kembali mendengus sebal mengingatnya.

 

“Gosip tentang Lee Ssaem dan Choi Ssaem.”

 

Suara bisik-bisik yang cukup keras untuk didengar oleh telinga sensitif Kyuhyun lewat dalam waktu persekian detik. Dua temannya yang kebetulan duduk tepat di belakang kursinya sedang berbincang dan sedari tadi asik membicarakan sesuatu: awalnya tentang skandal Baek-Yeon yang memang sedang hit, tetapi sekarang jadi beralih topik.

 

“Aku dengar dari kelas sebelah, katanya mereka mulai kembali berkencan.”

 

Suara berat yang lain menyahut, kali ini terdengar lebih enggan dari sebelumnya. Mendengar pernyataan itu, suara desah putus asa meluncur dan suara musik kekanakan terdengar sebagai bgm.

 

Suara mobil yang sedang balapan terdengar semakin seru tetapi lelaki itu tidak meninggalkan topik pembicaraan dengan manusia normal di sampingnya. “Empat hari lalu, Joo Won dan pacarnya sedang jalan di sekitar Cheomdang. Dan mereka kebetulan menemukan Choi Ssaem sedang merangkul pundak Lee Ssaem menuju mobil,” kalimatnya diakhiri sebuah umpatan karena mobil balapnya nyaris menabrak pembatas jalan.

 

“Joo Won mengatakan kalau Lee Ssaem saat itu sedang mabuk. Jadi Choi Ssaem menyeretnya seperti bayi,” temannya mengomentari tanpa susah-susah menoleh, dia juga sedang sibuk dengan game di ponselnya sendiri.

 

“Sepertinya mereka minum bersama dan Choi Ssaem membiarkan Lee ssaem mabuk berat,” kepalanya geleng-geleng sebagai reaksi. “Kau tahu apa yang kupikirkan?” seketika itu juga suara musik di ponselnya berhenti. Kepalanya menoleh demi menatap teman sebangkunya.

 

“Yang kupikirkan?” suara itu terdengar sangat mendramatisir. “Pasti mereka melakukan sesuatu yang dewasa ketika tidur bersama dalam keadaan mabuk,” kesimpulan itu terlontar dengan diiringi suara high five dan kekehan ringan dari dua murid itu.

 

“Choi Ssaem membuatku iri, Bung!” katanya resah. “Bayangkan saja betapa seksi Lee Ssaem ketika di ranjang.”

 

Kyuhyun baru tahu jika pikiran teman-temannya di kelas ini memang terlampau sedikit lebih dewasa. Mereka membicarakan tentang hal porno ketika jam istirahat datang dan membayangkan sesuatu yang tidak-tidak mengenai guru mereka. Kyuhyun tidak peduli dengan pemikiran yang seperti itu, kadang-kadang ia juga sempat menjadi murid yang dewasa sebelum waktunya dan memikirkan hal-hal seperti itu.

 

Tetapi yang menjadi fokus perhatiaan dari percakapan-percakapan itu adalah: Lee Sungmin. Kini di benaknya muncul banyak pertanyaan yang berseliweran, membuatnya penasaran dan begitu ingin tahu. Kyuhyun mulai memikirkan semuanya, mengingat-ingat kebersamaan Sungmin dan Siwon yang sempat tertangkap mata olehnya akhir-akhir ini.

 

Menurutnya, hubungan keduanya masih tampak normal. Mereka seperti guru-guru lainnya: terkadang tampak berangkat dan pulang bersama dengan satu mobil—antara sesama teman seprofesi, harus saling membantu, bukankah begitu?, berjalan di lorong kelas berdua sambil berbincang ringan, atau saling bertegur sapa ketika berpapasan. Semuanya tidak ada yang ganjil, normal-normal saja.

 

Tetapi kalau perihal Siwon dan Sungmin melakukan sesuatu di apartemen ketika keduanya sedang mabuk, Kyuhyun tidak tahu. Menurut beberapa artikel yang dibacanya dari beberapa koran dan majalah yang menumpuk di rak buku, semua orang bisa saja melakukan hal di luar kendali ketika sedang mabuk. Hal itu teramat sangat mungkin dilakukan.

 

Sudah kuduga jika Choi ssaem itu masih suka menggoda Lee ssaem! Ternyata mereka masih lengket seperti itu, ya?

 

Oh! Kali ini wajah Donghae yang serius kembali melesat di pikirannya, menimbulkan kerut kentara di dahi saat secara samar Kyuhyun mendengar Donghae mengucapkannya. Kepala Kyuhyun menoleh dengan gerakan cepat ke arah kanan dan menemukan Donghae yang masih sibuk (dan akan selalu sibuk sampai ujian susulan datang) duduk di samping mejanya, tampak mengerikan karena kini fokus perhatiaannya hanya untuk soal-soal latihan dan rumus yang mendampinginya.

 

“Donghae-ya,” didorong oleh rasa penasaran, Kyuhyun memutuskan untuk memanggil Donghae namun tidak mendapat respon karena Donghae lebih memilih memerhatikan soal-soal yang ditekuninya. Kyuhyun memberengut, “Donghae-ya ..,” panggilnya sekali lagi.

 

“Apa, sih?” Donghae bergumam lirih, tanpa melirikkan bola matanya ke arah Kyuhyun. Dia masih marah perihal kejadian empat hari lalu, dan untuk sekarang sosok iblis Cho Kyuhyun yang duduk di sebelahnya tidak bisa menjebaknya lagi. Katakanlah dia sedang mencari perlindungan dengan menenggelamkan diri dalam tumpukan soal-soal ini.

 

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya ke arah Donghae lalu berbisik, “Lee Ssaem ..,” ucapnya hati-hati. “Apakah sekarang benar-benar pergi kencan dengan Choi Ssaem?”

 

Gerakan cepat tangan Donghae yang menuliskan sebuah rumus di buku tulisnya terhenti ketika gendang telinganya ditembus oleh pertanyaan seperti itu. Otaknya kembali berputar demi mendapat jawaban yang sekiranya tepat untuk dilempar ke arah setan Cho Kyuhyun itu. “Geulssae,” jawabnya sok acuh, padahal dalam hati ia meraung sedih.

 

“Dulu mereka sempat dekat, ‘kan?”

 

“Huh? Kata siapa?” Donghae benar-benar meninggalkan buku tulisnya dan beralih menatap wajah Kyuhyun dengan pandangan terkejut.

 

“Katamu.”

 

“Kapan aku pernah mengatakan hal itu?” tuntutnya tidak puas.

 

“Saat aku belum mengalami kecelakaan itu, kurasa,” Kyuhyun menimbang-nimbang. “Jadi benar, kalau Lee Ssaem dan Choi Ssaem sudah dekat bahkan sebelum gosip yang ini beredar?”

 

Kepala Donghae mengangguk tidak pasti, “Ternyata kau sudah ingat. Benarkah? Kau ingat semuanya? Tentangku juga?”

 

Rasanya Kyuhyun ingin sekali memukul kepala batu milik Lee Donghae ini. Bukannya menjawab pertanyaannya, laki-laki itu malah balik bertanya. “Aku hanya mengingat yang itu,” sungutnya. “Hei, cepat jawab pertanyaanku sebelumnya!” Kyuhyun menuntut.

 

Donghae berdecak lalu berucap, “Kalau kau sudah mengingatnya, kenapa bertanya lagi? Kau pikir aku berbohong di masa lalu?”

 

“Jadi benar?”

 

“Kau kira?” Donghae mendengus jengah. “Sudahlah. Aku mau belajar lagi. Nanti jangan kaget kalau muncul gosip aku mengencani Lee Ssaem ..”

 

“Justru aku yang harus memperingatkanmu,” Kyuhyun berucap ogah-ogahan tetapi sarat keyakinan yang berkobar di setiap nada suaranya. “Mungkin saja gosip tentangku dan Lee Ssaem yang akan menyebar.”

 

OoOoO

 

Semalam Kyuhyun benar-benar tidak belajar bahkan menyentuh buku teks mata pelajaran fisika. Yang dia lakukan sepanjang malam sepulang sekolah adalah pergi ke Game Center dan sibuk terjun ke dalam dunia game yang seru. Kyuhyun terlalu asik bermain sampai-sampai ia sempat melupakan waktu. Seandainya saja neneknya tidak menelepon, mungkin saja ia akan menginap di sana.

 

Kyuhyun pulang pukul sembilan tepat, melupakan makan malam yang ditawarkan neneknya dan berniat segera melanjutkan sesi game starcraft-nya yang sempat tertunda. Dia mengubek isi lemari pendingin dan menemukan sekotak penuh roti kemasan berwarna cokelat keemasan, tangannya terjulur untuk meraih tiga buah diantaranya dan tidak lupa menuang susu karton ke sebuah gelas tinggi. Tidak berniat untuk menghangatkan susu vanillanya, dia membawa makan malamnya ke kamar lantas segera menyalakan laptop. Keadaan moodnya sedang bagus dan dia siap tempur dengan game di laptop. Jadi, semalaman duduk di depan laptop dengan roti menggantung di mulutnya sama sekali tidak membuatnya keberatan. Sekitar pukul 3 pagi, dia memutuskan untuk mengakhiri sesi gamenya walau sedikit merasa tidak rela. Sekitar 4 jam setelahnya, dia terbangun dengan keadaan buruk beserta kantung mata yang tidak bisa ditolerir. Mengabaikan perutnya yang meronta minta sarapan, dia malah cepat-cepat mempersiapkan diri sebelum mendapat hukuman karena terlambat. Ketika dia sibuk memakai sepatu ketsnya, neneknya menghampiri dengan langkah tergopoh memberi sepotong roti isi daging yang diterima dengan senang hati oleh Kyuhyun. Dia memberi ciuman kupu-kupu untuk neneknya lantas segera pergi menghampiri kakeknya yang sudah siap dengan mobil tuanya yang antik.

Sialnya, di jam pelajaran pertama Kyuhyun di hadapkan dengan ujian mata pelajaran fisika yang diujikan oleh Lee Sungmin—Lee Sungmin si mulut tajam itu. Kyuhyun benar-benar lupa kalau mata pelajaran fisika menjadi menu utama di hari ini. Jadi laki-laki itu hanya memutar bola matanya malas setelah menyadari hal itu.

 

Kyuhyun benar-benar kukuh untuk tidak melirik wajah Sungmin. Sampai-sampai ketika Sungmin berjalan menghampiri mejanya, dia pura-pura sedang sibuk dengan pensil mekaniknya yang macet. Untuk memberi tahu saja, tekadnya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Demi menjunjung keputusannya, ia mengerjakan ujian fisikanya dengan ogah-ogahan. Lalu mengumpulkannya lima belas menit setelahnya.

 

Di kelas itu ada Sungmin, jadi Kyuhyun tidak betah untuk berada lebih lama di sana. Setelah mengumpulkan ujiannya, ia diperbolehkan keluar kelas. Karena alasan itu, Kyuhyun mengerjakan soal-soal di lembaran itu tanpa berpikir dua kali, menulis rumus, lalu mengerjakannya seperti perintah otaknya (entah itu bisa dipercaya atau tidak).

 

Asal tahu saja, dia sudah benar-benar muak.

 

Hari itu berlangsung lebih cepat dari biasanya, Kyuhyun benar-benar melewatkannya dengan pundak ringan tanpa beban. Oke. Sejujurnya ia tertidur sepanjang dua pelajaran terakhir—itu berarti lima jam belakangan dia teler karena efek begadangnya. Well, tidak ada salahnya untuk tidur di kelas selama dia tidak menimbulkan keributan. Itu artinya, dia aman.

 

Sebenarnya Kyuhyun tidak punya niat untuk tidur di kelas. Dia hanya mencoba merilekskan bahunya yang pegal dengan melipat dua lengannya di atas meja, lalu bersedekap dan menyembunyikan wajahnya di sana. Matanya yang lelah mengedip-ngedip sebentar lantas dia memutuskan untuk memejamkan mata sejenak, sekitar lima menit (pikirnya). Tetapi nyatanya, ia ketiduran sampai beberapa jam ke depan dan anehnya tidak ada seorang pun yang mencoba membangunkan.

 

Kyuhyun harus bersyukur atas hal itu.

 

“Setelah ini, kata Sungmin Ssaem kita harus ke apartemennya untuk mengetahui hasil ujian kita tadi.”

 

Suara Donghae yang serak dan rendah terdengar, membuat Kyuhyun yang setengah sadar menoleh dan menatapnya dengan mata memicing. Kyuhyun menguap untuk yang terakhir kali, lalu tangannya bergerak mengangkat tas punggungnya yang tergantung di pinggir meja.

 

“Kau saja yang pergi,” ucap Kyuhyun ogah-ogahan. “Aku sudah tidak tertarik.”

 

“Tidak bisa begitu,” Donghae tidak setuju, tetapi ucapannya berhasil membuat Kyuhyun urung pergi meninggalkan kelas menyusul teman-temannya yang lain. “Kita sudah sepakat kalau ..”

 

“Seingatku aku tidak pernah mengatakan ya untuk mengikuti perjanjian menggelikan ini bersamamu, Donghae-ya,” Kyuhyun menyela, dia berbalik dan melempar tatapan sedingin es yang mengancam. “Jadi silahkan saja kalau kau mau pergi ke apartemennya. Aku tidak ikut.”

 

“Kau itu kenapa, sih?” Donghae memekik setengah geli mendengar kalimat Kyuhyun. “Sebelum kau hilang ingatan, kau menempeli Lee Ssaem, setiap hari sepulang sekolah selalu menumpang mobilnya. Dan sekarang setelah kau divonis kehilangan seperempat kecil ingatanmu, kau memperlakukan Lee Ssaem seperti itu. Hih, menggelikan,” Donghae bergidik dan melukis tampang mengejek.

 

“Apa maksudmu dengan menempeli?”

 

Donghae menoleh, sedetik setelahnya ia berjalan mendekat ke arahnya dan menyentil dahi lebar Kyuhyun dengan jemari tangannya. “Menempeli. Kau kira aku tidak tahu apa muslihatmu dalam mendekati Lee Ssaem? Untung saja sekarang kau hilang ingatan. Dengan begitu aku bisa mendekati Lee Ssaem tanpa khawatir kau akan mengoceh seperti dulu.”

 

TBC

 

Allohaa~~ authornya udah hilang berapa lama ya -_- maaf yaaa ini ff mangkrak banget. Sempet kehilangan chemistry juga sih waktu ngerevisi ff ini. Soalnya udah lama banget gak ngelirik/? ff ini, serius deh. Awalnya gak niat publish cepet-cepet/? *ditimpuk* tapi karena ada yang ngingetin via line (thanks alot for ma beloved readers, Reski eonni x_x) akhirnya aku memutuskan untuk ngerevisi ini. Awalnya susah banget buat nyusun kata-katanya soalnya aku bingung harus kasih tambahan apa. Jadi, seadanya aja ye -_- *dibakar* kurang satu chap lagi, ff ini tamat lhoo .. Ntar kalo endingnya udah kelar, mohon maklumi yaa .. soalnya, ya gitu deh /berasa kebanyakan alesan/

 

Ini authornya lagi sibuk nyicil ujian dan tryout :”) maunya sih fokus UN, tapi kayaknya susah deh/? Sumpah tangan gatel pengen nulis ff oneshoot tapi belum dapat ide :”) jadi, authornya agak nganggur sambil mikirin SNMPTN. Doain yaa biar bisa masuk UNAIR sastra inggris *pls* kebelit stressnya SNMPTN jadi ide melayang-layang gatentu arah. Waktu liet teasernya Donghae&Eunhyuk, sempet mikir bakal buat FF oneshoot yang based on Growing Pains-nya mereka. Soalnya waktu liet teasernya, aku udah ngerasa sedih gimana gituu .. feelsnya sampe banget dan ngeduga kalo lagunya bakal ballad banget. Tapi nyatanya, nggak ballad ya :”) jadinya urung buat oneshoot *ditimpuk* ditunggu aja deh ff lainnya. Dan nantikan ending buat ff ini :”)

 

Cheerry~

xoxo

21 thoughts on “Teach for Love | KyuMin | Part 8/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

  1. Ya ampun akhirnya ada lanjutannya,,,,seneng bngd masih bisa baca ff kyumin,,,author nya bnyk yg ngilang,,,please lnjut secepatnya bwt next chapter,,,,gomawo

  2. wuaah aku ga percaya sungmin bs jd egoiiis gt ke kyu nd malah bikin mereka nambah jauh
    tp seenggaknya hae dgn mulut embernya blg kyu selalu nempelin min kan biar kyu mikir lg utk balik nempelin min ky dl. haha
    chap depan ending..?
    okedeh aku tunggu
    jgn lama lama yaaah ^^

  3. Wah…akhirnya muncul juga nih lanjutannya. Apa kyu bakal ingat kembali ya?
    Good luck with your exam. Semangat selalu.

  4. akhirnya update jugaaaa ~ udah rindu pisan sama ini ff ..dikira gak bkalan di lanjut lagii haduhh ternyata di lanjut lagii bahagia hatiku …ehhh kyu udah mulai ada rasa rasa cemburu nih …cepet update lagi yaa aku tunggu ..fighting

  5. Kurang 1 chap lg? Yah kalau bgtu berarti kisah sweetnya bkalan pendek dong. Aku curiganya kalau Kyuhyun ingat semua trus baikan sm Sungmin trus END (ingat ff My Secret Idol). Wooo jangan begitu ah. Akhr2 jarang ad ff Kyumin yg update, kalau ad malah kebxakan angsrt. Udah jarang lg ad ff Kyumin romance.

  6. akhirnya update juga….. kasihan Kyuhyun karena keegoisan sungmin…. seharusnya kalau cinta yach dipertahankan… Bukan disembunyikan dan sakit hati sendiri…. Thor senang sekali setelah sekian lama menunggu akhirnya ff nya berlanjut….jangan lama lama lagi update nya ya …

  7. Akhirnya update lagi….semangat nulis ya thor….kita smua nunggu tulisanmu…hehehhehe….kok ming jd ketus gtu?? Hiks hiks….kyu kyu jgn mau kemakan ama omongan ming donk…sia kan hanya pura2….

  8. Ternyata sudah lama ada sambungannya ya?
    Hahahahaha mianhae eonni baru sempat baca😀
    Chapter ini KyuKyu masih amnesia? Kapan ingatannya KyuKyu kembali?

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s