If I Can’t Hold You Back | OneShoot | KyuMin | Genderswitch | T+ | Romance, Hurt |

If I Can’t Hold You Back

Genre : Romance , Hurt

 Rate : T+

Pairing : KyuMin

Part : Oneshoot

Warning : GENDERSWITCH, Miss Typo

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi. Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

Summary : Cho Kyuhyun adalah seorang photografer yang super sibuk, dia keras kepala dan tidak bisa dikalahkan. Bahkan dia tidak punya cukup banyak waktu untuk pacarnya sendiri, Lee Sungmin. Mereka berpacaran seperti pasangan lainnya. Namun seiring waktu berjalan, Sungmin merasa jika Kyuhyun mulai mengabaikannya karena wanita lain yang disangkut-pautkan dengan pekerjaan. Dan kecurigaan Sungmin yang membakar habis kesabarannya, berujung pada kata putus yang memisahkan jalinan tali kasih mereka.

Music : Don’t Leave Me by Super Junior. All of tracks on Kyuhyun’s Mini Album “At Gwanghwamun”

I want to capture the image of you walking to me, hundreds of times a day

“Kyuhyun! Hentikan! Jangan memotretku!”

“Lihat saja sisi baiknya, Sayang,” laki-laki berpipi tambun dengan wajah setampan Orpheus meledek sambil berusaha memfokuskan lensa kamera DSLR yang dipegangnya. Sedangkan gadis yang menjadi titik fokusnya merengek sambil berusaha menutupi wajahnya dengan telapak tangan.

Gadis cantik bertubuh mungil menepuk-nepuk rambutnya yang penuh dengan butiran tepung terigu, dia terbatuk ringan saat merasakan partikelnya masuk dan tersangkut di kerongkongannya. Kelopaknya yang seindah mawar mengerjap-ngerjap, mengantisipasi bahwa tidak akan ada materi kecil yang masuk ke matanya. Bibirnya yang tipis mengerucut imut, membentuk m-shape dengan warna merah muda menarik. Dan laki-laki yang dideklarasikannya sebagai kekasihnya, sedang mencoba mengejeknya dengan mengambil beberapa foto.

Itu keterlaluan! Padahal, awalnya Sungmin hanya ingin mengambil kantung terigu yang kebetulan terletak di laci paling atas. Tapi karena laki-laki yang dipanggilnya Kyuhyun itu datang secara tiba-tiba dan mengagetkannya, kantung terigu itu jatuh tepat di atas pucuk kepalanya; membuat isinya berhamburan keluar dan menyelimuti kulit putihnya dengan gumpalam terigu ini. Kyuhyun tidak segera menolong, laki-laki itu malah melongo sebentar lantas mengarahkan kamera DSRL yang sialnya ada di genggamannya ke arah Sungmin.

Lalu, lampu blits itu berjaya selama satu detik penuh.

“Aku hanya perlu menambahkan mentega, telur, dan susu untuk membuat adonan pancake,” laki-laki itu terkekeh dan meletakkan kameranya. Gadisnya merengek habis-habisan, membawa kemungkinan besar bahwa seharian penuh ia akan ngambek seperti bocah umur lima tahun. Kyuhyun memutuskan untuk berhenti bercanda lantas menghampiri kekasihnya yang sibuk membersihkan diri dari tumpahan terigu. “Kau ‘kan bisa minta tolong kalau ingin mengambil sesuatu dari tempat tinggi,” katanya sementara dua telapaknya jatuh dengan gerakan lembut di pucuk kepala Sungmin, berusaha menyingkirkan burtir yang tersangkut di helai rambut itu.

Sungmin semakin memberengut mendengar kata-kata kekasihnya walau ia sendiri membiarkan telapak tangan Kyuhyun tetap ada di kepalanya. Pandangannya merendah dan jatuh pada kerah kaus Kyuhyun, pelupuknya mengerjap-ngerjap. “Kalau kau tidak datang tiba-tiba, aku tidak akan menjatuhkan kantung tepungnya,” sahutnya sambil memukul dada bidang kekasihnya dan kembali merengek.

“Mau kubantu membersihkan ini semua di kamar mandi?”

Sungmin merona dan seketika itu pula dia mendorong tubuh Kyuhyun. Matanya melotot tidak terima. “Dalam mimpimu!”

Bunyi gelak tawa main-main terdengar dari Kyuhyun. Dua telapaknya kembali terangkat, kali ini jatuh tepat di dua permukaan pipi Sungmin yang selembut marshmallow. Ibu jarinya bergerak-gerak mengusapnya dengan lembut, menyebarkan getaran tidak langsung yang membuat Sungmin merona diam-diam. “Kenapa? Kau malu?”

Titik-titik rona merah kembali merambat cepat ke pipi Sungmin dan mendominasi di sana akibat kalimat frontal dari Kyuhyun. Dia mencengkeram pergelangan tangan Kyuhyun, sedikit meremasnya pelan. “Kau yang kenapa. Jangan menggodaku seperti itu, Byeontae.”

“Oh, Sayang,” Kyuhyun mengecup sekilas bibir Sungmin hingga menciptakan bunyi kecupan vulgar. Tatapannya yang sehangat sinar mentari di musim semi jatuh tepat di wajah Sungmin, membuat gadis itu semakin merona dan merona lagi. “Aku paling tidak suka panggilan itu.”

“Lalu berhentilah menggodaku seperti itu,” cicit Sungmin malu-malu.

“Oke-oke, aku menyerah,” Kyuhyun menurunkan telapak tangannya dan membiarkan Sungmin mundur dari jangkauannya. “Cepat pergi ke kamar mandi dan bereskan semua noda yang menutupi kecantikanmu. Aku akan menunggumu di sini.”

Sungmin buru-buru berbalik dan melangkah menuju pintu kamar mandi. “Maaf, tidak ada sacherlote atau apa pun untuk kudapanmu kali ini, Kyu. Tapi aku janji akan membuat sesuatu yang lezat sehabis mandi agar bisa menemani waktu bekerjamu.”

“Ya, Sayang,” Kyuhyun ikut berbalik dan meraih kamera DSLR-nya yang semula tergeletak tak berdaya di atas meja. Dia mengamati gambar-gambar hasil jepretannya yang ada di layar mungil di sana. “Aku berharap kau bisa cepat sedikit. Aku harus kembali sejam lagi untuk memotret Michell dan bikini-bikininya.”

Pintu kamar mandi yang akan ditutup oleh Sungmin berhenti bergerak. Kepala gadis itu menyembul dari selanya yang belum tertutup sempurna, wajahnya yang belepotan tepung terigu tampak lebih murung. “Secepat itu?”

“Maafkan aku, Sayang. Tapi aku memang harus kembali secepat itu,” sekarang Kyuhyun tampak sibuk dengan layar laptopnya yang menampilkan foto-foto seksi dari seorang model wanita asal luar negeri. “Setelah mandi, bisa buatkan aku kopi?”

Sungmin menghela nafas, merasa kecewa namun dia tidak bisa marah begitu saja. Kyuhyun bukan pengangguran, karena itu dia selalu sibuk. Pekerjaannya sebagai photografer dan lima ribu foto baru selalu masuk ke memori eksternal laptopnya untuk diproses. Semalaman, Kyuhyun akan memilih sekitar delapan ratus foto dari semuanya lantas menyetorkan hasilnya kepada Tuan Kimatausiapapunitu.

Sungmin selalu tahu kenapa Kyuhyun lebih sering memerhatikan layar laptop dari pada dirinya. Sedikit-banyak ia ingin protes, tapi dia tidak berhak.

Selama air hangat mengguyur tubuhnya yang menggigil karena ditelangkup kesedihan akan fakta menyakitkan dari kisah cintanya, Sungmin tidak bisa berhenti menangis. Sekiranya, perasaannya yang berlandaskan cinta sudah sampai di ujung kesabaran. Dia benar-benar tidak ingin bertahan, dia ingin berlari keluar dari kungkungan Kyuhyun demi mendecap kebahagiaan lain. Tapi, sisi lain dalam hatinya selalu berteriak memperingatkan. Mengatakan sesuatu bahwa dia masih mencintai Kyuhyun.

Sungmin membungkus tubuhnya dengan robe lembutnya, selembar handuk berwarna merah jambu yang lembut menggulung rambutnya yang ditarik ke atas. Begitu dia keluar dari kamar mandi, pandangannya menemukan Kyuhyun yang masih sibuk dengan laptopnya. Setengah mendesah, dia berjalan ke arah konter.

“Amerikano, Sayang. Jangan yang terlalu manis,” Suara Kyuhyun terdengar mengingatkan saat Sungmin baru akan mengambil cangkir dari rak.

Gadis itu menoleh dan menatap kekasihnya sebentar. “Bagaimana jika kutambahkan susu?”

“Kau bercanda?” Kyuhyun menggerak-gerakkan jemari telunjuknya di salah satu tombol keyboard. “Amerikano itu beda dengan moka yang bisa kautambahkan susu seenaknya. Apakah otakmu sedikit konslet karena tertimpa kantung tepung barusan?”

“Tidak, maaf,” suara Sungmin mencicit di antara suara denting sendok dan cangkir yang berbenturan. Dia menyeduh kopinya dengan telaten lalu mengantarkannya ke Kyuhyun. “Kuharap kau bisa mencicipi moka. Amerikano benar-benar pahit,” katanya sambil melirik sebentar ke arah laptop.

Dan denyutan absurd mengetuk dinding perasaannya saat menemukan ribuan pixels yang membentuk sebuah gambar seorang gadis cantik yang nyaris telanjang (karena hanya menggunakan bikini two pieces) sedang berpose menarik di sebuah kursi pantai. Sungmin meringis dan menatap wajah serius kekasihnya. “Masih ada pemotretan dengan bikini?”

“Ya. Musim panas memang selalu penuh dengan bikini,” jawab Kyuhyun asal. Dia meraih pegangan cangkir kopinya dan menyesapnya. “Oh, Sayang. Sudah kutekankan berapa kali mengenai berapa sendok gula yang harus kaumasukkan dalam kopiku? Kalau tidak terlalu manis, terlalu hambar, atau apa pun,” semburnya.

Pandangan Sungmin merendah, binar matanya sekonyong-konyong meredup. “Maaf. Aku selalu lupa takarannya,” katanya, mencoba membela diri.

“Kalau begitu, kau bisa bertanya.”

“Maafkan aku.” Bola mata Sungmin bergulir ke atas dan menemukan wajah Kyuhyun yang mulai diselipi amarah tidak terkontrol. “Mau kubuatkan lagi?”

Kyuhyun menghela nafas dan memutuskan untuk meneleng ke arah Sungmin. “Tidak perlu,” ucapnya. Lantas dia menutup slip laptopnya dan menyimpannya dalam tas. “Aku akan beli di Starbuck,” dia mengecek jarum jam di jam tangannya. Tubuhnya bangkit dengan cepat dan segera menyeret kaki-kakinya menuju pintu.

“Tunggu, aku akan memasak sesuatu untukmu,” Sungmin mencengkeram pergelangan tangan Kyuhyun, berniat menahan langkah kaki pemuda itu agar tetap tinggal di sisinya untuk sebentar lagi. “Kau tidak boleh pergi sebelum makan sesuatu di sini.”

“Tidak ada waktu, Sayang,” kata Kyuhyun saat dia berhasil meraih knop pintu—dan menyeret tubuh mungil kekasihnya. Dia berbalik sebentar dan mengecup bibir ranum milik kekasihnya lantas menarik daun pintu itu. “Aku harus pergi. Michell meneleponku untuk membicarakan sesuatu yang akan membantunya saat pemotretannya setengah jam lagi.”

“Tapi, Kyu ..”

“Aku pergi, Sayang.”

Dan pintu itu ditutup dengan bunyi brak pelan yang menimbulkan getaran sakit di dada Sungmin.

Michell. Gadis itu lagi!

Batinnya menjerit di antara keheningan ruangan apartemennya. Pandangannya mengabur dan dia tidak sanggup menahan luapan kecemburuannya. Sungmin mengangkat dua telapaknya dan menelangkup wajahnya dengan jemarinya yang bergetar. Liquid yang semula hanya menggantung di pelupuknya, perlahan luruh dan menelusuri ujung-ujung jemarinya.

Tubuhnya yang sedikit limbung bersandar pada dinding dingin yang selalu menjadi sandarannya ketika sedih. Dia terisak-isak memilukan, memikirkan segala perasaan tidak masuk akal yang disebutnya sebagai cinta. Dia mengutuk Kyuhyun, tapi dia mencintai Kyuhyun.

Semua serasa salah. Salah.

Tiba-tiba, bunyi denting bel terdengar dua kali. Sungmin tersentak karenanya. Pikirannya langsung melesat ke wajah Kyuhyun, memikirkan sesuatu mengenai hal apa yang membuat Kyuhyun kembali ke apartemennya. Sebelah tangannya terangkat menghapus jejak air mata di wajahnya, memastikan jika dia sudah tampak baik-baik saja. Dan tangannya yang lain memutar handel pintu.

“Apa ada sesuatu yang .., Jungmo?”

OoOoO

Pukul dua dini hari. Dan Kyuhyun baru pulang dari perjalannya yang melelahkan. Tiga hari dua malam dia pergi ke Gangneung untuk urusan pemotretan, tidak bertemu kekasihnya, dan pulang dengan keadaan yang luar biasa lelah. Dia butuh tidur karena selama ada di Gangneung, dia menukar waktu tidurnya dengan memandang laptop dan menemani Michell ke sana-ke mari untuk mengurusi beberapa hal yang berhubungan dengan pemotretan.

Sekarang, ketika dia sudah ada di Seoul, dia merindukan Sungmin. Saat mobil McLarren-nya berhenti sejenak di persimpangan karena lampu lalu lintas, pikirannya melayang-layang menampilkan wajah Sungmin yang menjadi tiran dalam sisi paling istimewa di hatinya.

Senyuman indah yang menghiasi kedua belah bibir Sungmin menjadi candu manis baginya, membuatnya tergila-gila ketika memikirkannya. Wajahnya yang selalu dipenuhi binar kebahagiaan selalu berhasil membuat perasaannya menjadi lebih ringan, beban-beban senantiasa terangkat sedikit-demi sedikit jika dia mendapati binar kebahagiaan dari Sungmin. Sapaan lembut dengan sedikit bubuhan nada manja dirindukan mutlak oleh pendengarannya. Serta rengekan khas seperti gadis kecil yang manis.

O-oh. Kyuhyun tidak tahan memikirkan itu semua. Lantas telapak kakinya menekan pedal gasnya dan memasang sein ke kiri. Mobilnya berbelok ke tikungan gang yang sedikit sempit, melaju dengan kecepatan rendah di tengah keheningan jalanan ini. Dia memarkir mobilnya di pinggir jalan yang kosong lantas berjalan terhuyung-huyung menuju gedung apartemen kekasihnya.

Kyuhyun tidak perlu memencet tombol bel agar bisa masuk ke dalam. Dia punya kunci cadangan dan benda perak itu selalu ada di dalam saku celananya. Pintu terbuka setelah bunyi klik ganda terdengan halus, dia membukanya lebar-lebar dan masuk ke dalam sebelum menutupnya kembali.

Ruangan apartemen ini sepi, dipenuhi bau lavender di mana-mana karena pengharum ruangan. Lampu depan sudah mati, dan kemungkinan besar semua lampu di ruangan petak ini juga sudah mati. Kyuhyun melangkah mengendap-ngendap ke arah pintu di arah kiri sambil merayap di dinding. Dia menemukan handel pintu dan segera memutarnya.

Seketika itu pula, pandangannya disambut oleh sinar lampu nakas yang redup; yang menerangi wajah lelap kekasihnya. Dia tersenyum tipis, merasa lega karena selama tiga hari ini kekasihnya masih bisa hidup walau dia berada jauh dari Seoul.

Kyuhyun melepas jaket dan celana panjangnya, menyisakan celana pendek selutut yang longgar dan kausnya yang cukup tipis di badannya. Dia membaringkan dirinya di depan punggung Sungmin, memeluk kekasihnya dari belakang dan menyelipkan kepalanya di perpotongan leher Sungmin. Penciumannya yang tajam menangkap bau harum stroberi bercampur vanilla yang manis; bau kekasihnya yang khas dan selalu berhasil membuatnya nyaris sinting.

Sungmin menggeliat pelan ketika merasakan kehadiran dua lengan asing yang melingar di sekitar pinggulnya. Kelopak matanya yang berat bergerak-gerak lantas terbuka. Kepalanya menoleh ke samping kiri dan pandangannya yang agak kabur menangkap siluet Kyuhyun. Sebelah tangannya bergerak meraba-raba nakas demi mencari tombol lampu.

Lalu bunyi klik keras terdengar bersamaan dengan berpendarnya cahaya yang lebih terang dari lampu nakas itu.

“Kyu?” Sungmin yang masih disorientasi memanggil sambil mengerjap-ngerjapkan kelopaknya.

“Selamat malam, Sayang. Apakah aku mengganggu mimpimu?” tanya Kyuhyun dengan nada santai. Kecupan-kecupan ringan dijatuhkan oleh bibirnya tepat di perpotongan leher Sungmin.

Sungmin berusaha melepaskan diri dari kungkungan Kyuhyun. Sebelah lengannya tertekuk dan dia berhasil berhadap-hadapan dengan kekasihnya. Matanya menyipit dan raut tidak senang tergambar jelas di wajahnya. “Apa yang kaulakukan di sini?” kepalanya meneleng cepat, pandangannya mencoba menemukan angka di jam digitalnya. “Ini .., pukul setengah tiga pagi. Kau gila?”

Kyuhyun menyambar pergelangan tangan Sungmin, menyentak tubuh mungil itu agar kembali berbaring di dalam kungkungannya. Lengan kekarnya yang dilapisi otot bisep terlatih mengungkung Sungmin, memeluknya seotoriter mungkin demi menyalurkan segenap kerinduannya. “Aku baru pulang dari Gangneung dan kau mengataiku gila di saat seperti ini? Kau tega, Cho Sungmin.”

Gadis itu sempat merona saat mendengar panggilan Kyuhyun barusan. Kepalanya mendongak dan kelopaknya mengerjap saat menemukan raut tampan kekasihnya di sana. “Maksudku, kenapa kau malah kemari? Kau harus pulang ke apartemenmu sendiri,” jemarinya bergerak-gerak menggapai lengan atas Kyuhyun lantas mencengkeramnya erat.

“Aku merindukanmu, Sayang,” Kyuhyun mengecup kelopak mata Sungmin dengan gerakan sensual selama beberapa kali. “Dan aku tidak bisa menahan perasaan sialan itu. Aku benar-benar merindukanmu.” Dia mulai menangkap bibir ranum Sungmin dan melumatnya dengan amat rakus.

Perasaan panik membumbung tinggi dalam diri Sungmin saat mendapat ciuman seperti ini dari kekasihnya. Dia berusaha mundur, menghindari segala tindakan Kyuhyun yang pasti akan berujung pada hal-hal panas di atas ranjang. Dengan sedikit terengah, dia menarik kepalanya ke belakang dan melempar tatapan penuh tuntutan ke arah Kyuhyun. “Jangan mulai!”

“Kenapa?” Kyuhyun menyelipkan jemarinya di tengkuk Sungmin dan ujung-ujungnya mulai bermanuver di sana. Dia kembali mengikis jarak di antara wajah mereka, mencoba meraih bibir seranum ceri faforitnya. Namun sayangnya, kecupan dari bibirnya hanya berhasil menampar udara. Sungmin benar-benar menghindarinya, menimbulkan rasa tidak terima yang memercik api kemarahannya. “Kenapa?” tanyanya dengan nada yang sedikit lebih tinggi.

“Aku ingin tidur,” Sungmin beralasan. Kalimatnya terlontar dengan nada sarat permohonan bercampur kelelahan luar biasa. “Aku tidak akan marah jika kau hanya tidur di ranjangku untuk malam ini.”

Kyuhyun memutar bola matanya dengan gerakan tidak terima. Dia berdesis dengan suara ringan. “Oh, oke, Sungmin. Aku hanya akan tidur di sini, sekarang,” lengannya kembali melingkar di sekitar punggung Sungmi, lalu kelopaknya benar-benar terpejam.

Sungmin tahu jika Kyuhyun pasti sedang marah. Karena setiap kali Kyuhyun memanggil namanya seperti itu, maka secara tidak langsung laki-laki itu menunjukkan amarahnya. Dan Sungmin sudah hafal dengan tabiatnya yang seperti itu.

“Tidurlah dengan nyenyak. Kau pasti lelah,” kata Sungmin penuh perhatian. Dua tangannya menarik ujung selimut dan membenarkan posisinya hingga bisa menelangkup tubuh Kyuhyun.

“Berhentilah bicara, Sungmin. Kau mengganggu tidurku.”

How did I become like this?

OoOoO

Hari ini Sungmin berkunjung ke apartemen Kyuhyun setelah berbelanja kebutuhan untuk minggu depan. Sebenarnya dia tidak ada niatan untuk berkunjung—karena dia tahu betul jika Kyuhyun pasti tidak ada di sana. Namun saat memerhatikan gedung besar itu selama beberapa saat, sisi dalam hatinya membimbing langkah kakinya untuk pergi ke sana.

Apartemen Kyuhyun jelas berbeda jauh dengan apartemennya; lebih luas, lebih nyaman, lebih mewah, dan segalanya. Ruangannya selalu bersih karena setiap dua hari sekali ada dua orang bibi paruh baya yang datang untuk bersih-bersih. Kyuhyun punya cukup uang untuk menyewa beberapa orang untuk mengurus kebersihan ruangannya. Jadi tidak heran jika ruangan ini selalu tampak nyaman luar biasa.

Ini apartemen minimalis. Apartemen satu kamar yang dibangun untuk orang-orang lajang berduit seperti Kyuhyun. Di sini hanya ada satu ruangan besar, ruangan luas yang memuat satu ranjang king size Kyuhyun, meja kerja, dan satu almari susun. Sofa berukuran tanggung ada di tengah-tengah ruangan, saling berhadapan dengan dibatasi oleh meja mungil; fungsinya untuk formalitas saja—menyambut tamu yang mungkin berkunjung. Ada dapur di samping kanannya, rak empat pintu menggantung di atas wastafel dan kompor elektriknya. Sedangkan kamar mandi ada di ujung sebelah kanan, dekat dengan sisi almarinya. Dindingnya dicat warna biru laut, dengan aksen goresan-goresan lembut yang entah apa maksudnya. Dan bingkai-bingkai foto yang memuat wajahnya dan Kyuhyun menggantung di sisi-sisi ruangan, memamerkan kebahagiaan mereka yang mungkin mulai kedaluwarsa.

Sungmin meletakkan kantung belanjaannya di samping sofa dan melangkah menghampiri meja kerja Kyuhyun.

Kyuhyun punya dua laptop; yang satu milik perusahaan dan yang satu miliknya pribadi. Kemana-mana, dia selalu membawa laptop perusahaan dan meninggalkan laptop pribadinya di rumah. Mungkin karena dia tidak punya banyak waktu untuk mengurusi hal pribadi, jadi laptop pribadi yang berisi lusinan game tergeletak begitu saja.

Sungmin memandang slip layarnya yang agak berdebu. Tangannya terulur untuk menekan tombol powernya dan lampu-lampu di sisi kiri laptop itu berkedip-kedip. Layarnya menampilkan tulisan welcome selama beberapa detik, lalu wallpaper laptop itu muncul (nyaris membuat Sungmin merona malu karena di sana ada fotonya yang diambil diam-diam saat mereka liburan di pantai dua tahun lalu). Dia semakin tergiur untuk menjelajahi apa pun yang ada di sana, folder-folder pekerjaan, game, dan foto-foto mereka.

O-oh, ternyata tidak hanya foto mereka berdua.

Michell.

Ada perasaan sedih yang menyergap udara di sekitarnya, membuatnya kesulitan bernafas ketika pandangannya menemukan deretan foto-foto yang memuat wajah Kyuhyun dan Michell. Jemarinya yang bergetar mencoba menekan kursor dengan tanda panah ke kanan, membuat ribuan foto dengan wajah yang sama namun berbeda pose terus bergulir.

Terus bergulir; memamerkan betapa serasi kebersamaan mereka, kemesraan nyata, senyuman hangat, binar kebahagiaan dan ..

Suara ping-pong terdengar menyentak, membuat Sungmin tersentak hebat. Ada satu pesan percakapan yang masuk ke komputer Kyuhyun yang tersambung pada internet. Nama Michell tertera sebagai kontak pengirim, dan hal itu berhasil membuat pikiran negatif di tempurung kepalanya berputar tidak keruan.

Dia terlampau bingung sampai-sampai kesulitan menggerakkan jemari-jemarinya. Salah satu jari kelingkingnya bergerak tanpa perintah menekan tombol enter, lantas pesan percakapan itu terbuka.

Oppa, kau sudah sampai?

Oppa~ Oppa~

Kenapa lama sekali? Aku benar-benar merindukanmuㅠㅠ

Oppa, bagaimana kalau ..

“Sungmin? Apa yang kau lakukan di sana?”

Suara berat itu bagai petir yang menyambar di siang bolong, menghardik jiwa Sungmin hingga dia terserang disorientasi singkat. Gadis cantik itu menoleh singkat ke sumber suara dan menemukan kekasihnya yang melangkah tergesa-gesa menghampirinya. Secara naluriah, dia bangkit dan berjalan mundur, menjatuh pandangan terluka penuh keseriusan ke arah Kyuhyun.

“Apa yang sudah kau lakukan, huh?” Kyuhyun mendekati laptopnya lalu menutup slipnya cepat. “Atas dasar apa kau membuka privasiku?”

Sungmin mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha menyembunyikan ketakutan mendalam yang dirasakannya. Dua telapaknya yang nyaris beku melingkar di antara pinggulnya, tersembunyi dengan baik di balik punggungnya dengan getaran hebat di sana. Gadis itu merunduk, menatap lantai sambil berusaha menahan segenap kesabarannya.

Kyuhyun marah karena Sungmin membuka laptopnya.

Kyuhyun marah karena Sungmin tidak sengaja membuka pesan percakapan itu.

Kyuhyun marah karena Sungmin mengetahui semuanya.

Kyuhyun ..

“Atas dasar apa, Lee Sungmin?!”

Lee Sungmin.

Satu bulir kesedihan jatuh dari sudut mata Sungmin, membuatnya tampak menyedihkan karena gurat keterkejutan tampak jelas ada di wajahnya. Pelupuknya bergerak-gerak tidak beraturan, berkedut karena menahan pergerakannya yang ingin mengatup demi menyingkirkan genangan air mata sialan yang menggantung rendah di sana. Tenggorokannya terasa perih luar biasa, membuatnya kesulitan untuk mengatakan sepatah kata demi membela diri. Sepuluh jemarinya yang bergetar hebat saling mengatup, tergulung kuat-kuat hingga buku jemarinya memutih pucat. Dia mundur beberapa langkah hingga punggungnya terbentur dinding, merasa terpojok saat Kyuhyun masih merecokinya dengan pandangan kejam seperti itu.

“K-Kyu .. A-aku ..”

“Aku tidak suka kalau kau mencampuri urusan pribadiku! Bukankah sudah kubilang beberapa kali untuk tidak mengacak-acak privasiku?!”

“M-maaf ..,” Sungmin meringkuk dan mencicit ketakutan—takut karena kemarahan Kyuhyun akan segera membumbung tinggi karena ulahnya.

“Sungmin, kau ..” Kyuhyun tampak limbung sebentar, dia bersandar pada pegangan kursi dan memijit pelipisnya yang berkedut—menyadari bahwa tindakannya pasti membuat kekasihnya takut setengah mati. Dia menghela nafas, berusaha menekan amarahnya yang benar-benar akan meledak. “Bukankah sudah kuperingatkan beberapa kali, huh?” Nada suaranya terdengar lebih melembut.

“A-aku .., tidak sengaja.” menemukan semua fakta kedekatanmu dengan Michell.

“Tidak sengaja?!” Kyuhyun menekan nada suaranya, seolah kalimat tersebut adalah kebohongan paling bodoh yang sudah dilontarkan oleh gadis berumur 26 tahun seperti Sungmin. “Bagaimana bisa—”

“Aku mau kita putus.”

Kedua mata Kyuhyun membeliak lebar-lebar. “Apa?” tanyanya dengan hati-hati.

“Aku mau kita .., putus,” Sungmin mengulang dengan nada yang lebih tegas.

Tanpa diduga, Kyuhyun mendecih lantas tertawa meremehkan. Dia berkacak pinggang dan mengedarkan pandangan sebentar. Manik mata yang setajam elang kembali jatuh di atas wajah pias Sungmin, melempar tatapan kejam yang memualkan. “Putus?” ulangnya. “Kau mau kita putus?”

Sungmin merendahkan pandangan dan mengangguk, tanpa menjawab dengan sepatah kata.

Kyuhyun tergelak lagi. “Terserah,” katanya. “Terserahmu saja, Tuan Putri.”

OoOoO

Pagi itu Kyuhyun bangun dengan kepala pening dan nyeri di di tengkuknya. Perutnya bergejolak dan rasa mual itu terus berputar di ulu hatinya, membuatnya ingin sekali bangkit dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi; memuntahkan segala hal buruk yang didapatkannya tadi malam.

Kata putus dari Sungmin. Soju. Dan makian untuk dirinya sendiri.

O-oh, mereka benar-benar sudah putus. Dan semua itu karena keputusannya yang penuh rasa egoisme tidak bertanggungjawab.

Kyuhyun memejamkan mata, meresapi segala yang terjadi dan apa yang dirasakannya pada detik ini. Pikirannya kembali berputar, ingatan-ingatannya bersama Sungmin muncul secara meliuk-liuk dari satu titik di sana. Raut wajah Sungmin berpendar terang di dinding ingatannya, membuat nafasnya terengah bagai orang setengah sinting.

Kenyataan ..

Bahwa apa yang sekarang menjadi fakta adalah sebuah kesalahannya. Mutlak kekhilafannya. Dan Kyuhyun tahu benar jika dirinya bodoh, tolol, idiot, dan tidak bisa dimaafkan. Sekarang Sungmin sudah pergi dari sisinya, memutuskan pergi dari segala kungkungan cintanya.

Dan kenyataan itu bagaikan penyakit mengerikan yang membuat syaraf-syaraf Kyuhyun lumpuh. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Sekali pun dia ingin bangkit, namun pikiran-pikiran itu serasa menyergapnya dari berbagai arah dan merampas segala udaranya. Dia terjatuh lagi dengan kondisi yang lebih mengerikan; dan itu semua harus dilaluinya tanpa Sungmin.

Tanpa Sungmin, ya?

Oppa, kau tidak apa-apa?”

Suara desah lembut milik Michell terdengar nyaris seperti gentang angin ribut yang memekakkan. Laki-laki itu membuka kelopak matanya dan tatapan dari manik mata abu-abu yang dipenuhi gurat keseriusan terlempar begitu saja ke wajah Michell. Pelupuknya menyipit manakala menyadari Michell sudah ada di samping tubuhnya, duduk di atas salah satu pahanya dengan santai. Gadis keturunan Kanada itu menyilang kaki jenjangnya dengan luwes sementara ujung jemarinya bermain di sekitar rahang tegas Kyuhyun. Tubuhnya yang seksi dibalut robe sutra bermotif bunga sakura yang cantik, melindungi kulit tubuhnya yang akan terekspose habis-habisaan ketika berada di tengah-tengah sorotan lampu nantinya.

Kyuhyun baru saja menyelesaikan sesi kedua untuk pemotretan bikini yang dikenakan oleh Michell. Dia baru saja duduk di kursi kayunya yang nyaman, memikirkan segala sesuatu yang telah terjadi, dan Michell datang lantas menghancurkan semuanya.

Sempurna.

“Aku oke,” sahut Kyuhyun dengan segera. Dia melirik pahanya yang menjadi tumpuan pantat seksi Michell, sedikit mendesah tidak rela bercampur risih. “Michell, bisakah kau meninggalkan pahaku? Banyak orang yang mengawasi kita.”

Garis alis yang bulunya dikerik habis-habisan itu melengkung tajam dan menimbulkan kerutan-kerutan nyata di dahi. Michell mengedarkan pandangan, menemukan fakta bahwa mereka benar-benar menjadi pusat perhatian (lagi). Dia mengendikkan bahu skeptis sebelum bangkit dan mundur selangkah. “Well, I’m sorry.”

Kyuhyun meraih botol minuman dinginnya dan meneguknya. “Never mind, Michell.”

Michell tersentak ketika Kyuhyun memanggil namanya dengan nada yang seperti itu. Jelas sekali jika ada sesuatu yang terjadi kepada Kyuhyun hingga membuatnya rela memasang wajah murung menyeramkan sepanjang hari. Dan jangan lupakan tentang panggilan itu.

Michell.

Michell memang namanya. Tapi dia tidak pernah mendapat panggilan yang kelewat biasa seperti itu. Kyuhyun selalu memanggilnya dengan sebutan memuja yang pasti akan membuatnya senang bukan main; Angel, Fairy, dan banyak lagi. Dan untuk hari ini, kutekankan sekali lagi bahwa itu semua hanya untuk hari ini, Kyuhyun memanggil namanya tanpa embel-embel pemujaan!

“What the hell is going on to you? Something wrong and I know it,” Michell mendekat lagi. Dia sudah menjulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh pipi tirus Kyuhyun, tapi laki-laki itu menggeser kepalanya dan membuat gerakan telapaknya hanya menampar udara. “Don’t hide anything from me. Am I an Guardian Angel for you? Share it to me and I’ll make you feel better like before.”

“No,” Kyuhyun bangkit, berniat meninggalkan Michell yang melontarkan kalimat tidak berguna.

“Oppa,” Michell menyambar pergelangan tangan Kyuhyun dan menjatuhkan tubuhnya yang seliat cheetah betina dalam rengkuhan tubuh Kyuhyun. Dua lengan kurusnya melingkar erat-erat di sekitar pinggul Kyuhyun, pundaknya terangkat dan dia menghirup harum maskulin yang selalu menempel di tubuh Kyuhyun. “Something wrong with that girl? Lee Sungmin?”

Kyuhyun melirik Michell yang selalu memeluknya tanpa persetujuan. Sepercik api dalam emosinya tersulut karena kalimat Michell, membuatnya mendengus dengan suara berat yang dalam dan mengerikan. “Can you take out your fucking arm from my body? Just go to hell and for sure I don’t need your help, Miss.”

Kelopak mata Michell yang dibubuhi butir keemasan terangkat, dia membeliak lebar-lebar. Ekspresi wajah cantiknya tercoreng dengan gurat terkejut yang nyaris membuatnya seperti orang sembelit. “Am I right? Because that slut—”

“You-are-the-slut, Michell,” Kyuhyun nyaris melayangkan telapak tangannya demi membungkam mulut tidak beradab dengan tamparannya. Segenap akal sehatnya masih bertahan dalam tempurung kepalanya, menahannya untuk tidak bersikap berlebihan. “How dare you called mine with that damn word, huh? Who are you?”

Wajah Michell berubah pucat pasi, jelas tersinggung karena kalimat Kyuhyun barusan. Dia mengeram marah, aura keanggunan dalam dirinya sudah melayang-layang di udara. Jemarinya yang lentik tergulung kuat-kuat, matanya yang cantik melotot tajam; nyaris membuat bola matanya meloncat dari tempatnya. “Kenapa kau tidak pernah mengerti, huh?”

“Memangnya apa yang diketahui oleh pelacur murahan sepertimu, huh?”

“Sungmin, atau aku. Dan setahuku, kau memilihku. Bukankah sebelumnya kau rela meninggalkan Sungmin hanya untuk menemaniku?” Michell maju selangkah dan dagunya yang lancip terangkat. Rautnya dipenuhi gurat kebencian membara yang didefinisikan Kyuhyun sebagai api amarah menyeramkan. “Kau meninggalkan Sungmin untukku, Oppa. Hanya untukku.”

OoOoO

But I didn’t know your smallest disappointments or sadness

Ini adalah bulan paling menyedihkan, kehampahan nyata yang menyiksa menemani tiap detik dalam hidup Kyuhyun. Dia kehilangan segenap tujuannya, semangatnya, alasannya, udaranya.

Sekiranya Sungmin itu penting; gadis itu penyemangat utama yang selalu memberinya roh kehidupan untuk menjalani tiap batu sandungan yang berusaha menjatuhkannya.

Ini adalah sebulan yang penuh kehampaan mutlak yang menyiksa. Nyaris tidak ada tujuan, semangat, alasan, dan udara. Sungmin yang menyamar sebagai udaranya, perlahan mulai susut karena kebodohannya. Dan hal itu mempengaruhi kadar kebahagiaannya yang mulai mendekati garis minimum, membuatnya hanya bisa merenung dan memikirkan semuanya.

Dan lagi-lagi semua itu tentang Lee Sungmin.

Kyuhyun tidak bisa merelakan hubungannya kandas begitu saja. Dia mencintai Sungmin, memujanya setiap detik berdentang dan benar-benar ingin mengungkungnya dalam garis otoriternya. Dia ingin memiliki Sungmin, menjadikan gadis itu menjadi miliknya secara utuh dan sah. Membawanya ke altar gereja, berhadapan dengan pastur dan juga Tuhan, lantas mengucap janji suci yang akan dipertahankan sampai batas hidup mereka sudah berakhir.

Tetapi nyatanya, hubungannya dengan Sungmin tidak selanggeng itu. Semuanya sudah kandas, meninggalkan luka menganga menyedihkan dalam relung hatinya. Sungmin pergi dengan mengucap kata putus, memilih untuk meninggalkan laki-laki temperamental tidak berguna seperti Kyuhyun.

Kyuhyun yang salah. Tapi hingga saat ini dia masih belum menyadari apa kesalahan terbesarnya. Selama dua tahun berpacaran dengan Sungmin, gadis itu selalu baik-baik saja dengan sikapnya yang seperti itu.

Sungmin tidak pernah keberatan dengan perilakunya.

Sungmin tidak pernah melayangkan protes atas setiap pilihannya.

Sungmin tidak pernah marah ketika Kyuhyun mendapat telepon dadakan dari kantor di akhir pekan.

Sungmin tidak pernah memaksanya untuk meluangkan banyak waktu demi menemaninya berbelanja.

Sungmin tidak pernah ..

O-oh!

Sudah seberapa lama Sungmin terus mengalah untuk Kyuhyun? Mengatakan semua baik-baik saja ketika Kyuhyun melakukan satu hal keparat yang mengesampingkan hubungan mereka.

Sejak kapan Sungmin mulai bersikap mengalah seperti itu?

Sejak kapan Kyuhyun rela meninggalkan Sungmin untuk menemani Michell?

Pikiran seperti itu sekonyong-konyong melesat dalam pikiran Kyuhyun, membuat kepalanya pening seketika. Dia limbung sebentar dan nyaris terjatuh karena bahunya disenggol seseorang yang berjalan berlawanan arah darinya.

Dia sedang dalam perjalanan menuju kantor, pekerjaan akhir minggu keparat menunggunya. Mobilnya yang mewah sedang meringkuk di basement, dia ingin berangkat di awal pagi dengan jalan kaki. Tidak ada salahnya berangkat kerja dengan menumpang kendaraan umum yang relatif lebih murah dan terjangkau. Lagi pula, dia ingin membeli sarapan di restoran ujung persimpangan. Restoran yang menjadi langganannya dan ..

Sungmin?

Kyuhyun mengerjapkan kelopak matanya ketika menemukan Sungmin yang duduk santai di sebuah meja. Bagai mimpi di siang bolong, dia menemukan sosok mantan kekasihnya ada di restoran ini. Seketika itu pula getaran halus menyengat dadanya, menyebarkan impuls kuat yang mendorongnya untuk memanggil nama gadis itu.

Sungmin.

Forgive me, forgive me baby, we’re locking eyes today and I have something to tell you

Dia ingin memanggil Sungmin; mengagumi seberapa cantik dia sekarang dengan balutan gaun musim panasnya yang berwarna beige cerah. Keliman kainnya yang jatuh di atas pahanya diselipi brokat cantik, tungkai rampingnya terekspos habis-habisan dan telapaknya dibalut kaus kaki flower yang imut. Dia memakai sepatu berhak rendah berwarna cokelat muda, perpaduan sempurna antara semua yang ada pada tubuhnya.

Rambutnya yang panjang bergelombang dicat warna cokelat tua keemasan, per-per di ujungnya nampak menggantung manja. Dia mengurai rambutnya, membiarkan helai-helainya jatuh di balik punggungnya yang sempit dan nyaman—perlahan, Kyuhyun ingat bagaimana rasanya bersandar pada punggung sempit itu. Wajahnya dipoles make-up natural, nyaris tidak ada goresan warna yang nampak mencolok di sana. Bibirnya yang masih seranum ceri, dibubuhi lipstik oranye cerah, seolah dia sedang menggundang siapa pun untuk mengecup bibirnya. Dia memang menggoda, cantik, anggun, dan luar biasa dalam segala hal.

Tanpa disadarinya, dia membimbing kaki-kaki jenjangnya menuju Sungmin. Semakin dekat dan semakin dekat. Mereka akan kembali bertemu, dan mungkin dia akan membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan hubungan percintaan yang kandas di tengah jalan. Dia sudah memikirkan semuanya matang-matang, dia benar-benar tidak bisa hidup tanpa Sungmin.

Tidak ada ego, tidak ada harga diri. Ini kesalahannya, jadi Kyuhyun harus bisa meluruskan segala yang terasa salah.

“Sungmin?”

Gadis itu tersentak saat Kyuhyun memutuskan untuk memanggil namanya. Kepala Sungmin bergerak cepat, dia meneleng ringkas dan pandangannya jatuh tepat di atas wajah Kyuhyun. Rautnya tampak sedikit tidak wajar—sinar keterkejutan dan emosi absurd lainnya berkumpul di sana. Kelopaknya yang seindah tulip membeliak lebar-lebar, matanya melotot berlebihan.

“Oh, hai?” Sungmin membalas dengan nada bergetar samar. Diam-diam dia meremas jemari-jemarinya yang berkeringat, dia mulai gugup karena kehadiran laki-laki itu. Bola matanya menari-nari tidak tentu arah, gestur yang sudah dihafal Kyuhyun ketika gadis itu sedang gelisah. “Bagaimana kabarmu?”

Kyuhyun mengendikkan bahu defensif sambil merentangkan dua lengannya. Dia mencebikkan bibir sebentar sebelum memutuskan untuk menjawab. “Beginilah,” jawabnya, tanpa mencoba mengatakan baik atau tidak baik. “Kau?”

“Baik,” kata Sungmin ringkas. Dia menggigit bibir bawahnya gelisah, manik matanya mencoba bergulir tidak tentu arah dan sesekali kepergok melirik Kyuhyun dari sudut pandangnya.

“Datang sendirian?”

Itu pertanyaan yang diam-diam begitu dihindari oleh Sungmin. Dia benar-benar tidak ingin menjawab pertanyaan seperti itu, dia tidak ingin Kyuhyun mengetahui jawabannya. Tetapi, tatapan Kyuhyun yang menuntut (seperti sebelum-sebelumnya), selalu berhasil membuatnya merasa terpojok. Dia harus menjawab pertanyaan itu.

Kepala Sungmin menggeleng sebentar lantas berputar beberapa derajat dan pandangannya menemukan seseorang yang berdiri di depan meja pesan. Sebelah tangannya terangkat ke suatu titik dan dia kembali menatap Kyuhyun. “Dengan dia,” katanya dengan nada rendah.

Kyuhyun mengikuti arah jemari telunjuk Sungmin, matanya memicing sebentar ketika menemukan punggung seorang laki-laki di sana. “Siapa?” tanyanya, mulai merasa kalut dan waspada.

“Itu ..,” Sungmin menggigit bibir bawahnya lagi, merendahkan pandangan ketika mendadak dadanya terasa berat saat akan mengatakan apa yang sebenarnya. “Dia ..”

“Kekasihmu?” Kyuhyun menebak, merutuk dalam hati ketika lisannya melontarkan tebakan tidak berguna yang pasti akan menyakiti hatinya saat Sungmin memutuskan untuk mengatakan ya sebagai tanggapannya.

Sungmin mengedip sekali dan dia tersenyum tidak enak. “Bagaimana kabarmu dan Michell?” dia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menyeret nama lain di topik perbincangan yang mungkin akan segera berakhir.

Satu alis Kyuhyun terangkat, kobaran api yang tampak emosional nampak jelas di manik matanya. “Apa maksudmu?”

Pandangan Sungmin segera merendah, dia paling tidak tahan jika mendapat pandangan seperti itu dari Kyuhyun. Pandangan itu adalah pandangan paling menakutkan, paling dibenci dan dikutuk oleh Sungmin. Dan tatapan seperti itu hanya milik Cho Kyuhyun. “Bukankah kalian ..,” bahunya mengendik, dia mulai kesulitan menemukan kata yang cocok untuk menyambung kalimatnya.

Sungmin tidak bisa menemukan kata yang tepat. Dia memejamkan mata sejenak dan menghela nafas. Bibirnya yang tipis bergerak ketika mengutarakan sebuah klausa yang melesat dalam otaknya. “Sedang dekat?”

“Aku?” ulang Kyuhyun tidak mengerti. “Dengan Michell?”

Kepala Sungmin mengangguk, dia mendongak lagi dan kali ini dia mampu untuk menatap secara langsung ke arah manik mata Kyuhyun. “Bukankah kalian memang sudah dekat dari dulu?”

Kyuhyun nyaris menertawakan pertanyaan Sungmin, namun dia berhasil menyimpan segalanya. Dia berkacak pinggang dan berdecih pelan. “Kau bercanda, ya?”

“Tidak ..,” Sungmin menjawab. Tatapannya tampak melembut dan ada kilatan kesedihan di sana. “Dari dulu kalian memang sudah ..”

“Dekat karena pekerjaan,” Kyuhyun menyela. “Dan aku profesional.”

Telapak tangan Sungmin tergulung kuat-kuat, emosinya berkumpul menjadi satu di kepalanya. Dia siap meledak dan mengatakan apa saja yang menjadi argumentasinya, semua yang sudah dipikirkan olehnya sebelum menerima Jungmo sebagai kekasihnya. Dia akan mengatakan semuanya kepada Kyuhyun. Dia ingin Kyuhyun tahu apa pendapatnya tentang hubungan Kyuhyun dan Michell. Dia ingin Kyuhyun tahu dia menderita dan sedih ketika Kyuhyun pergi untuk menemani Michell.

Dia ingin Kyuhyun tahu segalanya!

“Sayang?”

Dan panggilan itu dikirim Tuhan sebagai penengah dalam pertengkaran yang akan dimulai oleh Sungmin dan Kyuhyun. Keduanya menoleh ke sumber suara dan mereka menemukan sosok Jungmo yang membawa baki logam dengan dua porsi makanan di atasnya.

Kyuhyun shock. Begitu juga dengan Sungmin.

Tetapi, pihak yang paling tersakiti untuk sekarang ini adalah Kyuhyun. Ketika dia mendengar panggilan itu terlontar untuk Sungmin-nya, dia merasa bahwa semuanya memang betul-betul salah. Panggilan itu hanya boleh dilontarkan darinya jika itu untuk Sungmin. Bukan laki-laki lain, bukan Jungmo atau siapa pun itu.

Sekiranya, Kyuhyun benar-benar merasakan apa itu patah hati yang sesungguhnya. Ulu hatinya serasa ditendang oleh perasaan absurd dan sayatan-sayatan perih datang bergulung-gulung mengiris perasaannya. Dia merasakan mual ketika segenap perasaannya diperas habis oleh ketidakberdayaannya. Perasaan sedih yang mendominasi dirinya mulai membawa pikirannya melayang-layang, menciptakan kalimat yang tidak ingin dipercayainya.

Sungmin bukan milikku, dia milik pemuda itu.

Sungmin bukan milikku, bukan milikku.

“Hai, Kyu? Kau juga datang kemari untuk mendapatkan sarapan?” Jungmo menyapa dengan kalimat penuh keramahtamahan yang tulus. Dia tersenyum lantas meletakkan bakinya di atas meja di hadapan Sungmin. “Mau bergabung dengan kami?”

Kyuhyun melirik Sungmin sekilas, menemukan gurat yang tidak dimengerti olehnya di sana. Pandangannya kembali beralih dan kali ini dia menatap Jungmo yang tampak luar biasa bahagia. “Tidak,” tolaknya halus. “Aku hanya ingin membeli bagel dan membawanya ke kantor.”

“Sibuk seperti biasa?” Jungmo bertanya dengan aksen santai, seolah-olah dia sudah hafal dengan kebiasan Kyuhyun yang nyaris selalu sibuk di akhir pekan.

Kyuhyun mengangguk. “Aku harus pergi,” katanya. Dia akan melangkah pergi tetapi pandangannya jatuh di atas wajah Sungmin. Bibir tebalnya melengkung, mencoba melukis senyuman baik-baik saja tetapi hal itu gagal total. “Semoga kau bisa langgeng dengan Jungmo, Sungmin.”

“Terimakasih doanya,” kata Jungmo, tulus.

“Ya,” Kyuhyun masih menatap Sungmin—dan gadis itu hanya mampu merunduk demi menyebunyikan garis emosi yang tersempil di sana. “Aku benar-benar berdoa agar Sungmin bisa bahagia jika itu denganmu.” Atau tidak sama sekali sehingga Sungmin bisa kembali kepadaku.

OoOoO

Kyuhyun memang bodoh. Dia tidak pernah peka dengan perasaan perempuan.

Dan Sungmin benci dengan kenyataan itu. Ketika mereka bertemu di restoran minggu lalu, perasaan dan pikirannya kembali goyah. Dia kembali memikirkan segalanya, segala kenangan yang terlewati dengan Kyuhyun. Kebahagiaan mutlak yang bisa dirasakannya ketika Kyuhyun menggenggam tangannya erat penuh perasaan. Kesempurnaan nyata yang bisa didapatkannya saat Kyuhyun mencium dirinya. Keutuhan yang tidak tergantikan ketika Kyuhyun merengkuhnya dalam kerajaan cintanya.

Dan semuanya ternodai karena keegoisan Kyuhyun yang membingungkan.

Sungmin harus ingat jika Kyuhyun mungkin saja mengkhianatinya; diam-diam menjalin hubungan dengan si Jalang Michell. Dia tidak pernah tahu, tetapi instingnya sebagai perempuan selalu mengatakan demikian. Praduga-praduga tidak beralasan selalu muncul dan memenuhi pikirannya, membuatnya sakit hati dan berujung pada tangisan tengah malam yang memilukan.

Dia memang tersakiti selama menjadi kekasih Kyuhyun. Tetapi, dia bahagia.

Lalu pada hari itu, mereka bertengkar karena sebuah masalah. Sungmin membuka pesan percakapan dari Michell dan mengetahui segalanya yang selama ini dicurigainya. Dan Kyuhyun ikut marah. Lalu kata putus adalah akhir dari segala pertengkaran mereka.

Kemudian, Jungmo datang sebagai sandarannya.

Semua rentetan kejadian itu terkesan begitu mengada-ada baginya. Putus dari Kyuhyun, si lelaki egois yang berengsek, beralih ke Jungmo, pemuda baik-baik yang tampak tulus dan serius mencintainya. Berbanding terbalik, tetapi perasaannya yang bodoh tetap memilih Kyuhyun bagaimana pun keadaannya.

Dia membutuhkan Kyuhyun. Hanya lelaki itu yang bisa membuat emosionalnya bergejolak; mencicipi tepian senang dan sedih sehingga mencipakan kenangan tidak terlupakan. Semua terukir dengan baik di dinding ingatannya; tentang bagaimana Kyuhyun bersikap, menatapnya, memeluknya, mengecupnya, dan segalanya. Dia merindukan itu semua. Dia butuh itu semua.

Bukan Jungmo.

Meski pun begitu, untuk sekarang dia harus membohongi perasaannya. Sungmin sudah memutuskan untuk menjadi kekasih Jungmo. Dan dia tidak bisa lari menghindar dari keputusannya. Dia tidak bisa pergi meninggalkan Jungmo hanya karena satu alasan yang berhubungan dengan Kyuhyun. Jungmo tidak pantas mendapatkan pengkhianatan sebagai balasan dari ketulusan cintanya. Karenanya, Sungmin harus bisa menghadapi semuanya—mencoba mencintai Jungmo kendati bayang-bayang Kyuhyun terus menguntitnya dari belakang.

Lagi-lagi dia menangis lagi, tengah malam ini dia menangis lagi karena mengingat semua yang berkaitan dengan Kyuhyun. Sungmin menggigil di bawah selimutnya sambil menggeratakkan gigi, menggigit ujung lidah dan kuku-kukunya demi meredam suara isakannya yang menyedihkan. Air mata mengalir deras dari ujung-ujung matanya, menelusuri pipinya yang selembut marshmellow dan jatuh di atas bantalnya hingga membentuk lengkung-lengkung abstrak. Sesekali, suara batuk ringan terdengar. Dia membersit ringan, mendeguk-deguk, dan kembali meringis menahan denyutan perih di dada.

Semua masih terasa menyakitkan. Dia tidak sanggup. Dia benar-benar butuh Kyuhyun.

I wish this was a dream, if this is a dream, stop right there

Ponselnya yang tergeletak di atas nakas berdering, ringtone-nya terdengar memekakkan telinga di tengah keheningan malam. Sungmin terlunjak, dia terkejut selama satu detik penuh. Tubuhnya berguling ke arah kanan, sambil cegukan ringan dia mengulurkan sebelah tangannya dan meraih ponselnya.

Matanya memicing ketika mencoba menemukan nama kontak yang tertera di layar ponselnya. Dan setelah dia menemukan identitas sang penelepon tidak tahu diri yang meneleponnya tengah malam, kelopaknya membeliak lebar-lebar. Sengatan niskala menjalar dari dadanya, berpusat di sana dan menyebar ke syaraf-syaraf di seluruh anggota tubuhnya.

Ibu jarinya bergerak cepat menggeser tombol hijau, tanpa melalui pertimbangan serius demi memutuskan untuk menerima panggilan ini atau tiak.

“Halo?”

Salam pertama yang terlontar dari Kyuhyun terdengar menggelitik rongga perasaan Sungmin. Bola matanya yang seindah mutiara bergulir ke arah kiri, berharap dia bisa menemukan Kyuhyun yang sedang berbicara di sampingnya. Jemari-jemarinya tergelung kuat, mencoba menekan nada suaranya agar tetap terdengar stabil seolah dia sedang baik-baik saja.

Sungmin menghela nafas. “Halo?” sapanya balik. Dia melirik jam digital yang ada di nakas dan mencoba menemukan sesuatu yang berkaitan dengan jarum jam.

Jarum jam.

“Ada apa menelepon tengah malam, Kyu?” Berhasil! Kerja bagus! Batinnya memberi pujian.

Suara keresak berisik terdengar dari seberang, ada bunyi televisi serak yang mendominasi. Kyuhyun sedang menonton acara sepak bola jika ditelisik dari bunyinya. “Oh,” dia menggumam lama sekali. “Sepertinya aku meninggalkan sesuatu di apartemenmu.”

Sungmin berjengit dan langsung bangkit dari rebahannya ketika mendengar kalimat Kyuhyun. Pandangannya mengedar dan dia mencoba menemukan sesuatu yang merupakan milik Kyuhyun. “Oh, ya?” tanyanya sembari melangkah ke arah meja kerjanya. “Apa itu?”

“Note-ku,” kata Kyuhyun lantas berdehem pelan. “Kurasa aku meninggalkannya di apartemenmu.”

“Di mana kau meletakkannya?” Sungmin membuka satu per satu rak meja kerjanya, berharap dia bisa menemukan buku note Kyuhyun yang berwarna hitam. Matanya sudah mengantuk. Tetapi ketika Kyuhyun sedang berbicara dengannya walau pun dengan telepon, efeknya nyaris menyerupai kafein.

“Entahlah,” Kyuhyun menjawab ringan dan sukses menuai decakan pelan dari Sungmin. Dia buru-buru menambahkan, “Tetapi aku ingat jika aku benar-benar meninggalkannya di sana.”

Sungmin menegakkan tubuhnya dan menatap meja kerjanya dengan tatapan sendu. “Memangnya kapan?” tanyanya. “Kapan kau kesini?”

“Kau meragukanku?” Nada suara Kyuhyun terdengar lebih rendah dan mengancam; sisi kelamnya muncul. Kyuhyun yang pemarah dan tidak sabaran sudah kembali. Tetapi setelah beberapa saat saling terdiam, terdengar desauan samar. “Maaf.”

“Untuk apa?” Sungmin mengedarkan pandangan ketika merasakan setitik jarum tak kasat mata menusuk relung perasaannya, menimbulkan perasaan sakit yang menimbulkan titik-titik air mata menggantung rendah di pelupuk matanya. Gadis itu berkacak pinggang dan menengadahkan kepalanya ke atas, menggigit bibir demi menahan getaran samar di bibirnya.

Kyuhyun memang harus minta maaf. Terlalu banyak kesalahan yang sudah diperbuat olehnya sehingga hal itu membuat luka menganga yang nyata di hati Sungmin. Tetapi sayangnya, Kyuhyun tidak mampu untuk menyadari segala yang termasuk kesalahannya. Kyuhyun masih buta, sekiranya seperti itu.

Sungmin selalu mengingatkan dirinya sendiri ketika dia mulai meratapi semuanya; saat dirinya mulai mengharapkan pengkuan dosa dari Kyuhyun agar Kyuhyun bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Sungmin berharap seperti itu karena dia tidak ingin pergi dari Kyuhyun. Dia tidak ingin merasa muak dengan segala tingkah laku Kyuhyun lantas pergi dari setelah mengucap putus.

Tetapi nyatanya, pada hari itu, kesabaran yang dimiliki Sungmi sudah melewati batas wajar. Dia meledak seperti gunung api, menumpahkan segalanya karena kepercayaannya dikikis habis oleh fakta baru yang disembunyikan oleh Kyuhyun. Dan kata putus (yang hingga saat ini begitu disesalinya) menjadi akhir dari semua kebahagiaannya dengan Kyuhyun.

“Bolehkah aku ke apartemenmu besok pagi untuk mengambil note-ku?”

Suara Kyuhyun kembali terdengar, menyeret ruh Sungmin agar kembali ke raganya. Gadis itu tersentak dan kembali melirik ke sampingnya. “Note-mu tidak ketemu,” ungkapnya ragu. “Mungkin tidak tertinggal di sini,” dia mencoba melontarkan alasan yang sia-sia.

Kyuhyun adalah tipe orang keras kepala.

“Tetapi aku yakin sekali jika note-ku tertinggal di sana,” Kyuhyun mengatakannya dengan nada mendesak, menuai keheningan nyata karena Sungmin hanya diam sembari memikirkan hal gila apa yang mungkin akan terjadi jika dirinya berkunjung ke sana. “Apakah tidak boleh?”

Sungmin menggulung tubuhnya dengan selimut dan meringkuk seperti bayi seraya mencengkeram erat-erat pinggiran selimutnya. Dia menggigil karena pendingin ruangan, terbatuk ringan, kemudian berdehem sebelum mengucapkan kalimat finalnya. “Apakah note itu penting sekali?” Bagus!

“Penting,” Kyuhyun menyahut ringkas. “Sangat penting sampai-sampai aku bisa mati jika tidak mampu mendapatkannya kembali.”

Kalau bisa, Sungmin ingin menjadi buku note milik Kyuhyun yang sekarang sedang terselip di suatu tempat yang tidak diketahui. Karena dengan begitu, dia akan menjadi barang penting yang mutlak dibutuhkan oleh Kyuhyun. Bukan sebagai gadis tidak berguna yang selalu disakiti, yang kebingungan harus mengambil langkah apa demi mencapai kebahagiaan.

“Jadi?”

Sungmin tersentak (lagi). “Oh,” dia membasahi bibirnya yang mendadak kering. “Silahkan saja.”

“Terimakasih,” Kyuhyun mengucapkannya dengan nada tulus—yang mampu menggetarkan dinding hati Sungmin hingga gadis itu nyaris meleleh seperti patung salju yang tolol. “Besok aku akan menghubungimu lagi.”

“Ya,” Sungmin menggigit bibir bawahnya ketika suatu kalimat serasa mendesak dari balik lidahnya. Keberaniaan yang dikumpulkannya dengan susah payah bertumpuk di suatu titik dan menciptakan kekuatan yang besar. Dia menelan ludah bersamaan dengan menelan seluruh rasa takutnya sebelum berucap. “Kutunggu.”

“Hm,” Kyuhyun bergumam rendah. “Aku pasti akan datang.”

OoOoO

Sungmin tidak tahu alasan apa yang mendasarinya untuk berjuang hingga sedemikian rupa. Dia bangun pukul tujuh pagi, bersih-bersih apartemennya, memasak sarapan, menggunakan baju yang bagus, dan mengikat rambutnya menjadi cepol ketat seksi yang disukai oleh Kyuhyun.

Ketika semuanya sudah beres dan nyaris menyentuh kata sempurna, Sungmin baru menyadari jika semua yang dilakukan olehnya di pagi hari ini akan berakhir sia-sia. Kyuhyun hanya akan datang untuk mencari buku note-nya yang mungkin tertinggal di sini. Dan setelah laki-laki itu menemukannya, dia akan segera pergi.

Sungmin duduk di kursi makan dan menelangkup dahinya, memijit pelipisnya saat batinnya berteriak mencoba memperingatkan. Perasaan sedih itu kembali merasuk dalam rongga paru-parunya, merampas segenap udaranya. Dia menghela nafas berkali-kali ketika dadanya serasa sesak oleh seluruh beban-beban tak kasat mata miliknya.

Dia tidak boleh seperti ini. Dia sudah menjadi milik orang lain, bukan milik Kyuhyun.

Sungmin bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri almarinya. Dia memilih kaus kasualnya dan jeans pendek biru dongker. Gaun benar-benar tidak cocok jika dipadukan dengan kenyataan sialan yang terjadi kepadanya. Maka, dia memutuskan untuk menghapus riasannya dan mengganti apa yang telah melekat pada tubuhnya. Rambutnya yang semula diikat menjadi cepol ketat di pucuk kepala, dibiarkan tergerai hingga ujung-ujungnya membelai pundaknya yang sempit.

Cepol ketat yang memamerkan tengkuknya adalah style kesukaan Kyuhyun. Jika Sungmin mengikat rambutnya, itu berarti dia telah membiarkan Kyuhyun untuk menatap tengkuknya lalu mencumbunya sesuka hati. Lalu hal selanjutnya yang akan terjadi adalah; perpaduan cinta di atas ranjang.

Saat Sungmin baru selesai membenahi kausnya, bel pintu apartemennya berbunyi. Dia melangkah (sok) santai di ke arah pintu sembari menenangkan perasaannya yang serasa akan meledak. Di balik pintu, ada sosok Kyuhyun yang selama ini begitu dirindukannya.

Sungmin menarik handel pintunya dan seketika itu pula pandangannya jatuh pada wajah tampan milik pemuda di hadapannya. Detak jantungnya mungkin sempat berhenti selama persekian detik, dia terkejut.

Kyuhyun berdiri di depan pintu apartemennya dengan memasang ekspresi yang tetap sama seperti dulu; dingin tetapi penuh kehangatan cinta kasih dalam binar matanya. Rambutnya yang dicat warna cokelat keemasan (warna kesukaan Sungmin) dipangkas rapi hingga ujung rambutnya menyentuh kerah bajunya. Dia memakai kaus lengan pendek yang tampak pas membalut tubuh atletisnya, dipadukan dengan jeans belel, dan sepatu kets adidas.

Dan senyuman yang secerah sekuntum bunga daisy yang mencintai ciuman bunga matahari masih tetap melekat di bibir tebal Kyuhyun. Senyuman favorit yang selalu berhasil membuat Sungmin nyaris gila jika mendapatkannya.

“Hai,” Kyuhyun menyapa duluan ketika dua orang itu serasa sudah menghabiskan waktu terlalu banyak untuk mengagumi lawan bicaranya masing-masing. Dia mengendikkan bahu dan menatap ke dalam. “Bisa kita masuk?”

“Oh,” Sungmin mengangguk kikuk dan segera menyingkirkan tubuh mungilnya untuk membiarkan Kyuhyun masuk lebih dalam. Dia berbalik dan menatap punggung Kyuhyun, lengan-lengan kurusnya melingkar memeluk tubuhnya sendiri. “Bagaimana kabarmu?”

Kepala Kyuhyun menoleh ringkas ke arah Sungmin dan dia tersenyum lagi. “Baik,” jawabnya. “Kau?”

Sungmin merunduk dan memerhatikan dirinya sendiri. “Seperti yang kau lihat,” katanya.

“Jadi,” Kyuhyun menggantung ucapannya ketika sebelah tangannya terangkat untuk menggaruk tengkuknya. Manik cokelatnya yang tegas dan cerdas melempar tatapan lembut ke arah Sungmin. “Aku bisa memulai untuk mencari barang berhargaku?”

Barang berharga.

Kepala Sungmin mengangguk dengan gerakan patah-patah. “Silahkan.” Dia menggiring kaki-kaki mungilnya menuju meja makan dan menatap masakannya yang mulai dingin. “Sudah sarapan?”

Kyuhyun yang sibuk mencari note-nya di laci-laci meja kerja Sungmin menghentikan gerakan tangannya sesaat. “Kau tahu sendiri kalau tidak ada orang yang akan memasak sarapan untukku semenjak kita putus.”

“Kau tidak membiarkan Michell untuk tinggal di apartemenmu?” Sungmin merutuk setelah dia selesai mengucapkan kalimat pertanyaan seperti itu. Dia menggigit ujung lidahnya, mengantisipasi jika kalimat tidak diinginkan kembali meluncur tanpa perintah.

Kyuhyun tersentak dengan pertanyaan Sungmin. Rahangnya tampak mengeras dan perasaan tidak terima bercampur emosi memercik dalam jiwanya. Dia meninggalkan rak buku milik Sungmin dan memutar tubuhnya demi menatap Sungmin secara langsung. “Memangnya, siapa Michell bagiku?”

Dia marah. Batinnya memperingatkan. Sungmin mengendikkan bahu seolah-olah pertanyaannya barusan tidak berarti apa-apa. “Kalian belum berpacaran?” tanyanya.

“Aku akan segera pergi setelah menemukan note-ku, kalau kau ingin tahu,” Kyuhyun memilih untuk mengalihkan pembicaraan alih-alih menanggapi pertanyaan konyol dari Sungmin yang menyakiti perasaannya. Dia kembali mencari note-nya diantara tumpukan buku-buku di rak, tidak menghiraukan amarahnya yang bergelung-gelung di pangkal perutnya.

Mereka terdiam ketika Sungmin tidak menemukan topik yang bagus untuk dibicarakan. Dia tidak akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan berbahaya yang berhubungan dengan Michell, Kyuhyun tidak menyukai topik seperti itu. Lagi pula, sepertinya Kyuhyun ingin menjaga perasaannya.

Apa?

Sungmin tersentak ketika suara batinnya muncul dalam kilatan cepat di antara perdebatannya. Dia mengarahkan tatapannya ke arah Kyuhyun dan memerhatikan pundak laki-laki itu.

Mungkin Kyuhyun masih seperti dulu; marah saat Sungmin mulai menyelipkan nama Michell dalam perbincangan mereka. Sungmin tidak tahu apa yang membuat Kyuhyun nampak begitu benci jika dia mulai membicarakan model itu. Dan saat itu, dia berpikir jika Kyuhyun melakukannya karena Kyuhyun ingin menghindari segala praduga-praduganya.

Lalu untuk sekarang, Sungmin mulai merubah arah pandangnya.

“Sudah ketemu.” Kyuhyun berucap sambil melangkah ke arah Sungmin, dia menunjukkan buku note berlapis sampul PU leather berwarna hitam.

“Ternyata benar-benar ada di sini,” Sungmin meringis. “Syukurlah kau bisa menemukannya lagi. Kudengar, itu benda penting bagimu.”

“Ya,” Kyuhyun mengangguk dan menatap note-nya. Tanpa mencoba menjelaskan alasan apa yang bisa membuat note ini nampak penting baginya, dia menatap Sungmin. “Aku harus pergi.”

“Tidak, tunggu,” Sungmin berucap lemah demi menghalangi kepergian Kyuhyun yang terlalu cepat. “Aku sudah memasak sarapan dan seharusnya kita makan dulu.”

Kyuhyun menyadari jika masakan-masakan itu sudah masak sebelum dia menginjakkan kaki di apartemen ini. Wangi bumbu-bumbu yang sudah diracik menggantung rendah di udara, membuat perutnya meronta minta diisi sedari tadi. Nafsu makannya meraung-raung, batinnya mengatakan jika dia juga merindukan masakan Sungmin. Dia merindukan momen sarapan yang dilewati berdua dengan diselingi canda tawa menyenangkan.

Laki-laki menatap tidak berdaya ke arah manik mata Sungmin. “Bolehkah?”

Sungmin menggiring Kyuhyun ke meja makan dan mengambil nasi hangat dari mesin penanak nasi. Mereka makan bersama walau suasana hening mencekam menelangkup atmosfer kebersamaan mereka. Suara denting sumpit, sendok, dan mangkuk nasi terdengar paling mendominasi. Keduanya kebingungan dalam mencari topik yang tepat.

“Jadi ..”

“Huh?” Sungmin mendongak ketika gendang telinganya baru disentuh dengan kata ‘jadi’ dari Kyuhyun. Kelopaknya mengedip beberapa kali, “Apa?”

Kyuhyun mengulum bibir setelah menelan kunyahan nasinya. “Sudah berapa lama kau pacaran dengan Jungmo?”

Jika Kyuhyun tidak menyukai topik mengenai Michell, maka Sungmin tidak menyukai topik mengenai Jungmo.

“Entahlah,” Sungmin memutuskan untuk memberi jawaban absurd. Dia menyeruput sup bawangnya yang sedikit asin dan mendecap-decap (seolah-olah terasa) nikmat. “Oh, ada yang salah dengan supku.”

Kyuhyun mengaduk sup bawangnya dan menatap cairan bening di mangkuknya. “Apa dia memperlakukanmu dengan baik?”

Sungmin menggigit bibir bawahnya. “Siapa?”

“Jungmo.”

Pegangan jemari Sungmin mengerat pada sumpitnya. Bola matanya bergulir ke atas dan tatapan terluka yang ingin disembunyikannya malah terlempar begitu saja ke arah Kyuhyun. “Apa yang kau rasakan ketika aku mulai membicarakan Michell?”

Bunyi dentingan mutlak terdengar manakala Kyuhyun meletakkan alat makannya di samping mangkuk nasinya. Dia menarik nafas panjang dan mengangkat sebelah alisnya. “Maafkan aku.”

“Kemarin kau sudah meminta maaf,” Sungmin memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah. “Dan aku benar-benar sudah memaafkanmu.”

“Beberapa hari ini aku memikirkan apa saja yang mungkin membuatmu merasa muak kepadaku,” Kyuhyun menggantung ucapannya dan hal itu menuai ekspresi tidak senang di wajah Sungmin. “Sewaktu kita pacaran,” lanjutnya.

“Apa yang sudah kau dapatkan?”

“Terlalu banyak sampai aku mengutuk diriku sendiri,” Kyuhyun merendahkan pandangannya dan menelangkup dagunya yang licin tanpa jenggot. “Aku menyadari semuanya.”

“Terlambat.”

“Ya,” Kyuhyun semakin nampak frustasi. “Aku tahu,” sambungnya. “Tidak bisakah kita ..”

Bunyi handel dibuka terdengar menyentak dan dua orang itu menoleh ke sumber suara. Seorang sosok laki-laki berjaket abu-abu masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu dan nampak sama terkejutnya dengan Sungmin dan Kyuhyun.

“Oh, ada tamu lain,” kata lelaki itu seraya menghampiri meja makan. Dia menatap wajah lelaki tidak asing itu selama beberapa saat lalu beralih menatap kekasihnya. “Apa aku mengganggu perbincangan kalian?”

“Duduklah, Jungmo,” Sungmin menarik kursi tepat di sebelahnya. “Sudah sarapan? Mau kubuatkan kopi?”

“Tidak, Sayang,” Jungmo melempar tatapan tajam ke arah Kyuhyun yang kembali menyantap masakan Sungmin. “Aku sudah sarapan dan membeli kopi di starbucks.”

Sungmin meraih sumpitnya dan melahan segumpal nasi dari mangkuknya. “Ada apa kemari?”

“Hanya merindukanmu, Sayang,” jawab Jungmo dengan nada ringan dan kekehan bersahabat. “Lalu, apa yang kau lakukan di sini, Kyu?”

Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari mangkuk ke arah Jungmo. Dia berdehem sebentar lantas meneguk air mineral di gelasnya. “Aku mengambil barangku yang tertinggal di sini.”

“Oh, ya?” Nada suara Jungmo terdengar lebih mengancam. “Apa itu?”

“Note,” Sungmin mengambil alih. Dia tersenyum ke arah Jungmo, berharap jika kekasihnya tidak akan mempersalahkan kedatangan Kyuhyun di apartemennya pagi ini. “Dulu, dulu sekali, dia meninggalkannya di sini dan baru teringat beberapa hari lalu.”

Jungmo tidak bisa menekan Kyuhyun dengan berbagai argumen negatif yang berputar dalam tempurung kepalanya karena Sungmin nampak begitu mati-matian membela Kyuhyun. Perasaan kesal dalam hatinya membuat ekspresi tidak senang menyempil di sela wajahnya. Dia berdesis dan mencoba mempertahankan senyuman yang terpatri di bibirnya. “Kemarin malam Ibu menelepon, dia terus bertanya tentang menikah.”

Wajah Sungmin tampak memucat. “Apa?”

“Kau tahu sendiri jika Ibu ingin sekali melihatku ada di altar gereja bersamamu,” Jungmo menekankan nada suaranya pada beberapa kalimat, menuai gurat ketidakpercayaan di wajah Sungmin dan Kyuhyun. “Jadi,” dia bergerak-gerak gelisah ketika akan meneruskan kalimatnya. “Lee Sungmin, apakah kau mau menikah denganku?”

Bersamaan dengan lenyapnya kalimat pertanyaan dari Jungmo, dering ponsel Kyuhyun terdengar meraung—seolah ponsel itu benar-benar bisa menirukan kata hati Kyuhyun (dan juga Sungmin). Kyuhyun dan Sungmin sama-sama tersentak, berhasil kabur dari disorientasi singkat yang diakibatkan oleh pertanyaan Jungmo.

“Kurasa aku harus pergi,” Kyuhyun memutuskan untuk bangkit setelah dia mengelap mulutnya. “Bosku sudah menelepon.”

OoOoO

Dua bulan setelah pertemuan terakhirnya dengan Sungmin, Kyuhyun berubah menjadi zombie menyeramkan. Dia jadi gila kerja, hanya sempat tidur selama 2 jam sehari dan bangun dalam keadaan buruk. Pil tidur ada di rak nakasnya, tetapi itu tidak membantunya untuk bisa pergi tidur lebih awal. Rak almari pendinginnya dipenuhi botol-botol soju dan minuman keras. Sedangkan almari khusus yang menyimpan wine favoritnya nampak nyaris kosong.

Kyuhyun jadi pecandu minuman keras. Dia tidak bisa hidup tanpa wine-nya. Dia butuh minuman berwarna ungu pekat itu untuk membantunya bertahan hidup. Dan soju melengkapi segalanya. Dia hanya butuh mabuk untuk meringankan segala beban yang ditanggung oleh dua pundaknya.

Beban atas kesedihannya.

Dia melirik buku mungil berukur 15×15 cm yang semenjak seminggu lalu tergeletak tak berdaya di samping laptopnya. Binar matanya tampak lebih sendu dari sebelumnya, sinar matanya meredup begitu saja. Keputusasaan merangkak pasti menyusuri aliran darahnya, menempel pada dinding-dindingnya hingga dia kesulitan untuk mendapatkan semangatnya kembali. Dunianya sudah remuk, dia kehilangan semua yang dibutuhkannya.

Buku mungil itu adalah awal dari kesedihan nyata yang menimpa Kyuhyun. Undangan pernikahan yang dibalut dengan pita satin berwarna merah jambu kesukaan Sungmin, dengan sisi-sisi keemasan berkilau yang menakjubkan. Font klasik mencetak tiap huruf yang tersusun membentuk sebuah nama; tercetak di atas foto sepasang calon pengantin yang saling melempar senyuman penuh kebahagiaan.

Sungmin akan menikah.

Dan Kyuhyun tidak bisa melakukan apa-apa selain datang ke acara pernikahan itu nanti malam. Dia sudah terjebak dalam lubang perasaannya sendiri, terperangkap karena kesalahan konyol yang tidak disadarinya. Dan penderitaan itu benar-benar memutus prospek masa depannya.

Kyuhyun memandang pantulan dirinya di cermin, menyelami manik matanya sendiri demi menemukan apa yang sekiranya benar-benar dibutuhkannya. Yang didapatkan olehnya adalah bayangan Sungmin yang memakai gaun pengantin, sedang tersenyum bahagia sembari menggandeng tangannya, bukan Jungmo atau lelaki lain.

Ketika kelopak matanya mengedip, dia kembali ke dunia nyata dan terjaga dari mimpi buruknya.

Salah satu lengannya terangkat dan jemari-jemarinya mengancing manset-manset tuksedo abu-abunya. Pandangannya yang nampak kosong menyedihkan masih tetap terarah pada refleksinya sendiri. Dia menghela nafas dan menyempatkan diri untuk meneguk wine-nya yang terakhir sebelum pergi meninggalkan apartemennya menuju gadung pernikahan Sungmin.

Mobilnya melesat cepat membelah keramaian, tidak butuh waktu lama untuk mencapai gedung eksklusif yang sudah disewa untuk menyelenggarakan segala urusan tetek bengek pernikahan Sungmin. Kyuhyun bisa sampai di sini dengan selamat walau kepalanya sedikit berputar-putar karena efek dari wine-nya.

Dengan langkah terhuyung-huyung, dia melangkah menjauhi basement dan masuk ke gedung itu. Dirinya disambut oleh beberapa teman yang diundang oleh Sungmin, menyapa sebentar demi sekedar bosa-basi dan mengambil segelas champagne dari sebuah meja. Lalu, dirinya dipersilahkan untuk menemui calon pengantin wanita di ruang tunggu khusus yang telah dipersiapkan.

Awalnya Kyuhyun menolak. Tetapi, dia tidak bisa merelakan Sungmin tanpa mengucap kata terakhir. Dia tidak punya pilihan lain selain masuk dan menemui Sungmin. Itu akan menjadi saat terakhir untuk bisa berhadapan dengan Sungminnya yang masih lajang.

Kala Kyuhyun mendorong pintu ganda itu, pandangannya langsung menemukan sosok Sungmin yang duduk di sofa besar dengan gaun putihnya yang elegan. Sungmin menggunakan gaun panjang dengan belahan dada rendah, dua lengan kurusnya dibungkus oleh kaus tangan ciffon berwarna putih. Rambutnya digelung ke atas, ada tudung pendek yang tersampir di sela gelungan rambutnya. Wajahnya yang cantik jelita dipoles make-up ringan dan natural, bibirnya dibubuhi lipstik merah muda cerah dan ada serbuk kemerahan di tulang pipinya.

Dan sekarang, Kyuhyun terpesona.

“Kyuhyun?”

Desah suara Sungmin terdengar mengusir keheningan mencekam di ruangan ini. Kyuhyun maju selangkah ketika ruhnya sudah kembali ke raga, masih tetap memerhatikan dan mengagumi kecantikan alami dari mantan kekasihnya. Perasaannya menggebu, memerintahnya untuk merentangkan tangan dan merengkuh sosok malaikat mungil itu dalam pelukannya.

Dan Kyuhyun menangkap satu bulir bening meluncur dari salah sadut mata Sungmin. “Hei,” dia menyapa dan buru-buru mendekati Sungmin. Dia berjongkok tepat di hadapan Sungmin dengan kepala mendongak, menilik gurat mantan kekasihnya lekat-lekat. “Ada apa, hm?”

Sungmin menggigit bibir bawahnya yang bergetar samar, matanya menyipit dan bulir itu semakin mudah jatuh menelusuri pipinya. “Maaf,” ucapnya. “Aku tidak bisa menolak.”

Dari semua hal yang mampu membuat Kyuhyun menjadi gila setelah mendapat undangan pernikahan Sungmin adalah; saat melihat Sungmin menangis tepat di hari pernikahannya. Hal itu merupakan alasan mutlak yang membuat seluruh aliran darahnya terasa membeku sesaat. Pikirannya blank dan tangisan Sungmin yang memilukan mampu melemaskan otot-otot yang melekat pada tulangnya.

Kenyataan menampar batin keduanya.

“Sungmin ..”

Salah satu telapak tangan Sungmin bergerak dan jemari-jemari lentiknya mencengkeram erat telapak tangan Kyuhyun yang nyaris membeku. “Aku mencintaimu,” katanya di sela isak tangisnya yang semakin menggebu. Nafasnya mendeguk menyedihkan, air mata meluncur mulus menelusuri pipinya.

Sungmin mengatakannya, dia mengatakan jika dirinya mencintai Kyuhyun walau sekarang mereka sudah putus. Sungmin berkata jujur, Kyuhyun tahu semua yang dirasakan Sungmin lewat tatapan matanya. Dan sekarang, gadis itu nampak menderita menggunakan gaun cantik yang membawa titel calon pengantin wanita.

Kyuhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak merengkuh tubuh mungil Sungmin. Tahu-tahu dia sudah melingkarkan dua lengan kekarnya di pundak Sungmin, telapak tangannya yang besar dan hangat membelai punggung Sungmin penuh perasaan kasih. Dia merasakan kepala Sungmin yang bersandar di pundaknya, bergerak-gerak gelisah. Tengkuknya yang merupakan area sensitif berhasil dibuat meremang karena terpaan nafas hangat dari Sungmin.

“Sungmin .., aku ..”

Kyuhyun memutus kalimatnya sendiri, menimbang-nimbang segala yang akan meluncur dari mulutnya. Dia merendahkan pandangan, mencoba menyelami segala pemikiran yang disangkut-pautkan dengan perasaan cinta, kondisi, dan juga kemungkinan. Dia mencoba berubah menjadi orang yang rasional, ingin sekali mengatakan jika semua memang sudah terlambat dan dia tidak bisa kembali ke sisi Sungmin. Tetapi, suara-suara dalam batinnya berteriak mencegah hal tersebut terjadi.

Kyuhyun tidak bisa mengatakan itu. Dia mutlak membutuhkan udaranya, Sungmin.

Rengkuhan tangan Kyuhyun yang kini menyelimuti jemari Sungmin semakin mengerat. Dia mendongak dan melempar tatapan yang jauh lebih tegas. “Menikahlah denganku.”

Perasaan Sungmin mencelus seperti es krim yang dibiarkan di ruangan terbuka manakala gendang telinganya disentuh dengan kalimat ajakan dari Kyuhyun. Kelopaknya jatuh dan matanya semakin menyipit saat mencoba menahan luapan perasaan bahagianya. Isak tangisnya terdengar semakin keras, namun desahnya diiring simfoni kebahagiaan yang nyata.

Sungmin menghela nafas, mencoba menstabilkan alur nafasnya namun semua itu nampak sia-sia. Dia kembali mendeguk-deguk payah sebelum mengatapan apa yang ingin diucapkannya. “Tidak bisa,” katanya sukar. “Aku .., tidak bisa lari.”

“Tetapi, Sungmin ..”

“Apa yang kalian lakukan?!”

Seseorang berteriak dan menarik bahu Kyuhyun menjauh. Lalu satu pukulan telak yang menimbulkan jeritan menukik dari Sungmin menjadi awal dari segala ketegangan di ruangan itu. Jungmo, satu-satunya pelaku pemukulan yang menyerang Kyuhyun, mengeram dengan nada suara rendah berbahaya. Dia menyamar menjadi singa jantan yang siap tanding karena daerah kekuasaannya diusik oleh spesies lain. Dia benar-benar marah.

“Apa yang kau lakukan kepada Sungmin, hah?!”

OoOoO

Sungmin benar-benar tidak bisa lari. Semenjak kepergian Kyuhyun sejam lalu, dia tidak bisa berhenti menangis sesenggukan. Riasannya nyaris hancur, tetapi penata rias yang bertanggungjawab segera datang dan membenahi semuanya. Dia mencoba untuk menahan segala kesedihannya. Lalu berjanji kepada dirinya sendiri bahwa setelah acara sialan ini berakhir, dia bisa menangis sampai puas di dalam kamar apartemennya.

Penyesalan tidak berujung yang dirasakan Sungmin tidak lagi berarti, sia-sia karena memang dia sudah terlambat. Ayahnya yang sudah memakai tuksedo putih tulang berdiri di samping tubuhnya, menggandeng tangannya dengan bangga dan menuntun langkahnya menuju altar. Sosok Jungmo yang dulu sempat dikaguminya berdiri tegap di sana, melempar tatapan absurd yang benar-benar tidak sanggup diterima olehnya.

Sungmin membidik tatap pada sisi lain, dan dia menemukan Kyuhyun yang ada di deretan kesekian—sedang berdiri dengan matanya yang merah dan sesendu melodi kesedihan yang menyayat hati. Sepanjang langkahnya yang terdengar bagai ketukan pada detik-detik kematian, dia menatap lekat-lekat wajah mantan kekasih yang dicintainya. Dinding-dinding perasannya kembali digedor oleh perasaan berontak, mengutas air mata hingga membuatnya kembali nyaris menangis.

Dua alis Sungmin melengkung tajam dan kerut-kerut di dahinya nampak kentara. Dia melewati Kyuhyun tanpa mampu mengalihkan pandangan. Sesaat sebelum Sungmin menjatuhkan pandangannya pada lantai keramik yang dingin, Kyuhyun melempar senyuman yang menggetarkan hati. Air mata luruh dari sudutnya, kesejukan tiada tara muncul setitik demi setitik membasahi relung perasaannya.

Sungmin, aku menunggumu.

Sungmin dan ayahnya berhenti di depan Jungmo. Ayahnya yang pengertian menyerahkan telapak tangan Sungmin ke Jungmo dan Jungmo menerimanya dengan senang hati. Sungmin benar-benar melepas tautan tatapan mata antara dia dan Kyuhyun, manik matanya yang berkaca-kaca terfokus pada wajah tampan Jungmo di hadapannya.

Gadis itu mencoba meyakinkan diri tentang semua yang terjadi; tentang apa yang akan dilakukannya sebagai penentu dari segala pilihannya. Antara Jungmo dan Kyuhyun; pernikahan sah atau kawin lari. Antara kasihan dan cinta murni.

“Sungmin.”

Kepala Sungmin mendongak dan setitik air matanya kembali jatuh dari sudut matanya. Kelopaknya bergerak-gerak gelisah. “Ya?”

“Kita akan menikah,” tandas Jungmo sembari mengeratkan rengkuhan tangannya. Pandangannya nampak melembut, luapan emosinya mulai surut. Dia berhasil mengurai amarahnya, menenangkan dirinya ketika melihat calon istrinya menatap penuh harap ke arah laki-laki lain.

“Ya,” jawab Sungmin tidak yakin sembari menggigit bibir, merunduk untuk yang kesekian kali demi menghindari tatapan penuh cinta dari Jungmo.

“Ya atau tidak,” Jungmo bergumam. “Katakan kepadaku sebelum semua benar-benar terlambat.”

Ada palu milik dewa yang memukul sudut kepala Sungmin, gadis itu mendongak dengan gerakan ringkas dan matanya melotot memerhatikan wajah serius milik calon suaminya. Gendang telinganya mulai disentuh oleh suara gemerisik dari orang-orang yang mengeluhkan kenapa acara ini tak kunjung dimulai. Dia meneguk ludahnya dengan susah payah, mencoba menemukan gurau di manik mata Jungmo.

Debar jantungnya mengiringi tiap alur nafasnya yang mulai kacau. Jungmo begitu membingungkannya. Sungmin tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Jungmo. Yang dia tahu, mereka akan segera mengucap janji suci di depan seorang pastur. Tetapi sebelum semua itu terjadi, Jungmo menghentikan segalanya dan melontarkan pertanyaan seperti itu.

Diam-diam, secuil harapan muncul dari balik lubang kesedihan di hati Sungmin. Tubuhnya sampai bergetar hebat manakala merasakan sengatan yang lebih hidup pada aliran darahnya. Dia bisa meraup sedikit prospek baik yang mulai datang kepadanya. Dia akan kembali menemukan oksigennya.

“Pergilah,” Jungmo mengatakan kalimat final itu dan menuai tatapan nyalang dari Sungmin. “Pergi dan temui Kyuhyun sebelum aku memaksamu untuk mengucap janji di sini.”

Secara naluriah, Sungmin merengkuh tubuh Jungmo dan menangis—menimbulkan suara penuh protes dari para undangan. Sungmin mengucapkan terimakasih kepada Jungmo di sela isak tangisnya yang mulai membabi buta. Lantas, dia melepaskan rengkuhan itu dan menuruni panggung altar demi menghampiri Kyuhyun yang berdiri mematung di tengah para tamu itu.

“Sungmin?” Kyuhyun mencegah kedua tangannya bekerja menelangkup pipi Sungmin. Kebingungan datang dari segala arah dan menyergapnya, meyumbat lubang-lubang pada otaknya hingga dia tak mampu berpikir jernih mengenai apa yang sedang terjadi.

Semua orang mencibir perilaku calon pengantin wanita yang menuruni altar demi menemui seorang lelaki asing. Dan Sungmin tidak menaruh peduli bahkan barang seujung jari pun. Dia lebih peduli pada lelaki yang ada di hadapannya, lelaki yang menatapnya dengan binar keragu-raguan yang teramat besar.

Perlahan namun pasti, lekuk bibir Sungmin yang dibubuhi lipstik merah muda cerah melengkung membentuk rekah senyuman manis. Air mata yang menggenang rendah di pelupuknya jatuh, seolah-olah sedang berusaha menghapus riasan sialan yang menempel di kulit wajahnya. Sebelah tangannya terangkat dan telapaknya jatuh pada rahang tegas Kyuhyun, bibirnya mengatup dan senyumannya tampak seribu kali lebih tulus dari sebelumnya.

Sungmin memantapkan hatinya sebelum berucap. “Ayo kita menikah.”

“APA?!”

Itu suara ayah Sungmin. Semua orang yang ada di sana menoleh ke sumber suara, begitu pula Sungmin dan Kyuhyun. Lelaki paruh baya yang tadinya nampak menggandeng tangan Sungmin menuju altar, kini berjalan tergesa-gesa menghampiri putri semata wayangnya. Tatapannya nampak bengis dan menakutkan, garis wajahnya diselipi amarah kentara yang ingin ditumpahkan sekarang juga.

Sungmin tidak punya waktu untuk berpikir. Diam-diam dia menyambar pergelangan tangan Kyuhyun dan mundur selangkah demi selangkah. Lalu selanjutnya, dia berbalik dan mencoba menarik tubuh Kyuhyun.

“Kyuhyun, ayo!!”

OoOoO

“Kau gila.”

Itu adalah kalimat pertama yang terlontar dari Kyuhyun saat mereka memutuskan untuk diam. Kyuhyun dan Sungmin pergi dengan mobil menuju suatu tempat, pinggiran dermaga yang jarang penduduk. Mereka memutuskan untuk lari dari pada tertangkap, meninggalkan Seoul dengan segala tetek bengek yang memuakkan demi mencapai sebuah kedamaian baru.

Kyuhyun tidak yakin apa yang telah dilakukannya, tetapi Sungmin sudah memilih untuk pergi dengannya. Sungmin tidak menikah dengan Jungmo, gadis itu memilih dirinya. Senang atau berang, dia tidak tahu harus memilih perasaan yang mana demi menanggapi segala hal gila yang terjadi. Yang jelas, untuk sekarang dia bahagia karena Sungmin ada di sampingnya.

“Ya,” Sungmin melepas tudung satin dan tiara peraknya yang berat lantas melemparnya tanpa pertimbangan ke kursi penumpang. Dia menyandarkan kepala setelah mecopot aksesoris yang tersemat di antara helai rambutnya, mendesah dengan nada lega setelah dia mendengar kalimat Kyuhyun. Dia mencoba melenturkan otot wajahnya yang sempat tegang, lalu kelopaknya terbuka sedikit demi sedikit. Manik matanya bergulir ke arah kanan dan dia melirik Kyuhyun dari sedikit celah yang terbuka. “Aku memang gila .., karenamu.”

Kyuhyun melepas sabuk keselamatannya dan membuka pintu. Dia berputar melewati moncong mobil sedannya demi meraih pintu di sisi Sungmin. Sebelah tangannya terulur untuk membukanya, mempersilahkan tuan putrinya untuk keluar dari mobil yang mulai terasa tidak nyaman untuk keduanya. Sekonyong-konyong, angin laut yang lembab menyerbu kulit wajah dan melenturkan otot-otot yang bersembunyi di balik kulit. Suara debur ombak terdengar bersahut-sahutan, menciptakan melodi indah yang selalu dirindukan.

Kyuhyun meraih telapak tangan Sungmin dan membimbingnya menuju sebuah kursi beton yang menjadi pembatas antara laut dan daratan. Dia duduk di sana dan merendahkan pandangannya. Ibu jarinya bergerak membelai lembut punggung tangan Sungmin. “Kau tidak menyesal?”

Kepala Sungmin menoleh ringkas dan hal itu menyebabkan keduanya saling bertatap muka. “Kenapa harus menyesal?”

“Kita harus memulai semuanya dari nol,” kata Kyuhyun sembari mengecup jemari lentik Sungmin. “Kupikir kita harus kembali.”

Sungmin menarik lengannya yang dikecupi oleh Kyuhyun dan melotot menyeramkan. “Apa maksudmu?” tanyanya penuh tuntutan. “Aku yakin jika Jungmo akan mengurus semuanya untuk kita,” tambahnya lagi.

“Aku juga berpikir seperti itu, Sayang,” Kyuhyun menelangkup pipi Sungmin dan menghujani bibir gadisnya dengan kecupan ringan. “Tetapi, tidak mungkin jika kita terus bersembunyi seperti ini.”

Sungmin memeluk Kyuhyun dan menyelipkan jemari-jemarinya di antara helai rambut Kyuhyun. Dia ingin menangis lagi, dia kembali merasa resah. “Kalau kembali bisa memperburuk keadaan, aku memilih untuk di sini dan bersembunyi,” air mata mulai terurai dari manik mata Sungmin. Matanya berkaca-kaca dan pandangannya mulai mengabur. “Jangan tinggalkan aku lagi, Kyu. Kau bisa egois dalam segala hal, tetapi tidak untuk melepasku untuk laki-laki lain. Aku tidak mau hidup jika itu tidak denganmu.”

Kyuhyun mendekap Sungmin erat-erat dalam pelukannya yang hangat dan penuh cinta kasih. Dia membiarkan Sungmin menangis dalam rengkuhannya, seolah dia memang bersedia menampung segala kesedihan yang dirasakan kekasihnya.

Oh, tidak.

Untuk sekarang, mereka tidak pantas untuk merasakan kesedihan. Tuhan memberikan suatu jalan agar mereka bisa bersama. Dan keduanya harus menerima dan mempertahankan segalanya sesuai kehendak Tuhan.

Kyuhyun harus mempertahankan Sungmin, apa pun yang terjadi. Dia tidak akan melepas Sungmin selama keduanya masih bisa bernafas di dunia, dia bersumpah untuk itu. Keegoisan yang telah mendarah daging dalam benaknya menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa merebut Sungmin dari dirinya. Sungmin mutlak menjadi bagian dalam hidupnya.

“Baiklah,” ucap Kyuhyun dengan deru nafas tak beraturan sembari mengecup tengkuk Sungmin. Dia mempererat pelukannya, seakan-akan dia benar-benar tidak bisa hidup tanpa gadis itu. “Karena kau sudah memilihku, aku akan memilihmu.”

Kepala Sungmin mendongak dan dia mengintip wajah Kyuhyun dari arah pandangnya. “Benarkah?” tanyanya tidak yakin. “Kau tidak akan melepasku? Kau tidak akan meninggalkanku demi Michell-Michell yang lain?”

“Persetan dengan itu, Sayang,” Kyuhyun meraih dagu Sungmin dan mengecup bibirnya lagi. “Kau yang akan menjadi tiran dalam teritoriku.”

Sungmin merona. Dia tersenyum bahagia. “Gomawo.”

Mwol?”

“Kurasa aku tidak bisa berhenti mencintaimu,” Sungmin mengedipkan kelopak matanya demi menghalau air mata yang rasa-rasanya selalu ingin tumpah dari pelupuknya. Dia meringis dan terkekeh walau deguk ringan akibat tangisannya masih belum hilang. “Segala yang terjadi membuatku merasa lebih yakin untuk lebih mencintaimu.”

“Aku bahkan lebih dari itu, Sayang,” Kyuhyun mengecup bibir Sungmin selama beberapa detik lamanya dan menghisapnya penuh suka cita. Ciuman itu berakhir dengan suara plop pelan yang menciptakan rona-rona merah di kulit wajah Sungmin. Kyuhyun terkekeh senang mendapati ekspresi Sungmin, dia meraih sapu tangan dari saku tuksedonya dan mengelap beberapa bagian wajah Sungmin yang tampak berantakan. “Nah, sekarang kita harus pergi sebelum matahari tenggelam di sana.”

“Kemana?” Sungmin menatap mata teduh Kyuhyun dan mengerjap beberapa kali menirukan gaya seorang bocah umur delapan tahun yang tidak tahu apa-apa.

“Mencari tempat tinggal sementara, tentu saja,” Kyuhyun tidak bisa menahan hasratnya untuk menghujani wajah Sungmin dengan ciuman-ciumannya. Dia terus menyapukan bibirnya pada kelopak mata, pipi, dahi, dagu, dan bibir Sungmin. “Kita harus menyingkirkan kekacauan yang bisa ditimbulkan dari gaun pengantinmu. Setelah itu, kita pergi mencari tempat tinggal.”

“Kita?” Sungmin tidak bisa menahan langkah kakinya ketika Kyuhyun mulai menyeretnya menuju mobil. “Tinggal bersama?”

“Apa kau ingin kita tidur di ranjang yang berbeda?” Kyuhyun melontarkan pertanyaan sebelum membanting pintu mobil. Dia berlari kecil menghampiri pintu kemudi dan duduk di joknya dengan tenang. “Bisa kupertimbangkan.”

“Oh, kau bercanda,” Sungmin menatap wajah Kyuhyun penuh minat. “Kenapa harus berbeda ranjang? Kita saling mencintai dan semestinya kita terus bersama walau itu dalam urusan ranjang.”

“Kau yang memulai, Sayang,” Kyuhyun melajukan mobilnya menyusuri jalanan dan mulai memerhatikan toko-toko di pinggir jalan. “Oke, aku tidak bisa lari darimu.”

“Benar,” Sungmin mengatakannya sembari melukis raut tulus. Dia tidak bisa menghilangkan senyuman dari bibirnya, dia tidak bisa berhenti tersenyum ketika menatap wajah teduh Kyuhyun. “Memang seharusnya kita selalu bersama.”

“Selamanya?” Kyuhyun memancing.

“Selamanya, Sayang,” Sungmin merona malu setelah memanggil Kyuhyun dengan panggilan seperti itu. “Mari menikah ketika semua sudah berangsur membaik.”

“Ya,” Kyuhyun setuju. “Kita harus kembali ke Seoul dengan membawa setidaknya satu cucu untuk orangtuaku.”

END

Panjaaaaaang. Panjang nggak sih? Wkwk wordnya sampai +11k lho (O.O) hehe kenapa sekarang aku jadi suka buat oneshoot yang panjangnya sekereta, ya? (~,~) Semoga kalian nggak keberatan buat bacanya .. Ini temanya pengkhianatan lhoo … Awalnya aku mau buat fic yang based on lagu Don’t Leave Me nya suju. Tapi, ff ini sempat mangkrak(?) dan tidak tersentuh selama beberapa minggu -_- heol, jadi kehilangan chemistry. Aku sempat bingung kasih alur yang kayak apa, entah itu kesedihan atau apa pun. Tapi akhirnya, aku memutuskan buat mereka married kok, kan saling mencintai dan nggak bisa membohongi perasaan wkwk

Btw, ini hadiah spesial buat yang mau nikah nih (U.U) haha disenyumin aja ya :’)

Thanks for reading, guys. Ditunggu komentarnya tentang ff ini, ya. Silent readers, muncul dong -_- bikin authornya melting pake komentar-komentarnya gitcuu. Kan aku udah nulis sebegitu panjangnya wkwk

Tunggu the joyest(?) story about KyuMin, ya .. Happy ever after, deh :* ({})

66 thoughts on “If I Can’t Hold You Back | OneShoot | KyuMin | Genderswitch | T+ | Romance, Hurt |

  1. Panjangnyaaaa hahaha bisa jadi twoshoot nih…… udah gak enak hati pas baca dipertengahan apalagi yg sungmin mau nikah,kirain bakalan sama jungmo eh taunya dia lelaki yg pengertian….. cuma oneshoot ya ini padahal pengen dilanjut,kehidupan kyumin pas abis nikah bareng sikecil cho gitu…..

  2. huaaaaa seruuuuu sekali ..aku suka …aku kira mereka bakalan beneran pisah ehh akhirnnyaa mariied jugaaaa…

    dan sebenernya harii ini lagi sedih gegara ada yang mau nikah tgl 13 nanti …huum tapi tetep jadi kyumin yaaaa

    oke lanjut lagi yaa buat ff ff baruu fighting

  3. woooow panjang bgt . ahahahaha tp enak bacanya nd sempet nangis juga akunya .. kkk~~~
    yg mo nikah emaNg suka bikin nangis yah TT
    .
    tp seneng seenggaknya kyumin disini bersatu. ..
    ditunggu lanjutan ff mu yg lain jiyoo🙂

  4. Huwaaa baguss…….
    Seneng ngeliat kyu tersiksa!! Hahahhaha
    Happy ending!!!!!!!
    Aku kira pas kyu ktemu min stlh putus, min msh sndri untung dh pnya pcar.. makin tersiksalah kyuhyun… kbnyakan ff min yng mnderita…
    Semangat untuk ff’y

  5. panjang kok chingu ceritanya.

    dan berakhir dengan bahagia, emang deh cinta kyumin gak bisa dipisahkan sekalipun sungmin sudah ada di depan altar lol

    seru tapi kyuhyunnya kenapa sikapnya tempramen yah??? dia kan evil yang ada lmao ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

    aku tunggu ffmu yang lain, kangen sama ffmu😀

  6. demi apa nyesek bgt ini, mengingat tinggal itungan hari, rasanya pengen nyekip tgl ‘itu’, berharap bgt kyu ga dtng di acara ‘itu’…. ga kuat liat nya… apalagi pas liat kyu lagi nyanyi lagu solo nya omegat rasanya pen nyulik sungmin dah ah ah

    yaudah lah senyumin aja sama yg bentar lagi resmi

    semangat terud jiyoo… ini ff nya dpt bgt feel nya udah gitu timing nya passssssssssss bgt huhuhu

  7. aduh baca’y hampir tak bisa bernafas coz awal kyu nyakitin ming ampe ming sedih sedih trus mereka putus stelah’y kyu y9 nyesel jadi frustasi n sedih ming juga sedih apalagi pas ming ama jungmo mau nikah ampe nyes .. Benarkah mereka nikah kalo ea nanti kyu gmana ea .? Eh untu9 jungmo gk egois jdi bsa ngrelain ming buat kyu . . . Keren y9 baca ampe dapat meresapi’y

  8. Aku sempat mikir klo bakaLn sad ending ampe hampir nangis bacanya…
    Abis kepikiran perasaannya kyu klo ngeliat sungmin nikah…
    Gmn y ekspresinya kyu..

  9. author waaahhh gw jg suka bacanya hahahah
    mending oneshoot panjang tpi clear totaly clear dr pda onshoot gantung…yeeaayyy kyuhyun dan sungmin bsa nikah bareng. andai oh andai mnggu dpn orng yg mau nikah jg bgitu..hahahha. gomawo ffnya menghibur sekaalliii

  10. oneShoot, panjang, & aku suka..🙂
    sempet khawatir kyumin ga bersatu saat ming dilamar jungmo,, tapi syukurlah kyumin akhirnya bersatu.. 🙂

  11. aku gak tau lagu suju yg dimaksut hehehe tapi aku lagi sangat suka epick high spoiler dan sangat cocok sama ff kamu.. tentang hubungan-kesibukan-mempertahankan… aku suka ff nya, sambil dengerin spoiler.. coba kalo judulnya spoiler lols d ff kamu mereka happy ending kalo d lyric lagu masih gantung… jd gak penasaran sama lagu’a, krna ff kamu… kalo d tranlate-an lyric spoiler artinya aku tidak bisa membiarkanmu pergi. aku saranin kamu denger spoiler atau nonton MVnya, d MV ada story dr sudut pandang cewek.. jadi KLOP sama ff kamu🙂 fighting and thankyou so much kkkk

  12. oneshoot nya panjang …. tp ngarepin dibikin sekuel sampe mereka nikah
    rada gemes sama kyu disini … sm min nya juga sich
    min nya yg trelalu cinta sm kyu jadinya ngga pernah protes sm tindakan kyu semua dipendem sendiri, trus kyu nya ngga peka *hufft
    ini kan cuma sampai mereka lari dari kenyataan kan :d
    minggu depan emang sapa yg mau nikah ? (*pura2 lupa aj dech hehehe
    ditunggu ff lainnya ya jiyoo jangan bosen dan jangan lelah buat ff kyumin

  13. Suka banget sama ff-nya dear🙂 aku nemuin ff ini karna muncul di beranda fb, pas ku buka link-nya dan baca awal2 cerita, entah kenapa tertarik banget sama diksi-nya. Sebenernya aku ga sampe nangis baca ff ini, karena keinget Sungmin didunia nyata bakalan nikah beneran😀 tapi berharap banget ini bakalan terjadi. Sukses baut author-nya ya, yang bisa mengobati kerinduan baca ff Kyumin lagi🙂

  14. Bagus.. Makasi buat jungmo yg mw lepasin sungmin.. Smpet ksel sma kyu yg ga sdar apa salahnya.. Tp syukur mreka bsa balik lg.. Nice oneshoot, wlopun ice cream lbh bgus.. Kkkk makasi ffnya eonni~

  15. nyesekkj bacanya tapi untungnya happy ending..
    huaa aku suka ff ini, gpp author panjang2 biar puas bacanya hwhhe.
    author please tetep nulis apapun yang terjadi dengan kyumin di dunia nyata ya…

  16. Angan2q Berharap Sungmin nglakuin yg diatas. Kkk
    tp mustahil juga –a
    thanks for oneshoot yg cakep ini, feelnya dapet, alurnya juga pas. Cakep lah d^^b

  17. Ah kirain gak bakalan happy ending,,
    Melihat sifat kyu yg gak ada peka sama sekali yah seharusnya gak berakhir happy,, tapi kalau kyu tak happy ya ming gak happy juga dong,, hahaha
    Ditunggu next story nya 😘

  18. 🙂
    kyu, seriouslly u r the worst!!!!!
    untung sungmin ny love death,,,😀
    dah su’udzon duluan, kirain mw sad ending,
    makasi udah publish ff ny,,
    selalu suka ma ff ny,,

  19. Keputusan sungmin gokil parah! Wkwkwk really nice oneshoot :* penggunaan bahasa yang puitis(?) *ini serius* bikin kalo baca ini harus konsen! Nice<3 ditunggu karya lainnyaaa:* harus bgt wajib tetep semangat yahhh! Yeay::**

  20. Gila ini bukan hanya panjang..tapi panjang banget…sampai2 bacanya lelah kapan ini kelarnya.tapi walau kayak gitu gak mau close.tetep aja dibaca ampe kelar..ceritanya mungkin emang familiar tapi kata2nya.kalimat2 nya bener2 inovatif..bagus beneran ..walau kadang terasa berbelit2 sih.tapi ini lebih baik dr pada alir yang ngebut.itukan berbahaya.lebih baik pelan2 yang penting selamat.kkkk
    Kyuhyun nya memang menyebalkan.brengsek lebih pantesnya.Tapi kalau udah.bikin bodoh ya.Sungmin dibodohi cinta.tapu alhirnya bersatu juga
    good story

  21. waktu sungmin bilang “Aku tidak bisa menolak.”.itu rasanya #ughhh…. bgt! kayaknya di kehidupan nyata pun gitu yee….#masih berdelusi

    sumvahhh…ini cerita manis, pahit, asem, semua kerasa…cinta kyumin memang banyak cobaan…
    tapi ending happy..yeayyy…
    author-nim semangat ya…keep writing…^^

  22. Hwaaa.. ff nya sempet bikin aku meneteskan air mata..
    Sedih ketika sungmin ditinggal krn mischel & kejadian d apartemen kyu..
    Nyesek pas tau sungmin udah pacaran sama jungmo.. kirain bisa balikan lg wkt kyu ke apartemen sungmin. Ternyata dr situ bener2 bikin sedih smp nangis, apalagi dgn keadaan kyu..

    Hahh.. akhirnya happy ending. Gomawo Jungmo..

    Bener2 one shootnya bikin perasaan berubah2 tiap moment’y. :,D

    Happy wedding sungmin..

  23. Keren banget min, duh gua jd fans lu skrg
    Lanjut min, alur2 smua ff lu bagus2. Oiya gua slalu nggu chapter ke 14 ff yg step by stop itu, ga sabar nunggu besok hari jumat😀
    Keep semangat ya wkwk :v

  24. Yaaaaammmpuuunnn…. Ceritany bgus bgt thorrrrr….aku smpe pngen ini d jdiin drama gtuuu…. Hiiiii pasti suka bgt nontn nya hohohoho

  25. As promised, aku komen dulu sbelum baca.
    Satu kata buat ff ini WOW. WOW untuk panjangnya ff ini yg cuma oneshoot.
    kkkkkkk~
    yeppeo eonni jjang!!!!!

    Semangaaatttt!!!

  26. Hello aku reader baru nihhh. Untuk ff yg ini daebak loh, pas luat sampe nembus 11 k wordnya langsung semangat dan beneren gila ini pemilihan kata yg cerdas dan cerita yg menguras emosi. Salute sekali untuk author

  27. Panjang bangettt.. pdhl d bkin chapter aja hehehe
    Yaa memang hbngn yg kandas krn keegoisan hanya akan berujung pd penyesalan..
    Udh hukum alam, pasti akan slalu begitu
    Ceritanya daebak.. bagus banget.. nunjukin prsaan keduanya, ga cmn d satu sisi aja.. emosinya aku dpet bgt pas baca kkk hihi keep writting ^^9

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s