Teach for Love | KyuMin | Part 7/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

Teach for Love

 

Genre : Romance , Drama

 

Rate : T+

 

Pairing : KyuMin

 

Part : 7/?

 

Warning : GENDERSWITCH, Miss Typo

 

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi.Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

 

Summary : Dia baru saja pindah dari Jepang dan di sekolah barunya ia dihadapkan oleh seorang guru sexy dan teman-teman abstrak juga pengrusuh yang peduli. Di rumah dia bertemu seorang gadis manis anak tetangga yang menjadi tipe idealnya. Awalnya dia acuh, tetapi sikap jahil yang sudah mengakar di jiwanya membuat segala urusan menjadi semakin rumit. Dan karena hal itu, dia mulai belajar untuk mencintai sesuatu yang benar-benar diperlukannya.

Music : 백일몽 (Evanesce) by Super Junior

 

Kyuhyun tampak puas ketika tahu laki-laki itu akhirnya pergi. Ia sempat merasa sebal karena percakapannya dengan wanita cantik ini sempat terpotong walau hanya setengah menit lamanya. Ia kembali menatap wajah menarik Sungmin, menanti jawaban atas pertanyaannya. “Sensei ..”

 

“Ya?”

 

“Apakah Anda merasa nyaman jika kita berbincang menggunakan Bahasa Jepang?” Kyuhyun berinisiatif mengulang pertanyaan. Mungkin wanita cantik yang dipanggil guru olehnya ini sudah lupa karena ia sendiri tampak ling-lung setengah sadar.

 

“Bukankah Bahasa Koreamu buruk?” wanita itu bertanya. “Ini Korea. Seharusnya kau mulai membiasakan diri berbicara dengan Bahasa Korea.”

 

Sekarang kau sudah tinggal di Korea, seharusnya kau mulai membiasakan diri berbicara Bahasa Korea.

 

Ada sebuah palu besi berat yang memukul kepala Kyuhyun ketika ada sekelebat kalimat yang meluncur lalu kembali menghilang di tempurungnya. Dia memandang wajah teduh milik Sungmin yang tampak diselipi gurat tidak rela, mulai bersumpah jika di masa lalu ia pernah bertemu dengan wanita ini. Tetapi sialnya, ia tidak ingat satu kenangan pun.

Semua timbul-tenggelam dalam memorinya yang meriak ganas.

 

Kyuhyun berdesis sebentar sampai rasa nyeri itu benar-benar hilang. Dia mengangkat kepala dan memandang wajah cantik gurunya dengan pandangan penuh keragu-raguan. “Kepalaku sakit,” ungkapnya. “Bisakah .., Anda membawa saya keluar?”

 

Manik mata sebening kristal milik Sungmin bergulir, pandangannya jatuh pada ekspresi Kyuhyun. “Maaf?”

Kyuhyun menghela nafas berat sebelum mengulang kalimatnya. “Bisakah Anda membawa saya keluar?” kalimat dalam Bahasa Korea dengan logat sangar terdengar. Dia memutuskan untuk berbicara dengan Bahasa Korea walau dirinya sendiri meragukan kemampuannya dalam berbahasa.

 

Sungmin sempat terheran namun ia tidak kuasa untuk menolak. Setelah menemukan raut kesakitan milik Kyuhyun yang tertinggal di wajahnya, kepalanya mengangguk tanpa perintah. Dia menemukan sebuah kursi tergeletak tepat di samping ranjang. Tubuh mungilnya segera berdiri dan menghampirinya, lalu menuntun Kyuhyun untuk turun dari ranjangnya dan duduk di sana. Dua tangannya beralih mengambil kantong infus yang menggantung di sebuah tiang tinggi, memindahkannya ke tiang yang tersambung dengan kursi roda. Lambat laun ia mulai mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan dingin penuh bau obat itu.

 

Suara roda yang berputar terdengar ringan menenangkan. Mereka menyusuri lorong hingga mencapai sebuah taman rindang dengan banyak pohon yang menjulang—taman rumah sakit tampak lebih indah saat musim semi seperti ini. Sungmin mengajak Kyuhyun berjalan menyusuri jalanan setapak yang bersih lalu ia memutuskan untuk berhenti ketika menemukan sebuah kursi beton yang kosong. Dengan sehati-hati mungkin, Sungmin mendorong kursi roda menghampiri kursi beton lantas menempatkannya tepat di salah satu sisinya. Tubuhnya yang mungil merunduk sebentar untuk mengunci roda kursi berjalan itu, kemudian dia duduk di ujung kursi beton.

 

Kyuhyun menghirup nafas panjang-panjang, berusaha meresapi harum udara musim semi yang luar biasa menyenangkan. Dia memperhatikan semua yang ada di taman; bunga-bunga, bentangan awan, hamparan sinar matahari, dan dia menikmati semuanya. Kepalanya meneleng singkat ke arah kanan dan pandangannya langsung jatuh pada sisi wajah Sungmi. “Sensei,” panggilnya. “Maksudku, Ssaem,” koreksinya cepat.

 

“Hm?” Sungmin menyahut dengan gumaman rendah tanpa berniat menoleh. Dia sedang asyik mengamati air mancur yang ada di hadapan mereka dengan tatapan sayu. Sinar matahari yang memancar terpantul oleh kulit putihnya, membuat bintik-bintik sinar keemasan menguar dan mengelilingi raganya.

 

Sungmin tampak seperti seorang malaikat yang baru turun dari surga dengan bubuhan binar keperakan yang menyilaukan. Samar-samar, ada sebuah lingkaran halo yang muncul di atas rambut kecokelatannya. Auranya benar-benar positif, berkobar-kobar dari seluruh sisinya.

 

Membuat Cho Kyuhyun merasa terheran; mulai meragukan penilaiannya sendiri. Lee Sungmin yang cantik itu serasa tidak asing dalam benaknya. Dia bisa merasakan keakraban luar biasa ketika Sungmin ada di sampingnya, tapi dia kesulitan untuk merealisasikan semuanya.

 

Kyuhyun mulai mempertanyakan sesuatu. “Apakah kita pernah ada hubungan penting, Ssaem?”

 

Sungmin tersentak, kepalanya menoleh ringkas setelah gendang telinganya ditembus oleh pertanyaan Kyuhyun. Roman mukanya berubah tanpa bisa dikendalikan. Dia ingin menangis lagi, tetapi ia tidak bisa menunjukkan kesedihannya di hadapan Kyuhyun. Dia memilih untuk membuang pandangannya ke arah lain, berlawanan dengan arah pandang Kyuhyun lalu menghela nafas panjang-panjang sebelum menjawab. “Tentu saja ada,” jawabnya dengan nada nyaris stabil tanpa emosi. “Hubungan antara guru dan murid.”

 

“Maksudku, sesuatu yang lebih dari itu,” Kyuhyun memperjelas pertanyaannya, merasa kurang senang karena Sungmin hanya membiarkannya melihat rambut kecokelatannya yang indah dari sini.

 

Godam besar muncul dan memukul dada Sungmin, membuat denyutan rasa sakit menggila di sana. Perasaan sedih datang bergulung-gulung ke sela dadanya, menciptakan bulir air mata yang menggantung rendah di garis matanya. Gawat. Dia tidak mampu menahan gejolak perasaannya. Satu liquidnya meluncur mulus menyusuri tulang pipinya, menimbulkan jejak basah. Salah satu tangannya terangkat dan tampak mengusap sesuatu di wajahnya. Lalu wanita itu menoleh memamerkan wajah cantiknya di hadapan Kyuhyun, dengan mata memicing yang basah. “Masuk akalkah itu?”

 

Kyuhyun terkesiap, “Mungkin saja.”

 

Sungmin menghindari tatapan Kyuhyun untuk yang kesekian kali. “Kalau kau berpikiran sedemikian rupa, itu berarti kau bodoh,” suaranya mulai terdengar goyah penuh asa. “Tidak ada cerita tidak masuk akal yang seperti itu.”

 

“Apakah Anda baru saja putus cinta?”

 

Sungmin tertawa meremehkan, “Apa maksudmu?”

 

“Anda tampak sedih. Dan itu membuatku tidak nyaman, Ssaem,” Kyuhyun mengatakannya dalam bahasa jepang yang lancar dan Sungmin bisa mengerti semuanya dengan baik. Tatapannya melembut, terbubuhi kehangatan tulus.

 

Sungmin terdiam dalam posisinya, nyaris seperti patung yang dipahat pada masa yunani. Dia sempat berfantasi mengenai semua kisah-tidak-masuk-akal yang pernah dilaluinya bersama Kyuhyun. Tetapi beberapa saat setelah dia berpijak kembali di dunia nyata, semuanya remuk dan tercecer menjadi kepingan tidak berguna. Dia menggertakkan gigi kendati hatinya perih setengah mati. Lidahnya benar-benar tidak sanggup berucap kata demi menanggapi kalimat Kyuhyun.

 

“Dengan laki-laki yang tadi, ya?” suara Kyuhyun yang terdengar seribu kali lebih menyebalkan kembali melintas. Dia menebak sembarangan karena pertanyaannya tidak membuahkan satu jawaban apapun. Pemuda itu menatap ke arah Sungmin sambil menyalurkan suatu sinyal penuh harap yang entah apa maksudnya. “Ssaem ..”

 

“Berhentilah bertanya,” Sungmin terpancing untuk menjitak pelan kepala Kyuhyun namun ia berhasil menahan segenap keinginannya. Rasa sedihnya sudah hilang dan dia mulai sebal karena pertanyaan tidak bertanggung jawab dari Kyuhyun. “Dasar bocah.”

 

Kyuhyun bersungut. “Jadi, benar. Dengan laki-laki sok tampan itu.”

 

Alis Sungmin mengeryit saat Kyuhyun mengatai Siwon dengan sebutan sedemikian kejam. “Dia gurumu! Hormatilah walau sedikit!”

 

“Dia guruku?” Kyuhyun memasang wajah terkejut yang dibuat-buat. Dia terbatuk sebentar, “Woa .. Dunia benar-benar sudah gila.”

 

“Sepertinya aku bisa gila jika terus bersamamu,” Sungmin bergumam dengan nada rendah. Dia bangkit dan sempat melirik ke arah Kyuhyun lantas mendengus. “Aku pulang saja.”

Ssaem,” panggilan dari Kyuhyun yang dirindukan oleh Sungmin terdengar. “Jangan pulang dulu,” tangannya bergerak-gerak menggapai kunci roda kursi berjalan itu.

 

Ssaem!” Kyuhyun kembali memohon untuk yang kesekian kali. Dia berseru panik seperti seorang bocah sampai-sampai hampir terjungkal ke depan. “Aduh! Aduh!” dia mengaduh karena tangannya yang ditusuk jarum infus menahan berat tubuhnya di pegangan kursi. Lalu lambat laun cairan merah pekat mengalir dari jarum infus di tangan kanannya. “Aduh! Ssaem, tolong aku!” Kyuhyun memekik kaget ketika tahu selang infusnya dialiri darah pekat yang banyak sekali. Seorang perawat yang kebetulan sedang melintas di jalan tersebut menoleh dan berlari kecil menghampiri Kyuhyun.

 

Sungmin menoleh panik, tubuhnya limbung begitu saja saat menemukan sosok Kyuhyun yang tampak lemah manakala mengaduh seperti itu. Matanya membeliak lebar kala menemukan cairan merah memualkan berjalan cepat menyusuri pipa sempit infus itu. “Oh, ya Tuhan!” pekiknya.

 

Seorang perawat cantik berpakaian putih dan hijau toska sampai di samping Kyuhyun, mengecek selang infus itu lalu berniat mendorong kursi roda Kyuhyun—membawanya masuk ke dalam untuk mengganti jarum infusnya yang mungkin akan tersumbat karena darah yang menggumpal.

 

“Tunggu!” Sungmin berteriak pelan, tetapi cukup menyantak perawat itu dan juga Kyuhyun. Ia berbalik cepat dan meraih gagang dorong kursi roda Kyuhyun. Dia memandang perawat itu penuh harap lalu merundukkan kepala, “Dia muridku. Biarkan aku yang mendorong kursi rodanya.”

 

Perawat itu hanya tersenyum dan berkata ya. Setelahnya mereka masuk ke dalam sebuah bangunan dan Sungmin mengantar Kyuhyun kembali ke kamarnya. Perawat itu pamit untuk mengambil peralatan injeksi lalu kembali secepat yang ia mampu. Sementara itu, Sungmin membantu Kyuhyun berbaring di ranjangnya.

 

“Kau terlalu banyak tingkah sampai-sampai selang infusmu dipenuhi darah seperti itu,” Sungmin mengomel sambil membenarkan letak kantung infus di tempatnya. Dia melirik muridnya yang tampak tenang dari sudut matanya lalu mendengus. “Berhati-hatilah. Dasar gegabah.”

 

Sungmin kelihatan seperti nenek yang senang mengomeli cucunya. Dia melakukannya karena benar-benar khawatir, merutuki kelalaian Kyuhyun hingga membuat jarum infus merobek sedikit pembuluh darahnya. Dan kejadian itu nyaris membuatnya bingung setengah mati.

 

Perawat baik hati itu sudah datang sambil membawa keranjang berwarna biru muda. Perawat itu tersenyum ramah lalu segera memulai kegiatan injeksi di punggung tangan Kyuhyun yang tampak pucat. “Kudengar, keadaanmu sudah semakin baik, ya?” tanyanya sedikit bosa-basi, melunturkan atmosfir mencekam ketika ia mulai menancapkan jarum di kulit tangan Kyuhyun.

 

“Ya, Suster,” Kyuhyun menjawab, terkekeh sebentar walau ada rasa perih yang menyereng punggung tangannya. Dia melirik wajah Sungmin sebentar kemudian bibirnya mencebik. “Dia yang membuat infusku dipenuhi darah seperti ini, Suster,” adunya.

 

“Maaf?” Perawat itu melirik wanita cantik yang berdiri di seberangnya.

 

Sungmin melotot kaget tapi dia masih mencoba maklum. “Kuharap Anda lebih mempercayaiku alih-alih Cho Kyuhyun yang licik ini, Suster,” ucapnya. “Dia punya jiwa anak TK yang terperangkap dalam raganya.”

 

Seperti anak TK saja ..

 

Kalimat dengan nada suara milik Sungmin terdengar samar di kepala Kyuhyun. Muncul sebentar lantas kembali hilang tanpa bekas. Ia sempat tersentak hingga menimbulkan pergerakan kecil pada dua lengannya.

“Apakah sakit, Kyuhyun-ah?” Perawat itu berbisik lembut ketika menyadari pergerakan kecil tangan Kyuhyun.

 

“Aku mendengar suara asing yang mengganggu pikiranku, Suster,” kata Kyuhyun tiba-tiba. “Dan kurasa itu adalah sesuatu yang harus kuingat.”

 

“Benarkah? Apakah menurutmu ingatan itu penting?” Perawat itu mengatur roda kecil yang menyangkut di tengah-tengah selang infus Kyuhyun yang menggantung. Ia mencoba mengatur kecepatan aliran air infus itu.

 

“Kurasa,” Kyuhyun tampak bimbang dalam pengucapan kalimatnya. “Kalau tidak penting, mustahil suara yang sama terus muncul dalam kepalaku.”

 

Perawat itu terkekeh sementara dua tangannya mulai sibuk membereskan beberapa alat medisnya. “Kalau begitu, cobalah untuk mengingat hal penting itu pelan-pelan. Nah, aku harus pergi,” katanya ramah, kepada Kyuhyun dan Sungmin. Lalu ia memberi salam dan pergi.

 

Kyuhyun bersungut demi memikirkan kalimat perawat itu. “Menurut Ssaem?” Kyuhyun menoleh dan menatap wajah pias gurunya. “Apakah aku harus mengingat semuanya?”

 

“Aku mana tahu,” Sungmin berusaha menjawab cuek, walau batinnya menjerit menyuarakan kata ya dengan begitu keras dan liar. “Aku cukup sibuk. Jadi mustahil bagiku untuk mengetahui kehidupanmu sebelum kecelakaan ini menimpamu,” katanya, sedikit tercekat pada kalimat kecelakaan.

Aku tidak menganggur, Kyuhyun. Ada pekerjaan yang harus kukerjaan.

 

“Nah-nah,” kepala Kyuhyun menggeleng pelan saat denyutan itu kembali dirasakannya. Rasanya dia harus membiasakan diri menerima rasa sakit ini secara berkala. Yang benar saja, ketika Sungmin datang ia malah semakin sering mengingat kalimat-tanpa-nyonya seperti itu. “Sepertinya aku mulai mendapat potongan puzzle dari laci-laci ingatanku.”

 

Sungmin bagai tercekik oleh rasa terkejutnya sendiri. Ia menoleh dengan gerakan cepat ke arah Kyuhyun. “Apa? Kau mengingat apa lagi?”

 

“Sesuatu,” kata Kyuhyun misterius. “Pasti ada hubungannya dengan ..”

 

Jeogiyo.”

 

SIAL!!

 

Sungmin tidak tahu kenapa ia malah mengumpat ketika mendapati seorang gadis cantik dengan rok pendek itu masuk ke dalam.

 

Gadis itu cantik sekali, dengan sepasang bibir tipis dan pipi chubby yang menggemaskan. Rambutnya yang hitam legam tergerai bebas hingga mencapai punggung sempitnya dengan ujung yang melingkar cantik. Tubuhnya tinggi dan proporsinya bagus sekali, dia bak model sampul. Wajahnya penuh aura malu-malu minim kepercayaan diri. Namun secara keseluruhan, dia gadis menarik dengan kharisma yang tidak main-main.

Gadis itu melangkah dengan gaya anggun melewati pintu. Tubuhnya merunduk sebentar demi mengucap salam. “Selamat siang.” Ia berjalan mendekat ke arah Kyuhyun lantas melempar senyuman penuh binar prihatin. “Oppa, ini aku. Seohyun, Seo Joo Hyun.” Dia berharap-harap cemas.

 

Kyuhyun meringis penuh permintaan maaf, “Kurasa aku juga melupakanmu. Maaf.”

Gadis bernama Seohyun itu memberengut imut. “Sayang sekali,” desahnya. Kepalanya merunduk dan pandangannya jatuh ke arah kotak bekal yang dibawanya. Dia kembali mendongak dan kali ini ia sudah melukis senyuman ceria di kedua belah bibirnya. “Oh! Kubawakan kue!”

 

Ketika Seohyun meletakkan kotak makannya yang dibalut kain kotak-kota itu, Sungmin mulai menyadari sesuatu. Apalagi ketika Seohyun membuka tutupnya dan menyodorkan sebuah cookies cokelat ke arah Kyuhyun. Kue-kue kering beraroma mentega itu tampak tidak asing baginya. Apalagi ketika ia diperbolehkan untuk mencicipi salah satunya. Lidah dan pikirannya langsung bereaksi.

 

Ini cookies yang dibawa oleh Kyuhyun saat mereka pergi ke Banpo.

 

“Ini buatanku. Kau tidak mengingatnya? Dua hari lalu aku mengepak banyak untuk Oppa.”

 

Ternyata cookies itu buatan gadis ini. Batin Sungmin bersuara sendu membelah kehenginan jiwanya.

 

OoOoO

 

Walau kehidupan itu berat, tetapi semua harus dijalani tanpa ada keluhan berlebihan. Di balik sebuah tangis kesedihan, pasti tersimpan senyuman kebahagiaan sebagai gantinya: seperti angin musim semi yang menggantikan dinginnya butiran salju di musim dingin. Lagi pula, keadaan di dunia tidak buruk-buruk amat. Kendati berat, tetap saja menyenangkan.

 

Sungmin baru saja menanamkan kalimat penuh makna itu di pikirannya, lalu hidup dengan lebih baik selama sepuluh hari tanpa murid kesayangannya di sekolah. Sungmin tidak bisa lari dari kehidupan, karena itu ia memutuskan untuk kembali mengajar dan menjalani kehidupannya seperti biasa. Jangan lupakan bantuan Siwon yang setiap saat selalu berusaha untuk menghiburnya. Bahkan laki-laki itu sering mentraktir Sungmin makan siang, membuat wanita itu merasa tidak enak karena gosip pacaran antara ia dan Siwon kembali menyebar.

 

Sungmin pernah mengatakan hal tersebut—perihal gosip tidak masuk akal kepada Siwon. Tetapi Siwon hanya menertawakan rasa canggungnya dan mengendikkan bahu acuh sambil lalu. Ia tidak benar-benar peduli karena Siwon juga tidak peduli. Karenanya ia hanya diam ketika mendengar ocehan tidak penting yang membahas kedekatannya dengan Siwon.

 

Lagi pula kalau ini dibiarkan terus, bisa-bisa Sungmin benar-benar pacaran dengan Siwon. Dia tidak bisa memikirkan hal apa yang akan terjadi jika berita pacaran itu menjadi benar adanya. Bagaimana pun juga, Siwon adalah sosok sahabat yang paling baik yang dimilikinya.

 

Sesuatu yang benar-benar diharapkannya adalah keajaiban. Setiap pagi ketika ia keluar dari mobilnya yang diparkir di parkiran khusus guru, dia selalu berharap jika seorang murid akan datang dan menyambutnya dengan cengiran bodoh yang khas. Lalu mereka akan berbincang sebentar sambil menyusuri lorong sampai keduanya berpisah di suatu tikungan.

 

Sungmin terus memikirkan hal itu. Sampai-sampai ia lebih banyak melamun jika dihadapankan dengan layar laptop yang menyala terang. Dia tidak tahu kenapa ia jadi seperti orang ling-lung, mungkin efek kerinduannya kepada Kyuhyun. Entahlah. Semua prospeknya kabur dan dia sudah tidak memiliki anggapan apa-apa.

 

Lagi pula, tidak seharusnya Sungmin merindukan Kyuhyun seperti kala ia merindukan kekasihnya.

 

Hubungan mereka hanya sebatas guru dan murid. Sudah. Itu saja. Dan seharusnya Sungmin bersyukur karena otak Kyuhyun terbentur permukaan gucinya malam itu. Hingga Kyuhyun tidak bisa mengingat perasaan tidak pantas yang sempat dimiliknya.

 

Dia diselamatkan Tuhan. Tetapi jauh dalam hatinya yang rapuh, ia sendiri menderita karena harus menekan perasaannya. Terlebih lagi ia juga diliputi rasa bersalah. Menyebalkan.

 

Sungmin memijit sisi kepala kanannya lalu menyesap kopinya yang sudah dingin. Ia berhenti sejenak dari pekerjaannya menyusun soal-soal latihan fisika untuk muridnya. Jang Ssaem masih belum hadir jadi ia masih memiliki kewajiban untuk menggantikannya. Padahal itu semua menambah-nambahi pekerjaannya, menyita segenap waktu istirahatnya. Jika saja Kyuhyun ada di sini dengan otaknya yang sehat, mungkin pekerjaan tidak akan membuatnya sampai pusing tujuh keliling seperti ini.

 

Tetapi sayangnya, sekarang Kyuhyun sedang ada di rumah dengan otak bolong akibat kasus pencurian dua minggu lalu. Neneknya belum mengizinkan Kyuhyun masuk ke sekolah karena keadaannya yang seperti itu. Pihak sekolah bisa mengerti dan memberi keringanan, mereka yakin kalau Kyuhyun akan mampu mengikuti ketertinggalannya ketika sudah sembuh nanti.

 

Ya-ya. Sungmin juga percaya, kok.

 

“Sungmin Ssaem!”

 

Seseorang mengagetkan Sungmin, membuat wanita itu mebelalakan mata dan menatap ke sumber suara. Seperti biasa, Siwon yang tampan itu, menyapa untuk sekedar menarik jiwanya dari dunia lamunan. Sungmin tersenyum miring lalu ia melirik jarum jam di sudut layar laptopnya. “Sudah waktunya istirahat siang rupanya.”

 

“Ya. Kau mau makan apa hari ini? Kutraktir?” Siwon terus memperhatikan Sungmin ketika wanita itu mulai bangkit dan menyambar tas jinjingnya. “Tiga puluh menit seperti biasa. Bagaimana kalau samgyetang?”

 

Sungmin tertawa mendengar penawaran Siwon yang selalu menguntungkannya. “Sampai kapan kau akan menguras dompetmu untuk mentraktirku, Siwon-ssi?”

 

Siwon menarik bibir. “Sampai kita menjadi suami-istri mungkin?”

 

“Dasar!” Sungmin mengumpat dan telapak tangannya mendarat dengan gerakan cepat di atas lengan kekar Siwon, membuat suara puk keras terdengar. Mereka berjalan keluar dari area sekolah menuju sebuah restoran kecil yang berdiri tepat di samping lapangan basket—yang tentu milik sekolah.

 

Ya, restoran yang akhir-akhir ini menjadi langganan mereka untuk menghabiskan waktu makan siang selama tiga puluh menit.

 

“Bibi, dua mangkuk naengmyun dan satu set kimchi, ya?” Sungmin memesan tanpa mencoba bertanya terlebih dahulu kepada Siwon. Lalu mereka berdua duduk di salah satu kursi kosong. “Kau suka naengmyun, ‘kan?”

 

“Oh, ya,” jawab Siwon tergagap. “Naengmyun di musim semi.”

 

“Tidak buruk,” Sungmin menanggapi, ia mengeluarkan tabletnya yang lolos dari tangan jahil pencuri-pencuri sialan itu. “Ternyata hampir masuk bulan Februari, ya?”

 

“Ya. Ujian kelulusan sudah di depan mata,” kalimat itu meluncur dari Siwon tanpa beban berarti. “Oh, suatu masalah besar kalau Kyuhyun-mu tidak mengikuti pelajaran sampai bulan depan,” kata Siwon.

 

Sungmin hampir tersedak oleh liurnya sendiri ketika Siwon memanggil Kyuhyun dengan embel-embel kepemilikan seperti itu. Ia menoleh dan menatap meremehkan ke arah Siwon, “Apa maksudmu dengan Kyuhyun-ku? Bercanda?”

 

“Kukira kau benar-benar setuju dengan julukanku?”

 

Sungmin hampir tertawa tetapi ia berhasil mengendalikan gejolak di perutnya. “Omong kosong.”

 

“Kalau kau tidak setuju, bagaimana kalau mulai sekarang kau menjadi Sungmin-ku?”

 

Sungmin terkesiap ketika gendang telinganya ditembus oleh pertanyaan konyol dan tolol dari Siwon—tetapi jenis pertanyaan itu mampu membuatnya bagai ditampar oleh talapak tangan raksasa yang menyeramkan. Dia sampai membeku di tempat duduknya, apalagi ketika mendapat tatapan hangat yang entah mengapa ingin sekali ditolaknya.

 

Sungmin merasa dirinya nyaris kehilangan akal sehatnya. Manakala ia akan menjawab, seorang pelayan dengan apron kuningnya menginterupsi ketegangan dengan membawa dua mangkuk mi dingin pesanannya. Sungmin memandang mi dingin kesukaannya tanpa selera, tangannya yang bergetar meraih sumpit dan mencengkeramnya erat-erat dengan jemarinya.

 

“Lucu sekali, Siwon-ssi,” Sungmin mencoba berucap walau tenggorokannya sendiri terasa sakit setengah mati. Ia mengaduk minya lalu melahapnya tanpa mencoba menatap raut tampan milik Siwon.

 

“Ya. Lucu sekali,” desau Siwon—penuh kecewa, tentu saja. Dia ikut mengaduk minya lalu berdehem guna mengurangi atmosfir canggung di sekitar mereka. “Kudengar, nenek Kyuhyun tidak mengizinkan cucunya pergi ke sekolah karena takut terjadi apa-apa?”

 

Sungmin mengangguk membenarkan. “Ya. Dan aku bisa mengerti kekhawatiran seorang nenek yang seperti itu,” jawabnya, mengunyah cepat dan berharap makan siangnya segera habis beberapa menit ke depan. “Kurasa aku tidak bisa diam dan berpangku tangan begitu saja. Dia begitu karena kesalahanku.”

 

“Bukan salahmu,” Siwon kurang setuju dengan kalimat Sungmin barusan. “Dia datang ke rumahmu tengah malam tanpa mengetuk pintu. Siapa sangka jika dia akan berhadapan dengan pisau bedebah milik pencuri itu?”

 

Siwon melanjutkan, “Semua orang masih penasaran tentang apa yang terjadi dengan Kyuhyun. Dan fakta bahwa Kyuhyun datang ke rumahmu tanpa alasan saat tengah malam masih menjadi misteri.”

 

“Kalau pihak sekolah bertanya, aku akan mengatakan yang sesungguhnya,” suara Sungmin terdengar datar namun penuh keyakinan.

 

“Kenapa kau tidak mencoba memperbaiki imejmu saja?”

 

“Tidak ada yang perlu kuperbaiki, Siwon-ssi.”

 

“Kalau pihak sekolah tahu kau memacari muridmu sendiri ..”

 

“Aku tidak memacari Kyuhyun, Siwon-ssi!” Sungmin nyaris membentak karena ia sendiri merasa muak dengan tuduhan tidak berguna dari Siwon. Dia meletakkan sumpit minya di meja lalu menggeretakkan gigi karena kesal setengah mati. “Kalau Anda bisa mengatakan hal itu dengan mudah, maka bisa kusimpulkan jika gosip yang mengatakan bahwa aku dan Kyuhyun berpacaran itu berasal dari mulutmu.”

 

Sungmin mengeram dan ia bangkit dari duduknya, “Terimakasih makan siangnya. Besok aku akan membalasnya. Aku pergi dulu, Siwon-ssi.”

 

OoOoO

 

Bib-bib-bib ..

 

Semenjak dua jam lalu, suara bib-bib terdengar lebih berjaya daripada suara seorang manusia yang bercakap. Walau gemerisik angin terdengar lebih mendayu dan menenangkan, tetapi suara bib-bib tetap tersemat hampir setiap semenit dua kali. Dan bau roti yang baru keluar dari oven tercium mendominasi, membuat suasana semakin hangat dengan harum karamel dan vanilla yang menjadi satu.

 

Tiga buah roti berwarna cokelat keemasan tersaji di piring, dengan segelas liquid dingin yang dikelilingi embun kondensasi di tiap sisi gelasnya. Laki-laki yang sedang duduk santai di sebuah kursi taman rumahnya kembali mengambil satu roti buatan neneknya, lalu menggigitnya di bagian pinggir, membiarkan roti itu menggantung di atas bibirnya. Ia masih sibuk mengecek ponsel lamanya: pesan singkat, e-mail, kakaotalk, dan juga galeri foto.

 

Ini sudah terlalu lama baginya untuk diam dan bertingkah seperti orang bodoh. Setelah ia pulang dari rumah sakit, ingatannya sama sekali belum pulih dan buruknya tidak ada kenangan yang tersemat di kepalanya. Kyuhyun mulai jarang mendengar suara wanita yang mengutarakan kalimat asing itu. Otaknya nyaris tidak pernah me-load masa lalu yang sudah terhapus. Padahal Kyuhyun ingin sekali mengingat semuanya.

 

Karena keinginannya kuat tetapi otaknya sudah terlanjur kehilangan sebagian partisi memorinya, Kyuhyun memutuskan untuk melakukan sedikit usaha. Bertanya. Ya, dia bertanya kepada setiap orang didekatnya: kakek, nenek, dan juga Seohyun. Ketika ia bertanya kepada nenek apakah ia memiliki teman selain Seohyun, nenek hanya menggelengkan kepala. Neneknya mana tahu, dia kan remaja sekolah menengah atas, bukan anak TK.

 

Tetapi satu hal yang membuatnya tercengang ketika ia bertanya kepada nenek. Tentang seseorang yang benar-benar dekat dengannya sampai-sampai ia rela menjadikan orang tersebut sebagai tumpuan dan tempat curhat. Kyuhyun sebenarnya meragukan kemampuan neneknya dalam mengingat sesuatu, tetapi pernyataannya benar-benar membuatnya merinding.

 

‘Kau sering menghabiskan waktumu sampai malam di apartemen Lee Ssaem.’

 

Kalimat itu menghantuinya, membuatnya penasaran setengah mati. Dan setelah beberapa hari berpikir keras, ia menentukan pilihannya. Walau kedengarannya aneh dan sedikit tidak bisa dipercaya, Kyuhyun bertekad bahwa ia akan mengungkap tabir ingatannya.

 

Kyuhyun baru ingat kalau ia punya ponsel. Dan ia menduga jika pasti ada secercah informasi yang berguna untuknya yang didapatkannya dari benda persegi itu. Ia mulai mengecek semua isinya, lantas mulai merasa bersalah karena telah meragukan neneknya.

 

Dia memang punya hubungan yang sangat dekat dengan Lee Ssaem.

 

Mungkin karena ia melupakan Sungmin, maka wanita itu terlihat sedih setiap kali ia melihat wajahnya. Mungkin Sungmin sakit hati, atau lebih tepatnya tidak berdaya saat tahu Kyuhyun kehilangan sebagian kecil ingatannya. Semenjak itu, Kyuhyun mulai berpikir jika sosok Sungmin pasti berperan dalam ingatannya.

 

Lagi pula, sewaktu Kyuhyun masih di rumah sakit dan bertanya perihal hubungan mereka, Sungmin malah menjawab dengan ketus. Dia sempat berpikiran negatif tentang tabiat Sungmin. Sehingga dia sempat berpikir bahwa hubungan mereka di masa lalu memang tidak terlalu baik. Namun setelah ditelusuri dengan cermat, sepertinya dugaannya salah.

 

Kyuhyun akan mengunyah rotinya yang ketiga, tetapi gerakan tangannya terhenti ketika ia mendapati fotonya dengan Sungmin berjejer penuh di galeri ponsel. Dahinya mengkerut heran. Sesuatu dalam jiwanya bergejolak, menyuruhnya untuk memperhatikan setiap kedekatan yang ada agar bisa mendapatkan sedikit clue berguna.

 

Dan hasilnya, mereka benar-benar punya hubungan yang dekat di masa lalu.

 

Kyuhyun mendesah. Kalau memang mereka dekat, Sungmin tidak perlu bersikap judes kepadanya. Dia sempat menyayangkan perilaku jahat Sungmin beberapa hari lalu.

 

Penelusurannya tidak berhenti sampai di galeri ponsel. Kyuhyun berinisiatif untuk mengecek panggilan cepat di ponselnya, menekan angka satu yang tersambung ke nomor kakeknya, angka dua untuk nomor neneknya, dan angkat ketiga untuk Lee ssaem!

 

BINGO!!

 

Kyuhyun sengaja tidak memutus panggilan itu. Bahkan ia menanti sambungan telponnya diangkat oleh Sungmin. Dan setelah bunyi tut-tut terdengar sampai lima kali, akhirnya suara Sungmin terdengar.

 

“Halo?”

 

Ssaem,” Kyuhyun menyapa dengan sapaan khasnya tanpa mencoba peduli dengan salam yang dilontarkan Sungmin. “Kau kejam sekali,” serunya, terdengar memelas seperti aegyo dari seorang anak umur sepuluh tahun.

 

“Ada apa denganmu?” nada suara Sungmin terdengar lebih tinggi begitu mendengar kalimat Kyuhyun. “Cepat kataka alasanmu meneleponku atau kututup telponnya.”

 

Kyuhyun melirik ponselnya, mulai merasa ragu mengenai seseorang yang mengangkat teleponnya. Dia mendengus tidak terima. “Kenapa sih Ssaem ketus sekali? Padahal sebelum ini kita ‘kan dekat.”

 

“Kata siapa?” nada suara Sungmin masih terdengar tidak bersahabat.

 

“Aku tahu sendiri,” jawab Kyuhyun ogah-ogahan. “Kita berbincang lagi nanti. Ssaem harus ke rumahku.”

 

“Apa?! Kenapa aku harus ke rumahmu?! Aku ..”

 

“Aku tahu Ssaem sibuk,” potong Kyuhyun cepat. “Tetapi tidak mungkin aku mengayuh sepedaku ke apartemenmu sedangkan aku tidak tahu jalannya.” Kalimat panjangnya terhenti dan ia menunggu jawaban dari Sungmin yang tak kunjung terdengar. Ia menghela nafas, “Ayolah, Ssaem. Aku ingin bertanya tentang suatu hal.”

 

Sungmin terdiam dan bunyi gemelatuk gigi terdengar dari seberang. Dia sedang menimbang-nimbang keputusannya, masih bimbang kendati ia benar-benar tidak bisa menolak. Lagi pula, sisi hatinya yang mendominasi tidak bisa menolak. Jadi, dia memutuskan untuk mengangguk (walau gestur itu tidak bisa dilihat oleh Kyuhyun). “Baiklah-baiklah!” Dia pura-pura sebal.

 

Tanpa diduga, dia menutup teleponnya secara sepihak.

 

Kyuhyun hanya terkekeh lalu masuk ke dalam rumah, menghampiri neneknya yang ada di ruang santai dengan kakek. “Nenek, Lee Ssaem akan datang dan bolehkah aku membagi kue-kue itu dengannya?”

 

Neneknya yang semua tampak sibuk merajut benang-benar wol, menoleh dan wajahnya yang dipenuhi keriput terlihat lebih sumringah. “Tentu. Ayo ikut Nenek ke dapur.”

 

Nenek benar-benar orang baik. Dia membuat banyak sekali kue dengan aroma caramel, vanilla, dan moka yang nikmat. Pantri dapur mereka hampir dipenuhi oleh kue-kue buatan nenek, dan bau khas yang manis benar-benar menggantung sempurna di langit-langitnya. Kyuhyun selalu senang pergi ke dapur, di sini atmosfirnya sedikit berbeda karena tidak ada pengharum ruangan beraroma bunga seperti ruangan lainnya. Yang ada, hanya bau kaldu atau kue.

 

Tangan neneknya mengambil kue-kuenya yang masih hangat dan meletakkannya di piring saji berwarna merah jambu. Ia menyusun sampai beberapa tingkat, banyak sekali. Kyuhyun tidak bisa berkata ‘cukup’, karenanya piring itu tampak penuh dengan susunan kue. Nenek mengambil baki dan menaruh piring itu di atasnya. Ia mengambil gelas bersih dari rak dan mengisinya dengan jus jeruk.

 

“Nah, bawa ke sana. Kalau kuenya kurang, tinggal berteriak dan Nenek akan membawa selusin lagi untuk kalian,” kata nenek tulus.

 

Kyuhyun berterimakasih dan ia segera membawa baki itu ke meja taman yang terletak di dekat kolam ikan. Setelah itu, dia duduk di kursinya dan menunggu sebentar selama beberapa menit sampai akhirnya bel berdentang nyaring. Gerbang itu langsung terbuka karena pasti neneknya sudah tahu kalau wajah Sungmin yang tertangkap CCTV di depan.

 

Sosok Sungmin yang pendek tetapi langsing melangkah masuk dan mereka bertemu pandang. Hari ini dia memakai setelan kemeja merah jambu mencolok dan celana panjang berwarna hitam. Rambutnya dikuncir ekor kuda dan ada beberapa helainya yang lepas dari ikatannya. Sepertinya dia baru pulang dari sekolah.

 

Sungmin tampak lelah ketika ia menyeret kaki-kakinya untuk mendekat ke arah Kyuhyun. Dia berusaha memasang wajah garang, tetapi imej tersebut sama sekali tidak cocok dengan kesan imut-imut berlebihan yang selalu dibawanya kemana-kemana.

 

“Duduklah dulu, Ssaem,” kata Kyuhyun seraya menuntun Sungmin untuk duduk di satu-satunya kursi kosong di sebelah meja. Setelahnya ia menyodorkan piring yang memajang kue buatan neneknya yang tampak lezat. “Makan kuenya dulu. Kalau yang ini buatan nenek.”

 

Sungmin tergoda untuk mencomot salah satu kue-kue cokelat itu. Jadi ia mengulurkan sebelah tangannya dan mengambil satu buah, menggigit suatu sisinya dalam diam. “Ada apa?” Sungmin bercakap disela kegiatan mengunyah.

 

“Aku juga tidak tahu.”

 

Seketika itu juga, Sungmin memasang wajah bete dan mendengus sebal. “Apa sih maumu?”

 

“Lalu apa maumu, Ssaem?” Kyuhyun balas mengeram dan ia tampak sedikit marah. “Ssaem bersikap ketus seperti itu kepadaku. Padahal sebelum aku mengalami kecelakaan sialan ini, kukira hubungan kita sangat baik, amat-sangat malah.”

 

Sungmin tercekat, dia mulai takut air mukanya berubah menjadi sedih. Padahal selama ini ia sudah bersikap sok tegar dengan berusaha bersikap ketus ketika menghadapi Kyuhyun. Tetapi kalau Kyuhyun terus menuntut, bisa-bisa ia menangis karena tidak mampu menyembunyikan perasaannya yang kacau balau.

 

Tangan Sungmin yang memegang roti bergetar samar, dia mulai khawatir perasaannya akan meledak. “Memangnya, kau pikir hubungan kita seperti itu? Tahu dari mana? Otakmu yang berlubang itu?”

 

Ssaem!” Kyuhyun tidak terima ketika guru cantiknya itu mengungkit perihal otaknya yang memang sedikit rusak. Ia menyambar ponselnya dan membuka galeri, lalu menunjukkan deretan foto-foto mereka. “Ini! Ini buktinya!”

 

Sungmin melirik sekilas ke arah foto-foto itu, alisnya mulai melengkung ketika ingatannya kembali ke masa-masa dulu—saat di mana Kyuhyun mengenalnya dengan baik, menemaninya dengan canda hangat yang memabukkan. “Tapi ..”

 

“Apa susahnya memberitahuku? Aku tidak bisa terjebak di dalam lubang ini lebih lama lagi. Dan aku yakin seratus persen jika pertolongan ssaem akan membantuku keluar dari masalah ini,” dia bertutur panjang lebar sampai dadanya terasa sesak. Kyuhyun merasa sakit hati, entah karena apa. “Ssaem. Apakah dulu aku sebegitu brengsek-nya sampai-sampai ssaem tidak mau menolongku?”

 

“Tidak!” Sungmin hampir memekik, tetapi ia berhasil mengendalikan nada suaranya. Bola mata cokelatnya bergerak panik ke sana-ke mari, lalu raut wajahnya berubah menjadi semakin sendu. Ia memandang Kyuhyun lama dengan dahi berkerut samar, lalu bibirnya yang bergetar itu tampak komat-komit. “Aku yang brengsek.”

 

“Apa?”

 

Mata indah Sungmin tampak terbubuhi oleh air mata, dan dia jelas sedang tidak dalam keadaan baik. Dadanya yang kembali terasa sesak, sama seperti dua minggu lalu ketika tahu Kyuhyun melupakan dirinya untuk yang pertama kali. “Bukankah lebih baik kalau kita .., mengawali semuanya dari nol?”

 

Kyuhyun mencelus mendengar penawaran Sungmin yang seperti itu. “Apa maksudmu, ssaem?”

 

“Hubungan kita di masa lalu ..,” Sungmin tampak bimbang harus mengucapkan apa perihal hubungan mereka. “Aku tidak apa-apa kalau kau melupakan aku dan kenangan kita.”

 

Laki-laki itu berdesis semakin marah. “Lalu membiarkanmu tersakiti seorang diri? Aku tahu kalau aku brengsek.”

 

“Aku yang brengsek di sini!” Sungmin menyela dengan suaranya yang melengking tajam. Matanya merah, dia ingin menangis tetapi egonya menahannya sekuat tenaga. Tatapannya yang menyiratkan luka dan penyesalan itu menampar jiwa Kyuhyun, membuat laki-laki itu terpaku untuk beberapa saat. “Kau tidak perlu memikirkan segalanya. Ini salahku. Yang perlu kau pikirkan adalah apa yang terjadi sekarang, bagaimana caranya agar kau bisa mengejar ketertinggalanmu di sekolah atau ..”

 

“Lee Sungmin!”

 

Ming ..

 

Ming ..

 

Ming ..

 

Kyuhyun tahu kalau dulu mereka benar-benar menjalin suatu hubungan yang sedikit lebih serius dari yang lain. Kyuhyun tahu karena panggilan Ming yang berputar di otaknya barusan terasa tidak begitu asing baginya. Dia tahu perempuan di hadapannya ini keras kepala, sampai-sampai tidak mau memberi tahu kenangan-kenangan mereka.

 

Ia mengeram, apalagi ketika tahu Sungmin menitikkan mata tepat di hadapannya. Dua tangannya terulur tanpa perintah, lalu menelangkup pipi Sungmin yang dingin. Ibu jarinya bergerak memutar, lalu menghapus jejak air mata yang tercetak di permukaan kulit Sungmin yang lembut. Tatapannya melunak, perasaannya tersakiti ketika melihat Sungmin menangis.

 

“Katakan apa saja,” kata Kyuhyun dengan nada teratur dan hembusan nafas hangat yang memabukkan. Onyx-nya yang hitam kelam tampak menerawang, mencoba menyelami manik Sungmin yang dibubuhi kesedihan kentara. “Tentangku. Tentang kita. Aku sama sekali tidak keberatan jika pun ada hukumannya kelak.”

 

Pandangan wanita itu turun ke bawah, menelusuri leher Kyuhyun asal tidak membiarkan Kyuhyun menguasai pikirannya lewat tatapan mata yang seperti itu. Ia mengedipkan kelopak matanya lalu bulir itu kembali menetes. Ia terisak, “Kalau aku mengatakannya, aku takut kalau kau akan meneruskan semuanya. Tidak apa-apa kalau kau tidak mengingatku. Tidak apa-apa kalau hanya aku yang tersakiti. Asal .., asal kau .. tetap berjalan di jalan yang benar tanpa menoleh ke belakang. Hubungan kita adalah sesuatu yang tidak perlu diingat, Kyu. Kau harus tahu itu.”

 

Bahu Sungmin bergetar hebat dan wanita itu menangis tanpa suara. Ia merundukkan kepala, berusaha menyembunyikan air mata yang membuatnya malu setengah mati. Sedangkan laki-laki itu, kini terpaku karena melihat sosok gurunya menangis. Wanita itu menangis tanpa perintah, bahkan setelah ia mengatakan alasan mengapa tidak mau membantu Kyuhyun.

 

Nalurinya berkata bahwa ia harus bangkit, lalu segera memeluk Sungmin, merengkuh tubuh ringkih itu dengan pelukan yang sekiranya bisa membuatnya tenang. Kyuhyun benar-benar malakukannya, menelangkup Sungmin yang tersedu dengan harum tubuhnya yang menyenangkan. Ia menyandarkan dagu di pucuk kepala Sungmin, telapak tangannya yang besar membelai helai rambut cokelat Sungmin.

 

“Ini tidak adil,” kata Kyuhyun. “Ssaem menangis karena aku sedangkan aku tidak tahu apa-apa. Ini sama sekali tidak adil.”

 

Sungmin mencoba berontak, melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun. “Lepaskan aku. Kenapa kau bertingkah tidak sopan kepada gurumu?” dia mengucapkan hal itu dengan suara bergetar yang kentara.

 

“Kau menangis di hadapanku dan masih berani mengangkat status ..”

 

Mengatakan hal kurang pantas, lalu berbicara menggunakan banmal dengan gurumu?

 

Kyuhyun tersentak dan ia reflek mendorong tubuh Sungmin. Ia memegang kepalanya lalu mendesis pelan, merutuk karena lagi-lagi untaian kalimat Sungmin di masa lalunya kembali terngiang di lorong telinganya yang sempit. Tatapan matanya tampak nyalang, mungkin ia muak merasakan denyutan sakit ini. Ia hampir jatuh tersungkur di atas rumput, tetapi ia bisa mengendalikan keseimbangannya.

 

“Kalau ssaem benar-benar tidak mau membantu, biarkan aku sendiri yang mencari tahu,” kata Kyuhyun penuh penekanan. “Kalau ssaem merasa semua masa lalu kita adalah kesalahan, maka aku juga harus merasakan hukumannya. Aku juga akan menanggung rasa bersalah itu, ssaem. Ingat itu.”

 

TBC

 

Halo, halo .. akhirnya aku bisa lanjutin ffnya. Aduh, ff ini prosesnya lama amat, yak. Mian. Ada kepentingan yang sekiranya nggak bisa aku duain(?) wkwk. Writer block nampaknya lebih berperan dalam alasan-alasanku. Well, nggak mau ngomong panjang lebar sih U.U aku bingung harus ngomong apa lagi sama kalian *efek hiatus*

 

Oh, ya. Aku ada ff oneshoot baru lhoo. Udah hampir beres, tapi belum nemu judul sama belum sempet direvisi. Ditunggu aja, ya J secepatnya bakal aku rilis(?) kok .. Buatnya demi kalian lhoo, spesial banget *^^*

 

Oh, ya. Silent readers, please muncul dong. Jangan cuman sembunyi gitu ㅠㅠ

46 thoughts on “Teach for Love | KyuMin | Part 7/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

  1. huahhh akhirnya dilanjut jiyoo suka-suka kirain bakalan hiatus lama
    akhirnya kyu dah mulai penasaran sm hubungan dia sm sungmin sebelum dia kecelakaan, trus apa yang akan dilakuin sm kyu buat balikin ingetan dia ditunggu lanjutan nya jiyooo

    cusss lah oneshot nya di posting … udah makin kurang aja nich ff kyumin huhuhuhu …
    jiyoo fighting

  2. Huaaa…..akhirnya update lagi. Makasih yaaa…aq udah nunggu lama soalnya.
    Ayo kyukyu….fighting!!!! Cari kembali ingatanmu yg sempet hilang. Biar bisa kembali sama ming.

  3. kkkyyyaaaaa!!!!

    akhirnya ff yang aku tunggu2 update juga😀

    lanjut, wah kyuhyun maksa banget itu pengen tau kaya apa cerita masa lalu dia sama sungmin–‘

    padahal kyu kalau kau memaksa terus kau akan tambah sakit, namun sungmin juga tersakiti ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

    jadi bimbang lol
    ditunggu next chapnya dan ff 1SH😉

  4. Akhirnya update jg hahaha setelah sekian lama menanti notif email akhirnya hohoho
    Dikira kyuhyun bakalan ngelupain sungmin terus malah inget seohyun eh taunya huahahaha dia tidak menyerah semudah itu… next chapter ditunggu

  5. Jiyoo-ah… Rasanya aku pengen peluk kamuuu. Makasih udah lanjutin ff ini lagi. Ah aku kangen banget sm interaksi Kyumin d cerita ini. Kedepanx aku harap mereka baikan dan ceritanya lebih cepat update. Hehehe (maunya). Eh? Tapi, tapi dr chap ini aku kok nemuin kalau Sungmin bener2 punya perasaan khusus ke Kyu ya. Apa memang sebenarnya begitu atau cm krn rasa bersalahnya sja?

  6. ahhhhh akhirnyaa lama banget perasaan aku nunggu ff ini update tapi gak sia sia nunggu lama juga hasilnya makin bagus makin bikin penasaran ….lanjuuut lagi yaaaa fighting

  7. ughh..
    ayolah min bantu kyu utk inget semuanya lg. ga tahan kl kyu otaknya belobang trs gitu #plak
    aku tau kalian saling cnt malah ampe min nangis gt
    ga sabar nungguin chap depan niih ^^

    wow siwon kena judesnya min juga. ahahahaha

  8. Finally update juga……..moga aja dinext chap ingatan kyu kembali……ming kayaknya udah jatuh hati nih ama kyu tp karena status mereka yg notabene guru ama murid jd dia simpan perasaannya sendiri…..ayo kyu ingat2lah kembali ttg sungmin….
    For jiyoo tetap semangat dlm menulis…..
    Thank you utk update story nya.

  9. Akhirx update jga.. Q sdh lma nunggunya n mkasih karn sdh mau lnjut.. Q kangen sma moment kyumin,mga2 akhirx mreka bsa kmbli sprti dlu.. Untuk ff oneshotx selalu ditunggu n untk chap brkut jgn lm2 ya… Hwaiting jiyoo!!!!

  10. Gomawo chingu udah lanjutin ff’a jaman sekarang ff kyumin sepii..
    Ming maksa banget sii emang knapa klo murid pacaran sama guru ga boleh yee??semoga chap depan ingatan kyu udah kembali biar bisa soswit”lagi..

    Ditunggu chap berikutnya..semangatt^^

  11. gomawo chingu……senang sekali ffnya dilanjutkan….. kasihan kyuhyun….. kenapa min tidak mau membantu kyuhyun???? sampai kapan kyuhyun tersiksa dengan amnesia????

  12. authooorrr..waaah ahirnya d update jg,,yeayyy
    kyuhyun trsiksa dg potongan2 masa lalu, knp???knp ming ga mw jujur? ming chagi huuweee….
    author trm ksh bnyk udh share lanjutannya aduhhh ada ff oneshoot baru mau mau mau,

  13. ceritanya makin bagus eonni, pemilihan katanya juga makin bikin kita masuk ke dalam cerita.
    ditunggu chapter dan cerita2 selanjutnya
    gomawo🙂

  14. aaaak akhirnya update jugaaa ㅠㅠ seneng kyuhyun udah bisa inget dikit2. tadinya sempet khawatir seohyun bakal bikin cekcok… taunya enggak ya hehehehe jiyoo jangan update lama2 dund ;;__;; jadi lupa cerita chap sebelumnyaaa

  15. Kyaaaa… akhirnya update jg 😂😂😂
    Sungminnya smpe sgitunya bgt nahan perasaannya, kan kasian. Kyuhyun harus brusha lbh keras lg utk mluluhkan sungmin. Kalo smua masalahkan bisa dhadapi berdua. Jan hanya mrasa sakit sndirian, trluka sndirian, stdaknya brbagi lbh baik dan tau bagaimana mnyelesaikan

  16. Akuu hampiir lumutaan looh nunggu nyaa……
    aahhhh….. salah nyaa dimana kalo guru jatuh cintaa samaa mutid nyaaa…..????? Huuuffffft

  17. akhirnya setelah sekian lama
    ada lanjutannya juga
    maaf ya jiyoo-shi
    engga bisa komen panjang lebar
    cuma mau bilang terima kasih mau melanjutkan ff ini
    aku berharap jiyoo-shi engga berhenti menulis
    aku suka ceritanya
    kyuhyun yg keras kepala
    tapi engga akan menyerah tentang keinginannya
    lanjut kilat yaaa
    semangat

  18. Semakin kesini karyamu semakin bagus..aku suka cara kamu menulis.bahasanya rapi dan fantastic..tidak membosankan..teruslah berkarya.semoga sukses dg menulis.dan semoga sukses dg sekolahnya

  19. Huaa.. kyu hilang ingatan..

    Hmm.. apa siwon ssaem punya perasaan ke sungmin yaa?

    aigoo.. kyu tetep seenaknya ya sama minnie.. ayo kyu cepet ingat kembali.. fihgting!!! 

  20. Kenapa Sungmin masih keras kepala begitu? Kenapa ndak mau bantu Kyuhyun mengembalikan ingatannya? Kalau memang sama2 suka, apa salahnya sih mengakui kalau kalian memang saling menyukai -_-

  21. plisss ingetan kyuhyun cepet pulih biar bisa cepet samasama sama sungmin lagi.
    aduh mau kyumin cepet jadian.
    oiya ini kangin ga tau kalo kyuhyun kecelakaan sampd ilang ingatan?

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s