Teach for Love | KyuMin | Part 6/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

Teach for Love

 

Genre : Romance , Drama

 

Rate : T+

 

Pairing : KyuMin

 

Part : 6/?

 

Warning : GENDERSWITCH, Miss Typo

 

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi.Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

 

Summary : Dia baru saja pindah dari Jepang dan di sekolah barunya ia dihadapkan oleh seorang guru sexy dan teman-teman abstrak juga pengrusuh yang peduli. Di rumah dia bertemu seorang gadis manis anak tetangga yang menjadi tipe idealnya. Awalnya dia acuh, tetapi sikap jahil yang sudah mengakar di jiwanya membuat segala urusan menjadi semakin rumit. Dan karena hal itu, dia mulai belajar untuk mencintai sesuatu yang benar-benar diperlukannya.

Music : DIVINE by Girls Generation

 

Tidak ada yang lebih buruk dari menunggu, apalagi harus menunggu seorang diri dengan segala kemungkinan baik dan buruk secara berkala. Ia mulai merasa takut, cemas, dan kalut setengah mati. Terus melihat warna merah darah di dua telapak tangannya yang bergetar hebat membuat dadanya kian berdenyut sakit. Matanya sudah bengkak, dan tenggorokannya sudah sakit karena terlalu lama menangis. Ia memeluk tubuhnya yang menggigil, berusaha menyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja begitu dokter keluar dari ruangan keparat itu.

 

Dia ketakutan.

 

Dia kedinginan.

 

Tetapi tidak apa-apa. Rasa dingin yang dirasakannya sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding apa yang dirasakan Kyuhyun di dalam sana. Sungmin tahu kalau ia tidak pantas mengeluh tentang apa yang terjadi sepanjang malam ini. Dia tidak bisa melontarkan protes tentang apa yang baru saja menimpanya.

 

Dia .., dia ..

 

Wanita itu menelangkup wajahnya yang muram lalu kembali menangis tersedu. Mengingat bagaimana ekpresi kesakitan yang terlukis ketika Kyuhyun meringkuk dengan darah di mana-mana. Dia hanya bisa menangis sambil memegang tangan laki-laki itu, berkata semua baik-baik saja. Ia tidak segera menelpon ambulans atau keamanan setempat walau tahu keadaan Kyuhyun sudah kritis seperti itu. Dengan otaknya yang sudah jungkir-balik ia malah menuruti apa mau Kyuhyun, ia tidak memikirkan nyawa pemuda itu.

 

Samar-samar, otaknya kembali memutar kejadian memilukan yang terjadi sekitar sejam yang lalu. Kejadian yang sama sekali tidak ingin diingat atau diungkit lagi. Kejadian yang membuatnya mual dan ingin pergi menjatuhkan diri ke jurang, bunuh diri demi menebus kesalahannya ..

 

OoOoO

Wanita itu terjatuh dari duduknya ketika penjahat itu menarik lepas tali yang melilit pergelangan tangannya yang mulai membiru. Tubuhnya sudah lemas tetapi ia masih berusaha merangkak demi menggapai tubuh Kyuhyun yang tampak kejang—entah sedang berusaha menahan sakit atau menahan nyawanya agar tetap tinggal di raga. Sungmin mendekat lalu meraih kepala laki-laki itu, menangis untuk yang kesekian kali sambil memandang bola mata Kyuhyun yang hampir terbenam di antara kelopak matanya yang terkatup.

 

“Kyuhyun-ah, kau harus bertahan,” kata Sungmin di sela isak tangisnya. Sebelah tangannya bergerak, berusaha menggapai gagang ponsel hitam yang bergeming di atas meja nakas. “Bertahanlah sedikit lagi.”

 

“Sungmin,” Kyuhyun memanggil dengan volum pelan. Tangannya yang penuh noda darah itu menggenggam lengan atas Sungmin, mencoba menahan gerakan Sungmin yang akan pergi meninggalkannya demi sebuah gagang telpon. “Ssaem ..”

 

Sungmin menggigit bibirnya yang bergetar, “Sedikit lagi. Semua akan baik-baik saja.”

 

“Aku membutuhkanmu,” kata Kyuhyun sambil mendongakkan kepala, menatap wajah pucat Sungmin dengan tatapan tajam yang hampir kehilangan cahayanya. Bibir laki-laki itu melengkung melukis senyuman selama dua detik, kemudian ia merintih lagi dengan nafas tersenggal. “Temani aku ..”

 

Wanita itu segera meraih tangan Kyuhyun yang menggenggam lengannya, menautkan kelima jemarinya. Sungmin kembali menangis, “Aku di sini. Tetapi seharusnya ..”

 

Ssaem.”

 

Panggilan itu menginterupsi ucapan Sungmin. Wanita itu terdiam memandang Kyuhyun yang hampir terlelap untuk tidur panjangnya. Asal kalian tahu saja, dadanya sudah hampir meledak karena debar jantungnya berdentum tidak karuan. Air matanya berhenti mengalir dari celah-celah kelopak matanya, isakannya lenyap karena tenggorokannya tercekat oleh rasa takutnya sendiri.

 

Dan laki-laki yang sedang merasakan sekarat itu kini mengedipkan mata, memandang wajah cantik gurunya lalu tersenyum miring. Perut bagian kanannya memang sakit, bahkan ia bisa merasakan kucuran darah yang mengalir di setiap daging perutnya. Namun tetap saja ia tidak ingin terlihat lemah atau kesakitan di depan Sungmin; ia lelaki sejati yang tidak akan merintih. Kyuhyun mengatur nafasnya yang memburu lalu kembali memejamkan mata. “Aku .., senang ..”

 

“Huh?”

 

“Aku tidak tahu,” dia melanjutkan kalimatnya walau tenggorokannya perih setengah mati. Jemarinya yang ditelangkup telapak tangan hangat milik Sungmin bergerak, kelopak mata itu kembali terangkat. Bola matanya yang hitam sekelam malam bersalju bergerak gelisah, tetapi pada akhirnya jatuh pada wajah wanita yang mamangku kepalanya. “Aku tidak mau pergi meninggalkan siapapun.”

 

Mata Sungmin kembali terasa panas, kabut air mata mulai menghalangi pandangannya. Alisnya melengkung, dan dua sudut bibirnya tertarik ke bawah. Dia ingin menangis, namun urung manakala melihat ketegaran Kyuhyun di hadapannya. Sungmin mengeratkan tautan jemari tangan mereka, lalu mencoba ikut tersenyum. “Kau tidak akan pergi.”

 

“Cukup ayah ..,” Kyuhyun berucap sekuat tenaga walau perutnya bergejolak. “Aku .., ingin .., bersamamu, ssaem.”

 

“Kita bersama setelah ini,” Sungmin menciumi jemari Kyuhyun dengan air mata yang menetes deras dari ujung matanya yang kembali basah. Dia terisak di tengah alur nafasnya yang pendek-pendek. “Kita bersama ..”

 

Ssaem,” dahi Kyuhyun tampak mengerut, tetapi dia ikut menangis melihat bahu Sungmin bergetar hebat. Matanya yang dipenuhi bulir air mata mengedip-ngedip dengan gerakan berat. Sesuatu dalam dirinya membuat kelopak matanya terasa berat untuk dibuka. Jemarinya yang berada dalam kungkungan jemari Sungmin bergerak gelisah, samar-samar desisan terdengar meluncur dari mulutnya. Bibirnya yang bergetar kembali bergerak, “Jangan pernah menangis karenaku.”

 

Baka,” (bodoh) gumam Sungmin. Mata kelincinya menatap nyalang ke arah Kyuhyun yang hampir tertidur dengan mata setengah terbuka. Rasa takut kembali merayap dalam dirinya. Ia tersenggal saat akal sehatnya sudah dibalut oleh rasa khawatir yang membuncah. “Baka! Kenapa kau tidak pulang ke rumah dan ..”

 

“Aku membutuhkanmu,” dia menginterupsi kalimat Sungmin. Tubuhnya sudah cukup sakit dengan merasakan darah yang mengucur dari beberapa luka berat ini. Dan ia tidak mau kembali tersakiti karena mengingat kejadian menyedihkan yang baru terjadi di rumah. Sebelum ia tidak mampu membuka mata dan mendengar jawaban-jawaban selanjutnya, sebaiknya ia mengatakan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. “Sekarang .., atau pun .., nanti. Aku ..”

 

Bola mata Sungmin menari tak tentu arah, menatap wajah muridnya yang pias seperti mayat hidup. Dia terlunjak kaget ketika tangan Kyuhyun merosot jatuh dari kukungkan telapak tangannya. Dadanya berdenyut, dia terkejut dan seketika itu rasa takut menelangkup tubuh juga pikirannya. “Kyuhyun!” dia memekik dengan suaranya yang serak karena hampir habis. “Kyuhyun ..”

 

Ssaem.”

 

Panggilan itu terdengar begitu menyayat hati, lemah tanpa tenaga dan semangat. Mata Kyuhyun tampak terpejam sempurna, tetapi nafasnya berangsur normal. Kali ini tangannya benar-benar jatuh, menghantam lantai apartemen Sungmin yang dingin dengan bercak darah di sekitarnya. Kyuhyun tertidur, dia tertidur sebelum selesai mengucapkan apa maksud dari ucapan terakhirnya.

 

OoOoO

 

Suara mesin-mesin menakutkan itu terdengar mendominasi. Pendingin ruangan dengan bau obat-obatan tercium di setiap jengkal. Hawa mencekam tanpa sahutan suara manusia sampai sekarang terus berjaya, tidak tersingkir barang satu detik pun. Ruangan itu sepi, walau berpenghuni. Dua manusia yang ada di sana sama-sama lemah: yang sedang berbaring di ranjang tengah memandang langit-langit kamar—sebentar-sebentar menatap penuh tanda tanya ke arah orang yang duduk di samping ranjangnya. Laki-laki berambut cokelat itu terheran saat tahu orang imut itu rela tidur di samping tubuhnya yang berbaring, dengan posisi duduk dan pasti membuat lehernya sakit.

 

Dia ingin bicara untuk sekedar bertanya tentang apa yang baru saja terjadi kepada dirinya. Tetapi alat yang menempel di atas mulut dan hidungnya ini membuatnya sulit untuk berucap atau sekedar mengangkat bibir. Semua alat geraknya terasa sulit untuk digerakkan, apalagi yang terkena jarum infus itu.

 

Karena ia tidak bisa melakukan apa-apa, sedari tadi ia hanya diam sepanjang detik jarum jam berjalan. Sesekali ia memejamkan kelopak mata ketika ada rasa nyeri yang menyerang kepala bagian belakangnya, atau berdesis dengan suara pelan yang tersamarkan.

 

Sampai kapan ia akan berada di sini?

 

Bagaimana dengan neneknya?

 

Bukankah dia baru saja sampai di bandara?

 

Apa mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan?

 

Kyuhyun tidak bisa menemukan jawabannya walau ia sudah berusaha berpikir keras. Karena sewaktu ia mencoba untuk mengingat, yang ia terima hanya rasa sakit berlebihan yang berputar-putar di kepalanya. Kemudian bayangan gelap yang mendominasi, membuat paru-parunya mengkerut, dan nyeri di perut kanannya.

 

Yang bisa sampai di otaknya hanya tentang neneknya keluar dari bandara dengannya, lalu mereka berjalan beriringan menuju sebuah mobil berwarna abu-abu. Itu kakeknya. Mereka pergi bersama-sama—Kyuhyun duduk di jok belakang seorang diri, ia sibuk dengan komputer tabnya lalu ..

 

Semuanya hilang begitu saja. Ia mulai takut dan mengira hal-hal yang tidak enak, pertanyaan tidak terjawab terus bermunculan di otaknya. Tentang apa yang sedang terjadi, tentang apa yang menimpanya, tentang bagaimana keadaan kakek dan neneknya, dan tentu saja tentang wanita yang tidur seenaknya di sini.

 

Tiba-tiba pintu geser berwarna putih itu terbuka, seseorang masuk dan tampak memasang raut terkejut setelah tahu lirikan mata Kyuhyun. Wanita tua itu segera melangkah cepat ke arah Kyuhyun dan memperhatikan wajahnya selama beberapa saat—seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

 

“Kau sudah bangun?” tanya wanita tua itu seraya membelai pipi pucat Kyuhyun. Nenek tampak khawatir luar-dalam, apalagi pandangan matanya yang dibubuhi kesedihan. Tangannya yang dipenuhi keriput kini menepuk-nepuk pelan—amat sangat pelan—pipi tirus Kyuhyun, lalu ia tertawa. “Kau bisa mengenali nenek?”

 

Kepala Kyuhyun mengangguk, dan neneknya mendesah lega karena hal itu.

 

“Nenek harus memanggil dokter. Kau tunggu sebentar di sini, hm?”

 

Sekali lagi Kyuhyun hanya bisa mengangguk demi menjawab pertanyaan neneknya. Lalu setelahnya, nenek mencium keningnya yang dibalut perban berwarna putih tulang kemudian pergi meninggalkannya seperti tadi.

 

Ia kembali diam. Bola matanya bergerak ke arah kiri dan menatap orang tidak tahu sopan santun yang sudah berani tidur di sampingnya. Wanita berambut panjang dengan wajah lelah itu bergerak selama beberapa detik, dan kelopak matanya terbuka sedikit demi sedikit. Kyuhyun tidak kuasa untuk berteriak demi mengusir wanita cantik itu. Apalagi setelah ia melihat mata bengkak milik wanita itu.

 

Jangan-jangan, wanita itu yang menabrak mobil kakeknya dan membuatnya berakhir di rumah sakit ini?

 

“Huh?”

 

Suara lembut dari wanita itu menghentak dada Kyuhyun, membuat laki-laki itu bergetar walau sedikit. Wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya yang bengkak, mengucek dengan punggung tangannya yang dipenuhi tempelan hansaplas berwarna cokelat. Mereka berpandangan selama beberapa saat, saling melempar tatapan abstrak yang sulit diartikan. Kyuhyun merasa heran, dan Sungmin merasa senang.

 

Kelopak mata wanita itu mengerjap beberapa kali, berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang dilihatnya detik ini bukanlah fatamorgana belaka. Beberapa detik kemudian air mata kembali merembes di sekitar sudut matanya. Wanita itu tidak bertanya, tetapi malah menangis dengan isakan yang tertahan di pangkal tenggorokan. Wanita asing itu terisak sambil menelangkup wajahnya, kemudian menatap Kyuhyun dari sela kelopak matanya. Tangannya kini menggenggam erat jemari Kyuhyun, mungkin sedang berusaha menyalurkan rasa penuh syukurnya.

 

Rasa mencekam penuh tanda tanya itu buyar ketika seorang dokter masuk, diiringi suster cantik yang membawa baki dan neneknya menyusul di belakang. Mereka masuk dengan begitu tergopoh-gopoh, lalu dokter berjas itu tersenyum begitu melihat wajah Kyuhyun. Ia membuka kancing kemeja lengan panjang milik rumah sakit yang dikenakan oleh Kyuhyun, lalu memeriksa detak jantungnya. Setelahnya ia memeriksa mata Kyuhyun dengan senter—yang entah untuk apa, kemudian berbisik kepada suster di sebelahnya.

 

“Kukira waktu tidurmu akan sedikit lebih lama, Kyuhyun-ssi,” dokter itu bergumam dengan suara beratnya yang menawan. Ia tersenyum lagi dan memandang Sungmin yang sibuk menyeka air matanya. “Ternyata kau bangun secepat ini. Bagus sekali,” ia memuji, jempol tangan kanannya menekan pergelangan tangan Kyuhyun demi memerika denyut nadinya.

 

Seonsaengnim. Lalu bagaimana dengan otaknya?” nenek menyela dan bertanya tentang hal yang berhubungan dengan otak.

 

“Sedikit ada kerusakan dengan memorinya. Tetapi sepertinya dia baik-baik saja,” dokter itu terkekeh dengan suara ringan yang membuat suasana menjadi lebih hangat. Ia melepas karet yang melingkar di pipi Kyuhyun dan melepas alat bantu pernafasan itu dengan hati-hati. “Nah, Kyuhyun-ssi. Apa kau mengingat siapa yang sedang berdiri di samping kirimu?”

 

Sejujurnya Kyuhyun tidak begitu mengerti dengan apa yang diucapkan oleh dokter itu. Tetapi sedikit-banyak telinganya yang sensitif itu menangkap setiap kata yang dimengerti olehnya. Dan asal tahu saja, Kyuhyun tidak buta Bahasa Korea. Kyuhyun menggerakkan bola matanya ke arah kiri, mendapat wajah penuh harap milik nenek yang menyayanginya. Ia mengangguk, “Nenek,” katanya dengan Bahasa Jepang.

 

Seulas senyuman simpul terlukis di kedua belah bibirnya yang tipis. Dokter itu tampak puas mendengar jawaban Kyuhyun. “Lalu wanita cantik itu?”

 

Kyuhyun menggeser arah pandangnya, menatap raut cantik milik wanita yang tadinya tidur di sebelah ranjangnya. Tidak ada gurat emosi di wajahnya, tetapi sepertinya mereka pernah bertemu di suatu tempat—namun Kyuhyun tidak ingat sama sekali. Wanita itu tidak asing, tetapi Kyuhyun tidak tahu namanya. “Tidak tahu.”

 

Dahi dokter itu mengkerut, “Tidak tahu? Namanya?”

 

Kyuhyun menemukan raut tidak percaya yang terlukis di wajah cantik wanita itu. Sedetik setelahnya, ia menangkap setitik bulir air mata jatuh membentuk jalur kasat mata di permukaan pipi putihnya. Kyuhyun tidak suka melihat seseorang menangis. Mungkin wanita itu benar-benar sempat dikenalnya sebelum ia berbaring di sini. Namun sialnya Kyuhyun tidak ingat siapa namanya.

 

“Kau harus mengingatnya pelan-pelan, Kyuhyun-ssi. Dia yang menyelamatkan hidupmu semalam.”

 

Oh, jadi wanita itu sudah menyelamatkannya kemarin malam. Pantas jika ia tidur di samping tubuhnya, mungkin terlalu lelah. Kyuhyun mulai maklum.

 

“Aku harus bicara dengan anda, agassi.”

 

OoOoO

 

Otaknya sedikit rusak, memorinya terguncang. Tetapi anda tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja.

 

Sungmin berjalan keluar dari ruangan dokter itu setelah mengucap salam, lalu berdiri sambil bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin. Pandangan matanya tampak kosong, seolah ia sedang bingung tentang apa yang harus dilakukannya setelah ini. Ada suatu sisi hatinya yang kosong, entah menghilang atau memang kabur dari tempatnya—Sungmin benar-benar tidak tahu. Tetapi ia benar-benar merasakan kehampaan yang menyiksa, membuatnya berada di ambang percaya-tidak percaya.

 

Hantaman keras membuatnya seperti itu. Aku tidak bisa memprediksi tentang ingatan apa yang mungkin hilang. Tetapi tenang saja, dia tidak benar-benar melupakannya.

 

Kepala Sungmin terangkat, menatap lorong yang ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang. Sedetik setelahnya pandangannya turun ke arah rok selututnya yang kotor—kotor karena dipenuhi noda darah kering yang berbau amis; itu darah Kyuhyun. Lututnya bergetar hebat, tetapi Sungmin ingin berjalan dan mengambil tasnya yang tertinggal di ruangan milik Kyuhyun.

 

Suatu saat dia pasti bisa mengingat semuanya. Kita tidak bisa memaksanya untuk mengingat. Hanya keinginannya yang bisa membuatnya mengembalikan ingatan yang hilang.

 

Wanita itu berjalan dengan langkah sedikit terhuyung menyusuri jalanan lorong, tetap memaksa untuk mengambil jangka dengan kakinya yang lemas. Sekonyong-konyong Sungmin merasa tidak sanggup berjalan lebih jauh, tubuhnya ringan sampai-sampai ia merasa bahwa tubuhnya bisa jatuh kapan saja.

 

Jadi, saya harap anda jangan memaksanya untuk mengingat. Tetapi temanilah ia dan lakukan sesuatu yang sekiranya bisa membuatnya mengingat sesuatu tentang anda.

 

Padahal ini bukan serial drama, tetapi kenapa alur hidupnya menjadi seperti ini? Bohong kalau Kyuhyun bisa melupakannya. Kemarin mereka masih berbincang, dan Kyuhyun mengenalinya bahkan memanggil namanya berulang kali. Kemarin, mereka pergi kencan dan melewatkan hari Minggu dengan suka-cita. Bahkan setelah kejadian mengerikan itu, mereka masih sempat berbicara dari hati ke hati. Sungmin tidak percaya kalau Kyuhyun benar-benar tidak mengenalinya.

 

Bagaimana bisa? Lagi pula, kenapa harus ia yang dilupakan? Kenapa rasa-rasanya Tuhan sedang mempermainkan perasaannya? Kenapa? Bagaimana bisa begitu?

 

Sungmin menghentikan langkah kakinya tepat ketika ia berdiri di sebuah pintu dengan papan nama nomor sembilan belas. Pertanyaan-pertanyaan serupa berseliweran dalam tempurung kepalanya, membuat kepalanya pening. Wanita itu menghela nafas, menguatkan batinnya selama beberapa saat lalu masuk ke dalam. Ia menerima dua tatapan sekaligus, setelahnya nenek bangkit dari duduknya dan berjalan menghampirinya.

 

Mianhaeyo, bu guru,” nenek merengkuh tubuh lunglai Sungmin, memeluknya erat lalu menangis dengan nafas tersendat-sendat.

 

Laki-laki yang berbaring di ranjang dengan alat kesehatan yang menempel di tubuhnya menatap ke arah Sungmin, memberi tatapan penuh pertanyaan seperti ‘kenapa nenek memelukmu?’, ‘apa yang sudah kau lakukan hingga membuat nenek menangis?’.

 

“Kalau saja aku tidak membiarkan ayahnya berkunjung ke rumah, Kyuhyun pasti akan langsung ke kamar setelah ia pulang,” neneknya memberi penjelasan di tengah deru tangisnya. “Mohon maafkan uri Kyuhyun.”

 

Aniyo,” Sungmin melepas pelukan nenek, tidak tahan ketika tahu Kyuhyun terus melempar tatapan dingin ke arahnya. Ia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, lalu tersenyum. “Seharusnya aku yang meminta maaf sudah membiarkan cucu anda masuk ke dalam apartemenku. Lagi pula, kata dokter suatu saat dia akan mengingatku.”

 

Nenek memutar arah pandangnya, menatap cucunya yang terbaring tidak berdaya di ranjang. “Aku turut menyayangkan hal ini.”

 

Sungmin tersenyum getir. Dia mengangguk lalu melepaskan cengkraman tangan keriput nenek di lengan atasnya. Sungmin berjalan menghampiri Kyuhyun, meraih tasnya lalu menghela nafas. “Aku pergi dulu, Kyu. Kalau kau sudah mengingat namaku, segera telpon, hm?”

 

Kyuhyun bingung harus menjawab, tetapi ia tahu kalau wanita di depannya ini sedang berakting sok tegar di hadapannya. Lihat saja matanya yang sudah berkaca-kaca itu, sebentar lagi ia pasti akan menangis.

 

Wanita itu tersenyum lagi, kali ini lebih tulus dari sebelumnya. Ia berbalik dan memberi salam pada nenek, lalu melangkah lamat-lamat ke arah pintu. Mungkin karena kesadarannya kian menipis atau kurang tidur, ia jadi sulit untuk mengendalikan keseimbangannya. Ia hampir saja terjatuh ketika akan meraih knop pintu. Tetapi ia berhasil mempertahankan berat tubuhnya dan mengatakan baik-baik saja kepada nenek yang sempat memekik kaget.

 

Sebelum ia benar-benar pergi, ia kembali memberi salam. Lalu menutup pintunya dan meneteskan air mata sebanyak yang ia bisa.

 

OoOoO

 

“Gaunnya kotor.”

 

Itu adalah kalimat pertama yang meluncur dari mulut Kyuhyun setelah ia terdiam selama berjam-jam bersama neneknya di ruangan dingin itu. Neneknya mendongak dan menatap Kyuhyun dengan pandangan tidak mengerti.

 

Kyuhyun menerawang, “Gaun wanita itu. Kotor. Apa dia habis bergulat dengan macan yang hampir menerkamnya?”

 

Gerakan tangan neneknya yang sedang mengupas buah apel terhenti untuk sesaat, ia menjatuhkan pandangan pada wajah teduh milik cucunya. “Ya?”

 

“Sepertinya dia berdarah sampai-sampai nodanya mengotori gaunnya,” persepsi Kyuhyun terucap gamblang, terdengar setengah melamun. “Siapa dia, nenek?”

 

“Sungmin,” jawab neneknya segara. “Kau tidak mengenalnya?”

 

“Tidak,” sahut Kyuhyun singkat. “Tetapi kurasa nama dan wajahnya tidak asing. Apa nenek tahu kalau kita memang saling mengenal?”

 

Kepala nenek mengangguk, “Dia gurumu.”

 

“Dari Jepang?” Kyuhyun semakin tidak mengerti dengan apa yang diberitahukan nenek kepadanya. “Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku? Apakah ada kecelakaan besar ketika kita akan pulang dari bandara?”

 

Kyuhyun mendesah dengan cemas, seolah ia tahu kalau sesuatu yang serius sedang terjadi sekarang ini. “Kukira aku sudah melupakan sesuatu yang penting. Apakah nenek bisa memberitahuku?”

 

“Tentang apa?”

 

“Tentang .., aduh!” Kyuhyun menjerit ketika kepalanya berdenyut, sakit sekali. Dia mengerang sebentar karena tidak tahan.

 

“Kyuhyun! Kau tidak apa-apa?!” neneknya reflek ikut berteriak karena kaget. “Kyuhyun?”

 

“Tidak apa-apa, nenek,” Kyuhyun mencoba bersuara walau ia sendiri sedang tidak bisa menahan rasa sakit di kepala. Dia mendesah, “Aku baik-baik saja.”

 

“Jangan mencoba mengingat,” neneknya berseru panik sambil merapikan selimut Kyuhyun. “Kata dokter, kau akan ingat dengan sendirinya.”

 

Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar Kyuhyun dengan gerakan tidak sabaran; satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas hal itu adalah wanita cantik dengan balutan baju formal yang ada di sana. Wajahnya cantik, tetapi dipenuhi peluh dan gurat kesedihan juga kekhawatiran. Matanya yang bengkak mengedip-ngedip ketika melihat wajah terkejut Kyuhyun. Ia menjatuhkan tas mahalnya ke lantai lalu berjalan terburu-buru ke arah ranjang.

 

“Ibu?”

 

OoOoO

 

Sungmin bersyukur karena sekarang ia sudah sampai di apartemennya, dengan begitu ia bisa segera masuk dan bersembunyi di balik selimutnya yang tebal—sekaligus bersembunyi dari fakta mengejutkan yang baru ia terima. Dia menekan tombol kode, tetapi bunyi bib berisik terdengar beberapa kali.

 

Pikirannya benar-benar kacau sampai-sampai Sungmin salah memasukkan kode sampai empat kali berturut-turut. Dia hampir menangis ketika hal buruk itu terjadi, dan saat bunyi bib itu terdengar untuk yang kelima kalinya, ia merengek.

 

“Kenapa tidak mau terbuka? Brengsek! Buka!” Sungmin kian menekan tombol angka itu dengan tidak beraturan. Nafasnya kembali tersenggal dan ia mulai kesal karena keberuntungannya benar-benar sudah lari meninggalkannya. “Buka ..” katanya lagi sambil memencet tombol-tombol itu dengan tidak beraturan.

 

“Sungmin-ssi?”

 

Suara seorang lelaki mengejutkan Sungmin, wanita itu menoleh dan meneteskan bulir kesedihannya secara tidak sengaja. Ada seorang laki-laki tampan yang berdiri sekitar satu meter di sebelah tubuhnya. Dan dari penglihatannya yang kabur karena ditutupi oleh selaput tipis bernama air mata, ia bisa menduga siapa sosok itu.

 

“Choi Siwon-ssi ..”

 

Laki-laki itu berjalan mendekat ketika tahu namanya dipanggil dengan nada penuh getar samar dari bibir Sungmin. Tanpa berucap ia merengkuh tubuh Sungmin, membawa wanita itu dalam pelukannya dan mengucapkan kalimat ‘semua akan baik-baik saja’ beberapa kali berturut-turut.

 

Sungmin menangis keras sementara buku-buku kukunya mencengkeram erat punggung Siwon. Dia menyembunyikan raut wajahnya yang menyedihkan di dada Siwon, membiarkan laki-laki itu berdiri di sana sebagai sandarannya. Dia terisak semakin keras ketika Siwon menepuk-nepuk pundaknya, lalu menghirup nafas walau itu tidak berhasil sama sekali.

 

Ia masih belum puas menangis. Ia masih butuh lebih lama lagi untuk menangis. Dan ia membutuhkan dada seseorang agar bisa menyembunyikan air matanya. Sungmin sedih, sampai-sampai ia mau mati kalau semua masih terus berjalan seperti ini.

 

OoOoO

 

Sungmin sedang meringkuk dengan kaki terlipat, dagu bersandar pada ujung lutut, dan tubuh mungilnya menggigil—bukan karena suhu udara yang turun akibat pendingin ruangan. Pandangannya menerawang jauh ke depan, tetapi tidak ada fokus yang jelas di dalamnya. Selimut tebal dengan bau harum yang asing bagi indra penciumannya melingkar di sekitar tubuhnya, menyamarkan getaran tubuhnya yang parah.

 

Sungmin sudah duduk di atas ranjang besar itu selama dua jam lamanya, tanpa berucap kata—hanya menangis dengan isakan samar yang memilukan. Telapak tangannya dingin bahkan nyaris membeku karena ketakutannya sendiri. Seseorang yang membawanya kemari pergi entah kemana, atau mungkin sengaja meninggalkan Sungmin di sini karena tidak mau mengganggu.

 

Ia lelah menangis. Tetapi dadanya terlalu sesak sampai-sampai ia merasa bahwa dirinya harus menangis sampai semuanya terasa lebih ringan. Sesuatu dalam hatinya menggumpal, membuatnya merasa tidak nyaman dan terus memaksa air mata melesak menggenangi kelopak mata. Dia memandang jemarinya yang menyembul keluar dari balik selimut yang menelangkup tubuhnya, menatap kukunya yang bercat biru safir—warna kesukaan Kyuhyun.

 

Apa .., yang harus kulakukan?

 

Pertanyaan itu terus mengambang di pikirannya, membuatnya tidak bisa tenang barang sedetik pun. Ia merundukkan kepala demi mengedipkan mata, menjatuhkan bulir bening di sana walau ia tidak terisak. Sungmin menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengeluarkan beban yang meringsek di dada.

 

Dia mendongak lagi, memandang langit-langit yang dicat dengan warna biru langit—ada gambar awan dan burung di atas. Air matanya kembali menggenang walau Sungmin tidak menginginkan hal itu terjadi. Ia melamun lagi, memikirkan segala kejadian tidak masuk akal yang telah terjadi untuk yang kesekian kali. Lalu ia kembali menyesali waktu yang membawa dirinya terjerembab dalam situasi seperti ini.

 

“Sungmin-ssi.”

 

Suara Siwon terdengar memanggil, lalu ketukan lembut terdengar dua kali berturut-turut. Sungmin tidak bisa menjawab, tetapi Siwon masuk tanpa menunggu persetujuan dari Sungmin—lagi pula ini apartemennya. Laki-laki itu masuk dengan membawa nampan dengan mangkuk dan gelas keramik berwarna oranye. Dia berjalan menghampiri Sungmin dan meletakkan nampannya di nakas. “Sudah baikan?”

 

Kepala Sungmin mengangguk, bibirnya yang kering dan pecah-pecah mencoba melengkung melukis seulas senyum demi berterimakasih.

 

“Aku sudah membuat bubur,” ia melirik bubur panas yang kelihatan lezat di meja nakas, lalu kembali memandang wajah rupawan milik Sungmin. “Aku yakin kau belum sarapan.”

 

“Aku sedang tidak ingin makan,” dia mengatakan penolakan dengan nada serendah dan selembut mungkin, kendati suaranya serak dan tidak enak didengar.

 

“Aku sudah membuatnya dengan susah payah,” Siwon meraih nampan itu kemudian memangkunya. “Perutmu pasti kosong melompong.”

 

“Tetapi aku tidak lapar,” dia masih mencoba berbohong.

 

“Sungmin-ssi ..”

 

“Aku tidak bisa makan kalau Kyuhyun ..”

 

“Dia baik-baik saja,” sahut Siwon, sengaja memotong kalimat Sungmin yang penuh kekhawatiran dan penyesalan tidak berujung. “Dia pasti juga sedang makan.”

 

Sungmin mengangkat wajahnya dan ia menatap bubur buatan Siwon yang masih memamerkan uap mengepul yang hangat. “Apa aku terlihat seperti orang bodoh, Siwon-ssi?”

 

Siwon terdiam manakala Sungmin melontarkan pertanyaan yang tidak mungkin dijawab olehnya. Dan Sungmin yang sibuk dengan lamunannya kini kembali menerawang sambil merubah posisi kepalanya—menyandarkan pipinya di atas lututnya yang tertekuk. Sungmin memandang ke arah lain—asal bukan ke arah Siwon—demi menyembunyikan air mata yang alih-alih bisa menetes kapan saja.

 

“Siwon-ssi,” dia memanggil nama Siwon untuk yang kesekian kali. “Kau tahu betapa takutnya aku sekarang?” desah putus asa itu terdengar lebih jelas walau suaranya bergetar. “Aku takut. Takut sekali.”

 

Sungmin menghirup udara di sekitarnya lalu menelan ludah, memandang ke arah bawah lalu kembali meringis. “Bagaimana kalau selamanya Kyuhyun tidak akan pernah mengingatku lagi?”

 

OoOoO

 

Empat hari berada di rumah sakit, Kyuhyun sudah mengalami perkembangan pesat. Tubuhnya sudah tidak kaku, dia sudah bisa menggerakkan kaki dan tangannya, sesekali ia belajar duduk sebentar dengan bantuan kakek, nenek, atau ibunya yang sudah datang jauh-jauh dari Jepang. Dan sehari-hari dia hanya bisa diam tanpa mampu melakukan apa pun, di ranjangnya yang nyaman itu.

 

Dan ketika tiga orang penting itu tidak berada di sini untuk menemaninya, ia mulai merasakan apa itu sendiri dan kesepian. Ia tidak pernah mengerti kenapa setiap jam dia duduk di sana, ekor matanya selalu melirik ke arah pintu geser itu—seolah ia berharap ada seseorang yang datang, namun entah siapa yang diharapkannya. Dia memang tidak tahu dan mulai penasaran, tetapi jauh dalam lubuk hati ada suara batin yang menyeruakan suatu nama. Mungkin untuk saat ini, pendengaran hatinya masih tuli dan ia tidak bisa mendengar tentang bisikan-bisikan ghaib dari perasaannya yang koyak.

 

Meski pun dia ingin bisa mendengar dan tahu, sisi lain dalam jiwa remajanya selalu melarangnya untuk mengingat lebih jauh. Kepalanya yang berdenyut sakit itu selalu membuatnya takut untuk mengingat. Kyuhyun tidak betah dengan pukulan palu yang mendarat di kepalanya ketika ia mencoba untuk mengorek masa lalu yang tertutupi kabut. Karena rasa sakit itu, Kyuhyun tidak pernah mencoba untuk mengingat semuanya.

 

Dia mendesau untuk yang kesekian hari ini. Di luar cuaca sedang cerah dengan sinar matahari berwarna oranye terang. Angin yang berhembus tampak sepoi-sepoi, membawa harum musim semi yang menyejukkan. Dedaunan yang berwana kuning berterbangan, menerpa siapa saja yang berada di luar gedung untuk sekedar merasakan waktu yang lebih hidup. Kyuhyun benar-benar ingin keluar walau ia sendiri masih membutuhkan alat bantu kursi roda.

 

Mungkin menyenangkan bila berada di sana, dengan seseorang yang bisa menemanimu mengobrol seputar apa yang terjadi. Kalau bisa, membicarakan tentang kenangan indah yang mungkin pernah dilaluinya sewaktu musim semi datang. Duduk di sebuah kursi taman sambil memakan kudapan mengenyangkan, dengan segelas kopi hangat atau soda dingin yang nikmat.

 

Aku akan membeli minuman ..

 

Kau melamun, sih. Ini sudah musim semi..

 

Ini aneh. Tetapi Kyuhyun samar-samar mengingat bayangan dirinya sedang berada di suatu tempat, tengah berbicara dengan seseorang yang duduk di sebelahnya; seorang wanita berambut cokelat kelam dengan bando beruang, wanita anggun dengan rambut panjang dan gaun musim semi yang semakin membuatnya tampak lebih cantik walau sebagian wajahnya tertutupi oleh helai rambutnya. Dan yang lebih aneh dari semua ingatan bodohnya, ia berbahasa Korea dengan logat sempurna yang mencengangkan (menurutnya). Kyuhyun tidak pernah ingat kalau ia pernah belajar Bahasa Korea dengan tekun. Dia hanya sekedar tahu tentang Bahasa Korea karena neneknya yang sering berbincang dengan ibunya menggunakan Bahasa Korea.

 

Sulit dipercaya. Jangan-jangan, ia memang pernah belajar Bahasa Korea.

 

Kyuhyun belum puas berpikir tentang bagaimana bisa ia berucap menggunakan Bahasa Korea selancar itu. Tetapi seseorang tiba-tiba masuk, mengejutkan Kyuhyun sampai-sampai ia terlunjak. Wanita cantik dengan wajah kusam tanpa semangat berdiri di ambang pintu, lalu ia masuk dan diikuti oleh seorang lelaki tinggi yang tampan. Wanita itu adalah penyelamatnya (begitulah kata nenek). Wanita cantik bergaun kotor yang pertama kali muncul di hadapannya ketika ia membuka mata setelah kecelakaan itu.

 

Wanita itu meletakkan keranjang berisi buah-buahan dengan berbagai warna. Setelahnya ia duduk di kursi yang berada di samping ranjangnya. “Bagaimana kabarmu?”

 

Suaranya mengalun lembut bagai beludru. Tatapan dari manik mata kelincinya yang indah sungguh mempesona. Rambutnya yang berwarna kecoklatan tampak sehat dan menawan, digerai dengan jepitan lucu di suatu sisi. Kulitnya putih sekali, menyerupai manekin yang biasanya terpajang di sebuah etalase toko dengan selembar gaun mahal. Bibirnya yang mengkilat itu tampak tidak asing, melengkung melukis seulas senyuman yang menjerat perasaannya.

 

Kyuhyun baru tahu kalau wanita itu ternyata sangat cantik dan mempesona. Bentuk wajahnya sempurna, membingkai mata, hidung, bibir, dagu, pipi, dahi, dan segalanya nyaris tanpa cela kekurangan. Suaranya bahkan membuai jiwanya, mengalun merdu dengan nada rendah yang mampu menelasup dalam rongga perasaannya. Tatapan matanya membuatnya tenggelam dalam kenangan abu-abu, menyekapnya dalam ruangan gelap yang tidak bisa ditemukannya di lorong waktu. Kyuhyun berusaha menggapai wanita itu dalam ingatannya, tetapi ia tidak mampu menemukan sosoknya di sana.

 

“Hai, Kyu. Kau mengenalku?” sosok laki-laki yang datang dengan wanita itu menyapa. Kyuhyun menoleh dan menatap penuh tanda tanya ke arahnya. Laki-laki bertubuh tinggi-tegap itu tertawa terbahak lalu mengendikkan bahu. “Maafkan aku. Kurasa kau tidak mengenalku.”

 

Kyuhyun hanya diam ketika ia mendengar nada sok akrab dari laki-laki itu. Pandangannya kembali beralih ke wajah wanita cantik itu. “Anda .., mengenalku?”

 

Wanita itu menatap selang infus Kyuhyun dengan tatapan kosongnya, ia mengangguk lalu tersenyum tipis. Tampaknya ia sedih, sampai-sampai ia terus menyembunyikan raut wajahnya sendiri. Ia terdiam dalam duduknya, entah apa yang sedang menari di pikirannya saat ini. Kelihatannya ia kehilangan topik pembicaraan yang sudah susah payah disusun olehnya sepanjang perjalanan kemari.

 

“Sepertinya Kyuhyun butuh istirahat,” laki-laki tanpa nama itu mendekat ke arah Sungmin lalu mendaratkan dua telapak tangannya di atas pundak Sungmin. Kyuhyun memandang penuh sangsi ke arah telapak tangan lelaki itu; setitik suara dalam hatinya menjerit kalap walau ia sendiri tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Laki-laki tinggi itu tampak memandang wajah cantik untuk beberapa saat lalu kembali berucap, “Apa kita mengganggu istirahatmu?”

 

Kyuhyun tahu lelaki itu bertanya kepadanya, tetapi entah mengapa ia masih tampak fokus ke arah telapak tangan lelaki itu di pundak Sungmin. Otaknya yang jenius itu memproses kalimat Siwon, sama sekali tidak kesulitan ketika disodori kalimat sederhana walau dalam bahasa asing. “Tidak. Sama sekali tidak,” jawabnya singkat.

 

“Kurasa ..”

 

Malang bagi lelaki sok akrab itu. Ketika ia akan mengatakan suatu hal di pikirannya, dering ponsenya menginterupsi. Ia meraih ponselnya di celana dan berpamitan untuk berjalan keluar dari kamar lalu mengangkat telpon, meninggalkan Sungmin dan Kyuhyun berdua dalam lingkup penuh rasa canggung yang menyiksa.

 

Wanita itu tampak khusuk dengan kesunyian ruangan ini, ia lebih senang diam sambil memandang selang infus Kyuhyun yang berwarna putih buram. Nafasnya tampak teratur, tetapi tatapannya begitu menggores perasaan. Ada sejuta bahkan semilyar harapan yang tak sampai, menjadi angan-angan yang tak tergapai, dan menumpuk menjadi satu di dalamnya. Kyuhyun bersumpah jika mungkin saja wanita itu benar-benar dalam keadaan buruk. Atau mungkin, ia trauma karena sudah melihat dirinya berbaring di sini.

 

Sensei,” panggilan itu terlontar dari bibir Kyuhyun yang tampak merah muda. Wanita itu mengangkat wajahnya kaget, menatap Kyuhyun dengan pandangan menuntut. “Nenek bilang kalau anda guruku,” katanya dalam Bahasa Jepang.

 

Wanita itu terdiam, kembali merunduk sambil meremas tautan jemarinya yang indah dalam kegelisahan yang tampak dari sinar matanya.

 

“Anda selalu terlihat menyedihkan ketika bertemu denganku,” kalimat frontal Kyuhyun menghantam kepala Sungmin. Laki-laki itu menyuarakan pendapatnya, tetapi benar-benar tidak bermaksud menyinggung secuil perasaan Sungmin. “Apa aku termasuk murid yang menyusahkanmu?”

 

Senyum mengembang di bibir tipis wanita itu, sangat tipis sampai-sampai tidak ada yang menyadari kalau ia tersenyum—kecuali Kyuhyun, entah kenapa. “Apa dalam ingatanmu, kau termasuk orang yang seperti itu?”

 

Kyuhyun terdiam selama beberapa saat demi memikirkan kata-kata orang itu. “Anda bisa berbahasa Jepang?” pertanyaan yang melenceng dari topik, tetapi sengaja dilempar oleh Kyuhyun untuk mengalihkan perhatian keduanya.

 

“Sedikit,” jawab Sungmin enggan.

 

“Apakah anda merasa nyaman jika kita berbincang menggunakan Bahasa Jepang?”

 

“Oh, sialan!” sekonyong-konyong laki-laki yang datang dengan Sungmin masuk sambil mengumpat. Ia memandang Sungmin lalu Kyuhyun dengan pandangan tidak rela lalu mendesah. “Ayahku menelpon dan katanya aku harus pergi menghadari jamuan makan siang dengan relasi pentingnya. Aku tidak bisa menolak. Apakah kau akan ikut denganku?”

 

Sungmin menoleh dan menggeleng, menolak dengan menyodorkan senyuman manis.

 

Sekali lagi Siwon mendesah, “Kutinggal dulu. Telpon aku ketika akan pulang. Sebisa mungkin aku akan menjemputmu,” katanya lalu melesat pergi dengan cepat. Sepertinya ia sedang diburu waktu, tidak main-main.

 

Kyuhyun tampak puas ketika tahu laki-laki itu akhirnya pergi. Ia sempat merasa sebal karena percakapannya dengan wanita cantik ini sempat terpotong walau setengah menit lamanya. Ia kembali menatap wajah menarik Sungmin, menanti jawaban atas pertanyaannya. “Sensei ..”

 

“Ya?”

 

“Apakah anda merasa nyaman jika berbincang menggunakan Bahasa Jepang?” Kyuhyun berinisiatif mengulang pertanyaan. Mungkin wanita cantik yang dipanggil guru olehnya ini sudah lupa karena ia sendiri tampak ling-lung setengah sadar.

 

“Bukankah Bahasa Koreamu buruk?” wanita itu bertanya. “Ini Korea. Seharusnya kau mulai membiasakan diri berbicara dengan Bahasa Korea.”

 

Sekarang kau sudah tinggal di Korea, seharusnya kau mulai membiasakan diri berbicara Bahasa Korea.

 

TBC

 

Kenapa tiba-tiba jadi gini? -_- jangan timpuk authornya :v kan nggak asik kalo kisah mereka cuman bahagia-bahagia ajaa .. wkwk

 

//Oh, ya. Sudahkah kalian baca ff Oneshoot Ice Cream yg rilis beberapa hari lalu? Ternyata responnya lebih bagus dari ff Teach for Love chapter 4 lho (-_-“) aku sempat kaget. Well, aku juga nggak mau mikirin sih. Wkwk asal kalian senang aja .. Ada yang tanya ff Ice Cream berapa word? Sekitar +7K. Wkwk itu ff Oneshoot terpanjang :3 terimakasih sudah membaca ..//

 

Itu note yang aku buat waktu mau publish ff ini sekitar satu bulan yang lalu. well. Molor sebegitu panjangnya dan aku benci fakta ituㅠㅠ authornya udah sedikit gila karena pemberitaan-pemberitaan yang akhir-akhir ini sedang in .. Tentang Luhan, Sungmin, Jessica, dan everything .. Aku pusing dan .., tidak bersemangatㅠㅠ please jangan bahas berita tentang apa pun di kolom komentar .. itu akan membuatku sedih (asdfghjkl). Dan untuk pemberitahuan, mungkin setelah ff ini tamat, aku akan hiatus dulu (hiatus, phuh). Udah kelas 3 sih, ada UN hmmmm .. tapi kalo aku dapat ide, aku pasti bakal posting lagi kok hehe mohon bantuannya, yaa~~ {}

 

See you~

52 thoughts on “Teach for Love | KyuMin | Part 6/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

  1. Setelah sekian lama nunggu akhirnya lanjut juga. Sy sampai agak lupa ama jalan ceritanya, jd baca ulang dr chap 1. Terimakasih chingu next chap ditunggu.

  2. Akhirnya updet jgaaaaaaaaa…… sekian lama nunggu…
    Waaaahhhh di sini kyuhyun hilang ingatan yaaaa kasian sungmin..
    Meskipun hilang ingatan tetep aja posesif nya ga ilang ckckck….
    Di tunggu next chapnya ya author ssi…..
    Gomawo~~~

  3. Semangat terus ya nulis fanficnya!! Yah walaupun pemberitaan sekarang cukup menyayat hati dan mematahkan delusi /cieelah/ tapi ini fic kece banget laftssssss

  4. Kok kyu jd amnesia? Hiks hiks….kasihan ming.
    Smg kyu cepet sembuh yaaa.
    Ayo ming, ajarin kyu buat belajar bahasa korea lagi…buat dia inget lg ama kamu, ming. Heheheh….fighting!!!!!
    Smg author cpt update lg yaaaa
    Ditunggu fanfic kyumin selalu……

  5. oh tiidakkkkkk amnesiaa kyuhyun amnesiaaa…apa kata duniaaa??tapi gak papalah toh walaupun lupa lupa tpi tetep inget inget bayangan sungmin ..ya kan…

    oke lah aku penasaran..sama lajutannya ..dan author kalo bisa update kilat …yaa

  6. Jiyoo~ah… Thanks krn udah update… Hehehe aku senaaaaang sekali meskipun part ini agak nyesek. Sangat malah. Hm… Kalau kemarin Kyu yg harus brjuang buat dpt perhatian Sungmin, tampakx kali ini Sungmin yg harus brusaha ya… Tp sepertix tak akan lama mengingat meskipun amnesia, Kyu masi tetap peka sama Sungmin. Contohx saat Siwon pegang pundak Min, aura evilx masi tetap menguar.

  7. kebawa suasana kali ya yoo.. lol well karena ff’a cukup panjang, jd ngaret’a d ampuni… target ending d chap brapa? jgn lama2 ya hiatus’a.. blog kyumin yg aku save cuman punya jiyoo sama melanie.. thanks yaaa udah update.. keep write.. semoga ide selalu mampir ke jiyoo, biar gak jd hiatus lol fight

  8. ya…kok sedih….T_T
    padahal berharap bisa bahagia di dunia ff walaupun menyedihkan dan menyakitkan di dunia nyata….#masihgalau
    tapi q sudah sangt senng karena salah satu author favorit masih berkenan melanjutkan ff-nya…
    semngat ya nulis dan menuntut ilmunya…semoga sukses selalu…

  9. yyyaaaahhh hiatusnya jgn lama2 dong. stlah UN blik lg ya,😀

    author kyuhyun tega amat ya, smoga dia cpt sembuh, bisa maen sm tmn2 d klsnya lg. bisa bljar bahasa korea lg. orng dia udh bsa bhasa korea. lanjutkaaannnn jgn lama2 ya. jkkkkk mw nya

  10. nangis aku baca ini …. setelah sekian lama banyak ff kyumin yg ga update n_n makasih jiyoo yg masih bikin jiwa joyernya keluar lagi n_n

  11. akhirnya update jg setelah sekian lama kkk
    gatau knp feeling buat chapter depan kyuhyun bakalan deket sama seohyun TT jgn buat kyumin terpisahkan lg ya kakkk
    ditunggu kelanjutannya kak,makasih udah tetep stay disini ^^

  12. Wah gimana nih kyu sampai hilang ingatan tp kayaknya hanya lupa ama sungmin….ayo ming berjuanglah utk mengembalikan ingatan kyu tentang mu….kyu semoga cepet sembuh…..

  13. ige mwoya???
    mengapa oh mengapa..
    mengapa kyuhyun jd amnesia.. mana lupa sama sungmin ohh noooo ini bencanaaaa…
    kalo sama seohyun lupa ga yaaa???

    ditunggi nextnyaaaa ^^

  14. Akhir nya update juga🙂

    Aku suka sama ceritanya chingu^^. Bahasa nya bagus, penulisan nya pun bagus, seperti penulis novel yg sudah berpengalaman🙂 aku suka bgt cara penggambaran untuk suatu objek nya🙂
    Semangat buat chap selanjut nya… Di tunggu ya🙂

    FHIGTING!!!

  15. akhirnya update juga setelah sekian lama menunggu…… sedih banget kenapa kyu melupakan min…. apakah kyu pernah mengalami kecelakaan waktu di bandara dengan kakek dan nenek nya?????? jiyo tetap semangat ya menulis ff kyumin….. ff nya akan selalu ditunggu.

  16. semoga kyu cepet inget siapa min, kasian min nya kesiksa gitu
    jiyoo sibuk ya kok lama update nya biasa nya cepet hehehe ditunggu lanjutan ff nya ya

  17. Setelah nunggu lama, sekali nya update eh malah Kyu nya amnesia😄
    Tpi memang hati tidak bisa berbohong walaupun Kyu amnesia dia tetap gak suka liat Siwon deket2 sma Min.
    Setelah Kyu pulang dari rumah sakit dan kembali masuk sekolah semoga Kyu gak deket2 sma si seo

  18. jadi ff ini bakalan tamat lebih cepat dari pada ff berpart lainnya????

    yah sayang banget padahal ceritanya bagus aku suka walaupun kyuhyun sampai lupa ingatan sih kkkkkkk~

    lanjut, makin seru tapi kasian sungmin gak apa2 lah bener kata kamu masa ceritanya happy2 aja tanpa adanya konflik kan gak seru🙂

    aku udh nunggu banget kelanjutan ff ini dari kemaren2, dan akhirnya lanjut aku seneng heheheheh😀

  19. Aku tidak tau.apa aku sudah komen disetiap chap.lupaaaa
    aku ganti name juga..tapi ini ff mengharukan bgt ya.bahasanya ringan mudah dipahami.alurnya nyantai.suka suka
    tapi ini sedih2 gini ya.Kyuhyun nya jadi kehilangan memorinya

  20. Jangan berhenti berkarya.tapi emang sekarang harus fokus ke ujian dulu.sekolah yang bener2 yang dongsaeng..semua dapat nilai yg maximal

  21. hahaha udah kyu lupain aja jgn di inget… kesel dah ah, kyu pake lupa sama ming
    ayoo ming bikin kyu inget…

    bagus

    ditunggu next chap nya
    fighting

  22. Wahhhh ff nya bagus bagus,tp ga tau knp aku lebih seneng baca ff yg GS,,,sering sering bikin ff yg GS ya🙂,,,,oia chap lanjutannya jgn lama lama ya,,,,semangat ya ka,semoga ga terlalu lama bwt update lanjutan,,,,aku reader baru,,,maaf baru sempet komen🙂

  23. Lah Kyu kok amnesia sih
    haaah
    Moga2 Kyu cepet inget deh, Kasihan Ming
    Tapi meskipun amnesia si Kyu masih aja ya cemburu kalo liat WonMin. Kkkk~

    Tetep semangat nulis ff yaa~
    Fighting

  24. Akhiiirnya, saya sampai juga dipostingan ff terakir author hahaha
    Oia, itu sungmin dirampok? Setelah kejadian, perampoknya kemana? Tak ada penjelasannya kah? (Hehehe mulai banyak maunya)

  25. jiyo kamu patah hati sa sunhmin ya…
    kok ff ini udah berapa lama blum ada kelanjutannya…. aayoo semangat terus. walau apapun yg terjadi sama mereka dikehidupan nyata.

  26. jiyo kamu patah hati sama sungmin ya…
    kok ff ini udah berapa lama blum ada kelanjutannya…. aayoo semangat terus. walau apapun yg terjadi sama mereka dikehidupan nyata.

  27. Akhirx update jg wes dtunggu dri jauh2 hri.. Nangis q bcax apalgi pas tau kyu hlang ingtan,lalu bgaimn nsib ming selnjutx.. Updatex jgn lma2ya chingu biar gk mkin pnsaran..

  28. Yaaahhh… Masa Kyuhyun anemia eh amnesia sih?
    Sediiihhh… Kasihan Sungminnya😥😥😥
    Kyuhyun cepat ingat kembali Sungmin😦😦😦

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s