Teach for Love | KyuMin | Part 4/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

Teach for Love

 

Genre : Romance , Drama

 

Rate : T+

 

Pairing : KyuMin

 

Part : 4/?

 

Warning : GENDERSWITCH, Miss Typo

 

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi.Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

 

Summary : Dia baru saja pindah dari Jepang dan di sekolah barunya ia dihadapkan oleh seorang guru sexy dan teman-teman abstrak juga pengrusuh yang peduli. Di rumah dia bertemu seorang gadis manis anak tetangga yang menjadi tipe idealnya. Awalnya dia acuh, tetapi sikap jahil yang sudah mengakar di jiwanya membuat segala urusan menjadi semakin rumit. Dan karena hal itu, dia mulai belajar untuk mencintai sesuatu yang benar-benar diperlukannya.

Music : Loving you by Super Junior KRY

 

Ini sudah menginjak bulan kedua Kyuhyun tinggal di Korea, menetap di sana dengan kakek dan neneknya. Ia menjadi murid populer di sekolah, terang saja seperti itu: wajahnya tampan dan otaknya jenius. Siapa yang tidak menyukai Kyuhyun? Hampir semua gadis seumuranya menyapa dan melambaikan tangan setiap pagi ketika berpapasan jalan. Dan hampir semua laki-laki iri terhadap reputasinya.

 

Hubungannya dengan Sungmin semakin baik dari hari ke hari. Bahasa Koreanya sudah lancar, logatnya pun berubah. Kyuhyun sudah tidak memerlukan kursus bahasa Korea dari Sungmin, tetapi setiap hari ia tetap datang ke rumah Sungmin dan pulang larut malam.

 

Bukan salahnya, sih. Salahkan Sungmin yang sudah merecoki Kyuhyun dengan perhatiaannya selama ini. Segala perhatian dan kasih sayang yang diberikan Sungmin membuat Kyuhyun tergila-gila, membuatnya nyaman dan terus ingin tinggal di samping Sungmin.

Kyuhyun memang butuh perhatian. Dan hal itu sudah ia dapatkan dari Sungmin. Kyuhyun senang karena pada akhirnya ada orang lain yang perhatian kepadanya—itu berarti ada yang peduli. Dan pastinya ia membuka tangan lebar-lebar untuk menyambut orang yang seperti itu.

 

Dia (Kyuhyun) tergila-gila akan perhatian Sungmin.

 

“Kyuhyun, belajar yang benar, ya,” seseorang yang mengatakan kalimat tersebut dengan nada mendayu-dayu melukis seulas senyuman lembut. Salah satu tangannya bergerak membelai pundak Kyuhyun, sesekali menepuknya pelan. “Nilai bahasamu sudah meningkat. Ssaem senang sekali.”

 

“Terimakasih, ssaem,” Kyuhyun mengangguk tidak enak—sungkan karena semua teman sekelasnya memperhatikan dirinya yang sedang ‘dilecehkan’ oleh guru seksinya ini. Di tengah pelajaran seperti ini, Victoria Song senang sekali memberi perhatian tidak berguna kepadanya. Sungguh menyebalkan, pikir Kyuhyun.

 

“Terus belajar keras, ne?” telapak tangan Victoria masih mendarat di pundak lebar Kyuhyun. Bahkan jemarinya mulai bergerak melingkar di sana, mencoba menyalurkan getaran yang entah apa maksudnya.

 

Sekali lagi Kyuhyun menjawab dengan jawaban yang sama.

 

Tepat ketika Victoria akan melontarkan ucapannya, bel tanda jam pelajaran telah berakhir berdentang keras-keras—semua murid mendesah lega begitu juga Kyuhyun. Air muka Victoria tampak berubah, tetapi sedetik setelahnya ia kembali tersenyum.

 

Naeil tto boja,” (Kita bertemu lagi besok) katanya lalu melangkah meninggalkan bangku belajar milik Kyuhyun dengan pinggul yang bergerak ke kanan dan ke kiri.

 

Kyuhyun patut bersyukur karena ia tidak perlu lama-lama berhadapan dengan gurunya yang sedikit mesum itu. Setelah jam pelajaran berakhir, Victoria harus buru-buru meninggalkan kelas dan pergi ke kelas lainnya. Kyuhyun mengagumi sikap Victoria yang tepat waktu, tetapi ia benci dengan perhatian wanita itu.

 

Laki-laki itu segera mengemasi buku bahasanya dan menyimpannya di loker, sebelum guru berikutnya datang ia menyempatkan diri untuk pergi ke kamar mandi sebentar demi membasuh wajah.

 

“Kyuhyun-ah, mau kemana?” Donghae sengaja menyambar salah satu pergelangan tangan Kyuhyun ketika tahu teman di sebelah bangkunya akan pergi.

 

“Kamar mandi,” kata Kyuhyun sembari menarik kasar lengannya. Donghae itu selalu ingin tahu apa yang ia lakukan, padahal laki-laki itu bukan kekasihnya. Sebenarnya ia tidak terganggu, tetapi terkadang ia merasa jengah juga.

 

Bisa jadi masalah besar kalau ada murid iseng yang membuat gosip antara dirinya dan Donghae. Bisa saja mereka mengatai Kyuhyun gay karena lebih sering terlihat dekat dengan Donghae—dari pada menanggapi rayuan singkat dari gadis-gadis seumuran ketika bertemu di jalan atau stasiun. Amit-amit sekali kalau ada berita seperti itu.

 

 

Dia sempat merasa takut dan was-was setiap kali berfantasi mengenai hubungannya dengan Donghae. Padahal semua prakiraannya tidak mungkin terjadi. Tetapi kalau sedang senggang atau setelah menerima pertanyaan singkat Donghae, Kyuhyun pasti akan memikirkan hal itu. Otaknya benar-benar butuh guyuran air dingin.

 

Di kamar mandi ia membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir di pipa wastafel. Ia menepuk-nepuk dua pipi tirusnya secara berkala lalu menghela nafas. Setelahnya ia langsung keluar—ia tidak terlalu betah berlama-lama di kamar mandi umum tentu saja. Saat ia akan belok di ujung lorong, saat itulah ia bertemu pandang dengan Sungmin. Guru kesayangannya itu sedang berbincang dengan Choi ssaem.

 

Uhg, lagi-lagi guru mesum itu, pikir Kyuhyun sarkatis. Kyuhyun ingin pura-pura tidak melihat mereka berdua tetapi Siwon sudah menemukan muka masamnya terlebih dahulu. Ia memberi salam sebentar ke Sungmin dan Siwon lalu cepat-cepat melangkah sebelum Sungmin memanggilnya.

 

Sungmin memang masih sering dekat dengan Siwon, dan Kyuhyun tahu betul akan fakta itu. Kyuhyun tahu jika Sungmin menyukai Siwon, dalam artian sesungguhnya maksudnya. Padahal, Siwon itu tidak tampan. Lihat saja gayanya yang sok keren itu, Kyuhyun sungguh benci. Apalagi sekarang, Siwon membiarkan janggut dan kumisnya tumbuh tipis—kata Sungmin, itu seksi sekali.

 

What the fuck!

 

Kyuhyun selalu mengumpat kalau ia ingat pujian Sungmin kepada Siwon. Ia sebal!

 

“Kyuhyun! Kyuhyun-ah!”

 

Langkah kaki Kyuhyun terhenti begitu saja ketika ia mendengar jenis suara itu memanggil namanya. Ia membalik badan dan mendapati sosok Sungmin sedang berjalan tergesa-gesa ke arahnya sambil membawa beberapa map buku berwarna biru dan kuning.

 

“Ada apa, ssaem?” Kyuhyun baru sadar jika Sungmin mengenakan blazer dan rok pendek di atas lutut—biasanya dia kan memakai jaket dan celana training. Ia terheran ketika tahu gurunya juga berdandan, dengan lelehan eyeliner kental yang menggores garis tepi mata bulatnya. Bibirnya tampak lebih segar dengan warna merah muda menggoda, mengkilap dan sepertinya sangat lezat untuk dilahap. Lihat tubuhnya yang seksi itu. Blazernya sungguh cocok dengan tubuh bongsor Sungmin yang seksi.

 

“Ayo ke kelasmu bersama-sama,” kata Sungmin begitu sampai di samping Kyuhyun. Nada suaranya terdengar sedikit mendesah karena wanita itu harus mengatur nafasnya yang sempat ngos-ngosan. Wajahnya memerah, dan bulir-bulir keringat tampak merembes di permukaan dahinya.

 

Walau dia tampak sedikit lelah karena harus lari dari ujung lorong dengan menggunakan sepatu berhak tinggi, Sungmin tetap cantik dengan riasan wajah natural itu. Sebenarnya Kyuhyun sudah terkejut dengan perubahan dandanan Sungmin. Dan kali ini pun dia dikejutkan oleh ajakan Sungmin yang tidak masuk akal. “Setelah ini, kelasku ada pelajaran fisika, ssaem. Bukan olahraga.”

 

“Aku tahu,” Sungmin menoleh dan menatap Kyuhyun dengan sepasang matanya yang dihiasi goresan eyeliner hitam yang tegas. Dia menyibak rambutnya yang bergelombang ke belakang, lalu tersenyum—manis sekali sampai hampir membuat Kyuhyun meleleh seperti es krim. “Mulai sekarang aku akan menggantikan Jang ssaem mengajar fisika. Hanya untuk sementara, sih.”

 

“Apa? Bagaimana bisa?” Kyuhyun terkejut lagi.

 

“Pendidikan awalku dulu sebagai guru,” Sungmin menjelaskan. Tetapi sedetik setelahnya ia melempar tatapan tidak enak. “Kau meragukan kemampuanku, ya? Memangnya yang bisa kulakukan hanya berolahraga?”

 

“Bukan begitu, ssaem,” Kyuhyun mencoba mengelak—walau sebenarnya persepsi Sungmin itu benar. “Tapi, ‘kan .. Tapi ..”

 

Alis mata Sungmin melengkung tajam, “Awas saja kalau kau memintaku mengajarimu nanti!”

 

“Aku tidak bermaksud meragukanmu, ssaem,” Kyuhyun mencoba menenangkan guru istimewanya itu.

 

“Lee ssaem? Kenapa kemari? Wah, Lee ssaem cantik sekali dengan seragam formal seperti itu.”

 

Itu Donghae, si pengrusuh kedua dari sekolah (menurut penilaian Kyuhyun). Baru saja mereka akan masuk ke dalam kelas, tetapi si kepala ikan itu sudah nongol duluan dan melontarkan pujian tidak berguna. Itu sih bukan pujian, tapi rayuan gombal.

 

Tatapan Donghae tampak seribu kali lebih bersinar ketika bola matanya bergerak menelusuri penampilan Sungmin. Dia tersenyum aneh, seolah berusaha mengagumi bentuk tubuh Sungmin yang tercetak jelas karena seragamnya.

 

“Wah, terimakasih, Donghae-ya,” Sungmin menepuk pundak Donghae—terang saja itu membuat Donghae senang bukan kepalang. “Ayo masuk. Aku punya pungumuman bagus untuk kalian,” katanya lalu masuk sambil mencengkeram erat lengan atas Donghae, meninggalkan Kyuhyun di belakang.

 

OoOoO

 

Kyuhyun tidak mengerti kenapa ia merasa tidak memiliki tenaga ketika Sungmin mengajar di kelasnya tadi. Bahkan ia tidak suka dan ingin mengusir Sungmin dari kelasnya. Sewaktu Sungmin mengajar, teman-teman sekelasnya malah sibuk mengoceh sambil bisik-bisik. Sebenarnya Kyuhyun tidak peduli, tetapi ketika ia mendengar perbincangan rahasia mereka mengenai Sungmin, ia jadi naik pitam.

 

“Lee ssaem makin seksi dengan rok pendek. Pantatnya bulat begitu.”

 

“Dadanya. Dadanya ..”

 

“Ya Tuhan! Kalau Lee ssaem pakai kemeja putih, mungkin bra-nya akan terlihat!”

 

“Kalau itu sampai terjadi, aku akan membawa kameraku!”

 

Kyuhyun ingin memukul wajah teman-temannya yang sudah berani membicarakan Sungmin sampai seperti itu. Tetapi nyatanya ia tidak sanggup dan malah diam sambil menahan amarahnya yang serasa akan meledak. Pada akhirnya, ia hanya diam sepanjang pelajaran sampai bel jam pulang sekolah berdentang nyaring.

 

Seperti biasa, ia akan langsung pergi ke apartemen Sungmin. Tetapi hari itu Sungmin mengatakan jika ia akan pulang terlambat karena harus menyalin soal-soal latihan dari komputer sekolah ke flashdisk-nya. Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa saat Sungmin menyuruhnya untuk pergi terlebih dahulu. Dan Kyuhyun benar-benar pergi ke apartemen Sungmin sendiri tanpa harus bersusah payah menunggu gurunya.

 

Dia sudah dongkol. Makannya ia malas menanggapi ucapan Sungmin.

 

Sesampai di aparteman Sungmin, laki-laki itu menghempaskan tubuhnya di sofa lalu menghembuskan nafas. Kalimat teman-temannya mengenai Sungmin masih berputar berulang kali di otaknya, seperti kaset rusak yang menyebalkan. Kyuhyun ingin menegur Sungmin, dan di dalam hati ia sudah berjanji akan melakukannya.

 

Lagi pula, teman-temannya itu terlalu brengsek sampai-sampai berani bergosip seperti itu. Api dalam dirinya sampai tersulut dan sepertinya sudah berkobar dengan jaya di sana. Kyuhyun sudah siap untuk menyemprot siapa pun dengan kata-kata pedasnya. Tetapi di apartemen Sungmin tidak ada siapa-siapa, jadi ia hanya bisa diam sambil mengumpat sendiri selama tiga puluh menit lamanya.

 

“Oh, kukira kau akan langsung pulang ke rumahmu,” Sungmin tiba-tiba masuk dan langsung melepas sepatu hak tingginya, memamerkan jemari kakinya yang bebas dari kaus kaki. “Kau sudah menunggu lama?”

 

Dahi Kyuhyun mengkerut ketika tahu Sungmin berjalan ke arahnya tanpa berniat menggunakan kaus kaki terlebih dahulu. Mata elangnya masih memperhatikan jari kaki Sungmin yang bergerak-gerak, itu gerakan menggoda yang tidak sopan. “Kau sengaja ya, ssaem?”

 

“Huh? Apa?” Sungmin meletakkan tasnya di sofa lalu ikut duduk di samping Kyuhyun, berusaha merileskkan otot tubuhnya yang serasa kaku setelah mengajar penuh untuk hari ini.

 

“Itu ..,” Kyuhyun menunjuk kaki Sungmin dengan dagunya. “Jemari kakimu.”

 

“Oh? Maafkan aku!” Sungmin berjingit kaget dan segera pergi ke kamarnya. Beberapa saat setelahnya ia kembali dengan penampilan baru pada kakinya—ada sepasang kaus kaki berwarna merah jambu di sana. “Aku benar-benar tidak bermaksud menggodamu.”

 

Kyuhyun berdehem, “Lagi pula aku juga tidak tergoda.”

 

Bibir Sungmin mengerucut, “Kau itu apa-apaan, sih.”

 

Suara decakan meluncur dari mulut Kyuhyun, sekarang laki-laki itu memandang Sungmin dari sudut matanya dengan pandangan meremehkan. “Oh, ya. Lain kali pakai rok di bawah lutut. Jangan pernah pakai kemeja putih kalau mau mengajar, mengerti?”

 

Alis Sungmin melengkung taja. “Memangnya kenapa kau mengatur pakaianku?” sahut Sungmin tidak terima.

 

“Pokoknya ssaem harus menuruti ucapanku. Itu peringatan!” nada suara Kyuhyun terdengar lebih tinggi dari sebelumnya, penuh tuntutan yang benar-benar harus dituruti. “Ssaem tidak mengerti apa tanggapan murid-murid mesummu saat tahu ssaem berpakaian seperti tadi?”

 

“Murid-murid mesum? Kau?”

 

Telapak tangan Kyuhyun menepuk dahinya, “Bukan aku. Teman-teman di kelasku.”

 

“Mesum? Kenapa kau berpikiran kalau mereka mesum?”

 

“Mereka membicarakan dadamu, bokongmu, dan warna bramu. Seharusnya ssaem ..”

 

Entah kenapa kalimat Kyuhyun berhenti saat ia menyadari hal bodoh apa yang baru dilakukannya barusan. Matanya melotot dan terkejut, ekspresinya hampir sama seperti Sungmin. Namun wanita itu bergerak lebih cepat. Dua lengan pendeknya bergerak menyilang di dada dan pandangannya mengedar ke segala arah.

 

Sungmin menelan ludahnya gugup, “Aa .., aa ..”

 

Lagi-lagi Kyuhyun berdehem, “Aku .., benar-benar ..”

 

Byeontae,” satu kata itu terucap dari bibir tipis Sungmin dengan volum rendah. Pipi gembulnya sudah dipenuhi oleh semburat merah. “Dasar ..”

 

“Ya .. Mereka memang mesum, ssaem,” Kyuhyun berusaha mengimbangi alur pemikiran Sungmin.

 

“Bukan mereka,” Sungmin menyangkal. “Kau yang mesum.”

 

Kepala Kyuhyun menoleh dengan gerakan cepat ke arah Sungmin, “Kenapa aku? Aku tidak berpikiran seperti mereka!”

 

“Tetapi kau terang-terangan mengatakan tentang hal-hal tidak sopan tepat di hadapanku!”

 

“Itu karena ssaem sendiri yang menggodaku!”

 

“Menggoda apanya?!”

 

“Bahkan ssaem tidak memakai kaus kaki di hadapanku!”

 

“Tapi ini ‘kan apartemenku!”

 

“Tapi aku ada di sini!”

 

“Seharusnya kau tidak melihat jemari kakiku!”

 

“Tidak ada serigala yang lari meninggalkan kelinci yang terang-terangan menggodanya!”

 

“Jadi kau menyamakanku dengan kelinci yang menggodamu, begitu?”

 

“Kau memang kelinci yang menggodaku!”

 

YA!!”

 

Teriakan keras dari Sungmin menginterupsi kalimat yang akan terlontar dari Kyuhyun. Percuma saja Sungmin menanggapi ucapan Kyuhyun, toh laki-laki itu tidak mau kalah sama sekali. Mereka bertengkar seperti anak kecil dan itu memalukan, apalagi kata-kata Kyuhyun sama sekali tidak sopan.

 

Sungmin melukis raut wajah penuh amarah, tidak terima karena murid kesayangannya mengajaknya bertengkar dengan banmal. Dia baru saja akan menampar pipi tirus itu, tetapi kesadarannya terlebih dahulu mencegah tindakannya. Sungmin memilih menghela nafas lalu membuang pandangannya ke segala tempat.

 

“Kau itu tidak sopan sekali, ya?”

 

“…”

 

“Mengatakan hal kurang pantas, lalu berbicara menggunakan banmal dengan gurumu?”

 

“Maafkan aku,” permintaan maaf itu meluncur dari kedua bibir Kyuhyun, sama sekali tidak diduga. “Aku paling tidak bisa mengendalikan mulutku kalau sedang sebal.” Kyuhyun mengatakan alasannya dengan nada yang luar biasa lembut, bahkan terdapat banyak penyesalan yang terselip di setiap alur nafasnya yang teratur.

 

Tentu saja itu bisa meluluhkan hati Sungmin. Bagaimana pun juga ia kagum dengan kesungguhan Kyuhyun saat meminta maaf. Walau awalnya ia sempat tersinggung dan marah sekali, tetapi setelah mendengar permintaan maaf itu, sedikit-banyak ia mulai merasa lebih baik.

 

Kepala Sungmin menoleh dan ia menatap wajah Kyuhyun yang tertekuk tidak semangat. Mungkin laki-laki itu benar-benar menyesal karena telah berbuat tidak sopan kepadanya. “Tidak apa-apa. Remaja memang sulit mengendalikan emosinya.”

 

Kepala Kyuhyun mengangguk dan ia setuju dengan ungkapan gurunya. “Tetapi kuharap ssaem tidak akan menganggap kemarahanku sebagai hal serius. Aku tidak bisa benar-benar marah.”

 

Kyuhyun terdiam sebentar dan ia mengangkat kepalanya, mengarahkan pandangannya tepat ke mata Sungmin. “Ssaem harus tahu kalau kemarahanku beralasan. Ssaem, aku tidak bercanda mengenai pemikiran teman-teman saat melihatmu memakai blazer dan rok pendek.”

 

Sungmin melipat salah satu kakinya, “Ya. Seharusnya aku memikirkan perkataanmu,” katanya sambil mengetuk dagu lancipnya dengan ujung jemarinya yang dicat biru laut. Dia tampak berpikir, tatapannya menerawang. Beberapa detik ia terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi setelahnya mata hitam pekat itu bergerak ke atas dan pandangan wanita itu jatuh pada wajah tampan Kyuhyun. “Apa menurutmu aku benar-benar seksi?”

 

Mendengar hal itu, kontan saja bola mata Kyuhyun bergerak memperhatikan setiap lekukan tubuh Sungmin dari atas hingga bawah. “Ya .. Maksudku, sedikit,” jawab Kyuhyun setengah gugup dan salah tingkah.

 

Sungmin beranjak karena ia benar-benar ingin mengganti blazernya dengan baju santai yang sedikit longgar untuk tubuhnya. Lama kelamaan ia menjadi gerah setengah mati merasakan kain pakaiannya terus mengetat—dan sebenarnya ia risih dengan pandangan Kyuhyun yang seperti itu. Dia mengangkat dua tangannya dan bergerak mengikat rambutnya yang tergerai ke atas, membentuk gelungan kecil di atas kepala. “Setelah ini bantu aku memasak makan malam, ya? Kau mau apa?”

 

“Nasi,” Kyuhyun ikut bangkit, tetapi pandangannya masih pada wajah cantik Sungmin. Sedikit-banyak ia tergoda ketika mendapati gerakan sensual Sungmin ketika menggelung rambutnya ke atas. “Aku ingin sup belut.”

 

“Sup belut?” Sungmin urung pergi melangkah ke kamar ketika ia mendengar permintaan Kyuhyun. “Aku tidak punya belut.”

 

“Kalau begitu sup gurita,” Kyuhyun masih tetap kukuh pada sup dengan isian ikan laut.

 

Samgyetang,” Sungmin mencoba menawar dengan sup ayam (samgyetang).

 

“Sup kerang?” Kyuhyun semakin keras kepala.

 

Seolleongtang!” Sungmin ikut keras kepala dan pilihan terakhirnya adalah sup daging sapi. “Itu penawaran terakhir. Kalau tidak mau, tidak ada sup untuk menu makan malam hari ini,” ancaman itu mengalir dan Sungmin benar-benar pergi meninggalkan Kyuhyun di ruang tamu.

 

Kyuhyun mendesah dan dia tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapi ancaman Sungmin, toh perempuan itu sudah masuk ke dalam kamar. Ia melangkah ke arah dapur dan membuka kulkas dua pintu milik gurunya. Seperti sebelumnya, di sana ada tumpukan kotak tupperware dengan berbagai isi: kimchi sawi putih, kimchi mentimun, kimchi lobak, ikan asing kering, potongan buah-buahan, dan yang lain.

 

Sebenarnya Kyuhyun ingin sup seafood—berhubung ia sudah lama tidak makan ikan laut, tetapi sepertinya di kulkas Sungmin yang besar ini tidak menyimpan bangkai ikan laut. Mulai saat itu ia mulai berpikir akan berbelanja ke pasar dan membeli beberapa ikan laut untuk mengisi kulkas gurunya. Oh, sebaiknya ia minta dibuatkan oleh neneknya saja. Kenapa harus repot pergi ke pasar?

 

Lagi pula ia tidak yakin jika Sungmin bisa memasak sup seafood seenak buatan ibunya. Ngomong tentang masakan ibunya, sudah berapa lama dia tidak mencicipi masakan ibunya? Sudah hampir dua tahun. Semenjak ibunya sering pergi dari rumah untuk kabur, dia sudah tidak pernah memakan masakan ibunya.

 

Kyuhyun selalu menjadi sedih kalau ia teringat dengan sosok ibunya. Karena itu, ia tidak mau berlama-lama memikirkan kenangan manis sewaktu ia masih berada di Jepang dengan ibunya; semua kenangan seperti bertukar cerita, atau bercanda di beranda rumah waktu sore hari. Ia tahu kenangan manis itu sudah berubah menjadi obat negatif yang membuat pikirannya kacau dalam waktu singkat. Karena hal itu, Kyuhyun buru-buru mengalihkan perhatiannya, berharap bahwa ia bisa melupakan kesedihan yang tertinggal di sudut hatinya.

 

“Coba keluarkan kimchi dan sayuran yang ada di rak bawah, Kyu.”

 

Suara Sungmin tiba-tiba muncul di belakang Kyuhyun. Ia terlalu asyik melamun sampai tidak mendengar suara pintu kamar Sungmin yang terbuka. Wanita itu melangkah ke arah dapur dan kini tampak sedang mencuci tangannya setelah itu ia menghampiri Kyuhyun.

 

“Sudah menentukan sup pilihanmu?” Sungmin bertanya sambil mengeluarkan beberapa kotak dari dalam kulkas—percuma memerintah Kyuhyun, toh laki-laki itu tidak akan melakukan perintahnya. “Di luar udara sedang dingin, kukira kita perlu makan samgyetang yang panas.”

 

Kyuhyun terdiam sejenak sambil memperhatikan gurunya yang sedang sibuk mengeluarkan ayam dari dalam kotak kemasan.

 

Kyuhyun memperhatikan gerakan tangan Sungmin yang sedang sibuk dengan tubuh ayam itu. Alisnya mengeryit. “Aku ‘kan sudah bilang kalau aku ingin makan sup seafood,” suara Kyuhyun yang bernada pelan itu memecah keheningan.

 

Sungmin menoleh dan ia menatap wajah muridnya dengan jengah, “Tidak ada seafood. Kalau ulang tahun, nanti aku berjanji akan membuat satu set sup seafood dan sup rumput laut untukmu.”

 

Seulas senyuman mengembang di kedua belah bibir Kyuhyun, “Terimakasih, ssaem. Tetapi sepertinya nenek akan membuat sup rumput laut untukku.”

 

“Benar juga,” Sungmin mulai sibuk dengan sayurannya—setelah meletakkan ayamnya yang sudah bersih di sebuah mangkuk batu di atas kompor.

 

Kyuhyun tidak mau ikut campur dalam urusan memasak, dia meragukan kemampuannya sendiri. Karena itu ia memilih untuk duduk tenang di atas meja sambil memperhatikan Sungmin yang ulet memasak untuk makan malamnya.

 

Kyuhyun tidak mengerti kenapa ia jadi senang sekali memperhatikan Sungmin yang sedang sibuk di dapur. Setiap wanita akan terlihat lebih manis kalau memakai celemek seperti itu. Kyuhyun berpikir jika mungkin saja ia bisa menemukan Sungmin berada di dapur rumahnya suatu hari nanti, di pagi hari yang cerah ketika ia baru membuka mata. Dia baru bangun tidur dan bau masakan Sungmin yang enak tercium sampai kamar. Lalu ketika ia membuka pintu kamar, Sungmin yang memakai celemek sedang sibuk memasak di depan pantri dapur.

 

Selamat pagi!

 

Mereka akan melempar ucapan selamat pagi, setelahnya berbagi kecupan mesra untuk awal bagi yang cerah.

 

Mata Kyuhyun terpejam erat dan reflek salah satu kepalan tangannya memukul kepalanya sendiri. Dia sudah berani berfantasi gila, dan buruknya ia membayangkan sesuatu yang macam-macam mengenai gurunya. Kyuhyun merasa menjadi orang paling mesum karena sudah berani memikirkan hal-hal seperti itu.

 

Ah, sebenarnya Kyuhyun memang mesum. Tetapi ia akan merasa jauh lebih mesum jika memikirkan Sungmin sebagai istrinya kelak di masa depan. Lagi pula, apa sih yang diinginkannya dari Sungmin? Kyuhyun hanya tergila-gila dengan perhatiannya. Dan ia berani bersumpah jika tidak ada yang diharapkannya dari Sungmin kecuali rasa peduli itu.

 

“Daripada kau melamun, lebih baik bantu aku membawa mangkuk nasi dan sup ke meja,” Sungmin tiba-tiba berucap sembari meletakkan tumis rebungnya di sebuah piring kecil.

 

Kyuhyun menurut dan ia benar-benar membawa mangkuk-mangkuk itu ke meja makan. Setelah semua sudah beres, Sungmin melepas celemeknya dan duduk di kursi—tepat di hadapan Kyuhyun.

“Apa kau akan terus-terusan makan malam di sini?” Sungmin bertanya ketika tangannya menuang sup ke mangkuk Kyuhyun. Ia membiarkan Kyuhyun melahap makanannya terlebih dahulu walau ia belum mencicipi masakannya sedikit pun.

 

“Kenapa? Ssaem keberatan aku makan di sini?” itu masih pertanyaan acuh dan tidak peduli versi Cho Kyuhyun. Itu berarti ia tersinggung karena pertanyaan semacam itu.

 

“Aku tidak enak dengan nenek. Sesekali kau harus makan masakan nenekmu.”

 

“Setiap pagi aku selalu makan masakan nenek,” Kyuhyun masih bisa menjawab, tetapi mulutnya sibuk mengunyak daging ayam bercampur nasi. “Untuk variasi, malamnya aku makan di apartemenmu.”

 

“Setidaknya, kau harus langsung pulang ke rumah setelah jam sekolah usai,” Sungmin menuturi dengan nada pelan.

 

Kyuhyun meletakkan sumpitnya dan memandang Sungmin dengan tatapan tidak suka, “Nenek lebih senang jika tahu aku berada di sini lebih lama.”

 

“Oh, ya? Kenapa begitu?”

 

Ssaem ‘kan guruku.”

 

“Oh,” kepala Sungmin mengangguk-angguk tanda mengerti. “Lalu bagaimana dengan ibumu?”

 

Kyuhyun sempat terkejut, suatu sisi hatinya tertohok dan menimbulkan denyutan rasa sakit yang menyiksa. Air mukanya sempat berubah menjadi lebih dingin. Tetapi ia berhasil menutupi semuanya dengan baik. “Ibuku tidak pandai memasak,” bohongnya.

 

“Kalau seorang ibu tidak pandai memasak, pasti masakan ayahmu lebih enak ..”

 

Ssaem,” Kyuhyun tidak terima. Kali ini ia membanting sumpitnya di meja dan memandang Sungmin dengan tatapan tajam penuh amarah. “Ketika kita sedang berdua, jangan membicarakan orang lain!”

 

“Aku hanya membicarakan ayah dan ibumu. Kenapa kau semarah itu?” salah satu alis Sungmin naik ke atas.

 

“Kalau kita berdua, hanya kita yang menjadi fokus dalam hal apa pun,” Kyuhyun berucap tanpa berpikir. “Kumohon jangan membicarakan hal lain, ssaem!”

 

OoOoO

 

Kyuhyun baru saja pulang sekitar empat puluh lima menit yang lalu, meningalkan piring bekas makan malam dan sebuah tanda tanya besar di kepala Sungmin. Setelah mereka berbincang hangat tentang sesuatu yang tidak penting sepanjang malam, akhirnya Kyuhyun memutuskan pulang dengan alasan ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Sungmin tidak bisa mencegah karena ia sendiri tidak pantas untuk menahan keberadaan Kyuhyun di sini.

 

Lagi pula, demi apa Sungmin memohon kepada Kyuhyun agar tetap tinggal di apartemennya?

 

Sungmin selalu seperti itu, merasa heran kepada dirinya sendiri tatkala otaknya mulai memikirkan tentang sesuatu mengenai Kyuhyun. Rasanya aneh sekali kalau terus menerus mengingat wajah Kyuhyun ketika ia sendiri. Sungmin tidak pernah mengerti kenapa diam-diam rekaman kejadian yang dilakukannya dengan Kyuhyun selalu berhasil menyelip ke otaknya, lalu tanpa sadar ia kembali memikirkan Kyuhyun.

 

Padahal Kyuhyun hanya murid kesayangan-nya.

 

Apa jangan-jangan ia sudah menganggap Kyuhyun sebagai seorang laki-laki?

 

GILA!!

 

Belum sempat Sungmin meneruskan umpatannya demi menyangkal kata hatinya, dering ponselnya berdering minta perhatian. Sungmin segera melepas sarung tangan karetnya dan menghampiri ponselnya yang tersimpan di tas kerjanya.

 

Cho Kyuhyun is calling ..

 

Sungmin baru tahu kalau pemberitahuan telpon dari ponselnya bisa menimbulkan sengatan listrik bertegangan rendah ke tubuhnya. Ini adalah kali pertama Sungmin merasa bimbang untuk mengangkat telpon dari murid-nya. Mungkin kedengarannya ganjil, tetapi Sungmin benar-benar ingin pergi menghindari panggilan telpon ini.

 

1 missed call from Cho Kyuhyun

 

Sungmin menghela nafas ketika tahu Kyuhyun mengakhiri panggilannya. Dengan begitu ia tidak perlu lari malam-malam mengitari gedung apartemennya demi menghindarinya, bukan? Ia menggigit bibir ketika jemarinya mulai mengetuk-ngetuk layar ponselnya, bibirnya mengerucut ketika matanya menangkap deretan nama Kyuhyun di kontak.

 

Ia tidak perlu menelpon balik demi menjelaskan alasannya tidak mengangkat telpon. Demi Tuhan Sungmin harus menolak pemikiran konyol yang tiba-tiba melesat di otaknya. Sudah untung ia bisa menghindar tanpa campur tangan—tidak mengangkat telpon sampai panggilan itu berakhir dengan sendirinya—dan sekarang otaknya malah kepikiran hal seperti itu?

 

Mungkin otak Lee Sungmin sudah sedikit geser dari tempatnya.

 

Omo!”

 

Ponselnya kembali meraung-raung, dan Sungmin hampir menjatuhkan ponsel pintarnya ke lantai. Karena tidak sempat berpikir, jemarinya menggeser tombol hijau di layar dan suara Kyuhyun yang menyuarakan kata ‘halo’ terdengar beberapa kali.

 

Sungmin tidak punya jalan keluar lain selain menerima telpon kedua itu. Maka dengan berat hati ia mendekatkan earpiece dengan telinganya lalu membalas salam Kyuhyun. “Halo?”

 

Ssaem sedang sibuk?”

 

Pertanyaan semacam itu sudah terlontar di awal pembicaraan mereka, dan Sungmin sempat merutuk karena hal itu. “Ya. Sibuk mencuci piring makan malam yang sudah kau tinggalkan di apartemenku.”

 

Ssaem ‘kan tuan rumah,” kalimat itu terlontar diiringi gelak tawa ringan dari Kyuhyun. “Lagi pula kalau ssaem mau meminta bantuanku, aku bisa membantu.”

 

Geojitmal,” Sungmin berujar ketus dan segera melangkah menuju kamar. “Ada apa menelpon? Kau tidak punya uang membayar bus kota? Kau memintaku menjemputmu kemudian mengantarmu dengan mobil?”

 

“Aku sudah sampai di rumah,” Kyuhyun berucap dengan nada datar, benar-benar menyayangkan persepsi Sungmin yang tidak bertanggung jawab. “Dan sudah bertemu nenek.”

 

Sungmin memutar bola matanya jengah, “Lalu ada apa kau menelpon gurumu malam-malam begini, Cho?” tanyanya dengan nada ketus sembari membuka slip laptopnya.

 

“Aku tidak tahu,” jawaban seperti itu terlontar dan hampir membuat Sungmin berteriak sebal. “Tetapi kurasa aku harus menelpon ssaem.”

 

“Untuk apa?”

 

“Entahlah,” lagi-lagi Kyuhyun menjawab pertanyaan Sungmin dengan jawaban yang kurang jelas. Tetapi laki-laki itu buru-buru menambahkan, “Aku merindukanmu, ssaem.”

 

Sungmin speechless sampai-sampai ia tidak melontarkan tanggapan—seolah ia sedang tersipu, walau ia benar-benar tersipu malu karena ucapan Kyuhyun yang kelewat frontal. Tanpa disadari rona merah menjalar ke pipinya, menyebar ke wajahnya, lalu berhenti di kedua telinganya. Sungmin menelan ludah ketika tahu ada grup drumband yang sedang main musik di dadanya.

 

Salah satu telapak tangannya yang menggantung bebas kini tergelung kuat, dia mencoba menahan gejolak aneh dalam dirinya agar tidak meledak. Sedangkan telapak tangannya yang memegang ponsel, mendadak terasa kaku dan dingin. Dia gugup, tetapi Sungmin menyangkalnya mentah-mentah.

 

Dan tawa renyah Kyuhyun yang terdengar serak membuyarkan segala kegugupan Sungmin. Wanita itu salah tingkah sampai-sampai ia tidak sengaja menyenggol kotak pensilnya sendiri dan membuatnya jatuh bercecer di lantai.

 

Ssaem, kau baik-baik saja?” suara Kyuhyun berseru panik, kali ini terdengar lebih jelas karena didominasi oleh nada khawatir yang kentara.

 

“Oh, ya,” Sungmin segera memungut peralatan tulisnya. “Sudah, ya. Aku harus mandi lalu mengurus pekerjaanku.”

 

“Tunggu, ssaem!” Kyuhyun berseru tidak terima ketika Sungmin selesai mengatakan hal itu. “Aku menelpon ‘kan karena merindukanmu,” laki-laki itu berucap tanpa sungkan.

 

Genggaman tangan Sungmin pada ponselnya semakin mengerat, jangan sampai ia meledak atau pun salah tingkah lagi. Sungmin mencoba menghirup nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu setelah debaran di dadanya berangsur normal, ia berucap, “Lalu apa masalahnya?” nada suaranya terdengar lebih ketus dari sebelum-sebelumnya.

 

Kyuhyun mendengung sebentar, “Kita berbincang sebentar.”

 

“Jangan bertele-tele.”

 

Kyuhyun berdecak, “Seharian ini kita bersama dan ssaem tega berujar dengan nada ketus padaku?”

 

Sungmin memijit pelipisnya menghadapi perlakuan muridnya, “Lalu aku harus bagaimana? Kau bahkan lebih cerewet dariku.”

 

“Nenek sedang berbicara dengan seseorang di telpon,” Kyuhyun tiba-tiba mengatakan sesuatu tentang apa yang terjadi di rumahnya, dia menyebut neneknya. “Dan aku tidak mau mendengar perbincangan nenek.”

 

“Aneh,” seru Sungmin sarkatis. “Nenekmu hanya sedang menelpon seseorang. Dan kau sudah kalang-kabut mencari teman ngobrol karena hal itu?”

 

“Kalau nenek sedang menelpon dan nada suaranya berbisik-bisik seperti itu, dia pasti sedang menelpon seorang bajingan yang tinggal di Jepang,” kata Kyuhyun. “Setelah mereka selesai berbincang lewat telpon, nenek akan kemari. Aku harus punya alibi agar nenek tidak bisa menggangguku.”

 

“Bajingan? Siapa yang kau sebut bajingan?” Sungmin terheran mendengar kosakata buruk dari Kyuhyun.

 

“Orang yang bahkan tidak pantas kusebut namanya.”

 

OoOoO

 

“Tidak bisakah kau membatalkan keputusannya?” nada suara nenek Cho terdengar sangat lirih, berulang kali kepalanya celingak-celinguk—antisipasi bahwa suaminya sudah benar-benar tidur di kamar dan Kyuhyun tidak sedang mengawasinya.

 

Nenek Cho terdiam mendengar jawaban dari sang penelpon, ia menghela nafas. Kerutan di dahinya sudah banyak, tetapi tiap kali ia mendapat panggilan telpon dari-nya, kerutan itu semakin bertambah banyak.

 

“Bagaimana dengan Kyuhyun?” pandangan mata nenek Cho tampak menerawang ke depan. “Dia pasti akan terpukul kalau kau sampai mengabulkan gugatannya.”

 

Nenek Cho mendesah setelah mendengar sang penelpon mengatakan alasannya. Tiba-tiba ia memekik dengan suara yang ditahan di pangkal tenggorokan. “Jangan! Jangan kemari! Biarkan aku yang memberitahu Kyuhyun tentang hal ini,” nada suaranya terdengar lebih tinggi, walau hanya setengah nada. “Secepatnya. Aku tidak bisa gegabah, aga.”

 

Air muka nenek Cho berubah menjadi lebih kelam, “Seharusnya kau mampu mempertahankannya.”

 

Percakapan singkat itu berakhir saat nenek Cho menekan tombol merah secara sepihak. Ia memandang layar ponselnya sejenak lalu mendesah dengan nada berat. Lamat-lamat ia berjalan menuju kamar Kyuhyun, mengetuk pintunya dua kali, kemudian memutar knop pintu. Dia mendapati Kyuhyun sedang berbaring di ranjang sambil berbicara dengan seseorang lewat telpon.

 

Nenek Cho tersenyum, tidak jadi masuk karena takut mengganggu percakapan cucunya.

 

Maafkan ayahmu, Kyu ..

 

TBC

 

Author’s note : Pfft .. ini apa-apaan, sih? Maaf ya karena nggak bisa update kilat. Dan please silent readers, bertobatlah sebelum terlambat(?).

61 thoughts on “Teach for Love | KyuMin | Part 4/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

  1. Kayaknya kyumin itu udah mulai saling jatuh cinta tanpa mereka sadari. Apalagi si kyu yg keliatan banget…….apa ya yg dibicarakan nenek kyu dgn si penelepon????

  2. Oohhh benih benih cinta mulai tumbuh d antara mereka ~~ 🙂
    Orang tuanya kyuhyun mau cerai ya… kasian kyuhyun korban broken home…
    Ok gomawo chingu ff nya ^_^
    Saranghae~~

  3. kyumin semakin dekat
    sungmin sudah mulai menganggap kyuhyun
    sebagai laki-laki ciatciat..
    itu yg telpon ayahnya kyu mau cerai yaa?
    kyumin momentnya dibanyakin yaa..
    next chapter ditunggu^^

  4. kasihan kyu jadi korban . . . . . Apakah kyumin belum merasakan bahwa mereka berdua saling mencintai. . . . . Jdi penasaran kelanjutan ffnya. . . . . .

  5. Oh kyumin sbnrny uda ad rasa cm blm nyadar,,,
    Ortu kyu cerai ap kyu bkal blik ke jepang???
    Jiyoo semgt buat lnjtin.
    Likelike

  6. akhirnya ffnya lanjut juga hehehehe

    lanjut, makin seru aja nih ffnya chingu aku nunggu banget loh lanjutannya dan sekarang udh lanjut seneng banget😀

    wah apa ya kira2 alasan ayah kyuhyun berpisah dengan ibunya kyuhyun???

    adakah alasan yg lebih spesifikasi???

    ciiieee…sungmin kau sepertinya sudah salah tingkah nih atas sikap kyuhyun :p

  7. Haduh kyumin udah mulai saling suka ya ? Haha
    sebegitukah kyu benci sma orangtuanya sampai manggil kyak gtu? Kasian kyuhyun😦

  8. kyumin moment love you…
    mereka makin deket aja..ming juga udah mulai dag dig dug tuh di rayu kyu hehe…
    lanjutt thor ^ ^

  9. kl ga ada kata “kyu suka perhatian min nd kyu itu murid kesayangan min” aku bakal ngira mereka udah pacaran loh.
    kyu tergoda ama jari kaki????
    pengen kyu curhat masalah keluarganya ke sungmin biar mereka makin dkt nd jth cinta deh. hahaha ^^

  10. Aduh sungmin baik bgt ya, muridnya ‘ngegemesin’ gt ttp aja diperhatiin
    Jd pengen punya dosen model gt deh *eh hha
    Lanjuut!

  11. akhirnya update jg chinguu , hahhaha
    kya kyaaa gimana kelanjutannya KyuMin nih ?

    aduhh kyu itu mah bukan haus akan kepedulian , tp suka kyu suka!

    ditunggu chinggu chapter dimana kyumin saling sadar /?

  12. kyukyu…lu tu udah jatuh cinta sma umin cuma lu-nya aj yg belum sadar…
    ayo dong kyu…sadar…sadar!!! buruan tembak umin….ayo tembak…!! tar keburuan si kuda…#plakkkkk

  13. acieeee~ yang udah rindu rindu an…..mulai ada rasa nih ..uminn…

    author buat mereka jadian dong…tapi tetep ada acara adu mulut….aku suka kkalo mereka ngomong ga mau kalah…haha…

    oke lanjutt ya ..fighting

  14. duh yang udah ngebayangin jadi suami istri keke *toelKyu
    kasihan kyuhyun… kekurangan kasih sayang T.T

    lanjutt lanjutt

  15. Ya ampun nasibmu sungguh malang, aq gak tega kyuhyun menderita seperti itu….
    Nikahkan aja kyuhyun ama sungmin….

  16. Ming udah mulai ada rasa2 nih sama Kyu~~
    Sebenernya Kyu itu suka dalam artian cinta sama Ming atau cuma suka akan perhatiaanya Ming doang???bingung
    Orangtuanya Kyu akhirnya bener2 akan bercerai??
    Wahh ceritanya makin buat penasaran, ditunggu chap depan ^ ^

  17. aigo…. tulisan yg udh dtulis panjang2 malah ilang tak berbekas. huhuhu T____T moodnya jd ilang nih.

    hubungan kyumin makin dekat dri hari ke hari. yg pasti kyu jg smkin susah jauh dri ming. ming udah dianggap bgt pemberi kasih syang yg emang dbutuhin cho. tapi gara2 hubngan yg kayak gitu malah buat kyu susah nyadari perasaanya karna blur antara rasa cinta sama perhatian.

    ugh… liat wonmin gemes bgt deh, maunya apa coba. itu siwon sbanrnya suka sama sungmin atau cuma tebar pesona aja, kok gak ada perkmbangan dri 4 bulan yg lalu. kalo bisa sih siwon kalo emang suka bisa ambil sikap, biar ming bingung sama perasaannya. kan di chap ini dia msh suka sama siwon. nah biar abg kyu jga klimpungan noh, biar cepat nyadar dia cinta sma ming atau gak. huahahaha….

    gak tau lg mo ngetik apa gegara speechles tulisan yg dketik ilang. nasib bgt dah… smpr ketemu chap depan aja deh ;(((

  18. Wah makin seru aja nih ga sabar liat kyumin menyadari prasaan mrka msing2. Ditunggu ya moment2 sweet nya kyumin yg lain🙂

  19. Hah min lucu kalau sedang tersipu ….
    Hah min dah mulai jth cinta ma kyu….
    Makin romantis aj ….
    So sweet…….
    Tpy sbnrnya ortu kyu itu knp mereka slll bertengkar kasian kyu….
    Kanjut thor makin penasaran aja….

  20. yeay update seneng bgt thor!!!! aku kok kurang ngerti ya yg pas kyu bilang tentang jari kaki sungmin menggoda dia. ga ngerti maksudnya. ada typo tapi ga ngeganggu bgt si😀 next

  21. Suitsuit. . . Yang mulai tumbuh benih2 cinta. Dan akan makin besar kemungkinan kalau ortu Kyu sampai cerai. Yah apapunlah yg penting aku suka interaksi Kyumin d ff ini. AuthorX daebak

  22. Haahahaha telat bgt aku bacanya baru skrng xD tp gpp deh daripada enggak sama sekali. Kayanya kehidupan kyuhyun tuh suram gitu ya orang tuanya pasti mau cerai itu ya ??? Ahh kasian dirimu bang,sabar ya ada sungmin ini ㅋㅋㅋ

  23. kyuhyun egois membutuhkan sungmin karena hanya butuh perhatian sungmin tapi tidak membiarkan sungmin dekat dengan siwon maksudmu apa kyu ah elahhh >///<

  24. Kyu bener2 merasa nyaman dgn sungmin demikian juga min kyknya
    krn min juga selalu kepikiran kyu
    hanya saja blm mau mengakui bahwa mrk sama2 suka
    kasian kyu ortunya mau cerai kyknya… dia memang kyknya sakit hati dgn ortunya

  25. Just read! Guru dn murid kkk good fic ! Tapi kyakynya bkalan lebih bagus kalo kyuhyun nya ga dibuat se frontal atau se byeontae itu ‘-‘ gtau knapa rasanya ga nyaman aja kalo.jadi sungmin nya ‘-‘ itu aja saran dr aku, update soon thor🙂

  26. Kyu kyakx udh mlai ska sma ming tpi kyu gk sdar sma prsaanx brbda dg ming klu ming kyakx sdh tau klu ska sma kyu.. Tpi apa sbnarx yg trjdi dg ayah kyu smpai nenekx mnta maaf ya? Hanya chap slnjutx yg mmpu mnjwab… LANJUUUUT!!!!!

  27. kyu php nih. bener gk cinta ming. bener cuma suka rasa peduli ming.
    nanti nyesel loh kalau bilang cuma suka perhatian ming…

    ahh gk tega kangetuk cerai… sebenarnya yg salah siapa.. kangin selingkuh???

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s