Teach for Love | KyuMin | Part 3/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

Teach for Love

 

Genre : Romance , Drama

 

Rate : T+

 

Pairing : KyuMin

 

Part : 3/?

 

Warning : GENDERSWITCH, Miss Typo

 

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi.Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

 

Summary : Dia baru saja pindah dari Jepang dan di sekolah barunya ia dihadapkan oleh seorang guru sexy dan teman-teman abstrak juga pengrusuh yang peduli. Di rumah dia bertemu seorang gadis manis anak tetangga yang menjadi tipe idealnya. Awalnya dia acuh, tetapi sikap jahil yang sudah mengakar di jiwanya membuat segala urusan menjadi semakin rumit. Dan karena hal itu, dia mulai belajar untuk mencintai sesuatu yang benar-benar diperlukannya.

Awalnya Kyuhyun tidak tahu jika ia punya tetangga sebelah yang cantik—dan amat-sangat manis. Mereka bertemu sekitar seminggu lalu saat pulang sekolah, tepat di depan gerbang rumah. Kyuhyun yang duluan menyapa dan bertanya, karena ia saat itu benar-benar terpesona dengan kecantikan wajahnya. Dan tanpa diduga gadis itu menjawab dengan nada lembut yang lemah-gemulai.

 

Seo Joo-hyun-ibnida.

 

Kyuhyun masih mengingat kalimat pertama yang meluncur dari Seohyun untuknya. Dia bahkan masih mengingat nada suaranya dengan begitu jelas. Cantik, anggun, dan menarik. Gadis itu memiliki sepasang mata rubah yang elegan, menyiratkan tatapan sayu dari maniknya yang berwarna hitam kelam. Bibirnya tipis, berwarna merah muda dan akan tampak sangat menarik jika melengkung melukis senyum. Pipinya tembem, ada hiasan rona merah ketika mereka berbincang sebentar kemarin.

Waktu itu Kyuhyun hanya sempat bertanya siapa namanya, setelah itu mereka masuk ke rumah masing-masing. Lalu esoknya, berbekal pada ketidak sengajaan, mereka berpapasan lagi ketika akan berangkat sekolah. Saat itu Kyuhyun mengira jika Dewi Fortuna sedang memihak kepadanya. Dan detik itu juga ia segera menerima keberuntungan itu dengan tangan terbuka. Kyuhyun menawarkan untuk berangkat bersama, dan Seohyun setuju begitu saja. Di awal pagi itu, mereka kembali berbincang sedikit lebih banyak.

 

Dan udara pagi itu terasa begitu singkat baginya. Mereka berpisah ketika Seohyun sampai terlebih dulu di sekolahnya, dan Kyuhyun harus berjalan beberapa blok lagi demi mencapai gerbang sekolahnya. Sebelum berpisah, Kyuhyun sempat berucap bahwa besok mereka harus pergi ke sekolah bersama seperti hari ini. Seohyun hanya berucap ya dan mereka benar-benar berpisah.

 

Dua hari ke depan, ketika pulang sekolah, Seohyun memintanya untuk datang ke rumahnya. Katanya ia akan membuat kue dan bermaksud mengundang Kyuhyun untuk minum teh di bangku taman rumahnya sambil menikmati udara sore hari. Dan itu adalah saat pertama bagi mereka untuk berbincang lebih banyak, tanpa batas waktu, dan leluasa. Banyak sekali topik yang dibicarakan, sampai-sampai mereka larut dalam perbincangan sampai pukul tujuh malam. Kyuhyun pamit pulang dan Seohyun berjanji akan mengundang Kyuhyun untuk minum teh lagi suatu saat. Tentu saja Kyuhyun menanggapinya dengan senang hati.

 

Kesempatan bagus, pikirnya.

 

“Kyuhyun, Kyuhyun, Cho Kyuhyun.”

 

Satu-satunya orang yang berani memanggil nama Kyuhyun tiga kali berturut-turut adalah laki-laki ikan bernama Lee Donghae itu. Pemuda tampan yang jago menari itu berjalan dengan langkah terhuyung-huyung ke arah Kyuhyun, lalu ia berdiri tepat di hadapan Kyuhyun sambil berkacak pinggang.

 

“Sebenarnya kau itu mengincar siapa, sih?” lagi-lagi Donghae bertanya tentang suatu hal yang tidak begitu penting—tetapi asal tahu saja, itu adalah hal penting untuknya (seorang).

 

Kyuhyun mendengus, “Aku sudah mengatakan berulang kali kalau aku tidak mengincar guru cantikmu itu, Lee Donghae ..”

 

“Kalau tidak mengincar, kenapa setiap hari kau selalu menumpang mobilnya?” Donghae masih berusaha menyelidik.

 

“Aku memang punya urusan dan kau tidak perlu khawatir seperti itu. Kau berlebihan,” Kyuhyun meletakkan pensilnya, berucap sebentar sembari berusaha tidak melirik soal matematika yang ada di hadapannya demi meladeni Donghae. “Lagi pula aku sedang dekat dengan gadis lain.”

 

Mata Donghae berubah nyalang saat gendang telinganya ditembus oleh pernyataan tidak terduga dari Kyuhyun. “Sedang dekat? Oh, gadis yang pernah kau ceritakan sebelumnya?”

 

“Hm,” Kyuhyun menggumam seraya menganggukkan kepala.

 

Daebak,” pujian itu meluncur begitu saja dari Donghae. Kemudian telapak tangannya menepuk-nepuk pundak sahabatnya—ia menganggap Kyuhyun sebagai salah satu sahabatnya walau Kyuhyun tidak menganggapnya demikian. “Semoga berhasil, ya.”

 

OoOoO

 

“Lee Ssaem!”

 

Seseorang memanggil marga Sungmin, membuat wanita itu membalikkan badan demi menatap siapa yang memanggil namanya. Wanita itu mengulas senyuman tipis, membungkukkan badan sejenak.

 

“Choi ssaem,” sapanya balik. Senang sekali melihat tubuh tinggi Siwon tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya. “Ada apa?”

 

Siwon terlihat kikuk untuk beberapa saat, tetapi setelahnya dia berdehem. “Kau tidak membawa mobil, ‘kan? Bagaimana kalau sore ini kau pulang bersamaku?”

 

“Eh?” Sungmin sedikit tersentak dan kaget. Sebenarnya ia ingin langsung mengiyakan penawaran Siwon, tetapi entah mengapa pikirannya langsung melesat ke wajah Kyuhyun. Ya, ke wajah muridnya itu. Sebelum-sebelumnya ia selalu pulang bersama Kyuhyun dengan menumpang bus—atau mobil pribadinya, setelahnya ia memberi kursus singkat Bahasa Korea kepadanya.

 

Tetapi untuk hari ini, tepat ketika bel berbunyi, saat Sungmin baru keluar dari kolam renang in-door yang ada di sebelah lapangan basket, ia bertemu Siwon. Kemudian laki-laki itu menawarinya pulang bersama dengan mobil mewah yang baru satu bulan keluar dari showroom. Ini kesempatan bagus—karena Sungmin selalu senang jika Siwon memberinya tumpangan gratis yang nyaman.

 

Tetapi, sepertinya ia tidak bisa bilang ya begitu saja. Kalau ia menumpang Siwon, lalu Kyuhyun?

 

Memangnya dia anak TK? Kyuhyun bisa pergi ke apartemenku sendiri dengan menumpang bus kota. Suara batin Sungmin menyahut sengit, tetapi bibirnya merekah bak kuncup bunga di musim semi. Matanya menyipit karena dua pipinya terangkat, senyumnya terlihat cerah sekali. Ia mengangguk dengan antusias, “Ne, tentu saja. Terimakasih Choi ssaem.”

 

Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan menuju kantor guru, mengemasi barang masing-masing, lalu berpamitan bersama ketika akan meninggalkan sekolah. Siwon dan Sungmin benar-benar pulang bersama, membuat sebagian guru laki-laki atau pun perempuan berdecak iri karenanya.

 

Sungmin hanya mengulas senyuman tipis. Tetapi beberapa detik setelah ia berada di dalam mobil, ia kembali teringat pada Kyuhyun. Salah satu lengannya merogoh tas jinjingnya lalu mengetik sebuah pesan singkat untuk Kyuhyun. Oh, tentu saja sedikit-banyak ia berharap Kyuhyun tidak usah datang ke apartemennya karena ingin Siwon bisa tinggal lebih lama dengannya. Bayangkan betapa bagusnya kesempatan itu; bisa berduaan di satu ruangan tertutup dengan guru tampan Choi Siwon itu.

 

“Lee ssaem, apa akhir-akhir ini kau sibuk sekali?” tiba-tiba Siwon membuka pembicaraan, merobek keheningan dengan suaranya yang besar dan menawan.

 

Sungmin tersentak, tetapi ia menoleh ke arah Siwon. “Oh, tidak. Seperti biasanya saja.”

 

“Kudengar kau memberi les privat untuk anak baru itu,” Siwon mengucapkan suatu hal baru yang akhir-akhir ini sedang heboh dibicarakan oleh murid-murid di kelas. Bola matanya melirik sekilas ke arah Sungmin yang duduk di sebelahnya. “Benarkah?”

“Aku benar-benar tidak tahan mendengar logat bicaranya yang aneh seperti itu. Jadi aku memberinya les pribadi,” alasan yang entah berasal dari mana itu meluncur begitu saja lidahnya—Sungmin tidak sempat berpikir logis jadi ia langsung berucap seperti itu. “Oh, ya. Kemarin aku membuat cake stroberi. Kau mau sepotong?”

 

“Oh, boleh,” Siwon menanggapi walau ia tidak terlalu fokus karena pandangannya benar-benar berpusat pada keramaian jalan. Sebelah tangannya bergerak memindah porsneling dan sebelahnya yang lain memutar stir ke kiri. “Pastikan kalau cake buatanmu benar-benar enak.”

 

Sungmin kembali tersenyum, kali ini lebih menyilaukan. “Kau mau salad buah? Kemarin aku juga baru beli banyak.”

 

OoOoO

 

Kyuhyun melangkah cepat-cepat setelah keluar dari lift yang membawanya sampai ke lantai sepuluh. Ia berkacak pinggang setelah beberapa kali mendengus sepanjang perjalanan. Oh, ia sudah marah besar perihal pergi ke apartemen Sungmin sendirian dalam kasus ini.

 

Sepulang sekolah tadi, ia mendapat pesan singkat dari Sungmin yang mengatakan bahwa Siwon memberi tumpangan gratis. Lalu, di akhir kalimat ada kalimat mengejutkan yang membuat mood-nya anjlok sampai jauh di batas minimum.

 

‘Kau ke apartemenku? Pergi sendiri, ya? Aku menumpang mobil Choi ssaem. Oh, ya. Jangan terburu-buru, aku harus menjamu Choi ssaem dulu. Sampai bertemu di apartemen!’

 

Kyuhyun tidak mau menuruti kata-kata Sungmin yang menyuruhnya untuk tidak terburu-buru. Buktinya ia malah lari sepanjang halte bis ke mari. Kyuhyun hanya tidak suka kalau ia sudah terdahului oleh gurunya yang sok tampan itu—Choi ssaem maksudnya.

 

Dia tidak suka. Lagi pula menurutnya Choi ssaem itu tidak pantas bersanding dengan Sungmin. Laki-laki itu memiliki tatapan mata mesum tiap kali memandang Sungmin. Kalau saja Sungmin makanan dengan krim lembut rasa jeruk atau lemon, mungkin yang pertama kali menyomot dan memakannya adalah Siwon.

 

Enak saja. Sungmin itu makananku! Batin Kyuhyun kembali berucap dengan sinis. Laki-laki itu memencet tombol bel berulang kali, berharap Sungmin akan langsung membuka pintu untuknya. Oh, ayolah. Dia bisa mengebom pintu itu jika Sungmin tidak segera membukanya. Lagi pula ia haus sekali setelah berlari. Dia butuh air minum dan pendingin ruangan.

 

Enam kali memencet bel, tanpa berbicara lewat interkom, pintu itu terbuka dan sosok gurunya yang cantik berdiri di baliknya.

 

Ssaem, lama sekali,” Kyuhyun menggurutu lalu nyelonong masuk. Pandangan tajamnya langsung jatuh pada sosok Siwon yang duduk santai di sofa—mereka berpandangan dan Siwon memberi senyuman tipis.

 

Iuh, menjijikkan. Pikir Kyuhyun. Laki-laki itu segera melepas sepatunya dan ikut duduk di sofa—berseberangan dengan Siwon.

 

“Bukankah aku sudah memberi tahu jangan terburu-buru kemari?” Sungmin sudah kembali dari pintu dan memandang wajah muridnya dengan tatapan kurang suka.

 

“Aku haus. Aku berlari dari halte ke mari untuk menghindari fans fanatikku,” Kyuhyun berceloteh tanpa tahu artinya—mengacuhkan kalimat Sungmin barusan.

 

“Fans fanatik?” Siwon menimpali.

 

“Begini-begini aku punya fans fanatik yang selalu membawa kamera DSLR. Terkadang aku juga harus mengambil foto dengan kamera polaroid milik mereka,” Kyuhyun meneruskan ucapannya—walau itu bohong seratus persen. Bola matanya bergerak ke kanan dan jatuh pada wajah cantik milik Sungmin yang terbubuhi gurat sebal. “Ssaem, aku haus sekali.”

 

“Masuk ke dapur dan cari sendiri minumanmu. Tunggu aku di sana, oke?”

 

Sungmin memberi perintah dan Kyuhyun tidak mau berdebat, jadi ia langsung pergi ke dapur dan mengambil jus jeruk dari dalam sana. Ia mengambil garpu mungil dan ikut menyomot potongan terakhir cake stroberi yang tergeletak di atas meja, duduk diam di sana sambil menguping pembicaraan dua gurunya di ruang tamu.

 

“Sepertinya kalian sudah akrab.” Siwon kembali mengawali pembicaraan setelah sang pengrusuh (baca: Kyuhyun) sudah pergi meninggalkan mereka berdua seperti sedia kala.

 

“Hanya sebatas guru dan murid, tentu saja,” Sungmin mengelak dengan suara lembut.

 

Kyuhyun mengeram. Itu jawaban yang tidak disukai oleh Kyuhyun.

 

“Benarkah? Oh, aku baru ingat kalau tipe idealmu itu Kangta. Sedangkan muridmu itu sama sekali tidak mirip dengan Kangta,” Siwon tertawa dengan suara besar.

 

Sungmin mengangguk, “Pacarku harus setampan Kangta.”

 

“Kukira aku lebih tampan dari Kangta.”

“Uhuk!” Kyuhyun terbatuk ketika gendang telinganya ditembus oleh pernyataan tidak bermutu dari Siwon. Ia ingin tertawa, tetapi kunyahan cake di tenggorokannya tiba-tiba berontak dan ia jadi tersedak.

 

“Ya. Choi ssaem memang lebih tampan dari Kangta.”

 

Buruknya, Sungmin malah membenarkan pernyataan itu. Kyuhyun buru-buru minum jus jeruk yang ada di sampingnya.

 

“Lee ssaem, lain kali kau kuajak ke rumah, ya?”

 

“Untuk apa?”

 

“Sebenarnya, dari dulu aku ingin mengundang Lee ssaem makan malam di rumah. Aku akan berupaya agar ayah dan ibuku ada di meja makan.”

 

“Choi ssaem ..”

 

APA-APAAN?!

 

Ssaem!” Kyuhyun tidak tahan dan langsung bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah ruang tamu dan menghampiri Sungmin di sana. “Tidak mungkin aku terus duduk di sana seorang diri dan menunggu kalian selesai berbincang. Aku harus segera pulang dan mengerjakan pekerjaan rumah dari Bong ssaem.”

 

Sungmin terkejut karena tiba-tiba Kyuhyun muncul dan menghancurkan semua fantasi gilanya bersama Siwon. Ia terhenyak dan ingin sekali marah, tetapi Siwon masih di sini sehingga ia memilih untuk menahan amarahnya dan berjanji akan memukul kepala Kyuhyun nanti.

 

“Sepertinya aku harus pergi. Kau benar, muridmu itu harus segera menyelesaikan les bahasanya denganmu,” kata Siwon tiba-tiba, lebih memilih mengalah daripada harus berdebat dengan muridnya yang masih labil itu. Laki-laki itu bangkit dan mengambil jasnya yang semula tergeletak tak berdaya di atas sandaran sofa. “Aku pergi.”

 

“Maaf. Seharusnya kita bisa berbincang sedikit lebih lama. Aku berjanji akan membayarnya lain kali. Hati-hati, Choi ssaem,” kata Sungmin.

 

Dan Siwon benar-benar pergi dari apartemen itu, meninggalkan Sungmin dan Kyuhyun berdua dalam satu ruangan yang sepi. Sungmin kembali menjatuhkan bokongnya di sofa, menelangkup wajahnya, dan berusaha menenangkan amarahnya yang serasa akan meledak—tentu saja kepada Kyuhyun.

 

Sedangkan Kyuhyun yang tahu Sungmin kembali duduk di sofa malah berkacak pinggang. Seharusnya Sungmin menghampirinya ke dapur, bukannya bertingkah seperti itu. Dengan cepat Kyuhyun melangkah menuju ruang tamu.

 

Ssaem!”

 

“Apa lagi?!” suara Sungmin terdengar sedikit lebih keras, tentu dengan nada membentak yang tidak asing. “Bertingkah sopanlah kepada gurumu, Kyu!”

 

Kyuhun mengerutkan dahi. “Waeyo?”

 

Sungmin memijat pelipis kepalanya, “Baiklah. Kalau begitu mulai sekarang kau tidak perlu ke apartemenku. Bukankah bahasa korea-mu sudah jauh lebih baik?”

 

Alis Kyuhyun melengkung tajam, “Kenapa ssaem memutuskan semuanya seperti itu?”

 

“Dengar, Kyu. Aku tidak pernah suka jika kau tidak menuruti perkataanku. Aku gurumu dan kau muridku. Jadi aku berhak mengaturmu seperti itu, mengerti?”

 

Sungmin menghela nafas lalu melanjutkan, “Besok pagi, minta maaflah pada Choi ssaem.”

 

Mwo?” Kyuhyun terkejut. “Kenapa harus begitu?”

 

“Kau sudah mengusirnya secara tidak langsung dari apartemenku, Kyu!”

 

“Aku tidak mengusirnya! Ssaem saja yang ingin Choi ssaem tetap berada di sini, lebih lama dan lebih lama lagi sehingga kalian melupakan aku!”

 

“Kyuhyun-ah!”

 

“Aku tidak akan meminta maaf!” Kyuhyun memutuskan untuk mengambil tasnya di dapur dan segera kembali. Ia memandang wajah Sungmin dengan tatapan tajam, “Kalau ssaem ingin berhenti mengajariku, aku akan menurut! Tetapi jika aku harus meminta maaf kepada guru bermuka dua itu, aku tidak akan sudi! Aku pergi!”

 

OoOoO

 

Kyuhyun terpaksa keluar dari apartemen Sungmin, menunggu hujan reda di lobby seperti orang bodoh. Ia tidak mau kembali walau ia sendiri kedinginan dan butuh jaket hangat demi menjaga suhu tubuhnya tetap stabil. Tetapi, ia cukup tersinggung dan harga dirinya melarangnya untuk kembali. Sehingga ia memutuskan untuk menahan hawa dingin yang menerpa.

 

Kyuhyun tidak mau menerobos hujan. Karena jika ia melakukan itu, bisa-bisa besok ia terkena demam. Ia tidak berbohong perihal masalah fisiknya yang lemah—dia memang rentan sakit. Itu salah satu alasan mengapa neneknya begitu perhatian kepadanya. Karena itu ia lebih memilih untuk berdiri di depan pintu keluar gedung apartemen, semenjak tiga jam lalu.

 

Drrt .. Drrt ..

 

Ponsel Kyuhyun bergetar, meminta perhatian dari sang pemilik. Kyuhyun segera merogoh sakunya dan membuka pesan baru yang mampir ke nomornya.

 

Dimana kau? Nenekmu menelpon dan mengatakan kau belum pulang.

 

Kyuhyun memilih untuk mengacuhkan pesan singkat itu. Tetapi beberapa detik setelahnya, nada deringnya meraung-raung. Kyuhyun ingin mengacuhkannya lagi, tetapi nyatanya ia menerima panggilan telpon tersebut.

 

“Halo?”

 

“Sekarang kau ada di mana? Kenapa tidak pulang langsung?”

 

“Berhentilah mengkhawatirkanku dan katakan pada nenek kalau aku tidak mau pulang kehujanan. Kututup!”

 

Kyuhyun benar-benar menutup telponnya setelah ia mengucapkan kalimat penting kepada Sungmin. Ia membuka risleting tas punggungnya, melempar ponselnya ke dalam dan menutupnya—dia tidak ingin mendengar nada dering telponnya. Kyuhyun kembali menegakkan lututnya yang mulai terasa pegal, telapak tangannya menepuk-nepuk pahanya yang kaku.

 

“Hatchim!”

 

Kyuhyun bersin, dan itu pertanda buruk. Hidungnya mulai mampet dan tiba-tiba kepalanya terasa pening. Kyuhyun menggerutu, padahal ia tidak terkena air hujan tetapi tubuhnya sudah bereaksi berlebihan seperti ini.

 

“Kyuhyun!”

 

Nasib buruk apalagi ini? Batinnya memprotes ketika ia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Kyuhyun pura-pura tidak mendengar dan tetap dalam posisinya, sambil menggosok hidungnya yang terasa gatal.

 

“Kyuhyun-ah!”

 

Orang itu masih bersikeras memanggil nama Kyuhyun, kali ini tepukan pelan mendarat di pundak Kyuhyun.

 

“Astaga, jadi kau berdiri di sini semenjak tadi?” nada suaranya terdengar penuh keterkejutan. “Ayo kembali ke apartemenku dan hangatkan tubuhmu terlebih dahulu. Kita bisa bicarakan masalah tadi setelah kau minum coklat hangat buatanku.”

 

Kyuhyun bergeming, “Tidak usah, ssaem. Aku akan menunggu sampai hujan reda dan segera pulang setelahnya.”

 

“Tidak boleh. Nenekmu benar-benar takut kau akan jatuh sakit kalau sampai badanmu kena air hujan,” Sungmin mencoba membujuk.

 

“Pinjamkan aku payung dan jas hujan,” Kyuhyun memutuskan walau dengan berat hati—lima persen dari harga dirinya melayang-layang di udara karena sudah mengatakan permintaan itu.

 

Andwae,” nada datar dari Sungmin terdengar sebagai jawaban. “Kau tidak dengar apa kataku, ya?”

 

“Aku tidak mau kembali ke apartemenmu.”

 

Sungmin berdecak, “Berhenti bertingkah kekananak-kanakan seperti itu, Cho Kyuhyun! Kau tidak malu dengan wajahmu itu?” suara Sungmin terdengar penuh tekanan.

 

Desauhan terdengar meluncur dari mulut Kyuhyun, “Lalu sekarang aku harus ikut ke apartemenmu dan besok pagi tetap pergi meminta maaf pada Choi ssaem?”

 

Kesabarannya sudah terkikis habis dan Sungmin tidak tahan melihat wajah pucat Kyuhyun di hadapannya. Ia melepas jaket parasutnya dan segera melingkupi punggung lebar Kyuhyun dengan kain hangat itu. “Nanti kita berdebat setelah kita berada di ruangan yang lebih hangat.”

 

Sungmin segera melangkah dan membimbing langkah kaki muridnya menuju apartemennya yang berada di lantai sepuluh. Dia tidak berucap lagi karena sedang kesal setengah mati, tidak mungkin ia mengajak Kyuhyun bicara—bisa-bisa mereka kembali berdebat. Lagi pula Sungmin tidak betah dengan udara dingin di luar. Hujan lebat sedang terjadi, tentu saja mereka bisa beku jika tidak segera pergi ke dalam ruangan berpenghangat.

 

Lagi pula Kyuhyun sudah tampak pucat, tidak mungkin Sungmin membiarkan lelaki itu terus berada di lobby. Sungmin mempercepat laju langkah kakinya, membuat mereka lebih cepat sampai. Begitu mereka masuk ke dalam apartemen Sungmin, Sungmin segera mengayunkan kakinya menuju dapur.

 

“Apa kau masih kedinginan?” tanya Sungmin begitu ia selesai membuat dua mangkuk cokelat hangat dengan uap mengepul.

 

Kyuhyun tampak menggesek dua telapak tangannya yang pucat, meniupnya sesekali. Ia menoleh ke arah Sungmin, “Aku hanya butuh obat penghilang sakit kepala.”

 

“Kenapa? Kepalamu pusing?”

 

Kepala Kyuhyun mengangguk dan dia berdesis, “Sakit sekali.”

Sungmin segera mengambil kotak obat yang selalu tersimpan baik di laci dapur nomor tiga. Ia membawanya dengan segelas air mineral hangat yang baru keluar dari mesin dispenser. Ada dua tablet obat pusing kepala yang dibelinya sekitar dua minggu lalu. Ia membuka salah satunya dan memberikannya kepada Kyuhyun.

 

“Apa kau baik-baik saja?” Sungmin tampak khawatir, makannya ia bertanya.

 

Kyuhyun kembali mengangguk setelah ia menelan pil pahit yang diberikan oleh Sungmin. Kepalanya terasa berdenyut, sepertinya ia benar-benar sakit karena terlalu lama berada di luar—apalagi kulitnya terkena terpaan embun air hujan. Kyuhyun ingin meringkuk di dalam selimut dan bergelung di atas ranjangnya. Tetapi kenyataannya ia sedang tidak berada di rumah.

 

“Aku ingin pulang, ssaem,” Kyuhyun berucap dengan nada lamat-lamat.

 

“Tidak boleh,” Sungmin menahan salah satu lengan Kyuhyun dan mencengkeramnya erat. “Di luar sedang hujan lebat. Lagi pula tidak mungkin mengantarmu dengan mobil,” Sungmin memberi alasan demi menahan keberadaan Kyuhyun.

 

Nafas Kyuhyun terdengar lebih berat dari sebelumnya, “Aku .., kepalaku ..”

 

“Kau harus rebahan,” Sungmin memutuskan untuk menuntun tubuh muridnya menuju satu-satunya kamar di apartemen itu. “Ayo, angkat tubuhmu.”

 

Kyuhyun tidak bisa melakukan apa pun kecuali menuruti apa kata gurunya. Sekuat tenaga ia mencoba menggerakkan otot-otot tubuhnya, melangkah lamat-lamat menuju kamar tidur dengan ranjang mungil berseprei merah jambu. Dia bisa merasakan lengan hangat milik gurunya yang melingkar di sekitar pundaknya, menyalurkan segenap kekuatan yang menahan jiwanya untuk tetap bertahan di raganya.

 

Begitu punggungnya yang kaku itu sudah menyapa lembutnya permukaan ranjang, Kyuhyun memutuskan untuk menjatuhkan tubuhnya. Dia sudah tidak bisa bertahan lebih lama, kelopak matanya sungguh terasa berat. Ia tertidur, tetapi telinganya tetap menangkap suara-suara berisik yang dihasilkan oleh pergerakan Sungmin.

 

Ssaem,” Kyuhyun menggerutu dengan suara tidak jelas, membuat Sungmin cepat-cepat melangkah menghampiri ranjang dengan baskom berisi air hangat di tangannya.

 

“Ya?” Sungmin menimpali sambil menyelup selembar handuk kecil kering ke dalam air. Dengan cekatan tangannya bergerak membasuh peluh di dahi lebar Kyuhyun.

 

“Berhenti bergerak. Kau menggangguku, ssaem,” kata Kyuhyun—kelopak matanya sedikit terangkat dan bola mata kelamnya mencoba mengintip dari celah tipis di antaranya. “Aku tidak bisa tidur kalau ssaem terus mondar-mandir dan menimbulkan suara berisik seperti itu,” mulutnya mulai berubah menjadi cerewet.

 

Dahi Sungmin mengkerut ketika ia mendengar keluhan Kyuhyun, “Baik. Setelah aku mengompres-mu, oke?” tangan Sungmin masih bergerak meraba-raba bagian tubuh Kyuhyun yang sekiranya perlu dikompres. Beberapa detik setelahnya ia mengerucutkan bibir, “Tetapi bajumu lembab. Lebih baik kau ganti baju dulu.”

 

“Tidak mau,” tubuh Kyuhyun menggeliat.

 

“Apa perlu aku yang mengganti bajumu?” Sungmin menggoda. “Aku ada piyama yang ukurannya mungkin pas denganmu. Bagaimana? Tidak mungkin aku membiarkanmu tidur dengan baju lembab seperti ini.”

 

“Tidak, ssaem.”

Sungmin beranjak dan pergi menghampiri almari pakaian yang berdiri gagah di samping pintu kamar mandi. Ia mengubek lipatan baju yang ada di sana dan menemukan satu stel piyama berwarna biru laut milik kakak sepupunya yang tertinggal semenjak setengah tahun lalu.

 

“Ayolah, Kyu.”

“Tidak!”

 

“Kyuhyun!”

 

Mereka sempat berdebat selama beberapa menit lamanya karena keduanya memang keras kepala. Sebenarnya tidak ada yang menang, tetapi Kyuhyun memilih untuk mengalah dan mengganti pakaiannya dengan piyama pilihan Sungmin—tentu di kamar mandi. Setelahnya ia benar-benar tidur dengan tidak sopannya di ranjang milik Sungmin, melupakan fakta bahwa tidak ada tempat tidur lain untuk Sungmin selain di sofa (setidaknya untuk malam ini saja).

 

OoOoO

 

Seseorang yang semula tidur dengan posisi terlentang itu mulai menggerakkan otot-otot tubuhnya. Dunia bawah sadarnya mulai terkikis oleh keinginannya untuk bangkit dari tidur, kelopak matanya pun terbuka dengan gerakan perlahan-lahan.

 

Pandangannya mengedar, dari atap kamar yang berwarna putih hingga dinding dengan cat merah jambu yang menyilaukan mata. Awalnya ia sempat terheran karena menemukan boneka-boneka lucu dengan senyum mengembang yang berdiri di kanan-kiri tubuhnya. Apalagi ketika penciumannya menangkap bau harum aroma terapi yang sangat asing baginya.

 

Dia sempat mengira bahwa dirinya diculik, karena itu ia akhirnya bangkit dengan gerakan tergesa-gesa. Namun setelah pandangan matanya menangkap satu bingkai foto yang terpajang di meja nakas, ia mulai menyimpulkan sesuatu tentang keberadaannya sekarang.

 

Oh, ya. Kemarin aku tidur di apartemen Lee ssaem.

 

Dia bergumam di antara keheningan ruangan yang mencekam. Kyuhyun segera menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan bangkit dari sana. Ia baru tahu jika jarum jam sudah hampir menunjuk angka dua belas dan dia belum mandi atau sarapan pagi.

 

Kyuhyun pergi mandi sekitar lima menit lamanya dan langsung melangkah menuju dapur karena perutnya sudah merengek minta diisi. Ketika ia akan membuka pintu kulkas, ada beberapa note dengan goresan rapi yang menempel di sana.

 

Aku sudah memasak nasi. Hangatkan sayuran dan sup-nya di microwafe selama lima menit. Bunyi pesan pertama.

 

Obat demam ada di meja nakas. Kau harus meminumnya setelah makan. Itu pesan kedua, lebih memerintah.

 

Aku sudah membuat surat ijin untukmu. Jadi untuk hari ini kau istirahat saja di apartemenku. Pesan ketiga berupa pernyataan. Kyuhyun patut berterimakasih untuk itu.

 

JANGAN PULANG! Tunggu aku pulang dari mengajar. Ingat, JANGAN PULANG! Pesan keempat berisi ancaman dan itu menakutkan. Kyuhyun memutuskan untuk menurut dan berjanji akan melakukan apa yang dikatakan Sungmin.

 

Dia menghangatkan sayuran dan sup kacang buatan Sungmin di microwave. Setelah makan ia minum obat kemudian dia tergeletak tak berdaya di sofa sambil menonton acara televisi kesukaannya. Kyuhyun benar-benar menganggur—dia tidak membawa kekasih sehidup sematinya (PSP dan laptop) jadi dia seperti lulusan sekolah pengangguran.

 

Kyuhyun tidak tahan karena itu ia memutuskan untuk pergi ke dapur (lagi) demi membawa makanan yang bisa menemaninya. Dia membuka kulkas dan menemukan beberapa cake in the jar yang berjejer di freezer. Ia tidak terlalu menyukai makanan manis, tetapi sepertinya makan cake in the jar tidak ada salahnya.

 

Kyuhyun mengambil salah satunya, tentu yang beraksen buah bluberi dengan selai ungu yang terhimpit krim putih di sekitarnya. Setelahnya, pandangannya beralih ke arah beberapa kotak makanan (yang lagi-lagi) berjejer dan bertumpuk rapi. Kyuhyun bisa menebak jika didalam kotak tupperware itu berisi potongan buah: kiwi, anggur, bengkoang, jeruk, dan stroberi. Kyuhyun mengambil dua kotak dan meletakkannya di atas meja.

 

Dia tidak berniat mengubek isi kulkas lebih lanjut, karenanya ia segera membawa hasil rampokannya ke ruang tv. Kyuhyun duduk di sofa dengan kaki bersandar di pinggiran meja, lalu salah satu tangannya meraih toples berisi kue. Ia membuka tutupnya dan segera mendapati krim lembut dengan taburan messes dan potongan buah bluberi melambai ke arahnya. Ternyata makanan ini tampak begitu menggoda jika tutupnya telah dibuka.

 

Mungkin cake in the jar milik Sungmin bisa membuat selera makannya terhadap makanan manis berubah.

 

Kyuhyun baru mengunyah potongan pertama cake in the jar pilihannya saat ia mendengar pintu utama terbuka. Ia menoleh dan mendapati sosok Sungmin yang masuk dengan langkah tergesa-gesa.

 

Ssaem, sudah pulang?” Kyuhyun memegang sendoknya. “Cepat sekali?”

 

Sungmin segera menghampiri Kyuhyun, matanya melotot saat tahu makanan kesukaannya ada di tangan Kyuhyun. “Sudah,” Jawabnya dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Oh, ayolah. Itu hanya setoples cake manis limited edition yang dibeli Sungmin sekitar seminggu lalu di toko roti dekat stasiun kereta api. Dia tidak perlu marah karena Kyuhyun sudah memakannnya. “Apa yang kau lakukan seharian ini?”

 

“Hmm .., menonton televisi? Makan ini?” Kyuhyun mengangkat toples berisi cake yang baru berkurang sesendok. “Aku bosan.”

 

Sungmin memutuskan untuk pergi ke kamar untuk mengganti baju. Tetapi tanpa diduga Kyuhyun mengikuti langkahnya dan masuk tanpa mengetuk pintu. Sungmin sempat kaget setengah mati—untung waktu itu ia belum membuka blazer-nya. Jadi dia hanya mengomel dan Kyuhyun keluar sambil cengar-cengir—entah apa yang ada di pikirannya.

 

Sungmin jadi geregetan sendiri mengingat momen ganti bajunya yang hampir diintip oleh murid SMA-nya sendiri. Membayangkan evil smirk yang terlukis di kedua belah bibir Kyuhyun ketika tahu ia terkejut dengan kehadirannya tadi membuat Sungmin hampir merobek kaus merah jambu kesayangannya.

 

Tok-tok!

 

Demi Tuhan!

 

Untuk yang kedua kali Sungmin dibuat terkejut oleh Kyuhyun. Wanita itu segera memakai kausnya dan berjalan menghampiri pintu. Ketika ia membukanya, pandangan matanya langsung jatuh pada cengiran tidak jelas milik Kyuhyun.

 

“Ada apa?” sengitnya, Sungmin langsung keluar dari kamar sambil mengikat rambutnya ke atas.

 

Kyuhyun kembali mengekor langkah kaki Sungmin bagai anak anjing. “Tidak ada,” kata Kyuhyun pelan. Dia mendengung lalu ikut duduk, “Terimakasih, ssaem.”

 

“Huh?” bola mata Sungmin bergerak ke arah kanan, jatuh pada wajah tampan Kyuhyun. “Untuk apa?”

 

Ssaem sudah merawatku,” Kyuhyun mengendikkan pundak skeptis. “Kurasa aku harus berterimakasih.”

 

Demi Tuhan dan Dewa-Dewi di langit. Ini sudah ketiga kalinya Sungmin dibuat terkejut oleh Kyuhyun. Dan saat ini, perubahan sikap Kyuhyun yang tidak terduga membuat ia terheran. Sebenarnya kepala Kyuhyun baru terantuk batu gunung atau besi-baja?

 

Tetapi setengah menit berpikiran seperti itu, Sungmi merutuki dirinya. Seharusnya ia tidak perlu merasa heran. Kyuhyun memang harus berterimakasih kepadanya—apalagi untuk setoples cake itu. Wanita itu segera melipat dua lengannya di atas dada, mengangkat dagu, dan memasang wajah angkuh yang sama sekali tidak cocok dengan imejnya. “Ya. Kau memang harus berterimakasih.”

 

“Kukira ssaem tidak akan mau memaafkanku lagi,” Kyuhyun melanjutkan ucapannya sambil melempar tatapan penuh tanda tanya.

 

“Untuk apa?”

 

“Apa kemarin aku sudah keterlaluan? Aku .., memang sengaja mengusir Choi ssaem.”

 

“Huh?”

 

“Aku tidak mau ssaem pergi dariku demi mengejar Choi ssaem,” kalimatnya berhenti ketika Kyuhyun memutuskan untuk menghela nafas sejenak. “Cukup ayah dan ibuku saja yang pergi.”

 

Sungmin terdiam, namun ia ingin bertanya lebih lanjut tentang maksud dari ucapan Kyuhyun.

 

“Tetapi kalau ssaem tetap ingin aku pergi, aku akan pergi. Aku tidak apa-apa,” Kyuhyun mengatakan dengan nada tidak rela sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pandangannya mengedar ke segala arah, menandakan bahwa ia sedang gelisah.

 

“Aku tidak mengerti kau sedang menyampaikan apa kepadaku,” Sungmin menimpali dengan nada suara yang lebih datar namun seribu kali lebih menenangkan dan menyenangkan. “Tetapi sepertinya itu hal serius yang selama ini tersimpan sampai usang dalam lubuk hatimu.”

 

“Sok tahu,” Kyuhyun tertawa. “Benar-benar sok tahu.”

 

“Aku serius!” Sungmin mencoba mempertahankan argumentasinya. Walau ia mengerucutkan bibir karena sebal dikatai sok tahu oleh Kyuhyun. “Kau berkata seperti itu karena kata-kataku memang benar, ‘kan?”

 

Geulsseyo,” satu kalimat menggantung dari Kyuhyun.

 

“Tidak apa-apa. Ceritakan saja jika kau ingin cerita. Aku gurumu.”

 

“Aku tahu kalau kau guruku, ssaem,” laki-laki itu menunjukkan raut wajah sumringah yang sempat dilukisnya, namun tetap ada semburat kesedihan yang terselip di beberapa bagian. “Tetapi kurasa kau tidak berhak tahu semua isi hatiku.”

 

Bola mata Sungmin bergerak gelisah ketika ia mulai menyadari sisi lemah dari seorang Cho Kyuhyun, muridnya yang bandel dan menyebalkan itu. Mungkin laki-laki itu memang rapuh karena menanggung beban seorang diri. Ia ingin peduli tetapi sepertinya Kyuhyun masih kukuh untuk menutup dan menyimpan semua rahasianya sendiri. Sungmin sama sekali tidak bisa memaksa atau pun menuntut—toh itu benar-benar masalah pribadi yang tidak layak untuk diungkit (kecuali jika Kyuhyun sendiri yang berniat membicarakannya).

 

Mungkin Sungmin sudah bertekad dalam hati jika suatu hari nanti ia harus tahu tentang masalah apa yang sedang ditanggung oleh dua pundak Kyuhyun. Ia akan menunggu sampai Kyuhyun percaya kepadanya. Ya, setidaknya ia akan membuat Kyuhyun nyaman dengan kehadirannya—dengan kata lain mulai sekarang ia akan merecoki Kyuhyun dengan perhatiannya.

 

Well, sepertinya bukan sekarang,” Sungmin memutuskan untuk menimpali. “Lain kali.”

 

“Kenapa harus begitu?”

 

“Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, ‘kan?” pertanyaan itu meluncur dari mulut Sungmin. “Kalau aku boleh menebak, mungkin di masa depan aku menjadi salah satu orang yang kau percayai. Jadi kukatakan lain kali.”

 

“Maksud ssaem, di masa depan ada kemungkinan bahwa ssaem akan menjadi istriku, begitu?”

 

YA!”

 

Sungmin terkejut bukan main dengan persepsi seperti itu dari Kyuhyun, bahkan ia sampai membentak. Matanya melotot dan pipinya mulai merona. Ada segumpal perasaan aneh yang bergelung di dada, membuatnya merasa tidak nyaman dan ingin lari dari hadapan Kyuhyun. Sungmin menggigit bibir, berusaha mengingatkan dirinya bahwa kalimat Kyuhyun barusan hanya main-main dan sama sekali tidak serius.

 

“Kau merona, ssaem.”

 

Suara cekikikan Kyuhyun terdengar bagai petir yang menyambar di siang bolong, menampar jiwanya yang sempat melayang. Sungmin mendengus marah, “Kau pikir aku merona karena ucapanmu, begitu?!”

 

“Kukira begitu,” Kyuhyun masih terkikik. “Tetapi kalau seandainya suatu saat nanti ssaem menjadi istriku ..”

 

YA, CHO KYUHYUN!” Sungmin berteriak, berusaha menutupi rona merah di pipinya yang kian tampak jelas. “Hentikan atau ..”

 

“Itu tidak menjadi masalah ..,” Kyuhyun melanjutkan kalimatnya. “Kalau kita suami-istri, tidak akan ada yang kusembunyikan darimu, ssaem. Bahkan semua yang ada di balik kain bajuku ini.”

 

“CHO KYUHYUN!!”

 

Sungmin berteriak kalap, walau ia tampak gagal menyingkirkan rona merah di wajahnya. Ia mendesah putus asa. Ia ingin marah dan memukul kepala muridnya itu. Namun tawa lebar yang terbingkai di kedua belah bibir Kyuhyun benar-benar membuatnya tidak mampu melawan demi melontar suatu pembelaan.

 

Sungmin tidak pernah mengerti; kenapa ia mudah marah kepada Kyuhyun, kenapa ia mudah merasa sebal kepada Kyuhyun, kenapa ia mudah merona karena Kyuhyun, ketika ia mudah merasa iba kepada Kyuhyun.

 

Ia benar-benar terheran dan penasaran. Padahal Kyuhyun hanya seorang murid baru di sekolahnya—ya, hanya murid jahil dengan segudang kenakalan yang selalu berhasil membuatnya naik pitam. Singkatnya, Kyuhyun itu menyebalkan. Namun walau begitu, ia tetap ingin peduli kepada Kyuhyun. Dia ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa Kyuhyun percayai, setidaknya ia ingin membuat Kyuhyun merasa nyaman ketika berada di dekatnya.

 

Baginya, bisa melihat wajah cerah Kyuhyun dengan hiasan tawa berderai membuat sebagian perasaanya terasa lebih ringan. Sebagian suara hatinya menjerit senang karena tahu Kyuhyun tertawa lepas seperti itu. Secercah cahaya bahagia menyeruak dari dalam manik mata hitam milik Kyuhyun, dan Sungmin bisa menangkapnya dengan jelas.

 

Ssaem, jangan memandangiku dengan tatapan mesum seperti itu,” suara Kyuhyun yang terdengar di antara tawanya memecah fantasi Sungmin. Laki-laki itu sudah selesai menertawakan Sungmin dan kini ia tampak menyeka air mata geli di sudut mata. “Aku tahu kalau aku tampan dan cukup menggairahkan ..”

 

Sungmin memberengut ketika ia tahu Kyuhyun sedang menggodanya lagi. “Tahu apa kau tentang itu? Dasar ..”

 

Ssaem,” suara Kyuhyun mendayu dan ia menggeser duduknya, membuat tubuh mereka bersebelahan. “Jangan coba-coba merayuku dengan rona merah di pipimu. Tiba-tiba aku ingin mengecupmu.”

 

Mata Sungmin mendelik. “Berani melakukan itu, kutampara kau!”

 

Kyuhyun terkekeh untuk yang kesekian kali, “Aku sama sekali tidak menerima tamparan.” Kyuhyun tampak menerawang. “Tetapi aku menerima ciuman.”

 

Bibir wanita itu mencebik, lalu diam-diam ia mulai menyesal karena sudah bertekad akan selalu merecoki Kyuhyun dengan perhatiannya. Laki-laki itu mesum sekali, terlalu berbaya untuknya. Bisa gawat kalau suatu hari ia termakan godaan Kyuhyun lalu mereka berakhir di ranjang. Mengerikan.

 

“Oh, Sungmin. Dia hanya muridmu. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?” Rutuknya dalam hati.

 

TBC

 

Lets #PrayforGaza :’)

 

59 thoughts on “Teach for Love | KyuMin | Part 3/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

  1. Nunggu ff ini publish seminggu dan akhirnya update yeeeyy, Disini sih kyu mesum ama Kkkkk~ ada seohyun nya pulaaa , hmmmm bakal cinta segitiga nehh kayakyaaa. Tetep smangat Eon🙂 Cepet-cepet upate yaaawww Kkkkk~ Daebakk

  2. hayuuu, lalu siapa akan jatuh lebih dulu??? hehehe mereka ini aneh.. aku pikir sungmin ga tertarik sama won, ternyata… kyuhyun cukup possesif ya, ini akan ada hurt ga?

  3. ditunggu2 akhirnya muncul juga ini ff hehe
    bingung juga ama kyu, diakan pdkt ama seo tapi liat ming ma siwon cemburu juga keke
    itu kyuhyun kalo ngegoda min mesum bangett >,
    lanjuttt😀

  4. sebenernya kyuhyun lebih tertarik sama sungminkan daripada sama si seo,
    aah sungmin yg mikirnya mesum nih padahal kyuhyun cuma menggoda hihi,
    kyuhyunya cemburu sama siwon.
    next chapter ditunggu^^

  5. aku suka min digodain ampe ky kepiting rebus -meraaah merona gt.
    teruuus kyu godain min tp kl di godain mulu nntn min bener” cnt tp kyu msh dkt ama seo kayanya .
    poor choi ssaem
    sabar ya ama kelakuan kyuhyun. hoho
    kyu dirumah guru udh ky dirmh sndr..semua isi kulkas diambil :p

  6. Lihat kyu goda sungmin aduhhh manisnya….kyu bener2 jahil dan seneng menggoda tp kayaknya hal ini hanya berlaku kalo ama sungmin aja deh hehehehehe…..
    Wah kalo begini sungmin bakalan jatuh hati nih ama kyu…..

  7. itu sbnernya nama si seo2 itu mengganggu BGT!!

    tpi endingnya kok mreka goda2an gtu sih….ihhhh.kn pengen ikut….*plakk

  8. Yeeeyyyy dah ad lanjutan ff nya
    Ya ampun kyuuj km narsis sekali heheheheh, waaaa uri mini sepertinya dah mulai ad getaran2 rasa suka ni ke kyu :p
    Ditunggu lanjutan next chap y

  9. akhirnya orang ketiga muncul juga. . . Membuat kyu plin plan. . . . Apakah min mulai menyukai kyu?? Jadi penasaran kelanjutannya. . . Jangan lama2 updatenya yah!

  10. haha Kyu suka banget sih godain Ming
    Suka banget pas baca yang Kyu buat Ming sebel sampai merona#haha
    Bener2 deh Kyuhyun ini
    Mungkinkah Ming mulai suka sama kyu??
    Dan lagi Kyu itu beneran suka sama Ming kan??
    Lalu siapa yang lagi dekat dengan Kyu?Seohyunkan?
    Akhh~~ Bingungg????
    Ditunggu selalu kelanjutannya ^ ^

  11. yeayy kyuhyun cemburu!!! tapi sebel bgt sama sifatnya kyuhyun yg plin plan……mau seo apa sungmin….huft. next authorrr

  12. Aku suka karakter Kyuhyun disini.. Benar-benar Kyuhyun banget ^^ tapi aku masih belum bisa nebak sebenarnya Kyuhyun suka sama Sungmin atau hanya sekedar menggodanya. Oh ya, aku dibikin penasaran sama kelanjutan hubungan Kyuhyun dan Seohyun. Nggak sabar menunggu chap selanjutnya. Lanjutkan ya thor!

  13. kyu disini lucu dan bahkan mingnya juga, kyu jealous setengah mati sama choi itu tapi dia tetep ngedeketin si seo-____-
    bakalan riweh deh nih pasti

  14. ah aq senyum2 sendiri baca ini..bener2 menghibur ku di hari kyumin day ini… di awal2 td sempet shock krn ada ubi seo muncul untung aja percakapan mreka di skip #gak penting bgt..kyumin moment nya banyaaakk dsni dan sweeeet bgt… kyu blm menyadari klw dy cemburu ama siwon..mlh dy mengira klw dy suka ama seo ubi..aduuhh jgn sampe deh ama ubi itu

  15. Hahahahaha minnie habis digoda sm kyu… terus nasib kyu sm seo ga terceritakan yah….
    duh minnie polos banget sampe merona gitu… ketahuan kan… hahahaha

  16. Ah~ knapa harus ada seo sih… di saat hati ku sedang gundah gelisah..😦 gara2 kyumin day kmarin ga se indah thun lalu..
    Pokoknya kyu harus sama ming ya chingu.. pliiiiiiiissss bangeet yaaaa~~~ aku rindu kyumin😦
    Gomawo untuk ff nya…
    Saranghae~~🙂

  17. Heran dgn si kyu kya.nya dia suka bgt m seo tpy dia cemburu kl min ma cwo laen …..
    Ap nty kyu bingung untk milih siapa dan nty min tersakiti atau mereka berdua ( min dan kyu) menyangkal perasaan masing2 ?
    Eh kyu mesum bgt….
    Tpy Aku suka sprty kya kyuhyun yg asli gt hhhhhh……
    Wah penasaran…..
    Lanjut trz thorr bgs bgt …

  18. jail bener kok kyu, smpe ngusir siwon dri apartemen sungmin. ckckck…
    aish… kenapa harus ada seo sih??? siwon dan pnggemar sungmin aja udah bnyak, ditambah victoria sama penggmar kyu jg. huhuhuhu

    cie… yang lg dijaili kyu?? yg malu2 dan yg jailnya gak ketulungan kalo didepan ming?!
    aku curiga yg bakalan suka duluan itu malah sungmin. dan disaat ming udah suka kyu malah masih bingung sma perasaannya dan mash main2 jga sma wanita lain. soalnya kyu kan kesringan di manja sungmin jd mungkin malah agak susah buat kyu sadar smaa perasaannya sndri karna trbiasa dimanja ming dan udah nganggep ming itu ibu atau keluarga atau tmpatnyanya utk ‘pulang’ karna selama ini dia kurg kasih syang sama org tuanya kan.

  19. kyuhyun lagi bibgubg ya sama hatinya sendiri?
    dia deketin seo joo hyun tapi ga mau sungmin pergi dan deket sama siwon.
    haduh kyuhyun kyuhyun.
    kyuhyun kenapa ringkih banget badannya?

  20. Aduh sumpah kyu labil banget,jangan sampe nyakitin hati ming awas aja,ming puilis di ff ini jangan jatuh hati dulu ama kyu,biar kyu yg duluan aja yg jatuh hati ke kamu,ming fokus ke siwon aja oke dia mirip kangta kok sebelas duabelas malah #plak efek dvd mahalo edisi wonmin lanjut jiyoo

  21. Aaak maaf maaf aku reviewnya lgsg di chap 3.
    Ga sabar baca lanjutannya sih hhe
    Kyuhyun nakal ngegemesin gt ya, ga nahan bgt lah kalo punya murid kek begitu.
    Ditunggu sweet moment kyumin yg udh jd couple yaa
    Daebak!!!

  22. Kyu memang evil jenius… pintar memainkan kt2 yg membuat min menjadi terlena…awas min ntar jatuh cinta…dan tanda2 sprtnya udh ada tuh

  23. Sebenernya si kyuhyun itu naksir sungmin ato seohyun? Dan sungmin itu naksir siwon ato kyuhyun? Bener” rumit, but let’s go chap 4🙂

  24. Sebenarnya ini orang dua sudah mulai saling suka tapi belum ada yang mau mengakui. Ckckckck… Ribet amat sih, amat saja ndak ribet *saya ngomong apa sih?*

  25. huaa, kyuhyun makin gencar.
    itu dua duanya mulauli ada rasa ya?
    aduh kyuhyun jangam sampe inget tetangganya lagi deh.
    ini nanti ceritanya sampe kyumin nikah ga?
    #ngabayangin sungmin yang lebih tua 7 tahun nikah sama kyuhyun#
    huaaa kira2 kyuhyun bisa bersikap dewasa ga ya ke sungmin?

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s