Teach for Love | KyuMin | Part 2/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

Teach for Love

 

Genre : Romance , Drama

 

Rate : T+

 

Pairing : KyuMin

 

Part : 2/?

 

Warning : GENDERSWITCH, Miss Typo.

 

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi.Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

 

Summary : Dia baru saja pindah dari Jepang dan di sekolah barunya ia dihadapkan oleh seorang guru sexy dan teman-teman abstrak juga pengrusuh yang peduli. Di rumah dia bertemu seorang gadis manis anak tetangga yang menjadi tipe idealnya. Awalnya dia acuh, tetapi sikap jahil yang sudah mengakar di jiwanya membuat segala urusan menjadi semakin rumit. Dan karena hal itu, dia mulai belajar untuk mencintai sesuatu yang benar-benar diperlukannya.

“Song ssaem? Victoria Song?”

 

“Iya, dia ‘kan menyukai murid baru itu,” Siwon hampir terkekeh menertawakan sikap temannya yang lajang itu. “Ada-ada saja.”

 

Song ssaem, guru bahasa China itu memang penuh sensasi. Dia dikenal sebagai guru enerjik yang seksi—hampir sama seksinya dengan Sungmin. Di luar jam sekolah, Victoria adalah guru untuk menari—asal kalian tahu saja, tubuhnya lentur sekali seperti karet. Parasnya cantik, bibirnya tebal nan sensual, dan ia suka bersikap aegyo sambil berbicara dengan suara lucunya. Singkatnya, dia menarik.

 

Victoria tidak pernah menggoda guru-guru seangkatannya, karena ia lebih suka dengan lelaki yang lebih muda darinya. Kabarnya ia pernah menjalin hubungan serius dengan seorang siswa pertukaran pelajar dari Thailand bernama Nickhun. Mereka terlalu dekat jadi semua orang mulai menyimpulkan sesuatu mengenai hubungan mereka. Namun, setelah tiga bulan menetap di Korea, Nickhun kembali ke negara asalnya karena masa pertukaran pelajar-nya sudah habis. Semenjak itu, hubungan Victoria dan Nickhun tidak pernah terdengar lagi.

 

Dan sekarang, ada kabar miring lagi tentang Victoria—dan itu melibatkan seorang murid baru dari Jepang yaitu Cho Kyuhyun.

“Sungmin-ssi, kau melamun! Ayo turun!”

 

Lagi-lagi Siwon menyentak Sungmin, membuatnya terkejut karena tahu-tahu Siwon sudah membuka pintu mobil untuknya. Sungmin terlalu asik melamun sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa mobil Siwon sudah sampai di parkiran khusus untuk kendaraan para guru.

 

“Kau terganggu karena sifat Song ssaem? Jangan-jangan kau juga menyukai murid baru itu,” Siwon melontarkan candaan yang sama sekali tidak lucu lalu menertawakan Sungmin.

 

“Tentu saja tidak,” kata Sungmin, memukul pelan lengan kekar Siwon karena tidak terima. “Dia bukan tipeku. Kau tahu sendiri, ‘kan?”

 

“Tetapi, hampir semua guru-guru wanita menyukainya,” Siwon melontarkan persepsi untuk menguatkan spekulasinya. “Dia jenius, ya?”

 

“Aku tidak tahu juga,” Sungmin mengendikkan bahu acuh. “Tetapi, dia gagal ketika tes berenang kemarin. Mungkin otaknya patut dibanggakan, tetapi tubuhnya yang kurus-kering itu menjadi nilai minus yang memprihatinkan.”

 

OoOoO

 

Bel tanda makan siang sudah berdering nyaring, itu berarti jam istirahat untuk tiga puluh menit sudah datang. Semua murid menyimpan buku-buku mereka di loker, menggantinya dengan kotak-kotak makan yang diletakkan di meja. Sebagian ada yang pergi ke kantin, namun sebagian lagi ada yang tinggal di kelas dan memakan bekal dari rumah. Jika tidak mau menyibukkan diri dengan makanan dan kotak bekal, mereka akan berbincang sebentar dengan teman-teman demi mendiskusikan hal-hal mengenai remaja yang sedang hit: seperti idola K-Pop mereka yang sedang melaksanakan konser tur atau skandal yang terjadi di antaranya.

 

Sedangkan Kyuhyun sendiri tidak tertarik untuk berbincang, apalagi pergi ke kantin. Dia punya tugas dari neneknya. Kini ia mengeluarkan kotak bekal berwarna biru yang dibalut tas kotak-kotak dari dalam ranselnya. Tentu saja tindakannya itu membuat Donghae yang akan pergi ke kantin menjadi heboh sendiri—seperti biasa, ia hiperaktif dan bertingkah seperti anak kecil.

 

“Kau membawa kotak bekal? Bento?” Donghae menarik kursi miliknya, tidak jadi pergi ke kantin dan malah memandang kotak bekal milik Kyuhyun. Sebenarnya ia berharap jika Kyuhyun akan membagi bekal dengannya, dengan begitu Donghae bisa menghebat sedikit uangnya.

 

“Ini untuk Lee ssaem!” Kyuhyun menyambar bekalnya yang semula ada di bangkunya, menelangkup dengan dua lengan kurusnya demi melindungi bekal berharga itu dari tatapan lapar seorang Monster Aneh Lee Donghae.

 

Donghae memasang wajah penuh gurat keterkejutan. “Apa?! Kau mau merayunya dengan memberi bekal? Hebat sekali idemu!”

 

“Kau kira aku lelaki yang tidak punya uang lalu merayu wanita dengan bekal?” Kyuhyun menanggapi dengan sewot: bernada dingin, penuh ancaman, dengan tatapan tajam tak terelakkan. “Ini bekal dari nenek, tahu! Nenek memaksaku untuk memberikan bekal ini ke Lee ssaem sebagai ucapan terimakasih!”

 

“Kalau begitu aku ikut!”

 

Kyuhyun hanya mencibir ketika Donghae memutuskan untuk ikut dengannya. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain benar-benar mengajak Donghae. Lagi pula Donghae yang lebih tahu di mana bangku milik Sungmin di kantor guru. Jadi untuk sekarang, Lee Donghae yang selalu menyusahkannya sedikit berguna—setidaknya untuk kali ini saja.

 

Mereka sampai di ruang guru, melongok ke dalam demi memastikan keadaan di sana ketika istirahat makan siang tiba. Banyak bangku-bangku yang kosong karena ditinggal pemiliknya pergi mencari makan di restoran kecil dekat sekolah, tetapi sebagian masih ada penghunninya. Salah satunya meja Sungmin yang berada di ujung bilik barisan nomor tiga. Wanita itu tampak berbincang asik dengan seorang guru laki-laki muda yang tampan dan modis—dengan jas abu-abu mengkilat yang tampak berlebihan bagi seorang pengajar di sekolah menengah atas.

 

Kyuhyun tidak keberatan jika ia harus menunggu sedikit lebih lama karena tahu jika gurunya sedang mengobrol dengan rekannya—dan menyela pembicaraan orang itu tidak sopan, neneknya selalu mengatakan hal itu ketika umurnya masih sepuluh tahun. Dia baru saja akan mengatakan niatannya, tetapi tanpa diduga Donghae menarik tangan Kyuhyun lalu memaksa melanjutkan langkah. Donghae tampak cemburu manakala menemukan guru seksinya tertangkap basah sedang berbicara dengan Siwon (rival nomor satunya).

 

Kyuhyun tidak sempat berontak karena mereka (Kyuhyun dan Sungmin) sempat bertemu pandang. Jadi ia terus melanjutkan langkah dan berhenti tepat di sebelah guru laki-laki itu. “Seonsaengnim,” serunya dengan nada pelan. Ia menyerahkan kotak bekal yang ada di genggamannya dan Sungmin menerimanya dengan melempar tatapan tidak mengerti. “Ada titipan dari nenek. Beliau sangat berterimakasih karena sudah mau mengantarku kemarin.”

 

“Oh, ya? Terimakasih!” Sungmin menerima kotak bekal pemberian Kyuhyun. Ia memandang Siwon lalu kembali memandang wajah pias Kyuhyun dan Donghae.

 

Omo-omo! Ada apa di sini?”

 

Tahu-tahu Victoria ikut bergabung di pembicaraan singkat antara murid-guru itu. Tadi ia baru saja masuk ke ruang guru, dan tanpa sengaja matanya yang lebar dengan olesan eyerliner itu menemukan Kyuhyun di sini—oh, beruntung sekali Kyuhyun kemari. Dan ketika ia mendekat, sayup-sayup ia menangkap ucapan Kyuhyun tentang bekal dari neneknya. Tentu saja ia tidak mau melewatkan hal ini begitu saja.

 

“Oh, Kyuhyun-ie? Kau sudah sehat?” ekspresi Victoria berubah, dari yang ceria menjadi sedikit murung ketika ia melontarkan pertanyaannya untuk Kyuhyun. Ia mengangkat salah satu lengannya yang dibalut kemeja berlengan transparan berwarna merah marun, lalu telapaknya membelai lembut rambut Kyuhyun.

 

Kyuhyun mengangguk dan tersenyum canggung ke arah Victoria, “Tentu, ssaem.”

 

Victoria menjerit ketika mendapati wajah malu-malu dari Kyuhyun—remaja sekolah menengah atas memang menggemaskan (tetapi bukan berarti dia seorang pedofilia). Victoria tersenyum lebar lalu pandangannya jatuh ke arah kotak bekal yang ada di genggaman Sungmin. “Wah, itu bento untuk Lee ssaem, ya?” Victoria memandang Sungmin dengan pandangan tidak suka, sedetik setelahnya ia baru menyadari jika Siwon berada di belakang Sungmin. “Sayang sekali, padahal Lee ssem akan pergi makan siang dengan Choi ssaem. Ya, ‘kan?”

 

Sungmin tertawa Sungkan, “Sepertinya rencana makan siangku dengan Choi ssaem harus ditunda. Aku akan memakan ini dengan baik!” tutur Sungmin, merasa tidak enak jika harus pergi dan membawa bekal ini pulang untuk dimakan di rumah saat makan malam nanti.

 

Omo?” Victoria pura-pura terkejut—walau sebenarnya ia benar-benar terkejut—dengan keputusan Sungmin yang mendadak. Otaknya berpikir untuk mendapatkan cara agar bisa mengusir Sungmin dengan ghaib. Beberapa detik setelahnya, ia memandang wajah Siwon lalu terkekeh dengan suara lucunya. “Kukira kalian harus pergi makan siang berdua. Bukankah kalian sedang berkencan?” pertanyaan seperti itu terdengar dengan aksen menggoda yang terkesan diimut-imutkan. Dalam hati Victoria memuji kemampuan otaknya dalam berpikir yang mengalahkan kecepatan cahaya sekali pun.

 

Seonsaengnim~!” Sungmin segera menepuk pundak Victoria, bola matanya melirik ke arah Siwon sebentar lalu beralih ke wajah kedua muridnya. “Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu? Aniyo, kami tidak sedang berkencan ..”

 

Victoria hanya menaik-turunkan alis ketika Sungmin mencoba mengancamnya lewat tatapan mata. Ia senang karena Sungmin menyangkal—karena baginya penyangkalan adalah bukti paling nyata dari sebuah kejujuran yang sedang disembunyikan. Ia mengalihkan pandangan, menatap wajah murid barunya yang super tampan. “Oh ya, Kyuhyun-ie. Apa kau tidak membutuhkan kursus bahasa? Song ssaem bisa membantumu?”

 

Ne?” Kyuhyun melayangkan pandangan tidak mengerti ke arah Victoria.

 

“Bahasa Koreamu ..,” Victoria menggantungkan kalimatnya. “Bahasa Koreamu masih sangat buruk. Logatmu ..”

 

“Oh, ne,” Kyuhyun mulai mengerti. “Bahasa Korea-ku memang masih buruk, ssaem,” ucap Kyuhyun kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang meremang—efek dari rasa rikuhnya jika logat bicaranya diangkat menjadi suatu topik pembicaraan. Asal tahu saja, Kyuhyun tidak suka itu.

 

“Song ssaem bisa memberimu kursus bahasa ..”

 

“Song seonsaengnim,” Sungmin menyela kalimat Victoria. Kali ini Sungmin menyela sambil berkacak pinggang dan melempar tatapan sengit yang entah apa maksudnya. Ia meniup poninya sebentar lalu berujar, “Kau berusaha merayu murid barumu, huh?”

 

Victoria memandang galak ke arah Sungmin, “Mwo?” Dia pura-pura tersedak lalu tertawa dengan suara aneh yang dibuat-buat.

 

“Bagaimana bisa kau menawarkan kursus Bahasa Korea ke Kyuhyun jika kau sendiri adalah orang China? Bahkan kadang kali kudengar logat China-mu bercampur menjadi satu ketika kau berbicara!” Sungmin berkata sejelas-jelasnya, tidak berpikir dua kali dalam berucap karena sudah sebal dengan sikap temannya yang genit ini.

 

Menyadari ada sesuatu yang kurang beres, Kyuhyun buru-buru merundukkan badan dan pergi meninggalkan dua gurunya itu—tak lupa menarik Donghae yang sedang menatap tidak suka ke arah Siwon. Bisa-bisanya ia masih berdiri di sana menyaksikan pertengkaran kecil antara Victoria dan Sungmin.

 

“Sudah kuduga jika Choi ssaem itu masih suka menggoda Lee ssaem!” Donghae langsung mengucapkan argumentasinya saat mereka sudah keluar dari kantor guru. Salah satu telapak tangannya yang tergulung kuat menepuk-nepuk permukaan telapak tangannya yang lain. Ia mengangguk-angguk lalu berdecih. “Ternyata mereka masih lengket seperti itu, ya?”

 

“Aish, diam, Lee Donghae!” Kyuhyun mengeram tidak suka.

 

“Dan kukira Song ssaem benar-benar tertarik kepadamu,” kini Donghae menatap wajah Kyuhyun dan tekekeh-kekeh. “Jika beliau mengajakmu kencan, terima saja! Kau tahu ‘kan, Song ssaem juga seksi?”

 

Mungkin ucapan Donghae ada benarnya: Victoria juga seksi dan berparas cantik. Tetapi sikapnya yang terlampau agresif itu sungguh membuatnya merinding. Wanita agresif tidak termasuk dalam list tipe ideal Kyuhyun. Dia menginginkan seorang wanita polos yang tidak banyak bicara, dengan begitu ia bisa merecoki otak wanitanya dengan hal-hal dewasa—ia selalu berpikir bahwa itu menyenangkan.

 

“Lee ssaem itu masih single, ya?” Sekonyong-konyong Kyuhyun bertanya tentang status Lee Sungmin kepada Donghae.

 

“Huh?” alis Donghae bertaut karena heran. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

 

“Hanya ingin tahu,” katanya.

 

Kepala Donghae mengangguk-angguk, “Lee ssaem itu masih single. Tetapi banyak lelaki yang menggodanya, termasuk guru cassanova itu, Choi Siwon!”

 

“Choi Siwon ssaem?”

 

“Ya, Choi Siwon ssaem. Kau sudah tahu orangnya, ‘kan? Yang sedang berbicara dengan Lee ssaem tadi ketika kita ke ruang guru,” Donghae mencoba mengingat-ingat. “Semua guru wanita menginginkan Choi Siwon. Dan semua guru lelaki menginginkan Lee Sungmin. Bukankah mereka pasangan yang sempurna?” Donghae menepuk dua telapak tangannya dan menatap tajam ke arah Kyuhyun. “Tetapi tetap saja aku tidak setuju. Aku ‘kan suka Lee ssaem.”

 

OoOoO

 

Kyuhyun tidak tahu mengapa, tetapi ia benar-benar memikirkan ucapan Donghae tentang guru seksinya yang bernama Lee Sungmin. Sekarang ia mulai penasaran, ingin tahu lebih banyak tentang Sungmin walau keingintahuannya tidak beralasan. Ia mulai memikirkan segalanya tanpa mengingat fakta. Berkhayal ketika seorang guru botak sedang menuliskan materinya di papan adalah saat yang tepat. Kyuhyun terlalu asik melamun sampai-sampai ia dikejutkan oleh bel tanda jam sekolah telah usai. Ia berjengit lalu melirik jam tangannya hanya untuk memastikan bahwa dua jam sudah berlalu—dan selama itu ia sama sekali tidak mendapat ilmu apa pun. Kyuhyun mendesah kemudian melempar semua peralatan tulisnya di loker bangku. Ia menyambar tasnya dan diam-diam pergi ke ruang guru demi menemui guru seksinya.

 

“Oh, ada apa, Kyuhyun?” Sungmin tampak terkejut ketika tahu bahwa Kyuhyun sudah berdiri tepat di depan meja kerjanya. Ia baru saja akan pulang ke rumah setelah selesai mengepak berkasnya.

 

“Aku ingin bicara dengan Lee ssaem,” katanya lalu mengedarkan pandangan, memastikan bahwa Victoria masih belum kembali ke ruang guru. Ia tampak was-was karena takut wanita menyeramkan itu akan datang lalu mengajaknya ngobrol tentang suatu hal yang tidak penting. “Bisakah kita pergi sebelum Song ssaem kemari?”

 

Sungmin hampir tertawa ketika ia mendengar permintaan dari Kyuhyun. Ternyata murid laki-lakinya ini sudah tahu tentang ambisi Victoria itu. Maka, tanpa merasa keberatan sama sekali Sungmin segera bangkit dan mengajak Kyuhyun untuk berbincang sambil berjalan menyusuri lorong panjang yang menghubungkan lahan parkir untuk kendaraan guru.

 

“Eum, Lee ssaem?” Kyuhyun memulai perbincangan dengan nada kurang yakin. Sebenarnya ia bingung akan mengatakan apa, toh ini cuma akal-akalannya saja agar bisa dekat dengan Sungmin. “Eum ..”

 

“Oh, kudengar dari Kim ssaem, tes sastra korea-mu sangat buruk,” Sungmin tiba-tiba mengatakan hal tentang pelajaran—yang bahkan di luar dugaan Kyuhyun. Wanita itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya yang seindah kelopak melati, memandang penuh tanya ke arah Kyuhyun. “Benarkah?”

 

Tes sastra Korea?

 

Dua hari lalu ada tes sastra korea dadakan yang diadakan oleh Kim ssaem sialan itu. Dan naasnya, Kyuhyun menemukan ungkapan kata rumit yang membuatnya bingung sampai menit-menit terakhir. Bahkan beberapa soal terpaksa ia jawab menggunakan Bahasa Jepang karena sudah buntu dalam pengungkapannya. Ia hanya pasrah saja ketika mengumpulkan lembar jawaban. Toh ia memang asing dengan bahasa sastra. Jadi wajar saja jika nilai sastar korea-nya di bawah rata-rata.

 

Ssaem tahu sendiri jika Bahasa Korea-ku tidak terlalu baik,” kata Kyuhyun dengan nada sedikit tidak rela.

 

“Sekarang kau sudah tinggal di Korea, seharusnya kau mulai membiasakan diri berbicara Bahasa Korea,” Sungmin mengusulkan. “Di rumah kau masih menggunakan Bahasa Jepang ketika berbicara dengan kakek-nenekmu, ‘kan?”

 

“Ya,” jawab Kyuhyun. “Aku masih kesulitan.”

 

“Tidak berniat mengambil kursus bahasa?”

 

“Dua minggu pertama tinggal di Korea, aku sempat belajar dengan tutor pribadi,” Kyuhyun menjeda ucapannya sambil menerawang. “Tetapi hasilnya seperti ini.”

 

“Pelafalanmu buruk,” Sungmin mengejek. “Logat Korea dan Jepang-mu bercampur menjadi satu. Jadi aneh sekali jika aku mendengarkannya,” kikikan pelan terdengar—tidak merendahkan, tetapi penuh nada canda yang menggelikan.

 

Kyuhyun hanya diam ketika Sungmin menertawakan kemampuan berbahasanya. Ia tidak bisa menyangkal, memang kenyataannya begitu. Mungkin kemampuan Bahasa Korea-nya bisa meningkat jika ada satu guru yang mau memberinya kursus khusus. Setidaknya, Kyuhyun akan merasa lebih nyaman ketika belajar dengan gurunya sendiri.

 

Ya, andaikan saja ada guru yang ..

 

Eh?!

 

Kepala Kyuhyun menoleh dengan gerakan cepat ke arah Sungmin, memperhatikan sosok gurunya beberapa saat lalu mengerjap-ngerjapkan mata. “Seonsaengnim ..”

 

Ne?” Sungmin balas menatap wajah muridnya.

 

“Bisakah anda memberiku kursus Bahasa Korea?”

 

Mwo?” alis Sungmin bertaut ketika permintaan konyol dari muridnya terlontar. “K—kenapa harus aku?”

 

“Ayolah, ssaem ..,” Kyuhyun mulai merayu dengan jurus aegyo-nya (yang seratus persen sudah gagal total bagi Sungmin).

 

“Bukankah ada Song ssaem?”

 

“Song ssaem?” Otak Kyuhyun langsung melesat membayangkan sosok Victoria—tentang bagaimana sikap guru muda yang seksi itu.

 

Jika Victoria benar-benar menjadi guru khusus Bahasa Korea untuknya, maka kemungkinan-kemungkinan yang terjadi adalah: bisa saja beberapa hari yang akan datang mereka sudah tidur bersama di apartemen guru muda itu. Dan kemungkinan terburuk, ia menjadi tawanan ranjang guru agresif itu.

 

Oh! Menakutkan!

 

Andwaeandwae!” Kyuhyun bergidik sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Lee ssaem, jebalyo ..”

 

“Aku tidak menganggur, Kyuhyun,” Sungmin masih berusaha menolak. “Ada pekerjaan yang harus kukerjaan.”

 

“Kalau begitu, aku akan membantu Ssaem mengerjakan tugas. Aku bisa melakukan apa pun: mencari nilai rata-rata, memasukkan nilai, atau apa pun itu!” Kyuhyun bersikukuh. “Ayolah, ssaem!”

 

OoOoO

 

Sungmin tidak bisa mengelak lagi ketika Kyuhyun memutuskan untuk terus merayu dengan aegyo gagal seperti itu. Jika ia tetap berucap tidak, maka yang ada Kyuhyun terus merecokinya dengan raut menjijikkan. Sungmin tidak ingin gila karena terbayang-bayang wajah aegyo milik Kyuhyun. Maka, dengan amat-sangat terpaksa ia setuju untuk mengajari Kyuhyun tentang Bahasa Korea. Setelah itu, Kyuhyun ikut pulang ke apartemen Sungmin untuk memulai kursus pertamanya.

 

“Sebenarnya, tidak ada yang perlu kau pelajari,” Sungmin berucap sambil mangut-mangut dan mengetuk jemarinya di atas permukaan buku tulisnya yang terbuka. Ia menatap wajah tampan muridnya lalu kembali membenarkan letak kaca mata di hidungnya. “Toh sekarang kau tinggal di Korea. Jadi, pasti Bahasa Koreamu akan berangsur membaik.”

 

“Ya, ya. Aku juga berpikir begitu, ssaem,” jawab Kyuhyun cuek sambil mengedarkan pandangan, memperhatikan apartemen minimalis Sungmin. “Oh ya, siapa saja yang sudah masuk ke apartemen ini, ssaem?”

 

“Huh?”

 

“Maksudku, apa ssaem pernah membawa seorang lelaki ke mari?”

 

Alis Sungmin bertaut setelah ia mendengar pertanyaan dari Kyuhyun—jenis pertanyaan lancang dan sama sekali tidak pantas diucapkan dari seorang murid untuk gurunya. “Apa maksudmu, bocah?”

 

“Jadi aku yang pertama?” Kyuhyun masih meneruskan pertanyaannya, tanpa memasang raut bersalah.

 

“Kau hanya muridku,” Sungmin kembali memeriksa pekerjaan di buku tulisnya, lalu pandangannya beralih ke layar laptop miliknya. Sungmin hanya mencoba untuk fokus, ia tidak ingin Kyuhyun membuatnya merasakan suatu hal aneh karena lelucon tidak lucunya itu.

 

“Tetapi aku namja, ssaem,” kata Kyuhyun dengan suara bernada rendah—nyaris berbisik dan itu cukup membuat Sungmin merinding. Kyuhyun menyipitkan kelopak matanya, menatap intens ke arah wajah gurunya yang cantik. Dia sedang mencoba untuk memasang topeng seksi di wajahnya yang super tampan itu. Ayolah, Kyuhyun memang sudah seksi. Tetapi imejnya terlanjur runtuh karena acara menenggelamkan diri kemarin itu. Kyuhyun mengangkat sebelah bibirnya, smirk menawan itu menempel di sana. “Dan kukira, di sini aku yang lebih mature ..”

 

“Apa maksudmu berkata seperti itu?” Sungmin mulai terpancing dengan topik pembicaraan yang diangkat oleh Kyuhyun. “Aku dua puluh lima tahun, tujuh tahun lebih tua darimu!”

 

Mata Kyuhyun semakin menyipit, kini ia mulai memperhatikan tubuh Sungmin dari atas hingga bawah.

 

“Apa?!” Sungmin berujar ketus, sambil menyilangkan dua lengannya di atas dada. Gerakannya jelas mengantisipasi pelecehalan seksual yang dilakukan Kyuhyun terhadap tubuhnya yang mungil-montok itu. Mata kelincinya tampak nyalang dan bibirnya mengerucut imut, “Byeontae! Kau masih SMA dan berani memikirkan hal-hal dewasa?”

 

Ssaem ..,” Kyuhyun memandang wajah gurunya dengan pandangan penuh tanda tanya—padahal ia berniat menggoda. “Aku tidak mengatakan bahwa aku berpikir tentang hal-hal dewasa.”

 

“Lalu, kenapa kau melihat tubuhku?” jemari Sungmin menunjuk-nunjuk wajah muridnya, merasa dilecehkan walau tidak ada bukti sama sekali.

 

“Aku tidak melihatnya,” Kyuhyun menyangkal dan ia mengedarkan pandangan. “Aku hanya tertarik dengan wanita berdada besar.”

 

Perasaan Sungmin seperti dicabik dengan pisau ketika mendengar Kyuhyun berucap seperti itu—berarti murid barunya itu mencoba menyindir ukuran dadanya. Sebenarnya ia itu sensitif jika berbicara mengenai bentuk tubuhnya, dia tidak suka jika ada yang membandingkan tubuhnya dengan wanita lain. Menurutnya, walau ia tidak tinggi, tetapi badannya cukup seksi (itu menurutnya).

 

“Terserahmu saja,” Sungmin memilih untuk menyerah dalam perdebatan tidak penting yang terjadi antara ia dan muridnya. Lebih baik ia membenahi pekerjaannya. “Kalau sudah selesai, kau bisa pulang.”

 

“Tetapi di luar hujan,” kata Kyuhyun. “Aku bisa sakit jika menerobos hujan.”

 

Sungmin melirik wajah Kyuhyun dari sudut matanya, “Kenapa kau manja sekali?”

 

“Aku tidak manja,” Kyuhyun menanggapi, kini ia merapikan buku-bukunya yang berserakan di meja ruang tamu Sungmin dan menyimpannya di dalam tas. “Tetapi aku memang mudah sakit. Oh, sudah hampir makan malam rupanya.”

 

Sungmin melirik jarum jam ketika ia mendengar pernyataan Kyuhyun. Ternyata sudah pukul tujuh malam, waktu cepat sekali berlalu. “Seharusnya kau cepat pulang. Bagaimana kalau nenek ..”

 

Sungmin baru saja akan memulai ceramah singkat darinya, tetapi dering ponsel Kyuhyun menjerit nyaring. Lelaki itu merogoh saku celana sekolahnya dan mengeluarkan ponsel pintar dari sana, ia menekan tombol hijau dan langsung memanggil sang penelpon tanpa mengucap salam.

 

“Nenek?”

 

“…”

 

Kyuhyun melirik Sungmin yang duduk diam di hadapannya—wanita itu tengah memandang ke arahnya dengan tatapan penuh pertanyaan. Kyuhyun berdehem dan menjawab pertanyaan dari neneknya, “Aku di rumah Lee ssaem. Ya, bu guru cantik yang waktu itu.”

 

“…”

 

“Ada urusan,” Kyuhyun nyengir ketika Sungmin melotot ke arahnya. “Iya, iya. Aku tidak akan pulang sebelum hujan reda. Iya, nek. Aku benar-benar bersama dengan Lee ssaem.”

 

“…”

 

“Baiklah, aku akan berterimakasih. Ya, sampai nanti, nenek, ” Kyuhyun mengucapkan salam perpisahan dan langsung menutup telpon. Ia memandang Sungmin dan melukis smirk menakutkan di sudut bibirnya, “Nenek bilang, aku tidak boleh pulang sebelum hujan berhenti.”

 

“Dasar ..,” Sungmin bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Ia sibuk memilih sesuatu yang ada dalam rak dapur kemudian ia melangkah menuju kulkas. “Kau tidak alergi dengan daging ayam, ‘kan?”

 

“Tidak,” Kyuhyun ikut bangkit dan berjalan menghampiri Sungmin. Ia berdiri bersandar pada meja makan dan menatap sosok gurunya yang menungging di depan kulkas. Ia menelan ludah, “Tetapi aku alergi dengan brokoli.”

 

“Seperti anak TK saja,” Sungmin menutup kulkasnya dengan kaki, berjalan sambil membawa ayam dan sayuran di tangannya. “Aku tidak mungkin memasak ramen.”

 

“Syukurlah kalau begitu, aku juga tidak suka ramen,” Kyuhyun tertawa singkat. “Aku bisa membantumu, ssaem.”

 

“Kau bisa apa?” tanya Sungmin sambil meletakkan ayamnya di suatu wadah. Ia memandang wajah Kyuhyun lalu kembali melanjutkan aktifitasnya, “Tetapi jika kau benar-benar berniat membantu, cuci sayurannya.”

 

Kyuhyun hanya menurut dan ia langsung melesat ke washtaffel lalu mencuci sayuran-sayuran itu. “Hari ini ssaem mau memasak apa? Bukankah sudah kubilang jika aku alergi brokoli?”

 

“Ya, tetapi aku menyuruhmu mencuci sawi putih, bukan brokoli,” timpal Sungmin dengan nada cuek.

 

Kyuhyun tidak bisa menyangkal lagi, ia baru tahu jika Sungmin sangat sengit jika mood-nya sedang buruk. Maka tanpa mencoba mengucap protesnya lagi, ia melakukan apa yang diperintahkan Sungmin untuknya. Setelahnya, ia hanya perlu duduk demi menunggu semua masakan sudah tersaji di meja—Sungmin bersikeras untuk tidak memperbolehkan Kyuhyun memasak.

 

Mungkin menunggu seseorang selesai memasak dengan duduk di kursi makan adalah hal yang membosankan—Kyuhyun baru tahu tentang hal itu. Ia memutuskan untuk mengamati setiap gerakan Sungmin: memperhatikan wajahnya yang cantik ketika sedang diterpa uap panas, atau ketika ia sedang serius memotong sesuatu dengan pisaunya.

 

Sungmin itu menakjubkan. Seperti seorang wanita idaman bagi semua pria di Korea. Mungkin semua orang ingin memiliki istri yang pandai memasak seperti Sungmin. Lagi pula, siapa yang tidak tertarik dengan Lee Sungmin yang seperti itu? Cantik, imut, anggun, pintar memasak, seksi, dan kelebihan lainnya yang ada di ragawinya.

 

Kalau saja Kyuhyun lahir dua tahun sebelum Sungmin, mungkin ia sudah jadi eksekutif muda (yang merupakan cita-citanya) dan jatuh cinta pada pandangan pertama ketika bertemu Sungmin. Pandangan matanya yang sendu sekaligus hangat di waktu bersamaan benar-benar menggelitik relung perasaannya, membuatnya bingung tentang perasaannya yang akan lari ke mana. Di kemudian hari, ia bisa saja menjadi ragu—ragu untuk memandang Sungmin sebagai siapa.

 

Sekedar guru sampai ia tua.

 

Atau yang lain?

 

“Apa yang kau lamunkan sampai wajahmu berubah menjadi jelek seperti itu?”

 

Desah suara Sungmin yang dibubuhi tawa renyah terdengar cukup mengagetkan, tetapi mampu membuat Kyuhyun tersenyum setelahnya. Wanita itu sudah siap dengan masakan buatannya, penuh percaya diri menyodorkannya di meja makan. Ia melepas apron manisnya, menggantungnya di gantungan yang terletak tepat di sebelah washtaffel, kemudian menghampiri Kyuhyun dan duduk di seberangnya.

 

Kyuhyun hanya bergumam mengucap terimakasih yang sederhana. Dan Sungmin hanya mengangguk demi menanggapinya.

 

Pemuda itu merasa dejavu ketika mendapat anggukan tidak serius dari seseorang yang menerima ucapan terimakasih darinya. Dia menghela nafas, berpikir bahwa memang semua orang sama saja seperti mereka. Padahal berucap terimakasih itu tidak mudah, tetapi kebanyakan manusia selalu mengesampingkan hal itu. Dan Kyuhyun yang berulang kali mengucapkan terimakasih dengan hati yang tulus, sering kali tidak mendapat balasan yang memuaskan.

 

Makan malam tanpa perbincangan seperti ini membuat ingatannya ditarik ke masa lalu. Saat di mana ia duduk di sebuah meja makan besar dengan ayah dan ibunya. Saat di mana ia hanya bisa diam membisu ketika memakan makanannya, tanpa percakapan dan pertanyaan yang diharapkannya. Sekali pun ia membawa berita baik dan menyampaikannya, tidak ada pujian berarti—semua sia-sia. Meja makan milik keluarganya di Jepang memang selalu berhawa dingin yang mencekik, sampai-sampai Kyuhyun selalu ingin melewatkan acara makan malamnya.

 

Dan semua kejadian itu terulang di sini, di kediaman Sungmin. Ia tidak mengerti kenapa ia merasa kecewa ketika Sungmin hanya diam di tempat duduknya, memakan kerja kerasnya tanpa melirik dirinya sama sekali. Sedikit-banyak, dalam hatinya yang rapuh sedang menunggu pertanyaan dari teman makannya, apa pun itu.

 

Setidaknya, ia benar-benar merindukan kasih sayang yang dituangkan dari orang-orang terdekatnya (kecuali kakek dan neneknya yang super baik hati, tentu saja). Dia bukannya anak yang serakah, bukan seorang pemuda yang haus kasih sayang dan perhatian dari semua orang. Dia sudah mendapatkan perhatian berlimpah dari kakek juga neneknya, guru-gurunya, teman-temannya, atau bahkan orang-orang yang mengenalnya. Namun tetap saja semua masih kurang karena ia hampir kehilangan kasih sayang nomor satu yang merenggut setengah semangat dari hidupnya.

 

Andaikan saja mereka tahu apa yang sedang dirasakan Kyuhyun di Korea. Andaikan saja mereka menahannya untuk tetap tinggal di Jepang dengan sedikit lebih keras. Andaikan saja mereka bisa akur dan melepas ego tidak berguna ke udara. Andaikan saja mereka ..

 

“Kyuhyun-ah, makan sayurannya juga.”

 

Kyuhyun serasa habis disambar petir sampai-sampai ia terkejut dan hampir tersedak karena makanannya sendiri. Matanya terbelalak ketika tahu Sungmin menghimpit potongan tumis kacang panjang dengan sumpitnya dan meletakkannya di mangkuk miliknya. Percaya-tidak percaya bola mata itu bergerak menatap Sungmin—yang saat ini sedang menatapnya dengan pandangan ‘Kenapa tidak mencoba makan tumis kacang panjangku yang enak?’.

 

Pemuda itu menelan kunyahan makanannya dan mengangguk, “Terimakasih, ssaem.”

 

“Sayuran itu bagus untuk kesehatanmu,” wanita itu melahap tumis touge-nya dengan lahap. Lalu ia menatap wajah Kyuhyun yang tampak pucat-pasi (pasca disambar petir) lalu mengerutkan alis. “Kenapa kau jadi murung begitu?” Sungmin menghentikan acara mengunyahnya, memandangi wajah muridnya yang memang benar-benar terlihat kelam. “Masakanku tidak enak, ya?”

 

Kyuhyun tersenyum kikuk, “Enak, kok.”

 

Kepala Sungmin mengangguk dan ia mencoba maklum. “Kau sedang memikirkan sesuatu, ya? Coba katakan apa yang sedang kau pikirkan? Aku ingin tahu apa yang ada di pikiran anak jenius sepertimu.”

 

“Aku tidak sepintar yang ssaem pikirkan,” Kyuhyun mencoba merendahkan diri, merasa tidak pantas mendapat pujian tinggi yang membuat kepalanya jadi besar seperti penderita hidrocephalus. “Aku tidak jenius.”

 

“Tetapi hampir semua guru yang mengajarmu mengatakan demikian,” Sungmin membela persepsinya. “Sayangnya tabiat burukmu untuk tidur di kelas dan melewatkan penjelasan singkat dari guru-guru, membuat mereka mengeluh mati-matian.”

 

“Benarkah?”

 

“Ya. Sebenarnya mereka ingin mengusirmu keluar kelas, tetapi nyatanya otakmu di atas rata-rata. Jadi mereka urung menghukummu. Teman-temanmu pasti iri.”

 

Sekarang Kyuhyun tahu, alasan apa yang membuatnya bisa tidur senyenyak itu ketika berada di kelas. “Aku akan mencoba mengurangi kebiasaan itu, ssaem.”

 

Sungmin terkejut ketika ia mendengar penuturan Kyuhyun. Ia meletakkan sumpit di samping mangkuknya, menyangga dagu dan memandang wajah muridnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia mulai tertarik menelusuri apa yang ada dalam otak seorang Cho Kyuhyun. “Wae? Itu dispensasi istimewa untukmu, kurasa.”

 

Kyuhyun terkekeh, “Apa ssaem tahu jika ssaem banyak disukai murid laki-laki?” Kyuhyun mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.

 

“Huh?”

 

“Donghae, Jo Twins, Joowon, Minho, Suho, mungkin semua murid laki-laki di kelas menyukaimu, ssaem,” Kyuhyun memberi tahu lalu mengunyah nasinya. Smirk-nya yang menawan itu terlukis (lagi) di kedua sudut bibirnya lalu tatapan tajamnya jatuh pada wajah cantik Sungmin yang dipenuhi gurat keheranan. “Ssaem tidak tahu?”

 

Molla,” kata Sungmin acuh. “Ah, sebenarnya aku pernah mendengar hal seperti itu beberapa kali. Tetapi, eum .. Kupikir itu hak mereka untuk menyukaiku.”

 

“Pernahkan ssaem berpikir untuk mengencani salah satu dari mereka?”

 

Sungmin terbatuk dua kali selama dua detik lalu memutuskan untuk minum air putih yang disodorkan oleh Kyuhyun. Dengan mata yang dipicingkan, ia mencoba mengancam Kyuhyun lewat tatapannya.

 

“Wow, maaf, ssaem,” nada suara Kyuhyun terdengar lebih ringan dan santai—sebenarnya ia cukup senang melihat ekspresi lucu milik gurunya itu. “Jangan terlalu terkejut begitu. Pertanyaanku tidak pantas untuk ditanggapi dengan ekspresi seperti itu.”

 

Sungmin menggenggam gelasnya yang hampir kosong, beberapa detik kemudian bola matanya bergerak ke atas dan ia menatap Kyuhyun. “Jangan bercanda, Kyu. Aku sampai tersedak.”

 

Salah satu alis Kyuhyun naik dan ia meletakkan sumpitnya di samping mangkuk nasinya. “Aku tidak bercanda soal pertanyaanku tadi. Ayolah, hanya tinggal menjawab. Lagi pula aku mewakili teman-teman baruku itu.”

 

“Mewakili?”

 

“Ya, mewakili,” Kyuhyun membenarkan. “Kukira mereka ingin tahu hal seperti ini. Ini eksklusif, dari Cho Kyuhyun.”

 

Sungmin menahan tawa, kali ini tidak membiarkan Kyuhyun mendengarkan suaranya yang meledak-ledak seperti sebelumnya. “Omong kosong macam apa ini? Jadi begini pikiran anak jenius? Otaknya penuh dengan persoalan tentang cinta?”

 

Ssaem,” Kyuhyun merengut, dia tidak suka saat Sungmin kembali menyebutnya sebagai murid yang jenius. “Tinggal-menjawab.”

 

Arasseo, arasseo,” sekali lagi Sungmin menjawab setelah ia meminum sedikit air yang tersisa di gelasnya. “Kau bertanya tentang siapa yang mungkin kukencani. Muridku? Kalau ada yang setampan Kangta, aku bisa mempertimbangkan.”

 

“Jadi ssaem akan menilai seorang lelaki dari wajahnya?” Kyuhyun bertanya lagi, kali ini memberi sedikit bobot pada pertanyaannya—oh, tidak mungkin selamanya ia menjadi murid serampangan. “Kalau dia tampan ..”

 

“Tidak seperti itu,” Sungmin menyela kalimat Kyuhyun, kurang setuju dengan anggapan mengenai tipe idealnya. “Kau tidak akan mengerti tentang hal semacam itu. Sudahlah ..”

 

“Kau menyangkalnya, ssaem. Aku tahu itu,” Kyuhyun ikut melontarkan argumentasinya. “Mungkin beberapa murid akan kecewa setelah tahu hal ini. Mereka harus menguatkan mental.”

 

Sungmin berdecak, “Kau tidak perlu mengatakan hal semacam itu kepada teman-temanmu. Berita tidak bermutu darimu akan membuat semangat belajar mereka turun.”

 

Ssaem, aku tidak tahu kenapa kau begitu lucu seperti ini,” Kyuhyun tiba-tiba terkekeh dan memandang Sungmin dengan pandangan geli. “Tetapi aku benar-benar serius saat aku mengatakan jika kau memang menilai laki-laki dari tampang.”

 

Dahi Sungmin mengeryit dan alisnya melengkung tajam, “Cho Kyuhyun, apa yang kau katakan?”

 

“Tetapi aku tidak peduli karena jalan pikiran setiap orang itu berbeda dalam menilai sesama,” Kyuhyun kembali berucap dan ia menyangga kepala dengan lengannya yang tertekuk. Entah kenapa tatapannya tampak lembut seperti beledru, membelai perasaan wanita di hadapannya dengan ketenangan yang memabukkan. “Toh bagaimana pun juga aku masih memiliki kesempatan mendekati ssaem. Aku ‘kan lebih tampan dari Kangta.”

 

Kyuhyun nyengir, dan Sungmin menghela nafas jengkel.

 

TBC

 

apakah ff seperti ini masih pantas update di Bulan Ramadhan?

 

Oh-oh! Apa temanya udah oke? Maksudku, apa kalian nggak sulit loading thema kali ini? Kalau masih berat, rencananya aku mau ganti Background-nya ..

 

No Siders, please (ㅠㅠ) please understand.

73 thoughts on “Teach for Love | KyuMin | Part 2/? | Genderswitch | T+ | Romance, Drama |

  1. Kyu murid sungmin guru….apa mereka akan tertarik satu sama lain ya…kalo kyu sih udah keliatan tp kalo ming ???? Interested story. Love story between teacher and student…☆☆☆☆☆

  2. G terlalu vulgar kok.. Jadi masih aman untuk publish Di bulan Ramadan.. lagean publish nya setelah bedug kan ????

    Okaiii Ditunggu kelanjutan nya…. karna masih penasaran ma perasaan nya lee Minnie thd kyunnie… Mank cho kyu love first sign yach ma Minnie ???????

    Hohohohohoohohohohooo cukup capcus ku yach.. lanjut lanjut lanjut jiyoo saeng

  3. Serangan gombalan Cho Kyuhyun. Bawa2 nama temen sekelas. Kenapa ga langsung bilang kalau dia yg ingin kencan. huhuhuuu Cho Kyuhyun kelebihan modus😀

    lanjjjuuut

  4. aku suka kok ama ffnya. ga perlu gantii.. ky gini aja ^^
    kyu mulai beranii niyeeee~~~
    ahahahahaa
    apa kyu lg pdkt???
    kl bener lanjutkan kyu
    kyu emang lbh tampan dr kangta kok…
    min skak mat pas di blg kl dia nilai namja dr tampang .. ngakak aku ^^

  5. Kyuhyun so jual mahal dah diawal jaim gimana gitu eh skrng malah suka kan sama sungmin ciee ciee wkwkwk. Kirain ff ini tuh ceritanya kyuhyun yg gatau gimana itu rasanya cinta gitu jd entar diajarin sama sungmin,tp gpp sih udah ini aja judulnya. Ditunggu chap selanjutnya kak,oh iya aku ChoLee hehehe. Kak aku minta pw yg my special angel dong u,u boleh yayayaya

  6. kyuhyun kebanyakan nghayal -,-
    sukaa banget ama karakternya donghae yang bikin rusuh, imut keke~
    kyuhyun itu ibarat mneyelam minum air, kesempatan banget deketin sungmin :v

  7. akhirnya update juga . . . . Ckckck vic mengerikan. . . Kyu mulai aksi gombalnya . . . . Jadi penasaran dngan hubungan kyumin selanjutnya

  8. tema pas kok..
    hihihi
    kyuhyun sukanya noona2…tpi q juga sukaaaaa…
    aaaa…tipe kita sama kyu…*colek kyu
    lanjuut…

  9. Themax udah bgus kok. Udah lancar. Dan oh, aku jg sangaaaaat suka part ini. Bru part 2 tp udah bikin geregetan. Tampakx TFL bakal menggeser posisi MSI jd ff fav aku.

  10. Baru ngeh kalo ada ff baruuu…. dkejaar deeh baca nyaaa…..

    Aahhhhh kyu jd muriiid jangan nakal yaaaaa…..!!!!!!!

  11. ini siwonnya suka gak sih sama ming hahaha penasaran sama dia…. dan terus si victnya aigooooooooo ngebet banget ngedeketin, dan kyu yang uda mulai curi start pinter bener -_-

  12. Woooowww…kyuhyun itu memang maumu ya belajar bersama sungmin, modus banget deh kamu ini *sigh lanjut chingu, seru banget kyuhyunnya maksa mulu nih lol

  13. yeeeey udah update lagi hahahah,kyuhyun blakblakan banget,sumpah masih di buat penasaran sama ff ini,sekarang gak loading lama kok kalo mau buka wp nya jiyoo tp kemaren” susah bgt emg sampe hp aku ngehank ahahaha
    lanjuut jiyoo

  14. yaaa ..aku rada pabaliut?? oh tidak maksudku kurang fokus sma percakapan terakhir …effect lagi shaum yaa…

    oh iya eonni sibuk ya ,soalnya update nya jarang kilat🙂 tapi semangat yaa

  15. Hohoho ni ff kayanya ada comedy – comedy nya.. aku suka jdi jln ceritanya g terlalu berat.. pertahankan eonni dan lanjutkan updet untuk next chap nya yaaaa aku tunggu loooohhhh…. ^_^
    Anyeong~~~
    Saranghae~~~

  16. wkwkkw ModusKyu is everywhere yaaaa😄
    ga real ga ff , dia ttep aja modus😄
    kyaaa kyaaa aku suka kok chingu tema ff ini ,
    ditunggu next chapnya yaa
    mian baru review , baru sempet baca u,u

  17. uwah akhir’a tema’a d ganti, heheh aman nich, gak susah scrol ke bawahnya, sungmin emng istimewa, kyu aja sampe tertarik… eiy apa kyu punya cinta masa lalu dan sungmin juga? maksut’a, nanti ada flashback2an gak, fufu makasih loh ya ff’a selalu bagusshh

  18. gak papa author walaupun bulan ramadhan lanjut aja toh gk ada nc nya kok…ini wajib dilanjut author penasaran bgt sm jiwa muda kyu ni.. apa nantinya nunggu kyu sukses dlu ampe 5 taun kedepan baru bisa menikahi ming…mudah2 an ff ini panaaaaaaang..aq rindu ff mu yg panjang author..asal jgn terlalu lama updatenya yaaa…fightiiing

  19. Gombal gembel ala kyuhyun #ditabokkyu

    eaaa kyu .. mulai deh deketin sungmin gara2 insiden ciumam itu dia jadi suka sama ming ..

  20. Wae kyu … ?
    Kayaknya mau jd saingannya donghae y ahahaha …
    Keren selangkah lebih maju ketimbang donghae bukti nya dah mampir ke apartemen sungmin bs makan malam sekalian malah
    Siwon sm sungmin gmn sicb sebenernya knp g pacaran aj bukan nya sm2 suka
    Vic saem agresif bener dech ba bahaya nich
    Ditunggu lanjutan next chap ny y chingu

  21. kyuhyun bisaan aja minta diajarin sama min
    modus aja biar deket2 min terus
    jadinya kebayang2 min terus kan
    emang usah min yg seksi montok dilupakan hehehe
    pasti bakalan lucu liat perjugan kyuhyun
    mudah2n apdetannya kilat
    semangat

  22. Eonni.. jauh beda umurnya.. tpi gg pa kok..
    Oh ya eonn.. next chap slalu dinsnti. Aku reader baru disini eonn.. jadi baru coment.. heehee^^

  23. Hah rayuan kyu gila bener….
    Kyu ngmngnya ceplas ceplos?
    Hah min sk yg kya kangta….
    Bener kyu dia lbh tampan dry kangta hehehehhehehe….
    Berarti kyu ad kesempatan nih hheheheeheheh
    Seru ff nya
    Lanjut author thanks….

  24. Hemm Kyu udah mulai ngelakuin pendekatan nihh
    Lalu apa Ming bisa suka sama Kyu yang bukan tipenya??
    Aku suka kata2 Kyu diakhir “Toh bagaimana pun juga aku masih memiliki kesempatan mendekati ssaem. Aku ‘kan lebih tampan dari Kangta.”
    narsis Kyu mode on#haha
    Semogaperjuangan Kyu untuk mendapatkan ssaem cantiknya berhasil!!!
    Kyu Fightingggg!!!!:3

  25. Wah kyu uda mulai dekat sm minnie…. gpp brondong… kan minnie juga awet muda… hihihihi
    kira2 ntar kedekatan spt apa lagi nih… nenek kyu suka sm minnie deh kayanya…

  26. haha, unyu aja mbayangin kyuhyun jadi kek gini, tapi unyu gitu mesumnya masih tetep weh :3 luntur deh imutnya, dan temanya oke kok thor (kalo di aku)

  27. kyuu moduss moduss..
    minnie cuekk bangett ..
    chinguu boleh minta PW ff nya yg My special angel ? boleh ya..
    nextt next chap 3 ditnggu

  28. Aku suka chapter ini xD kyunya nakal gmna gitu xD evilnya dapet xD trus mingnya kek pake sifat asli(real) dia xD suka deh xD

    Lanjuut

  29. hahahaha… aku mash gak bisa ngebayangi kyuhyun yg cool tpi manja dblakang. tapi sesuai sih sama kpribadiannya, buktinya di acara variety sj m kan eunhyuk pernah bilang kalo kyu manja bgt sma org tuanya.

    kyu mulai mlancarkan aksinya sma ming. dia udah suka atau masih mau godaiin ming aja???
    donghae di ff ini jga lucu sih, gemes bgt. kadang2 marah2, kadang ngambek, kadang senang dan smuanya serba kadang. hahahaha…
    aduh itu di aprtemen brdua aja hati2 loh, kan yg ketiganya setan. eh… kyu kan #ups #abaikan

  30. Rider baru numpang baca….

    Cho kyu modus, blang m’wakili tmen’y pdhal mah buat dia sndri, lgian tipe ideal guru lee tuh bkan cma tampan tpi dia hrs atletis g kya s cho krus krempeng….kkkkk

  31. Bagus say… hanya kyuminnya usianya terpaut agak jauh… jadi kyumin bersatunya pasti penuh tantangan… tp mau baca persepsi thor ttg usia nih… hehe

  32. kyu ceritanye lagi ngerayu ye hahaha pake acara mewakili hahaha ming jgn mau ming kerempeng gitu hahaha suruh olahraga dikit

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s