Sorry | Bye’s Squel | KyuMin | OneShoot | Genderswitch | T | Sad , Angst |

Sorry (Bye’s Squel)

Genre : Sad , Angst

Rate : T

Pairing : KyuMin

Part : ONE SHOOT

Warning : Genderswitch , Miss Typo(s)

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi. Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

 

Note : Dedicated for The Victims of Sewol Ferry . Before read this, please read Bye first!

Music :Bye (Taeyeon), Breath (Jonghyun & Taeyeon), Blind (Yesung), Miss You (SM The Ballad), At Least I Still Have You & Goodbye My Love (Super Junior-M), etc [Many Sad Songs of Super Junior, SNSD, and SM The Ballad]

 

Kumohon cepat keluar dari kapal dan ayo pergi kencan denganku. Di sana sangat dingin, ‘kan? Maafkan aku karena aku tidak bisa melakukan apa pun untukmu selain berdoa. Aku merasa sebentar lagi aku akan gila. Aku tidak mau membayangkan seberapa takutnya kau sekarang, aku benar-benar tidak mau.

 

Aku tidak mau putus asa. Maafkan aku karena aku tidak mengatakan bahwa aku juga mencintaimu. Tidak, aku tidak akan mengatakan permintaan maaf karena aku tahu kau akan kembali, lalu aku akan mengatakan ‘aku mencintaimu’ setiap hari. Jadi, kumohon bertahanlah. Kita hanya sempat berbaikan selama beberapa menit, dan aku tidak bisa melepaskanmu seperti ini begitu saja. Kita juga harus menikah. Jangan terjebak di waktu yang sulit dalam kegelapan, pikirkan keluargamu dan juga aku. Kumohon, berpegang teguhlah pada hal itu. Jangan putus harapan.

OoOoO

Sungmin melipat sepucuk surat yang ia tulis empat tahun lalu, sehari setelah kejadian kapal ferry itu tenggelam. Harapan besar yang ia tumpuhkan pada rangkaian kalimat penuh makna itu sempat ternodai oleh jejak air mata, membuat kertasnya terlihat kusut setengah mati.

 

Semua sudah usang: amplop merah jambunya, kertas suratnya, tinta penanya, bahkan harapannya.

 

Semua benar-benar usang, surat itu tidak pernah terjamah oleh tangan manusia—bahkan sang penerima surat pun enggan kembali demi membaca sepucuk surat curahan hatinya ini. Semua masih tetap sama seperti saat ia meletakkan surat penuh harapan ini empat tahun lalu. Bahkan setelahnya, surat ini hanya tergeletak tak berdaya dalam ruangan loker yang gelap dan dingin, seolah membiarkan waktu menggerus setiap warna tintanya hingga tampak memudar.

 

Wanita itu meletakkan surat itu di tempat semula, di dalam sebuah loker dengan tumpukan buku-buku yang tak kalah usang dengan surat darinya. Barang-barang milik Kyuhyun, buku-buku diktatnya, sebuah psp hitam, dan selembar foto close-up Kyuhyun yang diambil empat tahun lalu ketika ia baru pulang dari olimpiade internasional di Beijing.

 

Foto dengan lengkung bibir yang indah, penuh kebahagiaan dan gurat kemenangan yang membara. Sorot matanya tajam, seolah ia sedang menyuarakan tentang harapannya untuk selalu menjadi nomor satu hingga umurnya habis dimakan waktu. Dan medali emas yang ada di genggamannya adalah sebuah bukti kongkret bahwa ia adalah nomor satu selama ia masih bisa bernafas.

 

Sekali pun raganya menghilang karena tragedi itu, dan dia tidak bisa bernafas di dunia yang kupijak sekarang, dia masih tetap menjadi nomor satu di hatiku.

 

Kepala Sungmin merunduk, tak kuasa menyembunyikan air matanya yang sudah melesak keluar dari ujung matanya. Dadanya kembali berdenyut sakit ketika kenangannya bersama Kyuhyun kembali berputar di otaknya, membuatnya sakit kepala karena tahu bahwa sekarang Kyuhyun sudah benar-benar pergi.

 

Lagi pula, kenapa pergi secepat itu? Kau tidak mau pergi kencan denganku? Kenapa tidak kembali?

 

Sungmin tidak bisa menahan tangisnya, bahkan rasa ini semakin kuat mencekik lehernya hingga ia kesulitan menarik-ulur nafasnya. Ia ingin melepas semuanya, tetapi bayang-bayang kelam yang sudah tercetak permanen di dinding ingatannya selalu membuatnya menangis tersedu seperti ini.

 

Tiba-tiba tepukan lembut mendarat di pundak Sungmin, menyadarkannya kembali dari ingatan-ingatan masa lalunya yang penuh kesedihan beruntut. Sungmin buru-buru menghapus lelehan air matanya di pipi, menoleh untuk menatap siapa gerangan yang berani menepuk pundaknya.

 

“Sungmin-ah, upacara peringatannya akan segera dimulai,” wanita cantik yang berdiri tepat di samping Sungmin berucap dengan nada kalem. Sungmin hanya mengangguk untuk memberi jawaban, lidahnya masih terlalu kelu untuk bergerak demi mengucap sebuah kata.

 

Tanpa mencoba berbincang sebentar, dua orang itu segera pergi meninggalkan ruangan loker yang sepi, berjalan menyusuri lorong yang panjang dan berhenti di sebuah kelas. Ada beberapa teman sekelasnya—yang tentu sudah beranjak menjadi orang dewasa—berdiri di depan papan tulis, merundukkan kepala dengan rangkaian bunga di tangan masing-masing. Beberapa bingkai foto dengan gambar wajah teman-teman sekelas empat tahun lalu berdiri kokoh di atas permukaan meja, ditemani oleh beberapa tangkai lilin putih dengan api kecil di ujungnya.

 

Semua bangku belajar dengan bingkai foto itu adalah bangku belajar yang ditinggal tanpa kabar oleh pemiliknya empat tahun lalu. Totalnya ada empat belas bangku, termasuk bangku di urutan nomor dua dengan bingkai foto milik Kyuhyun.

 

Kepala Sungmin merunduk lagi ketika ia menemukan bingkai yang mengelilingi lembar foto Kyuhyun di sana. Air matanya menetes dan ia terisak lagi untuk yang kesekian kali di hari ini. Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita yang sedang membaca sebuah bait doa—tentu dengan iringan isak tangis, lalu disahuti dengan kata ‘amen’ dari semua yang ada di kelas tersebut.

 

Doa itu sudah berakhir, dan teman-temannya mulai beranjak meletakkan rangkaian bunga yang mereka bawa di meja-meja itu.

 

“Aku tidak percaya jika Ketua Cho ikut tidak ditemukan.”

 

“Dia menjemputku dan teman-teman di dek C, kemudian mengantar kami sampai keluar dari kapal,” suara wanita lain menyahut. “Tetapi dia kembali masuk ke dalam untuk menjemput teman-teman di dek D.”

 

“Setelah itu dia tidak kembali.”

 

“Tidak bisa dipercaya.”

 

“Dia patut mendapat surga di sana.”

 

“Seharusnya dia bisa selamat. Tetapi ia memilih pergi menjemput teman-teman yang lain di dek D.”

 

“Bahkan ketua Cho melindungi teman-teman sampai akhir.”

 

“Dia pasti membimbing teman-teman sampai ke surga dengan penuh tanggung jawab.”

 

“Ketua Cho memang hebat. Tuhan benar-benar memberkati ruhnya.”

 

Sungmin membelah kerumunan wanita-wanita itu, menyelipkan tubuh mungilnya di sela-selanya dan berusaha menggapai bangku milik Cho Kyuhyun. Teman-temannya yang sedari tadi berdiri mengerubungi bangku milik ketua kelas mulai mundur ketika tahu Sungmin datang. Mereka menatap wajah pias Sungmin selama beberapa saat, lalu pergi membubarkan diri.

 

Wanita berambut panjang itu meletakkan karangan bunganya di atas bangku Kyuhyun, pandangan kosongnya pun tak beralih barang sedetik pun dari bingkai foto itu. Perlahan ia mulai melukis seulas senyuman kaku, “Untuk Ketua Cho yang hebat,” bisiknya. “Aku juga .., mencintaimu.”

 

Ia merundukkan kepala lalu pergi dari kelas itu.

 

“Aku mencintaimu dan aku akan kembali untukmu. Percayalah, aku akan datang.”

 

OoOoO

 

Cho Kyuhyun itu sudah menjadi kenangan. Dia tidak akan kembali seperti ucapannya empat tahun lalu. Selama apa pun kau menunggunya untuk datang kembali ke dunia, itu akan menjadi suatu hal yang mustahil. Sungmin, tidakkah kau merasa jika kau sudah bertahan untuk waktu yang cukup lama? Tidakkah kau merasa jika saat ini kau benar-benar harus meninggalkan semuanya?

 

Aku mencintai Cho Kyuhyun dan akan terus menunggunya. Jika pun dia tidak datang, aku yang akan pergi menemuinya. Kelak di surga, dia pasti datang mencariku.

 

Benar ‘kan, Kyu? Kau akan mencariku, ‘kan? Sampai kapan pun aku akan menunggu, kau harus tahu itu.

 

Sungmin tidak pernah tahu, sejak kapan ia suka datang ke pantai dan memandang deburan ombak tengah malam seperti ini. Hampir setiap minggu Sungmin datang ke pantai, memandang hamparan air yang bergulung-gulung ditiup angin dengan tatapan kosong, tanpa harapan, penuh binar kebimbangan, dan penantian.

 

Mungkin baginya, duduk sendirian di pinggir pantai akan membuatnya serasa sedang bersama Kyuhyun. Sungmin terus meyakinkan diri sendiri bahwa ia tidak akan kesepian karena Kyuhyun pasti selalu ada di sampingnya, ia tahu jika ruh Kyuhyun yang kasat mata itu sedang duduk di sebelahnya, menemaninya memandang pantai yang disinari lampu redup berwarna oranye.

 

Orang-orang yang juga datang ke pantai dengan ditemani teman atau kekasihnya sibuk berlalu lalang di sekitar Sungmin, tidak menghiraukan udara yang begitu dingin karena tiupan angin yang cukup kencang.

 

Setidaknya sampai sekarang Sungmin tidak pernah merasakan kedinginan yang seperti itu. Ia sudah mati rasa, mungkin ia tidak bisa memikirkan sesuatu yang lebih penting—otaknya hanya dipenuhi oleh pekerjaan dan kenangan tentang Kyuhyun.

 

Hanya Kyuhyun.

 

“Kau bisa masuk angin, agassi,” seseorang tiba-tiba mencoba membuyarkan lamunan Sungmin. Sedetik setelahnya ada selembar kain hangat yang menelangkup punggung sempit Sungmin.

 

Sungmin bergeming, tidak mau menoleh karena ia sudah terlalu asik memandang lurus ke laut lepas. “Terimakasih,” gumamnya.

 

Lelaki itu tampak heran dengan ekspresi Sungmin, merasa ganjal dengan arah pandang dari bola mata hitam milik gadis mungil itu. “Agasshi, kau tidak apa-apa?” dia mencoba bertanya dengan logat bicaranya yang aneh.

 

Sungmin merendahkan pandangannya, “Tidak apa-apa. Aku akan mengembalikan ..”

 

Kalimat Sungmin terpotong begitu saja saat pandangannya jatuh pada wajah pemuda yang mencoba menegurnya. Ada palu besi yang mencoba menggedor dinding hatinya, membuatnya berdenyut sakit untuk beberapa saat. Mendadak Sungmin kehilangan konsentrasinya, pelipisnya berdenyut nyeri manakala ia mencoba meyakinkan diri sendiri.

 

Ia merasa bahwa dirinya sudah terlalu jauh berimajinasi. Mungkin ia sudah menjadi orang gila karena terlalu stress memikirkan Kyuhyun. Sungmin menutup kelopak matanya sebentar, berharap semua akan kembali seperti semula saat ia kembali membuka mata. Ia tahu jika pikirannya sudah dihinggapi penyakit gila, tetapi ia tidak mau menjadi gila.

 

Maka, dengan perasaan kalut yang begitu besar, Sungmin mencoba mengintip wajah pemuda itu dari sela kelopak matanya yang terpejam. Ia terkejut lagi saat tahu jika sesuatu yang ada di hadapannya sama sekali tidak berubah, reflek mata bulat itu mengerjap beberapa kali.

 

“Kyuhyun?” wanita itu melontarkan sebuah nama yang selama ini selalu hinggap di pikirannya, bibirnya bergetar samar. Ia benar-benar merasa sudah gila! “Cho Kyuhyun?”

 

Dahi pemuda itu berkerut manakala wanita cantik di hadapannya ini melempar tatapan penuh keterkejutan kepadanya. Apalagi ketika ia mendengar nama itu terucap dari kedua belah bibir tipisnya yang mulai memucat. Ia sedikit tidak mengerti dan bingung, “Ya?”

 

“Kau ..,”

 

“Aku?” lelaki itu menunjuk wajahnya sendiri dengan telunjuk tangan kirinya, masih merasa heran sekaligus bingung.

 

“Nama ..,” sepenggal kalimat Sungmin kembali terlontar, namun kalimat lengkapnya masih tertahan di balik lidahnya yang terasa kelu setengah mati. Matanya masih melotot, seolah sedang menelusuri lekuk wajah pemuda itu dan berusaha menemukan sesuatu yang bisa meyakinkan dirinya tentang siapa sosok tersebut.

 

“Nama?” pemuda itu mulai mengerti. “Namaku? Kuixian, Zhou Kuixiun.”

 

“Kuixian?” Sungmin mengulang nama itu. Kedua alisnya melengkung semakin tajam lalu ia kembali bertanya, “Kau mengenalku?”

 

Pemuda itu semakin heran tatkala Sungmin bertanya seperti itu kepadanya. Kepala lelaki itu menggeleng pelan, “Tidak.”

 

“Sama sekali?”Sungmin mencoba mengorek jawaban yang lebih akurat. “Aku Lee Sungmin,” katanya.

 

“Kita baru bertemu,” pemuda bernama Kuixian itu menjawab. “Sebulan lalu aku baru pindah dari China dan sebelumnya aku belum pernah kemari.”

 

Ada segudang perasaan kecewa yang menelusup masuk ke celah perasaannya saat tahu jika pemuda yang ada di hadapannya bernama Zhou Kuixian. Mendadak pundaknya melemas, dan ia mulai tahu jika ia sedang berada di dunia nyata—karena lelaki itu bukan Kyuhyun.

 

Apa ia benar-benar sedang berimajinasi sehingga lelaki itu kian tampak seperti Kyuhyun-nya?

 

Agasshi?”

 

Joesonghabnida,” kata Sungmin sambil memejamkan mata dan mulai memijit pelipis kepalanya. Mungkin seharusnya ia pulang ke rumah dan minum dua kapsul obat penenang yang baru ia dapatkan dari konsultasinya dua minggu lalu. Dua lengannya bergerak melepas selembar selimut tebal yang sempat menelangkup punggungnya, “Ini. Terimakasih.”

 

Lelaki itu menerima kembali selimutnya, masih menatap punggung Sungmin yang perlahan pergi jauh dari pandangannya.

 

Apa kita pernah bertemu?

 

OoOoO

 

Sungmin, maafkan aku ..

 

Ruh laki-laki itu berputar-putar di sekitar sosok seorang gadis yang sedang tertidur lelap di ranjang kecil itu. Sesekali ia berhenti dan memandang sejenak ke arah wajah gadis itu, namun setelahnya ia kembali bergerak tanpa mengenal lelah.

 

Pusat ruhnya sedang resah, sehingga ia taidak bisa mengendalikan segenap kekuatannya. Ia tidak bisa pergi ke surga, perasaan kalutnya ini selalu menariknya untuk tetap berada di dunia. Lagi pula, surga bukanlah tempat yang tenang jika suara Sungmin yang memanggil namanya terdengar samar-samar dari dunia. Ia tidak bisa pergi meninggalkan wanita itu begitu saja—walau sebenarnya ia juga sudah tidak kembali ke dunia.

 

Ia sudah meninggal, ia hanya sesosok ruh tak kasat mata yang tidak memiliki raga. Dan buruknya, Sungmin selalu menahannya untuk tetap tinggal di dunia dengan segala keegoisan dan penantiannya. Kyuhyun tahu jika Sungmin teramat mencintainya, ia senang jika Sungmin mau menunggunya. Namun, Kyuhyun tidak sanggup jika harus melihat wanita itu terus menangis sambil memandang bingkai fotonya.

 

Ia tidak mau melihat Sungmin menangisi kematiannya.

 

Lengan ruh itu bergerak, kali ini telapak tangannya membelai dahi Sungmin yang tertutup poni. Pandangan sejuknya yang tak berubah semenjak empat tahun lalu masih menghujam raut wajah lelah di hadapannya, menyalurkan segenap pemikirannya yang tertahan di balik lidah selama sekian tahun. Kyuhyun hanya mampu tersenyum manakala memandang wajah teduh Sungmin yang sedang tertidur, wanita itu jauh terlihat lebih tenang saat matanya mulai terpejam—Kyuhyun lebih senang jika Sungmin sudah tidur dan melupakan dirinya barang sejenak.

 

Karena dengan begitu, Kyuhyun bisa melihat wajah Sungmin tanpa gurat kesedihan, kelopak mata yang kering tanpa air mata, dan bibir yang sejajar indah tanpa getar samar juga suara isakan.

 

Kenapa kau tidak mau melepasku? Jika memang ingin menemuiku kelak di surga, kau harus merelakanku terlebih dahulu.

 

Ruh itu masih terdiam.

 

Setidaknya, buatlah dirimu bahagia dengan menemukan penggantiku.

 

Telapak tangannya bergerak menelangkup pipi Sungmin yang pucat.

 

Aku juga akan menunggumu di sana. Kau tidak perlu meragukanku. Kau tidak boleh menangis dan memanggil namaku seperti itu. Tahukah kau jika suara panggilanmu membuatku resah sepanjang detik berdetak? Aku tidak bisa tinggal di surga jika kau terus menangis sambil memanggil namaku, kau membuatku khawatir setengah mati.

 

Ruh itu merundukkan kepala, menghapus jarak di antara wajah mereka.

 

Sungmin, maafkan aku karena tidak bisa bertahan lebih lama untukmu. Maafkan aku karena aku pergi mendahuluimu. Maafkan aku karena telah membuatmu menangis sepanjang waktu. Maafkan aku karena aku tidak bisa kembali untukmu. Maafkan aku karena telah mengatakan bahwa aku mencintaimu. Maafkan aku karena mengingkari janjiku.

 

Energi di sekitar ruh itu mulai meredup, ia tampak lebih risau dari sebelumnya. Dengan gerakan lamat-lamat ia mendekatkan wajah mereka, mengecup bibir ranum di hadapannya selama satu detik lalu memejamkan mata. Ia menahan nafas untuk sejenak lalu berucap, “Saranghae, Sungmin.”

 

Kelopak mata wanita itu bergerak saat sebuah naluri menyuruhnya untuk segera sadar dari dunia bawah sadarnya. Ada suara samar yang tertangkap gendang telinga, entah itu dari dunia nyata atau dunia mimpinya. Sungmin tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadanya, tetapi tiba-tiba kelopak matanya terbuka dan ia mulai sadar dari tidurnya.

 

Ia terbangun tengah malam karena mendengar suara Kyuhyun yang memanggil namanya. Sungmin hanya bisa merutuk saat tahu jika semua masih sama seperti sebelum ia tidur, keadaan kamarnya tidak berubah. Ia masih berada di Seoul, Korea Selatan, pada tanggal 25 April 2014.

 

Padahal ia berharap jika sekarang adalah awal tahun 2008, dia berharap bisa bangun di kamarnya dan menemukan setumpuk kertas tempel di sekitar tempat tidurnya. Dengan begitu, ia bisa membangun semangat hidupnya sambil menggumamkan nama Kyuhyun—lalu bertemu dengan lelaki itu saat ia baru melangkah memasuki ruangan kelas belajarnya.

 

Kyuhyun ..

 

Kyuhyun ..

 

Semua terasa kosong ketika Sungmin menyadari jika semua hanyalah bualan belaka, tidak lebih dari khayalan tidak masuk akal yang selalu memenuhi tempurung kepalanya. Dan setelah itu, dadanya akan kembali terasa sesak setengah mati. Kemudian, kelopak matanya terasa perih dan tanpa bisa dikendalikan air matanya jatuh menelusuri pipi.

 

Ia menggigit bibir bawahnya, “Kyuhyun-ah, kau tadi memanggilku, ‘kan?” tanyanya dengan suara bergetar. “Jangan memanggil namaku jika kau berniat menghilang dan menyembunyikan diri.Aku tahu kau ada di sini.”

 

Sungmin menghapus jejak air matanya dan mendongakkan kepala, menelusuri setiap ruangan kosong di apartemennya dan memperhatikan setiap jengkal centimeternya dengan teliti. “Keluar kau, Cho Kyuhyun!”

 

Sungmin, berhenti ..

 

“Kubilang keluar!”

 

PRANG!!

 

Suara pecahan kaca itu terdengar lebih memekakkan telinga dari pada suara teriakan Sungmin yang melengking. Perhatian wanita itu kini beralih ke arah bingkai foto yang tergeletak tak berdaya di atas lantai dengan serpihan-serpihan tajam di sekitarnya.

 

“Kyuhyun-ah ..”

 

Aku tidak bisa, Sungmin.Maafkan aku.

 

OoOoO

 

Sungmin meninggalkan setumpuk dokumen-dokumen penting yang baru diselesaikan olehnya di dalam mobil bersama jas kantornya yang kusut. Setelahnya iamelangkah cepat-cepat memasuki sebuah klub malam dan duduk di sebuah bangku kosong tepat di depan meja bartender.

 

Lemon shooter, please,” katanya sambil meletakkan dompetnya di atas meja. Telapak tangannya memijit pundak dan lehernya yang terasa kaku, kelopak matanya yang terolesi eyeshadow tipis mengatup erat. Ia benar-benar lelah dan butuh istirahat, tetapi entah mengapa ia ingin pergi ke klub dan minum minuman keras demi melunturkan beban hidup yang sudah mengerak di dinding otaknya.

 

Ia ingin melupakan pekerjaannya, bos bodohnya yang super egois dan seenaknya, juga kenangan masa lalu tentang tragedi kapal yang hampir merenggut nyawanya. Lagi pula ia tidak ingin mengingat-ingat kejadian mengerikan yang sudah merebut nyawa calon kekasihnya.

 

Ia tidak pernah ingin.

 

“Silahkan.”

 

Suara bass seorang bartender terdengar, sebuah gelas dengan cairan berwarna biru laut tersaji di hadapan Sungmin. Wanita itu membuka kelopak matanya, menatap minuman keras yang baru dipesannya dengan pandangan sayu tanpa binar semangat hidup. Tetapi beberapa detik setelah ia memandanginya, jemarinya yang lentik merangkul leher gelas dan ia meminum cocktail-nya dalam sekali teguk.

 

Oneshoot, agassi,” bartender dengan suara bass yang tadinya meracik minuman untuk Sungmin berucap menanggapi tindakan Sungmin. Lelaki berambut pendek dengan bibir tebal itu tersenyum sambil mengelap gelas champagne yang berjejer di hadapannya.

 

“Kali ini aku mau Dry Martini Cocktail,” Sungmin berucap lalu menyangga dahinya yang berkerut. “Tolong secepatnya ..”

 

As your wish, agassi,” bartender itu mengiyakan lalu segera mengambil shaker, menuangkan liquor dan beberapa balok es batu kemudian ia mengocoknya dengan gaya yang memukau. Ia masih memandang wajah Sungmin yang pucat pasi—walau ruangan remang namun ia masih bisa menangkap gurat resah yang terlukis di wajah pelanggannya. “Anda ingin mabuk?” tanyanya sembari menuang cocktail racikannya ke sebuah gelas berleher panjang yang baru.

 

Sungmin tidak mau menanggapi ucapan bartender yang terkesan sok akrab dengannya. Ia sedang tidak ingin digoda atau pun menggoda, ia hanya ingin sendiri.

 

“Kulihat anda datang sendiri,” bartender itu berucap lagi, kali ini ia menyerahkan minuman pesanan Sungmin. “Tetapi selamat menikmati.”

 

“Ya-ya, terimakasih,” Sungmin berucap acuh dan (lagi-lagi) meneguk minumannya dalam sekali teguk. Ia bersendawa sebentar lalu membanting gelasnya di meja. Kepalanya mulai pusing dan wajah Kyuhyun kembali berputar di otaknya. “Oh, maafkan aku ..”

 

“Ya?” bartender itu menanggapi tanpa melirik ke arah Sungmin. “Apakah ada minuman yang ingin anda pesan? Mungkin Lynchburg Lemonade untuk menyegarkan pikiran anda.”

 

“Tidak-tidak, aku ingin Martini. Limon. Ya, Limon Martini,” nada suara Sungmin mulai terdengar goyah, itu berarti ia sudah mulai mabuk dan kehilangan setengah kesadarannya.

 

Bartender muda itu tidak bisa melarang pelanggannya untuk memesan minuman beralkohol, maka tanpa banyak bicara ia segera memenuhi pesanannya. Sedikit merasa terheran karena untuk kali ini wanita itu hanya diam sambil merundukkan kepala.

 

Agassi?”

 

Sungmin terdiam dengan posisinya yang meringkuk menyerupai huruf C. Rambutnya yang tergerai kini terjuntai indah ke bawah. Lamat-lamat suara isakan terdengar pelan, bahu wanita itu pun terlihat bergetar samar.

 

Agassi, gwaenchanhayo?” sang bartender masih berusaha menunjukkan sikap pedulinya dengan melontarkan pertanyaan seperti itu. “Agassi?”

 

OoOoO

 

Bartender muda itu tidak menyangka jika jam kerjanya hari itu sudah habis, itu berarti ia bisa pulang ke apartemen barunya di Seoul dan beristirahat. Tetapi seorang pelanggan manis yang kebetulan mabuk di detik-detik terakhir ia menjadi bartender di hari itu membuatnya tidak bisa pergi begitu saja. Mau tidak mau ia membopong tubuh Sungmin keluar dari bar dengan mengatakan kepada atasannya bahwa wanita itu adalah salah satu relasi keluarganya. Setelahnya, ia membawa wanita manis itu pulang bersamanya ke apartemen miliknya.

 

Wajahnya sih manis.

 

Alasan mengapa ia mau membawa Sungmin pulang bersamanya karena sepertinya wanita itu memang terlalu lemah untuk ditinggal di kamar bar sendirian—ditempat kerjanya ada sebuah ruangan khusus untuk menampung pelanggan yang mabuk berat. Lagi pula, ia tidak melihat sisi jahat yang mungkin bersembunyi di balik wajah manisnya itu.

 

Singkatnya, ia menilai wanita mabuk itu sebagai orang baik-baik.

 

Malam itu ia terlalu lelah. Maka setelah sampai di apartemen dan menidurkan Sungmin di ranjang kecilnya di kamar, ia segera pergi tidur di sofa ruang tamu. Besok jam kuliahnya akan dimulai pukul sebelas, jadi ia bisa pergi tidur lebih lama dari biasanya. Setidaknya, ia ingin mendapatkan waktu tidurnya yang berharga.

 

OoOoO

 

Sungmin ..

 

Lee Sungmin, ireona ..

 

Sungmin ..

 

Suara itu terus berputar dan mengganggu tidur Sungmin, membuatnya tidak betah untuk terus memejamkan mata lalu akhirnya memilih untuk bangun. Mata lelahnya mengerjap beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang baru menjelajah di dunia mimpi. Perlahan ia bangkit, tetapi gerakannya diinterupsi oleh denyutan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Dia memekik pelan, tetapi masih berusaha untuk bangkit. Ia duduk di sisi ranjang, memandang keadaan kamar asing yang menyambut pandangannya.

 

“Di mana ini?” dia bergumam dengan suara serak. Kepalanya merunduk demi memastikan pakaian yang melekat di tubuhnya. Masih utuh, itu berarti tidak ada yang terjadi kepadanya kemarin malam. Ia hanya mabuk karena minum dua gelas minuman keras dan berakhir di tempat asing ini.

 

Sungmin berdiri dan memilih untuk keluar kamar, ia ingin tahu siapa gerangan yang mau menampungnya selama tidak sadarkan diri. Lengannya bergerak mencapai knop pintu, memutarnya pelan lalu melongok keluar kamar.

 

Tidak ada siapa-siapa di sana. Ruangan apartemen minimalis itu begitu sepi.

 

Tetapi, tiba-tiba pandangan Sungmin jatuh pada sepasang telapak kaki yang menjuntai di sofa ruang tamu. Wanita itu baru menyadari jika sang pemilik apartemen masih terlelap dalam mimpi tanpa balutan selimut tebal yang nyenyak di atas sofa. Dengan langkah pelan-pelan ia mencoba mendekat, kepalanya melongok ke depan demi memastikan wajah penolongnya yang sudah berbaik hati.

 

Sungmin ..

 

Kepala Sungmin semakin berdenyut manakala tatapan matanya menangkap gurat damai yang terbingkai wajah tampan di hadapannya. Mendadak lututnya melemas, ia mulai kehilangan segenap akal sehat di kepalanya. Alisnya melengkung tajam, dahinya berkerut samar, dan jantungnya berdebar cepat melebihi ambang batas.

 

Lee Sungmin ..

 

Suara panggilan itu semakin cepat berputar di otaknya, membuatnya ling-lung dan tidak mampu bergerak untuk beberapa saat. Ketika ia tahu jika semuanya bukan mimpi, maka dengan gerakan cepat wanita itu melangkah menghampiri sosok tersebut dan duduk di hadapannya.

 

Air mata yang menggenang di sudut matanya tiba-tiba melesak, dan bibirnya yang bergetar itu menyuarakan nama calon kekasihnya. “Kyuhyun ..Kyuhyun-ah ..,” panggilnya dengan nada pilu sarat kerinduan yang mendalam. Telapak tangannya sudah menelangkup pipi tirus lelaki itu, menepuknya dengan gerakan keras dan segenap harapan yang membumbung tinggi.

 

“Kyuhyun-ah, bangun ..Kyuhyun ..,” suaranya masih terdengar pelan dan sarat kepedihan. “Kyuhyun ..,” kepalanya merunduk dan ia menangis sejadi-jadinya di lengan lelaki itu sembari terus menggumamkan nama Kyuhyun.

 

Tanpa diduga lengan lelaki itu bergerak, dan beberapa detik setelahnya ia bangun karena guncangan kuat di lengan atasnya. Sebenarnya ia masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya, namun saat tahu ada seorang wanita yang terisak di hadapannya, Kyuhyun segera membuka mata lebar-lebar.

 

Agassi?”

 

Nafas Sungmin serasa tercekik oleh keterkejutannya sendiri saat ia mendengar suara panggilan itu. Matanya yang merah terbelalak, ia pun mendongak dan menatap wajah lelaki tampan di depannya. Semua benar-benar nyata, sosok di hadapannya adalah Kyuhyun yang selama ini sudah ditunggunya. Dia Kyuhyun, Kyuhyun-nya yang sudah lama menghilang.

 

Salah satu tangannya terangkat, jemarinya yang bergetar kembali membelai pipi lelaki tersebut. Ia kembali bergumam, “Kyuhyun-ah?”

 

Agassi?” lelaki itu mencengkeram pergelangan Sungmin, berusaha menjauhkan telapak tangan yang mendarat di permukaan pipinya yang mengkilat karena minyak wajah. “Aku Kuixian. Kau tidak ingat?”

 

OoOoO

 

Laki-laki itu meletakkan gelas kaca berisi air dingin yang baru dibawanya dari dapur, memandang wajah pias Sungmin selama beberapa detik lalu duduk tepat di hadapannya. Ia melipat lengannya di atas dada lalu berdehem, “Sudah merasa lebih baik?”

 

Joesonghabnida,” kepala Sungmin makin merunduk. “Joesong ..”

 

Agassi,” lelaki itu menyela. “Berhentilah meminta maaf.”

 

Bola mata yang terselimuti kabut air mata itu kini terarah tepat ke wajah lelaki tampan itu. Sungmin menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk tidak menangis. “Joesonghabnida ..,” suaranya kembali bergetar. “Joesonghabnida. Jeongmal joesonghabnida.”

 

“Kenapa kau meminta maaf?” lelaki itu mulai jengah. “Aku tahu jika aku bukan Kyuhyun yang kau maksud. Aku Kuixian, Zhou Kuixian. Tetapi aku tidak tersinggung saat kau memanggilku dengan nama itu dua kali berturut-turut. Karena itu, berhentilah meminta maaf.”

 

Sungmin menggenggam erat telapak tangannya yang mulai dingin. “Aku ..”

 

“Tidak bersalah,” Kuixian menyela lagi. “Aku akan tersanjung jika kau memanggilku Kuixian, bukan Kyuhyun. Jika memang wajahku mirip dengan mantan kekasihmu itu, aku tidak bisa menyangkal karena aku sendiri tidak mengenalnya. Tetapi ..”

 

Kuixian menghela nafas, “Kita bisa berteman jika kau mau memanggilku Kuixian.”

 

Lelaki tampan itu menjulurkan sebelah tangannya ke arah Sungmin, “Kita mulai dari awal. Perkenalkan, aku Zhou Kuixian.”

 

END

 

Itu end-nya emang sengaja aku buat gitu, yaa .. kalian pasti sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi aku nggak buat lanjutannya lagi. Well, ini cuman untuk memperjelas apa yang terjadi setelah kejadian kapal fery itu.

 

Hmm .. masih adakah yang ingat alur ceritanya? Hehe sudah lama sekali dari postingan yang pertama, ya? Tapi kuharap kalian masih bisa nyambung waktu baca chapter ini .. fufu ..

 

Oh, ya. Terimakasih yang masih mau menunggu ff-ku dengan sukarela. Aku akan posting ff chaptered kalau aku sudah selesai ngetik yaa .. hehe aku harap sih kalian bisa nunggu sedikit lagi.

 

See you~

 

50 thoughts on “Sorry | Bye’s Squel | KyuMin | OneShoot | Genderswitch | T | Sad , Angst |

  1. jiyoo is back….
    Ak msh inget kok ma yg dl…
    Ah ming sgt mencintai kyu tp semoga bs menerima kuixian
    Likelike
    Ak tgg ff slnjtny update kilat

  2. huhhh~~~
    aku kira kuixian itu kyu yg amnesia dan tinggal di china terus balik lg ke seoul #aduhGa nyambung ya

    min msh blm bs lepas dr kyu pdhl udh sekian lama kyu pergi ..
    cinta min ke kyu bener” aku acungi jempol deh ^^

  3. Ternyata ada sekuelnya ya. Kyuhyunnya udah meninggal ya. Kasian nih ming ditinggal kyu, tp ada penggantinya kyu ya………

  4. Akhirnya kakak update jg huahahaha seneng bgt waktu dapet notif email wks gak nyangka bakal update

    Aku emang udah punya feeling kalau ini bakalan beneran END eh taunya beneran deh,pasti sungmin pacaran sama kuixian hahahaha

    Ditunggu ff mu selanjutnya ya kak,oh iya aku ChoLee kak tp pake acc yg ini hehehe

  5. iya, udah ketebak gimana setelah adegan ini, wkwkwk tapi gak ada salahnya d lanjut *eh
    oh iya, entah sejak tema blog ini d ganti, jadi lemot kalo lewat hp😦 aku’a jd gak nyaman…. jd u/ kursor k bawah butuh waktu bbrapa detik… trimakasih ff’a🙂

  6. anyeonghaseyo..
    aku reader baru tapi reviewer lama hihi.
    maaf baru nongol. aku suka semua fanficnya apalagi kalo chastnya kyumin, akut. eum.. disini aku manggilnya apa yaa? aku line92.
    aku kira kyu dsini blom mati, terdampar dimana gituuu*(?)
    tapi nggapapa kuixian pun tetep kyuhyun.
    hahaha

    ditunggu cerita selanjutnyaaaaaaa… ^^

  7. yaaaa…update update…

    eonni aku pas baca yg bye sumpah nangis bombay…tapi ini kok pas akhirnya rda gantung yee?? tapi gak papalah yg penting ada trrusannya…

    aku tunggu ff baru eonni..fighting

  8. Sukses laah ff ini buat aku nangis berkali2 kyuhyun nya udah bener2 meninggal u.u saeng buat lagi yayaya buat kuixian ama ming hueee nangis berkali2 baca ff ini😥

  9. sampe nangis tergugu loh ini ya… ah gila.. ngerasa banget gimana sesaknya sungmin.. dan betapa beratnya kyuhyun ninggalin sungmin😥 ah.. sedih banget..

  10. hikz hikz hikz. . . . Nangis baca ffnya, . . . . Apalagi ingat saat kyu mengatakan mencintai min dan saat kyu meninggal. . . . . . . Tapi untunglah min bertemu kuixian. . . . Huft. . . .

  11. huaaa dibikin sekuel nya y … kasian sungmin msh terpuruk
    bagus chingu ff nya
    ditunggu ff selanjutnya … Fighting

  12. kyaaaa chingu kombekk
    tapi kenapa udeh end ajaaa
    padahal mau baca kelanjutannya si ming ama kuixian
    kurang greget nihh end chingu, tp over all aku ttep sukaa sama karya karya chingu^^
    ditunggu next ffnya yaaa ^^
    hwaiting!!

  13. akhirnya… aq kira jiyoo dah tutup WPnya.. soalnya beberapa tengok WP ini ga ada postingan baru.. hehehhee..

    aq msh inget ko sama chapter sebelumnya.. seruu.. tp tetep tak membahagiakan my ming.. hmmmm..

    tp tetep suka..

    semangat.. ^^

  14. Aku gak sangka kalo bakalan ada skuelnya loh chingu kkkkk~ sedih banget ffnya, kasian antara kyuhyun dan sungmin yang dipisahkan oleh kematian yang berakhir gak akan dapat menyatukan mereka kecuali kematian namun dari itu semua sungmin bertemu dengan laki2 yg mirip dengan kyuhyun, itu sebagai obat sungmin. Jadi ini tidak terlalu menyakitkan untuk sungmin🙂

  15. saeng jiyooo lama sekali kamu berhibernasi….kemana saja..syukurlah author nongol lagi dan nulis kyumin lagi aq kira hiatus #andweeee…well wlwpun ini gantung bingiiitttt tp gpp lah..setidaknya ada quixian versi kyuhyun di kehidupan ming…smoga mreka jadian..krn mw bgmnpun critanya kyuhyun dah di surga..

  16. Ksihan sekali mingx,sbsar itukh cnta ming tuk kyu smpai berhrap yg da ddpanx adlh kyu.. Lnjt ya chingu bkin ff yg mkin mnyntuh hati,wlu puasa sbntar lg jgn mnyerah.. Dtunggu ff brux..

  17. Aduuuuuhhhh gila sedih banget sumpah!!!! Eonni ko lama banget sih updet ff baru nya… udah kangen ama ff nya.. semoga segera ada ff bru lagi yaaaa gomawo~~~~
    Saranghae~~
    Anyeong~~~

  18. Ya gak puas… masih nanggung jangan end dulu sih chingu….
    Sampe kyuyun ma sungmin jadian lagi donk….

  19. Ohh aku baru tahu, klo ni ada kelanjutan nya, ada 1 typo, pas kuixian bangun, km ngetik dia kyuhyun haha arwah sikyu jga g tenang, jadi dia trs brada di sekeliling ming… Aduhhh si kyu wlwpun udh jdi ruh ttep aja mesum, nyium nyium bbir ming hahhaa #getokjiyoo

  20. jangan lupakan kyu. ingatlah kyu sbg kenangan dan mulailah hidup baru dengan kuixian.. karena kyu sendiri pasti senang ming ^^

  21. Huft, aku berpikir kuixian itu kembaran kyu, yang balik ke korea buat memperjelas apa yg terjadi dengan kembarannya, kenapa lama? Ya karna baru dapat kabar (abaikan)

  22. Awalnya aku baca skuel ini, aku pikir disini kyu bakalan kembali😥
    aku kira kuixian itu kyu yg hilang ingatan.-.
    Teryata arwah kyu masih ada didunia T_T
    Kasihan banget ming sampe2 gak bisa relain kyu..
    mungkin sebaiknya ming mulai merelakan kyu dan mulai kehidupan baru bersama kuixian :’)

  23. Kasihan Sungmin tidak bisa Move On dari Kyuhyun. Sudah Sungmin mulai dari awal saja sama Kuixian itu, aku yakin Kyuhyun pasti akan bahagia melihatmu bahagia dengan mendapatkan penggantinya🙂

  24. Daebak, cocok banget jadi penulis terkenal.
    Sumpah gua baca2 ff lu thor, smuanya keren2. Penulisannya gua suka.
    Cara penyampainnya juga bagus.
    Cocok dijadiin novel.
    Bener2 buat gua nangis kebawa cerita=’)
    Keren banget imajinasi lu, gua jadi keinget tragedi kapal feri yg mau ke jeju itu kan?=’)

  25. Jiyoo kenapa ngak buat kuxian itu kyuhyun.
    huuwee kasiha ming.
    gau baca ya ampe nangis tersedu2.. huwee. Gara2 dengar kyu mati.

  26. huweeee udah bertahun-tahun sejak tragedi itu sungmin masih ingat, tak ada kencan setelah keluar dari kapal yg ada malah kesedihan :’
    mukanya mirip kyu yahh.. hiks seriusan ini ff bikin aku netesin air mataaaaa

  27. Binguung. Jadi bagaimana sebenarnya? Aku udah baca yg bye kok jadi komennya sekalian disini aja yaa hehe. Kyumin momentnya sedikit, gak memuaskan u.u
    Jadi kyuhyun itu meninggal? Terus ada kyuhyun yg baru gitu?? Masih belum ngeh u.u

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s