Bye | KyuMin | OneShoot | Genderswitch | T | Sad , Angst |

#PrayForSouthKorea2#PrayForSouthKorea1

 

Bye

Genre : Sad , Angst

Rate : T

Pairing : KyuMin

Part : ONE SHOOT

Warning : Genderswitch , Miss Typo(s)

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi. Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

 

Note : Dedicated for The Victims of Sewol Ferry

Music : Dear. Mom (SNSD), Bye (Taeyeon), Promise You & Hanamizuki (KRY), At Least I Still Have You & Goodbye My Love (Super Junior-M), etc [Many Sad Songs of Super Junior and SNSD]

 

Awalnya, aku membenci Kyuhyun setengah mati.

Sungmin memandang lembar rapor yang baru dibagikan, menatap lekat-lekat sebuah nilai yang tertulis di kolom paling bawah dengan spidol biru tebal. Dalam hati ia merutuk, mengutuk diri dan kemampuan otaknya yang tetap tidak berkembang dari waktu ke waktu. Padahal sebelum ujian, ia sudah belajar keras sampai rela begadang demi mengerjakan semua latihan soal di buku diktat itu. Tetapi hasilnya, masih amat mengecewakan.

 

Ini jauh di bawah targetnya, melenceng dari perkiraan awalnya. Sungmin tidak menduga jika dirinya akan kalah lagi, padahal ia sudah berjuang mati-matian.

 

Perlahan, kepalanya menoleh ke arah kanan, bola matanya bergerak melirik segerombol temannya yang sedang sibuk memberi ucapan selamat pada sang ketua kelas. Lalu beberapa detik setelahnya, Sungmin kembali menghela nafas—memilih menutup buku rapornya rapat-rapat dan menyimpannya di tas.

 

“Minnie! Minnie!” seorang gadis mungil dengan pita besar di rambutnya berjalan dengan melompat-lompat heboh ke arah Sungmin. Ia mengibar-ngibarkan buku rapornya dan melempar senyuman lebar ke arah Sungmin. Eternal magnae di kelasnya itu menutupi separuh wajahnya dengan buku rapor, kali ini menatap Sungmin dengan mata bulan sabitnya yang lucu. “Semester ini nilaiku naik!”

 

Sungmin hanya sedikit menarik kedua sudut bibirnya, melukis senyuman tipis untuk menanggapi pernyataan dari temannya.

 

“Oh ya, berapa nilai rata-rata di rapormu?” Ryeowook bertanya setelah meletakkan buku rapornya di bangku Sungmin. Kini kelopak matanya mengedip-ngedip memancarkan aura penuh rasa penasaran yang begitu tinggi. “Kali ini kurang berapa nilai dari nilai Kyuhyun?”

 

Dahi Sungmin mengkerut ketika gendang telinganya ditembus oleh pertanyaan Ryeowook. Dasar sialan! Batinnya memaki gadis yang berdiri di hadapannya.

 

“Kyuhyun itu hebat, ya? Dia magnae di kelas mau pun di tingkat dua sekolah ini. Tetapi otaknya jenius sekali. Aku sampai iri,” Ryeowook mengerucutkan bibirnya, memasang wajah sebal setengah sedih menyerupai anak anjing yang hilang di tengah pasar. “Padahal kata Yesung sunbae, Kyuhyun tidak pernah belajar jika berada di rumah. Dia sibuk main game tetapi hasilnya tetap memuaskan. Huh!” Ryeowook menghentak-hentakkan kaki ketika mengingat ucapan Yesung sunbae, kakak kandung Kyuhyun yang menjadi guru vocal Ryeowook—gosipnya mereka sedang dekat.

 

Sungmin kembali diam sambil memikirkan ucapan Ryeowook, ada segudang bahkan sejagat rasa iri yang menelusup ke dalam perasaannya—membuatnya kembali merasa mendidih setengah mati. Semua memang tak adil, pikirnya.

 

Jika membandingkan usaha Sungmin dan Kyuhyun dalam mendapatkan nilai, maka Kyuhyun akan kalah telak karena lelaki itu memang terlampau jarang terlihat memegang buku. Bahkan ketika pelajaran, dia sering tidur atau bermain game di ponselnya. Kyuhyun tidak punya buku catatan khusus, mungkin dia hanya mencatat sesuatu yang sedikit sekali di kolom-kolom kosong di buku diktatnya.

 

Banyak yang bilang kalau dia bermusuhan dengan buku-buku diktat—karena dia sama sekali tidak pernah kepergok membaca buku. Tidak seperti murid-murid lain yang suka pergi ke perpustakaan ketika tanggal ujian semakin dekat, dia malah pergi ke Game Center sepulang sekolah sampai larut malam.

 

Pacar sehidup-sematinya itu cuma benda-benda portable yang berisi game-game berisik!

 

Sekarang, coba bandingkan dengan Sungmin.

 

Dia itu anak perpustakaan, setiap jam selalu berkutat dengan buku, teman setianya hanya buku notes bersampul merah muda dan satu kotak peralatan tulis—isinya super lengkap mulai dari pen dan spidol warna-warni, pensil, penghapus karet, tipe-x, penggaris berbagai bentuk, staples, lem, gunting, dan benda-benda lainnya. Oh, satu lagi yang tidak boleh ketinggalan. Kertas tempel.

 

Ketika istirahat, dia menghabiskan waktu di perpustakaan atau taman belakang sekolah untuk sekedar mengulang pelajaran yang baru didapat di kelas. Sepulang sekolah dia pergi ke tempat bimbingan belajar. Sepulangnya, ia makan malam lalu kembali sibuk dengan tumpukan buku-bukunya di meja belajarnya, menyempatkan diri memandangi kertas tempel yang merekat di sekitar dinding kamarnya.

 

Namun, takdir tetap takdir.

 

Kenyataannya, sekeras apa pun usaha Sungmin untuk menjadi yang lebih baik, Kyuhyun selalu unggul dengan segala kelebihan-kelebihannya. Dia memang diciptakan untuk menjadi nomor dua, dan Kyuhyun untuk nomor satu.

 

Ya, Lee Sungmin!”

 

Suara cempreng Ryeowook yang melengking kembali menarik ruh Sungmin, membuat gadis itu tergelonjak karena kaget. Ryeowook yang ternyata masih menunggu jawabannya kini berdiri sambil berkacak pinggang di hadapannya. Alis gadis mungil itu melengkung tajam, sebal karena sudah diacuhkan.

 

“Maaf,” kata Sungmin lirih. “Kau tadi bertanya tentang apa?”

 

“Berapa nilai rata-ratamu?” Ryeowook kembali bertanya setelah menghela nafas berat.

 

Pandangan Sungmin merendah, terarah pada lantai ubin kelas yang dingin dan berwarna putih pucat. Ia mendekap tasnya, lalu tersenyum miring, “Rahasia.”

 

Mwo?” Ryeowook hampir memekik lagi. “Kenapa kau jadi sok misterius seperti itu?”

 

“Aku hanya tidak mau memberitahu nilai rata-rataku. Itu saja,” Sungmin mendongakkan kepala dan menatap wajah Ryeowook dengan pandangan tidak suka. “Kenapa? Aku berhak menyembunyikan nilaiku.”

 

Ryeowook berdecih, “Aku hanya ingin tahu, Sungmin!”

 

“Tidak mau!” Sungmin bersikeras. “Aku tidak mau membaginya denganmu!”

 

Ryeowook sudah habis kesabaran dan langsung merebut tas punggung Sungmin, membukanya paksa lalu mengeluarkan buku rapor dari dalam sana.

 

Ya!” Sungmin berteriak, bangkit dari duduknya lalu berusaha merebut buku rapornya dari tangan Ryeowook. “Kembalikan! Kubilang tidak mau ya tidak mau!”

 

“Aku hanya ingin tahu!” Ryeowook mengangkat buku rapor Sungmin tinggi-tinggi, berusaha lolos dari serangan balasan Sungmin. “Jangan menghalangiku!”

 

Darah Sungmin mendidih ketika pipi kirinya mendapat cakaran dari ujung kuku Ryeowook yang dicat dengan warna biru muda. Maka dengan sekuat tenaga, ia mendorong tubuh mungil Ryeowook dan menendang perutnya dengan salah satu kakinya yang kuat.

 

“Aduh!” Ryeowook berteriak ketika tubuhnya jatuh menghantam lantai, perutnya mendadak terasa nyeri setelah mendapat tendangan keras dari telapak kaki Sungmin. Semua murid yang ada di kelas mulai menghentikan bincang-bincangnya, memilih memandang ke arah Ryeowook yang tersungkur sambil mengaduh di lantai, lalu memandang ke arah Sungmin.

 

Pandangan Sungmin yang tajam dengan api kemarahan yang menyala besar terarah ke arah Ryeowook, seolah berusaha memaki dan mengatai gadis mungil itu. Dia berjalan ke arah Ryeowook, merebut buku rapornya yang ada di genggaman tangan mungil Ryeowook dan kembali berdiri. “Sudah aku bilang, aku tidak mau,” katanya sarkatis lalu melangkah keluar dari kelas.

 

OoOoO

 

“Kuharap, kejadian seperti ini tidak akan terulang. Kau mengerti, Lee Sungmin?”

 

Ne,” Sungmin merundukkan kepala, sama sekali tidak berani menatap wajah wali kelasnya.

 

“Kau boleh kembali ke kelas. Oh ya, sampaikan ucapan selamat dariku untuk Ketua Cho, ya?”

 

Sungmin hanya mengangguk pelan, lalu ia benar-benar melangkah menjauhi meja konsultasi dan pergi dari ruang konseling itu. Ia menutup pintunya rapat-rapat lalu menghela nafas. Dengan dada berat dan mata perih menahan air mata, Sungmin mencoba melangkahkan kakinya menelusuri lorong lantai satu.

 

Kenapa kau menendang perut Ryeowook-ssi? Karena dia bertanya tentang nilai rapormu? Kau peringkat dua di kelas, tetapi kenapa kau tidak mau menunjukkan hal itu?

 

Ucapan Guru Kim beberapa menit lalu kembali terngiang di gendang telinga Sungmin, membuat perasaannya kembali campur aduk: antara merasa bersalah kepada Ryeowook atau merasa tersinggung karena pertanyaan seperti itu.

 

Aku memang nomor dua di kelas. Tetapi Kyuhyun nomor satu.

 

Itu yang membuatnya enggan untuk menjawab pertanyaan dari Ryeowook. Ia malu pada dirinya sendiri, sekaligus malu pada pemuda bernama lengkap Cho Kyuhyun itu. Ia tidak mau melihat wajah puas terlukis di raut Kyuhyun, lalu membiarkan lelaki itu semakin bersikap congkak kepada dirinya. Lalu setelah itu, pasti Kyuhyun akan kian senang menginjak harga dirinya.

 

Langkah kaki Sungmin terhenti ketika ia akan menaiki tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Kepalanya mendongak, menatap ujung tangga yang sepi lalu mengedarkan pandangan.

 

Dari pada kembali ke kelas dan mendapat cercaan sinis dari teman-temannya, Sungmin ingin membolos. Untuk kali ini saja, untuk hari ini saja. Setelah itu akan kembali menjadi Lee Sungmin yang selalu sibuk dengan pelajaran dan buku-bukunya.

 

Maka sebelum ada seorang guru yang memergokinya, Sungmin segera berbalik dan berlari ke arah taman belakang sekolah. Dengan nafas terengah, ia membanting dirinya di depan sebuah kursi semen, menelangkup wajahnya lalu menangis tersedu-sedu.

 

“Sudah kukira kau akan melarikan diri,” tiba-tiba suara bass terdengar, mengejutkan Sungmin yang sedang asik menghayati kesedihan yang menggeluti perasaannya. Suara langkah kaki yang diseret-seret di atas permukaan rumput terdengar nyaring, semakin dekat dan semakin dekat. “Kau ‘kan pengecut.”

 

Dengan gerakan cepat Sungmin menghapus air matanya, bangkit kembali dan menatap Kyuhyun dengan mata merahnya. “Lalu?”

 

“Lalu,” lelaki itu mengedarkan pandangan, beberapa detik setelahnya ia kembali memandang wajah Sungmin yang berantakan. Ia melukis senyuman meremehkan, “Kau akan tetap menyembunyikan kekuranganmu di balik wajah sok tegarmu itu. Iya, ‘kan?”

 

Sungmin menggulung telapak tangannya kuat-kuat, berusaha untuk menahan amarahnya yang tersulut akibat ucapan pedas dari lelaki itu.

 

Lelaki itu menenggelamkan telapak tangannya yang mulai kedinginan di saku celana, “Oh ya, tentang perjanjian kita itu ..”

 

“Kau mau apa?” Sungmin memotong ucapan Kyuhyun, sengaja. Kepalanya langsung pusing ketika mengingat tentang perjanjian konyol yang sudah ia sepakati dengan Kyuhyun beberapa minggu sebelum ujian berlangsung.

 

“Kau lupa, ya?” perlahan Kyuhyun berjalan mendekat ke arah Sungmin. “Kau harus menjadi pengawalku selama sebulan jika aku mendapat peringkat satu semester ini.”

 

“Aku tidak mau!”

 

“Janji tetap janji,” nada suara Kyuhyun merendah, tatapannya semakin dingin. “Karena sekarang kau sudah sah menjadi pengawalku, kau harus berjanji akan selalu melindungiku.”

 

“Kau kira aku ..”

 

“Janji,” Kyuhyun menyambar pergelangan tangan kanan Sungmin, mengaitkan dua jemari kelingking mereka satu sama lain. “Kau sudah berjanji.”

 

OoOoO

 

Dua minggu sudah berlalu semenjak pembagian rapor, dan sudah dua minggu pula Sungmin menjadi pengawal Kyuhyun. Mau tidak mau, gadis itu harus rela mengikuti Kyuhyun ke mana pun ia pergi selama mereka berada di sekolah, datang menghampiri saat Kyuhyun menelponnya, juga melakukan apa pun yang Kyuhyun katakan sebagai perintah.

 

Sungmin sudah tidak punya harga diri. Bahkan dia sudah dijuluki hewan peliharaan Kyuhyun yang baru. Dia anjing manis Kyuhyun yang setia, mereka menyebutnya seperti itu karena memang begitulah kenyataannya. Sungmin selalu mengekor langkah kaki Kyuhyun dari belakang, mengikuti majikannya seperti anjing kecil berbulu putih yang manis.

 

“Ya, terimakasih sudah ikut berpartisipasi,” wajah ceria Guru Kim selaku wali kelas, terlihat lebih cerah dari sebelum-sebelumnya. “Ibu senang karena kalian ikut dalam darmawisata ini.”

 

Kyuhyun yang mendapat tugas untuk mengumpulkan angket milik teman-temannya, kini berjalan ke depan lalu menyerahkan tumpukan kertas itu ke Guru Kim.

 

Guru Kim tersenyum, “Terimakasih, Ketua Cho,” ucapnya. “Masih ada waktu seminggu untuk mempersiapkan semuanya. Jadi, kalian jangan terlalu pusing dengan rencana itu. Pelajaran tetap nomor satu untuk seminggu kedepan, kalian mengerti?”

 

“Ya!” semua murid menjawab serempak.

 

Bersamaan setelah semua murid menjawab pertanyaan Guru Kim, bel tanda pulang sekolah berdentang nyaring. Guru Kim segera merapikan buku-bukunya, menumpuknya menjadi satu, lalu mendekapnya di dada. “Kita bertemu lagi minggu depan.”

 

Semua murid bubar dari tempatnya masing-masing ketika Guru Kim selesai memberi salam. Kyuhyun sendiri bangkit dari duduknya dan segera keluar kelas—tentu diikuti oleh Sungmin di belakang.

 

“Apa aku boleh pulang cepat hari ini?” Sungmin mencoba melayangkan satu pertanyaan, berharap jika Kyuhyun akan memberinya satu kali dispensasi.

 

“Tidak,” jawab Kyuhyun acuh tak acuh sambil terus melangkah.

 

Sungmin merengut, “Arasseo. Sekarang kau mau kemana?”

 

Kyuhyun melirik wajah Sungmin dari sudut matanya, “Kemana, ya? Aku lelah, jadi ingin pulang.”

 

“Kalau kau pulang, apa gunanya aku mengikutimu?”

 

“Kau ‘kan masih resmi menjadi pengawalku. Kenapa kau cerewet sekali?” pandangan tajam Kyuhyun terarah ke arah Sungmin. “Diam dan ikuti aku seperti biasa.”

 

Sungmin hanya diam setelah Kyuhyun mengatakan kalimat itu dengan nada dingin yang serasa menguras habis keberaniannya. Ia menyimpan kalimat-kalimat umpatannya di dalam hati, memilih diam saat mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar jalanan.

 

Kyuhyun itu sosok dingin bermulut tajam, jadi Sungmin malas jika disuruh berdebat lebih lama dengannya. Sungmin akan selalu kalah jika ia beradu mulut dengan Kyuhyun, yang pasti lelaki itu akan menggunakan senjata pamungkasnya untuk membuat Sungmin diam merutuki kekalahannya yang ke seratus kali (atau bahkan lebih). Dia pengawalnya, jadi Sungmin tak berhak menentang ucapan-ucapan Kyuhyun.

 

Sungmin terlampau malas mengajak Kyuhyun berbincang, pasti jawaban yang keluar tidak akan jauh-jauh dari kata ‘terserah’ atau ucapan acuh lainnya. Jadi sepanjang perjalanan menuju apartemen Kyuhyun, mereka hanya diam—bahkan ketika mereka menaiki bis kota dengan tujuan yang sama, mereka tetap mengunci mulut rapat-rapat dan memilih mengambil tempat duduk yang berjauhan.

 

Sungmin terlalu asik melamun hingga ia tak menyadari jika dirinya sudah sampai di depan sebuah pintu apartemen. Kyuhyun membuka pintu setelah bunyi bib terdengar, “Masuk,” lelaki itu berucap dengan nada datarnya yang mengerikan.

 

Sungmin hanya mengangguk lalu benar-benar melangkah masuk ke dalam. “Orang tuamu di mana?”

 

“Bekerja,” kata Kyuhyun. Lelaki itu terus berjalan, menghampiri sebuah pintu dan berniat masuk ke dalam. Namun langkahnya terhenti sebentar, ia menatap Sungmin yang masih berdiri di depan sofa ruang tamu sambil memandang sekeliling apartemennya. “Aku lapar, buatkan makanan.”

 

OoOoO

 

“Kulkasmu kosong, yang kutemukan hanya bungkus ramyun ini di rak dapur,” kata Sungmin sambil mengaduk ramyun buatannya di panci yang baru masak. “Dan aku tidak menemukan panci lain untuk merebus mi bagianku. Jadi, aku memakai satu panci untuk kita berdua. Tidak apa-apa, ‘kan?”

 

Kyuhyun hanya mengangguk dan ia mulai mengangkat sumpitnya untuk ikut mengaduk mi ramyun di hadapannya. “Ini darurat, jadi akan memakan ramyun ini,” katanya lalu memakan mi panjang berwarna oranye itu.

 

Suasana kembali hening, suara menyeruput mi mulai mendominasi. Dua orang itu memakan ramyun tanpa ditemani dengan sebuah topik perbincangan, mungkin suasana kaku seperti ini akan terus terulang jika mereka tetap bersikeras untuk sama-sama diam dan tidak mau membuka diri. Seperti sebelum-sebelumnya, mereka hanya menutup mulut ketika bersama.

 

Kyuhyun mengerti kenapa Sungmin hanya diam dan tidak banyak bicara akhir-akhir ini—lebih tepatnya setelah Kyuhyun menyelipkan kata ‘sebagai pengawal’ di kalimatnya. Lelaki itu tahu jika Sungmin membencinya, mungkin gadis itu sudah muak dengan ungkapan-ungkapan Kyuhyun yang menganggapnya sebagai pengawal.

 

Ya, Kyuhyun cukup mengerti.

 

OoOoO

 

“Ingat, ya. Sesampai di Pulau Jeju nanti, aku sudah bebas! Aku bukan pengawalmu lagi. Jadi jangan menyuruhku seenaknya!”

 

“Ya, ya. Aku bahkan ingat kalau perjanjian ini akan berakhir pukul sepuluh nanti! Jadi tidak usah sampai menunggu kapal sampai di Jeju-do!” ketus Kyuhyun sambil menyeret langkah kakinya malas-malas memasuki kapal ferry.

 

“Benar, ya? Perjanjian akan berakhir pukul 10 nanti?” Sungmin mendekati Kyuhyun, berjalan di sampingnya sambil memasang wajah penuh harap. “Kau harus menepati janjimu!”

 

“Aku tidak akan kabur!”

 

Kyuhyun membentak, membuat Sungmin mengerucutkan bibir.

 

“Sekarang, duduk dengan tenang ketika kapal ini berjalan,” Kyuhyun menarik pergelangan tangan Sungmin, memaksa gadis itu untuk duduk di salah satu kursi yang kosong. “Kau tidak akan mabuk laut, ‘kan?”

 

“Kau kira aku anak SD?” Sungmin tersinggung.

 

Kyuhyun terdiam sebentar, mengacuhkan kalimat Sungmin yang terakhir kali terucap sebagai pertanyaan tidak bermutu. Ada suatu hal yang tiba-tiba melesat di otak jeniusnya, membuatnya menolehkan kepa ke arah Sungmin dan angkat bicara. “Apa ambisimu sudah berakhir?”

 

“Ambisi?”

 

“Kau selalu berambisi untuk menjadi nomor satu.”

 

Sungmin memilin ujung bajunya, suaranya mendadak berdengung. “Suatu saat nanti aku pasti akan membuatmu lengser dari peringkat nomor satu.”

 

Suara kekehan meremehkan terdengar dari mulut Kyuhyun, “Ternyata kau masih berambisi.”

 

“Aku tidak berambisi,” Sungmin merasa tidak setuju dengan kalimat Kyuhyun. “Tetapi aku tidak akan membiarkan perjuanganku berakhir sia-sia.”

 

“Kalau begitu, berhentilah berjuang. Kau tidak akan menang.”

 

Sungmin mengeram marah, “Dengar, Kyu. Aku sudah muak dengan sikap sok pintarmu itu. Kau pikir, selamanya kau akan tetap berada di puncak nomor satu itu? Apa kau tidak pernah berpikir jika seseorang akan datang dan mengambil semua peringkat nomor satumu, kemudian membuangmu ke negeri antah berantah yang jauh di sana?”

 

Kyuhyun mengendikkan bahu skeptis, “Apa seseorang yang kau maksud adalah dirimu sendiri?”

 

Dagu Sungmin terangkat, “Ya. Aku sudah datang dan akan menyingkirkanmu!”

 

“Coba saja,” Kyuhyun menanggapi tantangan Sungmin dengan nada yang terlampau tenang. “Kalau kau bisa menyingkirkanku, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi.”

 

“Ya, kau memang harus berjanji untuk itu,” Sungmin memotong ucapannya lalu mengangkat salah satu lengannya, memperhatikan jarum jam di jam tangannya yang melingkar di sana. Matanya menyipit, “Assa! Sepuluh menit lagi pukul sepuluh!”

 

Mungkin senyum kemenangan Sungmin adalah bom bastis untuk Kyuhyun, memukul perasaannya berulang kali hingga membuatnya tak mampu lagi berbuat jahil. Kyuhyun tahu jika semua kebersamaannya dengan Sungmin akan segera berakhir, itu berarti Sungmin tidak akan ada lagi untuknya.

 

Sungmin benar-benar senang ketika tahu bahwa perjanjian mereka akan berakhir beberapa menit lagi. Dan sesungguhnya pun Kyuhyun tidak dapat menahan perasaannya yang membuncah ketika melihat senyum manis yang tersungging di kedua belah bibir Sungmin.

 

Gadis itu teramat cantik dengan senyuman menawan di lengkung bibirnya, terkesan sangat lembut jika ditelisik dari sinar bola matanya yang hitam bening. Semangat menggebu yang selalu timbul dari pancaran sinar matanya kian membuat Kyuhyun terpesona, mabuk kepayang hingga membuatnya memiliki ambisi seperti Sungmin.

 

Berambisi untuk memiliki gadis itu dengan kemampuan otaknya.

 

Dia memang terus menantang Sungmin, membuat gadis itu terus bekerja keras walau sebenarnya ia sudah tahu siapa yang akan menjadi pemenang. Ia senang membuat Sungmin merasa terintimidasi dengan ambisinya, maka dengan begitu ia bisa mendapat lirikan mata dari gadis itu. Walau kejam, namun Kyuhyun menyukainya.

 

“Ketua Cho, tolong awasi teman-temanmu, ya? Sepertinya mereka berpencar entah kemana,” Guru Kim tiba-tiba datang dan langsung berbicara kepada Kyuhyun. “Aku sampai bingung mencari mereka. Padahal sudah diperingatkan agar terus bergerombol sesuai kelas.”

 

Kyuhyun bangkit dari duduknya dan segera memberi salam saat tahu jika Wali Kelasnya tiba-tiba datang. Ia mempersilahkan gurunya untuk duduk ditempatnya lalu berkata, “Aku akan mencari mereka, ssaem. Anda tunggu saja di sini dengan Sungmin. Aku akan segera kembali.”

 

“Oh, betapa beruntungnya aku memiliki ketua kelas sepertimu,” Guru Kim membanting pantatnya di kursi. “Terimakasih.”

 

“Saya titip Sungmin, ssaem,” kata Kyuhyun sebelum berlalu.

 

OoOoO

 

Selang beberapa menit setelah Kyuhyun pergi untuk mencari teman-temannya, Sungmin kembali diam dalam posisinya. Sedikit merasa canggung karena hubungannya dengan Guru Kim memang kurang baik—semenjak insiden Sungmin menendang perut Ryeowook waktu itu. Mungkin Guru Kim mengira jika Sungmin adalah gadis penuh kekerasan yang sekarang sedang menyamar sebagai gadis pintar. Namun, sebagai orang dewasa yang penuh dengan pemikiran kritis dan realistis, akhirnya Guru Kim menyangkal pikiran konyolnya itu dan berusaha memaafkan perilaku muridnya. Kesalahan seperti itu memang sudah wajar dilakukan sekali-dua kali oleh seorang murid.

 

“Sungmin,” tiba-tiba Guru Kim memanggil nama muridnya, kepalanya menoleh ke arah Sungmin dan melempar tatapan lembut. “Kau pacaran dengan Ketua Cho, ya?”

 

“Huh?”

 

“Ibu sering melihat kalian jalan berdua ..”

 

Awalnya Sungmin memang tidak mengerti dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh gurunya. Tetapi, setelah kalimat terakhir itu diucapkan, Sungmin serasa ditampar oleh telapak tangan seseorang dan membuatnya reflek menyangkal dengan kata-kata. “Tidak! Kami tidak pacaran, ssaem,” Sungmin menyangkal sambil melambaikan telapak tangannya. “Ssaem salah paham ..”

 

“Benarkah?” raut wajah Guru Kim berubah, nampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. “Namun, kupikir Ketua Cho itu menyukaimu ..”

 

Guru Kim segera melanjutkan kalimatnya, “Ketika Ibu mengajar, Ibu sering memergokinya sedang memandangimu diam-diam. Dan ssaem yakin jika pandangan Ketua Cho kepadamu adalah pandangan penuh arti di baliknya. Kau tahu apa itu? Cinta … Ya, cinta,” ia mengakhiri penjelasan singkatnya lalu tersenyum—seolah sedang menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita single yang sepenuhnya tahu dan mengerti tentang sesuatu mengenai cinta.

 

Sungmin menelan ludah, “Aku tidak tahu apa yang sedang ssaem bicarakan,” katanya, masih mencoba pura-pura tidak mengerti—padahal sebenarnya ia sedang gugup setengah mati.

 

“Ibu sedang memberitahumu tentang rahasia terbesar milik Ketua Cho!” Guru Kim berkacak pinggang. “Ibu sebagai gurunya saja tahu tentang apa yang Ketua Cho rasakan kepadamu. Kenapa kau yang setiap hari bersamanya tidak pernah mengerti?”

 

Helaan nafas berat meluncur dari bibir Guru Kim, “Sudahlah. Sepertinya percuma mengatakan hal seperti itu kepadamu. Jangan merasa terganggu dengan apa yang baru kukatakan tadi, oke? Tetaplah belajar dan pertahankan nilaimu ..”

 

Arasseoyo, ssaem ..,” kepala Sungmin mengangguk lalu merunduk.

 

“Sepertinya Ibu harus pergi ke ruang informasi. Ketua Cho pasti kesulitan mencari anak-anak badung itu,” Gurunya berdecak. “Sungmin, tetap di sini sampai Ketua Cho kembali.”

 

Lagi-lagi Sungmin mengangguk, kemudian ia mengangkat kepalanya dan memperhatikan punggung gurunya yang sudah hilang di balik ambang pintu.

 

“Omong kosong apa lagi itu?” Sungmin menggerutu dengan suara pelan, hampir menyamai sebuah bisikan yang sulit didengar. Ia sebal karena Guru Kim mengatakan suatu hal yang macam-macam tentang perasaan Kyuhyun kepadanya. Padahal, hal itu belum terbukti kebenarannya.

 

Buruknya, karena hal itu ia jadi berdebar seperti ini. Mendadak pikirannya terasa buyar, buntu, dan tidak bisa memikirkan apa-apa selain Kyuhyun. Perasaannya mulai goyah, antara percaya-tidak percaya terhadap ucapan wali kelasnya itu. Suatu sisi dalam dirinya mulai menuntut kebenaran, dan Sungmin ingin tahu apa yang sebenarnya dirasakan Kyuhyun terhadapnya.

 

Apa benar-benar menyukainya?

 

JDUAR!!

 

Omo!” Sungmin memekik kaget ketika terdengar bunyi ledakan yang cukup keras. Dua telapak tangannya reflek mencengkeram pegangan kursi kuat-kuat ketika merasakan getaran halus di lantai yang ia tapaki. “Kenapa?” ia bertanya kepada diri sendiri saat tahu jika kapal mulai oleng ke kanan dan ke kiri.

 

Semua orang mulai ramai membicarakan suara ledakan itu, bahkan beberapa di antaranya mulai panik dan berjalan mondar-mandir untuk mencari petugas kapal. Sungmin tidak tahu apa yang terjadi, namun sepertinya ada suatu hal buruk. Ia mengedarkan pandangan, mencari guru atau teman sekelasnya yang lain.

 

Tiba-tiba kegaduhan diinterupsi oleh suara kapten kapal yang terdengar dari sebuah speaker kapal yang menempel di setiap sudut-sudut ruangan. Kapten kapal itu mengatakan jika perjalanan akan terhambat karena suatu masalah, kemudian menganjurkan semuanya untuk memakai jaket pelampung untuk berjaga-jaga. Setelahnya, semua penumpang diminta untuk tetap tenang karena semua akan segera diatasi oleh ahli mekanik kapal.

 

Semua orang yang ada di sana segera berlari menuju salah seorang petugas yang membawa jaket pelampung, merebut benda berwarna oranye itu dengan cepat—seolah takut jika kapal benar-benar akan tenggelam dalam waktu dekat.

 

Sungmin tidak peduli dengan jaket pelampung, toh ia percaya jika masalah akan segera teratasi. Tidak akan ada yang terjadi, semua akan baik-baik saja. Dengan pemikirannya yang seperti itu, ia tetap diam dalam posisinya, memperhatikan semua orang yang berlalu-lalang di depannya.

 

“Sudah pukul sepuluh lebih lima menit,” Sungmin bergumam setelah bola matanya melirik ke arah jarum jam dinding yang ada di pojok ruangan. “Sudah selesai.”

 

“Sungmin!!” Seseorang memanggil nama Sungmin dengan suara lantang. Beberapa detik setelahnya sosok Kyuhyun muncul dari suatu arah, mendekap pundak Sungmin dengan dua telapak tangannya. “Kenapa kau tidak memakai jaket pelampung?”

 

“Semua akan baik-baik saja,” Sungmin menjawab dengan suara lirih. Matanya memicing saat tahu jika Kyuhyun sudah memakai jaket pelampung itu di tubuhnya. “Apa kau berpikir jika kapal ini tenggelam?”

 

“Perkiraanku memang begitu,” katanya sambil melepas jaket pelampung itu. “Kau tunggu di sini, aku akan mencari jaket pelampung untukmu di dek lain.”

 

Ya,” Sungmin menahan pergelangan tangan Kyuhyun. “Kau pikir terbuat dari apa otakmu itu sampai berani mengira jika kapal ini akan tenggelam?”

 

“Kau boleh mengoceh jika aku sudah kembali dengan membawa jaket pelampung untukmu. Kau mengerti?” Kyuhyun melepas cengkraman tangan Sungmin. “Tunggu di ..”

 

“KYA!!”

 

Pekikan itu terdengar bersahut-sahutan ketika kapal mendadak oleng beberapa derajat ke arah kanan. Sungmin hampir terjatuh, namun gerakan reflek pemuda itu menyelamatkan tubuh Sungmin.

 

“Apa  yang terjadi?” Sungmin berseru sambil meremas kedua lengan atas Kyuhyun. Sinar mata gadis itu mulai terbubuhi oleh rasa panik yang luar biasa. “Kenapa menjadi miring seperti ini?”

 

“Sudah kubilang, kapal ini akan tenggelam,” kata Kyuhyun. Dengan gerakan sigap ia membalut tubuh mungil Sungmin dengan jaket pelampung miliknya, memastikan bahwa setiap pengait sudah terkunci rapat. “Kau pakai punyaku dulu.”

 

Kepala Sungmin mendongak, ia mulai takut. “Apa tidak apa-apa?”

 

“Tidak apa-apa,” katanya mencoba menenangkan. “Aku tidak yakin jika masih ada jaket pelampung yang tersisa. Jadi, kau pakai punyaku dulu.”

 

“Lalu, kau?”

 

“Aku akan ada di sini. Jika kau selamat, aku pasti akan selamat,” kalimat yang terlontar dengan nada pelan penuh kelembutan itu terucap dari Kyuhyun. “Kau tidak perlu takut. Aku ada di sini ..”

 

Salah seorang petugas perempuan datang dengan pengeras suara di genggaman tangannya. Ia memberi pengumuman jika ada sebuah kapal bantuan yang sedang dalam perjalanan menuju kemari, setelahnya ia berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan nada setenang mungkin. Semua penumpang diminta untuk duduk di lantai karena posisi kapal yang sudah oleng. Sesuai perintah kapten kapal, semua penumpang harus tetap diam di tempat untuk menunggu hingga semua teratasi.

 

Semua orang kembali panik, mereka mulai bertanya tentang suatu hal yang macam-macam kepada petugas perempuan berambut panjang itu. Murid-murid dari sekolah yang sama dengan Kyuhyun dan Sungmin mulai memasang wajah kalut, mereka mulai menghubungi rekan masing-masing lewat ponsel.

 

“Kyuhyun-ah,” ia kembali bersuara, tangannya yang bergetar kembali meraih lengan Kyuhyun dan mencengkeramnya erat. “Bagaimana ini?”

 

“Tenanglah,” Kyuhyun menuntun Sungmin untuk duduk di lantai, salah satu lengannya melingkar di pundak Sungmin dan telapak tangannya bergerak membelai pucuk kepalanya lembut. “Kita harus tenang.”

 

Pandangan Sungmin mengedar, “Gwaenchanheulgeoya?” (Apa akan baik-baik saja?)

 

“Tentu saja,” suara Kyuhyun kembali mengalun. “Kapal penyelamat akan segera datang. Kita hanya perlu menunggu.”

 

Bola mata Sungmin terarah ke wajah Kyuhyun sebentar, kemudian ia merundukkan kepala lagi. Kyuhyun merengkuh kepala Sungmin, menyuruhnya untuk menyandarkan kepala di dada bidangnya. Maka dengan gerakan ragu, Sungmin menurut dan ia menjatuhkan kepalanya yang mendadak terasa pening ke atas dada bidang Kyuhyun.

 

Ada suara debaran jantung di dada Kyuhyun, seolah berusaha menghentak dan mengetuk perasaan Sungmin yang sekeras batu. Gadis itu mengarahkan salah satu telapak tangannya ke atas dada Kyuhyun, membelai dada temannya dengan gerakan lembut.

 

“Kau berdebar?” kelopak mata Sungmin terangkat, bola matanya pun bergerak ke atas berusaha menggapai wajah rupawan Kyuhyun. “Kau takut?”

 

Kyuhyun membenarkan posisi duduknya, semakin mengeratkan rengkuhannya di tubuh Sungmin. “Aku tidak takut.”

 

“Lalu kenapa kau berdebar?”

 

Kyuhyun merendahkan pandangannya ketika pertanyaan seperti itu akhirnya terlontar dari bibir Sungmin. Kelopak matanya mengerjap ketika tahu jika Sungmin sedang menatapnya dengan pandangan penuh harap bercampur rasa cemas. Ia tersenyum lembut, “Haruskah aku menjawabnya?”

 

Mungkin bagi Sungmin, ini adalah kali pertama ia mendapat senyum lembut dari Kyuhyun. Dan efeknya sampai seperti ini, membuatnya ikut berdebar tak karuan. Ia baru tahu jika Kyuhyun memiliki sisi lain yang selembut ini—ia kira Kyuhyun hanya murid berotak jenius yang penuh dengan sikap congkak memuakkan.

 

Prakiraannya salah.

 

Salah besar.

 

Sungmin menggerakkan kepalanya, menyamankan posisinya yang melorot karena badan kapal yang miring. Jemarinya mencengkeram kaus yang Kyuhyun kenakan, berusaha untuk tetap bertahan dalam posisinya sudah membuatnya semerasa nyaman ini. “Jika kau bersedia menjawabnya, maka biarkan aku tahu tentang segalanya.”

 

Telapak tangan Kyuhyun masih bergerak membelai pucuk kepala Sungmin. Ia bertanya, “Semuanya?”

 

“Ya.”

 

“Dari mana aku harus memulai?” ia terlihat menimbang-nimbang. “Apa aku harus mengatakan jika aku menyukaimu? Atau aku harus mengatakan jika aku mencintaimu? Mana yang harus aku katakan terlebih dahulu?”

 

Mendadak pipi Sungmin dihiasi gurat merah yang menawan, membuatnya kian tersipu malu. “Kau .., bersungguh-sungguh?”

 

“Apa aku terlihat sedang bercanda?”

 

Sungmin terdiam beberapa saat, namun kepalanya menggeleng tanpa perintah. Mendadak bibirnya terangkat dan lidahnya bergerak mengucap suatu suku kata, “Tidak.”

 

“Memang aku tidak sedang bercanda,” kata Kyuhyun lalu menyangga dagu di pucuk kepala Sungmin.

 

“Ketua Cho! Ketua Cho!” suara cempreng itu memanggil Kyuhyun dari arah sebelah kanan. Sosok gadis mungil yang berjalan dengan langkah pendek-pendek menghampiri Kyuhyun sambil memasang wajah panik. “Ketua Cho!”

 

“Ryeowook-ah, di mana teman-teman yang lain?” Kyuhyun ikut berseru panik saat tahu jika Ryeowook, teman sekelasnya, tiba-tiba datang seorang diri ke dek A—dek paling bawah yang dekat dengan pintu keluar, di sini.

 

“Mereka ada di dek C dan D. Semua tidak mau turun karena takut jatuh,” Ryeowook berkata dengan nafas terputus-putus. “Kapal sudah sangat miring, jadi tangga banyak yang menggantung dan tidak bisa dilewati.”

 

“Aish, sial!” Kyuhyun berdesis.

 

“Kudengar, kapal bantuan akan segera datang dan para penumpang di dek ini akan didahulukan. Setelah itu dek B, C, dan D akan menyusul. Mereka bilang, helikopter juga akan datang beberapa jam lagi dan menolong penumpang di dek atas,” Ryeowook memberi informasi yang baru didengarnya dari seorang petugas di kabin. “Begitu aku tahu hal itu, aku langsung kemari dan tidak mau kembali ke dek C atau D.”

 

“Itu terlalu lama,” Kyuhyun berucap dengan nada pelan. “Badan kapal akan terbalik dalam hitungan menit dan mereka semua akan mati jika tidak segera turun.”

 

Perbincangan mereka terputus karena suatu teriakan keras dari salah seorang petugas. Semua penumpang di dek A mulai berdiri dan berlari menuju pintu keluar, bernafas lega saat tahu ada kapal lain yang mendekat. Sungmin, Kyuhyun, dan Ryeowook ikut bangkit, namun mereka bertiga masih diam di tempat dengan memasang wajah tegang.

 

“Bagaimana ini? Jika kita tidak segera ke sana, kita akan ikut mati!” Ryeowook ikut berteriak panik. Ia menarik-narik lengan Sungmin dan Kyuhyun.

 

“Aku akan berusaha meminta mereka turun,” kata Kyuhyun tiba-tiba.

 

“Tidak, Kyuhyun-ah,” Sungmin buru-buru menyela. “Kau tidak boleh pergi. Kau harus ikut dengan kami ke kapal itu!”

 

“Aku ketua kelas, sewajarnya aku melindungi teman-temanku,” Kyuhyun berujar dengan nada penuh kepasrahan, seolah ia sudah menggantungkan segalanya pada keputusan Tuhan tentang hidupnya.  “Kau pergi terlebih dahulu dengan Ryeowook. Aku akan menyusul jika semua teman-teman kita sudah turun dari dek C dan D.”

 

Sungmin berusaha menggenggam pergelangan tangan Kyuhyun, menahan lelaki itu agar tetap tinggal dan merubah jalan pikirannya. “Tapi ..”

 

Kyuhyun memandang telapak tangan Sungmin yang menggenggam erat pergelangan tangannya. Ia berucap, “Selamatkan dirimu. Jika ada kapal penyelamat, segera berlari kesana dengan Ryeowook, hm?”

 

“Kyuhyun, aku ikut ..,” Sungmin masih berusaha untuk menahan Kyuhyun. Ia merengkuh tubuh lelaki itu, memeluknya erat-erat seolah tak berniat pergi barang satu langkah pun. “Aku ikut denganmu ..”

 

“Tidak, jangan,” Kyuhyun berucap sambil membalas pelukan Sungmin, mengecup pucuk kepala gadis itu berulang kali. “Aku akan kembali.”

 

“Tetapi aku pengawalmu! Aku sudah berjanji untuk melindungimu ..,” Sungmin mulai merasakan sesak di dada. “Kyuhyun-ah, andwae ..”

 

Kyuhyun menarik diri dari pelukan Sungmin, “Semua sudah berakhir, kau ingat? Pukul sepuluh tadi semua ..”

 

“KYA!!”

 

“Sungmin, cepat pergi!” Kyuhyun segera mendorong tubuh Sungmin ke arah Ryeowook ketika tahu jika badan kapal semakin oleng. “Kita sudah tidak punya banyak waktu!”

 

“Sungmin, ayo pergi!” lengan Ryeowook melingkar di perut Sungmin. Gadis mungil itu berusaha menyeret tubuh Sungmin untuk keluar dari dek.

 

“Tidak .. Kyuhyun-ah!” otot Sungmin mendadak melemas ketika perasaannya kembali dirajam oleh sebuah pisau belati yang tajam. Matanya yang menangkap sosok Kyuhyun mulai mengabur, ia tak kuasa melepas lelaki itu. “Andwaeyo, gajima!” (Jangan, jangan pergi!) Sungmin menjerit dengan pekikan keras.

 

“Sungmin ..,” lelaki itu menyerah dan melangkah mendekat ke arah Ryeowook dan Sungmin. Dalam satu-satuan waktu, ia merengkuh pipi Sungmin dengan telapak tangannya yang hangat dan mengecup bibir ranum itu selama satu detik lamanya. Matanya yang berkaca-kaca membalas pandangan Sungmin yang penuh kabut kesedihan, lalu bibir tebal itu mencoba melengkung melukis seulas senyuman. “Aku mencintaimu dan aku akan kembali untukmu. Percayalah, aku akan datang.”

 

Andwae ..,” suara Sungmin melemah, ia tak kuasa menggerakkan anggota tubuhnya. Matanya terpejam erat, air matanya pun menetes tak kunjung mereda. “Jebalyo ..”

 

“Cepat pergi dan ingat kata-kataku. Kau harus selamat,” Kyuhyun mundur dengan langkah pelan-pelan. “Aku pergi.”

 

OoOoO

 

Kalau kau bisa menyingkirkanku, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi.

 

Aku akan ada di sini. Jika kau selamat, aku pasti akan selamat.

 

Kau tidak perlu takut. Aku ada di sini ..

 

Apa aku harus mengatakan jika aku menyukaimu? Atau aku harus mengatakan jika aku mencintaimu? Mana yang harus aku katakan terlebih dahulu?

 

Aku akan kembali.

 

Sungmin .. Aku mencintaimu dan aku akan kembali untukmu. Percayalah, aku akan datang.

 

Cepat pergi dan ingat kata-kataku. Kau harus selamat.

 

Aku pergi.

 

OoOoO

 

Sungmin duduk di deretan beton trotoar  yang memisahkan pantai dengan jalanan beraspal. Mata sendunya memandang lurus ke arah laut lepas yang tenang dengan angin yang berhembus sepoi-sepoi. Rambut panjangnya yang tergerai menari-nari mengikuti arah angin, seolah berusaha menghibur hatinya yang sedang sedih setengah mati.

 

Matanya sudah sangat perih, tetapi entah mengapa ia masih betah menangis. Tenggorokannya sudah sakit tetapi ia masih rela terisak pelan. Punggungnya sudah nyeri tetapi ia masih duduk di sana. Badannya sudah menggigil karena kedinginan tetapi ia masih bertahan memandang air laut dengan pandangan teduh yang penuh gurat luka.

 

Ia masih ada di sana, dengan sekaleng minuman soda dan semangkuk ramyun instan yang sudah dingin di samping kirinya. Ia berdesis lalu memeluk tubuhnya sendiri, kembali menutup mata demi menghapus titik air mata yang menggenang di kelopak matanya.

 

Oraenmanida, Kyuhyun-ah ..,” katanya dengan fraksi suara yang bergetar samar. Kelopak matanya terbuka, bola mata hitam kelam itu kembali memandang ke arah depan. “Aku baru lulus kuliah, dan baiknya aku mendapat peringkat pertama. Aku berhasil, kau tahu itu.”

 

Sungmin terdiam untuk beberapa detik kemudian ia kembali melanjutkan—sambil berusaha melukis seulas senyuman penuh kesedihan. “Aku selalu nomor satu. A—aku .., bisa menyingkirkanmu dari puncak tertinggi itu,” ia memberi jeda untuk sekedar menghela nafas. “Aku puas karena ambisiku tidak sia-sia. Tetapi ..,” kalimat Sungmin terputus.

 

Mulutnya terbuka sedikit demi sedikit, “Untuk apa peringkat satu jika kau .., malah pergi meninggalkanku?” tangisan Sungmin pecah ketika ia mengucapkan kalimat pertanyaan itu. “Aku .. Aku ..”

 

Sungmin terdiam beberapa saat lalu kembali berucap, “Bogosipeo. Jinjja bogosipeo.” (Aku merindukanmu, sangat merindukanmu) ungkapan bernada lirih dengan iringan suara isak tangis itu terdengar begitu memilukan.

 

Wae?” kalimat tanya itu menggantung, bibirnya yang bergetar seperti tak kuasa untuk bergerak. “Semua sudah berakhir dari pukul sepuluh, empat tahun lalu.”

 

Kepala Sungmin kian merunduk, pandangannya mengabur, dan isakannya semakin gencar meluncur dari rongga tenggorokannya. Ia mengepalkan tangan, menutup matanya erat-erat, dan mencoba menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.

 

“Kenapa .., kau masih datang ke mimpiku?” pertanyaan penuh tuntutan itu terlontar begitu saja dari Sungmin. “WAE?!”

 

Tidak ada yang menjawab, bahkan angin yang kebetulan lewat pun tak ingin berhenti sebentar untuk menanggapi pertanyaan bernada tinggi dari Sungmin. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, masih berusaha untuk meredam tangisannya walau itu semua sia-sia.

 

“Kau bilang, kau akan kembali untukku,” kalimat Sungmin terucap dengan nada tersendat-sendat. “Aku menunggumu. Aku menanti kebenaran dari ucapanmu, Kyu ..”

 

Nafas Sungmin semakin terdengar tak beraturan, “Tetapi .., tetapi .. hingga empat tahun ini ..”

 

Dua lengannya terangkat dan telapak tangannya menelangkup wajahnya, menyembunyikan kesedihan, air mata, dan isakannya di sana. Suara dengungan akibat isakan itu masih terdengar walau volum-nya sudah turun dari beberapa menit lalu, tetapi nafas yang tersenggal itu masih menunjukkan jika ia tetap tak kuasa menahan segenap emosinya yang meledak seperti gunung berapi.

 

Memang semuanya terlalu berat untuk ditahan sendirian. Apalagi ia menyimpan semuanya dalam kurun waktu yang cukup lama. Sungmin tidak pernah menceritakan kisah cinta pertamanya ini, dia tidak pernah membaginya dengan orang-orang yang mengenalnya selama empat tahun belakangan.

 

Dia tidak pernah menceritakan kisah remajanya dengan Kyuhyun.

 

Karena baginya, cerita Kyuhyun hanya tertulis untuk dirinya seorang.

 

“Terimakasih sudah menyelamatkanku,” suara Sugmin tiba-tiba terdengar membelah suara deburan ombak dan kicau burung-burung di udara. Ia terdiam, kembali menggigit bibir saat tahu jika dadanya kembali diremas oleh kenangan masa lalu yang buruk.

 

Air mata kembali menetes dari sudut matanya, bibir dan bahunya perlahan bergetar, dahinya mengkerut samar, alisnya pun melengkung tajam. Sungmin merundukkan kepala (lagi), membiarkan air matanya jatuh membasahi kain celana panjangnya.

 

“Dan .., terimakasih sudah mengatakan jika kau mencintaiku,” katanya. “Aku baru mengerti jika maksud kalimatmu empat tahun lalu memang benar-benar terjadi kepadaku.”

 

Ia menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya pelan, “Kau akan kembali dan datang kepadaku.”

 

Ia terkekeh dengan suara yang dipaksakan, namun bibirnya kembali melengkung ke bawah. Setitik bulir kesedihan menetes menyusuri pipinya yang sudah penuh dengan jejak air mata yang mulai kering. “Terimakasih kau sudah kembali. Dan terimakasih sudah datang ke mimpiku setiap hari.”

 

Kepalanya mendongak, menatap langit biru dengan hiasan awan yang menggantung indah bagai permen kapas yang melayang di udara. “Empat tahun ini aku sudah menunggumu. Apa kau juga sedang menungguku di sana?”

 

Kelopak mata Sungmin mengedip, “Di sana? Di mana? Kau menungguku di mana, Kyu?”

 

Sungmin tak kuasa membendung air matanya lagi, ia kembali menangis dengan air mata yang mengalir lebih deras dari sebelumnya. “Kumohon tunggulah aku di sana.”

 

Pandangan Sungmin merendah, binar matanya yang sudah lama kehilangan pancaran semangatnya kian meratap, memamerkan ruang kosong yang selama ini selalu mengurung jiwanya di sana. Dia mencoba meneguhkan hatinya, berusaha melukis senyum walau malah gurat kesedihan semakin nampak kentara di sela raut wajahnya.

 

“Kyuhyun-ah,” panggil Sungmin. Ia terdiam sebentar lalu memutuskan untuk kembali berucap, “Aku juga akan datang kepadamu ..,” katanya. “Kau jangan gelisah atau kesepian di sana. Dan berjanjilah untuk menemukanku di surga. Karena aku hanya akan datang untuk menemuimu.”

 

END

 

#PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea

 

Mungkin semua orang sedang sibuk menangis dan meratap penuh prihatin karena insiden kapal tenggelam ini. Sebuah Sad-Ending baru saja dimulai, sukses membuat dunia makin kelabu dengan iringan deru nafas yang tersenggalㅠㅠI’m so sad and can’t do anything, guys. FF itu kubuat khusus untuk menghormati peristiwa ini. Didedikasikan juga untuk Ketua Kelas Jung Chawoong, Kru Kapal Park Jinyoung, dan sepasang kakak-adik yang malang. Ayo kita semua berdoa untuk mereka dan semua korban yang belum ditemukan.

 

Semoga Tuhan benar-benar melindungi mereka, menjaga ruh (dan raga) mereka dalam ruang damai-nya, mengobati luka di hati para orang-orang terdekatnya, dan senantiasa mengokohkan ketabahan mereka. (Amin)

 

Keajaiban Tuhan pasti ada, karena keajaiban Tuhan adalah kado kejutan yang tak terduga. Semoga ada pelangi indah dibalik hujan deras penuh jerit tangis iniㅠㅠ(Amin)

 

#PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea

PS : FF It’s You Chapter 2 ditunda untuk tanggal rilisnya

80 thoughts on “Bye | KyuMin | OneShoot | Genderswitch | T | Sad , Angst |

  1. Kenapa berakr seprti ini,
    Kyu uda janji bkal blik, ming masih setia nunggu kyu.sebuah tembok besar yg menghalang,berharap kyumin selalu bahagia brsama.

  2. Sumpahhh sedih banget sedih ba-nget :;;;””””(((((( nangis bacanya.. Miris ngebayangin tentang kejadian kapal ferry itu;” semoga ruh semua orang yg jadi korban mendapatkan tempat terindah diatas sana #prayforsouthkorea ;”

  3. beneran nyesek banget aku kira sungmin yg bakalan mati.. ternyata kyuhyun, sedihnya itu sebagian ini kaya cerita nyata tentang kapal ferry itu..

  4. Aku nangis senangis nangisnya T_T
    ampe keluar isakan juga dan gak berenti ngalir nih airmata saat ngetik ini comment juga😥
    Nangis bukan karena Sad Endingnya aja yg bener2 nyesek, tp juga karena perisitiwa ini. dan foto itu yg saat pertama kali liat di twitter langsung nangis aku. hiks😥
    semoga yg hilang segera ditemukan, yg meninggal diterima disisinya, dan semoga semua segera pulih dan juga semoga kejadian ini tidak terulang lagi. amin ya Allah.

  5. Sedih T______T
    Bacanya sambil nangis. Hiks

    Apapun yg trjdi smua adalah yg trbaik. Karena takdir tak akan pernah trbantahkan sbagaimanapun kita utk menolak ataupun mhindar #prayforsouthkorea

  6. aduuh pas baca end dibawah cerita aku langsung nangis..
    aku msh berharap kyu datang lg krna dia selamat nd dia ada di kota yg sungmin gatau tp ternyata..
    hukss
    nyeseek parah
    #prayforsouthkorea T.T

  7. Sedihh banget ceritanyaa ㅠㅠ kyuhyun nya romantis banget tapi sad ending , semoga keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan ya #prayforsouthkorea

  8. #prayForSouthKorea

    sebelumnya mari berdoa untuk korban ferry yg tenggelam…

    dan

    untukk ff ini..aku merasakan sekali rasa sakit ff ini feelnya dapet banget …sampai sampai pas lagi baca air mata keluar …pedih banget rasanya…tetapi aku suka karna menurutku ff ini sangat luar biasa…

    fighting

  9. #PrayForSouthKorea
    sedih bgt sumpah…

    semoga korban yg belum di temukan akan cepat di temukan.
    smoga tuhan melindungi smua korban.
    semoga tuhan memberi kesabaran dan ketabahan bagi smua keluarga korba.
    amien ya allah….

  10. #prayforsouthkorea…sedih bgtttt sumpah aq nangis tersedu2 baca ini… gak bs bygin mungkin kisah kyumin ini salah satunya kisah tragis yg trjadi di ferry yg tenggelam itu.. smoga yg meninggal diterima disisi Allah swt, yg hilang segera ditemukan, keluarga yg dtinggalkan diberi ketabahan & jadikan ini pelajaran utk kita semua.. semoga kita slalu dlm lindungan Allah swt.. amiinnn

  11. Ini bener” angst banget kak Jiyoo hiks q kayak bs masuk ke dalam cerita ff ini,dan bikin nangis sesenggukan.. Oh Tuhan itu endingnya Ming bunuh diri kah?

  12. #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea #PrayForSouthKorea

    Sumpah nyesek banget ini FF, nyeseknya pas bagian Kyu pergi abis nyium Ming + Sungmin dipantai sendirian…
    Aku biasanya nggak suka sad END, tapi pengecualian untuk FF ini😥

    Semoga korban kapal Ferry itu dapat tempat yang layak, aku salut dengan ketua Kelas dan Kru kapalnya, Hiks…. #Srooottt

  13. #prayforsountkorea
    ya ampun ceritanya kenapa sedih banget. kirain bakal happy ending tapi malah sad endin.. T.T

  14. iya bner bner aq nangis
    tp nangis nya g sederas air terjun. kebersamaan kyumin cma sbntar karna aq tau ini one shoot. dan bdoh ny knp mreka mngungkapkan prsann di saat detik” terakhir. ming akan mnyusul kyu dan slnjutnya ming nyebur ke laut mati… hahaa ok saeng ff nya jempol.. iya bner aq jg frustasi baca nya

  15. Sedih banget bacanya
    #PrayForSouthKorea
    Semoga korban yang hilang cepat ditemukan, korban yang tewas diterima disisi-Nya, dan korban selamat tetap tabah. Amiin
    Tuhan selalu bersamamu

  16. sedih beneran bacanya…. sampe nangis beneran :”) dpt banget feelnya. no comment sama ffnya. speechless sampe bener2 nangis ditemenin Love Dust + Gray Paper ^^

  17. Huwwa…😥 bagus banget… aku aja sampe nangis bacany.. aku kirain mereka ber2 bakal selamat trus bersama lagi ternyata… nyesek banget…😥

  18. Huaaaaaa TT
    kenapa buat ff kek gini thor?? TT nyesek wktu liat ming di tinggal kyu TT kasian u,u
    shrusnya msih ad ksmpatan buat mrka berdua mnikmati prsaan mrka stu sama lain, yg buat q kurang itu, ming gk ngucapin kata kalo dia jga ska sama kyu TT aish
    hrusnya ad kata itu buat kyu
    keren ff nya TT feelnya dpet

    oh ya,
    i’m new reader here
    seneng bisa nemuin blog ff yaoi aplgi KyuMin❤
    soalnbya stiap nyri psti udh gk di pkai itu blog u,u
    keep writing ya eon ;3
    ff eonni keren" semua :')
    maaf bru koment di ff ini /bow

    salam kenal ya thor
    bleh pggil eonni gk? :"
    wkwk

  19. Sad love . . . Pray for sewol
    Bgus bgt ffnya ak malah sampai ngahayal klo kyu ga langsung ngucappin cinta sama umin tpi pas kapalnya tenggelam trus umin udh selamat bru deh dteng SMS dri kyu ngucappin klo dia mencintai sungmin…. pasti tambah ngenes, secara nyesel bngt psti #dirajam hahahahahha

  20. Gilaaaaa ffnya keren, ak nangis, nyesek suer deh… gak nyangka akhirnya begitu, tp gak papa. Anti mainstream, dan keren abis ff nya. Semangat

  21. Pingback: Sorry | Bye’s Squel | KyuMin | OneShoot | Genderswitch | T | Sad , Angst | | JYH Korean Fanfiction

  22. baru baca ff ini… beneran sedih bacanya… jadi keinget lagi sma kakk adik yg kepisah dan si oppanya lebih milih nolongin adiknya😦
    dan ff nya keren dibikin jadi kisah kyumin…
    ikutan nangislah sma ming…
    kyu😦

  23. nyesekkkkk bngt jiyoo bacanya, smpe bercucuran air mata ini T_T

    semoga para keluarga korban diberi ketabahan n keikhlasan dalam menghadapi musibah ini amiennnn

  24. huaa dr awal lihat gambar aku jd ingat oppa yg nyelamatin adiknya itu.. dan itu sungguh buat mewek😥
    dan kisah kyumin.. aah aku berharap jika keajaiban terjadi dan kyu ternyata masih hidup😥

  25. karya sad ending terbaik yg pernah ku baca. Wlau saat aku membcanya ada sedikit harapan kyu selamat.
    Tp terimakasih karena sudah melahirkan karya yg manis utk ku pembacamu.
    Air mata ku tumpah.

  26. Hueee… Sediiihhhh…. Sad Endiiing…😥😥😥😥😥
    Masa iya Kyuhyun ikut tenggelam di kapan itu😥😥😥😥😥

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s