Our Destiny | KyuMin | Oneshoot | YAOI | T | Fantasy, Drama |

Our Destiny

Genre : Fantasy , Drama

Rate : T

Pairing : KyuMin

Part : Oneshoot

Warning : Boy x Boy , YAOI , Miss Typo(s)

Summary : Hidup dan Mati, Surga dan Dunia, Nafas dan Waktu. Semua memiliki hubungan yang saling berkaitan dan berasal dari permainan takdir Tuhan. Lantas, manusia yang menjadi objek utama tak akan mampu untuk menghindar.

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi. Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

Music : So I by Super Junior

Bagaimana rasanya ditinggalkan?

Dan bagaimana rasanya meninggalkan?

Absurd .. Semua terasa begitu arsurb. Ketika hal itu sampai pada ujung perasaan manusia, maka semua akan terasa begitu hampa. Segalanya, hidup dan nafasnya. Setiap detik yang berlalu pun tak luput dari rasa menyesakkan tersebut. Tak ada yang bisa dihentikan, tak ada yang bisa disesali, dan tak ada yang bisa diubah. Semua telah digariskan dalam kitab Tuhan. Dan Lee Sungmin yang mendapat takdir memilukan seperti ini hanya bisa diam.

Lelaki itu meremas lalu merobek kertas hasil diagnosa dokter. Ia melempar serpihan-serpihan kecil kertas lusuh itu ke tempat sampah kemudian berjalan menjauh. Kemarin, hubungannya dengan sang kekasih tercinta baru saja usai. Dan hari ini, ia harus menerima fakta bahwa kematian tengah menguntit hari-harinya.

Tiga bulan?

Seratus hari adalah waktu yang terlalu singkat baginya. Ia masih ingin bermain dan menangisi kepergian kekasihnya. Sungmin masih ingin minum wine untuk mengurangi rasa perih di hatinya. Setidaknya, Sungmin ingin hidup lebih lama lagi walau ia baru saja sakit hati. Tidak seperti ini. Mendapatkan berita seperti itu, membuat Sungmin merasa begitu terpukul.

Dalam waktu yang bersamaan, lelaki itu harus merasakan bagaimana rasanya meninggalkan dan ditinggalkan. Orang tua Sungmin? Semenjak sang eomma meninggal, ayahnya menjadi seorang workaholic. Dan itu membuat sang appa terlalu sibuk untuk mengurusi anak manja seperti Sungmin. Yeah, pebisnis seperti appa Sungmin lebih senang menghabiskan waktu di kantor. Jadi, tak ada alasan bagi Sungmin untuk memberi tahu tentang keadaannya sekarang.

Tetapi, ia terlalu putus asa.

Siapa yang mau menjadi sandarannya jika sudah seperti ini?

Tidak ada. Semenjak dulu Sungmin memang selalu sendiri. Dan kesendirianlah yang membuatnya membentuk dan menanamkan karakter egois dalam dirinya sendiri. Pada awalnya, Sungmin berpikir jika sifatnya yang seperti itu akan bisa diterima oleh siapapun. Tetapi ternyata, kekasih yang amat ia cintai tak dapat menerimanya. Karena itu, kekasihnya lebih memilih untuk mengakhiri segala hubungan mereka.

Perlahan kedua mata Sungmin tergenangi oleh bulir kesedihan, membuat pandangannya mengabur. Bukankah ia selalu mendapatkan apa yang ia mau? Tetapi, mengapa sekarang begitu berbanding terbalik?

Apa yang membuat Tuhan begitu marah kepadanya?

Darah segar tiba-tiba merembes keluar dari lubang hidung Sungmin—bercecer di atas lantai kamarnya yang dingin. Dengan langkah terhuyung lelaki imut itu menghampiri meja nakas, menarik beberapa lembar tissue lalu menyumpal lubang hidungnya. Beberapa hari ini, ia sering mimisan dan muntah cairan merah pekat ini.

Efek dari penyakitnya.

Sungmin menggesek hidungnya, melempar tissue kotor itu ke tempat sampah yang berada tepat di samping meja nakas. Kepala Sungmin mulai berdenyut, ia pun duduk di kursi meja nakas lalu menyangga dahi. Ia berdesis, menahan rasa sakit itu seorang diri.

Jika semua terasa sesakit ini, lebih baik Tuhan mengambil ruhnya secepat mungkin.

Isakan itu akhirnya meluncur dengan air mata yang menetes di permukaan kaca meja. Hati Sungmin yang terasa begitu perih membuat lelaki itu terisak dengan begitu keras. Semua tubuhnya terasa sakit. Dan ketika itu semua menghujam tubuhnya, tak ada seorang pun yang berniat menolongnya.

Akhir hidup ini akan terasa begitu berat bagi Sungmin yang hidup sebatang kara. Tiga bulan lagi akan menjadi hari-hari terberatnya. Ia tak menjamin surga adalah tempat yang nyaman—mengingat ia pernah memimpikan sang eomma yang telah tiada tengah menangis di sana.

Jika ia telah tiada, siapa yang akan hidup bersamanya di surga? Sungmin takut, ia akan tersesat di surga dan tak akan pernah menemukan sosok ibunya. Ia khawatir, tak akan ada yang membimbing langkahnya nanti. Tak akan ada yang menemaninya di surga. Lalu, apakah kesendirian yang akan ia dapatkan?

Tiba-tiba ..

Rasa hangat terasa menyentuh kulit tubuh Sungmin. Sesuatu yang lembut tengah mendekap tubuhnya yang menggigil. Sungmin menengadahkan kepala, menatap cermin yang ada di depannya.

Apa?!

Apa yang berhasil ditangkap oleh lensa matanya?!

Sosok manusia dengan sayap putih bersih yang tengah mendekap tubuhnya dari belakang?

Seketika itu pula, tengkuk Sungmin meremang. Sosok yang memiliki wajah pucat itu menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam. Kelopak mata Sungmin yang basah mengedip. Jadi, rasa hangat yang menyelimuti tubuhnya ini berasal dari pelukan’nya’?

Tetapi, dia siapa?

“Kyuhyun,” suara bass sosok malaikat itu mengalun sebagai jawaban dari pertanyaan Sungmin. Sayap yang berasal dari punggung lelaki itu mengepak bersamaan dengan tubuhnya yang menjauh. Pandangan dingin yang dilayangkan oleh sosok malaikat itu membidik wajah Sungmin. Lalu dengan satu-satuan detik, malaikat itu menyimpan sayapnya dan berjalan mendekat.

Sungmin menelan ludahnya, merasa begitu berdebar manakala malaikat bernama Kyuhyun itu berjalan mendekatinya. Ini tidak seperti yang biasanya Sungmin rasakan. Memang ada suatu rasa terancam, tetapi perasaan itu perlahan menghilang manakala Kyuhyun telah berada tepat di hadapannya.

“Sungmin,” Kyuhyun bergumam sembari menelusuri setiap jengkal wajah Sungmin. “Susah sekali membawamu ke duniaku.”

Mata Sungmin melotot, “Apa maksudmu?”

“Relakan semua yang ada di dunia, dengan begitu kau bisa bermain di surga bersamaku.”

Setelah mengatakan hal itu, sosok malaikat tampan itu mengabur lalu menghilang begitu saja. Dada Sungmin berdesir manakala ucapan malaikat itu kembali terngiang di telinganya. Telapak tangan lelaki itu bergerak menggapai udara di depannya, memastikan bahwa apa yang baru dilihatnya benar-benar telah menghilang dari hadapannya.

Sungmin melangkahkan kakinya ke arah ranjang kemudian merebahkan tubuh lelahnya di sana. Ia menatap langit-langit kamar, memfokuskan pikirannya pada ucapan malaikat bernama Kyuhyun tadi. Salah satu lengan Sungmin terangkat, lalu mendarat pada dahinya yang berkeringat.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Merelakan segala yang ada di dunia?

Kelopak mata Sungmin yang didera oleh rasa kantuk yang berlebihan akhirnya tertutup. Pikirannya yang lelah membuat lelaki berwajah imut itu mudah sekali tertidur. Setidaknya untuk tiga bulan kedepan, Sungmin akan menjadi manusia yang seperti itu.

OoOoO

Hembusan angin dari luar masuk ke dalam kamar apartemen Sungmin melalui jendela yang dibuka lebar-lebar. Tirai dari kain tipis berwarna pink itu berterbangan karena ulah angin yang terus meniupnya. Sosok malaikat berkulit pucat yang berdiri tepat di samping ranjang itu melipat kedua lengannya di depan dada. Ternyata sosok manusia bernama Sungmin ini sulit untuk dibangunkan. Kyuhyun berjalan mendekati ranjang Sungmin, membidik wajah lelaki imut itu dengan manik matanya yang berwarna cokelat gelap.

Manusia itu tengah bermimpi ..

Tentang seorang lelaki yang mendekap dan mengecup pipinya.

Mata Kyuhyun mengedip, lelaki itu pun menatap selimut Sungmin lalu menyibak kain tebal itu dengan kekuatan magisnya. Kyuhyun meniup tubuh Sungmin, membuat lelaki mungil itu menggeliat dalam tidurnya. Tangan mungilnya bergerak, berusaha menggapai-nggapai selimut yang ada di bawah tubuhnya. Kyuhyun tidak tinggal diam, malaikat itu mengedipkan matanya—membuat selimut itu terjatuh dari atas ranjang.

Akhirnya kelopak mata Sungmin terbuka. Pandangan mata lelaki itu disambut oleh sosok malaikat yang kemarin ia temui. Seketika itu pula Sungmin membelakkan mata, beringsut ke belakang dengan memasang raut wajah ketakutan.

“Tidak perlu takut, wahai manusia,” ucap Kyuhyun dengan nada bicara yang cukup datar.

Sungmin membuang pandangannya, tetap menyembunyikan suaranya. Di pagi yang secerah ini, mengapa sosok malaikat itu kembali datang dan membuatnya kaget setengah mati?

Lagi pula, Sungmin tak pernah ingin bertatap muka dengan malaikat pencabut nyawa. Sekali pun malaikat itu memiliki wajah yang begitu rupawan, Sungmin benar-benar tak sudi memandang wajahnya.

“Aku bukanlah malaikat pencabut nyawa,” kalimat Kyuhyun yang terlontar sebagai sanggahan sukses membuat Sungmin melotot tak percaya. “Aku Kyuhyun, malaikat yang akan menjadi pendampingmu.”

Pendamping?

Apa maksudnya dengan pendamping? Tunggu, semua yang ia pikirkan membuat kepala Sungmin pusing.

“Akulah yang akan menemanimu, di dunia atau pun di surga.”

Sungmin menyambar botol obat yang selalu ada di meja nakas dekat ranjang. Dengan gerakan tergesa-gesa lelaki itu mengeluarkan butiran berwarna hijau dari dalam sana, lalu mengunyahnya tanpa air. Dahi Sungmin mengeryit ketika rasa pahit menyentuh papila lidahnya.

Helaan nafas berat terdengar dari Sungmin. Lelaki itu pun beranjak dari ranjangnya—mengacuhkan sosok Kyuhyun yang menatap tajam ke arahnya. Memikirkan tentang siapa sosok Kyuhyun sebenarnya, pasti akan membuat keadaannya semakin memburuk. Karena itu, akhirnya Sungmin berinisiatif untuk mengacuhkan sosok tersebut.

Lelaki itu melangkah panjang-panjang ke arah kamar mandi yang terletak di kamarnya. Di tangannya telah menggelantung handuk berwarna pink cerah. Ia pun meraih knop pintu, lalu memutarnya.

“Terimalah aku. Dengan begitu, aku akan menghilangkan semua beban yang kau tanggung,” suara bass Kyuhyun tiba-tiba kembali terdengar.

Lelaki imut itu pura-pura tuli dengan ucapan malaikat tampan tersebut. Sekali lagi Sungmin mencoba memutar knop pintu tersebut. Hei, kenapa pintu ini tak dapat terbuka?

Kyuhyun menatap knop pintu yang Sungmin pengang, menahan pintu itu agar tidak terbuka. “Wahai manusia, aku tahu apa yang menjadi beban pikiranmu selama hidup di dunia.”

“Cukup hentikan omong kosongmu! Aku tidak butuh bimbingan doa dari seorang pastur atau malaikat sekali pun!” seru Sungmin dengan nada tinggi. Akhirnya lelaki itu berhasil membuka knop, lalu dengan gerakan gesit Sungmin masuk ke dalam.

Malaikat itu terlihat memandang pintu kamar mandi dengan pandangan kosong. Tidak, melayangkan pandangan kosong bukan berarti malaikat itu tengah melamun. Ia tengah mencoba untuk mengerti perasaan manusia yang menjadi tanggungannya.

Kyuhyun, atau Cho Kyuhyun, adalah seorang malaikat transorigami. Yeah, dulu ia adalah seorang manusia. Dan setelah ia meninggal, lelaki itu menjadi seorang malaikat penjaga manusia lain. Singkat cerita, ia dan Sungmin memiliki takdir yang hampir sama. Dengan kata lain, mereka adalah pasangan yang telah Tuhan jodohkan dengan cara yang sedikit berbeda dengan makhluk lain.

Sebenarnya ini bukanlah suatu hal asing. Transorigami adalah suatu hal wajar yang sering terjadi di dua dunia berbeda itu. Namun, tidak semua manusia akan berubah menjadi malaikat setelah meninggal. Tuhan telah memilih hambanya yang berhak melakukan transorigami. Dan hingga kini, tak ada yang tahu apa yang menjadi kriteria dalam hal tersebut.

Kyuhyun yang notabenya adalah malaikat baru pun tak dapat berbuat banyak. Malaikat itu hanya bisa memanfaatkan sebagian kecil kekuatan magisnya. Selebihnya, ia masih mencoba untuk melakukan hal yang lebih besar; seperti masuk ke dalam mimpi Sungmin atau mengganggu pikiran Sungmin, mungkin?

Tiba-tiba pintu kamar mandi itu terbuka, membuat sosok malaikat itu menghilang dalam satu-satuan detik. Sosok lelaki yang membuka pintu kamar mandi itu mengintip suasana kamarnya. Ia pun menyembulkan kepala guna memastikan sosok malaikat aneh itu sudah pergi. Setelah yakin semua telah kembali seperti normal, Sungmin membuka pintu itu lebar-lebar.

Sungmin melempar handuk itu ke sembarang tempat, lalu berjalan keluar kamar setelah menyambar tas hitam miliknya. Lelaki itu berjalan menghampiri dapur, mengambil sesuatu dari dalam kulkas. Jemari mungil lelaki itu membuka bungkus roti yang akan menjadi sarapannya, lalu menyingkap plastik bening yang menjadi kulit rotinya.

“Jangan dimakan,” larangan itu terlontar bersamaan dengan jatuhnya roti yang Sungmin pegang. Sungmin mengedarkan pandangannya, ia merengut ketika mendapati sosok malaikat tampan itu telah duduk di meja makan. “Lihat tanggal kadaluarsanya.”

Sungmin memutar bola matanya dengan gerakan malas. Ia pun membungkukkan badan guna meraih roti yang tergeletak di bawahnya. Mata lelaki itu membidik sudut bungkus roti tersebut, mencari-cari di mana letak tanggal kadaluarsa tercetak.

27 april 2012.

Manik mata Sungmin melirik ke arah Kyuhyun setelah ia menyadari kebenaran dari ucapan Kyuhyun. Ia menggulung ujung plastik pembungkus roti tersebut, lalu melemparnya ke tempat sampah. Sungmin kembali membuka pintu kulkas, lalu meraih botol berisi jus jambu merah dan meneguknya.

“Mau tahu, apa yang bisa membuatmu meninggal dengan tenang?” malaikat itu kembali berucap. Tanpa menunggu jawaban dari Sungmin, ia pun melanjutkan ucapannya. “Setidaknya, kau harus menerima kematianmu dengan lapang dada.”

Sungmin berdecih pelan manakala gendang telinganya mendengar ucapan Kyuhyun. “Aku tidak akan keberatan jika harus meninggal di usia tua. Tetapi sekarang ..”

“Meninggal di usia muda bukan berarti kehilangan segalanya,” Kyuhyun menginterupsi ucapan yang akan terlontar dari kedua belah bibir Sungmin. “Tuhan telah mempersiapkan kehidupan yang jauh lebih baik dari pada kehidupanmu di dunia.”

“Terserahmu saja,” sahut Sungmin dengan nada cuek kemudian berlalu.

OoOoO

Hari demi hari telah terlewati, meninggalkan beribu kenangan di pikiran lelaki berwajah imut itu. Memang ia telah merelakan sosok mantan kekasihnya. Tetapi, tetap saja ia tak dapat menerima fakta menyakitkan tentang takdir hidupnya. Sebentar lagi, ia akan menyusul sang eomma—lalu meninggalkan appa dan adiknya di dunia.

Apakah itu tidak terlalu kejam?

Setelah Sungmin pikirkan berulang kali, sepertinya tidak. Sedari dulu, Sungmin sadar betul jika sang appa dan adiknya selalu memiliki perbedaan pendapat dengannya. Dan semua itu berujung pada pernikahan sang appa dengan wanita lain setelah eomma kandung Sungmin meninggal. Jelas saja Sungmin mengutuk keputusan sang appa dan memilih untuk pindah ke apartemennya sendiri.

Hingga kini, ia dapat hidup dengan uang kiriman sang appa di setiap bulannya.

Ia tidak terlalu kejam, bukan?

Sungmin meraih ponselnya, membuka tab kalender lalu memperhatikan barisan angka itu dengan seksama. Jemari Sungmin menggeser-geser layar ponselnya, lalu ia pun tersenyum tipis.

Hari ini adalah hari ketiga puluh setelah ia menerima hasil diagnosa dokter tentang penyakitnya.

Sungmin menengadahkan kepalanya ke langit, memejamkan matanya yang lelah. Beberapa hari ini ia telah memikirkan apa yang Kyuhyun katakan kepadanya. Tidak, sebenarnya ia tak bermaksud untuk menanggapi ucapan-ucapan malaikat tersebut dengan serius. Hanya saja, pernyataan itu selalu terngiang di gendang telinganya. Itu membuatnya harus mau tak mau memikirkan hal tersebut.

Kematian yang membahagiakan.

“Kematianmu kali ini adalah pintu masuk dari kebahagiaanmu.”

Lagi, sosok malaikat itu lagi-lagi muncul dengan cara yang begitu misterius di samping Sungmin. Malaikat tampan itu suka sekali menyela pemikiran Sungmin dengan ucapan dan kehadirannya. Entahlah, semenjak ia dapat menampakkan diri di hadapan Sungmin, Kyuhyun betah sekali berucap kata tentang argumen-argumennya.

“Aku tidak mengerti tentang hal yang seperti itu,” Sungmin menanggapi tanpa menolehkan kepala satu derajatpun.

“Kau telah merelakan mantan kekasihmu, bukan?” pertanyaan Kyuhyun terdengar. “Setelah kau berhasil melakukan hal itu, yang perlu kau lakukan selanjutnya adalah merelakan keluargamu.”

Alis Sungmin mengeryit, “Aku sudah merelakan mereka dari jauh-jauh hari!”

“Tidak,” sangkal Kyuhyun. “Merelakan bukan berarti melupakan,” ucap Kyuhyun sembari melayangkan tatapan mautnya—seperti biasa.

“Kau mana tahu apa yang kurasakan,” sekarang Sungmin menolehkan kepala, membalas tatapan tajam yang Kyuhyun berikan kepadanya.

Nada datar Kyuhyun tak kunjung berubah walau Sungmin menatapnya dengan begitu tajam. “Aku tahu apa yang kau rasakan,” ujarnya tanpa berniat mempertinggi atau memperendah nada suaranya. “Sekarang coba kau pikirkan, kau lebih senang jika mati atau hidup?”

“Aku tidak menginginkan dua-duanya,” jawab Sungmin cuek.

Kyuhyun menghela nafas, “Kau manusia yang keras kepala.”

Yes, I am,” gumam Sungmin seraya mengapit dua telapak tangannya yang mulai kedinginan di antara dua pahanya. Oh, daya tahan tubuhnya yang lemah membuat lelaki itu mudah merasa kedinginan ketika berada di luar ruangan.

“Kau takdirku,” kata Kyuhyun tiba-tiba. “Pernah mendengar tentang takdir antara dua orang yang berpasangan?”

Kepala Sungmin mengangguk, “Tidak semua takdir tentang pasangan adalah benar.”

“Tidak, semua takdir adalah benar adanya,” Kyuhyun meralat ucapan Sungmin. “Yang membuat takdir terasa begitu ganjal adalah sifat manusia yang suka mempersulit takdir mereka masing-masing.”

“Kau tidak berhak menyalahkan manusia,” Sungmin bangkit dari duduknya lalu berjalan—tentu diikuti oleh Kyuhyun yang terbang di sampingnya. “Tidak semua manusia suka mempersulit takdir yang telah Tuhan tulis.”

“Kau tahu tentang nafsu, pilihan, dan emosional?” tanya Kyuhyun. “Semua saling terikat dan terhubung satu sama lain. Begitu nafsu mencapai titik akhir, maka pilihan ya atau tidak menjadi langkah selanjutnya. Setelah itu, emosionallah yang bertindak. Bukankah kehidupan manusia seperti itu?”

Sungmin terdiam, mencoba merenungkan tentang apa yang Kyuhyun ucapkan kepadanya. Ucapan Kyuhyun kali ini memang terdengar lebih real dari ucapan-ucapan sebelumnya. Sungmin dapat mengambil persepsi itu mengingat Kyuhyun memberikan gambaran yang cukup ia mengerti.

“Tidak ada yang sia-sia dari suatu tindakan, Sungmin,” telapak tangan malaikat itu menepuk pundak Sungmin. Ternyata seperti ini jika seorang malaikat menepuk pundakmu, rasanya begitu hangat dan lembut—bagai tepukan ibu. “Dan kau tidak perlu takut dengan kematianmu.”

OoOoO

Sungmin terlihat berdiri di sebuah pagar besi berwarna merah darah. Jemari lelaki mungil itu telah memencet tombol bel. Sekarang ia tengah menunggu seseorang untuk merespon. Sungmin merendahkan pandangannya, menatap buah-buahan yang telah ia persiapkan. Semalaman penuh ia mengupas dan memotong buah-buahan ini. Dia melakukan hal itu karena penerima buah-buahan ini adalah orang yang istimewa.

Sungmin kembali menggerakkan lengannya, menekan tombol berwarna putih itu.

Nuguseyo?” suara seorang lelaki dari dalam sana terdengar.

Ini suara Sungjin, adiknya. Sungmin yakin ini adalah suara Sungjin. “Sungmin-ibnida.”

Setelah mengucapkan hal tersebut, gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Sungmin pun mendorong pintu tersebut, memasuki halaman rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya sewaktu kecil. Halaman rumah ini masih seperti dulu, dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman yang dulu ia tanam bersama ibu.

Hyung!” panggilan itu terdengar dengan nada tinggi, sontak membuat Sungmin menolehkan kepala ke sumber suara. Sosok lelaki yang berwajah mirip dengannya tengah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

Sungjin sudah besar. Dia tumbuh menjadi seorang remaja yang tampan.

Sungmin tersenyum, lalu ia pun berjalan ke arah Sungjin lalu memeluknya. “Aku merindukanmu,” lirih Sungmin sembari menepuk-nepuk punggung adik kecilnya. Sungjin adalah adik kesayangannya karena Sungjinlah yang menjadi teman masa kecilnya dulu.

“Aku juga, hyung,” sahut Sungjin. “Ayo masuk!”

Sungmin menurut manakala Sungjin menggenggam erat lengannya yang dingin lalu menariknya. Lelaki itu mencoba membimbing langkah kakinya ke dalam rumah. Mereka berdua akhirnya duduk di sebuah sofa merah.

“Aku membawakanmu buah-buahan,” ucap Sungmin sembari menyerahkan kotak makanan yang terbungkus tas kardus. “Kau harus memakannya dengan appa.”

Gomawo, hyung,” Sungjin meraih kotak buah pemberian Sungmin. “Apa yang membuat hyung ke mari? Jika hyung menelpon terlebih dahulu, mungkin appa bisa pulang dari kantor.”

Ternyata sang appa masih menjadi seorang workaholic. Oh, kasihan sekali adik kecilnya ini. Tidak seharusnya ia merasakan apa itu kesepian. Sungmin menghela nafas berat, ia pun menatap wajah Sungmin. “Tidak perlu. Aku kemari bukan karena membawa berita penting.”

“Wajahmu terlihat pucat, hyung,” argumen Sungjin terlontar setelah ia memperhatikan keadaan wajah Sungmin. Benar, wajah kakaknya benar-benar pucat. “Apa hyung sakit?”

Sungmin menggeleng pelan, “Tidak. Aku memang memiliki wajah yang pucat seperti ini,” jawabnya sembari terkekeh pelan. “Di mana eomma?”

Eomma?” alis Sungjin melengkung manakala pertanyaan seperti itu terlontar dari Sungmin. Sungjin tahu benar jika Sungmin sangat membenci eomma barunya. Alasan Sungmin pergi dari rumah ini karena eomma, ‘kan? “Eomma sedang tidak ada di rumah.”

Lelaki berwajah imut itu terdiam manakala ia mendengar penuturan Sungjin. Padahal ia bermaksud untuk melihat dua orang itu untuk yang terakhir kalinya. “Sungjin-ah, mungkin aku tak akan bisa kembali ke rumah ini lagi.”

Hyung masih marah kepada appa dan eomma?”

Sungmin melempar senyuman manisnya, salah satu telapak tangan lelaki itu pun bergerak membungkam jemari Sungjin. “Hyung akan sangat sibuk. Karena itu, hyung pasti akan sulit untuk pulang ke sini.”

Kepala Sungjin mengangguk-angguk pelan tanda ia telah mengerti. “Setidaknya hyung harus makan malam di sini.”

OoOoO

Sungmin memandangi angka di kalender yang tertempel di dinding kamarnya. Manik mata lelaki itu melirik angka yang telah tercoret dengan tinta merah, lalu menghitung angka berwarna hitam. Wajah pucat lelaki itu dipenuhi oleh gurat kesedihan. Dan kesedihan yang ia simpan seorang diri itu membuat pipinya semakin tirus, dirinya terlihat begitu menyedihkan.

“Tidak perlu sekhawatir itu, Ming,” sosok malaikat yang selama dua bulan ini terus menemaninya berucap. Rasa hangat yang menjalar dari kedua sayap Kyuhyun yang menyelimuti tubuh Sungmin memberikan suatu sinyal positif. “Aku tidak akan membiarkanmu sendiri.”

Sungmin menyambut dekapan sayap putih bersih ini dengan senyuman tipis. “Aku hanya takut tersesat di surga.”

“Tidak ada orang yang akan tersesat di surga,” sahut Kyuhyun. Ia pun menyembunyikan kedua sayapnya dan berjalan menghampiri Sungmin. “Terlebih dirimu yang telah memilikiku.”

“Terimakasih,” ucap Sungmin seraya memejamkan kedua kelopak matanya manakala rasa nyeri yang teramat sangat menjalar di kepalanya. “Akh ..,” teriakan Sungmin tertahan di ujung tenggorokannya. Lelaki imut itu pun hampir terjatuh jika saja kekuatan magis Kyuhyun tak menahannya.

Darah segar kali ini mengalir dari mulut mungil Sungmin yang suci, menetes dengan begitu deras menghantam lantai kamar yang dingin. Sakit, lagi-lagi sakit ini kembali Sungmin rasakan. Lelaki itu mengerang dalam diam. Lama-kelamaan pandangannya semakin mengabur, bukan karena bulir bening yang merembes keluar. Tetapi memang karena efek dari rasa sakitnya.

Kyuhyun yang mengerti dengan apa yang Sungmin rasakan kini mendekap tubuh menggigil itu dari belakang. Malaikat yang pernah menjadi manusia itu mendekatkan bibir tebalnya di lubang telinga Sungmin, “Terimalah diriku, Ming ..”

Nafas Sungmin terdengar semakin memburu. Sekarang keseimbangan tubuhnya telah lenyap dan tergantikan oleh kepalanya yang berputar. Rasa sakit yang begitu mencekik lehernya membuat pekikan-pekikan pendek terdengar. Kedua kaki Sungmin bergetar ketika suara bass Kyuhyun menembus gendang telinganya.

Menerima?

Apa maksudnya menerima?

Tidak, Sungmin tidak kuat lagi. Lelaki itu lebih memilih untuk menyerah dan menutup kelopak matanya. Rasa sakit ini terlalu berlebihan, Sungmin rasa ia tak sanggup untuk menahan semuanya.

“Hanya perlu menerima kehadiranku di sisi hatimu, Ming ..,” malaikat itu beringsut dengan melukis wajah penuh kekecewaan.

OoOoO

Manik mata rubah itu mengintip dari celah kelopak matanya yang terbuka. Samar-samar terdengar suara deru angin yang berhembus sepoi-sepoi. Sungmin memperhatikan sekeliling, memastikan keberadaannya sekarang ini.

“Kau masih ada di dunia,” nada bicara yang dingin itu sukses membuat Sungmin terhenyak dan reflek melirik ke sumber suara. Ada sosok malaikat’nya’ di sana, tengah melipat dada dan memandanginya dengan tatapan tajam—seperti biasa.

“Aku sudah merelakan mantan kekasihku,” lirih Sungmin. “Aku pun telah menerima keluargaku,” sambungnya lagi. Dahi Sungmin mengeryit kala rasa sakit di dahinya datang kemudian menghilang begitu saja. “Lalu kenapa Tuhan tak mencabut nyawaku?”

“Aku tidak pernah mengajarimu untuk meminta kematian datang kepadamu, Ming,” malaikat itu melepas tautan lengannya dan terbang mendekati Sungmin. “Tetapi aku mengajarimu untuk menerima kematian yang selalu menguntit setiap nafas manusia.”

Akhirnya Sungmin bangkit dari rebahannya—tentu dengan bantuan kekuatan magis Kyuhyun. Sungmin menoleh menatap Kyuhyun, “Sebelum kau meninggal dan menjadi malaikat, apa dulu kau seorang pastur?”

Sosok malaikat yang dikenal memiliki sifat dingin itu terkekeh dengan seringai menakutkan di bibir tebalnya. “Demi apa kau berpikiran seperti itu?”

“Kau persis seperti seorang pastur yang begitu sabar,” jawab Sungmin. Ia melipat dua lututnya lalu menyangga dagu. “Jika kau bisa meramalkan apa yang akan terjadi, pada tanggal berapa aku akan meninggal?”

“Aku hanya malaikat yang tak pandai meramal,” Kyuhyun duduk tepat di samping Sungmin, melempar tatapan hangat yang begitu menenangkan. “Sekarang, apa yang kau butuhkan?”

Binar mata Sungmin semakin meredup, lelaki itu pun merunduk. “Ketenangan,” jawab Sungmin dengan volume kecil.

“Aku bahkan sudah mengatakan apa yang perlu kau lakukan untuk mendapatkan ketenangan,” lengan pucat itu bergerak dan menggapai lengan mungil Sungmin—yang tak kalah pucat. “Aku yakin kau pasti akan mengerti.”

“Aku tidak tahu bagaimana cara menerimamu,” Sungmin melempar pertanyaan yang selama ini selalu berkutat di otaknya. Ia menarik kedua lengannya yang melingkar di kakinya, kembali menyamankan posisinya. Lelaki penyidap kanker stadium akhir itu kini memandang jemari kakinya yang memutih, mungkin sebentar lagi akan membusuk di dalam peti mati.

“Aku ada untukmu,” ucap malaikat berwajah tampan itu. “Aku di sini karena dirimu. Lalu, apa yang harus kau lakukan jika sudah seperti itu?”

Lagi, Kyuhyun memberikan pertanyaan dengan jawaban yang sama di setiap malamnya. Sebelum sosok malaikat misterius itu pergi dan menghilang dari pandangan Sungmin, ia akan meinggalkan pertanyaan yang seperti itu.

OoOoO

Aku hanya butuh ketenangan.

Sungmin berjalan menyusuri taman rumah sakit dengan langkah pelan. Ucapan-ucapan yang terucap dalam hati menemani setiap langkahnya. Lelaki itu memperhatikan sekekeliling, menatap para pasien lain yang berjalan-jalan dengan keluarga mereka.

Dari dulu, aku tidak pernah seperti itu.

Pandangan lelaki itu beralih menatap jalanan beton yang ia tapaki. Ia sendiri, dan ia menyadari semua itu dengan begitu baik. Kesepian adalah teman akrabnya. Dan kesedihan adalah sahabat karibnya.

Appa ..

Eomma ..

Sungjin ..

Atau siapa saja ..

Tak adakah yang peduli padanya?

“Semua peduli kepadamu,” tiba-tiba suara Kyuhyun terdengar bersamaan dengan kehadiran sosoknya. “Bahkan semua orang yang kau sebutkan tadi, begitu peduli dengan setiap nafas yang kau hembus.”

“Ini semua sangat tidak masuk akal,” ucap Sungmin sembari mempercepat langkah kakinya. “Tiga bulan ini kau terus memberiku omong kosong dan mengatakan bahwa kematianku sudah dekat. Dan sekarang?”

Sungmin berteriak dengan nada yang mencekik lehernya—hampir menyerupai orang gila. Bulir bening yang telah menetes di kedua sisi pipinya kini mengalir dengan begitu deras. Lelaki itu akhirnya berlari guna menghindari tatapan penuh tanda tanya yang ia terima dari para pejalan kaki. Namun, sepertinya ia tak sanggup menjadi seorang Lee Sungmin yang sekuat dulu. Baru saja ia berlari, tubuh mungilnya yang rapuh telah protes.

“Berhentilah. Jangan menyiksa dirimu lebih dari ini,” malaikat yang terbang di samping Sungmin berkata tanpa menolehkan kepala ke arah Sungmin. “Sudah aku katakan, cukup terimalah kehadiranku di pikiran dan hatimu ..”

“Sudah aku katakan, berhentilah mengucapkan omong kosong!” hardik Sungmin dengan perasaan meledak-ledak. Dengan langkah panjang-panjang, Sungmin pergi meninggalkan sosok malaikat berwajah tampan itu.

Lagi-lagi Kyuhyun hanya bisa menghela nafas penuh kecewa manakala melihat kepergian Sungmin, takdir hidupnya. Kepakan sayap putihnya yang berkilau perlahan berhenti, lalu menghilang dan tergantikan oleh bulu-bulu putih yang beterbangan. Kaki malaikat itu menapaki bumi, lalu sinar dari tubuhnya meredup.

“Kau belum berhasil meyakinkan takdirmu?” tiba-tiba suatu suara terdengar, sukses membuat sosok malaikat itu terperanjat selama beberapa detik.

Tetapi, pada akhirnya sosok malaikat itu mengulas senyuman dan menengadahkan kepala. “Sebentar lagi,” desaunya sembari melangkah. “Sebentar lagi ..”

“Manusia itu begitu keras kepala. Apa aku bisa mempercayakannya kepada malaikat baru sepertimu?” suara itu menanggapi ucapan Kyuhyun.

“Aku pasti bisa,” jawab Kyuhyun dengan nada tegas. “Tuhan menakdirkannya untuk hidup bersamaku di surga. Tak akan kubiarkan malaikat lain mengambil alih tugasku sekarang ini.”

OoOoO

“Tidak! Apa yang kau lakukan, bodoh?!” lelaki imut itu mencaci sosok lelaki tampan yang sedari tadi terus mengusik dirinya di labolatorium komputer.

 

“Aku hanya mencoba memperbaiki sambungan internet komputerku,” jawab lelaki itu sembari memamerkan kabel putih yang ia bawa.

 

“Kau menarik kabel yang menancap di komputerku!” Sungmin akhirnya bangkit lalu berjalan ke belakang meja komputer, memperhatikan lelaki berwajah pucat yang duduk tepat di sebelah CPU. “Demi apa kau selalu mengusik hariku, Cho?!” Sungmin berkacak pinggang.

 

Lelaki bermarga Cho tadi hanya tersenyum, lalu terkekeh pelan menanggapi ekspresi Sungmin. Memang ia sengaja menganggu Sungmin surfing internet siang ini. Dengan mudahnya lelaki itu masuk ke labolatorium komputer dan berpura-pura tengah mengalami masalah dengan laptop yang ia bawa. See, akhirnya Sungmin marah dan mau memanggil marganya. “Panggil namaku, Min.”

 

Sungmin menyambar kabel yang tergeletak tepat di samping laptop Kyuhyun. Sebelum ia menancapkan kembali kabel penghubung internet itu, terlebih dahulu ia menatap Kyuhyun dengan tatapan tajamnya. “Untuk apa aku memanggil nama seorang stalker rendahan sepertimu?”

 

“Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diriku kepadamu,” lelaki itu bangkit dari duduknya lalu menengadahkan telapak tangannya. “Aku Cho Kyu—”

 

“Persetan!” bentak Sungmin sarkatis. “Karena kau yang selalu menguntitku, mereka semua membuat gossip tentang kita! Aku tidak suka, aku benci denganmu!”

 

Wajah pucat itu terlihat menggurat kesedihan yang begitu kentara, jemarinya yang berkerut kini mencoba menggaruk tengkuknya. “Hanya gossip. Lagipula, kau hanya perlu menerimaku, Ming ..”

 

“Bagaimana bisa aku menerima hoobae kurang ajar sepertimu?” akhirnya Sungmin berniat untuk pergi meninggalkan ruangan labolatorium tersebut. Ia menyambar tas berwarna biru pekat miliknya lalu mengomel dengan suara lirih.

 

“Baiklah, aku akan mencoba bersikap sopan kepadamu,” semangat lelaki itu untuk mengejar jawaban Sungmin masih belum surut. Walau tubuhnya begitu lemah, tetap saja ia berusaha untuk berjalan cepat demi menyamai kecepatan langkah kaki Sungmin. “Setelah itu, kau harus menerimaku di pikiran dan hatimu ..”

 

“Jangan terlalu berharap, Cho!”

 

“Ming, panggil namaku dengan benar,” akhirnya lelaki berambut cokelat hazelnut itu menghentikan langkah kakinya manakala darah segar mengalir deras dari lubang hidungnya. Oh tidak, sebaiknya ia cepat-cepat menghapus darah ini lalu kembali mengejar Sungmin. “Sungmin! Sungmin! Panggil aku Cho Kyuhyun!”

 

“Gyyaaah!” teriakan itu terdengar mengusik keheningan malam. Namja berparas cantik bak seorang wanita itu menyibak selimut tebal yang menutupi dadanya, lalu menyangga dahinya yang berkedut. Manik mata hitam kelam itu melirik ke arah kanan, mendapati tubuh malaikat yang tengah menatapnya dengan pandangan dingin.

Kyuhyun ..

Cho Kyuhyun ..

Sebelum Sungmin nelontarkan pertanyaan, kelopak matanya tertutup dengan gerakan perlahan karena suatu rasa kantuk yang tinggi. Tubuh lelaki itu kembali limbung kemudian jatuh di atas lembaran sprei pink cerahnya.

“Kyuhyun. Dia meninggal karena kanker otak,” bisik seorang wanita dengan rambut yang dikuncir di atas. “Kudengar, dia meninggalkan surat terakhir untuk Sungmin.”

 

Akhirnya beberapa orang yang tengah bergunjing itu menolehkan kepala dan melirik ke arah Sungmin yang tengah membaca suatu lembaran kertas berwarna biru muda.

 

“Semenjak dia masuk SMP ini, kudengar Kyuhyun sudah menyukai Sungmin,” nada suara lain menginterupsi.

 

Perempuan dengan wajah yang lebih cantik menggeleng lalu menggigit bibir bawahnya. “Demi Tuhan, aku menyayangkan perasaan Kyuhyun yang seperti itu.”

 

Lelaki lain yang ada di sana mengangguk setuju, “Sungmin bukanlah orang yang akan memiliki pasangan di dunia ini.”

 

Rata-rata orang yang ada di sana tersenyum meremehkan, decihan pelan pun terdengar. “Dia melukai orang yang salah,” suara yang lebih berat menyahut. “Sekarang, apa yang dirasakannya ketika Kyuhyun pergi dari dunia ini?”

 

“Tidak ada,” sosok Sungmin yang sedari tadi duduk di bangku pojok sembari menguping pembicaraan menjawab dengan nada datar. Memang sedari tadi ia membaca sepucuk surat dari stalker rendahannya. Dan itu cukup membosankan, menurut Sungmin. “Aku paling benci kisah roman picisan seperti itu.”

 

“Ss—Sungmin-ah,” beberapa teman sekelas Sungmin yang mendengar ucapan lelaki imut itu menganga tak percaya. Sosok yang dikenal sebagai murid misterius itu berkata dengan begitu kejam.

 

“Sekalipun Kyuhyun meninggal, aku tak akan menyesal pernah menyia-nyiakan perasaannya dulu,” Sungmin meremas kertas biru muda yang ada di genggamannya dan melemparkannya ke sembarang tempat. “Omong kosong!” desisnya.

 

Beberapa siswa yang melihat gumpalan kertas hasil lemparan Sungmin segera memungut benda tersebut, membuka kertas lusuh tersebut dan membaca deretan huruf hangul yang ada.

 

—Kita akan bertemu lagi. Karena kau adalah takdirku. Cho—

Mata cokelat bening malaikat itu membidik Sungmin yang tengah menggeliat dalam tidurnya. Ia tersenyum setelah berhasil membaca dan memimpin mimpi Sungmin. Kali ini ia berhasil mengendalikan kekuatan magisnya—mengirim cerita yang sempat terlupakan dari benak Sungmin lewat mimpi.

“Uhuk—uhuk,” lelaki yang tengah tertidur itu terbatuk-batuk pelan, membuat mimpinya terganggu dan akhirnya ia terjaga dari tidurnya. Sungmin bangkit lalu duduk di sandaran ranjang, punggungnya yang melengkung hampir menyerupai huruf C bergetar hebat. “Hahh .., haaah,” Sungmin mencoba melirik malaikat yang masih setia berdiri di samping ranjangnya.

Dia Kyuhyun, Cho Kyuhyun yang pernah ia sakiti ..

“Mana yang kau pilih, tetap hidup di dunia tanpa diriku, atau hidup di surga bersamaku?”

Pilihan yang Kyuhyun lontarkan membuat Sungmin tercengang. Bagaimana bisa Kyuhyun melontarkan suatu pilihan seperti itu? Sungmin memuntahkan cairan merah pekat, lalu ia pun kembali terbatuk-batuk. Mata Sungmin terpejam erat, kepalanya yang pening pun berputar-putar.

“Hidup denganku, atau hidup sendiri ..”

‘Aku tidak bisa menerimamu secepat itu. Tetapi, akan kupastikan aku akan menyimpanmu dalam lubuk hatiku. Tolong aku! Takdirku, takdirku!’

OoOoO

Jika semua telah terlewati ..

Maka, apa yang harus dilakukan manusia setelah meninggalkan dunia?

Jawabannya ..

‘Tidak ada’

Setelah urusan duniawi telah usai, maka ruh manusia akan terbang ke sana ke mari demi menemukan pintu surga.

Tetapi, jika ia hanyalah sesosok ruh yang tak berdaya?

Sungmin menangis tersedu-sedu di atas makam dirinya sendiri. Ini adalah hari kesepuluh setelah ia meninggal. Namun, yang bisa ia lakukan selama ini hanya terbang tak tentu arah—tanpa ada yang membimbing. Hatinya semakin miris manakala ia tak mendapati siapa pun yang mau menuntunnya.

Lantas, di mana sosok malaikat yang mengaku sebagai takdirnya?

Sosok malaikat yang membuat Sungmin harus merelakan raganya terbujur kaku dalam peti mati?

“Aku adalah sosok malaikat yang tak mampu mengkhianati ucapanku sendiri,” tiba-tiba sinar berwarna putih keemasan berputar mengelilingi ruh Sungmin, menciptakan kilatan kerlap-kerlip bak para kunang-kunang yang berterbangan. “Sesungguhnya, aku menunggumu untuk memanggil namaku.”

Sungmin menengadahkan kepala, mencoba menatap sekitar dengan matanya yang berair. Ruh manusia itu terlihat kebingungan, tetapi sedetik setelah itu ia bangkit lalu terbang dengan kekuatan ruhnya—yang masih lemah tentunya. Dia hanyalah sesosok ruh, bukan malaikat yang memiliki dua buah sayap indah.

“Ayo, panggil namaku. Setelah itu, aku akan datang ke hadapanmu,” suara bass itu kembali terngiang, diiringi oleh hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa area pemakaman.

“Kk …” Sungmin mencoba berucap dengan lidahnya yang kaku. “Kk—Kyu ..,” air mata itu merembes di celah sudut mata Sungmin, membuatnya lebih sulit untuk berucap kata. Sungmin menelan air salivanya, kembali berusaha mengucapkan sebuah nama yang akan memberikan sebuah keajaiban. “Kk—Kyu .., Kyuhyun .., Cho Kyuhyun ..”

“Aku di sini,” suara itu terdengar bersamaan dengan hadirnya sosok Kyuhyun di hadapan Sungmin. Malaikat berwajah tampan itu tersenyum, lalu meraih telapak tangan Sungmin dan meletakkannya di atas dada jantannya. “Panggil aku, sekali lagi ..”

Pada awalnya Sungmin hanya mengerjapkan kelopak matanya karena bingung dengan perintah Kyuhyun. Namun, setelah ia menerima getaran hangat dari dada Kyuhyun akhirnya manik mata rubah itu membidik bola mata Kyuhyun. “Cho Kyuhyun ..”

Sraak!

Sepasang sayap putih bersih tiba-tiba keluar dari punggung Sungmin, menjulang dengan begitu cantik dan memancarkan sinar yang begitu menyilaukan. Sebenarnya Sungmin cukup terkejut dengan apa yang telah terjadi kepadanya. Namun, karena pandangan Kyuhyun yang ia terima detik ini, Sungmin merasa semua akan berakhir dengan baik-baik saja.

“Kau bertransorigami,” ucap Kyuhyun, ia menjauhkan telapak tangan Sungmin yang semula menempel di dadanya. “Kau malaikatku yang begitu sempurna,” seulas senyuman merekah di kedua belah bibir tebal Kyuhyun.

Sungmin masih saja terdiam ketika telapak tangan Kyuhyun membungkam jemarinya. Tubuh mungil itu tertarik ke atas, bersamaan dengan tubuh Kyuhyun yang terbang ke langit. “Aku akan menuntunmu untuk menemukan pintu surga,” ujar Kyuhyun.

Kepala Sungmin mengangguk, senyuman manis pun terlukis dengan rasa bahagia yang menyelusup di celah-celah dinding hati Sungmin. Lelaki imut itu ikut mengepakkan sayapnya, mempererat genggaman tangannya. “Bagaimana bisa malaikat sebaik dirimu menjadi takdirku?”

“Takdir Tuhan,” jawab Kyuhyun singkat—tak lupa melemparkan senyuman tulus. Pandangan malaikat itu berubah, dari yang semula dingin menjadi begitu hangat dan lembut—penuh perasaan berarti di dalamnya. “Dan Tuhan menuntunku untuk memilihmu sebagai pendampingku.”

“Terima kasih,” kata Sungmin tanpa mencoba menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya. Malaikat baru itu melepaskan tautan tangan mereka, lalu terbang menerjang tubuh kurus Kyuhyun di udara. Sungmin menenggelamkan wajahnya di pundak Kyuhyun, “Aku berjanji akan selalu menyimpanmu di sana.”

“Itu kewajibanmu,” Kyuhyun mengedarkan pandangannya, kali ini ialah yang harus menyembunyikan rona merah di wajahnya. “Mari hidup bersama di surga.”

Sungmin melepaskan pelukannya, kembali membidik wajah stoic malaikat tampan yang ada di depannya. “Bawalah aku dalam genggaman tanganmu.”

Itulah takdir.

 

Tak dapat musnah ditelan waktu.

 

Tak dapat berubah dengan perbedaan.

 

Tak dapat terpungkiri karena jarak yang memisahkan.

 

Karena Tuhan ..,

 

Memiliki rencana di setiap takdir yang ditaburnya.

 

END

Jangan timpuk author karena bikin si Kyu OOC banget ~~ >< pada awalnya aku pengen buat si ming yang jadi malaikat. Tetapi, karena ntar pasti nggak akan memungkinkan mengingat si manusia bakal menjadi orang lemah, akhirnya si kyu yang author pilih jadi malaikat.

Sebenernya aku buat ff ini rada nggak niat. Karena itu, aku usahain buat konflik yang nggak terlalu berat dan membiarkan ceritanya mengalir begitu saja *plak* aku harap sih, para readers juga nggak bosen waktu bacanya. Hehehehe

Oke, aku harap kalian nggak kecewa dengan endingnya .. Berikan komentar dan tunggu ff dariku selanjutnya yah~~~^^

~MOHON UNTUK TIDAK MENGCOPY-PASTE SEMUA KONTEN YANG ADA DI BLOG INI! DO NOT PLAGIAT, PLEASE!~

62 thoughts on “Our Destiny | KyuMin | Oneshoot | YAOI | T | Fantasy, Drama |

  1. takdir kyumin, kyu jd malaikat sulit dibayangkan, haha *plakk
    didunia ga bisa bersatu tp ditempat lain mereka bisa bersatu…. eciee

  2. wah jiyoo bikin ff baru yaoi oneshoot ya.
    oh ternyata kyu tuh dulu orang yang pernah di tolak ming dulu ya?
    aku suka karakter kyu disini seorang malaikat yang sabar menunggu takdir cinta yang diberikan tuhan dan menghadapi sikap keras kepala ming. n akhirnya takdir mempersatukan mereka di surga nice ff jiyoo.

    oya aku baca TL’mu tadi kamu habis emosi karna baca artikel menyebalkan itu ya jiyoo?
    aku tunggu ff baru mu lagi jiyoo

  3. AAAAAAA KYU JADI MALAIKAT !!
    Bhahaha angel!kyu sooooooo sweet kkk~

    Yeah Ming, takdirmu memang bersama Kyu dan takdir kalian itu bersamaku #plak *abaikan yang terakhir* kkk~

    Aaaaa~ aku baru nyadar ternyata pas aku lagi baca time ending ini udah publish wkwkwk *silly me*
    Good job saeng~

    Ditunggu karya selanjutnya😄
    Jangan bosen bikin ff BL yaaaaaa kkk~
    Hwaiting ! ^^

  4. Tumben bangeut si Kyuhyun jadi alim dan penyabar bangeut,,,,,,,,aku suka karakternya sungmin yang begitu,,,,,,,,,,

    Awalnya kukira Sequel lanjutan dari FanFiction sebelumnya,,,,,ternyata bukan

    Tapi sedikit mengobati akan kerinduan membaca KyuMin Fanfiction yang sekarang semakin menipis,,,

  5. Aku ngebayangin Kyu di sini, sama Kyu yang di VCR opening SS4 hahahah..
    Huwaaa.. Seandainya takdir seperti di ff ini ada di kehidupan nyata.. Pasti banyak yang pacaran di surga #plak
    gue suka sama ceritanya, unik, bagus dan jarang nemu juga ff model(?) kaya gini.
    KyuMin memang tidak bersama di dunia tapi mereka bersama-sama di surga. Ahh.. Indahnya ~ #stres

  6. satu Kata buat author tapi panjang(?) yaitu “Kereeeeeeennnnnn!!!!!”
    selama ini cerita klasiknya itu pasti sungmin meninggal terlebih dahulu dan kyuhyun bakalan nyusul ming, bagai manapun caranya alias pendosa gitu, tapi ini berbeda. bisa memberi makna, ketika kita ingin memutuskan sesuatu maka ketulusanlah yang dicari, bukan hanya nafsu belaka. suka yang |Fantasy kaya gini.

    gakebayang kyuhyun-ku(?) jadi malaikat takdir sungmin. apa takdir author(?), #plak ini kyumin bukan kyuji couple!😄
    Min, mumpung libur, saatnya saya melaksanakan Read.Coment.Like FF Time yang tertunda ==”. Udah end belum ?#ketinggalan.

    -@RP_lily1993iu-

  7. kyaa. . .evil jadi malaikat
    gyakaka.

    mianhae. . Q bru bsa kelanjutn ffmu. . nde
    ga nyangka ternyata udh end . .dan endingnya Q suka bgt. . .

    ayo trus berkarya. . ^^

  8. Gerrrrrr ini ke3xnya aq bikin komen dr td ga masuk2!!!!><

    Btw thanks postingannya chingu..

    Buat pasangan tercinta kita KyuMin takdir mereka mmg sdh ditentukan Tuhan,, walopun ga bersatu didunia tp akhirnya bersatu di surga…
    Nice story chingu..🙂

    Smga komen q yg ini masuk..^^'

  9. merana hidup didunia,berakhir bahagia hidup disurga..

    gk bisa berstu di dunia fana,surga pun jdi pilihan utama untuk kyumin kembali bertemu….

    klu malaikatnya kyk uri magnae,tak apalah berteman dgn kematian…*plaak*

    ah,daebak!!

    tdnya aku pikir pacar sungmin irmtu kyuhyun,ternyata kyuhyun itu mlh org yg pernah ditolak mentah2 sm sungmin…

    ckckvk…takdir ih takdir~

  10. Kyu jd malaikat bner2 g bsa dbnyangin bentuknya..evil brtranfirmasi jd malaikat .. Walaupun ddunia kyumin g bsa bersatu.tpi dsurga mreka bersatu..huwaaaa seruuuu

  11. Annyeong…
    Day imnida… hehehehe…
    aku suka ff ini. tapi ada yang kurang! kurang kissunya!#plak.
    sayang banget perasaan keluarga Ming setelah Ming meninggal nggak diceritakan. padahal aku penasaran banget dengan itu.
    kehheheheheh…
    tapi apapun itu, aku tetep suka sama ff ini. idenya luar biasa…
    trans- origami, entah kenapa yang ada dalam pikiranmu malah bangau kertas#plak.

  12. Awhhh…
    Si Kyu jadi baek bangeedd, salah makan apa dia author??? XDDD

    Sungmin keren!!! Bahkan coldMin or SarcasmMin aku tetep suka dan bisa bayangin Min yang kayak gitu.
    Hehehe…

    Suka banget ama ni ff. Narasinya lumayan, panjang tapi ga ngebosenin.
    Cemungudh author!!!
    Btw, oneshoot yaoi kayaknya udah khatam semua ni. Mungkin saatnya melangkah ke chaptered. Tapii…. Yahhh… Tidak hari ini.

    Oke… Tahnx for shared author… ~^_^~

  13. Eonniii~T^T
    Trnyt Kyu org di masa lalu Ming T^T
    Dulu Ming menolaknya, smp Ming sekaratpun seakan-akan Ming menolak Kyu T^T
    Tp takdir nggk akan ke mana2… Ming akhirnya menerima Kyu, dan mereka bersama, dlm bentuk malaikat. Hueee😥 aku suka banget eonni,🙂

  14. sedih jga pas tw trnyata kyu itu dulu nya mantan stalker nya min yg meninggal krn penyakit.
    terharu…..
    akhir nya kyu bisa membawa min yg udah jd takdir nya itu.
    sebenerx rda aneh kl liat kyu jd malaikat bersayap putih mengingat image nya dy yg evil aq malah ngebayangin nya dy angel bersayap hitam. hahahaha
    #plak…

    tp syukur dh akhr nya mereka bersatu jga d surga sana.
    ;’)

  15. Aseeeeek~
    KyuMin bersatu jga rupanya.
    Apa nanti kyu masih tetap pervert walaupun udah hidup di dunia yng berbeda?. –”
    Dari tadi baca FF ini sifat pervert kyu kaga muncul sama sekali.
    Nice Story !!! ^^

  16. HUAAAAAAAAAAAAA… SO SWEET ABIS! :’>
    Tp sumveh deh, gemes bgt sama Ming.. Keknya susaaah bgt gt yah, buat pergi berdua sm Kyu.. Aiih, ciee cinta Kyu benar benar abadi ternyata ^^

  17. min yg dl ama yg skrg ttp ga bs nerima kyu tp akhirnya hatinya kebuka jg buat nerima malaikat tampan itu.
    hidup bahagia disurga ^^

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s