Miracle | KyuMin | One Shoot | Genderswitch | T+ | Family, Romance |

Miracle

 

Genre : Family, Romance

 

Rate : T+

 

Pairing : KyuMin

 

Part : One Shoot

 

Warning : Genderswitch , Miss Typo

 

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi. Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

 

Summary : Hidup ini begitu membosankan. Tak ada yang menarik di dunia ini jika kita tak menikmati setiap detik nafas yang kita hirup. Jangan kira semua akan berjalan sesuai keinginan, pastilah ada cobaan di setiap tujuan hidup. Tak ada yang tahu apa yang terjadi sekarang, atau pun esok.

Author’s Note : Semua kalimat berefek italic adalah Sungmin’s POV

 

Music : My Everything by CSJH

 

Hidupku .., begitu membosankan ..

“Tidak ada yang perlu kita debatkan lagi!”

“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?! Untuk apa kau menjual saham milikmu?!”

“Dengar, Lee Hankyung! Walau kau suamiku, itu semua tetap milikku!”

“Jangan bertindak egois, Lee Heechul! Cepat tarik kembali sebagian sahammu!”

Dua orang itu saling menunjuk-nunjuk, melempar ucapan-ucapan kasar, dan tatapan tajam. Pagi hari, ketika mereka akan memulai sarapan pagi mereka, pertengkaran ini adalah suatu agenda rutin setiap pagi. Jadi jangan heran jika Sungmin, putri mereka, sudah terbiasa dengan teriakan-teriakan sejenis. Pertengkaran itu benar-benar mengalihkan dunia dua orang dewasa tersebut, selalu membuat mereka buta dan tuli akan protes yang Sungmin layangkan.

Menyebalkan?

Tentu saja. Siapa yang ingin diacuhkan hingga sedemikian rupa? Tidak ada seorang anak yang ingin didiamkan oleh orang tua mereka. Apalagi dituntut untuk melakukan hal yang tidak disuka.

Dua orang itu akan memperhatikan Sungmin jika suatu kabar dari sekolah sampai ke telinga mereka. Bukan kasih sayang yang akan Sungmin dapatkan, tetapi cacian yang sering ia dengar. Protes yang Sungmin layangkan lewat perbuatannya di sekolah membuat perempuan itu semakin tersiksa. Sang appa yang tidak ingin menanggung malu karena nilai buruk sang putri, akhirnya berinisiatif untuk memberikan les privat. Tak tanggung-tanggung, jam belajar yang diberikan mencapai delapan jam setelah pulang sekolah.

Jika pun bisa, aku ingin lari dari ini semua.

“Sudah selesai?” suara Sungmin yang bernada datar akhirnya menginterupsi pertengkaran keluarga Lee. Tatapan tajam dari sang appa dan eomma, Sungmin dapatkan sebagai salam selamat pagi. Dengan langkah enggan, perempuan itu berjalan menyusuri tangga dan mendekati meja makan. Pandangan matanya disambut oleh berbagai makanan khas breakfeast.

Sungmin melirik kedua orang tuanya yang saling membuang pandangan. Perempuan itu pun menghela nafas. Ia malas menghabiskan waktu sarapannya di rumah. “Aku akan langsung pergi ke sekolah. Jadi kalian bisa melanjutkan pertengkaran kalian. Aku pergi.”

Tak ada kata-kata yang terlontar dari mulut dua orang dewasa tersebut. Sungmin selalu seperti itu. Jadi, percuma mereka berteriak untuk menahan tubuh Sungmin, pasti Sungmin akan tetap bersikukuh untuk pergi ke sekolah.

Mata kelinci yang telah terselimuti oleh air  mata itu menatap jalanan kota Seoul dari balik kaca mobil yang akan mengantarnya ke sekolah. Oh, jika saja dua orang itu mengijinkan, lebih baik Sungmin pergi tidur di rumah dan melakukan apa yang ia mau. Menari dan menyanyi, misal? Ayolah, Sungmin hanya ingin menghibur diri dengan melakukan hal-hal yang ia suka.

Sekali lagi, Sungmin begitu merutuki nasib sial yang menimpa dirinya. Kenapa ia harus dilahirkan di dunia ini jika kesengsaraanlah yang ia dapat di setiap detik hidupnya? Sungmin yakin ia bukanlah pembuat dosa di kehidupan masa lalunya. Ia yakin jika teori renkarnasi yang pernah dicetuskan oleh ilmuwan-ilmuwan terkenal bangsa barat dan eropa adalah salah. Namun jika semua telah Sungmin sangkal, mengapa ia masih hidup dalam lubang penderitaan ini?

“Nona, silahkan,” ucapan sang pelayan yang duduk di sebelah driver kini mengalun, cukup membuat pikiran Sungmin yang sempat melayang tersentak. Sungmin menepuk-nepuk jas seragam sekolahnya, kemudian ia pun keluar dari mobil mewah tersebut. “Semoga hari anda menyenangkan, nona.”

Kepala Sungmin mengangguk. Perempuan berambut lurus itu pun segera melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah. Satu cerita membosankan akan kembali ia dapat selama delapan jam di sekolah ini.

Mengesankan, bahkan setiap tempat yang Sungmin datangi serasa sangat membencinya.

Annyeong, noona ..,” panggilan dari suara bass yang terdengar mendayu itu menginterupsi langkah kaki Sungmin. Sosok lelaki tampan bertubuh tinggi muncul di hadapan Sungmin dengan bingkisan di tangannya. “Aku membawakanmu sandwitch buatan eommaa ..,” ucapnya sembari menggoyang-goyangkan sesuatu yang ia bawa.

Sungmin suka masakan eomma Kyuhyun, dan itulah yang menjadi sebab mengapa ia bisa dekat dengan lelaki tersebut. Kyuhyun adalah lelaki jenius yang menggilai dirinya, entah karena apa. Dan Sungmin yang merasa terbantu dengan kehadiran Kyuhyun pun akhirnya menerima lelaki tersebut sebagai kekasihnya. Selain otak yang bisa ia harapkan ketika ujian, masakan eomma Kyuhyun itu nomor satu.

Dulu, Kyuhyun pernah mengajaknya makan malam di rumahnya. Sejak saat itulah, Sungmin merasakan bagaimana rasanya jika dicintai oleh orang dewasa.

Eomma Kyuhyun memperlakukannya dengan begitu baik. Bahkan perempuan paruh baya yang bekerja sebagai penjual ice cream di kedai kecil itu mengatakan bahwa ia ingin memiliki seorang anak perempuan seperti Sungmin.

Bolehkah kita bertukar tempat, Kyuhyun-ah?

“Bagaimana pagimu, noona?” tanya Kyuhyun seraya mendudukkan diri di bangku miliknya.

Sungmin yang duduk sebangku dengannya hanya memfokuskan pandangannya pada kotak bekal pemberian Kyuhyun. “Seperti biasa, buruk,” jawabnya singkat. Perempuan itu pun mengangkat tinggi-tinggi sandwitch buatan eomma Kyuhyun lalu menggigitnya.

Kyuhyun hanya mampu tersenyum kecut ketika jawaban seperti itu kembali ia dapat. Dari hari-hari sebelumnya, Sungmin selalu menyebut pagi hari adalah awal terburuk dalam hidupnya. Entah apa yang Sungmin pikirkan, Kyuhyun tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sungmin selalu menolak jika Kyuhyun menawarkan dirinya untuk menjadi pendengar.

Kyuhyun menyangga dagu, menatap Sungmin yang sibuk mengunyah makanannya. “Eomma merindukanmu.”

Mendengar apa yang Kyuhyun katakan membuat Sungmin berhenti mengunyah makanannya. Mata kelincinya melirik ke arah Kyuhyun, “Benarkah?” Dia senang, sangat senang jika boleh jujur. Mendengar bahwa ada orang yang merindukan kehadirannya membuat Sungmin ingin sekali tertawa lepas.

“Bagaimana jika hari ini kita belajar bersama di tempatku?”

Kepala Sungmin mengangguk, mengiyakan. “Aku akan kerumahmu pukul tujuh.”

“Bagus sekali,” gumaman Kyuhyun tertahan di balik bibirnya. Rasa senang yang lelaki itu rasakan benar-benar terasa akan membuncah. “Pagi ini adalah pagi terbaik dalam hidupku!” ucapnya penuh semangat.

Pagi terbaik?

“Uhuk-uhuk!” Entah mengapa makanan yang telah Sungmin kunyah itu tiba-tiba tersendat di pangkal tenggorokannya, membuat perempuan itu terbatuk-batuk.

Kyuhyun yang tahu bahwa Sungmin tersedak menyambar mini termos yang ia bawa, menuangkan susu cokelat itu di tutup yang telah merangkap menjadi gelas lalu menyodorkannya ke Sungmin. “Pelan-pelan, noona ..”

Sungmin menyeruput cairan hangat itu, membiarkan susu cokelat manis itu mengalir di sepanjang tenggorokannya. “Gomawo.”

Kepala Kyuhyun mengangguk-angguk. “Aku juga membawa bekal makan siang untuk kita,” ucapnya pelan.

Eommamu yang terbaik, Kyu ..,” sahut Sungmin kalem, tentu saja dengan pandangan lembut yang ia layangkan untuk Kyuhyun. “Dia yang terbaik.”

“Aku tahu itu,” Kyuhyun mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja. “Lalu, bagaimana dengan diriku?”

Sungmin menghela nafas, “Kau juga. Menurutku, jika kau mampu bersikap seperti eommamu, kau juga akan menjadi yang terbaik.”

Kyuhyun mendesah, “Jangan membandingkan orang lain, noona,” sungutnya sebal.

“Terserahmu saja,” Sungmin melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. “Itu adalah aku. Jangan pernah protes, aku tidak suka itu.”

Sudah aku katakan. Hidup ini, benar-benar membosankan.

OoOoO

“Nona muda, Tuan besar memanggil anda ..”

Berita itu Sungmin terima ketika ia baru menginjakkan kaki di atas mistar rumahnya. Kepala Sungmin mengangguk, kemudian perempuan itu melangkah melewati lorong panjang rumahnya yang berujung pada ruangan pribadi sang appa. Pintu besar berhias ukiran klasik telah Sungmin temukan, yang perlu ia lakukan adalah masuk ke dalam. Entah apa yang akan ia terima nanti, yang jelas mungkin hal buruklah yang akan ia dapat.

Cklek ..

Sungmin mendorong knop pintu itu ke belakang dengan gerakan pelan. Pandangan matanya disambut oleh tubuh sang appa yang berdiri tepat di depan meja kerjanya. Sungmin masuk, menutup pintu besar itu lalu berjalan menghampiri sang appa.

Hankyung yang mendengar suara derap langkah kaki memutar tubuhnya, menatap sang putri yang masih menggenakan seragam sekolah. Lelaki itu melipat tangannya di atas dada, memasang pose yang begitu angkuh. “Lee Sungmin, tahu apa yang telah kau lakukan?”

Sungmin menggeleng, tanpa berniat menjawab atau pun melempar pertanyaan.

“Bagaimana bisa kau membolos ketika ada jadwal ujian harian Kamis kemarin?!” Hankyung bertanya sembari berteriak. Urat yang ada di pelipis kepalanya telah mencuat, menandakan bahwa ia benar-benar tengah marah besar. Hankyung memang begitu sensitif ketika menyangkut masalah nilai Sungmin, ia dapat melakukan apapun jika itu semua berujung baik menurutnya.

“Hari itu kepalaku benar-benar pusing,” Sungmin melontarkan alasan. Ia tak berbohong, memang seperti itulah fakta yang ada. Kepala Sungmin yang sakit membuat perempuan itu berwajah pucat, setelah itu Kyuhyun memaksanya untuk pergi ke UKS dan beristirahat di sana.

“Alasan apa itu, hah?!” Hankyung mendekati tubuh Sungmin yang diam-diam bergetar. Perempuan itu takut jika telah berhadapan dengan sang appa. Apalagi jika Hankyung tengah kalap. “Lalu, kenapa kau menghindari jadwal ujian ulang?”

“Aku tidak ingin melakukannya.”

Plak!

Satu tamparan keras melayang ke permukaan pipi tirus Sungmin, spesial dari sang appa. Rasa panas yang menjalar di permukaan pipi kiri Sungmin membuat air mata perempuan itu merembes. Dengan raut wajah setenang mungkin ia mencoba untuk kembali bersikap stabil. Memang seperti itulah Sungmin, ia mampu menahan air matanya ketika tengah berhadapan dengan orang-orang yang menyakitinya. Ia mampu berakting menjadi wanita tegar ketika seseorang menatap wajahnya.

“Berhentilah memaksakan kehendakmu, Sungmin!” ucapan Hankyung kembali terlontar dengan nada tinggi. “Kau sudah besar! Jangan terus bermain seperti anak kecil!”

Hankyung menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya, “Belajar! Kau harus belajar agar dapat meneruskan hidupmu di masa depan!”

“Aku tidak ingin menjadi pebisnis seperti appa dan eomma,” mata berair Sungmin menatap wajah sang appa. “Biarkan aku mengambil jalan hidupku sendiri, appa.”

Plak!

Lagi.

Tamparan keras itu kembali melayang untuk Sungmin, menorehkan luka yang begitu mendalam di dinding hati Sungmin. Emosi Hankyung yang sulit untuk dikendalikan membuat lelaki itu menampar wajah sang putri tanpa belas kasihan.

“Berhentilah mengucapkan omong kosong!” desis Hankyung. Lelaki itu memijit dahinya yang berdenyut sakit, lalu berjalan menghampiri kursi kerjanya. “Pergilah! Kau harus belajar malam ini.”

Mendengar ucapan final dari sang appa, Sungmin pun berbalik dan berjalan menghampiri pintu. Perasaan lega kini merasuk di dinding hatinya, begitu bersyukur jika teriakan sang appa tak akan lagi merajam pendengarannya.

“Kenapa aku memiliki putri seperti dia ..”

Sebelum Sungmin benar-benar keluar dari ruangan tersebut, gumaman sang appa yang begitu lirih menembus gendang telinganya. Entah mengapa, ucapan itu mampu membuat bulir bening meluncur dari salah satu sudut matanya. Sungmin mempercepat gerakan tangannya, menutup pintu tersebut lalu pergi begitu saja dari sana.

Aku pun menyesal telah menjadi putrimu.

Sungmin membanting pintu kamarnya sendiri, mengunci pintu bercat pink cerah tersebut. Sungmin menghampiri almari pakaiannya, mengubek isi almari tersebut. Perempuan itu mengganti seragamnya dengan pakaian santai, melepas tali kuncir yang mengikat rambutnya, lalu membenahi dandanannya. Air mata yang menemani setiap tindakannya tercecer di atas lantai atau pun permukaan benda lainnya. Isakan yang tak kuasa meluncur dari kedua belah bibir Sungmin membuat perempuan itu hanya diam. Dengan gerakan kasar Sungmin menghapus air mata yang terus memaksa keluar dari kelopak matanya. Matanya yang memerah mengedip-ngedip.

Kedua tangan Sungmin kini mengangkat tas punggung milknya, membalik tas tersebut hingga membuat semua isinya jatuh berceceran di lantai. Buku-buku pelajaran yang semula bersembunyi di sana kini tergeletak tak berdaya di atas lantai yang dingin. Sungmin menarik tas tersebut, memasukkan beberapa cemilan dari kulkas pribadi yang ada di kamarnya. Setelah puas, akhirnya Sungmin menyeret langkah kakinya keluar dari kamar tersebut.

“Nona muda, apa anda akan pergi? Tuan besar akan marah jika tahu anda kabur malam ini ..”

Sungmin memilih aksi tutup mulut. Perempuan itu terus melanjutkan langkah kakinya walau pandangan tidak terima ia terima dari pelayannya. Apalagi pelayan pribadinya, sedari tadi lelaki yang berumur empat puluh tahunan itu terus memaksa Sungmin untuk tetap tinggal.

Tidak, jangan kira Sungmin takut oleh ancaman-ancaman sang appa. Untuk malam ini saja, ia ingin pergi dari mension besar ini. Ia ingin menghindari teriakan-teriakan yang mungkin akan ia dapatkan esok hari. Sudut mata Sungmin melirik ke arah pelayan pribadinya, menghentikan langkah kakinya sejenak. “Berhentilah mengikuti! Katakan pada Tuan besarmu jika aku tak akan pulang untuk malam ini!” ucap Sungmin lalu kembali melangkah.

“Nona muda! Jangan bertindak gegabah!”

Perempuan itu seolah tuli dengan segala peringatan yang ia dapat dari pelayan pribadinya. Sungmin tahu ketika ia kembali menginjakkan kaki di rumah ini esok, pastilah perlakuan yang lebih kejam akan ia terima. Rasa tertekan yang ia rasakan bahkan telah membuat jiwanya begitu terkoyak, mengusir rasa takut yang sering melanda pikirannya.

Perempuan penggemar warna pink itu kembali mengusap air matanya yang meleleh dengan kain lengan sweaternya. Rambutnya yang terurai kini tertiup angin lembab. Hari baru saja hujan, mungkin langit ikut bersedih melihat penderitaannya.

Sungmin berhenti pada sebuah toko daging, membeli tiga kilo daging mentah terbaik dari sana. Setelah itu, perempuan itu kembali melanjutkan langkah kakinya. Ke mana lagi jika bukan rumah Kyuhyun? Ayolah, dia hanya ingin mendapatkan ‘sedikit’ kasih sayang yang ada di sana.

Akhirnya, Sungmin sampai di sebuah pintu apartemen. Tangan kirinya bergerak memencet tombol bel, lalu Sungmin terlihat menunggu respon di depan pintu tersebut.

Pintu itu terbuka, sosok lelaki tampan berkaos biru tua muncul dari balik pintu. “Noona, kau datang lebih awal!” sambutnya riang. “Masuklah!”

Sungmin melempar seulas senyuman, perempuan itu pun masuk ke dalam. Suasana apartemen Kyuhyun yang khas menyambutnya. Ia paling suka dengan bau harum yang memanjakan syaraf penciumannya. Apalagi ketika ia menemukan sosok wanita paruh baya yang tengah sibuk menyiapkan makanan di dapur. Sungmin merundukkan tubuhnya, memberi salam.

“Aku membawa daging,” Sungmin mengangkat kantong plastik putih yang ia tenteng, memberikannya kepada Kyuhyun.

Noona, kenapa kau selalu membawa daging ketika kemari?” Kyuhyun menerima bingkisan tersebut lalu meletakkannya di atas meja dapur. “Padahal eomma memasak seafood sup.”

“Aku merasa tak enak jika kemari dengan tangan kosong,” Sungmin menghampiri eomma Kyuhyun yang tengah mengaduk sesuatu di atas kompor.

“Sungmin-ie, jangan terlalu dekat! Ini panas sekali,” eomma Kyuhyun mulai mengangkat panci tersebut, membawanya ke meja makan. “Kau hanya perlu duduk manis di meja makan bersama Kyuhyun, Minnie ..”

Sungmin tersenyum, perempuan itu pun menurut akan perintah yang eomma Kyuhyun ucapkan. Sejujurnya, panggilan manis itu membuat perasaan Sungmin menjadi lebih baik. Ia suka saat dipanggil dengan panggilan manis seperti itu. “Aku ingin sekali membantu, ajumma ..”

Leetuk, eomma Kyuhyun, menggoyangkan jemari telunjuk kanannya. Setelah ia kembali ke meja makan dengan membawa baki dengan mangkuk nasi, perempuan itu pun duduk. “Tidak boleh. Kau hanya perlu menunggu masakan ini masak.”

“Aku ingin belajar memasak dari ajumma,” Sungmin memutar mangkuk nasi yang telah ia terima dari Leeteuk. Matanya yang merah menatap wajah teduh Leeteuk lalu lagi-lagi ia tersenyum.

“Minnie noona tidak pandai memasak, eomma,” sahut Kyuhyun. Lelaki itu tampak akan memulai acara makan dengan mengambil daging kerang dari dalam mangkuk berkuah tersebut. “Di rumahnya terlalu banyak chef yang siap membuatkannya makanan.”

Sungmin melahap nasi putih miliknya, “Masakan mereka terasa begitu berbeda dengan masakan ajumma.”

“Oiyah, kudengar beberapa hari yang lalu kau sakit. Apa itu benar?” pertanyaan eomma Kyuhyun terdengar dengan nada rendah. Raut kekhawatiran mulai terlukis di wajah Leeteuk.

“Apa Kyuhyun memberitahu ajumma?” Sungmin memandang wajah Kyuhyun, menyalahkan lelaki tampan tersebut karena telah membuat Leeteuk khawatir. “Hanya pusing, mungkin karena terlalu lelah.”

Tangan kanan Leeteuk terulur untuk menggenggam erat telapak tangan Sungmin yang dingin. “Kau harus menjaga kesehatanmu, ne?”

Eomma, aku ingin memanggilmu eomma ..

Pandangan Sungmin merendah, ia tersenyum kecil lalu mengangguk. Air matanya yang telah terbentuk membuat perempuan mungil itu tak sanggup menatap wajah Leeteuk. Rasa hangat yang menyebar di telapak tangan Sungmin membuatnya tak ingin melepaskan tautan tangan mereka. Sekali lagi Sungmin berteriak dalam diam. Dalam hati ia meraung-raung memanggil Leeteuk dengan panggilan eomma, lalu memaki orang tua kandungnya yang mendidiknya hingga sedemikian rupa.

Tes ..

Satu bulir bening menetes tanpa perintah di atas meja.

“Noona, kau menangis?” Kyuhyun yang tahu Sungmin menitikkan air mata melempar pertanyaan.

“Minnie?” suara lembut Leeteuk terdengar, menyentak pikiran Sungmin yang kalut.

Sungmin mengangkat tangannya, mengusap air matanya yang merembes. Perempuan bermental rapuh itu pun mendongak, menatap wajah Kyuhyun dan Leeteuk dengan matanya yang terselimuti oleh kabut air mata. Di saat yang seperti itu, Sungmin mampu melempar seulas senyuman manis. Perempuan itu mampu menekan rasa sakit di hatinya. “Gwaenchanhayo, ajumma ..”

“Kau punya masalah?” Leeteuk berucap dengan nada lembut. “Katakan saja, eomma akan mendengarkan kisahmu.”

Mata berair Sungmin menatap wajah Leeteuk, membiarkan air mata kembali menetes dari kedua sudut matanya. Mendengar apa yang Leeteuk ucapkan membuat perempuan itu tak mampu lagi berakting seperti sebelum-sebelumnya. Raut wajah Sungmin berubah, perempuan itu mengguratkan beribu luka di sana. “Hiks ..”

Kyuhyun yang tahu Sungmin tengah menangis tersedu-sedu kini hanya mampu merunduk. Ia tak menyangka jika Sungmin selalu menyembunyikan tangisannya, menyimpan semua bebannya sendiri. Berulang kali Kyuhyun selalu memaksanya untuk berbagi kisah, tetapi perempuan itu selalu menolak dengan mengatakan ‘Tidak ada yang menarik dari cerita seperti itu’.

Isakan Sungmin telah tergantikan oleh deru nafasnya yang teratur. Perempuan itu terus berusaha untuk tak mengeluarkan isakan tangisnya. Sungmin menarik ulur nafasnya yang tesendat-sendat, “Tadi, appa kembali memarahiku,” ucap Sungmin seraya tersenyum kecut. “Hari ini, aku mendapat dua tamparan darinya.”

Leeteuk bangkit dari duduknya lalu duduk tepat di samping kursi Sungmin. Perempuan itu pun memeluk tubuh rapuh tersebut, membelai permukaan rambut Sungmin. “Tabahlah .. Semua pasti memiliki makna berarti.”

Sungmin memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin. “Dia bahkan begitu terheran, mengapa dia bisa memiliki putri sepertiku.”

Tangan Leeteuk mengusap-usap punggung Sungmin yang bergetar. Sebenarnya, lidahnya pun terasa kelu untuk berucap kata. Jika saja ia berhadapan dengan orang tua Sungmin saat ini, bisa dipastikan perempuan itu akan memaki dua orang brengsek tersebut. Mereka benar-benar menyia-nyiakan Sungmin, malaikat Tuhan yang telah dikirim ke bumi melalui rahim ibunya.

“Rasanya .., sakit sekali ..,” Sungmin melanjutkan ucapannya dengan tertatih-tatih. “Perasaanku .., sakit se—kali ..”

Rengkuhan itu akhirnya terlepas. Leeteuk pun mengusap pipi Sungmin yang basah dengan jemarinya, menghapus jejak-jejak air mata yang ada. “Berhentilah menangis, jagiya ..,” bisik Leeteuk. “Setelah kau pulang, semua akan baik-baik saja.”

Kepala Sungmin menggeleng, “Rencananya, aku akan menginap di hotel malam ini.”

“Hotel?” Kyuhyun berteriak karena kaget. Nekat juga ‘kekasihnya’ itu. Menginap di hotel membutuhkan uang yang cukup banyak, apalagi pengawasan yang kurang dari pihak hotel membuat Kyuhyun berpikiran macam-macam. “Andwae, noona! Aku tak akan membiarkanmu menginap di hotel seorang diri!”

“Kyuhyun benar, jagi. Tak baik wanita manis sepertimu menginap di hotel seorang diri,” Leeteuk membenarkan ucapan Kyuhyun. Perempuan berwajah bak angel itu pun menoleh ke arah Kyuhyun, “Rapikan kamarmu, Kyu! Hari ini Minnie akan menginap di sini.”

“Aa—ajumma,” Sungmin menatap wajah Leeteuk dan Kyuhyun bergantian. “Aa—aku tidak ingin merepotkan.”

“Tidak merepotkan,” Leeteuk tersenyum. “Walau apartemen ini tidak sebanding dengan rumahmu, kuharap kau bisa nyaman.”

Dia datang seperti seorang malaikat yang mengasihiku.

OoOoO

Kini, Sungmin berbaring di atas ranjang sempit milik Kyuhyun. Kyuhyun sendiri telah berbaring di kasur lipat yang digelar tepat di bawah ranjang miliknya. Sungmin memandang langit-langit kamar Kyuhyun, tubuhnya yang dibalut oleh selimut tebal beraroma wangi ini bergerak-gerak. Jadi seperti ini keadaan kamar anak normal. Tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman.

Noona, jika saja ranjang itu lebih besar. Kita akan tidur bersama,” desau Kyuhyun dengan nada lirih. “Punggungku sakit sekali,” racaunya.

Sungmin memiringkan tubuhnya untuk menghadap Kyuhyun. Di bawah Kyuhyun pun tengah mencoba untuk terlelap. “Berhentilah mengoceh, Kyu .. Biarkan aku menikmati ranjangmu yang nyaman ini.”

Mendengar Sungmin menyahut ucapannya, Kyuhyun pun membuka mata. Wajah manis Sungmin yang menghadap dirinya kini menyambut pandangannya. Walau kamar ini hanya diterangi oleh lampu remang-remang, tetap saja ia dapat melihat wajah imut itu dengan jelas. “Bukankah ranjang milikmu seribu kali lebih nyaman?”

“Sok tahu sekali,” desis Sungmin sembari terkikik kecil. “Tidak juga.”

Jinjja?” Kyuhyun menanggapi dengan nada datar. “Setelah kita menikah nanti, mustahil kita akan tidur di ranjang mungil itu.”

“Menikah?” alis Sungmin mengeryit setelah mendengar ucapan Kyuhyun. “Bermimpi sekali bisa menikah denganku, Cho!”

Noona, kau kekasihku,” sahut Kyuhyun.

“Aku tahu itu,” Sungmin mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya. “Tetapi, pasti appa akan menjodohkanku esok. Maafkan aku.”

Manik mata Kyuhyun membidik wajah Sungmin dengan tatapan tajam. “Noona ..”

“Miris sekali hidupku,” Sungmin mulai melontarkan argumentasinya. “Appa selalu menyuruhku belajar. Padahal aku ingin terus bermain,” Sungmin memberi jeda di ucapannya. “Orang tuaku selalu bertengkar, membuatku selalu enggan untuk membuka mata di pagi hari.”

Kyuhyun terdiam, berniat untuk mendengarkan apa yang Sungmin ceritakan.

“Kupikir, lebih baik aku mati saja. Aku ingin bebas dari dunia ini,” akhirnya Sungmin menutup kelopak matanya yang telah diserang oleh rasa kantuk.

Noona, kau tak boleh menggumamkan doa seperti itu,” Kyuhyun menimpali. “Bagaimana pun juga, masih banyak orang yang menyayangimu.”

“Tidak, tidak,” Sungmin masih menyangkal ucapan Kyuhyun. “Jika bisa, esok aku telah menutup mata untuk selamanya.”

Itu doa yang wajar. Karena aku selalu mengucapkannya sebelum aku beranjak tidur.

OoOoO

Kelopak mata itu mengerjap-ngerjap ketika mendapati suasana kamarnya menyambut pandangannya. Sungmin tahu benar jika kemarin ia tidur di kamar Kyuhyun. Tetapi, pagi ini ia terbangun di kamarnya sendiri. Jangan-jangan appanya tahu jika ia kabur dari rumah, lalu tengah malam orang suruhan sang appa membawanya kembali.

Tubuh mungil itu bangkit dari rebahannya, menatap keadaan sekitar. “Tubuhku terasa begitu baik,” gumamnya pelan. Sungmin menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi, berniat untuk segera membersihkan diri.

“Eh?” mata Sungmin melotot, begitu terkejut dengan penglihatannya beberapa detik yang lalu. Debar jantung perempuan itu mulai menggila, berdebum melebihi ambang batas. Sungmin mencoba meraih knop pintu tersebut untuk yang kedua kalinya. Berharap, kali ini ia benar-benar dapat melakukannya.

Tetapi ..

Tidak bisa. Saat ini tubuhnya benar-benar menyerupai gumpalan ruh tanpa raga. Sungmin membalik pandangannya, kembali memperhatikan keadaan kamarnya.

“Tidak mungkin,” pekikannya tertahan di pangkal tenggorokan ketika tatapannya jatuh pada bingkai foto dirinya di atas ranjang. Sungmin mencoba untuk menstabilkan deru nafasnya yang mulai memburu, membangun pikiran positif walau itu begitu mustahil.

Bingkai foto berwarna emas itu membingkai foto dirinya. Lalu, beberapa lilin merah berukuran besar terlihat di beberapa sudut kamar. Sungmin mengedarkan pandangannya, melangkah dengan langkah gontai ke arah almari kamarnya. Satu cara yang pasti akan membuatnya yakin tentang ini semua. Cermin besar yang berdiri tepat di sebelah almari akan memberinya suatu jawaban.

Cermin, apakah bayangan dirinya masih dapat dipantulkan?

Gezz …

Sungmin menggigit bibir bawahnya, menatap kosong pada cermin yang memantulkan ruangan kamarnya. Ia telah berdiri di depan cermin tersebut, tetapi mengapa bayangannya tak muncul? Dua mata Sungmin memanas, seketika itu pula Sungmin menggigil.

Krieeet …

Suara pintu kamar yang terbuka membuat pandangan Sungmin beralih. Di ambang pintu, sosok sang eomma yang menggenakan pakaian hitam berdiri di sana. Perempuan berwajah cantik itu berjalan memasuki kamar Sungmin, menutup pintu itu dengan gerakan perlahan. “Sudah satu tahun,” ucapnya pelan sembari mendudukkan diri di bibir ranjang. Tangan keriputnya membelai sprei yang membalut ranjang berukuran besar tersebut.

Sungmin terperangah. Sang eomma benar-benar tak menyadari keberadaannya. Sungmin ikut mendudukkan diri tepat di samping sang eomma, menatap wajah yang dipenuhi keriput halus itu dengan pandangan intens. “Satu tahun?”

Eomma benar-benar minta maaf, jagi ..,” isakan Heechul pecah detik itu juga. Perempuan berlidah tajam itu menangis tersedu-sedu di sana, tepat di hadapan Sungmin. “Bahkan eomma tak memberimu kebahagiaan ketika kau masih ada di dunia ini ..”

“Eo—eomma ..,” Sungmin hampir terisak melihat tangisan sang eomma. Perempuan mungil itu ingin sekali merengkuh tubuh Heechul, merengkuh tubuh yang tak pernah ia peluk selama bertahun-tahun ini. Satu fakta yang baru ia dapat, dirinya benar-benar ruh yang bebas melayang-layang di udara—tanpa raga. Satu tahun yang lalu, ia telah meninggalkan raganya sendiri. “Eomma ..”

“Maafkan eomma,” Heechul berusaha untuk menyimpan isakannya, menghapus air mata yang terus mengalir dari sudut matanya. “Apa kau bahagia di surga? Eomma sangat mencintaimu ..”

Sungmin menelangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang bergetar. Entah mengapa dadanya terasa begitu sakit setelah mendengar ucapan Heechul. Ada yang salah dari ini semua, semua ini benar-benar salah!

Sosok lelaki yang tiba-tiba ada di ambang pintu kini menatap sang istri dengan pandangan iba. Hankyung, dia hanya bisa mengutuk dirinya sendiri saat ini. Semenjak kematian putri semata wayangnya karena kecelakaan setahun yang lalu, Heechul berubah menjadi sosok yang begitu rapuh. Tidak hanya Heechul, dirinya pun tak kalah rapuh sekarang. Hankyung menghampiri sosok Heechul, merengkuh pundak sang istri untuk meredakan isak tangis yang ia dengar. “Gwaenchanha ..”

Saat ini, aku merasa benar-benar kehilangan dua orang yang begitu aku benci.

Ternyata begini rasanya, begitu sakit. Walau aku telah mati, rasa sakit ini tetap aku bawa.

Appa,” panggil Sungmin sembari menatap wajah teduh sang appa. “Appa ..,” panggilnya lagi. “Appa ..,” nada suara Sungmin semakin merendah, kemudian menghilang dan tergantikan oleh isak tangisnya.

Kumohon, dengarlah suaraku. Tataplah aku yang ada di sini. Peluklah tubuhku yang menggigil ini.

Perlahan, langkah kaki Sungmin mundur beberapa langkah. Perempuan itu ingin keluar dan pergi menjauh. Tidak, ia tak sanggup melihat kedua orang tuanya yang berpelukan dan menangisi dirinya. Melihat orang tuanya menangis membuatnya lebih tersakiti. Rasa sakit ini tak bisa dibandingkan dengan rasa ketika melihat dua orang itu bertengkar.

Sungmin berbalik.

Kriet ..

Pandangan Sungmin dan orang yang ada di ambang pintu bertemu. Mata Sungmin yang berair itu mencoba mengerti tatapan yang baru ia terima. Sungmin mencoba menggerakkan kedua lengan mungilnya, berusaha untuk menyentuh permukaan pipi tirus orang yang tengah berdiri di depannya. “Kyu ..”

“Masuklah, Kyuhyun-ah,” suara berat sang appa membuat sosok Kyuhyun melangkah dan mengalihkan pandangannya.

Deg ..

Selama sedetik Sungmin merasakan tubuh Kyuhyun yang melewati dirinya dengan langkah santai.

Kyuhyun berbalik, menatap ruang hampa yang baru ia lewati. Jelas sekali bahwa ia merasakan suatu lengan menarik tubuhnya, menahan langkah kakinya.

“Kyu ..,” Sungmin ikut berbalik. Mata kelincinya menatap wajah Kyuhyun. Lagi-lagi ia menerima tatapan penuh tanda tanya yang Kyuhyun layangkan untuknya. Perempuan itu semakin bingung dengan keadaan ini. “Kyunnie, apa kau bisa melihatku?”

Pandangan Kyuhyun merendah, lelaki itu pun berbalik dan melangkah mendekati ranjang yang menjadi tempat duduk kedua orang tua Sungmin.

Sungmin mencelos, merasa begitu kecewa ketika tahu Kyuhyun benar-benar tak dapat menyadari kehadirannya. Dengan perasaan sakit yang ia dapat, Sungmin melangkah dan berdiri tepat di hadapan tiga orang tersebut. “Eomma, appa, Kyuhyun-ah, ada apa dengan kalian?!” teriaknya. Perempuan itu berusaha untuk menyangkal hukum alam. Ia ingin tiga orang tersebut dapat melihat dan mendengar ucapan ruh.

Ajussi, ajumma, upacara peringatan kematian .., Sungmin akan segera .., dimulai,” ucapan yang meluncur dari bibir tebal Kyuhyun meluncur tersendat-sendat. Tampaknya lelaki itu benar-benar bersedih sekarang.

“Baiklah. Bantu aku menuntun Heechul,” ucap Hankyung. Kyuhyun pun mengangguk. Dua orang itu terlihat membopong tubuh lemah Heechul, menuntun langkah kaki perempuan paruh baya tersebut.

Eomma, appa, mau kemana kalian?” Sungmin ikut beranjak, kini ia mengekor langkah kaki ketiga orang tersebut. “Kyuhyun-ah, apa yang kau kata .., kan ..,” protes itu bernada rendah di akhir kalimat ketika Sungmin secara tak sengaja menatap ruangan di lantai bawah.

Beberapa orang pelayan rumahnya telah duduk berjejer di sana. Mereka menggenakan busana hitam yang khas. Kehadiran kedua orang tuanya dan Kyuhyun membuat mereka berdiri—dengan serempak. Pandangannya memperhatikan tiga orang yang tengah menuruni tangga itu dengan pandangan intens.

Tring ..

Bunyi lonceng tanda acara peringatan hari kematian itu terdengar memecah keheningan. Mendadak lutut-lutut Sungmin terasa begitu lemas, perempuan itu pun jatuh terhuyung di atas lantai yang dingin. Pikirannya yang dilanda oleh rasa percaya atau tidak percaya membuatnya semakin nelangsa. Lantunan doa menembus gendang telinganya, doa-doa itu terucap untuk dirinya.

Tuhan, tolong kembalikan ragaku ..

Sungmin mulai beranjak, tubuh perempuan itu melayang tanpa perintah. Sungmin menjatuhkan dirinya ke lantai bawah, dan dengan perlahan-lahan tubuhnya jatuh tepat di depan foto dirinya yang telah terhiasi dengan bunga mawar putih di depannya. “Tidak ..”

“Kenapa tidak?” suara lembut itu terdengar mengalun. “Semua terjadi sesuai kehendakmu, bukankah seperti itu?”

Sungmin membalik badannya, menatap sosok yang mengajaknya berbicara. Tepat di belakangnya berdiri seorang wanita cantik yang menggenakan gaun putih panjang, bersayap besar yang indah. Sungmin menelan air salivanya dengan perasaan kelu yang mengiringi, menatap nanar malaikat tersebut. “Tidak! Aku tak pernah menginginkan mereka semua .. mereka semua ..,” Sungmin kehilangan kata-katanya sendiri.

Dia memang bersalah. Doa yang telah ia sematkan di setiap alur nafasnya dulu kini telah terkabul. Kini, tak ada yang perlu disesali, tak ada yang perlu ditangisi. Keinginan yang begitu ia dambakan telah terjadi, bukan? Tetapi, jika semua perkiraan yang pernah ia pikirkan dulu adalah salah, maka semua berbeda. Seperti saat ini, permintaannya pun telah berubah.

“Aku turun ke bumi untuk menjemputmu. Kemarikan tanganmu, aku akan membawamu ke surga,” tangan putih yang bersinar itu menengadah, mengundang telapak tangan Sungmin untuk menjabatnya.

Sungmin mengedarkan pandangannya, menatap sang appa, eomma, Kyuhyun, dan juga eomma Kyuhyun yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Semua orang yang ada di ruangan ini tengah menangis tersedu-sedu. Untuk apa lagi jika bukan menangisi kepergian Sungmin setahun yang lalu. Rangkaian doa yang dibimbing oleh pastur tua itu terus berlanjut, membuat kepala Sungmin menjadi pening seketika. “Aku tidak mau!” Sungmin mundur beberapa langkah. “Jangan ..,” ruh itu meringkuk tepat di hadapan Hankyung dan Heechul.

“Hanya perlu menggenggam telapak tanganku, setelah itu kau akan benar-benar terbebas dari urusan dunia,” malaikat itu kembali mengucapkan kalimat sembari mendekati sosok Sungmin. “Kau akan hidup di surga. Tanpa ada suara pertengkaran appa dan eommamu, tanpa ada beban yang harus kau tanggung. Di sana, kau dapat bermain sepuas yang kau mau ..”

“Tidak,” Sungmin menutup dua lubang telinganya, berusaha untuk mengindahkan ucapan-ucapan malaikat tersebut.

“Bukankah kebebasan adalah hal yang kau inginkan? Tuhan akan memberikannya di surga ..”

“HENTIKAN!”

Prang!

Teriakan Sungmin yang semu diikuti oleh suara pecahnya benda fragile. Bingkai foto Sungmin yang tadinya berdiri di belakang lilin-lilin mungil itu mendadak jatuh ke belakang, membuat serpihan-serpihan kecil tersebar di mana-mana.

Semua orang yang memenuhi ruangan besar tersebut segera memfokuskan pandangan mereka ke bingkai foto Sungmin. Empat orang yang duduk di barisan paling depan sempat menganga tak percaya. Apalagi Heechul, perempuan paruh baya itu tak kuasa membendung air matanya.

“Ada apa dengan putriku,” tanya Heechul di sela isak tangisnya. Hankyung yang hanya bisa menepuk-nepuk pundak sang istri kini menyematkan doa di setiap deru nafasnya. “Putriku ..”

Kepala Kyuhyun merunduk dalam-dalam. Lelaki bermarga Cho itu meneteskan air mata, begitu merutuki angin lewat yang berani mendorong bingkai foto Sungmin dan membuatnya jatuh. “Minnie-yah, gwaenchanhayo?” bisiknya sembari mengelap butiran air mata yang menetes dari kedua sudut matanya.

Tuhan, tolong berikan aku kesempatan ke dua ..

“Aku mencintai .., mereka semua ..,” Sungmin mencoba memeluk tubuh Hanyung dan Heechul. Ruh manusia itu berusaha untuk merengkuh tubuh kasar. “Jika aku kesepian seperti ini .. Semua akan .., sia-sia ..”

“Kau kira, disurga kau juga akan kesepian?”

“Aku ingin tetap hidup,” Sungmin menengadahkan kepalanya, menatap wajah teduh malaikat tersebut dengan kedua matanya yang berair. Perlahan Sungmin merasakan tubuhnya semakin ringan. Perempuan berambut panjang itu pun menatap sekeliling, menyadari bahwa lantai tempat kakinya bertapak kini telah menjauh dari jarak pandangnya. “Eomma, appa, Kyunnie, ajumma .., semuanya ..”

“Tuhan ingin bertemu denganmu di surga ..”

OoOoO

Kematian ..

 

Satu-satunya jalan yang memutuskan hubungan dunia ..

 

Satu-satunya jalan untuk bertemu Tuhan di surga ..

 

Saat kematian benar-benar datang menjemput,

 

Maka tak ada yang dapat dilakukan kecuali pasrah ..

 

Tetapi, jika Tuhan memiliki rencana lain?

 

Manusia tidak ada yang tahu ..

 

Karena Tuhan adalah sosok paling misterius di dunia ..

 

OoOoO

“Sungmin-ah? Sungmin-ah?”

Samar-samar wanita itu mendengar namanya dipanggil oleh suara seorang perempuan yang sangat ia kenal. Matanya yang terasa berat membuatnya tak sanggup untuk melihat siapa yang memanggilnya.

Jagiya, ini eomma ..”

Eomma ..

Ucapan penuh kasih itu terdengar lirih, tetapi hal kecil itu cukup memberikan beribu energi positif ke tubuh Sungmin. Rasa sakit yang menghujam tubuhnya mulai mereda, kali ini ia berusaha untuk membuka kelopak matanya. Ia ingin menatap orang yang menyebut dirinya sendiri sebagai eomma.

Jagiya ..”

Eomma, aku ingin melihat wajahmu sekali lagi ..

Kelopak mata itu akhirnya terbuka walau dengan sangat perlahan. Sinar terang dari lampu yang memancar membuat pupil itu berkontraksi, reflek sarafnya menanggapi dengan terkatupnya dua kelopak mata tersebut.

“Bangunlah ..”

Suara itu benar-benar memberikan kekuatan yang begitu berarti bagi Sungmin. Pandangannya yang mengabur mendapati wajah seseorang berada tepat di depannya. Sungmin mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya selama beberapa kali, berharap pandangannya akan segera pulih.

“Syukurlah ..”

Rengkuhan hangat ini ia dapat saat Sungmin baru saja membuka kelopak matanya. Bola matanya melirik ke samping kanan, ia mendapati wajah sang appa. Lelaki yang sering memarahinya kini duduk di samping kiri tubuhnya, membelai lembut dahinya yang berkeringat.

“Eo .., eomma ..,” panggilnya tertatih-tatih.

Sosok perempuan yang merengkuh tubuhnya saat ini mengejang setelah Sungmin memanggilnya. Dengan gerakan pelan ia melepas rengkuhan lengannya, menatap lalu mengusap pipi chubby Sungmin berulang kali. “Ada apa, jagiya?”

Ini benar-benar keajaiban ..

Appa ..,” kali ini Sungmin memanggil sosok sang appa. “Eomma ..”

“Panggil dokter, Hanie ..,” ucap Heechul seraya mengenggam erat telapak tangan Sungmin yang dingin.

Gajima ..,”Sungmin menatap sosok Hankyung dengan pandangan memohon. “Appa gajima ..,” akhirnya Sungmin dapat merangkai dan mengucapkan kata tanpa terputus.

Heechul dan Hankyung speechless dengan ucapan putri mereka, bahkan orang tua tersebut tak mau membantah. Hankyung kembali duduk di bibir ranjang, tangannya pun kembali membelai dahi Sungmin, menyilahkan poni rambut putri cantiknya.

Appa di sini, jagi ..”

Aku mencintai kalian .., appa .., eomma ..

OoOoO

Sungmin menuruni tangga dengan langkah tergesa-gesa. Pagi ini suasa terasa begitu hening. Pertengkaran yang biasa ia dengar mendadak menghilang, menciptakan pemikiran-pemikiran negatif yang membuat Sungmin khawatir. Tetapi, kekhawatiran itu lenyap ketika mendapati sang appa dan eomma telah duduk di kursi makan dengan tenang.

Jagiyaa, cepat turun!” Heechul yang menangkap siluet tubuh Sungmin menoleh, menatap wajah Sungmin sembari melambai-lambaikan telapak tangan kanannya.

Sungmin mengangguk, tersenyum manis, lalu melangkah dengan langkah cepat ke arah sang appa dan eomma. “Aku mencium aroma yang begitu wangi.”

Appa memasak nasi goreng beijing,” ucap lelaki china tersebut.

Mereka mampu berubah ..

Keluarga kecil itu akhirnya menghabiskan waktu sarapan pagi mereka dengan canda tawa. Walau suasana canggung terkadang menyelimuti atmosfir mereka. Tetapi, semua dapat teratasi dengan begitu baik.

“Kenapa?” Sungmin meletakkan sendok makannya, menatap wajah sang appa dan eomma secara bergantian. “Kenapa kalian bisa berubah menjadi akur seperti ini?”

Heechul dan Hankyung saling bertatapan ketika mendengar pertanyaan anak gadis mereka. Dua orang itu terlihat merubah raut wajah mereka, lalu membalas pandangan Sungmin. Heechul meletakkan alat makannya, meraih telapak tangan Sungmin dan menggenggamnya.

Mianhaeyo, appa dan eomma terlalu egois sehingga membuatmu begitu tertekan,” Heechul mengawali alasan yang akan ia jabarkan kepada Sungmin. “Pertengkaran dan ambisi kami kepadamu, benar-benar membuat kami lupa akan sisi lainmu.”

Hankyung berdehem, “Eomma temanmu menelpon appa kemarin. Kami membicarakan beberapa masalah. Itu semua membuat kami ..,” ucapan Hankyung terputus. Lelaki dewasa itu nampaknya begitu canggung untuk meneruskannya. “Kami menyadari semua kekeliruan yang kami lakukan sebagai orang tua.”

“Maaf karena selama ini kami begitu egois, Minnie ..,” Heechul meneruskan ucapan Hankyung.

Gerbang kehidupanku yang sesungguhnya telah terbuka ..

OoOoO

“Aku akan meninggalkan kalian berdua selama beberapa jam, apa akan baik-baik saja?” Eomma Kyuhyun terlihat merapikan dandanannya. Perempuan itu berniat akan pergi ke supermarket untuk berbelanja. Tetapi, tiba-tiba Sungmin datang berkunjung. Jujur saja membuatnya tak enak pada perempuan cantik itu.

Gwaenchanhayo, ajumma,” Sungmin menjawab sembari melempar senyuman manisnya. “Aku akan menjaga Kyuhyun dengan baik ..”

“Pergilah, eomma! Kenapa eomma terus berdiri di situ?” Kyuhyun yang sibuk dengan PSnya kini berteriak.

“Huh, tidak sopan sekali anak itu,” Leeteuk menggerutu tidak senang. “Baiklah, aku pergi dulu. Annyeong, jagi!”

Ne! Hati-hati di jalan, ajumma ..”

Blam ..

Pintu apartemen itu akhirnya tertutup. Sungmin pun berjalan menghampiri Kyuhyun yang masih asyik memencet tombol stick PSnya. “Kau tidak boleh mengusirnya, Kyuu ..,” ucap Sungmin seraya menoel-noel pipi Kyuhyun.

“Aish, noona ..,” Kyuhyun mem-pause game yang ia mainkan. Jika Sungmin terus menyentuhnya ketika tengah bermain game, bisa-bisa ia kalah nanti. Lelaki itu menghela nafas, menatap wajah Sungmin dengan evil eyesnya.

Waeyo?” Sungmin mengedip-ngedipkan kelopak matanya manakala menerima tatapan yang menakutkan dari Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas demi menahan kekesalannya, “Kemarikan tanganmu,” Kyuhyun menengadahkan telapak tangannya.

“Eh, untuk apa?”

“Kemarikan!” tangan kiri Kyuhyun bergerak meraih pergelangan tangan Sungmin, meletakkan telapak tangan kanan Sungmin di atas telapak tangannya. “Rebahkan kepalamu di pahaku.”

Ne?”

“Aish,” akhirnya Kyuhyun membimbing Sungmin untuk merebahkan kepala di pahanya. Dasar, lelaki itu ada-ada saja. Menyuruh Sungmin untuk tiduran di pahanya, padahal lelaki itu tak tahan duduk terlalu lama. “Sekarang, ceritakan ..”

“Aa—apa?” Sungmin menggerak-nggerakkan kepalanya yang bersandar di kedua paha Kyuhyun.

“Aku tahu noona kemari dengan membawa cerita menarik tentang keluargamu ..”

Sungmin terkikik, “Ternyata kau sudah tahu ..”

“Tentu saja,” Kyuhyun membuang pandangannya. “Setelah ini, apa yang akan noona lakukan?”

“Eum,” Sungmin mendengung, memikirkan jawaban yang akan ia lontarkan untuk Kyuhyun. “Aku ingin memiliki kekasih.”

“Kekasih?” dahi Kyuhyun mengkerut. “Ya, bukankah aku kekasihmu?”

Sungmin mengangguk, “Setidaknya aku ingin merasakan cinta yang berkobar ..”

“Sekarang noona membandingkan cinta dengan api,” sahut Kyuhyun sembari menelusuri setiap jengkal wajah Sungmin dengan pandangannya. “Katakan, apa yang noona inginkan dariku?”

“Aku ingin menjalani masa pacaran seperti remaja pada umumnya,” Sungmin mengutarakan maksud hatinya. “Setelah masa keluargaku selesai, aku ingin merasakan cinta kasih dari kekasihku.”

“Akan kuberikan,” Kyuhyun merundukkan wajahnya, menerpa wajah sang kekasih dengan hembusan nafasnya. “Lalu, apa lagi?”

“Aku ingin berkencan, makan malam romantis, berwisata bersama, dan yang terakhir ..,” Sungmin menggantung ucapannya.

“Yang terakhiir ..,” Kyuhyun ikut menirukan ucapan Sungmin.

“Berciuman ..”

Mereka saling berpandangan ketika satu kalimat penuh makna itu terucap dari bibir Sungmin. Ia tahu jika ucapannya benar-benar bermakna tabu bagi keduanya mengingat hubungan yang mereka jalin tidak begitu serius. Tetapi, keinginan untuk menjadi kekasih dari masing-masing telah muncul di hati mereka.

Sesungguhnya, Sungmin dan Kyuhyun sama-sama ingin memperjelas hubungan mereka ..

Perlahan, Kyuhyun semakin merundukkan kepalanya. Ia berniat memberikan apa yang Sungmin mau. Hanya menempelkan bibir saja, Kyuhyun belum berani melumat bibir Sungmin.

Cukup mengecup selama satu detik. Lalu ciuman mereka berakhir, menyisakan rasa manis di bibir masing-masing. Kyuhyun dan Sungmin sama-sama tersenyum, semburat merah di pipi mereka tampak begitu kentara di setiap detik berjalan.

“Sekali lagi,” pinta Sungmin lalu kembali memejamkan mata.

Cup ..

“Kita mulai lagi dari awal,” ucap lelaki tampan itu tanpa melepaskan pandangan matanya dari wajah rupawan Sungmin. “Kau kekasihku, dan aku kekasihmu.”

“Setuju ..”

Finally, I get lots of love in my life ..

 

From God, my beloved parents, my boyfriend, and also other people who cares on me ..

 

Thanks ..

 

You’re so amazing with your love, all ..

END

Uhuk .. mianhae dengan endingnya .. uhuk, soalnya kurang gimanaa gitu menurutku .. hehehe

Ide ff ini berawal ketika aku bangun pagi. Aku bener-bener mimpi kaya Sungmin lho, cuman bedanya aku nggak sampe nangis-nangis minta hidup lagi *kan ff dibubuhi hiperbola tuh* xD waktu ngetik beberapa scene, author yang cengeng ini sempet nangis *padahal ff ini nggak angst* sebenernya aku pengen cerita banyaak, tapi nggak enak -_- hehehe

Aku baru sadar kalo ff ini lebih mengarah ke genre family .. Tapi kuharap kalian bisa suka dengan genre baru ff ku .. xD

Mianhae kalo author bikin ff oneshoot lagi .. tapi aku yakin, ff Time nggak akan terbengkalai kok .. Kan titik fokusku untuk saat ini masih FF Time .. (y) Next chap ff Time akan ku update nanti, jadi mohon ditunggu^^

Mohon tinggalkan komentar setelah membaca yaah ..

~MOHON UNTUK TIDAK MENGCOPY-PASTE SEMUA KONTEN YANG ADA DI BLOG INI! DO NOT PLAGIAT, PLEASE!~

155 thoughts on “Miracle | KyuMin | One Shoot | Genderswitch | T+ | Family, Romance |

  1. Q kira Ming beneran mati terus reinkarnasi jadi orang lain, ternyata cuman mimpi doang..,,
    Q suka ceritanyaaa.. \”o”/

    Aku komen di ff Only You kok nggak bisa masuk” sih..,,
    Biasanya nunggu moderation dulu baru muncul, lha itu boro” nunggu moderation, komen q aja nggak bisa muncul”
    Masak hp q yang eror… T,T

  2. Jujur, sebenernya cerita ini lebih mirip sama kisahku ..
    Serius deh, jadi waktu baca aku berasa ingat masa lalu :”D
    Yang berbeda cuma di bagian ‘kekasih’, karna di bagian itu kisahku juga sama buruknya. Hahaha x”D

    No comment deh!😉
    Aku suka ceritanya ^^
    Awalnya aku agak bingung, itu waktu Ming sadar dia ada dimana yah? Kamarnya atau di rumah sakit? Kok Hangeng sempat mau panggil dokter?
    Tapi secara keseluruhan aku suka :’)

    • kaya kisah kamuu ? wooo, ternyata ada juga yang punya kisah ini .. kirain cuman mimpi ku doank -_-
      waktu ming sadar itu di kamarnya, hangeng itu panggil dokter pribadi. biasalah, mereka kan keluarga berada, jadi punya dokter pribadi yang bisa dipanggil kapanpun …

  3. Huweee ff ini sukses nguras air mataku😥
    Kasian sungmin tersiksa fisik & mental gitu😦
    Feel familynya ngena banget.

    Ff ini emang kerasa lebih fokusnya ke family tapi karena feelnya dapet banget,daebak deh🙂

    Kalo ff Time udah end,bikin ff GS donk kangen nih.
    Fighting😉

  4. family nya berasa kok~
    baguslah, jadi gak cuma romance mulu🙂
    tp awalnya gak enak nih, hanchulnya berantem *jiwa hanchul shipper tepanggil*

    jangan ragu bikin ff oneshot sweet kyk gini yaa jiyoo~

  5. Akhirny ada lagi ff kyumin gs.
    Kasian minie,untng ajh endingny bahagia.
    Ditunggu lgi yah ff kyumin gs ny.
    Hwaiting.

  6. kasihan bgt sich nasibmu,ming……..
    sehruznya kyu aj yg jdi ankny bang ichol n gege..

    tp tetp keren kok tothor ceritanya…
    ayo bikin lagi yg GS.hehehe,,…..

  7. Pingback: Time | KyuMin | Chap 14/? | YAOI | T+ | Romance, Hurt | « JYH Korean Fanfiction

  8. Nangis dibulan puasa pertama setelah baca ff ini . .
    Aku kira ming mati beneran, eh ternyata . .
    Jiyo emg pinter mainin perasaan orang deh ★

  9. Waahhh chinguuu,,, maaf aqu nyasarrr ksinuiiww,,, nae saengg bilangg ff chinguu bgus” dann aquu bcaa nuiww wowww daebakk… Dalem bgtzz kata”y…
    Keep writing chingu,, hwaiting…

  10. Chagy…….aku senang ada oneshoot lagi,,,,,,

    FF ini memang lebih fokus ke masalah Sungmin Family,tetapi aku sangat suka.Memang inspirasimu bisa datang dari mana saja ya……! Hebat sekali dan bagus,sangat kreatif berawal dari mimpi jadi sebuah fanfiction.

    Tetaplah selalu berkarya,,,,,,,tulisan-tulisanmu termasuk dalam kategori bacaan-bacaan yang aku sukai juga authornya.

    HWAITING…

  11. ;_; untung happy ending, kalo sad ending bikin nyesek, apalagi kalo death-chara. aaaa ini bagus eon! kangin mana nih ga ada. keep writing eon!

  12. Bagusssss banget ^^ aku suka KyuMin GS. Aku suka banget karya-karya kamu. Masih suka aku baca yang di ffn. Tapi maaf aku gak komen disini karena ff Time BL, aku kurang dpt feeling kalo BL😦 tapi aku seneng ada yang GS juga ^^

  13. leeteuk bener2 angel without wings buat ming.
    aku kira ming beneran uda mati? ternyata hanya mimpi toh tapi mimpi yang berasa nyata. hubungan kyumin mang datar2 aja ya malah kaya kaka adek tapi akhirnya kyumin menjalin cinta yang serius. n semua berakhir dengan keinginan ming semuanya benar2 indah pada waktunya^^

  14. Woahhh!!! Ini kenapa kyuhyunnya jadi begini >< parah ah kyunnie bikin aku melting!
    Iya kerasa banget family nya ya, dan yang jelas manisnya masih tetep ada dan aku suka itu. Niceee ^^~

  15. Ff oneshoot yng ini berhasil ngebuat mataku bengkak..
    Padhal mataku bru sembuh lohh..
    Hikss berasa banged feelnya
    Srasa aku berada diposisi ming…
    Ming bener2 kurang kasih sayang, padahal aku siap loh memberikan sejuta kasih sayang buat ming * dikepret kyu*
    Jiyoo ntar bikin ff yng chapter tapi yang GS

  16. Kyumiiiiinnnnnnn (ʃƪ´⌣`) (´⌣`ʃƪ) ,,
    (˘̶_˘̶)” hmm ,,, hangkyung jahat yaAa -_-,,, serammmmmM T_x

    Aq mau GS yg banyaaakkkkk yaaaa sayoooonkkkkk😀
    ☺ “̮ ЂoºoЂoºoЂoºo “̮

  17. jujur sebenernya saya KMS yang menggilai YAOI tapi aku suka GS juga sih kalo ceritanya menarik hehehe

    dan aku suka konflik family’a di sini,,aku dapet fell’a..
    jadi intinya jangan asal dalam berkata apalgi jika sampai kata2 itu di ijabah,,

  18. telat baca lagi. huwee~ susah banget nahan nangis waktu baca ff ini. padahal lagi puasa.
    ceritanya fokus di keluarga ming ya? kyumin nya cuma sedikit. tapi aku suka. feelnya dapet banget.
    kamu nggak pengen nyoba bikin ff selain kyumin ya?

  19. Jadi merindukan eomma dan appaku. . . . . Udah g sbr pengen pulang meluk mereka,h!ks,h!ks. . . .huweee. . . . .

    Bgus k0k JiYoo FF nya,mengesankan! Bisa jd bAhan introspeksi diri,ThanKYU. . . . Ya Sudah p0k0knya smangat bkin idE2 kerenMu jd FF yg bgus ya!

  20. ff yg bagus buat dibaca dibulan puasa ini…
    Ceritanya menyentuh ditambah dgn pesan moral yg ada dicerita ini lumayan buat menambah asupan gizi dihati#eee abaikan aja,agak ngawur nih😀
    Good job chingu🙂

  21. sroottt #lapingus
    aq bner2 nngis bca crta ny., ><
    ksian bgt sma min., tpi ending ny ttep happy end., chukkae😉
    jiyoo smngatt~😄

  22. huuwwee..sedih banget baca yg ming mimpi meninggal tu.. ffjiyoo manx keren dah…hehe
    jiyoo,ada kepikiran ga untuk bikin ff yg sad ending / angst ??

  23. nangis😥
    hiks…
    aku ska ending nya :’)
    yg aku tgkep dr crta ini ‘bahwa keharmonisan dlm keluarga sngt d pentingkan dan apapun hal berharga yang d ada d dunia adalah kebahagian sebuah keluarga yg kta miliki. anak adl hal plg berharga bgi orang tua maupun sbliknya’🙂

  24. Wah,,DAEBAK author (y)sebenar’y qu bingung mau berkata apa buat nie ff#lebay
    Tpi beneran lo nie ff kerennnnn,,,,
    Qu bener2 nangis bca nie ff daebak banget(emngcengengbilangaja)
    Belum pernah qu bca ff oneshoot yg sebangus ini,,,

  25. Wah,,DAEBAK author (y)sebenar’y qu bingung mau berkata apa buat nie ff#lebay
    Tpi beneran lo nie ff kerennnnn,,,,
    Qu bener2 nangis bca nie ff daebak banget(emngcengengbilangaja)
    Belum pernah qu bca ff oneshoot yg sebangus ini,,,
    Bukin kelanjutan’y donk ^^

  26. Keluarga kaya emang gt. Tumben ni Kyu jd anak biasa2 aja. Sungmin nurunin sifat emak bapaknya. Keras kepala tp jg baik.

    Tp KyuMin nya kurang kegali chingu *mngkn krn genre keluarga*. Mrk kan br memulai awal hubungan, kasih sekuel mrk pacaran dong. 1 chap aja cukup.

    Elle

  27. kerennya yang aku suka dari sifat chingu adalah bahasa yang rapih, selalu happy ending, penuh makna yang harus kita ambil, Dan, membuat perasaan readernya itu penasaran.
    aku seneng KyuMin bersatu walau dimulai dari awal, sungmin udah mendapat kebahagiaan. meski ini temanya Family tapi aku senang ada slight , walau terasa sedikit, aku hargai tulisan chingu. ^^
    oh ya,aku ini yang dulunya @RP_Lilly1993iu ^^

  28. Huweeeee jiyoo tegaa banget bikin gue nangis TT_____TT
    sepanjang cerita sungmin airmataku pada bandel bgt,keluar seenaknya..
    Nyesek asli.. *benerin nafas yg udah tersengal*

    ada satu yg aku kurang ngerti.
    Kan ming berharap pengen mati sblum tidur,dan itu dirumah kyuhyun,,nah pas bngun dia udah beneran mati,dan itu udah setahun kemudian..
    Jadi,ming meninggal kenapa? Kecelakaan ya? Soalnya pas bangun ‘beneran’ dia ada di rumah sakit? Eh ato dikamarnya? Kekecoh sama kalimat ”panggil dokter” eung..

    aku suka bgt ceritanya.. Dan endingnya juga manis ^^
    cuman ya itu,menguras air mata.. Orang rumah ampe pada heran,ihihihi..

  29. Wahh…awal.y kirain Minnie bener” matii, eh ternyata cuman mimpi
    .aisshh eonni kau brhasil menipuku*lebehdeh*
    ff mu slalu ‘GOOD’ eon *kasih5jempol(???)*

  30. daebakk eon ff.nya ,^^
    agak merinding juga kalo dapet mimpi kyak sungmin,
    tp kren eon,
    trus berkarya ya !!
    hwaiting !!!

  31. annyeong~~ Aku reader yang lewat~~ kekeke😛

    wahhh ff nyabagus banget >.< aku sampe nangis bacanya :')
    endingnya keren banget, aku suka😀

    konfliknya itu bener-bener hidup🙂

    waaah Proud to be Author🙂

  32. Eh ini Jiyoo yang itu bukan?#yang mana emang? ‎​(¬˛ ¬ ”)
    akhirnya aku nemu blogmu chagia…
    kekkekee…
    ff ini kayaknya aku belom pernah baca, atau emang ff ini cuman di publish di blog aja? di ffn enggak???

    • ahhh beneeeer .. ini jiyoo xDD *big hug* iya, ff miracle emang baru dan nggak dipublish di ffn. aku udah resign (?) dari ffn karena ffku jelas-jelas melanggar peraturan. jadi, aku nggak mau kejadian penghapusan ffku terjadi lagi ㅠㅠ

  33. Jujur aku agak bingung sama salah satu adegan. Pas Sungmin tidur di kamar kyu dn mimpi buruk, paginya dia dibangunin sama orang tuanya ya? Itu di kamar Sungmin? Kok bisa? Aku kurang paham bagian itu hehe .___.v
    Tapi, ini serius alurnya aku suka banget. Bener-bener ngasih motivasi.
    Sempet kebayang deh kalo aku kaya Sungmin aduh -_-v
    Makasih loh kak, saya baca ini jadi semangat lagi hehe ^-^)b

    • iya, ceritanya Sungmin itu tiba-tiba sakit karena efek dr nightmarenya itu .. karena hal itu akhirnya si ming pulang ke rumahnya dan dokter keluarga Lee udah standby di sana .. *itu menurut pandanganku waktu nulis lho yah xD*

  34. Bacanya nangis eonn,fellnya dpt bgt…
    Sama kyk eonn,aku ngis ∂Ĩ beberpa chpter..

    Tapi endingnya Ǥªќ terlalu buruk ЌºQ..seneng dh kyu ‘n min mmulai dr awal Ɩαƍɪ̣̇…happy endinng dhh..(งˆ▽ˆ)ง

  35. Dari ff ini… Aku menyimpulkan, hidup itu penting, apa arti hidup, & cinta, baik thdp keluarga maupun org lain
    Meskipun ‘kelihatannya’ ff ini biasa aja, tp artinya,,, dalam banget
    Keluarga itu penting, & skg wkt keluarga msh lgkp, jgn disia-siakan, tp disayangi dgn sepenuh hati..
    Aku suka genre familynyaaa, jarang bgt soalnya yg buat (atau akunya yg mls nyari ya? Hehhehe =.=v)
    Seneng deh akhirnya ming akur dgn ortunya, n jg hubungan kyumin mnjd smakin ‘erat’ ^^

  36. sebenernya ada bagian yang bingung sih. kan SUngmin lagi tidur kok bangun tiba-tiba d rumah sakit.. itu dong..
    selebihnya ceritanya KEREN!!! pesan yang di sampaikan pun keren bgt…

    • sebenarnya, sungmin bangun di kamarnya sendiri lho … orang tuanya memanggil dokter pribadi mereka yg telah siaga di rumah–karena malamnya keadaan sungmin sempat drop jadi dokter pribadi mereka ada di sana..

  37. Sumpah nangis ;(
    daebak !!
    Enggak menyangka endingnya seperti ini .
    Di kira ming emang di bawa ke surga .
    Benar-benar daebak .
    Aku salut loh chingu .
    Bisa bikin senyum tapi nangis dalam waktu bersamaan .
    Banyak banget pesan yang terkandung .
    Khsususnya orang tua .
    daebak !

  38. Nyesek bgt…
    Kasian bgt jadi ming.. Ortu setiap pagi bertengkar..
    Eh mana di tampar sama han gege..
    Sempet pengen mati, tpi akhirnya nyadar kmatian bkan penyelesaian..
    Ntar kasian kluarga, trlebih lagi si kyu…
    Untung HanChul sadar..
    Yg nelpon teuki kah??

  39. Baguuuuuusssssss !!!
    Lagi iseng2 nyari kyumin ff, eh ada ff ini muncul d search engine nya ..
    Kekekeke ..
    Ceritanya bagus banget, bermakna mendalam bagi yang lagi punya masalah n mengharapkan kematian segera menjemputnya .
    Johaaaaaa !!!

  40. Damn, ini sangat keren sekali pake banget!!! ><
    Eonnie sukses bikin aku nangis lagi…
    Well aku belum baca semua ff eonnie tapi yang aku baca semuanya daebak!!
    Tetap berkarya nee eonnie..^^

  41. Astaga, ming kasian bgt
    untungnya happy ending.
    Tp aku agak bingung knp dr tdr di rumah kyu tau” bisa pndah ke rmh nya sndiri?

  42. Yang tadi itu beneran atau tidak ya???

    Atau hanya mimpi sungmin aja??

    Bener2 miris sama nasib sungmin yang tadi, sampe nangis baca ffnya (˘̩̩.˘̩ƪ)

  43. Gak tau mau comment apa.
    Kehabisan kata” setelah baca FF ini. –”
    Feelnya dapet banget,emosinya campur aduk bikin aku nangis tapi habis itu nyengir. -_-”
    singkat kata.
    DAEBAK !!!

  44. Pas bgian tngah nyah yg pas sungmin tba-tiba bngun and tinggal jiwa nyah,aku g nyadar klo dia udah g da,jujur yah thor,smpt nangis sdkit tpi g sderas baca ff ff mu yang lain,aku ngrasa ff ini kurang wow gitu,maaf yah,tp seru juga hehe smoga untuk ke depan nya klo bkin ff one shot kya gini lbih dperjelas,spt daa flash back nyah biar reader nyah gak ke’der haha,gumawo

  45. Waahh , han oppa kejam sekali ..
    Minnie hidup dalam penderitaan , untung ada kyu oppa ma eeteuk ahjumma🙂 like it ..

  46. Chuaaaaaaa…………………………

    Hhehehee
    Ceritanya meharukan, romance.
    Aku suka…..

    Awalnya aku kira sungminnya beneran meninggal, taunya enggak…
    Uwaaa….
    Syukurlah….

    Kekekekkeee
    🙂

  47. awal yang sedih akhir yang bahagia….
    ternyata ming cuma mimpi tow.
    ming mlh mulai duluan,hati2 ntar pervet nya kyu muncul low

  48. nyesek ya kalo jadi sungmin, kesian, untung ada kyuhyun sama eommanya, ya walaupun mimpinya sungmin bikin merinding disko juga /?

  49. ehmmmm agak bingung sih sm critanya…itu knp minnie bs mati…trus kyumin nikah gak ? dapat restu gak dr org tua minnie ? harusnya ada kelanjutan nya saeng… #mohon dengan tatapan puppy eyes

  50. kalo hidupnya tertekan pasti ada dimana kita berdoa seperti ming, tp dengan kekuasaan-Nya semua bisa lebih baik apabila kita menjalaninya dengan sabar

  51. Yaampun aku kira ming mati beneran😥
    Aku bingung, bukannya awalnya ming ada di rumah kyu ya, tapi kenapa tiba2 waktu bangun ada ditempat yg berbeda?
    Endingnya sweet >.< I Like it ♥

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s