Wanna Two Love | Part 6/9 | KyuMin

Wanna Two Love

 

Genre : Romance , Angst

 

Rate : T+

 

Pairing : KyuMin , KyuSeo and etc

 

Cast : Choi Siwon

 

Part : 6/9

 

Warning : Genderswitch , abal , geje .

 

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari mereka. ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang standar-standar saja. Jadi saya membuatnya berdasarkan imajinasi. Not alowed to bashing the cast or other, please! UNLIKE DON’T READ!

 

“Bagaimana dengan wanita itu, Kyu?” terselip rasa kekhawatiran dipertanyaan Sungmin, bagaimanapun trauma yang diberikan Kyuhyun masih tersimpan baik di memorinya.

 

“Aku telah mengakhiri semuanya,” jawab Kyuhyun, mata teduh itu masih berusaha menyelami mata coklat kekasihnya, oh bukan, calon istrinya.

 

“Benarkah?” Sungmin mengangkat kepalanya, menatap mata onyx Kyuhyun yang juga menatapnya. Mereka bertemu pandang, saling terperangkap dalam sebuah tatapan kerinduan yang dalam. Kyuhyun hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sungmin yang terakhir. Rupa-rupanya, ia telah terhipnotis oleh keindahan wajah seorang Lee Sungmin.

 

“Ijinkan aku mencintaimu, Minnie,” Kyuhyun merengkuh tubuh Sungmin, menghirup aroma vanilla yang sangat ia rindukan. Kyuhyun menikmati setiap detik masa pelukan yang sangat ia rindukan ini, ia dekap dengan penuh kasih.

 

“Maafkan aku, Kyu..,” ucap Sungmin pada akhirnya. Sebuah pernyataan itu membuat raga Kyuhyun melemas. Ia lepas dekapan hangatnya, menatap Sungmin dengan tatapan tak percaya.

 

“Kenapa?” tanya Kyuhyun dengan suara yang cukup membuat Sungmin merinding.

 

“Maafkan aku,” Sungmin akhirnya terisak. Entah dari mana datangnya air mata itu. Tenggorokannya terasa tercekat oleh rasa sakit yang menghujam jantung hatinya. Keputusan yang sekiranya dapat membuat hidupnya menjadi lebih baik ia jadikan sebuah pedoman, dan itu artinya ia harus menolak tawaran Kyuhyun untuk kali ini atau seterusnya.

 

“Kenapa!” Kyuhyun membanting tubuhnya sendiri, melepaskan tautan tangan mereka. Tangannya bergerak menutupi matanya yang hampir berkaca-kaca.

 

Hening. Detik ini yang terdengar hanyalah suara semilir angin yang masuk menghantam helaian tirai kamar Kyuhyun. Sepasang kekasih itu tampak tak saling memandang. Mereka hanya duduk terdiam di tempat masing masing seraya melukiskan kesedihan di setiap raut wajahnya. Suara  deruhan nafas mereka saling terdengar bersautan, seolah menjadi pembatas antara diri mereka dengan suatu sisi gelap.

 

“Kau tak bisa menjawab, ‘kan?” bentakan Kyuhyun kembali terdengar bersamaan dengan tangannya yang bergerak merengkuh kedua pipi Sungmin. Ia tatap dalam dalam manik mata Sungmin, mencoba mengetahui arti dari pandangan Sungmin. “Kau mencintaiku!”

 

“Jangan terlalu percaya diri, Kyu!” sanggah Sungmin cepat. Perempuan itu kini tengah berusaha mati-matian menyembunyikan kebohongannya.

 

“Kau memang mencintaiku!”

 

“Akh!” Sungmin tiba-tiba mengerang kesakitan. Tangannya reflek menyentuh permukaan perutnya yang tiba-tiba terasa mulas. Mendadak air wajah Sungmin menjadi pucat. Nampaknya ia benar-benar kesakitan, terbukti dengan reaksi Sungmin sekarang. Sungmin menggigit bibir bawahnya, berniat untuk memperkecil rasa sakitnya.

 

“A-ada apa?” tanya Kyuhyun tergagap, baru pertama kali ini ia melihat Sungmin begitu kesakitan.

 

“S-sakit, Kyuh,” Sungmin mengerang frustasi. “Kyuh!” Sungmin semakin meremas perutnya yang seolah-olah akan meledak. Ia benar-benar tak mengerti mengapa perutnya terasa sangat panas dan perih. “Kyuh! S-sakiiit!” Sungmin membanting tubuhnya di atas ranjang Kyuhyun kemudian membalik posisi tubuhnya. Tunggu, Kyuhyun melihat cairan merah yang telah membasahi rok mini Sungmin dan sebagian sprei ranjangnya. Darah?

 

“T-tunggu sebentar!” ucap Kyuhyun seraya meraih handphone yang tergeletak di atas meja kerjanya. Dengan sigap ia menelpon bantuan medis.

 

“Kyuh! Sakit!” erangan Sungmin terdengar semakin keras. Wajah Sungmin benar-benar telah merah padam, hal itu menunjukkan bawah Sungmin benar-benar merasakan sesuatu yang sangat sakit di dalam perutnya.

 

Ok, Kyuhyun tak sanggup mendengar suara kesakitan Sungmin. Iapun menggendong tubuh kekasihnya. Tak peduli dengan beberapa pandangan yang tertuju pada mereka. Hal terpenting yang harus ia lakukan detik ini adalah, membawa Sungmin kerumah sakit terdekat. Ia rasakan tubuh Sungmin mulai melemah, kulit Sungmin memucat dan suhu badannya menurun, erangan kesakitan itu semakint tak terdengar. Oh God, what happen?

 

“Tuan? Ada apa?” beberapa orang security apartemen menghampiri Kyuhyun.

 

“Cepat siapkan mobil! Istriku tiba-tiba pinsan!”

 

사랑했니?

 

Laki-laki berambut blonde itu tampak termenung, jiwa raganya tengah tenggelam di lautan kegalauan. Kedua telapak tanganya saling terpaut, bibirnya terlihat komat-kamit—tanda ia tengah berdoa untuk detik selanjutnya. Pandangannya jauh menerobos ke dalam, namun, untuk detik ini tak ada suatu kiasan yang akan ia lontarkan selain doa. Ia hanya ingin berbicara kepada Tuhan.

 

Kriek. Suara pintu tua itu menjerit, menarik ruh Kyuhyun kembali ke dalam jiwanya. Seorang laki-laki paruh baya dengan jas putih keluar. Ia menatap Kyuhyun dengan pandangan yang sama sekali tak dapat Kyuhyun artikan.

 

“Tuan Cho?” Panggilnya sambil membenahkan letak kaca matanya yang agak merosot ke bawah.

 

“Ya, dokter?” Kyuhyun bangkit dari duduknya, jantungnya menggedor-gedor layaknya  pintu ruang tamu.

 

“Bisakah anda ikut ke ruangan saya?” ucap dokter itu kemudian berlalu, tangannya mengisyaratkan agar Kyuhyun mengikuti langkah kakinya.

 

Kyuhyun menelan air ludahnya kelu, bad news yang ia pikirkan benar-benar seperti akan memubunuhnya. Tanpa disuruhpun otak Kyuhyun telah memikirkan beberapa hal yang mungkin akan dokter bicarakan bersama dirinya nanti. Entah itu tentang kesehatan Sungmin, ataupun tentang kehamilan Sungmin.

 

Ia mulai memasuki sebuah ruangan cukup luas yang  didominasi oleh cat berwarna putih bersih. Terdapat beberapa barang yang termasuk dalam dunia medis, entah itu foto, alat bedah, kotak obat, ataupun manekin.

 

“Silahkan duduk,” ujarnya lembut.

 

“Ada apa, Dok?” Kyuhyun melontarkan sebuah pertanyaan. Ia hanya ingin menuju ke pokok permasalahan, tanpa basa-basi.

 

“Anda tahu bahwa istri anda tengah mengandung?”

 

“Tentu!”

 

“Seharusnya anda tak membebani istri anda dengan pikiran-pikiran yang dapat membuatnya stress,” dokter itu terlihat menuliskan beberapa kata di atas lembaran putih tersebut. Iapun melanjutkan kembali kata-katanya, “apa istri anda melakukan hal yang berat?”

 

“Hal yang berat?” Alis Kyuhyun bertaut ketika gendang telinganya menangkap pertanyaan dokter. “Maksud anda?”

 

“Wanita dengan usia kehamilan muda tak diperbolehkan untuk mendapat perlakuan kasar, ataupun melakukan hal yang kasar.”

 

Oh God! Dada Kyuhyun seakan-akan bergemuruh di ruangan sunyi itu. Pikirannya kembali melayang ke kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu. Dua jam yang lalu, saat Sungmin tiba-tiba berdiri di depan pintu apartemennya.

 

“Maaf, tuan Cho,” dokter tersebut memberi jeda, ia memutar kursi kerjanya menjadi membelakangi Kyuhyun. “Janin yang masih berbentuk gumpalan darah itu luruh.”

 

Suara dokter yang lembut itu seolah-olah menjelma menjadi suara petir yang menyambar hati dan pikirannya. Sebuah pernyataan bahwa kini ia akan gagal memiliki seorang anak dari wanita yang ia cintai terucap. Pikiran Kyuhyun berontak, bulir bening itu membasahi dua sisi pipinya. Jeritan batinnya terasa akan meledak bersamaan dengan beberapa kutukan yang ia lontarkan untuk dirinya sendiri.

 

Kyuhyun beranjak dari duduknya, kemudian berlari menuju ruang ICU yang menjadi tempat sementara calon istrinya beristirahat. Tak peduli bila tetesan bening air matanya jatuh menghantam lantai rumah sakit yang dingin, tak peduli bila beberapa orang menatapnya dengan tatapan aneh. Yang jelas, Kyuhyun ingin segera sampai di ruangan tersebut.

 

“Tuan Cho? Istri anda telah dipindahkan ke ruang inap nomor 3021,” sebuah suara menginterupsi derap langkah kaki Kyuhyun. “Disana,” ucap yumo tersebut, tangannya menunjuk ke suatu ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

 

Pandangan Kyuhyun terarah pada ruangan dengan pintu bertuliskan angka 3021 dengan angka merah itu. Langkah gontai mulai ia ambil, perlahan namun pasti. Sebuah rasa sakit yang tiba-tiba menyelusup ke dalam hatinya kembali terasa, membuat air mata Kyuhyun terbentuk di kedua kelopak matanya. Langkah kakinya terasa semakin berat ketika jarak antara ia dan pintu tersebut semakin dekat. Sebuah keraguan muncul mengusiknya. Sebuah gambaran kejadian yang ia pikirkan secara sepihak terputar dipikirannya, seolah-olah sebuah film animasi yang mengerikan. Tangan Kyuhyun semakin bergetar hebat ketika ia telah berdiri di depan ambang pintu tersebut. Ia tatap dengan pandangan teduh, calon istrinya berada di dalam, entah dengan keadaan sadar atau tengah tertidur damai.

 

Klek. Kyuhyun mulai memutar knop pintu, mendorong pintu itu sepelan mungkin agar kedatangannya tak menganggu penghuni di dalamnya. Kedua lensa matanya mendapati sosok calon istrinya tengah tertidur damai di atas ranjang rumah sakit, terlihat pula sebuah ujung selang tertancap di tangan kiri istrinya. Kyuhyun mendekati tubuh tak berdaya itu, meraih tangan kanan Sungmin dan menciumnya.

 

“Maafkan aku,” ucapnya sembari terisak. Air mata itu kembali menetes, kali ini membasahi telapak tangan Sungmin yang dingin dan pucat. Tangisan laki-laki bermarga Cho itu benar-benar tak dapat terbendung kembali. Alur nafasnya seolah-olah tercekat oleh beribu-ribu rasa bersalah yang tiba-tiba mengusik hatinya.

 

Tangan dingin itu mulai bergerak, walau cuma gerakan jemari yang kecil. Kyuhyun mengangkat tangannya dan memperhatikan Sungmin dengan mata terpicing. Kelopak mata Sungmin bergerak dan terbuka sedikit demi sedikit.

 

“Kyuh..,” erangnya terputus-putus. Mata Sungmin kembali terpejam dan terbuka lagi. Nampaknya wanita itu tengah mencoba membiasakan bias-bias cahaya masuk ke dalam sel-sel matanya. Sedetik kemudian, Sungmin merasakan sebuah kilatan rasa sakit menghujam kepalanya—rasanya hampir sama seperti sebuah sayatan benda tajam di kepalanya. Sakit sekali.

 

“Gwaenchana?” Kyuhyun bertanya disela erangan Sungmin.

 

“Sakit sekali, Kyu,” jawab Sungmin seraya mengelus permukaan perutnya yang datar. “Apa ada sesuatu yang terjadi denganku?”

 

Janin yang masih berbentuk gumpalan darah itu luruh.

 

Senyum miris terus terlukis di bibir tebal Kyuhyun. Laki-laki berjuluk evil magnae di sekolahnya dulu itu menatap Sungmin dengan tatapan sehangat mungkin. Telapak tangan Kyuhyun mulai meremas tangan mungil milik Sungmin, mencoba berbagi kehangatan tubuhnya—dengan media seperti itu. Kyuhyun menghela nafas panjang, nampaknya sesuatu yang berat untuk dikatakan. Terbukti dengan reaksi Kyuhyun yang seperti itu.

 

“Ada apa, Kyu?” Sungmin mengulangi pertanyaannya ketika ia mendapati mata Kyuhyun yang memerah.

 

“Kau..,” Kyuhyun memberi jeda, rasa perih itu kembali muncul dan mencekik saluran pita suaranya untuk beberapa saat. Pada awalnya Kyuhyun berpikir untuk menyembunyikan berita duka ini dari Sungmin, namun pada akhirnya ia tahu itu adalah sebuah keputusan bodoh. Walaupun ini sangat berat untuk diterima bagi dirinya ataupun Sungmin, berita ini harus tersampaikan pada Sungmin. Ia tatap manik mata Sungmin, pancaran mata perempuan itu berharap jawaban Kyuhyun secepatnya. Oke, Kyuhyun siap. “Kau.., keguguran.”

 

Keguguran.

 

Satu kata yang baru Kyuhyun ucapkan beberapa detik lalu tengah diproses di dalam otak Sungmin. Otaknya kini tengah berusaha keras mencerna dan mencari sebuah makna yang tepat dari kata keguguran. Keguguran.

 

Sungmin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang pucat—tangan miliknya. Rasanya terlalu buruk untuk saat ini. Dahinya terasa panas, begitu pula kerongkongannya. Entah mengapa untuk kemarin dan hari ini—dini hari—Sungmin benar-benar harus mengeluarkan air mata disetiap detiknya. Oke, terlalu berlebihan memang. Namun, itulah yang Sungmin perkirakan. Ia merasa kejadian buruk selalu saja menghampiri dan sempat membuatnya down. Hingga akhirnya ia kembali bangkit ketika ia merasakan sebuah ikatan batin antara ia dan gumpalan darah yang ada di rahimnya.

 

Sebuah janin yang terbentuk dari sebuah hubungan terlaknat, namun itu tak menjadi masalah. Walaupun bayi tersebut terbentuk dari masa lalunya yang kelam, ia tak mau membawa persoalan tersebut hingga bayinya lahir. Intinya, Sungmin dapat menerima calon bayi tersebut dengan suka cita. Tak ada beban, dan tak ada paksaan dari siapapun.

 

Dan sekarang? Berita tentang keguguran yang ia terima. Itu berarti ia telah kehilangan separuh nyawanya. Oh Tuhan, mengapa harus bayi tak berdosa tersebut? Mengapa Tuhan tak serta merta mengambil nyawanya agar ia terbebas dari kejamnya kehidupan dunia? Mungkin Sungmin akan merasa lebih baik bila Tuhan juga mencabut nyawanya. Dengan begitu, ia bisa bermain di taman surga yang indah dan damai tanpa takut sebuah bencana batin datang dan menghantui pikirannya.

 

Sungmin merasakan sebuah lengan hangat melingkar di atas pundaknya. Lengan milik Kyuhyun. Dan Kyuhyun kini tengah memelukknya, memberikan sebuah getaran penuh cinta kasih yang sempurna. Sungmin dapat merasakan debaran jantung Kyuhyun yang seperti genderang, berdegup dengan kecepatan yang melibihi batas normal. Dengan pelukan itu, seolah-olah Sungmin dapat merasakan apa yang Kyuhyun rasakan. Kyuhyun juga merasakan kesedihan yang ia alami, dan mungkin bahkan lebih buruk dari perasaannya.

 

“Tenanglah,” suara bass milik Kyuhyun menyentuh gendang telinga Sungmin dengan lembut. “Jangan menangis, mianhae.

 

Ucapan maaf itu kembali terdengar, cukup membuat Sungmin bosan dengan pengulangan kata yang berkali-kali Kyuhyun ucapkan. Ia biarkan Kyuhyun merengkuh tubuhnya, menghembuskan nafas hangat di atas tengkuk Sungmin. Sebuah ketenangan benar-benar ia butuhkan, setidaknya untuk membuat pikirannya kembali seperti dulu. Tanpa masalah, dan tanpa beban yang membebani.

 

Cukup lama dua orang itu saling berpelukan, membagi kehangatan tubuh mereka. Suara sesenggukan milik Sungmin telah hilang tertelan keheningan, atau mungkin hilang terbawa oleh hembusan semilir angin yang menerobos masuk melalui celah-celah kecil.

 

“Istirahatlah, kau pasti lelah,” ucap Kyuhyun seraya merebahkan tubuh Sungmin di atas ranjang dengan gerakan lembut. “Aku akan pergi ke rumah Siwon untuk membawakan baju gantimu.”

 

Kyuhyun mengecup sekilas punggung dahi Sungmin, kemudian pergi melangkah perlahan-lahan. Kyuhyun menatap wajah Sungmin, seolah-olah ia masih ingin memuntahkan segala rasa bersalahnya kepala perempuan yang tengah terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Kembali ia ingat sesuatu yang begitu memuakkan hatinya. Jeritan panjang yang sama sekali tak ia hiaraukan. Perlakuan kasar yang ia layangkan dengan mudahnya kepada Sungmin untuk menuntut penjelasan yang sekiranya ia butuhkan, dan pada akhirnya berbuntut pada rumah sakit ini, Sungmin keguguran.

 

Yeah, dari kejadian keguguran ini Kyuhyun dapat menyimpulkan, ialah pelakunya.

 

사랑했니?

 

Suara bel rumah Siwon berdentang, membuat siapa saja yang mendengarnya mungkin akan jengah. Bagaimana tidak? Sang tamu memencet bel rumah tanpa memperdulikan kedamaian yang menyelimuti rumah tersebut sebelum kedatangannya.

 

Klek. Sosok tampan dengan lesung pipit di kedua pipinya menyambut kedatangan Kyuhyun. Mendadak dada Siwon menjadi sesak, pupil matanya melebar, dan ia merasa jantung hatinya serasa akan copot ketika ia mendapati laki-laki yang sangat ia benci berdiri di depan pintu rumahnya. Pikiran-pikiran buruk semakin menyelimuti hatinya ketika ia kembali mengingat bahwa Sungmin belum kembali ke rumah. Mungkinkah…

 

“Tunjukkan kamar Sungmin!” Kyuhyun berujar ketus seraya menerobos masuk ke dalam rumah.

 

“Hei, apa maksudmu?” Siwon, yang tak lain dari pemilik rumah tersebut berteriak kasar ketika Kyuhyun berlaku seenaknya.

 

“Aku bertanya, dimana kamar Sungmin!” bentakan Kyuhyun semakin terdengar keras, membahana di ruang tamu.

 

Siwon yang merasa jengah dengan sifat tak sopan Kyuhyun berjalan mendekati pemuda tersebut. Tangannya meraih krah baju Kyuhyun dan menariknya ke atas, membuat laki-laki kurus—Kyuhyun itu berjingkat.

 

“APA MAKSUDMU, BOCAH!”

 

“Cih!” Kyuhyun mendorong tubuh Siwon ke belakang, membuat Siwon melepaskan krah bajunya dengan mudah. “Aku tak punya banyak waktu untuk bermain disini!”

 

“Bermain katamu?” Pernyataan Kyuhyun benar-benar membuat Siwon ingin memukul wajah tirus Kyuhyun.

 

Sesungguhnya Kyuhyun sama sekali tak ingin membuat hubungannya dengan Siwon memburuk, namun, keadaan Sungmin yang tengah berada di rumah sakit benar-benar ingin ia sembunyikan dari Siwon. Jika Siwon tahu akan hal ini, maka bisa saja Siwon akan menghabisinya. Dengan kata lain, Siwon akan memberikan  perlindungan penuh kepada Sungmin, dan memojokkan Kyuhyun yang ingin menebus dosa.

 

“Katakan apa kau tahu dimana Minnie?” tanya Siwon tiba-tiba.

 

“Minnie?” Alis mata Kyuhyun terpaut ketika panggilan sayang darinya untuk Sungmin keluar dari mulut Siwon.

 

“Aku yakin dia pergi ke tempatmu setelah ia menerima paket tak berguna dari dirimu, brengsek!”

 

“Diam!” teriakan Kyuhyun menginterupsi, “kau hanya perlu diam!”

 

“Seharusnya kau yang menutup mulut sampahmu!” sebuah hinaan keluar kembali dari mulut Siwon, otot-otot di pelipisnya terlihat menyembul keluar. “Kau pikir hidup Sungmin itu Starcraft yang bisa kau mainkan kapanpun kau mau, hah?” deru nafas Siwon terdengar semakin jelas, jemari telunjuknya terarah tepat ke arah wajah Kyuhyun.

 

“Kau tahu, kami telah bertunangan!” sanggah Kyuhyun, mencoba membela dirinya. “Dan sebentar lagi kami akan menikah! Kau tak berhak mengatur kami!”

 

“Aku berhak mengatur hubungan kalian bila kau terus membuatnya menangis, brengsek!”

 

“Terserah kau saja!” Kyuhyun mengakhiri percakapan mereka yang bisa dibilang menegangkan. Terbukti dengan sikap para pelayan yang lebih memilih diam di dapur daripada harus keluar ke ruang tamu. Kyuhyun menyeret kakinya meninggalkan sosok Siwon yang tengah memandanginya dengan tatapan membunuh. Dengan hati terbakar ia melangkah, membuat suara sol sepatunya memantul dengan keras.

 

Karena Siwon yang tak memperbolehkan Kyuhyun memasuki kamar Sungmin, maka Kyuhyun harus membelikan beberapa pasang baju ganti.

 

사랑했니?

 

Kedua tangan Kyuhyun terlihat menenteng beberapa kardus tas warna-warni. Senyumnya sedikit terlukis di kedua bibir tebalnya. Dengan langkah mantap ia menyusuri lorong rumah sakit. Terdengar pula senandung kecilnya, nampaknya suasana hati Kyuhyun lebih baik dari beberapa jam yang lalu.

 

Namun tiba-tiba, matanya menangkap sesosok perempuan yang sangat ia kenal duduk di bangku taman rumah sakit. Tak ada satupun orang yang menemani, hanya kesepian mungkin. Tatapan wanita itu terlihat menengadah ke atas, menatap langit biru dengan tatapan kosong. Wajahnya yang tersurat sejuta kesedihan sungguh membuat senyuman Kyuhyun luntur dari bibirnya. Hatinya begitu trenyuh.

 

Kyuhyun mulai meniti langkahnya, menghampiri calon istrinya tersebut. Sungmin.

 

“Halo!” sapanya. “Apa yang kau lakukan di luar, hm?” tanya Kyuhyun selembut mungkn. Tangannya terulur untuk membelai rambut hitam Sungmin.

 

“…” Sungmin lebih memilih diam, ia sama sekali tak menghiraukan pertanyaan yang terlondar dari Kyuhyun untuknya.

 

“Aku bawakan role  cake strowberry. Dan juga,” Kyuhyun memberi jeda. “Ini!” Sebuah boneka bear berwarna pink cerah muncul di depan wajah Sungmin, cukup membuat wanita bergigi kelinci terhenyak kaget. “Lucu sekali, bukan? Mirip denganmu.”

 

“….” tanggapan itu masih tak terucap, Sungmin benar-benar larut dalam kesendirian. Dunia baru miliknya.

 

“Jangan cuma diam saja,” Kyuhyun merengkuh tubuh Sungmin. “Katakan sesuatu padaku.”

 

Sungmin menarik nafas panjang, ia menundukkan kepalanya. Bulir air mata itu terbentuk dikedua kelopak matanya, dan rasa sakit yang kembali mencekat tenggorokannya membuat Sungmin harus menyimpan segalanya kembali. Hanya satu kata yang dapat meluncur dari mulutnya, eoddeokhae?” Satu kata itu muncul bersamaan dengan meluncurnya bulir air mata kesedihan di kedua sisi pipi mulus Sungmin.

 

Kyuhyun menghela nafas, ia tahu Sungmin masih tenggelam dalam keadaan yang sangat berat. Ia eratkan rengkuhan lengannya di pundak Sungmin, membawa Sungmin ke keadaan senyaman mungkin.

 

“Tuhan itu adil,” ucap Kyuhyun seraya menatap wajah Sungmin. “Mungkin untuk saat ini Tuhan belum memberi kita kesempatan untuk memiliki baby.” Kyuhyun memotong ucapannya dengan sebuah senyuman miris, “jangan terlarut dalam keputus-asaan seperti ini, Minnie-yah!”

 

Sungmin diam dalam seribu bahasa. Rupa-rupanya wanita cantik ini masih tak dapat diajak berkomunikasi.

 

“Masih ada aku, Min. Jangan lupakan aku yang selalu ada untukmu,” Kyuhyun mencium dahi Sungmin, wangi buah stroberi dari shampo Sungmin menyentuh indra penciumannya, seperti sebuah aroma terapi yang menyejukkan.

 

“Kyuhyun-ah..,” isak Sungmin, tangannya mencengkeram kuat baju Kyuhyun. Ia kembali menangis. “eoddeokhae?”

 

“Kau hanya perlu menunggu, hingga Tuhan benar-benar memberikan seorang baby yang diberkati.”

 

“Tapi aku gagal—menjaganya, Kyuh..”

 

“Bukan dirimu,” mata onyx milik Kyuhyun menatap manik mata Sungmin, menyelami setiap sudut bola mata yang terselimuti oleh kabut air mata, “tapi aku. Maafkan aku.”

 

“Kyuh..”

 

사랑했니?

 

Seohyun berdecak kesal ketika ia tak dapat menghubungi nomor kekasihnya, Kyuhyun. Beberapa kali ia mencoba menghubungi laki-laki dengan jabatan CEO—Kyuhyun di kantornya. Namun yang ia dapatkan hanya suara operator yang menyuruhnya untuk meninggalkan pesan suara. Hei, kemana laki-laki itu?

 

Sumpah serapah beberapa kali meluncur dari mulut kecil Seohyun, tangannyapun tak jarang terlihat memukul-mukul permukaan mejanya. Mungkin hampir satu milyar pikiran negatif tentang apa yang dilakukan Kyuhyun melintas di otaknya. Sungmin dan Kyuhyun. Dua nama itu seolah-olah menjelma menjadi seorang gwisin menakutkan yang menghantui pikirannya.

 

Yeah, sejak Kyuhyun mengambil waktu untuk cuti, Kyuhyun memutus semua koneksinya dengan orang-orang kantor. Tak ada satu orangpun yang dapat menghubunginya, bahkan Seohyun yang notabenya sebagai kekasih resmi Kyuhyun sendiri. Satu-satunya jalan untuk dapat mengirimi Kyuhyun pesan adalah mengirim sebuah e-mail. Atau bila ingin lebih praktris, mention ke twitter milik Kyuhyun. Namun sepertinya itu semua percuma. Puluhan e-mail atau mention ia kirim, satu kalipun ia tak mendapat balasan dari Kyuhyun.

 

“Lee Sungmin, bangsat!” umpatnya dalam hati. “Sampai kapanpun aku tak akan memberikan Kyuhyun oppaku kepadamu!”

 

TBC

 

Music : Bad Girl by SNSD a.k.a Girls’ Generation

 

Yumo (유모) : suster

Gwaenchana (괜찮아) : (kau)tidak apa-apa

Mianhae (미안해) : maaf –informal

Eoddeokhae (어떡해) : apa yang harus aku lakukan?

Gwisin (귀신) : hantu

Oppa (오빠) : kakak lk –pemanggil pr

50 thoughts on “Wanna Two Love | Part 6/9 | KyuMin

  1. Aishh…kirain nenek sihir itu nggak bakal muncul lgii😐
    huhuhu!!!Ming tabah yah,,, mngkin Jiyoo eonni blum pngen ngasih baby ma Ming *lirikJiyooEonni* xD

  2. Ya ampun minnie k’guguran kasian bngtttttttt
    Knpa sih kyu hrus egois bgtu kan kasian sungmin
    Apa ya yg maul seohyun lakuin k’sungmin?????

    Sumpah nyesek bngt baca part ini T_T

  3. ANDWE!!!! kenapa harus keguguran?!

    Minnie udah tersiksa gitu, eh, malah keguguran.. *pundung

    Haish, itu kenapa seohyun masih ganggu aja, kan kyumin udah mau baekan. *peluksungmin

    lari ke chapter berikutnya.. ~

  4. Backsound-nya SNSD Bad Girl ya? Cocok ama seo disini kkkkk~ becanda thor.. Aku gak terlalu suka sama SeoKyu, tapi tetep suka SNSD *curcol

    haaah Ming, sabar aja pokoknya..

  5. Eits yg bangsat itu spa eoh?:/
    dsr yeoja nga tau diri, udh jls2 lu penghancur hubungan orang! Yah wlwpun gua tau lu lbh dl ada hub sm kyu dibanding minnie! Wkwk
    halmonie kesepian eoh? O.o haha poor seo :p
    yah aku nga jd nimang keponakan dong?*plak:D:(
    yah knpa mesti keguguran hiks;( keponakankuuuuu huweeeee :(*srottt:D
    emang’a kyu blm mengakhiri hubungan’a sm tuh halmonie seo? Apa jgn2 halmonie seo yg ngejar2 kyu lg? Ckck

  6. T____________________T
    *nangis kejer(?)
    YESUUUUUUUUNG!!! T_____T
    *loh
    *akibat galau yeye wamil
    Ming keguguran?.😥
    Bang kuda kenapa g pukul cho sekali jja coba tadi?.o_O
    Lah, katanya kyu sudah mengakhiri semuanya dengan seo?. :O
    Tapi kenapa seo malah masih hubungi kyu?.o_O
    Waah~
    Curiga besar!!!
    Jngan” kyu hanya menghindar dari seo lagi.
    Cho, kau itu harus tegas!!!
    Kalau cinta sama ming berarti harus berani ngaku di depan seo!!!

  7. Menguras bak mandiii.. -_-
    Huuuaaa author tisu mana tisu..

    Ming kayak mayat hidup😦
    Masih ada kesempatan buat berubah Kyu buang jauh2 si Seo..

    NEXT >>

  8. omo! Seohyun bangsat! Lagi berkabung juga… huhuu…. jangan sampe terjadi apa2 dgn minnie lagi. Keguguran minnie aja udh buat Kyu dan readers nyesek minta ampun… apalagi kalau…kalau… hiks… hiks… andwe…!

  9. semoga ming ga benci ama kyu. ya walaupun sedih ming keguguran tp ada senengnya jg mreka jd tinggal bareng. tinggal buat anak lg lah #ups (‘-‘)v

  10. Yah ming’a keguguran, tuh kyu liat perbuatan mu jadi kaya ginikan aish semoga aja ming ga depresi dan seo yg bangsat itu kamu dasar yeoja ga tau diri

  11. Jadi kyuhyun belum putus? Cuma itu persepsi kyu doang-_-
    Sumpah ini chap nyesek banget😥
    Enyahlah kau seo jangan ganggu2 kyumin lagi pengen gue tendang aja deh seo ke kutub biar beku wkwk

  12. hiks ikut. nangis bareng kyumin😥 sabar yaaya minie
    ihhhh sebel si Ubi jalar muncul lagi kira” apa yang bakalan ia lakukan yah setelah tau kyu nyampakin dia ?

  13. Nysek banget baca nyaah ,, minnie yang sabar yahh ..😥😥 tuhan tau yang terbaik buat min abd Kyu ..🙂
    Ah seo datang lagi ,, mau misahin Kyu ma min lagih ??? Kali ini hak bisa , Kyu oppa plih min .. Harus😛

  14. Nysek banget baca nyaah ,, minnie yang sabar yahh ..😥😥 tuhan tau yang terbaik buat min and Kyu ..🙂
    Ah seo datang lagi ,, mau misahin Kyu ma min lagih ??? Kali ini gak bisa , Kyu oppa plih min .. Harus😛

☆Be a Smart Readers, please! Review after Read★

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s